Roulette Love Part 7

 

Author POV.

“APA MELODY LAKSANI AFLOCH!?”

Keynal juga memanggil nama lengkap Melody dengan lantang.

Keduanya saling tatap.

Melody melihat corak amarah pada tatapan Keynal.

Tatapan yang dulu pernah ia dapatkan juga saat pertama kali menginjak rumah besar ini bersama Ayahnya.

Amarah Melody menyusut. Ia kembali teringat betapa dingin dan juteknya Keynal yang dulu.

“Kenapa diem?” tanya Keynal.

“Apa kalo kakak jelasin kamu akan mengerti?” tanya Melody.

“Apa aku akan ngerti kalo kakak diem aja?” Keynal justru membalik ucapan Melody.

Melody memejamkan matanya. Kemudian ia berbalik.

“Akan kakak ceritakan saat Red Camisa hancur,” ujar Melody.

“Kalau begitu, cerita itu akan kakak pendam selamanya, karena Red Camisa tidak akan pernah hancur,”

Keynal berbalik dan berjalan menuju kamarnya.

~

Esoknya..

“Iyak.. Coba agak sensual dikit lagi, bibirnya agak dibuka gitu,”

“Yak bagus! Tahan…”

“Satu.. Dua.. Tiga..”

Sebuah moment terabadikan di kotak hitam berlensa itu.

“Bagus nih No,” ujar Mario.

“Modelnya kali yang bagus,” jawab Nino.

“Sialan lu,” Mario menjitak kepala Nino.

“Thanks kak Naomi, nanti kita lanjutin ya abis makan siang,” ujar Mario.

“Oke..” Naomi mengacungkan jempolnya, kemudian ia memakai jaket menutupi bagian tubuhnya yang terekspose.

“Waah padahal bagus begitu,” celetuk Mario.

“Haha, kamu ini, nanti disambit sama Key lho,” ujar Naomi.

“Waduh ampun deh, nggak berani,”

“Hahaha, yaudah nanti calling aja ya, aku mau ke resto dulu,”

“Siap kak,”

Mario dan Nino mengangguk hormat.

“Jadi, abis ini kita ngapain?” tanya Nino.

“Makanlah No, masa dangdutan,”

“Haha kaya Kak Maul lu Mar dangdutan,”

“Emang dia doyan No?”

“Nggak tau juga sih,” jawab Nino asal.

Tutup lensa melayang indah dan mendarat mulus di kening Nino.

~

“Yak bagus, tapi coba ini diperbesar, karena yang kamu inginkan adalah orang membaca event ini bukan?” ujar Dosen Keynal.

Kini Keynal sedang mengumpulkan tugasnya.

“Iya Pak, jadi tinggal diperbesar aja kan?”

“Iya, komposisi yang lainnya udah pas. Jangan lupa buat media yang lainnya juga. Poster sama Banner udah bagus kok,”

“Baik Pak,” Keynal mengangguk.

Kemudian ia membawa berkasnya ke tempat duduknya.

“Sukses?” tanya Ve yang duduk di sampingnya.

Keynal mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.

“Good, heheh,” kekeh Ve.

“Oh ya, boleh nanya suatu hal?” tanya Ve.

“Apa itu?”

“Hmm tadi pagi di ruangan Bonita kak Mel diem terus, apa kalian berantem lagi?” tanya Ve.

Keynal menggaruk pipinya.

“Yaa.. Bisa dibilang begitu Ve,” ujar Keynal, ia menghela nafas berat.

“Mau sampe kapan Key?”

“Masalahnya complicated Ve, nggak semudah yang kamu pikirin, tapi ya itu masalah keluarga aku, jadi kamu tenang aja,” jawab Keynal.

“Hh.. Baiklah..” Ve mengalah. Memang seharusnya ia tidak ikut campur. Hanya saja, Melody sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.

~

“Mauul!!!!” teriak Shani dari kejauhan.

“Wlee, kalo bisa tangkeeep,” teriak Maul sambil berlari kecil menyusuri koridor.

Ada apa?

Jadi.. Pas di kantin tadi, Maul dengan sengaja mengambil sushi yang tersisa. Ya tinggal satu-satunya!

Shani yang tadinya sudah berniat mengambilnya mencelos saat melihat sushi itu masuk dengan mulus ke kerongkongan Maul.

Dan… Terjadilah kejar-kejadan ini.

“Gantiin sushi aku!!” ujar Shani.

“Nggak mauu,” Maul mempercepat langkahnya.

Tapi..

Bruk..

“Ibu presiden!” ujar Maul latah. Ia menubruk seseorang karena tidak memperhatikan jalan di depannya..

