Iridescent Part 14

Iridescent New Cover.jpg

(Pahami)   

Gue turun menuju ke bawah, saat melewati ruang keluarga disana ada Shani yang sedang sibuk mengupas apel bersama Gaby dan Kak Elaine.

 

“Mau kemana lo?” tanya Gaby sewot.

Gue menghentikan langkah, berhenti tepat di belakang mereka …

“Mau ke Cafe Bang Krut” jawab gue.

“Ketemuan ya sama Ve? Bener kan dek?” tanya Kak Elaine.

“Iya Kak” jawab gue singkat.

“Gue mau coba putusin dia baik-baik sekali lagi, semoga dia bisa nerima keputusan gue ini” ujar gue.

“Yah semoga aja, gue doa in yang terbaik. Lagipula sekarang Shani Cuma bisa dirumah aja berhubung udah positif …” celetuk Gaby.

“Maaf Shan, gara-gara aku, kamu gak jadi pindah sekolah dan gak bisa lanjutin pendidikan lagi” ucap gue sangat menyesal.

Gue Cuma bisa menundukkan kepala saja …

Shani lalu bangkit dari sofa dan jalan menghampiri gue, dia berdiri tepat di depan gue sekarang. Lalu Shani menyentuh pipi gue dengan lembut, gue dan dua saling bertatapan.

“Kamu gak salah, ini semua udah takdirnya … Kita Cuma bisa jalani ini semua, jadi kita hadapi semuanya sama-sama” ujar Shani.

 

Gue mendengar ucapan dari Shani tersenyum, seharusnya gue gak boleh menyakitinya. Tapi gue juga Cuma manusia yang gak luput dari yang namanya KESALAHAN. Ini akan jadi sebuah pembelajaran bagi gue. Semoga bisa jadi lebih baik lagi di kemudian hari …

Kemudian gue dan Shani saling bertatapan, lalu dia mendekatkan wajahnya ke gue. Shani memejamkan matanya, gue juga mendekatkan wajah gue … Lalu perlahan gue ikut memejamkan mata. Tapi ….

 

PLAK …

 

“Sadar Wil … Sadar!!!”

“Eh?”

 

Gue kaget ketika Gaby tiba-tiba sudah ada didepan gue, sedangkan Shani, Kak Elaine dan Kelik Cuma bengong sambil lihatin wajah gue. Ada apa nih? Kok serius amat ngelihatin gue, emang ganteng ya? *abaikan

Gue melihat ada yang aneh, ini kok disini ya? Bukannya tadi …

Perasaan gue udah melewati masa-masa liburan dan kejadian dimana Shani hamil deh, tapi ini gue sama mereka masih berada di  Kopi Joss? Ini benar-benar aneh. :v

 

“Woy, sadar Wil … Elo tadi kencing sembarangan ya? Kesambet setan ya lo?” tanya Gaby ngaco.

“Perasaan tadi kita ada di ruang tamu deh, ini kok kita masih di sini sih?” jawab gue sambil melihat ke sekitar.

“Sayang, kamu gapapa kan? Kok bisa gini sih, jadi linglung” ucap Shani khawatir.

“Mungkin tadi kepalanya kepentok meja kali, waktu masih di rumah” timpal Kelik.

Dia lalu menggoyang-goyangkan bahu gue, tapi sumpah saat ini gue merasa linglung, atau emang ada yang aneh didalam otak gue. Apa semua kejadian itu hanya sekedar mimpi? Tapi kenapa terasa nyata sekali buat gue …

Gue lalu menatap ke arah Shani, kemudian gue pegang kedua tangannya. Ini harus dipastikan kebenaran soal tadi, apakah gue mimpi atau benar-benar nyata.

 

“Shan, kamu hamil?” tanya gue to the point.

 

Haaaaaaaa????

Gaby, Kak Elaine dan Kelik kaget mendengar pertanyaan yang gue lontarkan ke Shani, bahkan Shani sendiri ikutan bingung. Terlihat dari ekspresi mereka itu. Dan sekali lagi gue mendapat hadiah …

 

PLAK …

 

“Lo gila ya?” sergah Gaby.

