“Directions The Love and It’s Reward” Part 17

 

as

~o0o~ [SPESIAL PART] ~o0o~

Scroll perlahan agar menghayati jalannya cerita. Di pertengahan, akan ada link. Mohon dibuka untuk menangkap jalannya cerita. Sekian terima gaji 🙂

Yuvia masih duduk termenung. Panggilan itu datang lagi menghubungi Hpnya. Sesekali ia melirik, tapi… banyak sekali rasa bingung harus bagaimana dan menjawab apa. Bahkan untuk memegang Hpnya saja, ia merasa tidak  bisa.

Panggilan itu akhirnya berakhir dan tidak terdengar lagi berdering. Ia melirik lagi ke Hpnya yang tergeletak di kasur dan mendapati tiga panggilan tak terjawab. Ia sempat berpikir sejenak, dan akhirnya ia mendapat sebuah ide. Ya! Setidaknya meminta saran kepada kak Ve adalah hal yang cukup bijak karena ia tahu, kakaknya selalu memilih pilihan terbaik. Langsung saja dengan gesit ia mencari kontak kak Ve dan menelfonnya.

Cukup lama ia menunggu, sekitar sepuluh detik tapi sambungan terputus. Ia telfon lagi dan lagi untuk ketiga kalinya. Yuvia geregetan sendiri sambil memukul-mukulkan bantal pada wajahnya sendiri, berharap kakaknya menghiraukan penggilannya karena ini penting. Aku tegaskan sekali lagi, ini PENTING!

 

TIT…

 

“Halo?” akhirnya panggilan itu terjawab.

“Ha-halo kak” Yuvia sedikit gugup untuk memberitahukan hal ini.

“Maaf tadi kakak lagi sibuk ngerjain project OSIS. Oh iya, ada apa Yuv?”

“Em… gini loh kak, tadi Viny ngajakin aku ke toko buku. Mmm… terus…” Yuvia menggantungkan ucapannya.

Terus kenapa? Ya temenin aja dia, lagian kan kalian juga udah temenan dari lama. Ada masalah emangnya?”

“Jadi… gini… mm…. mmaasaalahnnyaaa… ta-tadi…

Cowok ngeselin itu ngajakin aku jalan” ucapanya semakin pelan.

“Apa? Nggak denger Yuv, di sini rame banget soalnya. Coba kerasin dikit deh” kak Ve bahkan tidak bisa mendengar, hanya seperti suara desisan saja.

“Ishhh…! Rendy ngajakin aku jalan kak!

Upss…” oke, wajahnya Yuvia sekarang sedang malu karena bicara dengan nada tinggi.

“Oh… gituuu… hmm… terus kenapa?” kak Ve yang sedang di cafe hanya tersenyum-senyum sendiri melihat kelakuan adiknya.

“Ya… terus aku harus gimana?”

“Kok tanya kakak? Tanya hati kamu sendiri dong. Kan yang ngejalanin kamu” kak Ve sepertinya ingin tahu apa reaksi adiknya ini.

“Ah…. kakak kok jahat sih… pleaseee… kali ini aja bantuin aku” Yuvia cemberut sambil memohon.

“Kalo saran kakak, kamu mendingan terima tawarannya Rendy aja deh” kak Ve masih sedikit ragu dengan jawabannya.

“Alasannya?”

“Kamu kan masih tanggung jawab ngerawat dia sampai sembuh. Terima aja tawarannya. Orang sakit juga perlu refreshing jalan-jalan. Lagian kamu kan juga bisa sekalian ngontrol keadaanya.”

Yuvia tampak berpikir sejenak “Terus Viny gimana?”

“Minta maaf sama dia untuk kali ini gak bisa nemenin. Sekali-sekali kan gapapa. Jadi… gimana?”

“Ya udah, thanks sarannya kak” Yuvia mengakhiri sambungan telefonnya. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya sejenak ke kasur.

“Ikutin aja lah, semoga ini yang terbaik” Yuvia mulai mengontak Viny

Yuvia  : “Mamah dinooo… huhuhu maaf aku ga bisa nemenin. Aku sore ini ada acara. Maaf bangeeet T.T”

Mamah Dino   : “Loh… yaudah deh gapapa. Emang acara apaan sih? Acara keluarga gitu? Atau… mau jalan ya?”

Yuvia  : “Kepo deh… haha. Ya udah, maaf banget ya mah”

Mamah Dino   : “Iya, tapi lain kali harus temenin!”

Yuvia hanya men-read LINE terakhir Viny.

“Sekarang… kontak Rendy lagi. Semoga dia gak marah soal tadi” harap Yuvia. Dia mulai mencari kontak Rendy dan mulai menekan tombol call.

 

—o0o—

 

“Apa mungkin dia marah ya karena aku ajak jalan?” pikir Rendy di kamarnya sambil menatap lampu bintang-bintang di kamarnya. Jadi misal kalo lampunya di matiin, lampu bintang-bitangnya nyala gitu gais, ga perlu repot-repot keluar rumah liat bintang. Diem di kamar aja seru haha, apalagi bintangnya kan warna-warni.

“Ah… gue nggak ngerti jalan pikiran semua cewek. Susah ditebak!” Rendy kemudian duduk di kasurnya. Tiba-tiba…

Sebuah panggilan masuk ke Hpnya. Tertera nama “Yuvia Luvchu” meng-calling nya.

“Siap-siap gue kena marah” Rendy dengan hati-hati mengangkat telfonya. Hpnya ia jauhkan dari teliganya kalau-kalau suara teriakan model toa tahu bulat itu anak bikin gendang teliganya rusak. Gw sih bukan masalahin gendang telinganya gais, tapi lu tau sendiri di dalem telinga itu ada rumah siput. Gw kasihan kalo-kalo siputnya keganggu tidurnya (?)

 

TIT…

 

Rendy menerima panggilan itu, bersiap-siap dan…

 

“Halo…”

 

“Eh? Loh? Bentar-bentar. Dia gak marah? Gak teriak-teriak??”

“Halo?” suara itu terdengar lagi. Lebih lemah lembut dari biasanya. Benar, itu suara Yuvia, dia tidak marah atau semacamnya.

“Kamu marah ya soal tadi aku tiba-tiba ngeputusin sambungan telfonnya?

Ya udah deh, sekali lagi aku minta maaf”.

 

~o0o~

 

Tidak ada jawaban dari panggilan telfon itu. Dirasa sepertinya Rendy masih marah, ia berniat menutup sambungan telfonnya. Hanya berjarak sekitar satu centimeter sebelum dia memutuskan sambungan telfonnya…

“Eh iya, halo? Sorry-sorry slow respond. Aku kira tadi kamu bakal marah-marah gegara aku ajak jalan. Sekali lagi maaf ya udah ganggu. Aku tutup ya telfonnya.”

“Eh-eh tunggu dulu. Nggak kok, aku nggak marah. Tadi Cuma… kaget aja” Yuvia langsung buru-buru membalas telfonnya sebelum orang di seberang sana memutuskan panggilannya.

“Kaget kenapa?Ada kecoak? Cicak? Atau… kaget aku ajakin jalan nih? Hehe”Dari nadanya, sepertinya ia sedang bercanda.

“Ish… ya enggak lah. Ngapain juga kaget diajak jalan sama kamu. Hih… gak banget kali” Yuvia membalas dengan mimik wajah yang kesal karena Rendy kepedean.

“Kirain… kenapa nih telfon balik?”

“Em… ja-jadi… tawaran kamu yang ngajak jalan tadi masih berlaku?”

