Roulette Love, Part 6 

​“We are the champion… Tonight… And we’ll keep fighting till the end!!” 
Red Camisa menyanyikan ‘We are The Champion’ nya Queen saat memasuki ruangan mereka. 

Jelas ini adalah kemenangan mutlak untuk mereka. Poin dengan peserta lainnya juga sangat jauh. 
“Haha udah ah, jangan berlebihan,” ujar Keynal.

“Hehe tapi yaa sekali-kali nggak apa laah,” ujar Maul. 

Semuanya duduk di kursi bagian tengah. Minuman bersoda dan juga macem macem cemilan tersedia di atas meja. 

“Untuk stage terakhir, kita nggak boleh kalah dari Bonita,” ujar Farish. 

Semuanya mengangguk setuju.

“Iya, kita emang belum tau bakalan kaya gimana, tapi gue yakin kalo kita nyatu, pasti bisa kaya gimana juga,” ujar Keynal.

“Yap, betul!” Boby mengangguk.

“Dan untuk sekarang, kita rayain kecil kecilan ajaa,” ujar Nobi.

“Toast!”

Bunyi peraduan bibir gelas menggema di ruangan Red Camisa.
Okta yang duduk paling pinggir terlihat sedang mengotak-atik hapenya. 
Ndfh

Heh anak kecil, jadi mau main ke rumah kakak nggak?

Oktvns

Lho? Serius ya kak?

Ndfh

Iya dong. Hadiah kemenangan kamu.

Oktvns

Ng.. Iyadeh, di deket kampus kan ya rumah kakak? 10 menit lagi aku nyampe.
Ndfh

Sip, ditunggu ya…. sayang :*
Okta menelan ludah membaca pesan terakhir dari Nadse. Ia menebak apa hadiahnya ya?

“Ng.. Aku duluan ya, nggak bisa lama-lama nih,” ujar Okta sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.

“Yaaah anak mamih, yaudah gih,” ujar Maul.

Keynal juga mengangguk mengizinkan. Okta kemudian pamit. Ia sedikit berlari menuju mobilnya di parkiran kampus.

Ia mengemudikannya menuju rumah Nadse. 
~

“Permisi…” ujar Okta begitu sampai di depan pintu rumah Nadse.
Okta sedikit heran kenapa rumahnya gelap? Apa sudah tidur?
Ting tong.

Okta menekan belnya.
Masih tidak ada tanda kehidupan…

“Hmm yaudah deh,” Okta berbalik.
Cklek.

“Hai.. Maaf ta, tadi lagi mandi. Yuk masuk dulu,” Nadse menarik tangan Okta masuk ke dalam rumahnya.

Okta sempat tertegun saat melihat Nadse hanya mengenakan tanktop hitam cukup ketat dan celana pendek sepaha.

“Kakak mandi malem malem gini? Nggak takut sakit kak?” tanya Okta.

“Nggak lah, kan pake air anget. Oh ya, selamat ya atas kemenangannya,” ujar Nadse sambil menggenggam kedua tangan Okta.

“Iya kak, makasih yaaa,” Okta tersenyum manis sambil memiringkan kepalanya.

“Iih gemess,” Nadse mencubit pipi Okta.

“Aduduhh.. Kaak..”

“Oya, kakak mau kasih hadiah nih,”

“Hm? Ngerepotin kali kak.. Lagian emang mau ngasih apffh…”
Ucapan Okta terpotong saat Nadse membungkam mulut Okta dengan bibirnya.

Okta yang terkejut hanya diam tanpa reaksi. Sedangkan Nadse dengan buasnya mengulum bibir atas Okta.

Beberapa detik kemudian Okta memejamkan matanya. Menikmatinya. Membalas ciuman Nadse yang semakin liar.Tangan Nadse mulai turun dari leher Okta. Mengelus bagian dada Okta, terus turun. Tangannya menyelinap ke bagian dalam baju yang Okta kenakan.
“Ngh..” Okta melenguh. Ia merasa geli karena sentuhan Nadse.
Nadse melepaskan ciumannya.

“I’m yours tonight..” bisik Nadse sensual.

Okta tersenyum. Kemudian ia mengangkat Nadse dan mendudukannya di atas pangkuan.

“Oke,” ujar Okta kalem.