Entah kenapa dia yang malah nampar gue, bukan Shani. Mukanya kelihatan merah sekali, entah karena ucapan gue atau yang lain.

“Kok gila? Gue kan Cuma tanya ke Shani” balas gue sambil mengelus pipi gue yang kena tampar.

“Ehh emm, sorry gak bermaksud nampar lo, habis pertanyaan lo aneh banget deh” ujar Gaby dengan senyum terpaksa.

“Hmm terserah elo deh” ucap gue malas. -_-

Shani, Kak Elaine dan Kelik udah nahan ketawa daritadi, itu karna gue lihat mereka. Ternyata mereka juga sama aja …

“Udah deh kalau mau pada ngetawain gue, tinggal ketawa aja. Jangan di tahan …” ucap gue.

“Sensi amat dek, lagian pertanyaanmu ke Shani aneh banget sih” ujar Kak Elaine.

“Emang lo bayangin apaan sih Wil, sampai segitunya?” tanya Kelik.

“Iya nih, jadi penasaran tau” timpal Shani.

“Jadi ceritanya kayak gini ….”

 

Gue pun menceritakan semua yang gue alami dalam “mimpi” tadi, dari awal sanpai akhir gue ceritakan. Kecuali soal masalah chat dari Ve, takut Shani ngambek lagi. Mereka semua pada ngetawain apa yang gue ceritakan ke mereka. Sedangkan Shani Cuma tersenyum mendengar semua cerita gue, matanya tinggal segaris kalau pas lagi senyum.

“Lo ngayalnya kejauhan deh Wil, sumpah gue mules nih daritadi ketawa mulu” ujar Gaby memegangi perutnya.

“Jangan salah paham dulu kalian, pahami aja maknanya. Dekat, tapi terasa jauh” ucap gue membela diri.

“Bilang aja pikiran lo aslinya Cuma di dekat sini, tapi terasa jauh itu tentang khayalan lo aja” celetuk Kelik.

“Parah nih Dek, sampai jauh banget loh khayalannya” tambah Kak Elaine.

 

Gue Cuma menatap mereka dengan malas, tau gitu gue gak cerita. Lalu gue melihat ke arah Shani, sekarang dia menatap gue dengan senyum khas miliknya.

 

“Aku gak hamil kok, kamu tenang aja. Jangan mikir yang aneh-aneh deh kamu pokoknya” ujar Shani.

“Iya iya Shan, namanya juga tadi bayangin. Gak tau kalau kejauhan gitu” balas gue sambil nyengir.

“Lanjut jalan yuk, aku mau foto-foto di Tugu sama jalan-jalan ke Malioboro” ajak Shani.

“Yaudah deh. Sini aku gandeng, biar gak ada yang ganggu” ucap gue sambil meraih tangannya.

Shani tersenyum memandang gue, lalu dia mendekat ke telinga gue.

“Jagain aku terus ya …” bisik Shani.

“Iya Shan, pasti” ucap gue, kemudian membalas senyumnya.

 

Kami berdua lalu bangkit dari duduk dan siap untuk melanjutkan jalan-jalan lagi.

 

“Kalian mau ikut gak jalan-jalan lagi?” tanya gue ke Gaby, Kak Elaine dan Kelik.

“Ih tungguin kita-kita kali …” jawab Gaby sambil bangkit.

“Iya nih Dek, main tinggal aja. Laporin ke Mama kamu …” ancam Kak Elaime.

“Terserah deh Kak” balas gue.

“Kunci mobil ada di elu kan Wil?” tanya Kelik.

“Iya” jawab gue singkat.

 

Biasanya gue jadi korban nih, kalau lagi jalan bareng gini. Dompet akan jadi kurus kering akibatnya, mending siap-siap aja deh.

“Yang bayar pesenan kita, lu aja ya Gab. Sekali-kali lah” ujar gue sambil menarik Shani berjalan menuju ke mobil.