“EH?!”

“Jangan salah sangka dulu. Ya kan aku masih tanggung jawab dalam masa pemulihan kamu. Ya jadinya aku temenin kamu buat refreshing jalan-jalan gitu” Yuvia sedikit ragu menjelaskan.

“Oh… i-itu ya? Be-beneran mau?”

“Emm…H’mm” Yuvia menjawab dengan nada mengangguk.

“Terus ke mana? Aku nggak terlalu tau spot tempat asyik di daerah sini.”

“Ya udah, biar aku yang nentuin tempatnya.”

 

TUT… TUT… TUT…

 

“YES!” Tanpa sadar, Yuvia berteriak.

“Kak?”

“EH?! Windy? Sejak kapan kamu di situ?” tanya Yuvia kaget.

“Dari tadi. Aku ketuk pintunya tapi kakak gak denger. Yaudah aku masuk, soalnya tadi aku denger kakak teriak-teriak lagi.”

“Ah enggak kok! Kamu salah denger kali. Udah-udah sana, sore ini kamu ada les kan?” Yuvia mendorong-dorong Windy keluar kamarnya. Setelah Windy keluar, Yuvia menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

“Sekarang… pake baju APA?!”

 

~o0o~

 

“Dasar cewek aneh” Rendy menggeleng kepalanya pelan sambil tersenyum tipis melihat ke layar Hpnya.

“Kamu kenapa senyam-senyum? Nemu spot berburu pokemon? Atau hunting-an hari ini dapet pokemon Rare?

“Ebuset! Dateng dari mana kamu Yon?” Rendy kaget yang melihat Yona sudah berdiri di balkon.

“Tadi, aku nyelonong masuk. Kamu keasyikan nelfon. Niatnya Cuma mau ngambil apel yang di meja kamu” ucap Yona sambil memakan sebuah apel di tangan kirinya.

“Kamu punya kekuatan apa sih? Misdirection gitu? Hawa keberadaanmu tidak terdeteksi. Ah… kamu kah pemain keenam bayangan?”

“Mulai deh, khayalan dari komik atau anime. Ngaco! Btw, dapet pokemon Rare?”

“Dapet Yon, pikachu. Udah, keluar sana, lagi sibuk nih” Rendy mendorong Yona keluar.

“Ye… malah gitu.”

 

BUK!

 

Rendy menutup pintu kamarnya.

“Yang ntar sore mau jalan mah bedaaa!” Yoa berteriak dari luar kamar Rendy.

 

—o0o—

 

Sore telah tiba, waktu menunjukan pukul 3 sore hari. Rendy sudah rapih dengan T-Shirt dengan sebuah tulisan abstrak dengan efek splash (cat tumpah) berwarna biru dongker. Dilapisi dengan kemeja selengan berwarna blue-light yang sengaja tidak ia kancingkan. Dan juga celana jeans hitam polos. Sepatu Phoenix hitam bercorak biru tua. Serasi dan khusus untuk warna biru. Dia langsung berlari dari atas menuju ke bawah. Dengan rambut yang cukup berantakan karena buru-buru dikejar waktu.

“Ren? Mau kemana?” tanya kak Melody.

“Jalannya jadi sore ini kak, aku buru-buru nih, telat” Rendy berlari menuju garasi.

“Nih! Kuci mobil tante Citra!” kak Melody melempar sebuah kunci mobil yang bermerek sebuah mobil sport. Sontak Rendy berbalik dan reflek menangkap kunci mobil itu.

“Thanks kak.”

Melody mengedipkan sebelah matanya. “Jangan ngebut!”

“SIP!” Rendy langsung tancap gas degan kecepatan 50 km/jam menuju sebuah mall plaza di daerah Senayan. FX sudirman lantai 3.

 

—o0o—

 

“Mana sih… huftyup” gadis itu sudah 15 menit menunggu di depan bioskop. Ia kesal karena seseorang yang ditungguinya tidak tepat waktu akan janji. Ia terus saja melirik jam tangannya dan menghentak-hentakkan kakinya sambil cemberut celingukan sana-sini mencari seseorang itu.

“Nungguin siapa?” tiba-tiba pemuda itu sudah ada dibelakangnya dengan membawa dua buah popcorn dan juga minuman. Wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak sepuluh centi dan dibatasi popcorn yang dibawa pemuda itu. Mereka berpandangan sejenak.

“Kamu dari mana aja sih? Aku nungguin dari tadi… huftyup. Aku ngambek!” gadis itu terlihat bete dengan pemuda dihadapannya. Ia lantas pergi dengan menyilangkan kedua tangannya di depan sambil mendengus kesal. Pernah nonton videonya? Admin udah kan? Cek aja twit dari twitter author cerbung ‘Pengagum Rahasia’ yak :’3

“Ya maaf, tadi  kan macet” pemuda itu menggenggam tangan gadis itu. Seperti tidak ingin melepaskannya pergi.

“Gini deh, nanti abis ini kamu boleh ajak aku ke mana aja terserah kamu asal kita jadi nonton, Oke?” tawar pemuda itu. Gadis itu menoleh ke belakang. Bukan perasaan dan mimik wajah marah atau bete. Tapi…

“Pfftt…. AHAHAHA…” tawanya pecah ketika melihat pemuda itu.

“Loh? Kok malah ketawa? Ada yang aneh? Ada yang lucu gitu?” tanya pemuda itu bingung. Ya, itu adalah Rendy. Gadis tadi adalah Yuvia.

Kemudian Yuvia mendekat ke arah Rendy.

“Nunduk” perintah Yuvia.

“Eh? Buat apa?” tanyanya semakin bingung.

“Nunduk aja!” Rendy pasrah, Yuvia mendekat, wajahnya semakin dekat hingga hembusan nafas mereka saling bersentuhan. Rendy hanya menutup matanya.

 

“Eh?” Rendy merasa ada sesuatu membelai lembut kepalanya sambil meniupinya.

“Fyuhh… udah bersih tuh. Sekalian aku rapihin” Yuvia kemudian kembali ke posisi awalnya.

“Ada apaan sih tadi?” tanya Rendy memegang kepalanya.

“Tadi ada daun di rambut kamu, terus rambut kamu juga acak-acakan. Ya udah, aku benerin aja sekalian” ucap Yuvia.

“Oh… gitu” Rendy melihat Yuvia dari atas sampai bawah. Model rambut yang digerai lurus dan sebagian dikepang untuk menambah variasi rambut hitam berkilaunya. Mengenakan seperti dress berwarna biru laut. Rok putih pendek sepaha dan juga sneakers berwarna pink. Tak lupa accesoris sebuah jam putih bercorak pink bermotif Hello Kitty.

“Hei?” Yuvia melambaikan tangannya di depan wajah Rendy.

“Eh sorry-sorry. Tadi ada barang antik di depan” ucapnya. Sebenarnya ia hanya ingin bilang kalau Yuvia saat ini cantik.

“Ah… masa sih? Mall kek gini jual barang antik?” tanyanya heran.

“Udah lupain. Betewe, makasih” Rendy mendekatkan tangannya ke puncak kepala Yuvia. Seperti ingin mengelusnya tapi, ia salah tebakan.

“Loh?! Iiihhh…! kok diberantakin sih rambut aku!” Yuvia membenarkan rambutnya.

“Lagian tadi gemes sih HAHA. Lucu aja kalo diacak-acak wlee :p”

“Huft! Ngeselin!” ucap Yuvia cemberut.

“Jadi gimana? Masih marah nih?” tanya Rendy.

“Pikir aja sendiri” ucapnya membalikkan badan.

