Alter Ego and Me part 5

sp

Mentari senja menyinari pagi yang cerah ini, burung-burung berkicauan merayakan kedatangan mentari senja. Embun-embun mengalir di dedaunan menuju ke tanah, sedangkan di rumahnya, Radika masih tertidur dengan lelapnya di bawah selimut yang tebal sambil memeluk guling sebagaimana memeluk pacar. Tapi sayangnya, ketenangan itu tidak berlangsung lama, Radika terbangun oleh suara suara alarm yang sangat-sangat berisik, tapi masih lebih baik daripada suara Melody tentunya.

Perlahan Radika membuka matanya dan cahaya perlahan memasuki kelopak matanya. Secara spontan dia menutup matanya untuk menghindari cahaya yang terlalu silau dan mencoba membukanya kembali secara perlahan. Radika mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya yang ada, setelah di rasa cuku dia perlahan menggerakkan tubuhnya untuk mengubah posisinya dari tiduran ke posisi duduk.

Radika melihat ke arah jam dinding, jamnya menunjukkan pukul 05.30 pagi lalu, Radika mengedarkan pandangannya kembali dan berhenti dimeja kecil samping kasurnya, di sana terdapat sebuah kertas kecil yang bertuliskan beberapa kata. Perlahan dia menggerakkan badannya menuju ke meja kecil itu tapi, tiba-tiba badannya terasa sakit seperti habis terjatuh, dengan susah payah Radika mengambil kertas tersebut dan dia membacanya.

Jangan lupa cek pesan

-Ryuto-

Itulah isi kertas tersebut, walau hanya 3 kata tapi cukup bermakna. Bisa dibilang itulah ciri khas Ryuto, dia tipe orang yang tidak suka berbasa-basi dan lebih suka menyampaikan sesuatu langsung ke intinya.

Setelah membaca pesan itu Radika langsung beranjak ke meja komputer yang tak jauh dari situ, ia langsung duduk dan menyalakan komputernya. Saat komputer sudah menyala dia langsung membuka internet dan mengetikkan link yang sama seperti yang di ketik Ryuto semalam yaitu https://goo/AR7y2s setelah muncul tulisan 404 Forbidden Error dia langsung mengklik huruf ‘F’ lalu Radika pun memasukkan username dan passwordnya yang berbeda dari Ryuto yakni dengan username radikaydh.

Sesudah login Radika langsung mengklik tulisan ‘Message’ lalu, muncullah 2 pilihan dan di pilihan ‘Arrive’ terdapat tanda bulat merah di bagian ujung atas kanannya yang menandakan ada pesan yang masuk. Saat Radika mengklik tulisan ‘Arrive’ munculah list pesan yang diterimanya dan ada satu pesan yang belum di lihat. Setelah mengklik pesan yang belum terbaca itu, sebuah video pun muncul dan video itu menampilkan wajah Ryuto di sana dan ia pun langsung mengklik tombol play untuk mencari tahu apa isi video tersebut.

“Sudah lumayan lama. Juga, maaf. Gua yakin lu gamau ngelihat gua bikin video selamat datang ini. Juga… maaf lagi. Lu masih ingat aturan terakhir kita? aturan ke 19, aturan itu menyatakan ‘Ryuto akan dihilangkan selamanya’. Maaf gua harus memberitahu lu bahwa, saat ini aturan itu tidak berlaku lagi. Alasannya adalah sekarang, ada alasan baru atas keberadaanku meskipun lu gak menginginkan gua. Apa lu tahu siapa? Orang itu adalah Shani. Lu ingat kejadian 4 tahun lalu saat lu pulang dari supermarket? di hari saat lu menyelamatkan anak perempuan itu, dan di hari itu juga gua lahir. Anak perempuan yang lu tolong, dan membangunkan gua. Shani adalah anak perempuan itu. Dan sekarang dia membangunkan gua lagi.”

Setelah itu video pun berhenti berputar, sedangkan Radika sepertinya tampak memikirkan apa yang sedang terjadi sebenarnya tapi, dia menyerah dan memilih untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.

~Di rumah Shani~

“Shani, bangun nak!!” teriak mamah Shani dari bawah.

“Iya mah Shani udah bangun kok, ini lagi pakai baju mah!!” teriak Shani tak mau kalah.