“Sayang kamu pasti sengaja yah” tanya Shani ke gue, setelah agak jauh.

“Hahaha, tau aja kamu. Sekali-sekali biar diantara mereka yang bayarin kita deh” jawab gue dengan tawa kemenangan.

“Ih, dasar kamu …” celetuk Shani ikut tertawa.

 

Saat berada di dekat mobil,  tiba-tiba …

“Woy, enak banget sih lo. Main tinggal aja” teriak seseorang.

Gue dan Shani menoleh ke belakang, suara itu tak lain dan tak bukan dia adalah Gaby. Dia terlihat garang dari jauh … : v

“Traktir gue sama Shani lah sekali-kali” balas gue berteriak.

 

Gue dan Shani kemudian masuk ke mobil, dari dalam gue sempat melihat ke arah Frieska. Entah kenapa gue sering teringat kenangan waktu kami berdua dekat, tapi itu udah lama. Tangan gue tiba-tiba di pegang oleh Shani, gue menoleh ke arahnya.

 

“Mumpung belum pada sanpai ada yang mau aku bicarain sama kamu, kali ini serius” ujar Shani.

“Mau bicarain apa?” tanya gue penasaran.

“Sebenernya aku serius waktu bicara soal hubungan kita tadi waktu dirumah” jawab Shani.

 

 

FLASHBACK

 

“Sayang … Bisa bicara sebentar???” ucap gue ke Shani.

“Yaudah cepetan ngomong” ujar Shani.

“Dikamar aja …” balas gue.

Lalu gue berdiri dan menuju kamar gue di susul oleh Shani. Sesampainya di kamar gue langsung kunci pintunya. Gue pegang kedua bahu Shani, kemudian gue memeluk tubuhnya dengan erat.

 

“Kamu kenapa???” tanya Shani khawatir.

“Maaf soal itu …” ujar gue.

“Udah gak usah dipikirin, aku udah maafin kamu kok” ucap Shani membalas pelukan gue.

“Gak usah kamu jelasin gapapa, aku udah di ceritain sama Gaby tadi” ujarnya sambil mengelus punggung gue.

“Makasih Shani …”  ucap gue.

“Aku rela kok kalau kamu pacaran sama Kak Ve, tapi …” ucap Shani menggantung.

“Tapi apa???” tanya gue sambil menatap matanya.

“Tapi hubungan kita gak bisa dilanjutin lagi, aku mohon jangan bilang ke Mama kita. Aku takut mereka kecewa” jawabnya terisak.

 

DEG

 

Gue gak bisa berkata-kata mendengar jawaban Shani … Apa ini hukuman buat gue yang udah hianatin Shani? Apa ini karma nya …

“Shan … Aku mohon jangan …”

Gue udah kehabisan kata-kata …

“Gak kok aku bercanda hihihihi” celetuk Shani.

“Ih nyebelin banget deh kamu” ucap gue.

“Gimana akting aku, bagus gak?” tanya Shani sambil terus tertawa.

“Jelek” balas gue.

 

FLASHBACK OFF

 

 

Gue awalnya kira itu serius, tapi Shani lalu ngaku kalau itu Cuma bercanda aja. Dan sekarang dia bilang kalau itu sebenarnya serius? Apa coba … Jujur ini buat gue bingung jadinya, Shani hanya bisa terdiam sekarang. Begitu juga gue sendiri.

 

“Shan, jadi itu semua serius?” tanya gue memastikan lagi.

“Kali ini aku jujur, itu serius. Kamu harus bisa pilih sayang, mau pertahankan hubungan kita atau kamu pilih Kak Ve?” ucap Shani dan dia menanyakan hal itu.

“Aku, a aku jelas mau pertahanin hubungan kita Shan … Tapi gak mudah buat lepasin Ve gitu aja, gak tau kenapa dia jadi egois gitu …” jelas gue ke Shani.

“Aku juga gak bisa gini terus, begitu aku tau kamu ada hubungan sama Kak Ve, aku kecewa. Tapi aku juga gak bisa lepasin kamu gitu aja” ujar Shani.

