Datang dan pergi

Pagi yg kurang begitu baik untuk hari ini. Hujan yg terus mengguyur dari tadi malam membuatku malas untuk meninggalkan tempat ini. Selimut yg hangat membuatku enggan untuk meninggalkannya. Serasa nyaman seandainya berlanjut selamanya. Namun teriakan dekat telingaku membuyarkan semua khayalan itu. Yaa. Dia mengoceh saat aku masih ingin melanjutkan tidurku ini. Berat rasanya melepaskan spray yg menyelimutiku ini. Namun telinga ini sudah tak mampu lagi mendengarkan ocehannya.

” jam berapa ini!, nanti kamu telat masuk sekolah..” dia kembali mengulang kata itu entah sudah berapa kali. Aku hanya mengiyakan saja apa yg dia ucapkan. Aku tak ingin berdebat dengannya.

” kamu dengerin nggak sih?”

” iya aku denger kak…” balasku seraya mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.

” cepetan mandinya…” aku tidak membalas ucapannya itu, malas sudah jika harus meladeninya berbicara apalagi saat dia sedang marah. Dia bagai nenek lampir jika dia sedang marah. Mau bagaimana lagi ia terlahir lebih dulu dibandingkan denganku, walau bagaimanapun aku harus menghormatinya.

Sudah seberapa lama aku berdiri disini. Ck!. Sial, aku malah belum menyiramkan setetes airpun ke bagian tubuh ini. Air yg kini mengguyur bagai es yg dikirim langsung dari kutub utara.

_0O0_

Kesialan itu sepertinya masih berlanjut. Hujan belum reda dan itu artinya aku harus menembus derasnya hujan dengan motor matic ini. Ku lihat tak ada lagi mobil disana dan artinya Ayah, Mama, dan juga Kak Viny udah pergi duluan. Fine. Mereka melupakanku.

Baru saja ku keluarkan motor matic ini setelah memakai jas hujan suara petir itu membuatku kaget. Sial, untung aku tidak punya penyakit jantung.

Setelah beberapa waktu akhirnya aku tiba disekolahan. Ya benar saja tempat ini terasa sangat sepi. Kulirik jam ditanganku. Fix, sudah terlambat 10 menit. Itu artinya aku tak perlu mengikuti pelajaran pertama hari ini. Langkah kaki pelan ini menuntunku menuju rooftop. Dan bersandar disana bersama jaket yg melekat hangat dengan tubuhku dan juga handset yg menuntunku memejamkan mata.

” dorrrr” sial. Siapa yg mengganggu tidurku ini.

” wuih… Enak bener ya. Dateng sekolah cuman numpang tidur…”

” apaan sih… Ganggu tidur orang aja…” balasku sambil berdiri dan meregangkan ototku yg terasa pegal ini,

” eh… Kamu beneran gak masuk ke kelas tadi?” aku menoleh kearahnya,

” apa pedulimu?” dia kini malah nyengir kuda, apaan dia itu,

” aku disuruh melaporkan semua yg kamu lakukan disekolah oleh kakakmu…” aku menoleh tajam kearahnya,

” karena kamu menyukai kakakku, jadi kamu menurutinya?”

” heheh, kamu akan jadi adik iparku kelak…” seandainya ada sesuatu yg bisa ku lempar kearahnya, sudah pasti aku melakukannya.

Aku sudah tak tertarik lagi berbicara dengannya. Dia pasti akan menanyakan ini, itu tentang kakakku. Aku bosan dengan hal itu. Aku memilih pergi meninggalkannya di rooffop. Kulirik kembali jam ditanganku, astaga sudah jam pulang sekolah ternyata. Pantesan semua ruang kelas sudah terasa sangat sepi.

_0O0_

Ku masukkan motor matic ini kembali kegarasi rumah. Kini langkahku menuju ruang makan. Sudah tak sabar perut ini untuk diisi apalagi disekolah belum sempat makan.

Baru kusadari jika mama dan kakakku telah lebih dulu sampai rumah. Kulihat mereka juga sudah ada diruang makan. Jika aku ingat tadi pagi ingin sekali aku marah dengan kakakku yg seenaknya meninggalkanku. Dan membiarkanku naik motor dalam cuaca hujan.

” kamu belum makan disekolah?” tanya mama melihatku yg mengambil nasi dan lauknya terlalu banyak,

” iya… Seandainya tadi gak buat beli bensin, pasti masih bisa buat jajan?” balasku sambil memasukkan nasi kedalam mulutku,

” loh.. Kakak kamu ga nganterin kamu?”

” iya maaf.. tadi pagi kan udah telat banget akunya ma, lagian aku ada kuliah pagi,  jadi ya ga bisa nganterin?” sahut kakakku,

” kakak macam apa itu?” timpalku,

” salah sendiri kenapa bangunnya telat…” oceh kakakku tak mau kalah. Jika sudah seperti ini lebih baik aku yg mengalah,

” udah-udah, malah pada berantem. Habisin dulu makannya?” timpal mamaku,

” ma… Kayaknya kita ada tetangga baru deh, soalnya tadi pas pulang, rumah disebelah ada orangnya. Kayaknya sih satu keluarga?” Kakakku kembali berbicara tentang hal yg ga penting itu. Anak cewe memang suka banyak bicara kayaknya,

” bagus dong, berarti kalau mama sama ayah belum pulang kerja kan kamu ga takut lagi?” balas mamaku. Aku sudah tak tahan jika aku harus jadi pendengar setia mereka mengobrol. Lebih baik aku kekamar aja kalau gini. Ku putuskan meninggalkan meja makan seusai menghabiskan makan siangku.

Langkah kaki ini membawaku tiba dikamarku, astaga begitu berantakannya kamarku. Sudahlah itu nggak penting. Kulanjutkan mimpiku seusai mengganti seragam sekolah. Semoga ga ada yg ganggu kali ini.