“Kalau udah selesai buruan ke bawah ya sarapa… uhuk uhuk uhuk.” teriakan Mamah Shani terpotong oleh suara batuknya karena sedari tadi di pakai berteriak-teriak.

Shani yang cemas buru-buru turun ke bawah untuk memastikan keadaan mamahnya.

Duk Duk Duk

“Mah, Mamah kenapa? Mamah sakit?” tanya Shani yang cemas kepada mamanya.

“Gapapa ko Shan, tadi mamah cuman batuk karena teriak-teriak doang kok,” ucap Mamah Shani menenangkan putrinya.

“Makanya mamah gausah teriak-teriak gitu, inget umur Mah inget umur,” ujar Shani meledek Mamahnya.

“Ish kamu nih kalo ngeledek Mamahnya seneng banget ya, awas kamu”

“Kabur!! ada ‘saint seiya’ ngamuk,” ujar Shani lalu berlari ke ruang makan.

“Shani!! awas ya kamu!!”

Mamah Shani lalu mengejar Shani menuju ke ruang makan, dan terjadilah adegan kejar-kejaran antara Mamah dan anak. Shani merasa ngos-ngosan dan akhirnya dia mencari perlindungan di belakang Papahnya, sedangkan kakaknya, Shania hanya tertawa kecil melihat adik dan mamahnya kejar-kejaran seperti itu.

“Papah, tolongin aku ada ‘saint seiya’ ngamuk, Shani takut,” ucap Shani merengek kepada papahnya.

“Papah minggir deh, ini urusan Mamah sama Shani”

“Ada apa sih, Mapah ga ngerti deh” ujar Papah Shani kebingungan dengan kelakuan istri dan anak bungsunya itu

“Itu Pah, Shani ngatain Mamah udah umur,” ujar Mamah Shani.

“Boong Pah, Shani ga bilang gitu kok. Shani cuman bilang Mamah jangan teriak-teriak, inget sama umur,” ucap Shani mengelak.

“Sama aja Shani!!” ujar Mamahnya tersungut-sungut.

“Udah-udah, gitu aja pake kejar-kejaran. Shani usil banget ya sama Mamah hihi,” ujar Papah Shani sambil tertawa kecil.

“Hihihi” Shani hanya nyengir tanpa dosa.

“Yaudah yuk kita sarapan, nanti sekolahnya pada telat loh,” ucap Papah Shani.

“Pah-Mah aku langsung berangkat aja ya,” ujar Shani berpamitan.

“Loh, ga bareng Kakak kamu?” tanya Papah Shani.

“Engga deh Pah aku berangkat sendiri aja, ada urusan”

“Yaudah kalo gitu minum susunya, sama bawa roti” Mamahnya memberikan segelas susu kepada Shani.

“Makasih Mah hehe” Shani menerima susu dari Mamahnya dan langsung menghabiskannya.

“Nih rotinya dek” Mamahnya memberikan roti dengan selai blueberry kesukaan Shani.

“Makasih Mah hehe. Yang tadi Shani cuman bercanda kok, Shani minta maaf ya Mah,” Shani pun meminta maaf ke Mamahnya setelah menerima roti.

“Iya gapapa dek, Mamah juga tau kok kalo kamu cuman bercanda hihi” Mamah Shani tertawa kecil.

“Yaudah Shani berangkat ya Mah, Pah, Kak” Shani mencium punggung tangan kedua orangtuanya dan tos dengan Kakaknya Shania.

“Hati-hati ya Shan,” kata Mamahnya.

Shani mengangguk lalu pergi menuju pintu rumahnya, setelah dia keluar tak lupa menutup pintu rumahnya dan langusng berjalan pergi meninggalkan rumahnya menuju ketempat ‘urusan’nya berada,

“Hmhm kemaren kembarannya Radika bilang rumahnya di perumahan Berlian blok A15 berarti deket dari sini,” batin Shani.

Dan ternyata urusan yang di maksud Shani adalah dia ingin pergi ke rumah Radika. Shani terus berjalan ke arah di mana rumah Radika berada sambil memakan roti yang diberikan Mamahnya dan kadang pula dia bertanya pada orang yang lewat.

~Kembali ke rumah Radika~

Di rumahnya, Radika tengah sarapan bersama keluargnya dengan lengkap. Masing-masing dari mereka tengah asyik dengan sarapannya masing-masing, entah ada yang nambah, entah ada yang makannya pelan-pelan, dan masih banyak yang lainnya. Di tengah keheningan di meja makan, tiba-tiba ada ketukan pintu  yang berasal dari pintu depan.