 

Kemudian kamu berdua saling terdiam, gue melihat Gaby, Kak Elaine dan Kelik sudah berada di luar mobil.

“Maaf, Cuma itu yang bisa aku ucapin ke kamu” ucap gue.

“Aku juga minta maaf sama kamu, tapi aku tetap minta kejelasan soal hubungan kita” balas Shani yang menundukkan kepala.

“Lebih baik kita introspeksi diri masing-masing dulu, nanti kita bicarain lagi. Mereka udah datang” ujar gue.

Lalu pintu mobil terbuka, Gaby, Kak Elaine dan Kelik masuk ke dalam mobil. Sekarang mood gue udah hilang setelah kejadian barusan. Gue serasa mau jalan sendirian setelah ini.

 

“Kita pulang aja …” ucap gue dan Shani bersamaan.

“Eh, kalian ngapain sih? Pada marahan nih, kok pada diam aja …” celetuk Kak Elaine.

“Ah gak asik nih kalian, baru satu tempat udah minta balik aja” ucap Gaby kecewa.

“Udah deh kita balik aja dulu, lagipula masih banyak waktu buat jalan-jalan. Semoga aja Willy sama Shani udah baikan” ujar Kelik.

“Yaudah, kita pulang aja” balas gue singkat.

 

Kemudian gue menyalakan mesin mobil, lalu melajukan pulang menuju ke rumah. Selama perjalanan tak ada pembicaraan diantara kamu semua, hingga sesampainya dirumah gue Cuma memasukkan mobil ke dalam garasi.

Gue keluar dari mobil lebih dulu meninggalkan mereka, lalu langsung bergegas masuk ke rumah, didalam terlihat sepi. Gue hanya menyempatkan masuk ke kamar Cuma untuk mengambil kunci motor dan jaket. Setelah itu balik keluar rumah.

Saat sampai diruang tamu, gue berpapasan dengan Shani, Gaby, Kak Elaine dan Kelik. Tiba-tiba saja tangan gue ditahan oleh seseoarang, dia Shani.

 

“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Shani.

Wajahnya terlihat sangat sedih dan khawatir juga, mungkin gara-gara tadi.

“Aku mau keluar sebentar, mau tenangin pikiran dulu …” jawab gue.

Setelah itu dia melepaakan genggaman tangannya …

Gue pun mengeluarkan motor gue dan menyalakan mesinnya, sejenak gue memanasi mesin sebentar. Gaby dan Kelik tiba-tiba menghampiri gue yang lagi duduk diatas motor.

 

“Kalian berantem ya? Si Shani nangis tuh di dalam, lagi coba di tenangin sama Kak Elaine” ucap Gaby.

“Ada masalah apa lagi kalian ini?” tanya Kelik.

“Shani minta kejelasan soal hubungan gue sama dia dan juga dia tanya gue pilih dia atau Ve” jawab gue jujur.

“Wajar dia minta kejelasan, dia kan tunangan elo Wil” ujar Gaby.

“Mending kalau lo pilih Shani, lu coba putusin Kak Ve baik-baik. Mungkin aja dia bisa terima semua keputusan lo Wil. Pilih apa yang menurut lo yang terbaik” saran Kelik.

“Thanks … Kalian bikin gue lebih tenang dari sebelumnya” ucap gue dan tersenyum ke mereka.

“Sama-sama” balas mereka berdua.

“Yaudah gue berangkat dulu” pamit gue.

“Hati-hati lo di jalan” ujar Gaby.

“Jangan pulang kemalaman!” tambahnya.

“Iya iya …” teriak gue.

 

Mungkin sekarang gue Cuma ingin menhibur diri dan coba tenangin pikiran aja, tujuan sekarang Cuma mau jalan-jalan aja …

 

_ _ _ _

 

Berhubung sekarang udah jam 8, mungkin gue Cuma sekadar keliling Malioboro aja. Sekarang gue masih agak jauh dari kawasan kota, berhubung masih di jalan utama alias Jln. Magelang. Saat melewati jalanan ini, ternyata juga banyak tempat hiburan malam disini. Maklum lah jam malam sudah di mulai. :v

Gue baru asik melihat ke arah cewek-cewek sexy yang berjalan menuju ke klub malam, sampai-sampai gak fokus ke jalanan.

