Silat Boy : Perkelahian Kedua Part 11

CnJGPUtWgAEeomp

Celaka, ternyata orang itu adalah kedua teman Boim. Ia dalam masalah
besar. Tanpa aba-aba lagi, Rusdi langsung berlari menghindari
perkelahian. Ia berlari ditengah kerumunan orang.

Pasar itu tidak terlalu ramai, jadi mudah baginya untuk meloloskan
diri. Rusdi hendak melewati para pedagang dipinggiran jalan. Tapi
tiba-tiba seseorang menendangnya amat keras dari arah kanan.

Rusdi terpental, ia menabrak seorang wanita. Wanita itu lalu
membangunkan Rusdi. Ternyata orang yang menendangnya itu tak lain
adalah Boim. Rusdi perlahan dibantu berdiri oleh wanita itu.

“Maaf kak.” Rusdi memelas menatapnya.
“Iya gak apa-apa.” wanita itu tersenyum, usianya kira-kira seumuran
dengan Kak Melody.
“Hey, kalian ini kenapa?” wanita itu perlahan melepaskan Rusdi.

“Jangan ikut campur urusan kami!” Boim membentaknya, lalu wanita itu
hendak menghampirinya.
“Kak…” Rusdi menahan tangannya, wanita itu lalu menatapnya.

“Udah, gak usah khawatir. Oh iya, nama aku Veranda. Panggil aja Kak
Ve.” wanita itu sejenak tersenyum setelah memberitahu namanya, lalu
perlahan melepaskan tangan Rusdi.

Kedua teman Boim baru saja tiba. Mereka tertinggal jauh, Rusdi sangat
gesit. Bahkan larinya juga cepat. Kak Ve? Ia hendak melawan Boim dan
kedua temannya yang baru saja tiba.

“Kalian harus aku beri pelajaran!” Kak Ve kini berhadapan dengan Boim.
“Hajar dia!” perintah Boim, seketika kedua temannya menghajar Kak Ve
dengan cepat.

Tapi Kak Ve menghindarinya tanpa menyerang balik. Mereka dengan cepat
kembali menyerang Kak Ve. Tapi Kak Ve hanya menghindarinya. Lalu
menjatuhkan kedua teman Boim tanpa menyerang balik.

“Arrrg!” salah satu teman Boim jatuh menghantam tanah dengan keras.
“Haaa!” sementara yang satunya kembali melancarkan serangan, Kak Ve
santai sekali menangkis semua serangannya.

“Kurang ajar, kau benar-benar cari masalah!” Boim hendak memukulnya,
tapi Kak Ve menahan lengannya.
“Ini tidak akan menyelesaikan masalah.” Kak Ve berkata pelan.

Boim amat kesal, lalu ia menendang Kak Ve. Tapi Kak Ve menahan
kakinya, lalu mengangkat dan mendorong Boim. Boim jatuh tersungkur
menghantam dagangan seorang kakek tua.

Orang-orang disana tertegun melihatnya. Rusdi? Sejak tadi ia melongo
melihat Kak Ve yang mahir beladiri. Matanya terbuka lebar, mulutnya
sedikit menganga. Ia masih duduk disana, belum sempat berdiri.
Pinggangnya masih terasa sakit karna tendangan Boim.

Kedua teman Boim tidak tinggal diam. Mereka lalu melawan, dalam
hitungan detik salah satu dari mereka tumbang. Kak Ve hanya menghindar
dan menangkis serangannya.

Ia jatuh karna temannya tidak sengaja memukul wajahnya saat hendak
memukul Kak Ve. Boim masih lalu berdiri, ia tidak tinggal diam melihat
kedua temannya melawan Kak Ve.

Tiga detik, tiga gerakan. Saat ia masih kaget karna tidak sengaja
memukul temannya, Kak Ve menarik tangannya. Lalu menguncinya, dan
menjatuhkannya dengan mudah.

