Sahabat ( story version) part 1

Terlihat didalam sebuah kamar yg sepi, ada seseorang termenung menenggelamkan wajahnya di tengah kedua lututnya yg ia lipat. Ia seakan tak peduli akan suara gemuruh petir dan juga suara angin di sertai hujan deras diluar sana. Angin yg kini mampu membuka jendela kamarnya pun ia abaikan. Perlahan terdengar suara tangisan pelan dari gadis itu berbarengan dengan suara hujan yg sedang mengamuk, air matanya jatuh perlahan membasahi sebagian spraynya. Ia masih menenggelamkan wajahnya, bahkan suara dari pintu yg terbuka pun ia hiraukan.

” apa kamu akan terus seperti ini…” ucap seseorang yg tadi membuka pintu kamar gadis itu.

” kakak yakin Viny pasti kecewa melihat kamu seperti ini terus…” lanjutnya. Ia kini berjalan kearah gadis yg sedang duduk dan menyembunyikan wajahnya itu.

” Sinka… Biarkan dia pergi dengan tenang. Ikhlaskan dia. Dan percayalah ini rencana Tuhan yg terbaik…” Gadis yg bernama Sinka itupun mengangkat wajahnya. Ia bisa melihat bahwa sekarang ada kakaknya duduk disebelahnya. Tanpa menunggu aba-aba, orang itu kini memeluk Sinka dengan sangat erat.

” kakak mohon, kamu jangan seperti ini terus. Kakak ga mau lihat kamu kayak gini…” Sinka hanya diam, kemudian melepaskan perlahan pelukan kakaknya itu. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan khawatir dari kakaknya itu, perlahan air mata kakaknya mengalir tanpa ia sadari kini kakaknya memeluknya kembali.

” kamu belum makan kan dari kemarin?” ucap sang kakak yg kini menatap lembut kearah adiknya itu,

” kalau kamu ga mau makan?, kakak juga bakalan ikutan sama kamu?” Sinka sedikit kaget kakaknya mengatakan itu. Namun seketika ia kembali memasang wajah datarnya.

” biar kakak bisa rasain apa yg kamu rasain…” deg. Hati Sinka bergetar. Ia pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Kata yg dulu pernah dikatakan oleh seseorang yg kini telah pergi meninggalkannya. Orang yg berarti dalam hidupnya, bahkan bayangannya pun tak pernah bisa hilang dari pikirannya, bahkan saat dia telah pergi sekalipun.

” jadi makan ya sekarang, kakak suapin nih…” orang itupun mengambil mangkuk yg tadi ia taruh di meja dekat dengan tempat tidur itu.

” aaaa… Ayo dibuka mulutnya?, pesawat siap meluncur…” ucap sang kakak yg kini mengarahkan sendoknya yg berisi nasi dan juga lauknya itu kearah mulut adiknya.  Sinka diam, ia tak membuka mulutnya sedikitpun.

Pandangannya kosong, walaupun matanya menatap kakaknya, tapi pikirannya masih terbayang akan kata kakaknya tadi. ‘ biar aku bisa rasain, apa yg kamu rasain ‘ kata-kata itu berputar terus didalam kepalanya. Jujur, ia sangat merindukan orang yg dulu mengatakan hal itu. Ia teringat saat dulu terlambat masuk sekolah, dan orang itu juga mengikutinya. Ia bahkan sangat tau saat itu dia menunggu di luar gerbang dan dia rela terlambat hanya untuk menunggunya. Yah dengan alasan konyolnya itu. Biar aku bisa rasain apa yg kamu rasain.

Ia tersadar kini kakaknya sudah menatapnya entah sudah berapa lama. Piring yg berisi nasi itu pun kini ditaruh dipangkuan kakaknya itu. Kakaknya menghela nafas panjang. Kemudian berdiri dan menaruh piring itu kembali dimeja.