_0O0_

Cuaca pagi ini sepertinya cukup baik tak hujan seperti kemarin. Aku takkan terlambat sekolah kali ini. Sepertinya memang ada tetangga baru disebelah rumahku. Kulihat ada sosok wanita berambut panjang dan berkulit putih. Dia menatapku dan kemudian tersenyum. Aku berharap bahwa dipunggungnya itu tidak berlubang. Aku tidak membalas senyumannya itu, bukan berlagak sombong atau sok cool atau apalah namanya. Harus kuakui jika aku memang bukan orang yg mudah tersenyum. Tapi bukan berarti ga bisa senyum. Oke, sudah cukup membahas tentang diriku.

Sudah kuduga aku tak akan terlambat kali ini. Berjalan pelan melewati koridor, dan sampai didepan kelas. Entah sudah berapa hari aku tak menginjakkan kaki dikelas ini, rasanya ada yg berbeda, tapi aku tak peduli akan hal itu. Hari ini sepertinya mood ku memang sedikit lebih baik, karena pikiranku mengatakan jangan bolos untuk hari ini. Oke tak masalah, aku akan bersungguh-sungguh hari ini.

Entah sudah berapa kali aku membolak-balikkan lembaran soal yg kini jelas membakar otakku. Aku lupa bahwa hari ini ada ulangan Matematika, seharusnya aku tidak masuk tadi. Ku toleh kanan dan kiriku. Ayolah bantu aku teman. Sejak kapan aku bergantung pada orang lain ck!. Ayolah fokus.

Jika ada orang yg melihatku sudah pasti mereka mengira rambutku terbakar, karena aku yakin sekarang kepulan asap pasti keluar dari kepalaku.

” Soal macam apa tadi itu…” pikirku setelah menyelesaikan semua soal dengan hanya mengandalkan keberuntungan. Karena aku tidak tau lagi harus bagaimana mengerjakannya, semoga saja beruntung.

_0O0_

Entah ada tamu siapa dirumah tapi yg jelas rumahku dipenuhi oleh beberapa orang yg tak aku kenal. Tunggu, itu yg tadi pagi yg tinggalnya dirumah sebelah.

” Permisi…?” seruku,

” siapa?” ck! Kakakku bahkan tak mengenalku,

” ada tamu siapa kak?”

” itu tetangga baru, kamu salaman gih. Anaknya cantik loh…”
apa-apaan dia itu, huft,

” iya…”

Dengan langkah bak seorang raja (?) (hutan) aku menghampiri mereka. Ternyata cuman ada mama dan dua orang lainnya disana dan ada kak Viny yg kini berjalan dibelakangku. Tapi kalau didengar dari luar kayak ada banyak orang, kayak ada lima orang gitu. Setelah bersalaman dengan orang yg sudah pasti mamanya dari anak yg kini berada didepanku ini,kini aku harus juga bersalaman dengannya. Dengan anak itu. Dia memandangiku lebih lama, atau ini hanya perasaanku saja.

” Anin…” ucapnya, suaranya kecil seperti semut. Aku hanya membalas lewat anggukan,

” ehm…” apa yg dilakukan kakakku itu.

Kini aku duduk tak jauh dari mereka, jadi aku masih bisa mendengarkanobrolan mereka.

” Anin… Dia adik aku, cuman beda 1 tahun aja kok aku sama dia, jadijangan bilang aku tua ya…” ck! Apaan sih kakakku itu, tak usah di kasih tau juga nanti bakal tau sendiri.

Kini aku berada dikamar tercinta, dan tunggu ada yg berubah. Pasti ada yg masuk kekamarku tadi. Tapi tak apalah ini lebih baik, karena semua kini terlihat rapi. Sekarang mau ngapain lagi, mau keluar rumah sepertinya hujan akan segera datang karena terlihat awan hitam sudah mengepung seluruh langit.

” mending minjem laptop kak Viny buat main game…” pikirku. Kemudian mencari stick untuk bermain game di dalam lemari.

Dengan langkah kaki yg cepat kini aku sudah menjumpai kakakku yg masih ditempat ia tadi mengobrol dengan seseorang yg aku lupa namanya. Ya ingatanku memang sangat buruk. Dia juga masih disana, sepertinya dia tak banyak bicara dengan kakakku.

” kak minjem laptop…” ucapku menghampirinya,

” buat apa?”

” main game…”

” astaga, kamu ini taunya main game aja, belajar dulu sana…” yah, dia malah mengoceh tak jelas,

” bentar aja deh kak?”

” yaudah, kamu ambil sendiri dikamar kakak?” balasnya.

Dengan sekejap mata aku sudah kembali lagi keruang tengah dengan membawa laptop kakakku. Tanpa berlama-lama lagi aku langsung mencari game tercinta. Kok ga ada sih, kucoba untuk meneliti kembali. Dan memang sudah tidak ada. Sial.

” kak…game favorite aku kok dihapus sih?” teriakku, kemudian kak Viny berjalan kearahku,

” game yg mana sih?” tanya kakakku,

” itu yg kemarin aku beli…?”

” oh yg itu, iya tadi kakak hapus soalnya laptopnya jadi lambat gitu…” sial, hilang sudah harapanku bermain game hari ini,

” yaudah main yg ada aja kali…” ya mau bagaimana lagi.

Ku buka salah satu game sepakbola dan cuman itu yg tersisa.

” boleh main bareng kak…” itu suara dia yg kini duduk disebelahku,

” boleh kok…” aku menatap tajam kearah kakakku, apalagi rencana nenek lampir ini,

” ini…” aku memberikan satu stick untuknya. Dia tersenyum. Duh, kenapa lagi anak ini.