Tok Tok Tok

“Siapa yang pagi-pagi gini dateng ke rumah orang,” ucap Radika heran.

“Mel, kamu bukain sana,” suruh Mamahnya.

“Iya Mah” Melody lalu berdiri dan melengang pergi menuju pintu depan.

Tok Tok Tok

“Iya sebentar,” ujar Melody.

Sesampainya di depan pintu, Melody langsung membuka pintu untuk mencari tahu siapa yang bertamu ke rumahnya pagi-pagi begini, dan saat di buka terlihat seorang perempuan dengan seragam SMA lengkap dengan wajah yang cantik berdiri di depannya.

“Cari siapa ya?” tanya Melody.

“A-ah i-itu, ini be-bener rumahnya Radika?” ujar perempuan itu gugup.

“Iya bener, kamu cari siapa ya?” ujar Melody mengulang pertanyaan yang sama.

“Ra-Radikanya ada?” tanya perempun itu.

“Ada kok, bentar ya aku panggilin dulu, kamu masuk dulu aja,” ucap Melody.

“M-makasih kak,” ujar Shani lalu masuk dan duduk disalah satu sofa yang ada di ruang tamu.

Melody pergi menuju ke ruang makan untuk memanggil Adiknya, karena dia dicari oleh orang yang bertamu ke rumahnya itu.

“Siapa Kak?” Tanya Mamahnya.

“Temennya Adek Mah,” jawab Melody menanggapi pertanyaan Mamahnya.

“Lah, temen aku? siapa Kak? ” tanya Radika heran karena dia merasa tidak memiliki janji untuk bertemu pagi-pagi begini.

“Gatau, Kakak ga kenal. Kayanya temen sekolah kamu,” kata Melody.

“Cewe apa cowo Kak?” tanya Mamahnya penasaran.

“Cewek Mah,” jawab Melody.

“Yaudah aku samperin dia dulu ya Mah, Pah, Kak,” ucap Radika pamit.

“Yaudah sana, kasian dia udah nungguin” Papahnya akhirnya buka mulut.

Radika lalu pergi menuju ke ruang tamu, tempat di mana orang yang mencarinya itu menunggunya.

“Eh Shani toh, ngapain pagi-pagi ke sini Shan?” tanya Radika pada perempuan tersebut yang ternyata adalah temannya yaitu, Shani.

“Gaboleh ya?” ujar Shani cemberut.

“Bukan gitu Shani, maksud aku kamu ada apa pagi-pagi ke sini?” ucap Radika perlahan agar Shani tidak salah paham dengan maksud kata-katanya.

“Aku iseng aja kok ke rumah kamu, mau tau juga rumah kamu yang mana hihi” Shani menjelaskan disertai senyuman yang manis.

“Oiya dapet alamat rumah aku darimana?” tanya Radika agak bingung karena seingatnya dia tidak pernah memberi tahu alamat rumahnya kepada Shani.

“Dapet dari saudara kembar kamu, namanya Ryuto deh kalo ga salah,” ujar Shani polos.

Sontak Radika agak terkejut dengan jawaban yang Shani berikan.

“Kamu ketemu dia di mana?” tanya Radika.

Lalu Shani pun menjelaskan kejadian semalam mulai dari dia di selamatkan oleh Ryuto sampai dia diantar pulang olehnya, sedangkan Radika hanya mengangguk-ngagguk mendengar cerita Shani.

“Pantesan aja badan gua rasanya sakit semua, ternyata abis dipake buat nyelametin Shani toh” ujar Radika dalam hati.

“Oiya, saudara kembar kamu mana?” tanya Shani.

“A-ah i-itu dia…” Radika bingung ingin menjawab apa.

“Dia ga tinggal di sini, dia tinggal di apartemen,” ujar Melody tiba-tiba.

“Ah i-iya dia tinggal di apartemen,” ucap Radika terbata-bata dengan keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.

“Oh gitu toh.” Shani hanya mengangguk-ngangguk tanda mengerti.

“Shani udah sarapan?” tanya Melody.

“Udah ko Kak hehe,” jawab Shani.

“Yaudah yuk Shan,” ajak Radika.

“Mau kemana?” tanya Shani dengan wajah bingung.

