Silat Boy : Siswa Baru Part 3

CnJGPUtWgAEeomp

Matahari sudah bersinar, jalanan kota mulai ramai. Orang mulai sibuk
dengan rutinitasnya masing-masing. Masih pagi, tapi udara di Jakarta
terasa amat sesak oleh hiruk-pikuk asap kandaraan.

Tidak seperti di desa, udara di Jakarta amat menyesakkan. Udara siang
di desa jauh lebih sejuk dari pada udara pagi di Jakarta. Inikah
rasanya tinggal di Ibukota? Pengap sekali.

Pagi itu Rusdi sudah siap berangkat sekolah. Karna Rusdi tidak
memiliki motor, jadi pagi itu ia diantar oleh kakaknya ke sekolah.
Mobil itu terjebak macet di jalanan Ibukota yang padat.

Hari pertama di Jakarta sudah terjebak macet. Dan pagi itu ia pasti
terlambat masuk kelas. Kenapa hari pertamanya di sekolah harus
terlambat? Oh kejamnya Ibukota.

Rusdi terlambat setengah jam, tapi masih sempat. Kak Melody dengan
cepat memacu mobilnya menuju salah satu SMA negeri di Jakarta. Setelah
itu Kak Melody dan Rusdi pergi tergesa-gesa menuju ruang guru.

Beberapa saat kemudian Rusdi memasuki kelas barunya, diantar oleh
kepala sekolah. Lalu kepala sekolah pergi meninggalkan kelas itu
setelah Rusdi selesai memperkenalkan dirinya.

Rusdi duduk sebangku dengan Epul, dan Naomi duduk sebangku dengan
temannya yang bernama Yona. Yona adalah gadis pendiam, sangat sulit
mengajaknya mengobrol.

Tapi jika sudah akrab dengannya, beda lagi ceritanya. Dan di kelas pun
ia hanya akrab dengan teman sebangkunya,  Naomi. Sesekali Yona sangat
cerewet jika bersama Naomi.

Beberapa jam kemudian, akhirnya pelajaran pertama telah selesai. Saat
istiharat, mereka berkumpul di kantin. Di meja itu ada Rusdi, Epul,
Naomi dan Yona yang sedang menikmati makanannya.

“Jadi ini rasanya kelas 2 SMA disini?” Rusdi memulai percakapan.
“Begitulah…” jawab Epul, ia sedikit mengangkat bahunya.
“Luar biasa!” Rusdi tersenyum puas, lalu kembali memakan makanannya.

Tak lama, terdengar suara keributan di kantin. Rusdi dan
teman-temannya seketika terkesiap. Mereka melihat seorang siswa sedang
dipalak oleh tiga orang siswa. Nampak siswa itu sangat ketakutan.

Rusdi kemudian berdiri, ia hendak menolong siswa itu. Tapi Epul
menahannya, dan Rusdi kembali duduk. Mereka kemudian merapat,
menghalangi pandangan Rusdi.

“Kalian ini kenapa menghalangiku? Aku harus membantu siswa itu!” Rusdi
berusaha menyingkirkan teman-temannya.
“Kamu gak tau siapa dia?” tanya Naomi.

“Dia adalah Boim, orang yang paling jago Silat di sekolah ini.” jawab Epul.
“Dan dia juga sudah menyumbangkan banyak piala sama medali di sekolah
ini.” sambung Yona.

“Aku gak peduli!” Rusdi mengibaskan tangan Epul, kemudian menghampiri
Boim dan teman-temannya.
“Astaga dia ini…” Epul nampak kesal pada sikap teman barunya.

“HEY!!!” teriak Rusdi, seketika Boim dan kedua temannya menengok.
“Siapa kau?” Boim kemudian melepaskan kerah siswa yang dipalaknya,
lalu teman-teman Rusdi menghampirinya.

“Lepaskan dia!” perintah Boim, seketika kedua temannya melepaskan siswa itu.
“Pergi!” perintah Boim, lalu siswa itu lari terbirit-birit.
“Sekarang apa lagi?” tanya Boim.

“Aku juga tau kalau kau jago Silat, tapi kau tidak boleh seenaknya
seperti tadi.” ucap Rusdi, Boim perlahan mendekatinya.
“Eh, maaf-maaf! Dia cuma bercanda!” Epul berusaha menghalangi Boim.

“Minggir!” Boim mendorong Epul dengan kasar, lalu ia bertatap-tatapan
dengan Rusdi.
“Urusan ini akan rumit.” bisik Naomi pada Epul, sementara Epul hanya
melihat sendu Rusdi saja.

Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba bel berbunyi. Lalu para siswa
masuk ke kelasnya masing-masing. Urusan ini akan panjang, Rusdi akan
terlibat dalam masalah besar.

“Kali ini kau beruntung bel menyelamatkanmu, lain kali aku akan
memukulku dengan keras!” Boim menyeringai meninggalkan Rusdi bersama
kedua temannya.

“Astaga, ini masalah besar! Kau ini anak baru, kenapa kau mau
berurusan dengannya?” Epul kemudian menghampiri Rusdi.
“Kau tidak tau siapa dia sebenarnya.” sambung Yona.

“Aku tidak peduli, aku hanya membela siswa itu.” ucap Rusdi.
“Kenapa kalian diam saja? Apa ini cara orang-orang Jakarta
memperlakukan seseorang?” sambungnya, senyap seketika.

“Selama ini tidak ada yang berani melawan Boim. Selamat, sekarang kau
dalam masalah besar.” Naomi menyentuh lembut bahu Rusdi, sementara
Rusdi hanya menatapnya bingung.

“Aku tidak takut padanya…” Rusdi kemudian menundukkan kepalanya.
“Kau harus takut! Dia akan menghajarmu pulang sekolah.” potong Naomi,
ia menatap tajam Rusdi.

“Aku tidak peduli!” Rusdi kemudian berlalu menuju kelasnya,
meninggalkan teman-temannya di kantin.
“Dasar anak baru…” mereka kemudian menyusul Rusdi.

BERSAMBUNG

Story By : @RusdiMWahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s