“Ya udah deh, aku pulang aja” ucap Rendy dibuat-buat. Hanya untuk Yuvia berbalik menghadapnya.

“Eh?” Rendy tidak beranjak, masih tetap di posisinya tadi. Alhasil, Yuvia sedikit menabrak Rendy dan hampir memeluknya. Ya… postur tubuh Rendy lebih tinggi dari Yuvia. Sekiranya, Yuvia hanya setinggi bahu Rendy.

“Apaan sih?” Yuvia mundur ke belakang.

“Sengaja ya? Biar dipeluk-peluk?” Yuvia mendengus kesal.

“Enggak kok, dah lah. Ayo!” Rendy menarik tangan Yuvia.

“Eh-eh?! Tunggu!”

 

—o0o—

 

“Em… nonton apaan sih?” tanya Rendy saat memasuki cinema XXI bioskop di mall itu.

“Nih The Good Dinasaur” Yuvia menunjukkan dua buah tiket yang dibelinya.

“Selera kamu bagus juga. Aku suka banget sama kartun-kartun gitu. Apalagi yang dari Walt Disney” ucap Rendy. Kemudian mereka mulai duduk di bangku paling depan.

“Beneran? Sama dong. Seru gitu, karakternya lucu-lucu kayak akuuu. Ya kan? Ya kan?”

“Kepedean amat sih.”

“Emang kamu lucu gitu?”

“Emangnya aku kayak gimana?”

“Jelekkk.”

“Iiihhh… apaan deh!” Yuvia memukul bahu Rendy pelan.

“Udah tuh, udah mulai filmnya” Rendy mengalihkan pembicaraan. Ya karena memang filmnya juga sudah dimulai sih.

Berkali-kali Rendy menatap wajah Yuvia dari samping yang asyik tersenyum dan tertawa menonton. Entah mengapa, hatinya merasa tenang. Sebuah kebahagiaan kecil bisa melihat senyum terukir di wajah gadis itu.

Perlahan, ia seperti merasa ada sesuatu yang ganjil di tangannya. Ia melirik ke arah tangannya, dan menjumpai tangan mereka bersentuhan. Yuvia seperti mengkode untuk menggenggam tangannya. Mungkin kali ini saja tak apa lah, pikirnya. Dengan erat, ia menggenggamnya. Kehangatan dan kenyamanan yang telah lama ia rindukan bersama teman masa kecilnya.

 

—o0o—

 

Sekitar kurang lebih 2 jam dan akhirnya mereka keluar dari bioskop. Mereka nampak sedang bercanda tawa ria. Tangan mereka masih saja menggenggan satu sama lain.

“Tuh kan, aku bilang juga apa. Dinasaurusnya baik” ucap Yuvia.

“Iya. Keren filmnya Yuv” Rendy juga ikut andil berbicara. Ia melirik jamnya dan menunjukkan pukul 16.40 sore. Ya karena durasi film yang asli kan sekitar 1 setengah jam gitu. Kalo ditampilin di TV… baru full 2 jam. Gegara ada iklan, bener gak?

“Yuv?” panggil seseorang. Yuvia menoleh dan seedikit terkejut.

“Oh… Jadi ini… Ternyata gmgak jadi gara-gara kamu…” sebelum menyelesaikan kalimatnya, Yuvia membungkam mulut hadis itu.

“Hmphhh… Hmphhh…”

“Sut! Diem gak.”

“Hmm… Iya iya. Lepasin dulu napa” ucap gadis itu berbisik.

“Wih, tadi seneng banget kayaknya. Sampe pegang-pegangan tangan segala gitu. Tumben akur” celetuk gadis itu.

Yuvia dan Rendy berpandangan ke arah tangan mereka dan…

“EH?!?!?!” Mereka langsung melepas genggaman satu sama lain.

“Udah jadian ya? Moga langgeng loh.”

“Iiihh!!!! Awas ya mamah Dino!!!”, Yuvia kesal sekaligus salting. Ya, gadis tadi adalah Viny. Kebetulan sepertinya ia sedang menonton film juga di bioskop mall itu. Hanya saja, di film dan jam tayang yang berbeda.

“Eh, aku laper nih. Mampir mam dulu yuk.”

“Yah… okelah. Kebetulan laper juga” Rendy dan Yuvia berjalan mencari cafe di dalam mall itu. Akhirnya, mereka menjumpai sebuah cafe yang bernuansa… emm… romantis.

“Ke situ yuk! Ayooo!” Yuvia merengek menarik-narik tangan Rendy.

“Ah… cafenya kayaknya kurang spesifik deh. Cari yang lain aja” sebenrnya bukan itu. Rendy hanya canggung saja. Ini pertama kalinya ia jalan dengan seorang cewek yang bukan keluarga atau pun saudaranya. Kemudian saat mereka sedang sibuk ribut, datang seorang owner cafe itu.

“Permisi mas, mbak. Silahkan mampir saja ke cafe kami. Kami ada diskon dan juga promosi untuk pelanggan yang membawa pasangan” tawar sang owner cafe.

“Tuh… yuk” Yuvia mengedipkan sebelah matanya pada Rendy.

“Iya, iya” Rendy menjawab dengan nada kurang bersemangat. Mereka masuk, dan di sana sudah ada sebuah meja dengan hiasan penuh bunga dan beberapa figura love. Fix! Ini bukan tempat yang cocok.

“Silahkan mas, mbak” owner cafe mempersilahkan mereka duduk. Segera sang owner memanggil pelayan dan menyuruh untuk memberikan menu kepada Rendy dan Yuvia.

“Ini mas, mbak menunya” ucap pelayan itu.

“Kamu apa?”

“Emm… samain aja deh.”

“Minumnya?”

“Cappucino Esspresso dingin.”

“Oh iya, kami ada promosi. Setiap pasangan yang memesan makanan di sini akan dapat free menu dissert baru. Choco LavaBall Bread. Dissert biskuit roti coklat renyah dengan saus coklat yang meleleh.” Jelas si pelayan.

“Wahh! Asyik. Oke mbak, kita pesen Lasagna 2, Cappucino Esspresso 1, dan Strawbeery Juice nya 1” Yuvia terlihat bersemangat memesan.

“Ada lagi?”

“Nggak. Udah, itu aja” si pelayang kemudian beranjak pergi.

“Baik, ditunggu ya. Silahkan lanjutin lagi mesra-mesraan pacarannya” pelayan itu tampak tersenyum.

“EH?!” mereka berdua sontak kaget mendengar ucapan si pelayan itu.

“Ta…pi… mbak… sa-ya bukan… pacar…” Rendy mulai canggung. Suasana hanya hening hingga pesanan datang.

“Ini mas, mbak. Silahkan menikmati.”

 

*****

 

Makanan utamanya sudah mereka habiskan, kini tersisa dissert yang menjadi promosi cafe ini. Yuvia lahap sekali memakan roti bola-bola renyah itu. Ia lihat, Rendy hanya diam saja memperhatikannya makan.

12

“Kenapa diem aja? Cobain juga dong. Enak loh” Yuvia tak henti-hentinya makan.

“Pantes aja gendats. Makanya banyak gini” Rendy menatap dengan wajah tidak percaya. Merasa Yuvia hanya diperhatikan saja, ia berinisiatif agar Rendy juga mencobanya.

“Buka mulutnya…” Yuvia mulai menyendokan satu roti Lava Ball itu.

12a

“Emm… nggak ah, nggak mau” Rendy menolak dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Iiihhh…! cobain dulu” Yuvia tetap memaksa.