“Sekolahlah, kamu ga inget udah jam berapa sekarang” Radika hanya memasang wajah segaris.

“Astagfirullah aku lupa,” ujar Shani sembari menepuk jidatnya.

“Aku sama Shani berangkat ya Kak. Kakak gapapa kan berangkat sendiri?” kata Radika pada Melody.

“Iya gapapa, yaudah buruan berangkat, Kakak juga mau berangkat.”

Melody lalu pergi menuju ke ruang makan di ikuti Radika dan Shani untuk pamit kepada kedua orang tua mereka.

“Pah, Mah aku berangkat dulu.” Melody lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.

“Aku juga berangkat ya Pah, Mah tapi ga bareng sama Kakak,” ucap Radika lalu, tak lupa mencium punggung tangan kedua orangtuanya.

“Loh kenapa?” tanya Mamah Radika.

“Aku bareng sama temen aku mah,” jawab Radika.

“Siapa?” tanya Mamah Radika lagi.

“Ini mah di belakang aku.”

Radika lalu menyingkir untuk memperlihatkan Shani yang ada di belakangnya. Setelah dirinya dilihat oleh orang tuanya Radika, dengan inisiatifnya Shani mencium tangan kedua orangtua Radika.

“Nama kamu siapa cah ayu?” tanya Mamah Radika pada Shani.

“Shani tante.” Shani lalu tersenyum.

“Namanya cantik ya, kaya orangnya” Mamah Radika lalu tersenyum membalas senyuman Shani.

“Makasih tante” Shani lalu tersenyum malu-malu.

“Adek kok ga bilang punya pacar cantik kayak gini?” tanya Mamah Radika kepada anaknya itu.

“Pengennya sih nanti kalo Mamah sama Papah udah ga sibuk hehe.” Radika hanya bisa nyengir.

Shani yang mendengar Radika tidak menolak saat dirinya di sebut pacarnya, kedua pipinya langsung memerah bagai tomat yang membuat dirinya terlihat tambah manis.

“Yaudah aku berangkat ya Pah, Mah. Yuk Shan.” Radika lalu memegang pergelangan tangan Shani dan mengajaknya pergi.

“Berangkat dulu ya Tante,” ujar Shani sebelum benar-benar pergi dari hadapan kedua orangtua Radika. Mamah Radika hanya melambai-lambaikan tangannya melihat anaknya dan Shani pergi.

“Anak kita udah gede ya Pah,” ucap Mamah Radika tanpa menoleh.

Tapi hening, tidak ada jawaban dari suaminya itu.

“Pah?” lalu Mamah Radika menoleh ke arah suaminya dan dia terkejut dengan apa yang di lihatnya.

“Ya allah Pah!!, Papah kenapa?”

Mamah Radika sangat kaget begitu berbalik, dia melihat suaminya bersender di kursi dengan keadaan tak sadar.

“Pah!! Papah!! Bangun dong, Papah kenapa??” Mamah Radika mulai terisak.

“Ah iya rumah sakit.”

Dengan terburu-buru Mamah Radika menelfon rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan tapi, tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Mamah kenapa sih berisik banget gatau orang ngantuk apa.” Papah Radika lalu menguap.

Mamah Radika yang melihat itu hanya bisa melongo saja, dan setelah beberapa menit dia baru kembali seperti semula. Mamah Radika langsing mematikan panggilannya ke rumah sakit dan mengecek keadaan suaminya itu.

“Papah ga kenapa-kenapa?” tanyanya cemas.

“Mamah kenapa sih panik banget?  Papah cuman ketiduran doang kok.” Papah Radika pun bingung apa yang terjadi dengan istrinya itu.

“Tadi Mamah kira Papah udah-” ujar Mamah Radika terpotong.

“Udah-udah Papah gapapa kok, yaudah lanjutin sarapannya.” Ujar Papah Radika menenagnkan istirnya.

Lalu mereka berdua melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda tadi.

~0o0~Alter Ego and Me~0o0~

Radika dan Shani telah sampai di sekolah lalu, Shani turun dari motor Radika dan menyerahkan helmnya kepada Radika. Setelah menerima helm Shani Radika menaruhnya dan dia melepas helm yang sedang di kenakannya lalu di taruh di atas tangki motor. Sedangkan Shani masih tampak merapihkan rambutnya yang agak berantakan karena tadi memakai helm.