Dan..

Maul terpaku..

Ia melihat kedalam manik hitam perempuan yang ada didepannya ini.

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

Plak!

“Maaull!! Bangun sekarang juga!” teriaknya lantang setelah menampar pipi Maul.

“Ah…” Maul meringis memegang pipinya dan terduduk.

“Ish! Kalo jalan liat-liat!! Punya mata kan!?” bukannya menjawab Maul malah terus memperhatikannya.

“Waah kesambet nih anak,”

Maul melihat perempuan di depannya mengambil botol minum dan hendak menyipratkan airnya.

“Eh eh! Kaga pake disiram! Emang gue kucing!” ujar Maul.

“Iya! Kucing kampung!” ujarnya sinis.

“Kak Mel, kakak nggak apa?” tanya Shani menghampiri Melody.

“Nggak. Kamu masih aja kejar-kejaran sama bocah ini, udah balik ke ruangan sana,” ujar Melody.

“Cih.. Dikatain kucing kampung, dasar..”

“Apa!?” sentak Melody.

“Eh enggak, itu.. Itu ada gajah terbang, alias.. Dadah cewe-cewe jutek!” ujar Maul yang kemudian langsung ngacir.

“Ish tuh anak! Awas aja! Kita nggak boleh kalah di pertandingan terakhir,” ujar Shani.

“Ya, nggak boleh,” ujar Melody sambil menatap punggung Maul.

~

“Haaah…” Boby menghela nafas. Ia sedang berada di rooftop Vierzig. Cukup luas karena Vierzig sengaja membuat rooftop , dan mendekorasinya seperti taman.

Boby duduk di salah satu kursi, soft drink yang ia beli di kantin masih tersisa setengah.

“Hai,” sapa seseorang dari belakang.

Boby menoleh kemudian tersenyum.

“Sini duduk,” ujar Boby.

Perempuan itu mengangguk dan tersenyum manis.

“Kenapa?” tanyanya lembut.

Bukannya menjawab Boby malah tersenyum.

“Hello? Boby? Are you there?” ujarnya sambil mengibaskan tangan di depan wajah Boby.

“Haha iya. Nggak kok, kangen aja,” ujar Boby.

“Hmm, gimana kabar Nobi?” tanyanya.

“Yaaah.. Untungnya sih dia nggak jadi di keluarin, tapi dengan syaraf Red Camisa harus menang,”

“Waah.. Cukup berat ya,”

“Begitulah…” Boby mengangguk.

Keduanya terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Kamu sendiri gimana di Bonita?” tanya Boby.

“Hmm.. Baik-baik aja kok, cuma yaa akhir-akhir ini kak Melo jadi agak kurang fokus, entah ada apa,” ujar perempuan itu.

Boby mengangguk paham.

“Gambar aja yuk,” ujarnya sambil mengeluarkan alat gambar.

Boby melihat perempuan di sampingnya sambil tersenyum. Menurut Boby, perempuan ini manis saat fokus dengan gambarnya.

“Kamu kan mau menggambar ciptaan Tuhan, aku mau nikmatin indahnya ciptaan Tuhan aja deh,” ujar Boby sambil memangku dagu dengan kedua tangannya.

“Ish.. Gombal,” perempuan itu tersipu malu.

“Buru ikutan gambar,” ujarnya sambil menyodorkan pensil dan juga sketchbook ukuran A4.

“Aku gambar kamu deh ya,” ujar Boby.

“Bebas deh bebas,”

Boby terkekeh melihat rona merah pada pipi gadis manis itu.

Boby membuka tempat pensilnya, “Haha, kamu masih bawa-bawa ini?” tanya Boby sambil mengeluarkan gantungan kunci yang berbentuk panda.

Gadis itu menoleh, “Kan itu dari kamu, masa aku buang,” ujarnya sambil kembali fokus ke gambarnya.

Boby menatap nanar pada gantungan itu.

“Coba kamu bukan anggota Bonita ya,”

“Kamu mau aku keluar dari Bonita?”

Boby terdiam, sedeti kemudian ia tersenyum dan mencubit pipi gadis itu gemas.

“No, aku tau Bonita itu terbaik buat kamu,”

Gadis itu tersenyum.

“Udah lanjut gambar lagi,” ujarnya lembut.

Boby mengangguk, mengenbalikan gantungan panda itu ketempatnya, dan mulai menggoreskan pensil.

~

Di lain tempat, yang cukup jauh dari Vierzig. Dua bersaudara sedang berdiri menatap lurus ke arah batu nisan di depan mereka.

Angin menggoyangkan kemeja hitam mereka berdua.