Entah sudah berapa lama aku bermain game, lebih tepatnya sudah berapa kali aku kalah darinya. Aku tak ingin membahas itu. Waktu kini benar cepat berlalu, dan dia sudah berpamitan untuk pulang. Aku juga sudah mual melihat layar laptop yg hanya menampilkan skor kekalahanku. Sebaiknya aku sudahi saja.

_0O0_

Aku baru menyadari jika dia, atau sebut saja Anin berada di depan rumahku. Dia memakai seragam sekolah SMA. Tunggu dia seumuran denganku, aku tidak percaya ini.

” ngapain disini…?” tanyaku,

” maaf kak, bukannya kita satu sekolah ya, terus kak Viny bilang suruh bareng sama kakak aja gitu?” dasar kak Viny, dia seenak jidatnya aja nyuruh,

” beneran mau bareng?, tapi aku naik motor?”

” iya gapapa kak, soalnya mama sama papa aku juga udah berangkat kerja, kalau naik bis ga tau halte nya dimana?” dia kembali tersenyum, ck! senyuman itu.

_0O0_

Apalagi yg harus kulakukan kali ini, mengantarkannya keruang kepala sekolah atau membiarkankannya membuntuti di belakangku.

” kak.. Ruang kepala sekolah disebelah mana?” apa aku harus menjelaskannya, ini akan sangat lama.

Aku menoleh sejenak kearahnya, kemudian memegang tangannya dan menuntunnya kearah ruang kepala sekolah. Aku bukan orang yg pandai berbicara, apalagi harus menjelaskan sesuatu hal, bahkan aku bingung harus mulai darimana menjelaskan semua itu.

” ini ruang kepala sekolahnya…” ucapku, dia mengangguk, kemudian tersenyum,

” makasih kak…” ia berjalan masuk kedalam.

Apa aku akan tetap berdiri disini menunggunya. Dia bukan bocah yg akan hilang ditengah keramaian. Sejak kapan aku peduli dengannya. Dan sejak kapan aku memikirkannya. Bel tanda masuk telah dibunyikan, itu tandanya aku harus segera ke kelas.

Ruang kelas ini sudah pasti seperti pasar. Untung posisiku berada dibelakang jadi tak perlu ikut diantara mereka. Guru masuk dan membawa Anin dibelakangnya. Sial, dia satu kelas denganku, ini pasti buruk. Dia pasti tau nanti seberapa buruknya aku dikelas ini. Kini Anin tepat duduk didepanku, karena meja depanku kosong. Dia menoleh kebelakang.

” ternyata kita satu kelas kak..heheh” apa dia bisa berhenti memanggilku dengan sebutan kak. Aku bukan kakaknya.

_0O0_

Apalagi yg dia lakukan sekarang. Mengekor dibelakangku. Aku tak nyaman dengan ini.

” kenapa lagi?” aku menoleh kebelakang kearahnya,

” aku ga tau kantinnya sebelah mana kak..heheh”

” kenapa ga nanya daritadi?”

” anu kak, ga enak mau nanya sama kakak, soalnya kakak ga pernah senyum, jadi aku takut nanti kakak marah…hehe” astaga, aku tidak seburuk itu.  Aku kembali memegang tangannya, dan membawanya kekantin.

” mau kemana kak?, disini aja nemenin aku makan?”

” aku lagi ga pengen makan…”

” kenapa kak?, badan udah kurus gitu?”

” kamu cerewet banget ya…”

” iya kak maaf…hehe” balasnya mengakhiri obrolan kecil itu dikantin. Sekarang apa yg harus aku lakukan. Menunggunya menghabiskan makanannya. Huft menyebalkan. Kini dia sudah menghabiskan makanannya. Dan sekarang dia kembali mengekorku. Apa-apaan dia ini.

” apa lagi?” tanyaku,

” cuman mau ngikut kakak aja…?”

” kenapa harus ngikutin aku terus sih?, dan satu lagi kenapa kamu memanggikku dengan sebutan kak?”

” yg pertama dulu ya kak, soalnya aku belum hafal tempat ini jadi ya ngikut kakak aja deh. Terus yg kedua, kenapa aku manggil kakak dengan sebutan kak, karena kakak memang lebih tua satu jam dari aku…heheh” jelasnya sambil berjalan disebelahku. Jadi tanggal lahirnya sama denganku. Ck!

” apa kamu tau dari kakakku tentang kelahiranku…” dia hanya menjawab lewat senyuman dan anggukan kepalanya.

Entah sampai kapan ini akan berakhir, dia terus saja berjalan dibelakangku. Mengikutiku kesana kemari. Kuputuskan untuk berjalan kearah rooftop. Menyandarkan tubuh ini disana. Kupikir dia tidak akan mengikuti kesini, namun ia malah tersenyum disebelahku.

” istirahatnya udah habis, sana masuk kekelas…” perintahku,

” loh, kakak ga ikut masuk?, kan kita satu kelas?” dia kini berdiri sambil membersihkan debu dibajunya,

” nanti aku nyusul… Udah sana duluan?”.

Kini dari rooftop tak lagi terdengar suara siswa-siswi. Mungkin semua sudah kembali kekelas masing-masing. Angin lembut di rooftop ini kini membuat mataku sulit untuk tidak dipejamkan.

_0O0_

” kak..kak” aku bisa mendengar samar suara itu dan juga sentuhan dipundakku.

” kak…udah jam pulang sekolah, mau pulang belum?” ada sesuatu yg menyentuh hidungku. Kenapa nafas ini jadi terasa sesak,

” haahhh!” aku hampir saja kehilangan oksigen seandainya tangannya tidak ia lepaskan dari hidungku,

” ngapain kamu disini?”

” nungguin kakaklah, kan tadi perginya bareng?”

” arrgggg… Yaudah yuk pulang” ajakku dan berdiri,

” ini tasnya kak, udah aku masukkin semua bukunya…?” tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung saja menyambar tasku dari tangannya dan berjalan meninggalkan rooftop.