Okta mulai menciumi Nadse, mulai dari kening… Mata… Pipi… Dan kini ia berhenti di leher jenjang Nadse. Aroma sabun menyeruak masuk melalui indera penciuman Okta. Melumpuhkan syaraf manusia nya.

Okta mulai menjilati tiap inci leher Nadse. Seperti tidak rela kelewat barang sejengkalpun.
“Aah… Tta… Terus sayangh..” Nadse menjambak halis rambut Okta. Menahan kenikmatan yang Okta berikan.

Okta menidurkan Nadse di sofa ruang tamu itu. Ia mengangkat kedua tangan Nadse dan menggenggamnya menggunakan tangan kirinya.
“Ready?”

Nadse menatap kedalam mata Okta yang meski dalam keremangan. Mata itu selalu terlihat ‘ceria’. Penuh gairah.

Nadse mengangguk sambil tersenyum manis..
~

“Selamat pag…”
Brak!

Okta dan Andrew terkejut saat mereka memasuki ruang Red Camisa.Mereka berdua disambut oleh Nobi yang terlempar ke dinding dekat pintu.
“A.ada apa?” tanya Okta bingung.

“Tutup Ta,” ujar Maul.

Okta dan Andrew masuk ke dalam dan menutup pintu rapat.

“Gue udah bilang Nob! Jangan malu-maluin nama Red Camisa!” bentak Keynal.

Okta dan Andrew berjalan ke samping Maul dan yang lainnya yang sedang menonton.

“Kenapa sih kak?” tanya Andrew.

“Itu Nobi ada masalah sama cewek kampus lain, tau dah, ngehamilin kali,” ujar Nabil.

Okta dan Andrew menatap Nobi tidak percaya.

“Hh.. Tai lu Nob, ngecewain banget,” ujar Keynal.
Keynal terduduk di sofa. Sedangkan Nobi menunduk, merasa bersalah.

“Kita keluar dulu Nob,” ujar Maul. Maul merangkul Nobi dan membawanya keluar dari ruangan Red Camisa.

“Bil, Mar, coba cari info buat next pertandingan apaan ya,” ujar Farish.

“No, Ta, Ndrew, cariin makan ya buat kita, pada laper nih,” ujar Boby.

“Hmm,” semuanya mengangguk. Mereka keluar dari ruangan.
Menyisakan Boby, Farish dan Keynal di ruangan.

“Tenang Key,” ujar Farish.

“Bisa diselesein pake kepala dingin kok,” ujar Boby.

“Masalahnya, dia bakal dikeluarin Bob!” ujar Keynal gusar.

“Iya paham! Tapi lo marah-marah juga kaga nyelesein masalah Key!” ujar Boby.

“Kita bisa ngelakuin sesuatu untuk Nobi. Kita harus nolong Nobi,” ujar Farish.

Keynal menghela nafas kasar.

Suasana hening. Mereka bertiga memilirkan cara bagaimana agar Nobi tidak dikeluarkan dari Vierzig.

“Susah Bob, Rish, soalnya emang ini kesalahan tuh anak,” ujar Keynal.

“Oke oke, emang ini kesalahan dia. Tapikan dia bisa bertanggung jawab sama tuh cewek, harusnya nggak ada masalah,” ujar Farish.

“Nyokap gue aja nikah pas nyokap masih kuliah,” ujar Farish.

“Hh.. Gini aja Key, kita coba ngobrol sama dekan, kalo bisa sama rektornya sekalian, nanti Farish sama Nabil coba ngobrol sama Dosen Walinya Nobi,” ujar Boby.

Keynal mengangguk lemah. 

~

“Haah… Gue ngecewain Key ya Ul,” ujar Nobi.

Nobi dan Maul kini berada di sebuah cafe bernuansa retro. Maul sengaja mengajak Nobi ke tempat itu. Tempat dulu mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama saat semester satu.

“Hm..” jawab Maul.

“Gue ngecewain lo ya Ul,” ujar Nobi.

“Hm..” jawab Maul.

“Gue ngecewain Boby ya Ul,”

“Nob.. Red Camisa Nob, Red Camisa,” ujar Maul.

Hening… Maul masih menatap buku menunya.

“Pesen apa lo?” tanya Maul.

“Samain aja,”

Maul memanggil pelayan, dan memesan 2 Ice MoccaBurry.
“Haah, apa gue keluar aja Ul?” tanya Nobi.