” kakak tinggal dulu ya…” ucap kakaknya yg kini berjalan kearah pintu. Dia menutup pintu kamar itu perlahan. Terlihat kini disamping pintu kamar itu menjadi tempat dia bersandar, air matanya mengalir dengan sendirinya. Ia tak bisa mengembalikan kondisi adiknya itu seperti semula. Sudah lebih dari satu minggu ini, ia tak bisa melihat senyuman adiknya itu. Semenjak sahabatnya pergi meninggalkannya, yah meninggalkannya dan membuatnya seperti ini.

Sinka menatap kearah piring yg berisi nasi itu, kemudian melihat kearah pintu yg kini telah tertutup rapat. Entah sudah seberapa sering kakaknya itu mengirim nasi kedalam kamarnya. Namun sesering itu juga ia tak pernah menyentuhnya, membiarkan nasi itu kembali diambil oleh sang kakak karena telah membusuk.

_O0O_

Dengan langkah acuh, ia berjalan melewati koridor sekolah, ia tak peduli dengan orang-orang yg kini memperhatikannya. Langkahnya berhenti saat ia bertatap muka dengan seseorang, seseorang yg kini dalam bayangannya adalah seseorang yg ia benci.

” lo udah balik sekolah lagi?” orang itu terlihat menatapnya sambil tersenyum,

” gausah sok peduli deh Lid…dan satu lagi jangan pernah berharap bahwa gue maafin lo…” balas Sinka keras dan melewati gadis yg bernama Lidya itu seakan tak peduli. Itu bagai tamparan keras dalam hatinya Lidya.

Yah, ia sadar bahwa mungkin tak ada lagi maaf baginya. Ia menyesali perbuatannya dulu, namun penyesalan tak membuatnya ke awal lagi. Dengan langkah kaki pelan ia kembali berjalan menuju kelasnya. Ia duduk dibangku kelas dan ia kembali dalam bayangan penyesalan.

” yang sabar ya Lid, gue yakin lo pasti bisa ngelewati ini…” ucap seseorang sambil menepuk pundaknya. Lidya menengok kebelakang, ia bisa melihat ada dua orang yg kini menatap kearahnya sambil tersenyum. Dua orang yg selama ini mencoba membuatnya tetap semangat.

Sinka membanting tasnya kearah bangkunya. Ia duduk dan memegang keningnya. Moodnya hari ini sangat buruk. Ia menengok kearah samping. Memorinya mereka adegan masa lalu. Ia kembali dalam bayangan itu. Ia kini menggelengkan pelan kepalanya. Ia sadar tak ada lagi dirinya yg dulu duduk disampingnya. Dan sekarang ia bisa melihat seseorang duduk dibangku itu. Seseorang yg bahkan tak ia kenal.

” hai…aku murid baru disini. Aku baru pindah kemarin…heheh” ucap orang itu sambil mengangkat tangannya. Sinka tak peduli dengan uluran tangan itu, ia memalingkan wajahnya dari orang disebelahnya itu.

” ehh, namaku Anindhita Rahma, panggil Anin aja…” lanjut orang itu. Dia terlihat menghela nafas panjang dan menarik uluran tangannya itu.

Sinka kini berdiri dan berjalan meninggalkan kelas. Ia menuju kearah rooftop. Mungkin tempat itulah yg membuatnya jadi lebih baik. Ia bersandar disana. Ada seseorang yg juga ikut bersandar disana. Sinka menoleh kearah sampingnya. Wajahnya yg tadi terlihat lebih baik kini kembali ke wajah ketusnya.

” sorry, kalau gue ngikutin lo kesini…sebenarnya gue cuma mau…” belum selesai orang itu berbicara. Sinka kini malah berdiri.

” minta maaf…gue benci denger itu dari mulut lo! Lo sadar ga maaf lo itu bikin semua seperti dulu lagi…” bentak Sinka, kemudian berjalan meninggalkan rooftop. Namun langkahnya terhenti ketika orang itu memegang tangannya,

” Lepasin…” seru Sinka lagi,

” beri gue kesempatan?, gue tau, gue ga mungkin bisa gantiin Viny buat lo, tapi gue bisa jadi seseorang yg bisa lo panggil sahabat sama kayak Viny…” balas orang itu yg kini juga ikut berdiri,

” lo bilang sahabat…jangan terlalu banyak berharap. Lo pikir seberapa pantas lo ada dideket gue setelah lo ngelakuin hal yg ga manusiawi sama sahabat gue sendiri. Lo inget kan kelakuan lo yg keterlaluan itu…” perlahan tangan yg tadi memegang tangannya Sinka kini perlahan terlepas. Sinka berbalik menatap kearah orang itu.