_0O0_

Pagi hari ini terasa sangat malas untuk meninggalkan tempat tidur, namun lagi-lagi teriakan kakakku membuyarkan semua. Dia mengatakan bahwa ada Anin menunggu diluar. Ck! Kenapa jadi kayak gini sih.

” Duh, kenapa ga kakak aja yg nganter?” ucapku saat aku hendak keluar dan melihat Anin berdiri disana,

” lah, kan kamu satu sekolah?”

” arggg…” aku langsung meninggalkan kakakku dan menuju ke Garasi.

-0O0_

” makasih kak…” ucap Anin, dan aku hanya mengangguk dan kemudian berjalan menuju kelas. Dia masih mengekor dibelakangku. Ck! Sampai kapan dia akan seperti itu.

” apa kamu ga bisa sopan sedikit…?” seruku menengok kebelakang,

” iya kak, maaf…” dia menunduk,

” ga usah ngikutin dibelakang?, kan bisa disamping gitu?, lagian jalannya lebar gini?” dia kini malah menatapku dan kembali tersenyum. Kenapa dia ini.

Dan sekarang dia berjalan disampingku, baru kusadari jika tinggi badannya tak lebih dari pundakku. Rambutnya digerai lurus hari ini. Dia masih terlihat seperti anak kecil, matanya bulat , senyumnya semakin melebar. Ah sial dia melihat kearahku.

” kenapa kak?, ada yg aneh ya?”

” enggak…” ucapku datar tak lagi melihat kearahnya.

Sial-sial apa yg dia pikirkan sekarang. Kenapa dia tak berhenti melihat kearahku. Matanya yg bulat itu terus melihat kearahku. Ah, aku tak peduli dengan itu.

” kak Ekskul yg paling banyak peminatnya apa sih kak disini?” aku ga pernah ikut Ekskul mana aku tau,

” jangan bilang kakak ga pernah ikut Ekskul?” dia bisa membaca pikiranku ternyata,

” coba deh masuk Theater kayaknya rame atau cari sendiri yg lain?” balasku,

” aku ga bisa akting kak?”

” yaudah cari sendiri?”

” kok gitu sih?, emang kakak masuk apa sih?”

” musik…” balasku sambil tetap berjalan menuju kelas,

” berarti jago main alat musik dong?”

” iya dikit-dikit…”

” kak udah sampai?” astaga aku lupa, hampir saja aku melewati kelasku sendiri.

Sebenarnya aku kurang nyaman dikelas ini yg setiap hari selalu berisik dan sangat mengganggu telingaku. Sepertinya moodku hari ini hancur. Ku putuskan untuk meninggalkan kelas dan ingin menuju rooftop.

” mau kemana kak…?” untuk kali aku tidak ingin dia ikut,

” mau ke kelas sebelah?”

” aku ikut kak?”

” ga usah, nanti kamu malah ganggu lagi?” dia hanya menggembungkan pipinya. Dasar.

Langkah kaki yg pelan menuntunku menuju rooftop. Ku abaikan bel tanda masuk, aku tak peduli dengan hal itu. Aku hanya mencari kenyamanan.

_O0O_

” kak…?” astaga ternyata aku ketiduran, dan kini ada seseorang disampingku sedang makan es krim yg ia genggam di tangannya,

” kakak bohong?”

” apaan sih?”

” tadi katanya cuman ke kelas sebelah?”

” terserah…” balasku sambil mengusap mataku yg masih terasa berat untuk dibuka sepenuhnya. Kini seperti ada sesuatu yg menempel di pipiku.

” hih.. Apaan sih kamu ini?” seruku sambil menyingkirkan es krim yg masih dibungkus plastik itu dari pipiku,

” kakak ga mau nih?, masih ada satu nih?” ucapnya cengengesan,

” udah ga usah?”

” kakak ga ngehargain banget sih?, udah aku beliin juga?” dia merengek seperti anak kecil,

” yayaya…” dengan terpaksa aku menerima es krim itu dari tangannya. Aku tak ingin membuat seorang anak kecil menangis disini. Kini dia terlihat diam memandangiku. Kenapa lagi dia ini.

” apa lagi?” tanyaku yg mulai risih dengan tatapannya,

” kakak lucu kalau lagi makan es krim…”

” terserah lah… Oh iya, nanti jangan lupa pakai seragammu untuk mengelap es krim mu yg bercecaran di lantai itu?” dia kemudian memandang kearah lantai yg kutunjuk,

” aduh… Maaf ya kak…heheh” dia kembali cengengesan. Tak terasa bel masuk telah berbunyi. Dan dengan cepat dia menarik tanganku meninggalkan rooftop. Sial, padahal aku ingin mengabiskan waktu disana.

Dikelas kini semua terasa sunyi karena bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa menit yg lalu. Hanya ada aku, Anin, dan beberapa murid yg masih merapihkan buku di kelas ini.

” nanti main basket habis ini?, jangan pulang dulu bro…?” Ucap salah satu temanku yg kini berdiri dekat mejaku,

” lagi ga mood…” balasku singkat,

” yaelah, kali ini aja lah?”

” tapi aku ada tugas…”

” tugas apaan sih?, kayak yg punya kerjaan aja?” sial nih orang, kalau bukan temen udah aku jitak,

” nganterin dia…” balasku sambil mengarahkan pandanganku pada Anin. Anin yg menyadari hal itu langsung mengambil alih bicara,

” aku gapapa kak?, nanti aku nunggu sampai selesai?” sahut Anin,

” tuh, dianya gapapa kok?” kalau udah gini ga ada alasan lagi untuk menghindar.

