Vin & Vin, Part2

Sepeda motor berwarna merah itu perlahan mulai menjauh, hingga akhirnya berbelok di persimpangan. Viny pun membuka gerbang rumahnya, setelahnya ia masuk dan mengunci gerbang ia lalu pergi kedalam rumah.

Setelah masuk kedalam rumah, jari tangannya meraba pinggiran tembok sampai ia menemukan saklar dan menekannya. Lampu menyala, dan Viny kembali melangkah menuju kamar. Di dalam kamar, ia menanggalkan jaketnya di gantungan belakang pintu lalu pergi ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.

Angin berhembus lewat jendela kamar, gorden berwarna pink itu melambai-lambai seraya ditiup angin. Viny pun bangkit dan menutup jendela itu.

“Cerobohnya aku, untung ga ada maling masuk.”

Viny kembali berjalan, kini ia pergi ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Ia membasuh mukanya dan menatap ke arah cermin. Viny menatap bayangan dirinya sendiri yang ada di dalam cermin.

“Apa keputusan aku ini tepat?”

Cukup lama ia terdiam sampai akhirnya suara klakson mobil terdengar. Viny langsung meninggalkan kamar mandinya itu dan keluar kamar menuju pagar rumah.

“Bentar, Yah,” kata Viny sambil membuka gembok pagar lalu mendorong pagar itu hingga lebarnya cukup untuk dimasuki satu mobil.

Mobil pun masuk dan Viny kembali mengunci pagar itu. Saat kembali kedalam rumah, terlihat beberapa paper bag yang ditaruh di atas meja. Padahal saat Viny masuk kedalam rumah, paper bag itu tidak ada disana.

“Ayah, ini apa?” tanya Viny kepada Ayahnya.

“Ah… itu buat kamu, isinya baju, dibeliin sama Ibu,” jawab Ayahnya.

“Oya? Terus, Ibu masih di rumah Oma?” Ayah Viny mengangguk.

“Ah…, kamu libur semester kapan?”

“Masih lama sih, emangnya kenapa?”

“Liburan nanti, Ibu sama Ayah ada rencana kita sekeluarga pergi ke Jogja.”

“Serius Jogja?”

“Iya, tapi nanti pas liburan. Ayah ke kamar dulu ya Vin.”

Viny pun mengambil paper bag berisikan baju itu dan membawanya kedalam kamarnya. Barang-barang pemberian Ibunya itu ia taruh di atas meja belajarnya. Baru saja Viny menaruh paper bag itu, tidak lama handphonenya menyala ada sebuah pesan Line disana.

“Alvin?”

Viny meraih handphonenya lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Ia membuka pesan Line dari Alvin.

“Aku udah sampai rumah nih, kamu udah tidur belum? Klo udah, Goodnight, selamat tidur :))”

Viny tersenyum membaca pesan dari pacar barunya itu. Bukannya membalas, ia malah menaruh handphonenya di meja kecil samping kasur. Viny pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mencoba terlelap. Semoga yang aku lakuin ini emang bener.

~oOo~

“BANGUN!”

Teriakan seorang gadis kini menggema dikamar Alvin. Gadis dengan rambut ponytail itu langsung berjalan ke arah jendela dan membuka gorden-nya. Sinar matahari langsung masuk menyeruak kedalam kamar.

Berhubung jendela itu dekat dengan tempat tidur. Sinar matahari langsung mengarah ke wajah Alvin. Alvin pun langsung mengambil ngasal sesuatu di dekatnya dan ia meraih sebuah bantal berbentuk bola sepak.

“ZARA, SILAU!” Alvin langsung telungkup.

“Ishh… ada tamu tuh nyariin kakak, cewek lagi, buruan gih samperin,” kata Zara.

“Serius?” Alvin mengintip dari celah-celah bantalnya, ia masih silau dengan terangnya sinar matahari.

“Iya, buruan gih samperin, udah jam sepuluh loh kak, mentang-mentang libur.” Zara pun keluar kamar Alvin.

“Eh… eh… tunggu dulu dek! Ciri-ciri ceweknya kaya gimana?” tanya Alvin.

“Rambut pendek, itu doang.”

“Dek… dek…,” panggil Alvin lagi.

“Apa sih kak?!” kesal Zara.

“Ayah Ibu kemana?”

“Pergi ada kondangan katanya, udah ya, buruan samperin tamu-nya udah nunggu tuh.”

“Bilangin kakak lagi mandi, dek!”

Dengan sangat terpaksa Zara akhirnya kembali ke ruang tamu. Disana Viny telah menunggu sambil memainkan handphone. Zara pun duduk di sebuah kursi lalu meletakan handphone-nya yang sedari tadi ia genggam diatas meja.

“Maaf ya kak, kak Alvin nya lagi mandi,” kata Zara.

“Iya kok ga apa-apa,” jawab Viny.

“Oiya kak, diminum aja dulu sirup nya, klo mau ngemil-ngemil juga tinggal buka aja toplesnya.”

“Iya-iya makasih.” Viny pun kemudian meraih gelas berisi sirup berawarna oranye itu.

“Oiya kak, boleh tanya ga?” tanya Zara.

Viny meletakan kembali gelas itu, lalu mengelap mulutnya dengan tisu yang sedari tadi di pegangnya. “Nanya apa ya?” tanya Viny.

“Kakak tuh, siapanya kak Alvin?”

“Pacarnya.” Viny tersenyum ke arah Zara. Sementara adiknya Alvin itu hanya melongo mendengar jawaban dari gadis yang duduk didepannya.

“Serius kak?” tanya Zara yang kini sudah berpindah duduknya menjadi di sebelah Viny.

“Iya.”