“Nggak mau” Rendy masih menolak.

“Tetep nggak mau ya? Aku kasih tau kak Melody gimana yah reaksinya?” Yuvia mulai mengambil Hpnya dan mencari kontak kak Melody. Hanya dengan tombol call saja, dan semua masalah usai.

“Argghhh! Iya, iya. Ngancem mulu mainnya, huft…” Rendy akhirnya membuka mulutnya.

“Aaammm… gimana? Enak kan?”

“Lumayan lah.”

 

~o0o~

 

“Roger di TKP! Siap! 86!”

“Sok-sokan gaya pake ngomong kek gituan.”

“Udahlah, diem aja kak. Target dalam pengawasan nih.”

“Gimana? Sukses?”

“Nggak kak, Sarimi aja deh. Yang isi dua ya. Biar hemat, komplit, dan irit.”

“Kamu mau kakak santet?!”

“Eh-eh… jangan kak. Boneka Valak aku jangan di apa-apain.”

“Liat nih! Jarum ini bakalan nusuk ke lehernya kalo misi ini gagal!”

“Eh?! Ya jangan dong kak. Aku susah-susah buatnya… huhuhu…”

“Sekarang! Kembali ke operasi militer!”

“Siap! Laksanikan!”

 

~o0o~

 

“Dah abis nih, keluar yuk” Yuvia memberesi tasnya.

“Eh bentar” Rendy menahannya.

“Kalo makan tuh pelan-pelan. Belepotan kayak anak kecil gini” ada sisa sedikit lelehan coklat di bibir Yuvia. Rendy membersihkannya dengan tissue yang ada di meja makan tersebut. Yuvia terus memandangi Rendy, tapi Rendy tak menyadarinya. Ia hanya fokus membersihkan.

“Shuuuttt… mau sampe kapan di sini? Udah yuk buruan pulang” Rendy melambaikan tangan di depan wajah Yuvia. Ia akhirnya tersadar dan wajahnya tertunduk merah merona. Rendy tanpa ba bi bu langsung menarik tangan Yuvia keluar dari cafe itu. Karena Rendy merasa ada yang memperhatikan. Ia hanya curiga dengan seseorang yang mengenakan pakaian tertutup kotak-kotak dan topi detektif seperti mengawasinya, hanya saja kurang mencolok karena buku menu tadi menjadi saasaran empuk sudut pandang pengawasannya.

“Pulang yuk, udah sore nih. Liat, udah jam 5” Rendy melirik ke arah jam tangannya dan nampak langit juga sudah menunjukan semburat jingga keemasan oranye.

Yuvia masih diam tertunduk, kemudian ia menarik baju Rendy.

“Tunggu” wajahnya masih tertunduk saat bicara.

“Hmm? Kenapa?”

“Tolong, kali ini aja. Kita pergi ke suatu tempat. Sore ini juga” ucap Yuvia pelan.

“Eh, tapi…”

“Please, kali ini aja” nada bicaranya seperti sangat memohon. Sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan. Rendy berpikir sejenak. Seperti tidak tega, akhinya ia menuruti kemauan Yuvia.

“Tapi, aku mampir ke toko kue dulu ya. Ada yang mau dibeli nih” Mereka menuju toko kue dan membeli dua kotak Cheese Cake yang entah untuk siapa.

 

—o0o—

 

Yuvia menghantarkannya ke suatu tempat. Sebuah tempat yang bisa dibilang tidak asing baginya. Rendy memarkirkan mobilnya di sudut tempat itu. Kemudian ia ditarik oleh Yuvia keluar.

“Kita mau ke…ma…na…?”

 

DEG!

 

“Tempat ini…”

Ya, sebuah taman. Penuh dengan anak kecil yang berlari ke sana kemari dan juga… sebuah…

Bangku taman? Yuvia menariknya ke tempat itu sambil masih tertunduk. Wajahnya terhalang oleh poninya.

“Taman ini…

“Benar, nggak asing lagi. Tempat pertama kali aku bertemu dengannya…” Rendy masih merekam jelas memory kenangan masa kecilnya. Kenangan bersama teman masa kecil yang sangat ia sayangi. Tempat terindah dan tak terlupakan olehnya.

 

~o0o~

 

“Target menuju sebuah taman komandan!”

“Taman mana?”

“Anda lihat saja sendiri” orang itu memperlihatkan pemandangan di sekitar taman itu. Ya, karena memang sedang menggunanakan aplikasi Video Call.

“Tempat ini…”

“Kenapa dengan tempat ini komandan?”

 

~o0o~

 

Yuvia masih saja terduduk diam, tidak berbicara atau apa pun. Pandangannya masih kosong ke bawah, menunduk termenung akan sesuatu. Rendy yang menyadari keadaan canggung hening ini, ingin berbuat sesuatu. Tapi apa?

Yuvia akhirnya melihat ke sbuah taman bermain. Ia melihat sekumpulan anak kecil sedang bermain. “Ren, temenin aku ke sana.” Rendy hanya pasrah mengangguk mengikuti kemauan Yuvia. Karena ia bingung harus berbuat apa kecuali menurutinya. Ia hanya trauma kalau-kalau Yuvia sedang PMS. Pernah saja saat kak Melody PMS, ia merasa menjadi babu dan boneka olehnya.

 

Pas lagi PMS, kak Melody nyuruh-nyuruh Rendy untuk ini itu. Seperti pembantu. Bahkan jika ia sedang marah, piring pun bisa ia pecahkan dan segalanya bisa ia berantakan. Rendy menggeleng penuh ketakutan melihat sisi menyeramkan kakaknya. Kakaknya itu hanya bisa tersenyum penuh arti dan bilang “Kan lagi PMS hehe”.

Pernah juga action figure Rendy dipatahkan. Itu membuatnya frustasi sekali. Dan pernah saat itu ia tidak mematuhi perintah kakaknya. Ia langsung saja pada saat malam itu tidak menghiraukan kakaknya. Karena kamarnya dikuasai kak Melody, ia tidur di sofa. Kemudian saat tidur, ia dibangunkan dan disuruh lagi oleh kak Melody. Ia tetap tidak mau dan akhirnya…

“Erkkk ek… khek… khekk….” Rendy sampai berbusa mulutnya karena kak Melody menusuk-nusukkan garpu pada tubuhnya sampai berdarah. “Hehe kan lagi PMS” syadis amat.

 

Oke, back to story.

 

Yuvia berjalan menyebrangi sebuah jembatan kecil di taman itu. Tunggu, Rendy seperti melihat sesuatu? Apa itu?

12b

Bayangan?

Bayangan siapa? Rendy berusaha keras mengingat memory masa kecilnya.

Tiba-tiba ada sebuah bola menggelinding menuju ke arah mereka.

“Kak! Main bola bareng yuk!” ajak anak-anak di taman bermain itu.

“Yuk main sama mereka!” ajak Yuvia bersemangat.

“Boleh deh” Rendy kemudian bangkit. Kini mereka bermain bola bersama. Dibagi menjadi tim Rendy dan tim Yuvia.

Lucu sekali saat mereka bermain. Beberapa kali, Rendy ditarik-tarik tangannya oleh pion-pion anak kecil dari tim Yuvia karena selalu mendapatkan bola.

“Eeh… mainnya jangan tarik-tarik” ucap Rendy kewalahan.

“Ayo serang kak Rendy!” ucap semuanya. Kini mereka saling menariki tangan dan kaki Rendy. Membuatnya tak bisa berkutik dari cengkraman para anak kecil itu.