“Kalo lo keluar, gue juga keluar,” ujar Maul.

“Lha?”

“Lo lupa? Kita, yang berarti, gue, lo, Keynal, Boby sama Farish, itu udah bareng dari ospek Nob, kita sama-sama satu kelompok di gugus pluto dulu.

Keynal yang saat itu jadi pemimpin regu percaya sama kita, anggota cowo yang paling males naatin aturan.Tapi Keynal tetep percaya sama kita berdua. Dia juga yang ngajakin kita gabung dan ngebentuk Red Camisa.

Tipe temen setia kawan kaya dia, nggak bakal ngebiarin lo hancur sendirian Nob. Dan gue juga akan ngelakuin hal sama kaya Key.

Minimal, saat lo keluar, gue yakin mereka juga akan milih keluar, dan otomatis gue juga.

Jadi tolong, jangan bikin lo makin keliatan bego di depan kita semua. As a friend, I’ll help you out from this shit, so.. Just thinking what we can do now?”

Nobi tersenyum haru. Iya, dia lupa, bagaimana kecewanya Keynal dan yang lainnya. Mereka tidak akan meninggalkannya sendirian.
“Iya Ul, tapi…”

“Tapi apa lagi?”

“Lo nggak cocok pake bahasa inggris,”

“Si bangsat,” Maul melempar tisue yang ada di hadapannya ke muka Nobi.

“Hahaha…”

~

“Kami mohon!!” ujar sebagian Red Camisa yang kini berada di sebuah ruangan besar yang terisi dengan dosen doaen dan juga rektor Vierzig.

“Tapi Keynal! Teman kamu ini, akan menghancurkan nama Vierzig! Kalian tahu itu!?” tanya salah satu dosen yang mengenakan kacamata sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Kami mengerti Pak. Tapi berita ini tidak keluar dari Vier..”

“Belum Bob! Dan itu pasti akan tersebar luas! Apa jadinya jika kami tidak memberikan sanksi tegas!?” kali ini dosen wanita yang berbicara.

Red Camisa bungkam.

“Apa tidak ada cara lain?” tanya Keynal.

Semua dosen yang hadir di ruangan itu menggeleng.

“Kelompok kalian pada dasarnya tidak kami setujui, kalau saja ayah dari Farish bukanlah penyumbang dana terbesar di vierzig sini,”
Jleb.

Keynal tertunduk.

“Bagaimana Pak?” tanya salah satu dosen kepada Dirgantara, pemilik Vierzig.

“Hmm..” Dirgantara mengelus jenggotnya yang mulai tumbuh tidak beraturan.

“Ya, saya setuju dengan para dosen, memang hal ini akan membuat Vierzig kehilangan harga dirinya, tapi.. Saya suka dengan keberanian kalian yang langsung menghadap kepada kami,” ujarnya dengan suara berat yang khas.

“Seberapa penting Teman kalian itu?” tanya Dirgantara.
Semuanya kini menatap Nobi.

“Red Camisa tidak terbentuk karena kami menyaring mereka yang memiliki kemampuan saja Pak, pada dasanya kami terbentuk juga karena rasa saling percaya satu sama lainnya. Nobi adalah bagian dari kami. Sudah seperti keluarga untuk kami,” ujar Keynal.

“Tidak ada keluarga yang mengecewakan keluarganya Nal,” ucapan Dirgantara seperti menohok leher Keynal.

Nobi pun menundukkan wajahnya, rasa bersalah makin menyayatnya.

“Betul, tapi keluarga juga tidak pernah meninggalkan anggota keluarganya,” ujar Keynal.

Nobi tersenyum tipis mendengar pernyataan Keynal.
Dirgantara mengangguk paham.

“Baik jika memang itu sangat berarti untuk kalian, apa yang kalian inginkan?” tanya Dirgantara. 

Semua dosen menoleh kepadanya. Tampak raut keberatan di wajah mereka.
“Kami mau Nobi tidak dikeluarkan dari Vierzig,” ujar Keynal.

“Itu tidak bisa,”

“Lho katanya…?” Maul yang hendak berbicara dibungkam oleh Nabil.

Keynal berpikir sejenak. Red Camisa tampak bingung dengan jalan pikir dari Dirgantara.

“Bagaimana kalau begini, Red Camisa sedang mengikuti lomba bukan?” ujar Dirgantara.

Keynal mengangguk.