” kebencian gue terlalu besar buat lo…” orang itu terlihat menunduk, kemudian mata sipitnya itu memandang kepergian Sinka.

” gue ga akan nyerah buat bisa jadi sahabat lo sin… Karena itulah janji gue sama Viny…” ucap orang itu dalam hati. Kini perlahan langkah kakinya menuntunnya meninggalkan rooftop.

Setelah Sinka berjalan meninggalkan rooftop ia bertemu seseorang yg sekarang duduk disebelahnya dalam kelas.

” maaf ya?, bukannya mau ikut campur nih… Tapi kalau kamu lagi ada masalah, aku bisa jadi tempat buat berbagi kok…”  Sinka hanya menatap sejenak orang itu. Kemudian membuang mukanya kembali.

Sinka mencoba kembali mengingat ucapan dari Lidya saat tadi di rooftop. Ia tau Lidya tidak sepenuhnya salah atas meninggalnya Viny, namun dalam beberapa insiden mungkin menjadi alasan Viny bisa menderita penyakit itu. Benturan dikepalanya waktu itu. Yah itu bisa jadi alasan untuk membenci Lidya. Ia ingat saat itu Lidya dengan sengaja mendorong Viny  hingga membentur tembok. Ia bahkan tak akan bisa melupakan kejadian itu. Kejadian dimana matanya menjadi saksi.

” apa kamu sedang sakit?” Sinka tersadar bahwa sekarang ia berada dikelas. Dan sekarang sedang duduk disebelah seseorang. Dan orang itu sedang tersenyum melihat kearahnya. Sinka menoleh sejenak.

” apa lo ga bisa diam…” balas Sinka ketus,

” ah, iya…aku minta maaf…” orang yg disebelah Sinka kemudian mengeluarkan satu buku dan juga pulpen,

” apa aku boleh tau namamu…?” Sinka memalingkan wajahnya, ia tak peduli lagi akan perkataan orang itu.

_O0O_

Seorang Gadis kini tengah melihat kearah jam tangannya. Kemudian beralih kearah jalanan, begitu terus beberapa kali. Ia mendengus kesal. Perasaan kesal menyelimuti dirinya. Ia kembali memandang kearah jalanan. Namun sesuatu yg ditunggunya belum juga terlihat.

” lo lagi nunggu jemputan ya?, mending gue anterin yuk…” seseorang berhenti tepat disamping Sinka berdiri. Sinka menoleh, ia bisa melihat ada Lidya disana dengan sepeda motornya,

” ga usah sok baik deh lo…gue bisa pulang sendiri…” ketus Sinka,

” tapi kan…” belum selesai Lidya berbicara ada mobil berhenti disampingnya, kemudian kaca mobilnya terbuka,

” kamu belum pulang?, yuk aku anter, sekalian biar tau rumah kamu…” Lidya menatap orang itu, ia sama sekali tak mengenalnya. Ia melihat kearah Sinka, terlihat kini Sinka masuk kedalam mobil itu,

” kita duluan ya…” itu sepatah kata yg meninggalkan Lidya dalam keheningan, ia tak menyangka bahwa ada seseorang yg tak ia kenal tapi terlihat akrab dengan Sinka. Lidya menghela nafas panjang, kemudian menyalakan mesin motornya kembali.

Sinka kini hanya memandang kosong kearah luar mobil. Ia tak tau kenapa ia berada didalam mobil ini. Yg bahkan dirinya tak mengenal siapa yg duduk disampingnya itu.