_0O0_

Ku lepaskan baju seragam sekolah yg kini kuletakkan didekat Anin yg duduk sambil melihat kearahku. Lebih tepatnya kearah lapangan tempat ku bermain. Aku sebenarnya kurang suka bermain okahraga, namun dari sinilah aku bisa dapet temen. Ya jadi mau gimana lagi. Keringat jelas telah membasahi pelipis ini, karena sudah hampir 30 menit kami bermain. Kulihat kearah bangku tempat dia duduk tadi. Dia masih duduk disana, tunggu matanya. Ternyata dia malah tertidur. Ck!, kasihan dia. Akupun langsung berjalan kearahnya.

” mau kemana…?” teriak salah satu temanku bermain tadi,

” pulang… Aku udah capek. Besok kapan-kapan lanjut lagi…” balasku.

Kini aku sudah sampai didekat dia. Sial jaketku dipakai olehnya untuk alas tidur kepalanya. Kucoba untuk membangunkannya. Tapi apa yg harus aku lakukan, kalau disuruh membangunkan kak Viny udah pasti aku siram pakai air. Tapi dia bukan kakakku. Duh, gimana ini.

” hei, bangun…” seruku, tapi tidak berpengaruh dengannya,

” hei…” aku mengulang kata itu,

” eh… Udah selesai kak mainnya?” dia terlihat bingung, dan menggaruk kepalanya,

” udah, yuk pulang?” dia terlihat menggosok matanya, dan juga daerah dekat bibirnya,

” aku ga ngiler kan kak?”

” ngiler banyak tuh dijaket aku…” candaku,

” mana…” dia mau aja dibohongin,

” udah, ga penting. Mending pulang sekarang…” dia terlihat mengangguk dan tetap memegang jaketku. Aku dan dia pun berjalan menuju tempat ku meninggalkan motor matic ku. Beberapa saat kemudian akupun sudah sampai disana.

” siniin jaketnya…” pintaku,

” tapi kan kotor kak?, gara-gara aku?”

” udah gapapa…”

” pakai punyaku aja kak?” tawarnya,

” ga… Jaket kamu kecil gitu ga bakal muat?”

” coba dulu deh?” dia pun meletakkan tasnya dan mencopot sweater itu,

” ga usah…”

” ih… Coba dulu?. sini kak aku pakein?” astaga dia bawel banget,

” gausah, kamu pakai lagi gih?, nanti malah masuk angin lagi?” balasku, ia terlihat diam,

” bisa kita pulang sekarang?” seruku. Dia hanya mengangguk.

_0O0_

” udah sampai, siniin jaketku?” dia pun turun dari motorku,

” tapi belum aku cuciin kak?”

” udah ga usah…” akupun langsung menyambar jaketku dari tangannya,

” makasih kak untuk hari ini?”

” ya…” balasku, kemudian menyalakan kembali mesin motorku dan menuju rumahku.

Menyisihkan motor ke garansi dan masuk kedalam rumah. Kak Viny belum pulang kayaknya, soalnya ga ada satu mobilpun digarasi. Rumah juga sangat sepi. Ku langkahkan kakiku kearah dapur seusai mandi dan berganti pakaian. Berharap disana aku menemukan sebuah makanan. Tapi lelah sudah aku mencari makanan tak ada satupun yg bisa dimakan. Ku buka kulkas namun hasilnya sama. Sial, dirumah ga ada makanan. Apa harus cari makanan diluar juga. Duh males banget lagi. Ah, tapi daripada mati kelaparan.

Hampir saja aku menabrak seseorang di balik pintu seandainya aku tidak cermat. Mau apalagi dia ini, apa dia akan memberikanku makanan.

” mau kemana kak?” dia menatapku penuh harapan,

” mau cari makan diluar…”

” loh, emang ga ada makanan dirumah kakak?” sejenak aku diam memandanginya. ada yg berbeda darinya. Rambutnya dikuncir kuda.

” kak…”

” eh.. Iya. Kayaknya ga ada…” gara-gara memandanginya, hampir saja aku lupa kalau dia itu seumuran denganku,

” kebetulan dirumahku ada banyak makanan kak?, yuk kerumahku aja?” dia langsung saja menarik lenganku menuju rumahnya. Apaan dia itu, kenapa selalu saja menarik tanganku ini.

Kini aku tiba dirumahnya. Rumahnya juga sepi. Duh kenapa jadi kayak gini.

” bentar ya kak…aku ambilin makanannya?” jadi beneran ga enak. Beberapa saat kemudian ia membawa beberapa piring berisikan masakan,

” duh, jadi ngrepotin gini…” ucapku kemudian membantu merapihkan piring yg dibawanya. Beberapa saat kemudian semua sudah ada dimeja makan.

” ayo kak dimakan, ini masakan aku loh?” hah, dia yg terlihat seperti anak kecil ini bisa masak sedemikian rupa,

” kamu bisa masak?” tanyaku,

” iya kak, lagi belajar… Heheh”

” ayo kak?, aku juga belum makan, tadi niatnya juga mau ngajakin kakak makan kesini?, kebetulan banget ya?” aku hanya diam memandanginya menaruh nasi dipiring dihadapanku,

” soalnya aku ga bisa makan kalau ga ada temennya…heheh” kini ia beralih kepiring dihadapannya,

” ga usah malu-malu kak?, anggep rumah sendiri…” dia lebih dewasa dari apa yg kupikirkan. Untung aku bukan orang yg tak tau malu, atau orang dengan porsi makan banyak. Jika aku seperti itu sudah pasti makanan dihadapanku sudah kuhabiskan.

” ga nambah kak?, masih banyak loh…”

” enggak deh, udah kenyang. Jadi ga enak…”

” duh, masakannya ga enak ya kak?” bukan itu yg kumaksud,

” bukan itu maksud aku, jadi ngerasa ga enak gitu akunya?, disini malah numpang makan?”

” gapapa kak, kan sekalian nemenin aku makan…?” ucapnya.