“Kalau kalian bisa menjadi juara, saya bisa memastikan Nobi tidak akan kami keluarkan, tapi… Nobi harus mengulang kuliahnya selama satu tahun,”

Semuanya membulatkan mata.

“Tapi Pak!? Ini akan…”

“Diam!” bentak Dirgantara.

“Bagaimana?” tanyanya kepada Keynal cs.

“Terima aja Key,” bisik Maul.

“Baik pak saya terima!” ujar Keynal mantap.

“Tapi, kalau kalian kalah, bukan cuma Nobi yang keluar, tapi seluruh anggota Red Camisa?” ujarnya santai, Dirgantara tersenyum licik.

“Hah!? Kok jadi berubah gitu peraturannya Pak?” tanya Maul.
“Iya, kenapa? Takut? Hanya segitu persahabatan kalian?” tanya Dirgantara.

Maul menelan ludah.

Tidak, mereka tidak menyiratkan rasa takut sama sekali, hanya terkejut atas perubahan itu.
“Kami terima, toh pada akhirnya sama saja, jika Nobi dikeluarkan pun kami juga memilih keluar dari sini,” ujar Farish kalem.

Keynal menatap Farish, terlihat jelas ia tidak suka dengan para dosen di sini yang terkesan sok perfect, sok suci.

“Yaa.. Baiklah, kami akan terima itu,” ujar Keynal akhirnya. Semuanya mengangguk.

Dirgantara bangkit dari kursi besarnya, kemudiam memghampiri Keynal.

“Laki-laki sejati tidak mengingkari janjinya,” ujar Dirgantara.

“Dan saya bukan orang yang suka menarik ucapan saya,” ujar Keynal.

Mereka berdua bersalaman.

“Kalau begitu kalian boleh keluar,”

“Permisi pak,” ujar Keynal sambil mengangguk.
Anggota yang lain mengekor di belakang Keynal.

~

Sesampainya di ruang Red Camisa semuanya terdiam, hening.
Okta, Andrew, Mario dan juga Nino yang sedari tadi menunggu di ruangan bingung mau bicara apa.Mario menyenggol lengan Nino.

“Ng.. Ja.jadi gimana?” tanya Nino.

Senior mereka diam, sampai akhirnya Nino menoleh ke arah Nabil.

“Haah.. Jadi gini….”

Nabil menceritakan semuanya. Baik keringanan juga konsekuensi dan resiko yang akhirnya mereka ambil.

“Lho? Kalau gitu? Kita?” tanya Okta sambil menunjuk dirinya.
Nabil mengangguk.

“Mampus wa,” ujar Okta.

“Kalo keberatan lo bisa tetep tinggal di sini,” ujar Keynal dingin.

“Eh? Nggak gitu kak, maaf… Tapi lagipula apa enaknya kuliah di sini tapi nggak ada kalian?” ujar Okta.

Andrew mengangguk setuju dengan Okta.

“Makanya, toh sama aja. Berarti kita harus menang nih!” ujar Mario.

“Iyalah!” Maul menoyor Mario.

“Tapi kita kan belum tau pertandingan terakhirnya,” ujar Nino.
Semuanya kembali diam..

“Yaaah jangan diambil pusing deh, ke rumah gue dulu gimana?” tanya Farish.

“Ngapain?”

“Yaaa berenang kek, maen game kek, nonton home theater kek, kaga suntuk apa? Abis ngadepin orang-orang kolot?” ujar Farish.

Keynal tersenyum mendengar ucapan terakhir Farish.

“Haha, yaudah deh yuk, having fun dulu aja, lagian tinggal nunggu pertandingannya doang kan?” ujar Keynal.
Dan akhirnya mereka semua pergi ke rumah Farish.
~

“Haah ada ada aje ya idup lo Nob haha,” ujar Maul.

“Iya, gue juga kaga ngarti dah,”

Jawab Nobi sambil menyeruput es jeruknya. Mereka semua sedang berenang di kolam farish di lantai dua.

“Lo sendiri sih yang ngebuat begini,” ujar Keynal.

“Duile iya maaf, lo kan tau gue Key,”

“Iye, anggota paling bandel,” ujar Farish.

“Ajigile ya, RC aja udh pada bandel, ini yang paling bandelnya haha,” celetuk Boby.