” aku tau kalau kamu ga suka sama dia, dan aku tadi cuma mau bantuin kamu keluar dari situasi itu… Bukan maksud aku buat sok ikut campur atau apalah, tapi yg jelas kayaknya kamu lagi ada masalah sama dia ya?” ucap seseorang yg kini duduk disamping Sinka sambil menyetir mobil. Sinka menoleh,

” dan lo ga perlu tau apa masalahnya…” ketus Sinka,

” iya aku tau, aku bukan siapa-siapa kamu?. Dan ga pantes banget buat aku tau segalanya tentang kamu…”

” oh iya, nama kamu Sinka kan, tadi udah nanya sama temen-temen dikelas soalnya…heheh” lanjut Anin. Hening beberapa saat. Sebelum Anin mengeluarkan kembali suaranya,

” rumah kamu sebelah mana?” Tanya Anin, dengan nada cuek Sinka memberi arahan kerumahnya.

_0O0_

Seseorang kini terlihat celingak-celinguk melihat kearah sekolahnya Sinka. Ia menunggu seseorang keluar dari pintu gerbang, namun sampai saat ini ia belum mendapati orang itu keluar dari gerbang. Ia tau bahwa ia terlambat beberapa menit dari perjanjiannya

” duh, kenapa ga keluar-keluar sih dia…, apa udah pulang duluan ya?. Dia pasti ngambek karena aku telat jemput…” ucap pelan orang itu. Ia teringat ia sudah sangat sulit untuk membujuknya kembali kesekolah, dan sekarang ia malah terlambat menjemputnya. Akan ada berapa jarak lagi diantara mereka. Orang itu terlihat pasrah akan keadaan sekarang.

” kak Naomi…, lagi nunggu siapa kak?”

” eh, Beby… Ini lagi nunggu Sinka…” balas Naomi saat ia tau ada Beby dan juga Ayana berdiri disebelahnya, ia tersadar dari lamunannya,

” Sinka?, Sinka udah pulang ga tau sama siapa kak?, gue pikir tadi sama kak Naomi…” balas Ayana,

” cewek atau cowok?” tanya Naomi,

” ga tau juga kak, soalnya pake mobil…” jelas Ayana diikuti anggukan dari Beby.

Jika sudah seperti ini, raut panik jelas terlihat dari wajah Naomi. Bagaimana tidak, ia bahkan tak tau siapa yg sekerang bersama Sinka. Dengan cekatan ia mengambil handphonenya dan mencari kontak adiknya itu. Tapi beberapa saat kemudian, wajahnya terlihat semakin panik. Yah, karena tidak ada balasan dari seberang sana. Kemudian ia kembali lagi menatap smartphone miliknya itu. Kemudian mencoba menghubungi seseorang yg dalam kontaknya diberi nama Mama.

” Ma, Sinka udah pulang belum?” tanya Naomi cepat, setelah kini sadar bahwa sudah terhubung dengan Mamanya itu. Beberapa saat kemudian terlihat wajah lega dari Naomi.

” oh gitu, yaudah ma… Aku pulang sekarang” balas Naomi sambil mengakhiri obrolan via telpon itu. Ada sedikit kelegaan sekarang, Mamanya mengatakan Sinka sudah ada dirumah.

” gimana kak?” tanya Beby memastikan, Naomi menyunggingkan senyum. Seketika langsung pada pingsan. Itu bercanda.

” udah nyampai rumah kok dianya…yaudah kak Naomi duluan ya…” balas Naomi yg kini berjalan kearah mobilnya. Hanya lambaian tangan dari Beby dan juga Ayana yg mengiringi laju mobil Naomi meninggalkan tempat itu.

” sekarang kita ngapain?” Tanya Beby menatap kearah Ayana,

” oh iya lupa, kita kan ga  bawa kendaraan?, terus pulangnya gimana?” balas Ayana, Beby terlihat menepuk jidatnya.

” Apa harus jalan kaki?” ucap Beby yg kini sadar tak mungkin ada bus dijam seperti ini.

