Silat Boy : Ingin Pulang Part 5

CnJGPUtWgAEeomp

Paginya, Rusdi bersiap berangkat sekolah. Kakaknya sudah menunggu di
meja makan, tapi Rusdi sedang tidak mau sarapan. Ia lalu masuk ke
dalam mobil mendahului kakaknya.

“Kamu kenapa? Kok pake sweater sama topi ke sekolah?” tanya Kak Melody.
“Aku…” sebelum Rusdi menyelesaikan kalimatnya, Kak Melody membuka topi itu.

“Ya ampun! Kamu kenapa? Kok wajah kamu lebam gitu? Kemaren kamu
berantem ya?” tanya Kak Melody, dengan intonasi nada tinggi, ia nampak
sangat marah.

“Aku gak beramtem kok. Kemaren aku di serempet motor kak, terus nabrak
tiang.” untuk pertama kalinya Rusdi berbohong pada kakaknya, dan
mungkin itu akan menjadi yang terakhir kalinya.

“Kamu ini, lain kali hati-hati!” dengan mudahnya Kak Melody percaya
pada perkataan adik tersayangnya.
“Iya…” jauh di lubuk hatinya, Rusdi merasa resah karna ia telah
berbohong pada kakaknya.

Beberapa menit kemudian, mobil itu sudahh sampai di sekolah. Hari
kedua tidak terlalu macet. Rusdi kemudian berpamitan pada kakaknya,
dan ia berjalan menuju kelasnya. Rusdi kembali memakai topinya.

“Hey!” panggil seseorang, Rusdi kemudian menengok.
“Halo sialan!” ternyata Boim dan kedua temannya, ia kembali menghadang
Rusdi pagi itu.

Kali ini Rusdi hanya diam. Ia sama sekali tidak melawannya. Boim
dengan mudahnya merebut tas milik Rusdi. Lalu menendang-nendang tas
itu. Rusdi hanya diam mematung melihat tas nya di tendang.

Rusdi berusaha mengontrol emosinya. Epul benar, ia tidak akan menang
melawan Boim. Maka dari itu Rusdi memutuskan untuk diam membisu bak
patung. Ia tidak mau memperpanjang masalahnya dengan Boim.

Setelah itu Boim mendorong Rusdi hingga memojokkannya. Rusdi hanya
diam melihat tas nya yang masih di tendang-tendang oleh kedua teman
Boim. Kemudian Boim membisikkan sesuatu padanya.

“Jangan macam-macam denganku. Kau sudah berani melawanku, maka mulai
detik ini hidupmu tidak akan tenang. Jika kau masih berani melawanku,
lain kali aku akan memukulmu tanpa ampun.” Boim kemudian pergi,
diikuti oleh kedua temannya.

Rusdi kemudian memungut kembali tas nya. Perlahan Rusdi berdiri,
menatap tas nya yang kotor, lalu membersihkannya. Kemarin Boim
memukulinya di dekat sekolah, tapi tidak ada yang tahu perkelahian itu
selain Epul dan kedua teman Boim.

Hari itu Rusdi hanya diam. Bahkan meskipun Epul dan Naomi mengajaknya
bicara, ia hanya menjawabnya dengan menggelengkan atau menganggukan
kepalanya.

Saat istirahat pun ia hanya diam di kelas. Teman-temannya merasa heran
dengan sikap Rusdi yang berubah drastis dalam semalam. Bahkan
teman-teman lain dan guru pun ada yang menanyakan kenapa wajahnya
lebam.

Tapi ia hanya berbohong, sama seperti pada Kak Melody. Sejauh ini Epul
dan Naomi masih tutup mulut tentang kejadian sebenarnya. Sementara
karna Yona anak yang pendiam, jadi ia juga tutup mulut. Mereka memang
bisa diandalkan.

Pulang sekolah, Rusdi meminta Kak Melody untuk menjamputnya di
sekolah. Setelah Kak Melody datang, Rusdi langsung memasuki mobilnya.
Di luar Epul dan Naomi nampak bingung pada sikap Rusdi.

Sorenya, Kak Melody mengajak Rusdi untuk berjalan-jalan di Mall FX.
lalu Kak Melody membeli dua es krim untuk Rusdi dan untuknya. Kemudian
mereka duduk di sebuah kursi.

Rusdi hanya memandang kosong es itu saja, tanpa memakannya. Es itu
mulai mencair hingga membasahi lantai disana. Rusdi lalu membuang es
krimnya ke tempat sampah, ia sama sekali tidak menjilat es krim itu.

Kak Melody yang melihat itu kemudian bertanya-tanya, ada apa dengan
adiknya yang tiba-tiba menjadi murung. Lalu Kak Melody memulai
percakapan, ia masih sibuk menjilati es krimnya.

“Kamu kenapa?” tanya Kak Melody, ia masih sibuk menjilati es krim itu.
“Gak apa-apa kok.” jawab Rusdi.
“Pasti ada apa-apa, buktinya sekarang kamu jadi murung gitu.” kali ini
Kak Melody terlihat serius.

“Aku bilang gak ada apa-apa.” jawab Rusdi.
“Kamu lagi ada masalah ya? Coba cerita sama kakak, apa yang terjadi?”
tanya Kak Melody, ia semakin membuat Rusdi kesal.

“Kita pindah ke Jakarta! Itu yang terjadi!” Rusdi berdiri, lalu
berbicara dengan intonasi tinggi pada kakaknya.
“Kamu kok marah sama kakak?” Kak Melody pun berdiri, menghadap adiknya.

“Kakak gak tau apa yang aku rasain! Sejak awal aku tuh gak mau tinggal
disini!” Rusdi membentak kakaknya.
“Kita baru dua hari…” balas Kak Melody.
“Rasanya seperti dua tahun!” potong Rusdi, ia mulai berkaca-kaca.

“Kamu… nangis?” Kak Melody hendak menyentuh adiknya, tapi Rusdi
menolak untuk disentuh.
“Aku mau pulang, kak!” air mata Rusdi perlahan membasahi ujung-ujung matanya.

“Tidak ada yang tersisa di desa. Sekarang inilah rumah kita, di
Jakarta.” Kak Melody berkata pelan.
“Kakak cuma peduli sama kerjaan kakak, gak peduli sama adiknya
sendiri!” mata Rusdi semakin membasah.

Kak Melody lalu diam membisu. Kata-kata itu sukses menyayat hati
kecilnya. Tangisan Rusdi semakin pilu, menyedihkan sekali melihat
tangisan adik kecilnya.

Rusdi menangis sesenggukan, tiga tarikan dalam satu detik. Wajah
lebamnya dibasuh oleh air mata kesedihan. Orang-orang yang berlalu
lalang kemudian berhenti, sejenak melihat Rusdi yang menangis semakin
memilukan.

Rusdi kemudian membasuh matanya. Ia masih sesenggukan, napasnya
tersenggal-senggal. Ia berusaha mengatur napasnya. Rusdi kemudian
berlalu meninggalkan kakaknya yang masih diam menundukkan kepala.

Rusdi tidak tahu bahwa saat itu kakaknya juga menangis. Yang ia tahu
kakaknya hanya diam seraya menundukkan kepala. Menutupi wajah cantik
itu dengan rambut panjangnya yang tergerai lurus menutupi ujung-ujung
matanya.

BERSAMBUNGStory By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s