“Hah…, syukurlah.” Zara menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Akhirnya kak Alvin laku juga, dapetnya cewek cantik pula.”

“Heh?! Memangnya kenapa?” Viny heran dengan ucapan gadis disampingnya.

“Hehehe… engga kak.”

“Eh… Viny? Kok ga bilang mau ke rumah?” tanya Alvin yang baru datang ke ruang tamu.

“Biar kejutan aja,” kata Viny.

“Nah kak Alvin nya udah ada tuh kak, aku tinggal dulu ya.” Viny pun mengangguk, sementara Zara langsung pergi meninggalkan ruang tamu.

“Tadi itu?” tanya Viny.

“Adik aku, sorry ngerepotin ya tadi,” jawab Alvin.

“Engga kok.”

“Eh tau rumah aku dari siapa?”

“Yupi.”

“Oh gitu.”

Hari itu Viny menghabiskan hari-hari nya di rumah Alvin. Sebenarnya Alvin mengajak Viny untuk pergi keluar, tapi Viny menolaknya karna alasan masih capek dengan kegiatan semalam di rumah Sinka. Alhasil, mereka berdua pun seharian di rumah.

Saat hari sudah sore, Alvin pun mengantarkan Viny kembali ke rumahnya. Selepas mengantarkan Viny pulang. Alvin pun langsung pergi dan kembali ke rumahnya. Viny melihat Alvin mengendarai motor dari kejauhan. Setelah motor itu berbelok di persimpangan dan menghilang, Viny pun masuk ke rumahnya.

“Aku harus belajar, ya, belajar mencintai dia.”

~oOo~

Sepulang sekolah sesuai janji kemarin, Viny mengajak Alvin untuk pergi ke sebuah Mall. Jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah mereka. Bisa dibilang ini Mall tempat nongkrong anak-anak sekolahannya Alvin dan Viny.

“Ke cafe biasa yuk?” tanya Viny.

“Ya udah deh, filmnya juga masih lama ini,” kata Alvin.

“Ya udah yuk yuk.” Mereka berdua pun berjalan ke arah cafe sambil bergandeng tangan, layaknya sepasang kekasih.

“Eh itu Sinka bukan?” tanya Viny.

“Ah yang mana?” Alvin balik bertanya.

“Itu yang itu tuh.”

“Ah mirip doang kali.”

“Mungkin sih.”

Mereka pun akhirnya duduk di cafe itu dan memesan beberapa makanan. Terlihat beberapa waitress sibuk kesana kemari, beberapa orang pun mengantri didepan kasir. Lantunan musik live akustik menambah warna tersendiri.

“Silahkan dinikmati,” ujar waitress yang baru datang, lalu pergi setelah selesai mengantar makanan.

“Eh… Zara gimana kabarnya?” tanya Viny.

“Baik-baik aja kok.”

Hampir dua jam lamanya mereka berdua berdiam diri di cafe. Tak terasa, film yang akan mereka tonton sebentar lagi akan dimulai. Mereka berdua pun bergegas membayar pesanan mereka dan pergi meninggalkan cafe.

Film yang mereka pilih kala itu adalah film tentang superhero dari Marvel. Viny yang memilih film itu, berharap Alvin juga suka. Viny beranggapan film superhero adalah film yang Alvin suka, dan Viny pun suka akan film itu. Pilihan yang aman, untuk kencan nonton pertama.

Setelah beberapa hari, Viny mulai belajar mencintai Alvin. Makin hari ia makin suka kepda pemuda penyuka sepak bola itu. Meskipun terkesan dipaksakan, ia mau menerima Alvin yang terlihat benar-benar mencintai dia.

Tapi setelah itu muncul kabar tentang temannya. Teman sekelasnya, yang dulu ia sukai. Kabar itu datang begitu saja, secepat kilat. Beritanya langsung tersebar, entah siapa yang pertama membocorkannya. Yang pasti berita itu sampai ke telinga Viny.

“Serius?!” Viny membalas pesan Line dari sahabatnya.

Ayana Shahab
“Iya, aku ga bohong.”

Ratu Vienny
“Kamu tau darimana?”

Ayana Shahab
“Ada deh pokoknya sumber terpercaya.”

Ratu Vienny
“Kok mereka bisa putus?”

Ayana Shahab
“Entah lah, padahal baru sebentar.”

Ratu Vienny
“Gitu ya.”

Ayana Shahab
“Mungkin mereka ga cocok?”

Ratu Vienny
“Mungkin juga sih.”

Ayana Shahab
“Eh Vin, aku tidur duluan ya, udah ngantuk nih. Tanya aja sama pacar kamu kalau ga percaya, kayanya dia juga udah tau.”

Ratu Vienny
“Iya-iya.”

Viny pun kembali meletakan handphone-nya di atas kasur. Ia melihat ke langit-langit kamarnya. Vito putus sama Sinka? Tiba-tiba sebuah rasa penyesalan muncul dalam diri Viny. Ia kini berpikir, mungkin jikalau ia sabar menunggu ia bisa mendapatkan Vito kali ini.

“Tapi aku udah punya Alvin.”

Viny meraih handphone yang ada disampingnya. Terpampang foto Alvin dan Viny yang ia jadikan wallpaper.

“Apa aku harus terus ngelanjutin hubungan ini? Meskipun aku masih belajar mencintai dia,” kata Viny, “Atau aku harus milih Vito, yang dulu memang benar-benar aku suka.”

“Tapi itu kan dulu bukan sekarang. Ah kengapa kejadian ini hadir disaat aku udah mulai mau mencintai Alvin!”

*to be continued

 

Ada pengumuman dikit nih 😀
https://karyaotakgue.com/announcement/

 

 

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Vin & Vin, Part2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s