“Kak, sebenarnya ini makam siapa?”

“Hmm.. Lo bakal tau nanti Bil,” ujar Farish.

“Hh.. Tiap kesini jawabannya gitu doang. Penasaran kali kak,”

Farish tersnyum, ia menaruh rangkaian bunga di atas makam itu.

“Maafin aku ya…” ujarnya lembut sambil mengelus bagian atas nisan.

‘Ini udah ke lima kalinya gue di ajak ke sini, tapi masih aja nggak di kasih tau, sebenarnya ini makam siapa? Siapa Frieska L.A. itu? Ada hubungan apa Kak Farish dengannya?’ batin Nabil sambil menatap kakaknya yang sedang mencabuti rumput liar di sekitar makam.

“Oke, yuk balik,” ujar Farish setelah ia membersihkan makam itu dari rumput liar yang mulai tumbuh.

Nabil mengangguk. Kemudian mengikuti sang kakak keluar dari area pemakaman.

“Kemana kita?” tanya Nabil sambil memasang seatbelt nya.

“Kampus aja deh, kali aja udah ada pengumuman tentang pertandingan,” ujar Farish.

Dan mereka pergi menuju kampus.

~

Lain dengan Farish dan Nabil, lain juga dengan kegiatan yang dilakukan oleh Nobi. Nobi kini tinggal bersama kekasihnya di sebuah rumah yang cukup mewah.

Untuk kali ini, Nobi berniat untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan.

Makanya ia membeli rumah ini untuk hidupnya kelak. Untung Ayah dan Ibunya masih mau membantu Nobi. Meski ini untuk terakhir kalinya.

“Noob..”

“Ya sayang?”

“Aku mau makan salad,”

“Salad? Oke, mau beli yang di mana?”

“Kok beli? Kamu yang bikin lha…”

Nobi melongo, ia harusnya tau kekasihnya ini sedang ngidam karena mengandung anaknya. Tapi… Nobi bingung.

“Ya.yaudah, aku bikin dulu ya,”

Perempuan itu tersenyum..

Ia mengekor pada Nobi menuju dapur. Memperhatikan kekasihnya yang sedang membuat salad.

Nobi membuat salad menggunakan petunjuk dari youtube. Untung ia sudah membeli banyak bahan makanan untuk persediaan.

“Nob..”

“Ya sayang?”

“Kamu kapan nikahin akunya?”

Deg.

“Nikah?” Nobi terdiam. Tangannya berhenti memotong wortel.

“Iya.. Aku nggak mau lho ngelahirin tapi kita belum resmi,”

Nobi kembali merenung. Berat? Tentu saja, dalam dirinya masih bergejolak hasrat muda. Yang ingin bebas, lepas. Tidak ada tanggung jawab sebagai Ayah dan juga Suami. Menggoda banyak perempuan. Dan hal lainnya yang bisa ia lakukan.

“Hmm.. Bagaimana setelah pertandingan akhir?” tanya Nobi.

“Pertandingan kampus kamu itu?”

“Iya, baik menang ataupun kalah,”

“Hmm baiklaah.. Tidak sampai bulan depan bukan?”

“Nggak kok, pasti akhir bulan juga udah selesai, berarti bulan depan atau lusa nya aku bisa menikahi kamu,” Nobi kembali melanjutkan memoton wortel.

“Hihi, yasudah..”

“Maaf yaa, aku ingin fokus dulu ke pertandingan ini, bersama teman-temanku,”

“Aku mengerti sayang..”

Nobi tersenyum. Harusnya ia bersyukur mendapatkan perempuan sebaik dia..

“Oke, jadi…” ujar Nobi setelah beberapa menit berkutat bersama pisau dan beberapa bahan untuk membuat salad.

“Hmm look’s good,”

“Selamat makaaan..” ujar keduanya dengan riang.

~

“Haah…”

“Kenapa ndrew?” tanya Okta.

Okta dan Andrew sedang berada di kantin setelah selesai kuliah.

“Gue kepikiran sama nasib kita dah,” ujar Andrew.

Okta menatap Andrew. Iya juga, bisa jadi ini adalah pertandingan pertama dan terakhir untuknya.

“Kita kan masuk ke sini susah payah Ta, baru semester satu,”

“Iya sih Ndrew, gue juga mikir kesana. Bokap Nyokap juga kan ngebiayain kuliah gue bukan untuk keluar,”

Andrew manggut-manggut.

“Tapi Ndrew, lo coba mikirin Kak Key dan yang lainnya nggak?”

“Maksud lo?”

“Yaa.. Kita kan enak baru semester 1, daftar tahun depan juga masih bisa kan? Lha Kak Key? Kak Nobi? Sama yang lainnya?”