_O0O_

Naomi memakirkan mobil digarasi rumah. Dan kini terburu- buru masuk kedalam rumah. Bahkan ia mengabaikan sapaan mamanya diruang tengah. Langkah kakinya cepat menuju kearah lantai atas tepatnya kamar adiknya. Ia membuka pelan pintu kamar itu.

” kakak boleh masuk kan?” Naomi bisa melihat adiknya itu juga menatap kearahnya. Namun beberapa saat kemudian, tatapan itu ia palingkan. Naomi berjalan mendekat kearah adiknya itu.

” iya, kakak salah… Kakak minta maaf ya?” Naomi mencoba duduk disebelah adiknya, dan mencoba meminta maaf soal kejadian tadi. Saat ia terlambat menjemputnya.

Sinka masih Seakan tak peduli akan kehadiran kakaknya itu, ia masih menatap kosong kearah luar jendela. Sejenak ia menoleh kearah kakaknya itu yg seakan selalu ada disisinya setiap saat. Saat mata mereka bertemu, ia bisa merasakan seberapa dalam perhatian kakaknya itu pada dirinya. Namun lagi, bayangan tentang Viny membayanginya, menghapuskan bayangan kakaknya itu seketika. Entah sampai kapan ia akan terus seperti ini. Seberapa seringpun hatinya mencoba untuk melupakan sejenak tentang sahabatnya itu, sesering itu juga memorinya memutar ulang semua kenangan tentangnya. Jujur saja hati kecilnya belum bisa menerima kenyataan, kenyataan dimana semua akan terlihat semu dimatanya. Ia sadar bahwa kenyataan itu pahit. Dan inilah kenyataan untuknya.

Kehilangan seseorang yg mengajarkannya banyak hal tentang kehidupan. Ia juga kecewa kepada dirinya sendiri, kenapa dia yg harus pergi, kenapa bukan dirinya sendiri. Kenapa ia sendiri bahkan terlambat menyadari kalau dia itu sakit. Dan kenapa ia tak bisa menemani sahabatnya itu saat berjuang dihari terakhirnya. Kenapa?. Pertanyaan yg selalu hinggap dalam kepalanya. Pertanyaan yg hanya membuat dirinya semakin terpuruk. Dan sama sekali tak pernah ia temukan jawabannya. Ia tersadar sekarang tak ada lagi kakaknya disana.

Entah sudah berapa lama kakaknya meninggalkannya. Yg jelas tak lagi nampak dirinya di kamar itu. Sinka membanting tubuhnya dikasur dan mencoba memejamkan matanya.

_0O0_

Naomi terlihat lesu meninggalkan kamar adiknya itu. Ia bahkan tak diperhatikan barang sedetikpun saat ia berbicara. Bahkan saat ia pamit pun, seakan adiknya itu tak peduli. Yah, walau bagaimanapun ia takkan lelah untuk mengembalikkan adiknya seperti semula.

Walaupun ia sadar itu tidak akan mudah. Dan ia harus mengakui kalau itu sesuatu hal yg membuatnya sedikit ingin menyerah. Namun tanggung jawab seorang kakak itu kini harus tetap ia pikul. Dan tak akan pernah lelah.

” ma, Sinka tadi udah makan belum?” tanya Naomi saat ia dan mamanya sedang berada diruang makan. Mamanya terlihat pasrah dengan situasi ini. Mamanya hanya menggeleng pelan.

Naomi kembali menghela nafas panjang. Ia sadar entah sudah berapa lama meja makan ini tak seramai dulu. Tak pernah ada lagi Sinka disana, ia tau adiknya itu sudah mau makan semenjak kemarin. Namun yg ia inginkan bukan seperti ini. Ia ingin seperi dulu, saat semua bisa berkumpul disini, ditempat ini. Saat bisa tertawa lepas melihat adiknya itu mengambil makanan terlalu banyak, dan saat itu dia tak mampu menghabiskannya. Itu adalah satu kenangan diantara jutaan kenangan yg memutar dengan sendirinya di kepala Naomi.

” mama makan dulu aja?, nanti Sinka biar aku yg bawain keatas…” ucap Naomi pelan memecah keheningan di meja makan itu.