Sesudah membereskan semua dimeja makan. Kini dia kembali menarik tanganku menuju ruang tengah. Apa lagi sekarang. Ia menunjukkan konsole game miliknya. Dan mengajakku untuk bermain bersamanya.

” kakak suka main game kan?, kebetulan aku juga suka?. Jadi kita main game bareng ya, nemenin aku?” pintanya. Aku bahkan belum mengatakan ya, tapi dia sudah memberiku stick untuk memainkan game itu.

Sudah berapa jam aku memainkan game ini. Dia terlihat lebih lihai dibandingkanku. Aku selalu kalah darinya.

” ayo kak yg serius?”. Apa, bahkan dia menganggapku hanya bercanda. Sial, padahal sudah kukeluarkan semua yg ku bisa.

” udah sore nih, aku pulang dulu…” ucapku sambil meletakkan stick game itu,

” yah, padahal aku pengen kakak ada disini sampai mama pulang?”

” nanti kalau ada apa-apa teriak aja?, rumahku kan deket?” pintaku. Dia terlihat cemberut, jadi ga tega,

” udah ya, aku pamit…” diapun mengantarku sampai pintu depan.

_0O0_

Entah sampai kapan ini semua akan berakhir. Sudah satu minggu ini dia selalu pergi dan pulang sekolah bersamaku. Apa anggota keluarganya terlalu sibuk, hingga tak bisa mengantarkan anaknya sekolah sekalipun. Aku yg biasanya terlambat kesekolah jadi tidak bisa lagi akrab dengan kebiasaan itu karenanya. Aku yg selalu telat bangun pagi jadi harus mengakhiri kebiasaan itu karena ia selalu datang kerumah setiap pagi. Aku tidak enak dengannya, lebih tepatnya dengan keluarganya jika aku tak bisa merubah kebiasaan yg sudah dari dulu melekat pada diriku itu.

” kak… Aku ngrepotin ya?” dia membuka pembicaraan saat aku dan dia menuju sekolahan,

” aku bener-bener minta maaf ya kak kalau aku jadi ngrepotin gini, mulai besok kayaknya aku bakal naik bis aja deh kak…?” dia kembali melanjutkan ucapannya,

” tapi perginya tetep nebeng ya kak?, soalnya katanya ga ada bis pagi yg lewat depan rumah…heheh”

” terserah kamu aja deh…”.

Tak terasa perjalanan menuju kesekolah telah berakhir.

” kak… Kemarin aku nemuin ini di laci meja kakak?” aku menoleh kearahnya, itu…

” apaan sih… Siniin…!” aku langsung saja mencoba merebut satu lembar kertas  yg dipegang Anin,

” jawab dulu?, ini gambar siapa kak?. Kalau udah dijawab nanti aku balikin deh…?”

” arggg…kepo banget sih?”

” jawab dulu dong…”

” ya…”

” siapa?” ia masih mengamati gambar itu,

” itu gambar anime…”

” beneran?, kakak jago ngegambar juga ya..” aku hanya mengangguk, dia kini mengembalikkan kertas itu padaku. Kamu ga tau gambar itu. Sejelek itukah gambarku.

_0O0_

Hari ini ulangan lagi. Astaga, aku belum belajar. Dengan terpaksa aku harus mengerjakan soal itu. Tunggu Anin mengangkat lembar jawabannya. Apa ini kode agar aku bisa mencontek.

” makasih ya…” ucapku saat aku dan dia berada dikantin,

” buat apa kak?” dia terlihat bingung dan terlihat menggaruk bagian belakang kepalanya,

” buat contekannya…”

” loh, kakak nyontek?”

” kamu sendiri kan yg ngangkat lembar jawabannya?”

” lah, padahal aku ga suruh kakak nyontek loh?”

” salah kamu sendiri…” dia pun hanya cemberut sesaat, dan kemudian dia kembali berbicara lagi,

” kak, aku ngambil eskul seni lukis loh..?”

” terus…?”

” udah ah, ga usah dibahas…” balasnya kemudian fokus pada makanannya.

_0O0_

Hari minggu, sudah pasti waktu tidurku ekstra. Tapi itu hanya khayalan saat ini, ketika dia datang kerumah, dia menyuruhku menemaninya ke salah satu mall. Dengan terpaksa aku menemaninya.

” kak… yg ini cocok ga buat aku?” ia mencoba memasang bando warna biru itu pada rambutnya,

” ga tau. Kenapa tadi ga ngajak kakakku aja sih, dia pasti lebih tau?” balasku,

” aku ga enak sama kak Viny, dia kan sibuk?”

” aku kan juga sibuk?”

” sibuk tidur kak…?” ga usah dibongkar didepan umum kali.

Dia kembali memilih baju, setelah tadi dia tidak jadi membeli bando itu. Sudah berapa lama aku berdiri disini, menunggunya memilih baju. Ayo cepatlah sedikit, asal kamu tau kakiku sudah mulai kram. Sepertinya dia sudah mendapatkan baju yg dia cari, kini tangannya membawaku menuju bioskop. Tau gini mending ga masuk tadi, ternyata dia itu penakut. Pas udah sampai didalem dia langsung megang tangan ini super kenceng dan nempel disamping. Ck! Dia takut kegelapan.

” udah sore nih kak?, pulang yuk?” kulihat jam ditanganku, astaga sudah jam 16.00. Langsung kusetujui tawarannya. Badan juga udah beneran capek.

Tak berapa lama akhirnya sampai depan rumah.

” makasih kak buat hari ini… ” ucapnya dan aku hanya mengangguk,

” yaudah kak, pamit aja kalau gitu…” kini dia berjalan menuju rumahnya. Kuputuskan juga untuk masuk kedalam rumah.