Andrew merenung, ia tidak berpikir hingga kesana.

“Tenang lha Ndrew, hidup tanpa tantangan itu kan nggak seru,”

“Haha sotoy lu Ta,”

“Diih seriuss,” ujar Okta.

“Oktaa,”

Okta terkejut saat ia merasakan ada yang memeluknya dari belakang.

“Eeh.. Nads..”

“Udah kelar kamu?” tanya Okta.

“Iyaa.. Main yuuk, udah nggak ada kuliah nih,”

“Main kemana?” tanya Okta.

“Bukan kemana harusnya, tapi… Main apaahh..” ujar Nadse sambil mendesah di telinga Okta.

Okta bergidik geli.

“Haha.. Jangan godain anak kecil aja Nads..” ujar Andrew.

“Kenapaa? Jomblo yaa? Gk ada yang ngedoain yaa?” ledek Nadse.

Andrew terkekeh mendengar pertanyaan Nadse.

“Udah ah, Yuk Taa..” ujar Nadse sambil menarik tangan Okta.

“Eh eh iya.. Yaudah Ndrew, gue duluan ya.. Jangan berpikiran sempit lagi Ndrew,” ujar Okta.

“Nggak rela gue dinasehatin anak kecil,” ujar Andrew.. Kini gantian Okta yang terkekeh.

~

Malamnya.. Di ruangan Red Camisa.

“Iya terus Ul! Dikit lagi!!!”

“Shot!”

“Gooooll!!!!” teriak Maul.

“Ah elah,” Mario manyun karena ia kembali kalah melawan seniornya itu.

“Curang nih mainnya, apaan umpan terobos mulu, nggak kreatif,” ledek Mario.

“Lha? Kan yang penting menaang,” ujar Maul.

“Udah udah gantian,” ujar Nabil.

“Ayo Key,” Nabil menyerahkan stik satunya kepada Keynal.

“Lha? Lu udah jago?”

“Sial. Udah ayo turun sini,” ujar Nabil.

“Okeh, lawan lo doang mah Bil,”

“Lo kaga ikutan Bob?” tanya Farish.

“Males ah,” jawab Boby sambil membalik halaman pada komik yang sedang ia baca.

Nobi mengambil gitar yang berada di pojok ruangan. Ia mulai memainkan lagu ‘Come Together’ milik The Beatles.

 

Nobi :

Here come old flattop, he come grooving up slowly

He got joo-joo eyeball, he one holy roller

He got hair down to his knee

Got to be a joker he just do what he please.

 

 Keynal dan yang lainnya mendengar itu mulai menggoyangkan kepalanya. Okta dan Andrew ikut mengambil gitar juga membantu Nobi.

 

Boby :

He wear no shoeshine, he got toe-jam football
He got monkey finger, he shoot Coca-Cola
He say, “I know you, you know me.”
One thing I can tell you is you got to be free.

 All Red Camisa :

Come Together.. Right Now.. Over Me!

 

 Nobi tersenyum saat teman-temannya ikut bernyanyi.

“Lanjut Rish!”

 

Farish :

He bag production, he got walrus gumboot
He got Ono sideboard, he one spinal cracker
He got feet down below his knee
Hold you in his armchair you can feel his disease.

 

All Red Camisa :

Come together.. Right Now! Over Me!

 

Nobi :

Over Mee yeaah..

Okta mengambil bagian Lead Gitar, membuat alunan melodic yang cukup membuat Keynal dan yang lain menoleh karena tidak percaya Okta cukup lihai memainkan gitar.

“Weeis!! Jago jago!!” ujar Maul.

Keynal mem-pause gamenya.

“Pecah suara pecah suara,” ujar Keynal. Semuanya mengangguk. Kemudian fokus..

 

All Red Camisa :

He roller-coaster, he got early warning
He got muddy water, he one mojo filter
He say, “One and one, and one is three.”
Got to be good-looking ’cause he’s so hard to see.

Come Together! Right Now!

Come Together! Right Now!

Come Together! Right Now!

Oveeer Meeeh!!!

“Yeaaah…” Nobi menutupnya sambil teriak melengking.

~

Last Stage

Buat pertunjukkan teater dengan tim yang nanti akan ditentukan oleh panitia!

Satu tim harus membuat pertunjukkan dengan tema “Dongeng Masa Kecil”

Semua peserta ditunggu hari ini pukul 7 malam!

Di ruang theater vierzig!

Ttd

Panitia

 

“Finally!” ujar Keynal dan yang lainnya. Yang sedang membaca pengumuman di mading kampus.