“Hahaha… kamu lucu” Yuvia hanya tertawa. Setelah itu tersenyum manis masih menahan gelagak tawa. Lega, akhirnya gadis yang bersamanya itu bisa tersenyum hangat.

 

DEG!

 

Tiba-tiba, ia merasakan seperti De Javu atau memang memorynya. Bola pun lepas dari kendalinya.

“Ayo! Serang gawangnya kak Rendy!” ucap para anak kecil itu menyerbu. Saling mengoper asal-asalan seperti taktik yang tak beraturan.

 

DEK!

 

“Goal!!!” salah satu dari mereka berhasil menjebol gawang Rendy.

“Yeay! Kita menang!” semangat dari Yuvia pada anak-anak kecil itu.

12c

“Yeay…!!!” sorak semuanya. Yuvia tersenyum manis sekali melihat tingkah para anak kecil yang konyol itu.

Tiba-tiba…

“Anak-anak! Yuk pulang, mam dulu. Udah sore!” ucap para ibu-ibu paruh baya yang datang menjemput satu persatu buah hatinya. Mereka semua menghampiri Rendy dan Yuvia.

“Mah, tadi kakak-kakak ini loh yang main bareng kita!” ucap anak paling gendut di gendongan ibunya itu.

“Iya mah. Kak Rendy sama Kak Yuvia yang main bareng kita! Seru banget tadi mah!” ucap seorang anak gadis dengan rambut twintailnya.

“Makasih mas dan mbaknya mau meluangkan waktu untuk main bersama anak-anak kami. Kalo boleh tau, Mas dan mbak ini namanya siapa?”

“Yuvia dan Rendy bu” ucap Yuvia tersenyum, sedangkan Rendy hanya mengangguk.

“Oh iya makasih mas Rendy sama mbak Yuvia. Kalian pacaran kan? Semoga langgeng sampai jenjang pernikahan ya” ucap ibu itu.

“EH?!” Yuvia dan Rendy kaget.

“Tapi saya… bukan… pacar…” jawab Rendy terpotong.

“Ya sekali lagi makasih. Saya pamit pulang bersama anak-anak” kemudian ibu itu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Kalian serasi” ibu itu meninggalkan mereka dan menggendong anaknya.

“Gimana? Seru nggak tadi?” tanya Rendy pada Yuvia

“Seru banget HAHA. Kamu jadi mainan mereka tuh, ditarik-tarik.” Yuvia hanya tertawa dan tersenyum simpul menatap Rendy.

“Ya udah, pulang yuk. Capek nih” ucap Rendy. Kemudian tawa Yuvia berhenti dan ia kembali tertunduk murung seperti tadi.

“Please, kita di sini sampai mataharinya terbenam” Yuvia  menarik kemeja Rendy. Rendy berpikir lagi dan lagi. Tapi ini sudah sore. Kalau dilihat dari wajahnya, Yuvia sedang sedih atau semacamnya. Ia tak tega dan memilih menurutinya. Mereka kembali ke bangku taman tadi.

 

~o0o~

 

“Roger! Meydey! Meydey! Target mendekat!”

“Menjauh dari area nuklir! Pakai mode invisible-man untuk pengintaian lebih lanjut!”

“Er… kak?”

“Kakak akan pantau dari radar sini. Kamu tetap awasi mereka, kalau-kalau ada serangan missil dari musuh secara tiba-tiba!”

“Mulai lagi deh…”

 

~o0o~

12d

Suasana hening, canggung. Orang-orang di taman mulai bepergian pulang ke rumahnya karena langit sudah senja. Berwarna orange bercorak merah dan matahari sudah tampak di ufuk barat. Jam sudah menunjukan pukul 17.40. Mereka masih terduduk diam satu sama lain di sana.

Rendy tidak tau kini ia harus berbuat apa. Tadi fisiknya sedikit lelah, sehingga juga berpengaruh pada sikisnya. Ia susah berpikir untuk saat ini. Tiba-tiba, ia melihat di sudut taman ada tukang es krim. Mungkin Yuvia akan suka jika ia belikan, secara itu kan termasuk makanan favoritnya. Lagipula tadi haus juga setelah bermain bersama para anak-anak tadi.

“Emm… Yuv, aku ke sana sebentar ya” Yuvia hanya mengangguk pelan tanpa melihat ke arah Rendy. Langsung saja Rendy berlari menuju tukang es krim itu. Ia dengan gesit membeli 2 buah es krim corn coklat. Kalo diliat-liat, ini yang jualan es krim kok kayak orang Arab yak?

“Assalamualaikum, ama ba’du. Ana mau beli es kurim nya 2 rasa cocokelta boleh?” oke, Rendy nggak bisa bahasa Arab.

“Wa’alaikum salam. Ah, pake bahasa Indonesia saja. Ente nggak pinter-pinter amat bahasa Arab. Ente fayah, ente lemah” itu tukang es krim sambil niruin gaya hip-hop tokoh Killer Be di serial mangaka Naruto.

“Ente bahlul! Tukang es krim ngajakin ribut apa mau jualan neh?” batin Rendy sedikit kesal.

“Ya sudah, ini es krimnya dua. Coklat asli tiramisu dari Belgia asli dengan topping dan campuran susu dari Nyuzilen” tukang es krim itu menyerahkan dua buah es krim kepada Rendy.

“Berapa vulus nya?”

“Dua puluh ribu sahaja wahai anak muda.”

“Nih bang” Rendy menyerahkan uang kertas berwarna biru pada pedagang es krim itu.

“Tunggu sebentar kembaliannya. Sama ini ana mau ngelayanin yang lain sebentar yak” tukang es krim itu nampak sibuk. As… sudahlah.

“Ambil saja kembaliannya untuk ente!” Rendy berteriak sambil berlari.

“Eh? Tapi…

Ya sudah. Terima kasih, ana doakan ente ketemu sama orang yang ente cari! Biar titit ente bukan Cuma buat pipis! Barakallah!”

“WTF?! Doa macam apa itu?!” Rendy berlari dengan gesit menghampiri Yuvia.

Sebelum itu, ia melihat ada toko bunga. Ia berinisiatif pasti cewek suka sama bunga. Ia akhirnya mampir sebentar dan membeli sebuket bunga… Em…

“Misi mbak? Saya mau beli ini” Rendy hendak membeli salah satu dari bunga yang dipegangya.

“Kalo boleh tau, mas lagi berduka ya? Apa ada sanak keluarga atau teman yang mengalami musibah? Kalo gitu saya doakan semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya” ucap pegawai toko bunga itu.

“Loh? Kok gitu mbak? Bukan kok. Orang saya mau ngasih buat seseorang. Lagian bukan ada musibah juga di keluarga dan teman saya.” Rendy terkekeh.

Pegawai toko bunga mengernyitkan dahinya “Kalo boleh tau, buat siapa si mas?”

“Buat seorang cewek mbak.” ucapnya polos.

“Astaga… Mas bisa ditampar gara-gara ngasih bunga ini. Ini tuh bunga kamboja mas, bunganya orang mati.”

“Jirut! Eh… Emang gitu ya mbak?” pegawai itu hanya mengangguk.

“Emang yang cocok bunga apa kalo untuk seorang cewek?” ucap Rendy sambil melihat-lihat sekeliling jenis bunga di toko itu.

“Saya saranin, sebuket campuran bunga mawar dan eidel weiss. Buat pacarnya kan?”

“Eh?! Bu-bukan…” Rendy sedikit terkejut.

“Lah terus siapa? Gebetan? Mantan?”