“Yaudah yuk masuk.” Shani lalu menarik tangan Radika.

“Bentar dulu” Radika lalu berhenti yang membuat Shani ikut berhenti karena perbedaan tenaga yang cukup signifikan.

“Kalo ngerapihin rambut tuh yang bener, masa masih acak-acakan gini.” Radika dengan lembut merapihkan rambut Shani yang masih agak berantakan dengan kedua tangannya. Dan perlakuannya itu sukses membuat kedua pipi Shani merona.

“Nah udah beres, yuk masuk.” Selesai membereskan rambut Shani, kini giliran Radika yang menarik tangan Shani, sedangkan Shani yang masih terpaku hanya bisa mengikuti saja.

~0o0~Alter Ego and Me~0o0~

Tak lama kemudian mereka berdua telah sampai didepan kelas Shani yaitu kelas XI.2. Shani masih terdiam didepan kelasnya bersama Radika karena mengingat kejadian di parkiran tadi dan ditambha selama perjalanan mereka berdua menjadi pusat perhatian para murid yang merka lewati.

“Shan, kamu ga masuk ke kelas?” tanya Radika agak bingung.

“A-ah i-iya, aku masuk dulu ya, dadah.” Shani akhirnya tersadar dan dengan terburu-buru dia memasuki kelasnya, sedangkan Radika dia masih bingung dengan sikap Shani pagi ini. Karena tidak ingin ambil pusing Radika langsung berjalan ke arah kelasnya yang tidak begitu jauh.

 

~Shani POV~

“Aduh gimana nih, pipiku merah ga ya, Aaaa mending aku cepet-cepet masuk ke kelas deh,” batinku.

“Shan, kamu ga masuk ke kelas?” tanya Radika dengan raut wajah bingung.

“A-ah i-iya, aku masuk dulu ya, dadah.” Setelah mengucapkan itu aku langsung lari masuk ke kelasku dan membuat beberapa temanku kebingungan.

“Shan kamu kenapa?” tanya salah satu temanku, namanya Yansen tapi dipanggil Cesen.

“G-gapapa kok sen hehe,” ucapku dengan nafas terengah-engah.

“Ciee-ciee Shani di anter sama cowok,” Ucap temanku yang baru datang, Anin namanya.

“Ish apaan sih nin” ucapku mencoba mengelak seadanya.

“Gausah bohong, pipi kamu merah gitu hihi.” Anin tertawa kecil.

“Tuhkan beneran merah,” ujarku dalam hati.

“Dia siapa Shan, kenalin ke kita dong,” timpal Cesen.

“Ishh, iya-iya nanti aku kenalin ke kalian,” ucapku mengalah pada mereka berdua.

“Anak kelas berapa Shan?” tanya Anin yang keponya ga ketulungan.

“Duduk dulu deh, ga enak kali ngobrol bediri begini, mana didepan kelas lagi” aku lalu meninggalkan mereka pergi menuju kemeja ku, dan tanpa di suruh mereka berdua langsung mengikutiku, bukan hanya karena kepo tapi, memang mereka duduk didekat tempat dudukku. Cesen dia duduk di sebelahku sedangkan Anin dia duduk tepat didepanku.

“Kasih tau dong Shan siapa dia,” rengek Cesen.

“Dia tuh anak kelas XI.1,” jawabku malas.

“Tapi kok aku ga pernah liat dia ya?” tanya Anin.

“Dia tuh murid pindahan, Anin,” ujarku.

“Btw, dia ganteng juga ya apalagi gayanya itu, tangan dimasukin kekantong jadi keliatan cool banget. Kyaaa!” tambah Anin.

“Ihh, itu punya Shani, kamu cari yang lain aja sana,” ucapku kesal.

“Jadi pengen tau orangnya yang mana hihi,” kata Cesen.

“Ihh kalian mah gitu sih.” lalu aku memasang wajah cemberut

“Hahaha” mereka berdua malah tertawa karena menggodaku.

Mereka berdua terus-terusan menggodaku tanpa henti hingga akhirnya bel berbunyi dan guru pun datang menyelamatkanku dari ledekan mereka berdua yang mengesalkan.

~Shani POV end~

~0o0~Alter Ego and Me~0o0~

Radika tengah berjalan di koridor menuju kelasnya dengan tangan di masukkan ke kantong dan headphone terpasang di kepalanya, tak lama kemudian dia sampai di depan kelasnya.