“Wow, cantik-cantik banget ceweknya. Njir, tau gitu gue ajakin Kelik tadi” gumam gue.

Tiba-tiba ada cewek yang berjalan luntang-lantung di tengah jalan, gue yang kaget langsung mengerem mendadak.

 

CKIITTTT …

 

Oke abaikan dan jangan dibayangkan cara gue ngerem motor nya. Pasti ngakak karena ini hampir benar-benar terjadi dikehidupan gue. Sial gara-gara cewek :v  *efek real life

 

“Mbak kalau mau jalan jangan di tengah-tengah gitu dong!” ucap gue memarahi cewek itu.

Dia masih berdiri membelakangi gue, gak ada respon sama sekali dari cewek itu. Kayaknya cantik sih ini cewek, apalagi di dukung spesifikasinya. Udah tinggi, putih, rambutnya panjang, pake baju yang open alias terbuka dan hotpants yang bikin dia …

Ah sudahlah … Jangan dilanjutkan lagi, bahaya :v

 

“Mbak …mbak gak kenapa-napa kan?” tanya gue sambil berjalan mendekat ke cewek itu.

Dan saat cewek itu berbalik ke arah gue, dada punya cewek itu nongol dan gue pun menutup wajah pakai telapak tangan gue tapi tetep ngintip dikit. *oke abaikan, gue bercanda.

 

Sebenarnya yang terjadi adalah …

Ternyata dia nangis sesenggukan, kemudiam secara tiba-tiba dia langsung meluk gue ditengah jalan begini.

“Eh eh, lo kok langsung peluk aja sih mbak??? Ini ditengah jalan loh, kepinggir dulu deh sana. Gue mau pinggirin motor gue juga, ntar di tabrak dari belakang!” omel gue.

“I iya, sorry” balasnya.

Cewek itu kemudian jalan ke trotoar dan nungguin, sedangkan gue mengambil motor dan meminggirkan motor di depan cewek itu berdiri. Sesaat setelah gue turun dari motor gue langsung dipeluk itu cewek, dia melanjutkan tangisannya lagi. Gue jadi bingung harus ngapain sekarang … :v

“Ssstt pamali loh mbak nangis malam-malam gini, lagian lo tangisin soal apaan sih. Apa gara-gara cowok” tanya gue.

“Huaaaa”

 

“Eh malah tambah kenceng aja nangisnya, aduh udahan mbak nangisnya. Nanti dikira gue ngapa-ngapain elo” ucap gue coba menenangkannya.

“Hiks hiks, gue habis di selingkuhi sama mantan gue …” jawab cewek ini sesenggukan.

“Udah dong jangan di tangisi lagi, cowok itu udah gak pantes buat elo” ujar gue sok. *ngaca lu thor

Setelah gue ngomong itu dia mendongakan wajahnya ke gue. Wajahnya cantik juga … *plak

 

“Gitu ya, tapi sekarang gue bingung mau kemana. Gue habis ditinggalin dia sendiri di jalanan, lagian gue bukan asli Jogja. Baru tadi pagi sampai sini, eh malamnya gue di selingkuhin, terus ditinggal” curhat dia ke gue panjang lebar.

“Emm gimana ya??? Gue juga bingung nih, lagian gue gak mungkin bawa lo ke rumah gue, yang ada nanti gue kena hajar sama Mama” ucap gue jujur kali ini.

“Ajak gue cari makan dulu yuk, daritadi sore gue belum makan sampai sekarang. Please …” ucap cewek ini memohon.

“Yaudah deh kalau gitu, daripada gue jalan sendirian. Ntar di kirain jomblo” ujar gue sambil nyengir gaje.

“Lo lucu ya ternyata” ucapnya.