“Temen biasa kok mbak.” jawab Rendy sambil memberikan uang.

“Nih mas, datang lagi ya.”

“Kalo ada kabar duka, saya mampir. Dah~”

“Ebuset! Ada-ada aja” pegawai toko itu hanya menggeleng pelan.

 

—o0o—

 

“Nih…” Redy menyodorkan es krim itu di depan wajah Yuvia yang masih tertunduk lesu. Entah dorongan apa, tapi ini berhasil membuat Yuvia menatap ke arahnya. Rendy tersenyum sambil mengangguk, kode untuk mengambil es krim itu.

“Thanks” Yuvia akhirnya tersenyum mengambil es krim itu. Membuka bungkusnya dan mulai memakan topping es krim itu.

“Enak ya es krimnya” Rendy memulai pembicaraan basa-basi. Sekedar memecah keheningan sedari tadi.

“Iya” Yuvia hanya menjawab dengan pandangan lurus menatap ke arah ufuk barat. Matahari sudah mencapai ujung di harinya. Semburat orannye berubah menjadi merah, kebiruan gelap nila, dan hampir menghitam.

Disamping ia menatap lurus ke arah beranjaknya matahari, ada sebuah tempat di sana. Sebuah pasar malam, dipenuhi dengan banyak sekali wahana permainan, orang beralalu lalang, bazar. Tapi yang Yuvia perhatikan hanya sebuah wahana sederhana yang berputar secara perlahan.

Rendy pun mengikuti arah pandangan mata itu. Bianglala? Ya sebuah wahana seperti kincir yang membawamu naik ke tempat tinggi. Menghantarkanmu untuk melihat dunia dari sisi atas yang tak dapat dibayangkan. Pemandangan kota saat sore hari di mana semua orang berlalu lalang, berkendara, mengakhiri aktivitas. Rendy merasa ada yang membuat kepalanya sedikit pusing.

DEG!

“A-apa aku ingat sesuatu?” Rendy mencoba berpikiri keras.

“Seperti tidak asing. Tapi…

…Apa?”

 

Catatan kecil : klik link ini

https://m.youtube.com/watch?v=9rXJ2WZ-auY

Open link new tab agar bisa lebih menangkap jalannya cerita (tidak wajib) 🙂

 

“Aku boleh tanya nggak?” Yuvia mulai berbicara.

“Hm? Tanya aja” Rendy hanya menanggapinya.

“Kamu pernah berpikir nggak kalo cinta itu bisa kadaluarsa?”

“Cinta? Kadaluarsa? Aneh-aneh aja kamu” Rendy menjawab dengan sedikit candaan.

“Aku serius” dari nadanya, sepertinya ini memang penting.

“Cinta kadaluarsa ya? Menurut pendapatku, sebenernya itu bukan kadaluarsa sih. Itu keadaan di mana sepasang kekasih ada kalanya memiliki masa lelah bersama. Atau bisa juga keadaan di mana dua orang yang memiliki ikatan yang kuat dan kenangan bersama itu berpisah. Jadi… satu sama lain dari mereka merasa lelah menunggu dan di sisi lain, ada yang merasa lelah mencari” jelas Rendy. Yuvia tercengang mendengar penjelasan itu.

“Aku mau cerita nih” Rendy mulai serius mendengarkan.

“Dulu… aku punya sahabat masa kecil. Dia adalah orang yang selalu ada di sampingku, mejagaku, dan melindungiku. Suka duka, ia selalu menemaniku. Tapi…

Dia pergi ninggalin aku di sini.”

 

DEG!

 

“Aku pertama kali bertemu dengannya di sini. Di tempat ini… entah apa yang kurasakan, tapi saat itu aku masih kecil. Tidak terlalu mengerti apa-apa. Dan entah, aku selalu merasa berdebar-debar jika berada di sampingnya” Yuvia menaruh tangannya di depan dadanya, matanya seperti… berkaca-kaca?

“Aku cinta padanya…

aku selalu pengen jatuh cinta sama orang yang kasih aku begitu banyak kenangan sampai aku nggak bisa ngelupain dia sama sekali.”

“Tapi terlambat, dia sudah pergi. Hanya kenangan yang tersisa darinya. Tak ada kabar sama sekali. Setiap hari aku menunggunya. Menunggu, menunggu, dan terus menunggu ia datang dan memelukku erat suatu hari nanti, aku seakan ingin menangis, menangis bahagia. Tapi itu hanya sebuah khayalan. Akhirnya…

Aku lelah menunggu.” Yuvia sedikit meneteskan air mata. Rendy yang melihat hal itu sedikit terpaku dan terkejut. Ia langsung saja menyeka air mata Yuvia dengan tangannya.

“Eh?” Yuvia terkejut.

“Jujur, aku pernah punya cerita yang hampir sama” kini gantian Yuvia yang mendengarkan Rendy. Ia menatap wajahnya dari samping. Tapi Rendy hanya terfokus menatap ke depan, tepatnya ke arah matahari yang sudah di ujung sana.

“Aku pernah bertemu seseorang di tempat ini juga. Dia orang yang ngangenin. Lucu dan imut. Jujur, aku juga mencintainya. Nggak ada yang bisa gantiin dia. Tapi suatu hari…”

Yuvia masih serius mendengarkan.

“Aku harus pergi karena keadaan yang memaksa.”

 

DEG!

 

“Sekian lama, aku sangat rindu padanya, memikirkan keadaannya. Siapa yang akan menjaganya. Siapa yang akan menemaninya. Hanya itu yang ada dibenakku. Hingga aku bisa kembali lagi ke sini. Hanya satu alasanku…

Mencari keberadaanya….

Aku mencari, mencari, dan terus mencarinya. Tapi, aku juga sama. Aku lelah mencarinya” Rendy menggenggam kalung ‘R’ miliknya, tapi Yuvia tidak bisa melihatnya karena tertutupi kemeja Rendy.

Rendy menatap balik ke arah Yuvia.

“Intinya, semua orang bisa lelah. Kamu lelah menunggu, dan aku lelah mencari. Tapi, ada masanya lelah itu juga akan hilang karena keinginan yang kuat. Percuma untuk kamu melupakan semua kenangan bersama orang yang kamu sayangi, melupakan sama saja dengan mengingatnya kembali.”

 

DEG!

 

Yuvia tercengang mendengar jawaban itu. Ia seperti pernah mendengar itu sebelumnya. Tapi di mana? Kapan? Ia tidak mengingatnya.

“Semakin indah suatu kenangan, memang semakin baik. Tapi akan semakin sakit jika kamu dipaksa untuk melupakan.”

“Mau kamu lelah, atau apa pun itu. Keinginan kuat yang ada dalam diri kamu pasti akan mengalahkan rasa lelah dan putus asa kamu. To The Point, mau kamu menunggunya seberapa lama, mau kamu mencarinya atau menunggunya seberapa lama, keinginan kuat mengatakan… ‘Asal aku bisa bersamanya, aku mau’ hanya itu alasannya.”

“Kadang, kamu sok puitis atau semacamnya yah. Tapi, yang kamu omongin ada benernya juga” Yuvia tersenyum mendengar penjelasan itu. Air matanya tak sadar menetes lagi.

“Mencintai itu se-simple pemikiran anak kecil aja. Nggak perlu ribet mikir ini itu. Sayang kan nggak butuh alasan.”,

“Berpegang teguh dengan apa yang kamu yakini. Jangan sampe kamu ninggalin tempat yang udah nyaman buat kamu. Karena suatu saat jika kamu kembali lagi, mungkin tempat itu akan berubah dan mungkin akan jadi sesuatu yang nggak akan kamu kenalin lagi. Itu sama saja dengan ini”Rendy meraih tangan Yuvia dan meletakkannya di dadanya. Yuvia sontak sangat terkejut dan salting hingga wajahnya memerah diikuti dengan senyum dan linangan air mata.