“Haha kampret lu padaan,”

Farish, Keynal, Boby, Nobi dan Maul duduk di kursi santai, sedangkan yang lainnya asik berenang.

“Tapi betewe, cewek yang lo hamilin gimana?” tanya Maul.

“Yaa.. Kaga gimana-gimana, gue kayaknya musti tanggung jawab,” ujar Nobi.

“Kayaknya? Itu wajib dodol,” Keynal menoyor kepala Nobi.
Nobi tersenyum kecut.

“Oke, tapi… Dia kaya gimana emang orangnya?”

“Buset lu kepo amat Ul,” ujar Boby.

Nobi merogoh sakunya.. Kemudian ia menunjukkan sebuah foto dirinya bersama perempuan.

“Nih orangnya,”

Maul dan yang lainnya memperhatikan.

“Lucu Nob,”

“Tua ya?”

“Tante Nob?”

“Buset dah padaan. Sepantaran kali sama gue,” ujar Nobi.

“Haha bercanda kali, tapi yaa sesuai lha sama lo,” ujar Keynal.

“Bakalan jadi bapak dong lo?”

“Uug Papah Nobi, aku minta mobil-mobilaaan,” rengek Maul. Ia sengaja membuat suaranya seperti anak kecil.
Semuanya bergidik geleuh melihat tingkah Maul.

“Key, Rish, bantuin gue yuk,” ujar Nobi sambil bangkit.

“Wah wah parah nih, mainnya keroyokan.. Wooooii!!! Turunin wooy!!” Maul meronya saat ia digotong oleh ketiga temannya itu.
BYUR!

Maul dilempar ke tengah kolam.

“Hahaha mampus lu kaak,” ledek Mario.

“Sialan lu,” sunggut Maul.

~

“Balik yaa,” ujar Keynal dan yang lainnya. Mereka bubar dari rumah Farish saat waktu menunjukkan pukul 8 malam.

Farish dan Nabil mengantar mereka sampai depan gerbang.

Keynal POV.

Haah.. Harusnya satu masalah selesai.. Semoga nggak nambah lagi deh.

Aku langsung pulang ke rumah, untuk kali ini, aku ingin tidur di kamar, cukup lama juga nggak pulang ke rumah.

“Lho den Key, akhirnya pulang juga,” ujar pelayan rumahku.
“Iya mba, Mamah Papah mana?” tanyaku.

“Tuan sama Nyonya lagi ke Aussie den,”

“Kalo kakak?” tanyaku hati-hati.

“Nyonya Putri lagi di kamarnya,”

Aku menghela nafas, setidaknya orang itu tidak perlu tahu kalau aku pulang.

Aku berjalan menuju kamarku di lantai dua. Melewati tangga kayu melingkar. Aku mengendap melewati kamar kakakku.
Tapi begitu aku tepat ada di depan kamarnya. Pintu itu terbuka.
“Hoo.. Berani pulang juga?” ujarnya dengan nada dingin.
Aku menghentikan langkahku.

“Kenapa? Tumben?”

“Bukan urusan kakak,” ujarku tak kalah dingin.

“Apa kamu mulai bosan dengan teman-temanmu itu?” tanyanya.
Aku berbalik.

“Mereka temanku, dan aku tidak akan pernah bosan untuk bermain bersama mereka,”

Ku lihat ia mengeratkan kepalan tangannya. Rambut panjanya terurai. Aku bisa melihat kemarahan dari bola matanya.

“Kakak udah bilang berapa kali sih!? Jangan pernah main lagi sama mereka!”

“Kak! Ini hidup aku! Aku bebas untuk menentukan pilihan aku!”

“Ya tapi kakak nggak suka dengan mereka!”

“Apa alasan kakak!? Kenapa!? Aku sudah bertanya tentang hal ini berulang kali kak!”

“Kamu nggak perlu tau alasannya!”

“Iya terus aja begitu! Aku ini adik kakak! Kalo emang kakak punya masalah sama temen aku ya bilang! Jangan kayak anak kecil begini!” ujaku, tak kusadari suara kami berdua kian meninggi, menggema di koridor.

“Tell me why! Dan kalo bisa kita selesaikan bersama!!” ujarku, kemudian aku berbalik hendak berjalan menuju kamarku.

“KEYNAL PUTRA AFLOCH!!!”

“APA MELODY  LAKSANI AFLOCH!?”

-TBC-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s