_0O0_

” kayaknya dia ngerubah kamu banget deh?” ucap kakakku saat aku duduk didepan tv bersamanya,

” ngomong apa sih kak?” tanyaku sambil menyantap makanan didepanku,

” kamu ga nyadar ya?, semenjak dia deket sama kamu, kamu jadi bisa merubah kebiasan buruk kamu?” dia menoleh kearahku,

” itu hanya perasaan kakak aja kali?”

” tapi beneran deh?”

” udah kak, aku tidur duluan?, jangan lupa matiin tv nya?” dia hanya mengangguk.

Akupun berjalan menuju kamarku. Saat aku sudah sampai disana, kini pandanganku tertuju pada arah jendela kerena ternyata jendelaku belum ku tutup. Sebelum aku menutup jendela, aku bisa melihat seseorang dari seberang rumah sana. Dia masih terlihat membolak-balikkan buku yg dia pegang bersama dengan alat tulis dimejanya yg setia menemaninya. Dia terlihat penuh konsentrasi melihat kearah bukunya. Aku bisa melihatnya dengan jelas bagaimana tangannya yg kecil itu menuliskan sesuatu disebuah kertas yg ada dilembaran buku tulisnya. Beberapa saat kemudian, entah bagaimana bisa ia menyadari jika aku sejak tadi melihat kearahnya. Dia tersenyum kearahku, kemudian ia melambaikan tangan. Aku hanya membalas lewat tangan yg aku angkat. Ku tutup jendelaku dengan rapat dan menguncinya. Kemudian aku mengambil handphone yg kutaruh di meja dekat lampu tidurku. Ku ketikkan satu pesan untuknya. Aku teringat jika dia memasukkan nomornya beberapa hari lalu yg bahkan aku sendiri tak memintanya.

” tidur…udah malem…” tulisku dalam pesan singkat itu. Beberapa lama kemudian ada balasan darinya,

” iya kak, kakak juga ya… Have nice dreams…” balasnya. Aku kembali meletakkan handphone ku ditempat semula. Kumatikan lampu kamar ini dan mencoba memejamkan mata.

_0O0_

Bel tanda pulang sekolah kini telah dibunyikan dan itu artinya aku harus segera pulang . Ku rapihkan buku beserta alat tulis dimeja dan memasukkannya kedalam tas. Ku lihat dia yg duduk didepanku juga melakukan hal yg sama.

” kak… Kakak duluan aja ya?, soalnya aku ada kegiatan habis ini, jadi mungkin pulangnya agak lama, jadi kakak pulang duluan aja?” ia menengok kebelakang kearahku, akupun hanya mengangguk.

Aku berjalan meninggalkannya dikelas dan coba untuk melihat dia sekali lagi sebelum aku benar-benar melewati pintu kelas. Ia tersenyum, kemudian melambaikan tangan. Sudah beberapa hari ini dia ada urusan setelah pulang sekolah, wajar saja dia sekarang jadi anggota OSIS. Pasti banyak hal yg harus dia kerjakan. Apa aku harus benar-benar meninggalkannya seperti kemarin. Aku bahkan tak tega melihatnya berjalan dari sekolahan hingga halte seperti kemarin. Apalagi cuacanya sekarang sepertinya akan turun hujan. Aku menepi kearah Perpustakaan. Bukan untuk membaca melainkan untuk menumpang tidur. Karena aku yakin dirooftop mungkin udaranyaakan sangat dingin, apalagi hari ini aku tak membawa jaket. Aku memilih buku yg cukup besar untuk aku pakai menutupi wajahku. Aku tak peduli dengan mereka yg kini memperhatikanku.

Sudah berapa lama aku tidur disini. Ck! Sial, diluar sekarang hujan lagi. Tunggu sepertinya ada seseorang disebelahku. Aku bisa melihatnya samar dia sedang membaca buku yg tadi aku pakai sebagai penutup muka. Dan sekarang ku sadari jika ada jaket yg membalut sebagian tubuhku ini.

” jadi kebangun ya kak?. Duh maaf ya?” dia menoleh kearahku,

” ngapain disini?” tanyaku sambil mengusap mataku,

” tadi niatnya mau minjem buku gitu?, eh taunya ada kakak disini, jadi ya nungguin kakak aja sekalian…heheh”

” udah yuk pulang…”

” diluar masih hujan kak?” benar apa yg dikatakannya, diluar hujan sedang mengamuk,

” kakak bawa jas ujan?” tanya nya. Sial aku lupa membawanya. Aku hanya menggeleng pelan,

” mending disini dulu daripada hujan-hujanan nanti malah masuk angin?” lanjutnya,

” tapi udah sore ini…” dia terlihat memandang kearah jam tangannya,

” kalau naik bis aja gimana kak?, terus motor kakak dititipin sama
penjaga sekolah gitu…” mungkin benar apa yg dikatakannya kali ini.
Aku tak ingin bermalam disini.

Kini pandanganku tertuju pada derasnya hujan yg jelas masih mengguyur. Seusai tadi menitipkan motor pada penjaga sekolah.

” beneran mau lari sampai halte?” tanyaku meyakinkannya, dia mengangguk. Kemudian melepaskan jaketnya yg tadi sudah kukembalikan.

” ini kak pegang yg sebelah sini…” pintanya, aku hanya memperhatikannya dan mengikuti instruksi darinya.

Aku pun berlari menuju halte bis menembus derasnya hujan bersama dengannya disebelahku dengan jaket yg dia miliki sebagai penghalang hujan diatas kepala.

” ayo kak lebih cepat…” aku mengikuti apa yg dikatakannya.

Beberapa saat kemudian aku sampai di halte bersama dia yg kini terlihat mengatur nafasnya. Beberapa bagian seragamnya juga terkena air hujan sama dengan yg ku alami. Untung saja masih ada jadwal bis yg menuju kearah rumahku. Kunaiki bis itu dan duduk dipojokan diikuti dia yg sekarang duduk disampingku. Dia terlihat seperti kedinginan. Jaketnya basah lagi yg sekarang ia masukkan dalam tas. apa yg harus aku lakukan. Mendekapnya seperti di drama korea itu. Ini konyol. Aku tak mungkin melakukan itu.