“Loh? Kok nangis lagi. Duh… ntar kalo aku dimarahin kak Melody lagi gimana gara-gara dia salah paham” Rendy melihat Yuvia meneteskan air mata lagi. Tapi ini berbeda, ia tersenyum. Seperti tangis bahagia.

“Huuu…! sok puitis. Mau jadi motivator KW nih” Yuvia melemparkan tissue ke wajah Rendy.

“Yee… tadi katanya mau tanya. Ya aku jawab lah” Rendy tak mau kalah melempar tissue balik pada Yuvia. Lega, akhirnya gadis yang berada di sampingya bisa tersenyum kembali.

“Terus… kalo misal orang yang kita sayangi itu berubah setelah lama nggak ketemu, gimana dong?” tanya Yuvia lagi.

“Hm? Namanya orang pasti bisa berubah. Nggak peduli itu ruang, waktu, atau seseorang yang bakal ngerubahnya. Tapi yang namanya hati, mana bisa bohong? Walau orang itu hilang ingatan permanen sekali pun… pasti ada rasa ikatan yang kuat meski dia seperti udah nggak kenal lagi sama orang itu.”

“Apaan deh… nggak masuk akal.”

“Terserah deh mau percaya atau enggak. Jujur, rasa-rasanya….

Aku makin dekat sama orang yang aku cari. Hati nggak bisa bohong, aku ngerasa dia jauh di mata namun dekat di hati. Terlebih, aku ngerasanya dia ada di sekitar sini.”

“Gombal…” Yuvia menyilangkan kedua tangannya sambil memasang ekspresi jutek. Tapi dalam hati, ia tersenyum dan menahan gelagak tawa.

“Ah… udahlah, makin nggak nyambung. Eh, udah sore nih. Pulang yuk, ntar kamu dicariin kak Ve sama adik kamu. Aku juga, pasti kak Melody nanti khawatir” Rendy hendak berdiri.

Yuvia menarik kemeja Rendy lagi saat ia hendak berdiri. Rendy menoleh dan seperti bertanya ‘ada apa lagi?’

“Gendooonnnggg…” Yuvia merengek seperti anak kecil.

“Kaki kamu sehat dan nggak ada yang luka sekali pun, apalagi patah. Jalan sendiri napa” Rendy memasang wajah malas.

“Halo? Kak Melody? Ini Ren-“

“IYA! IYA! Arrggghhhh!!!” Rendy merebut HP Yuvia dan kemudian membungkuk di depan Yuvia.

Yuvia kemudian naik dan memegang erat leher Rendy.

“Udah siap?”

“Udah hehe” Yuvia mengangguk, dan mereka berjalan menuju arah parkiran. Ke tempat mobil Rendy lagi. Tanpa sadar, Yuvia tersenyum dan larut dalam kenyamanan itu.

 

*****

 

Setelah sampai di parkiran Rendy menurunkan Yuvia dari punggungnya. Dengan inisiatif, ia membukakan pintu mobil untuk Yuvia.

“Ngapain? Kamu kan nyetir?” tanya Yuvia heran ketika Rendy berlari memutari mobilnya dan menuju ke arah pintu mobil yang hendak dimasuki Yuvia.

“Silahkan tuan putri…” Rendy memberi hormat dengan membungkukkan badannya.

“Ish… apaan deh” Yuvia mencubit pipi Rendy kemudian masuk ke mobil. Rendy tersenyum dan ia masuk ke mobilnya, ke kursi pengemudi. Mereka akhirnya tancap gas pulang.

 

—o0o—

 

Setelah sampai di depan rumah Yuvia, Rendy melakukan hal itu lagi. Tiba-tiba di depan rumah, sudah ada kak Ve dan juga adiknya Windy.

“Cieee~” kak Ve dan Windy malah menyoraki.

Yuvia sontak terkejut dan salah tingkah. Ia langsung dengan segera beranjak pergi, tapi tangannya ditahan oleh Rendy.

“Tunggu” Rendy menahan Yuvia, kemudian membelai puncak kepalanya dan meniupinya karena ia melihat ada daun dan juga ranting kecil di rambutnya. Rendy juga membersihkan noda es krim yang belepotan pada bibir Yuvia. Wajah Yuvia memerah sekali…

Ia menunduk menahan rasa malu.

“Oh iya, dan… Ini buat kamu” Rendy sedari tadi menyembunyikan sesuatu di punggungnya. Ya, itu adalah sebuket bunga yang ia beli tadi. Ia berdebar-debar dan tak tahu apa maksud dari Rendy memberinya sebuket bunga tersebut.

“Anggep aja sebagai tanda perayaan dari perkenalan baru kita. Janji jangan jutek dan marah lagi.”

Kemudian Yuvia tiba-tiba mendorong Rendy dan berlari masuk ke dalam rumah dan menyuruh kak Ve dan juga Windy masuk. Tapi kak Ve masih berada di luar.

“Lah? Malah dijorokin? Salah lagi, salah lagi. Dasar cewek aneh” Rendy masih tidak mengerti jalan pikiran wanita.

Rendy mendekat ke arah kak Ve dan memberikan sebuah bungkusan kepada kak Ve “Em… ini kak, buat kak Ve sama Windy” Rendy menyerahkan bungkusan itu.

“Apaan nih Ren, nggak usah rep-“ Yuvia menarik paksa tangan kak Ve untuk masuk.

“RENDY! MAKASIH UDAH NGAJAK YUVIA JALAN!” kak Ve berteriak dari jendela rumahnya. Yuvia dengan cepat menarik kakaknya masuk dan menutup jendelanya rapat-rapat tanpa menatap ke arah Rendy.

“Salah lagi deh kayaknya” Rendy kemudian masuk ke mobilnya dan bergegas pulang karena ia tahu, kak Melody dan Yona pasti khawatir menunggunya.

 

—o0o—

 

Sekitar 15 menit, akhirnya ia sampai di rumah. Ia memasukan mobil ke garasi. Langsung saja ia membuka pintu dan berjalan gontai menuju ke kamar. Tanpa menyapa kak Melody dan Yona yang jelas-jelas berada di ruang tengah.

“Gimana jalannya? Seru deh kayaknya, iya nggak Yon?” kak Melody menganguk-angguk pada Yona.

“Iya nih kayaknya” timbal Yona.

“Kalian nggak perlu ngumpet-ngumpet pake baju detektif segala. Aku udah tau” Rendy menuju ke arah kamarnya di lantai dua dan menghempaskan tubuhnya di kamar.

“Oh iya, aku bawain cheese cake buat kakak sama Yona. Tuh, aku taruh di meja makan” Rendy sedikit mrnoleh untuk memberitahu.

“Kok dia tau?” tanya kak Melody menatap sinis ke arah Yona.

“E-eh?! Mana aku tau kak, mungkin dia punya kekuatan mata clairvoyant. Jadi bisa ngedeteksi gitu.”

“Hmrrggghh…” kak Melody menggeram. Seluruh tubuhnya dipenuhi aura hitam pekat, matanya berubah menjadi merah darah.

“AMPUN!!!”

 

*****

 

Sekitar satu jam, hanya tidur-tiduran saja yang dilakukannya. Ia mulai beranjak dan mengganti bajunya dengan baju rumahan. Celana pendek dan kaos.