“Ah bisa aja, jadi malu …” balas gue sok salting gitu.  :v

 

Setelah itu gue mengambilkan helm kedua yang selalu dibawa kalau ada penumpang, serasa tukang ojek gue sekarang.

“Ini dipakai helmnya? Bisa kan?” tanya gue.

“Bisa lah, elo ngeledek gue?” balasnya.

Kalau di ingat-ingat ekspresi dia waktu bilang itu sama kayak Gre deh, eh lupakan.

“Hahaha bercanda mbak” ucap gue.

“Ih jangan panggil mbak deh, risih gue dengernya. Mending kita …”

Dia menarik tangan dan menjabat tangan gue, tangisan yang tadi mengalir di matanya kini berubah jadi senyuman manis. Jadi kesengsem gue … Eh?

 

“Thalia, panggil aja Tata” ucap cewek itu memperkenalkan diri.

Namanya irit banget, kaya anak kost yang lagi ngebon di warteg. Wkwkwk …

“Gue Willy, Willy Debiean lengkapnya” balas gue dengan senang.

“Yaudah segitu dulu intronya, sekarang cari makan dulu deh” ujar Tata.

“Oke kalau gitu, tapi sebelumnya mending elo …”

“Apa?” tanya Tata heran.

Gue melihat dari bawah ke atas tubuhnya, sekilas wajahnya jadi merah gara-gara gue lihatin gitu, hadeh kesannya gue mesum deh … :v

“Lo lihatin gue kenapa? Gue cantik, terus kelihatan sexy gitu …” tanyanya lagi.

“Sebenernya iya sih, tapi maksud gue bukan itu tapi … Apa lo gak kedinginan nanti kalau gue bonceng naik motor?” jawab gue sambil memastikan.

“Iya juga sih, bener kata-kata lo. Lagian jaket gue ketinggalan di mobil punya si brengsek itu” ucap Tata.

“Gini aja deh, kan di dekat sini ada Mall juga. Mending kita puter balik terus kesana aja, biar gak terlalu jauh” ujar gue.

Tata hanya membalas dengan anggukan, setelah itu melepas jaket yang gue pakai dan memakaikannya ke Tata. Dia kaget dengan sikap gue ke dia.

“Thanks” ucapnya sambil tersenyum.

“Sama-sama” balas gue.

 

Gue lalu naik ke motor dan menyalakan mesinnya, kemudian Tata naik dan langsung pegangan perut gue. Oke fix gue tukang ojek pengkolan :v

Setelah itu gue pun memutar balik arah dan melajukan motor ke arah Mall yang gue maksud. Tak butuh waktu lama untuk sampai kesana, orang tinggal nyebrang doang terus jalan gak sampe 100 meter kok.

Gue memasuki kawasan parking area Mall yang bernama J*M (sensor) … Lalu setelah mendapatkan tempat, gue memarkirkan motor dan turun.

“Ternyata Mall yang lo maksud deket banget sama tempat gue berdiri tadi” ujar Tata setelah turun dari motor.

“Iya juga sih, …” balas gue terkekeh.

Setelah melepas helm gue dan Tata jalan menuju ke Mall, tiba-tiba menggandeng tangan gue. Saat menoleh ke arahnya, dia Cuma pura-pura mengalihkan pandangan dari gue. Aneh-aneh aja ini anak.

_ _ _ _

 

Kami memasuki Mall ini, pertama kami berdua Cuma mengelilingi sambil melihat-lihat saja. Sampai saat melewati food court, jadi bingung mau pilih yang mana.

“Lo mau makan apaan, Ta?” tanya gue.

“Itu aja deh, baru pingin makan yang jejepangan gitu” jawab Tata sambil menunjuk ke salah satu kedai.

“Oke deh, kesana yuk” ucap gue dengan senang hati.

Saat masuk ke salah satu kedai gue gak sengaja menabrak seseorang, dan ternyata dia adalah …

“Shanji?”

“Willy?”