Ting… ning… ning… ning…. It’s time to begin the first lesson.

Dan tepat pada waktunya bel pun berbunyi, Radika lalu melepas headphonenya dan menaruhnya di leher. Saat masuk kedalam kelas terlihat suasana yang ramai dikarenakan guru yang mengajar belum datang.

“Tumben baru dateng lu Rad,” ucap Farhan lalu menghampiri Radika bersama dengan Rio.

“Gapapa lah, jagoan kan datengnya belakangan.” Radika lalu mengadu kepalan tangannya dengan kepalan tangan Farhan.

“Tumben udah dateng lu Yo, biasanya kan dateng paling belakang, pulang paling duluan” Radika mengejek Rio lalu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan dengan Farhan.

“Bahahahaha.” Radika dan Farhan lalu tertawa.

“Dafuq lu berdua.” Rio memasang wajah kesal.

“Becanda keles, yaudah gece duduk keburu gurunya dateng.” Radika lalu berjalan ke tempat duduknya diikuti oleh kedua temannya itu.

“Pagi anak-anak,” sapa guru tersebut.

“Pagi Bu,” sapa para murid.

“Ayo kumpulkan PR kalian,” ucap guru tersebut yang namanya adalah Ibu Sulis.

“Mampus gue lupa kalo ada PR.” Rio lalu menepuk jidatnya.

“Eh emang kita punya PR? gue aja baru pertama kali ngeliat nih guru” tanya Radika panik kepada Farhan.

“Ya iyalah, orang pas Bu Sulis ngasih nih PR lu aja belum pindah ke sini,” jelas Farhan.

“Alhamdulillah, untung gue belom masuk,” ujar Radika dapat bernafas lega.

“Ets, sayangnya lu gabisa tenang karena, Bu Sulis ga terima alasan apapun untuk ga ngerjain PR.”  Farhan menepuk-nepuk punggung Radika.

“Apapun? walau gua gatau kalo ada PR? ckckck.” Radika berdecak sebal.

“Yap, apapun itu. Kalo lu kasih alasan lu gatau ada PR karena lu murid pindahan, pasti Bu Sulis akan bilang gini ‘Kenapa kamu ga tanya sama temen kamu?’.” Farhan lalu memperagakan ucapan Bu Sulis.

“Yailah mampus dah gue.” Radika menepuk jidatnya sambil mendengus kesal.

Dan akhirnya Radika dan Rio berakhir dengan dihukum membersihkan toilet laki-laki yang terkenal kotor dan jorok hingga jam pelajaran Bu Sulis berakhir, yakni saat istirahat pertama.

~0o0~Alter Ego and Me~0o0~

Ting… ning… ning… ning…

Bel istirahat pun berbunyi, tanda berakhirnya hukuman Radika dan Rio yang dimulai dari jam pertama hingga jam istirahat yang kira-kira memakan waktu sekitar 2 jam.

“Akhirnya selesai juga,” ucap Rio sambil menyeka keringat yang ada di pelipisnya.

“Iya nih, beres juga akhirnya.” Radika lalu melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Rio.

“Yaudah cabut ke kelas lah,” ajak Radika lalu berjalan pergi.

“Eh tungguin gue lah.” Rio lalu mengejar Radika yang sudah pergi duluan.

Di kelas XI.1 sudah terlihat sepi, tanda bahwa para murid sudah pergi menuju ke kantin tapi, tidak dengan Farhan yang masih nunggu kedua temannya yang dihukum tadi.

“Gimana bersihin toiletnya? seru ga? Hahahaha,” ledek Farhan.

“Bangke lu Han, capek begini dibilang seru.” kesal Rio

“Udahlah jan pada berisik, mendingan ke kantin, aus nih gue.” Radika lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Oy tungguin napa, kebiasaan lu sukanya ninggalin.” Rio lalu mengikuti Radika dan dibuntuti oleh Farhan dibelakangnya.

~0o0~Alter Ego and Me~0o0~

Yap disinilah mereka bertiga berada sekarang, di kantin sekolah yang cukup penuh dengan berbagai jenis murid. Mereka bertiga tengah kebingungan karena kondisi kantin yang cukup penuh sehingga membuat mereka sulit menemukan tempat duduk.