Boim kemudian menyerang Kak Ve secara brutal. Serangan itu sangat
cepat, Kak Ve hampir kewalahan. Lalu menangkap kedua lengan Boim.
Tidak tinggal diam, Boim menendang perut Kak Ve.

Tapi Kak Ve melepaskan lengan Boim, dan menahan kakinya. Boim berusaha
menyerang, ia tidak bisa diam. Terlihat jelas diwajahnya, Boim amat
kesal. Kedua teman Boim tidak tinggal diam, mereka kemudian kembali
menyerang Kak Ve.

Kak Ve menendang sebuah keranjang sayuran disana. Lalu keranjang itu
menghantam wajah salah satu teman Boim. Sementara yang satunya
berusaha menyerang Kak Ve.

Kak Ve masih berusaha menangkis serangan Boim. Sementara serangan
salah satu teman Boim ia abaikan. Kak Ve hanya menghindarinya tanpa
menyerang balik.

Ia hanya terpusat pada Boim. Karna ia tahu bahwa Boim adalah orang
terkuat diantara mereka. Orang-orang berseru panik, tidak ada yang
memisahkan perkelahian itu.

Bahkan beberapa dagangan ada yang rusak karna serangan Boim yang
brutal. Kak Ve kali ini terlihat serius, serangan Boim bertambah
cepat. Tapi anehnya Kak Ve hanya menangkis serangan Boim.

Dua teman Boim? Kini mereka terkapar di tanah. Kak Ve tidak
menyerangnya, apalagi memukulnya. Mereka terkena sasaran serangan
Boim. Boim amat brutal menyerang Kak Ve.

Boim memukul Kak Ve, tapi Kak Ve kembali menahan lengannya. Lalu Kak
Ve membanting Boim. Tapi Boim salto berputar, sehingga Kak Ve gagal
untuk membantingnya.

Boim terlihat kewalahan, ia hampir kehabisan tenaga. Tapi ia keras
kepala, ia masih belum menyerah. Peluh sudah mengucur deras di
tubuhnya. Kini kedua temannya hanya diam tidak melawan.

Mereka sudah menyerah, Kak Ve bukan tandingan mereka. Bahkan bukan
pula tandingan Boim. Terlihat Boim kalah telak, satu pun serangannya
tidak berhasil mengenai Kak Ve.

Sementara Kak Ve hanya menangkis. Serangan Boim tiba-tiba melambat, ia
terengah-engah. Saat ada kesempatan, Kak Ve menendang keras betis kiri
Boim, hingga ia kesakitan.

Saat Boim masih kesakitan memegangi betisnya, Kak Ve berputar lalu
menendang dadanya amat keras. Boim terpental hingga ia
berguling-guling. Boim terbatuk-batuk, ia memegangi dadanya.

Kemudian kedua temannya membopong Boim. Dan pergi meninggalkan pasar
itu. Beberapa orang terdengar ada yang memaki-maki Boim. Di sisi lain,
ada juga yang bersorak memuju Kak Ve karna telah menolong Rusdi.

Kak Ve terengah-engah, ia masih berusaha mengatur napasnya. Kak Ve
menatap tanpa ekspresi kepergian Boim. Setelah napasnya kembali
normal, Kak Ve menghampiri seorang kakek.

“Maaf ya kek, gara-gara aku dagangan kakek jadi ancur gini. Nanti aku
ganti, ya?” ucap Kak Ve, lalu kakek itu menyentuh lembut bahu Kak Ve.
“Gak usah, kamu anak baik! Tolong aja anak itu, dia lebih butuh
pertolongan dari pada kakek.” kakek itu tersenyum.

Kak Ve perlahan meninggalkan kakek itu, lalu menghampiri Rusdi. Dan
membopongnya meninggalkan pasar. Sesekali Kak Ve tersenyum menatap
orang-orang yang bersorak riang atas aksi heroiknya.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s