“Bosen nih. Ngapain ya?” Rendy berpikir sejenak. Ia melirik ke arah PlayStation 4 nya.

“Main Winning boleh deh” ia akhirnya bermain bola di PS nya.

Sekitar waktu sudah menunjukan pukul jam makan malam, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya.

 

TOK! TOK! TOK!

 

“Ren? Turun, makan malam dulu” ucap Yona dari luar kamar Rendy.

“Ah… enggak deh Yon. Tadi masih kenyang” Rendy mencari alasan. Ia tau, pasti ini akal-akalan kak Melody untuk menanyainya saat makan.

“Hmm… ya udah deh” Yoa akhirnya turun lagi ke lantai bawah.

“Gimana?”

“Nggak mau turun, katanya masih kenyang. Dah lah, aku mau makan dulu.”

 

*****

 

Sekiranya sudah cukup larut. Jam menunjukan pukul 10 malam. Tiba-tiba, Hpnya berdering.

 

TING!

 

Rendy mengambil Hpnya, dan membuka aplikasi LINE-nya.

Yuvia  : “Thanks for today. Thank juga yah buat bunganya, aku sukaaa~”

Rendy             : “Syukurlah kalo suka. Kok belom tidur?”

Yuvia  : “Emang kenapa? Kamu sendiri juga bandel ih belom tidur… huft”

Rendy : “Anak kecil nggak boleh bobo malem-malem”

Yuvia  : “Biarin wlee :p”

 

Percakapan chat terhenti sejenak dan kemudian masuk sebuah Video Call.

“Ngapain nge-VC malem-malem?”

 

~o0o~

 

“Suka-suka dong, emang gak boleh gitu?”

“Ya kirain aku, kamu masih marah. Tadi aku bingung kenapa tiba-tiba dijorokin. Ya aku kira kamu marah, maaf ya”

“Lagian! Kamunya sih!”

“Salahnya di mana? Kan Cuma ngasih bunga sama mau ngebersihin rambut kamu aja kok tadi. Sama noda es krim yang ada di pipi kamu. Lagian makan kok belepotan kayak anak kecil.”

Yuvia bingung ingin menjawab apalagi. Ia hanya bisa terdiam berpikir memeluk boneka Hello Kitty nya.

“Lupain, aku luvchu nggak?” Yuvia memeragakan wajah seperti Hello Kitty yang berada di pelukannya dengan mulut cemberut.

 

~o0o~

12f

“Jeleeekkk, lagian kok suka Hello Kitty sih? Serem loh, kamu nggak tau filosofi dibalik boneka itu ya?”

“Eh? Ma-maksudnya gimana nih?”

Rendy memanfaatkan kesempatan ini untuk menakut-nakuti Yuvia.

 

~o0o~

 

“Dulu di Islandia baru ada seorang gadis bernama Kitty yang memiliki penyakit kanker mulut. Coba kamu liat boneka Hello Kittynya. Apa ada mulutnya?”

Yuvia mulai merinding menatap boneka imut yang dipeluknya itu.

“Terus?”

“Dia berobat ke rumah sakit dan dokter mana pun. Tapi hasilnya sama saja. Penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Pada akhirnya, ibunya tak kuasa dan membuat perjanjian dengan iblis”

“Arrkkkhhh!!!” Yuvia melempar boneka itu. Boneka itu seperti menatapnya saat ini.

“Dengan satu syarat…”

“A-apa itu?”

“Iblis menginginkan sebuah tubuh untuk dirasukinya. Akhirnya sang ibu dari Kitty membuatkan sebuah boneka berbentuk kucing tanpa mulut, persis seperti penggambaran anaknya.”

“Kamu tau dari mana?”

“Dilihat dari bahasa dan nama boneka itu. Hello yang artinya Hai atau Hi dalam bahasa Inggris. Dan kitty yang berarti iblis, bukan anak kucing.”

 

~o0o~

 

TUT… TUT… TUT…

 

Video Call berakhir.

“Eh?” Rendy melihat ke arah layar Hpnya dan benar Yuvia memutuskan sambungan VC nya.

“Pasti dia lagi teriak-teriak ketakutan di kamarnya HAHAHA” Rendy tertawa geli.

 

TING!

 

Masuk notifikasi chat di Hpnya. Ia membukanya dan menahan gelagak tawa.

Yuvia  : “Iiiihhhh dasar cowok ngeseliiinnn!”

Begitu isi chat dari seberang sana.

Rendy mengetikan balasan.

Rendy : “Salah sendiri anak kecil belom bobo jam segini. Dah sana tidur gih, besok sekolah tau.”

Yuvia mengirimkan sebuah gambar dan mengetikan pesan.

Yuvia  : “Nih, permintaan maaf tiba-tiba mutusin VC dan hadiah buat kamuuu~ 😝😝😝”

12g

Rendy hanya men-read chat terakhir dari Yuvia. Dia tersenyum kemudian beranjak tidur.

Hari yang menyenangkan (?)

Mungkin saja

 

-To Be Continued-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tunggu, ini belum bersambung. Di kamar Yuvia, ia juga sedang tersenyum menanti hari esok. Memegang kalung berbentuk huruf ‘Y’ miliknya.

Dikamarnya,Yuvia sedari tadi memegang sebuket bunga pemberian Rendy itu. Beberapa kali ia ciumi harum wangi dari bunga itu. Ia senyam-senyum sendiri mengingat perhatian Rendy tadi padanya.

“Rain, tau nggak? Hari ini aku seneng banget. Aku ngerasa kehadiran kamu semakin dekat sama aku. Untuk sementara, biarlah seperti ini dulu” Yuvia tersenyum penuh arti. Ia kemudian menoleh ke arah kotak berbentuk hati. Ia sangat ingin sekali melihat kalung berharga pemberian orang yang disayanginya itu.

Ia membuka perlahan.

“Loh?” dia mulai mencari-cari. Ke seluruh sudut ruangan kamar dan ke seisi rumah malam itu juga.

“Kalung aku Hilang?!?!?!”

 

-To Be Continued-

 

“Ini punya siapa ya?”

 

Created by      : @Rendyan_Aldo

 

~Note’s~

Part ini kepanjangan yak? Gak biasanya sepanjang ini. Duh, maaf-maaf hehe. Gw juga ada sedikit kabar kurang mengenakan untuk readers sekaligus viewers cerbung gw. Sekarang ini gw udah kelas tiga *lah? Apa hubungannya?* jadi gini, berhubung gw mau fokus sama yang namanya UeN, jadi apdet cerbung ini bisa aja kesendats-sendats *bisa bedain sendats dan gendats kan? Oke* mohon dimaafkan ya. Ini demi masa depan yang lebih cerah *jir :v bahasanya*. Gw juga minta doanya *emang ada yang mau doain?* *PLAK!*.

Oh iya, katanya bakal ada project event ya Dari kedai fanfict? Gw juga ga tau apa, katanya suruh prepare. Jadi, prepare dan ikut berpartisipasi ya, jangan lupa juga untuk promote terus. Waktunya #DUAMINGGULAGI

 1469112175107.png

Oke, ikutin terus Arah Sang Cinta dan Balasannya~

Komen, kritik, dan saran perlu asupan. Ciao~

 

 

 

Iklan

6 tanggapan untuk ““Directions The Love and It’s Reward” Part 17

  1. njirr bisa tewas kena diabetes gw kalau terus terusan diglonggong pake foto si yupi :v
    hmm btw gue mencium bau kata kata punya bang raditya dika di part ini :v

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s