Kami berdua sama-sama kaget, kenapa ketemu disini ya? Ah sudahlah, tapi yang bikin gue kin kaget adalah seorang cewek yang menggandeng Shanji dengan mesra. Dia adalah Anin temen SMP gue dulu …

“Besok lo ada waktu buat ketemua nggak? Ada yang harus kita bicarain” tanya gue ke Shanji langsung.

“Ada, emang ada yang perlu gue omongin ke elo juga. Sorry soal itu” jawab Shanji.

Dia dan Anin kemudiam meninggalkan gue dan Tata. Semoga Shanji cepat menyadari kesalahannya, gue ada di Jogja, begitu pun Verro dan Shanji. Tapi yang gue harapkan Shanji mau melawan dan tidak lagi membela Verro.

Gue lalu yang gantian menggandeng tangan Tata. Gue menariknya masuk ke dalam food court yang dia minta tadi …

 

 

…..

 

Setelah masuk, kami berdua duduk disalah satu sudut kedai ini. Kemudian gue dan Tata memesan makanan … Sebenarnya Cuma Tata doang yang makan, sedangkan gue Cuma pesen minuman aja.

“Makannya yang banyak yah, biar kenyang” ucap gue tersenyum melihat Tata yang lagi makan.

“Iya iya, tapi tungguin. Jangan tinggalin gue” balas Tata yang sibuk memakan pesanannya.

“Hati-hati, ntar garpu yang elo pegang masuk ke tenggorokan lu lagi” ujar gue.

“Iya bawel, jangan ajak bicara mulu. Gue kan lagi makan” omel Tata.

“Oke deh kalau gitu” balas gue.

 

Setelah selesai menunggu Tata makan, gue dan dia berjalan menuju ke kasir lalu membayar semua pesanan kami. Buat pertama kalinya, gue di traktir sama cewek yang baru gue kenal sekitar 1 jam yang lalu. Gak tau kenapa lucu aja, gue cowok nemuin ini cewek nangis di tengah jalan, terus kita berdua kenalan, diajak makan dan di bayarin pula.

Terlalu singkat buat dekat sama cewek kayak Tata ….

 

“Emm bisa anter gue nggak ke toko perhiasan disini? Gue mau cari sesuatu nih” pinta Tata.

“Boleh deh, yaudah ayo ikutin gue” balas gue mengiyakan permintaannya.

Setelah naik ke beberapa lantai, akhirnya gue dan Tata sampai di bagian penjualan perhiasan. Entahl dia mau cari apaan. Mungkin mau beli cicin atau kalung kah? Lihat aja deh …

“Selamat datang ada yang bisa dibantu?” tanya mbak penjaga toko.

“Gini mbak, saya mau cari kalung buat couple” jawab Tata.

“Oh iya, tunggu sebentar” balas mbak itu.

 

Dia lalu mencarikan apa yang diminta oleh Tata barusan. Berhubung gue gak terlalu paham soal beginian mendingan gue cuci mata aja, senangnya lihat pemandangan sekitar gue. Ramai tapi bagus gitu … Oke abaikan :v

“Ve sama Gre?” ucap gue kaget saat melihat dari kejauhan tampak mereka berdua jalan di Mall ini juga.

Kenapa dia gak minta jemput yah tadi? Tapi ya sudahlah … Kemudian gue Buru-buru gue berbalik menghadap ke Tata dan sok sok an lihat dan memperhatikan perhisan-perhiasan di depan gue.

“Bagus yang mana, menurut kamu?” tanya Tata sambil menunjukan .

“Eh eh kamu?” tanya gue heran saat Tata menyebut dengan ‘kamu’ barusan.

“Kenapa? Emang salah?”

 

 

To Be Continued …..

 

 

Created By : Willy Debiean

Id Line : wi_debiean92

 

 

Iklan

19 tanggapan untuk “Iridescent Part 14

  1. keren nih. lanjutkan wil. tiap baca story buatan lu pasti gw ada (kaga usah gw sebutin) intinya positif. mantep wil, lanjutkan. sorry baru baca, tolong maklumin aja lagi sibuk”nya di dunia nyata

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s