Naomi kembali kekamar Sinka dan kali ini membawa satu mangkok berisikan bakso, itu adalah makanan kesukaan adiknya. Naomi hanya melihat Sinka yg tertidur pulas itu, dan kemudian menaruh mangkok itu diatas meja belajarnya. Naomi kembali meninggalkan kamar adiknya itu dan berjalan menuju ruang makan untuk menemani mamanya makan disana.

Naomi menyunggingkan senyum saat tau bahwa bakso dalam mangkok itu kini telah habis. Dengan membawa mangkok kosong itu keluar dari kamarnya Sinka, tak henti-hentinya Naomi tersenyum. Wajahnya menandakan kalau dirinya sedang bahagia.

_0O0_

Sinka berjalan kembali melewati koridor sekolah, dan tak mempedulikan hal disekitarnya. Dan pada saat itu ia bertemu dengannya kembali. Dengan orang itu.

” hei tunggu…?” teriak seseorang menghampiri Sinka. Sinka menoleh sejenak, ia bisa melihat ada seseorang yg kini sedang mengatur nafasnya disamping ia berdiri. Sinka mengabaikan orang itu dan tetap berjalan menuju kelas.

” apa aku tak bisa jadi temanmu?” tanya seseorang yg kini ikut duduk disebelah Sinka.

” baiklah, tak apa?, aku akan melakukan apapun untuk bisa jadi temanmu?” lanjutnya,

” Anin, berhentilah mengoceh…” ketus Sinka. Namun yg terlihat sekarang orang yg dipanggilnya Anin itu malah tersenyum,

” makasih, itu panggilan pertama darimu…” balas Anin masih tetap tersenyum,

” dasar aneh…” ucap Sinka acuh.

_0O0_

Dari salah satu bangku taman disebuah kampus. Naomi terlihat hanya mengacak-ngacak rambutnya, padahal ia tak merasa gatal. Ia teringat kejadian tadi pagi saat ia hendak mengantarkan adiknya.

*flashback*

” tak usah repot- repot mengantarku, aku bukan anak kecil lagi…” itu balasan dari Sinka yg kini pergi meninggalkannya dalam keheningan. Naomi kaget, ini pertama kalinya adiknya itu menolak tawarannya. Mungkin karena kejadian kemarin. Yah dengan langkah berat ia menuju ke garasi untuk mengambil mobilnya dan menuju ke kampusnya.

*flashback off*

” arggg, kenapa jadi kayak gini sih…” ucap Naomi dalam hati.

” Kamu lagi ada masalah?” tanya seseorang yg kini ikut duduk disebelah Naomi. Naomi menoleh kearah orang itu,

” tentang adik kamu lagi?” tebak orang itu, Naomi terlihat mengangguk pelan,

” kamu yg sabar aja ya, semua pasti akan baik- baik saja kok…” ucap orang itu diiringi dengan senyuman lembut darinya. Naomi juga membalas senyuman itu. Hening beberapa saat.

” gimana kalau adik kamu di bawa ke psikolog?” ucap orang itu, Naomi menoleh tajam,

” jadi kamu menganggap adik aku kena gangguan jiwa gitu…” ketus Naomi,

” hehe… Ya nggak gitu juga sih. Cuman ngasih saran doang?”

” udahlah Ve, aku yakin adik aku cuma butuh waktu untuk dia bisa seperti dulu lagi…” seseorang yg dipanggilnya Ve itupun mengangguk setuju.

Ve kini hanya melihat Naomi pergi dari bangku taman itu. Sebenarnya ia kesini ingin menyampaikan sesuatu hal yg penting padanya. Namun ketika melihat kondisi Naomi yg seperti itu, ia kembali meng urungkan niatnya itu. Dengan langkah cepat ia mencoba  untuk mengejar Naomi.

_O0O_

Lidya berjalan cepat menyusuri koridor sekolah dan pada saat itu ia tak sengaja menabrak seseorang.