“Rad, sini”

“Rad, sini”

Tiba-tiba ada dua orang yang memanggil Radika secara bersamaan, kedua orang itu adalah Shani dan Gre. Radika yang kebingungan lalu menghampiri Gre yang lebih deket dulu, sedangkan di tempat duduknya, Shani memasang wajah cemberut bercampur oleh kecewa karena Radika tidak menghampirinya.

“Kenapa Gre?” tanya Radika begitu sampai di tempat duduk Gre dan teman-temannya.

“Kamu duduk sini aja ya,” ujar Gre memohon.

“Emang masih ada yang kosong?” tanya Radika.

“Masih ada 2 kok tuh di situ.” Gre lalu menunjuk 2 kursi kosong yang belum digunakan.

“Han, Yo lu pada mau duduk di mana?” tanya Radika pada kedua temannya.

“Bebas aje gue mah,” ucap Farhan.

“Gue juga sama,” tambah Rio.

“Yaudah kalian berdua duduk disini aja,” kata Radika.

“Lah, lu gimana Rad?” tanya Rio.

“Udeh gue mah selow. Gue juga mau nyamperin cewek yang tadi manggil gue,” jelas Radika.

“Yaudeh kalo gitu, thanks ya Rad,” ucap Farhan lalu mengadu kepalan tangannya dengan kepalan tangan Radika.

“Iyelah selow aja ama gue mah” Radika lalu mengadu kepalan tangannya dengan kepalan tangan Rio.

Lalu setelah berbicara dengan kedua temannya Radika beralih ke Gre.

“Maaf ya Gre tapi aku gabisa. Aku ada urusan dulu sebentar, sebagai gantinya biar mereka berdua yang duduk di sini ya,” jelas Radika pada Gre.

“Yaudah deh.” Gre lalu memasang wajah kecewa.

“Jangan cemberut dong, lain kali aku duduk disini kok.” Radika mencoba membujuk Gre.

“Janji ya?” Gre lalu mengangkat jari kelingkingnya.

“Iya janji.” Radika lalu melakukan hal yang sama dan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Gre.

“Han, Yo duduk sana. Gue cabut dulu ya,” ucap Radika.

“Gre aku pergi dulu ya,” pamit Radika pada Gre.

“Iyaa.” Gre mencoba tersenyum walau sebenernya dia kecewa.

“Salam buat yang lain ya.” Radika lalu beranjak pergi.

Gre hanya mengangguk menanggapinya. Radika lalu beranjak pergi menuju ke tempat di mana orang yang memanggilnya berada yaitu Shani.

~Shani POV~

“Aaaaaa kesel banget sih, kenapa aku di kacangin, padahalkan aku juga manggil dia tapi, kenapa cewek itu yang disamperin. huftShan,” batinku kesal.

“Shan, lu kenapa diem aja?” tanya Anin yang seperti biasa selalu kepo.

“Gapapa kok Nin” ucapku.

“Kamu beneran gapapa?” kini giliran Cesen yang bertanya.

“Gapapa ko Sen, beneran deh,” ujarku pada Cesen.

Setelah itu keadaan hening, Cesen dan Anin sedang fokus pada makanannya sedangkan aku? aku menjadi tidak nafsu makan karena kejadian tadi. Sekarang aku hanya mengaduk-ngaduk makananku tanpa memakannya sediktpun.

“Eh Shan, doi kamu ke sini tuh,” ujar Anin, semangat sekali dia.

“Gausah ngehibur gitu, aku gapapa kok.” balasku tanpa mengalihkan pandangan ku dari makanan yang tidak kumakan ini.

“Ihh, beneran tau aku ga boong,” Anin masih saja mengoceh tentang Radika.

Lalu tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku, suara yang begitu familiar di telingaku. Apa itu benar-benar dia?

“Shan?”

 

~0o0~Alter Ego and Me~0o0~

Bersambung

By: Radika Yudha

Twiter: @radikaydh

Line: radika_23

 

Akhirnya selesai juga part 5^^ maafkan author kalo agak melenceng jauh dari jadwal dikarenakan author sedang mengurus sekolah dan beberapa hal lainnya.

Mohon pengertiannya^^

anin

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Admin numpang ijin bikin note Thor :3

So, gue selaku admin pengen ngasih tau doang……
Ada yang seru loh #DUAMINGGULAGI !

Penasaran? Bisa kepoin page ini atau tanya-tanya kesini :3

1469112175107.png

 

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Alter Ego and Me part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s