“Wah wah wah, akhirnya dateng juga pengumuman kehancuran Red Camisa,” ujar Melody sinis.

“Kehancuran Red Camisa dan kebangkitan Tejege,” ujar Jeje yang menyelak diantara RC dan Bonita.

In your dream Je,” ujar Naomi.

“Oh ya?” ujar Jeje sambil mengangkat satu alisnya.

“Kalahin LA dulu kali,” ujar Nat.

“Nggak ada yang lebih susah?” ledek Via.

“Hadeuh.. Mulai deh..” ujar Maul sambil geleng kepala.

“Yang penting pada fair play aja,” ujar Ronald.

“Iya biar menang secara sportif,” tambah Farin.

“Yup.. Biar jelas siapa yang menang dan kalah,” tambah Gaby.

“Kita tidak akan kalah,” ujar Keynal, Melody, Naomi dan Jeje bersamaan.

Semuanya saling tersenyum menatap rivalnya masing masing.

Kemudian tanpa menunggu tiga detik semuanya berbalik dan melangkah menjauh dari papan pengumuman itu.

~

Malamnya.. Semua tim sudah berkumpul di ruang Theater Vierzig.

“Konbanwa minna san, watashi no namae wa Della,”

“Sok Jejepangan lu Del,” celetuk Via.

“Haha siaul, oke oke.. Selamat malam semuanyaa!!” teriak Della dari atas panggung.

“Malaam…”

“Naah, gue udah dapet nih rules dan juga ketentuan untuk pertandingan akhir, ini sangat teramat menyenangkan sebenernya.

Tapi ogut nggak tau kalian suka nggak hahaha,”

“Udeh buru Del, kaga sabar Wa,” ujar Nabil.

“Sabar atuh dedek emesh…” ujar Della sambil memeragakan orang sedang mencubit.

“Ish najong,” Nabil bergidik ngeri.

“Bentar yaa..” Della mengambil sesuatu dari tas kecil yang ia bawa.

“Naah, kata panitia nasib kalian ditentukan oleh ini,” ujar Della.

“Tali sepatu?” tanya Maul.

Della mengangguk.

“Gue minta ketua tim maju ke depan,” ujar Della.

Keynal, Melody, Jeje, dan juga Naomi naik ke atas panggung.

“Gue tentuin aja kali ya siapa yang nutupin, Farish dari tim RC, Veranda dari Bonita, Aurel dari Tejege, dan Farin dan LA, naik ke sini,” ujar Della.

Semuanya naik ke atas panggung dengan wajah bingung.

“Oke, Farish tolong tutupin mata Melody, Ve tutup mata Keynal, Aurel tutup mata Naomi, dan Farin tutup mata Jeje,” ujar Della.

“Hee!? Kok pake ditutup?” protes Melody.

“Udah nurut aja ih,”

Melody bersunggut, ia menatap tajam ke arah Farish.

Farish (belaga) cool, sambil tangannya perlahan menutup mata Melody. Begitu juga dengan yang lainnya saling menutup mata ketua tim.

“Oke, ketua tim maju dua langkah..” perintah Della.

“Di depan kalian ada sebuah tali, tarik salah satu ujung tali tersebut.

Eitt tunggu jangan langsung ditarik, dipegang dulu, iya begitu.

Udah megang semua ya?”

Mereka mengangguk.

Anggota tim yang menonton sudah mengetahui maksudnya, mereka menunggu dengan was-was.

“Gue itung sampe tiga, yang nutup mata juga lepas ya, dan ketua tim tarik talinya.

Siap? Satu.. Dua.. Tiga..!”

“Waaaah!!!”

Della berteriak histeris.

Keynal, Naomi, Melody dan Jeje mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya pandangan mereka memusat kepada tali yang mereka pegang.

“Dengan begini kalian sudah tau dong siapa tim kalian,” ujar Della sambil tersnyum penuh arti.

Semuanya ternganga begitu tahu siapa pasangan mereka.

“Yaak!! Lock Angels akan berkolaborasi denga  Tejege! Dan Bonita akan berkolaborasi dengan Red Camisa!!”

“Haaaaah!!!??”

Semua penonton ikut terkejut begitu mengetahui hasilnya.

Melody dan Keynal saling bertatapan. Melody yang paling tidak menyangka dan tidak terima. Kalau akan satu tim bersama Keynal.

“Dan! Ini lha yang akan kalian tampilkan nanti,”

Sebuah layar di belakang bangku penonton menyala dan menampilkan judul cerita yang akan dibawakan oleh masing-masing tim.

-TBC-

 

-Falah Azhari-

Iklan

3 tanggapan untuk “Roulette Love Part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s