” heh, kalau jalan pake mata dong?” ketus orang yg ditabrak Lidya itu, sambil mengelap bajunya yg terkena cipratan es krim yg dia pegang.

” sorry, gue lagi buru- buru…” balas Lidya hendak meninggalkan orang itu,

” tunggu, gue kaya pernah lihat lo deh…” lanjut Lidya sambil mengamati orang yg didepannya itu,

” lo kan yg kemarin sama Sinka?”

” heh, gausah banyak nanya… Cucuin baju aku sekarang?” bentak orang itu,

” gue kan udah minta maaf?, lo itu tuli atau gimana sih?” balas Lidya tak mau kalah. Kini terlihat banyak siswa-siswi yg mengerubuti mereka berdua. Yg jelas diantara keduanya tak ada yg mau mengalah.

~

Sinka berjalan mendekat kearah kerumunan yg ada dikoridor itu. Ia mencoba mendesak untuk melihat apa yg sedang terjadi didalam keruman itu. Matanya menatap tajam kearah Lidya, ia dengan cepat menarik tangan Anin dari kerumunan itu.

” apa yg lo lakuin…” tanya Sinka dengan nada tegas,

” aku cuman..” belum selesai Anin berbicara, Sinka langsung memotongnya,

” jauhi dia, kalau lo memang mau jadi temen gue?” mata Anin terbelelak kaget, tentu saja ia dengan cepat mengangguk. Senyumnya merekah ketika ia dan Sinka berjalan menuju kelas.

~

Lidya hanya menatap samar kepergian Sinka dan juga seseorang yg bahkan ia sendiri tak mengenalnya. Sorot matanya menandakan ketidak bahagiaannya. Ia kini memutuskan untuk kembali kekelasnya. Ia gagal untuk hari ini, ia gagal untuk bisa dekat dengan Sinka. Dan kini ia yakin kalau Sinka akan semakin menjauh darinya.

Lidya membanting tas itu dalam kamarnya. Setelah pulang sekolah, ia langsung menuju rumah. Ia menolak ajakan Ayana dan Beby untuk mampir ke salah satu mall. Sudut matanya perlahan mengeluarkan air mata. Ia membiarkan semua mengalir dengan sendirinya membasahi pipi. Ia seperti gagal dalam kehidupannya. Ia ingin membagi semua perasaannya, tapi sama siapa. Tak ada siapapun. Mama, papanya, mana tanggung jawab mereka sebagai orang tua.

Ia bahkan tak pernah melihat ada canda tawa dalam keluarganya. Tak ada sapaan di meja makan, tak ada candaan di depan tv. Dan bahkan ia lupa, kapan mama dan papanya itu bisa bersama dimeja makan. Papa ada, mamanya yg nggak ada. Begitu sebaliknya, mamanya ada, giliran papanya yg ga ada. Kesibukan mereka memang luar biasa. Ia mencoba mengerti, apa yg mereka lakukan pasti juga untuk dirinya. Ia harus berfikir dewasa.

Nada dering dari smartphonenya membuatnya harus melupakan sejenak masalahnya. Ia tak ingin terdengar menangis di dalam telepon.

” hallo…iya ma. Lidya udah pulang kok. Iya ma, Lidya ngerti kok…tuut…tuuuttt….tuuuttt” suara seseorang dari seberang sana telah menghilang. Lidya menghela nafas panjang. Mamanya mengatakan, kalau dia tak bisa pulang hari ini. Lidya mencoba untuk mengerti, walau jujur ia sangat merindukan sosok mamanya itu.

# bersambung…

@sigitartetaVRA

Ini adalah lanjutan dari cerpen yg judulnya Sahabat di blog ini.
ceritanya mau dibikin cerbung gitu. Heuhe.

Kependekan ya?, yaudah besok dipendekin lagi. Plakkk.

Satu komentar anda adalah satu semangat saya untuk terus melanjutkan
cerita ini, walau saya ga janji cerita ini sampai bener-bener di
ending atau ga. Tapi saya sedang berusaha menyelesaikannya sebaik
mungkin.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Sahabat ( story version) part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s