” kamu kedinginan?” tanyaku, dia menoleh,

” dikit kak…heheh” balasnya sambil menggosokkan kedua tangannya.

Aku teringat sesuatu didalam tasku. Tadi aku menyimpan baju seragamku dalam tas sebelum aku berlari menuju halte tadi. Aku mengambil seragam itu dan langsung menaruhnya dipunggungnya. Dia diam memperhatikan apa yg kulakukan.

” makasih kak?” ucapnya.

Kini ada sesuatu yg menempel ditelingaku. Aku menoleh kearahnya.

” biar ga bosen kak…heheh” dia memasang handset itu pada telinga kiriku dan yg satunya dia pakai di telinga kanannya.

Aku tak tau lagu apa yg dia putar. Tapi seperti ungkapan rasa seseorang yg tak tersampaikan. Ck! Kenapa jadi baper gini.  Tiba-tiba ada sesuatu yg menimpa pundakku. Aku menengok kearah samping. Wajahnya kini benar-benar dekat dengan wajahku saat aku menoleh. Aku bisa melihat dengan jelas matanya menutup dan juga bisa mendengar suara dengkuran halus dari mulutnya yg sedikit terbuka. Wajahnya yg polos itu kini benar-benar bisa aku lihat dalam jarak sedekat ini. Kini aku melepaskan handset dari telinganya dan juga mengambil music player dari tangannya, dan kemudian aku menggenggam music player itu ditanganku. Aku tak memainkan music player itu. Aku hanya memegangnya.

Kini bis itu hampir sampai depan rumahnya. Aku mencoba membangunkannya yg masih tertidur pulas dipundakku.

” udah sampai nin…” aku mencoba membangunkannya, tapi tak berpengaruh apapun. Aku mencoba menyentuh hidungnya sama yg seperti yg dia lakukan waktu itu.

” udah sampai ya kak?”  dia bangun sebelum aku menyentuh hidungnya. Tanganku kini berada dihadapannya yg tadi hendak menyentuh hidungnya.

” ah iya…bentar lagi?” aku menarik tangan itu dari depan wajahnya,

” duh… Maaf ya kak, malah tidur dipundak kakak…” kini dia sepertinya sudah sadar sepenuhnya,

” iya gapapa…” balasku,

” nih…” aku mengembalikkan music player miliknya,

” makasih kak…hehe” ia menyambut music player itu dari tanganku.

_0O0_

Malam ini dia berada dirumahku, tepatnya berada didepan tv bersama denganku dan juga kakakku. Ia memutuskan untuk kerumahku karena mama dan papanya belum pulang kerja.

” kak nonton horor kak…pasti seru?” ungkap Anin sumringah, sejenak aku melihat kearah kakakku,

” siapa takut…” sahut kakakku. Aku yakin dia malu mengakui kalau dirinya penakut didepan Anin, ck!.

Kini jelas terlihat perbandingan wajah ketakutan Anin juga kak Viny. Anin yg masih serius melihat kearah layar tv, dan kakakku yg terus memegang bantal ditangannya, yg kadang ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Dasar penakut.

” aaaaaa….” sial kakakku teriak dekat denganku. Apa ini, ada pemadaman listrik mendadak.

” senter…mana senter?” teriak kakakku panik,

” mana ada senter kak?, hp kakak tadi taruh dimana?” ucapku.

” duh, kakak lupa?” sial, kalau seperti ini apa yg harus dilakukan.

” Anin…” ucapku,

” Aku masih disini kak…” sahutnya,

” kak… Aku takut?” lanjutnya,

” udah gapapa… tenang ya?” balasku mencoba untuk membuatnya tetap tenang.

Seketika lampu kembali menyala. Dan aku bisa melihat kini Anin dan kakakku saling berpelukan. Apaan mereka itu.

” udah…” ucapku, menyadarkan mereka yg masih memejamkan mata mereka. Mereka akhirnya membuka mata dan menghela nafas panjang.

_0O0_

Harus kuakui jika kegiatan OSIS nya itu menyita waktu banyak baginya. Sekarang hanya dikelas saja aku bisa mengobrol dengannya. Saat pergi dan pulang sekolah ia sudah sudah diantar jemput mamanya. Ia mengatakan kalau mamanya sudah dapat manager baru yg bisa mengurus swalayan milik mamanya itu. Jadi mamanya sekarang ada banyak waktu untuknya mengantar dan menjemputnya sekolah. Apalagi dia mengatakan kalau dirumah ada les tambahan dan itu membuat waktunya bermain semakin sedikit. Yah, aku tak mempersalahkan hal itu.

” masih ada kegiatan lagi?” tanyaku padanya saat beberapa murid telah meninggalkan kelas untuk pulang. Dia menghela nafas panjang dan mengangguk.

” hari ini aku ada rapat pembentukan ekskul baru?, kakak duluan aja ya?, aku dijemput sama mama nanti kok?” ia masih bisa tersenyum saat ini. Walaupun aku tau jika dia sudah benar lelah beberapa hari ini. Walau bagaimanapun dia tetap manusia biasa. Sekalipun ia memiliki kecerdasan diatas rata-rata, tapi dia juga akan merasakan apa itu lelah. Aku menyesali menyutujuinya mendaftarkan sebagai anggota OSIS. Harusnya aku tidak mendukungnya waktu itu. Aku berjalan pelan meninggalkankannya dikelas. Entah kenapa semua kini terlihat berbeda, aku berhenti sejenak diarea parkir. Aku teringat semua memori dulu. Aku menampar diriku, harusnya aku tau semua tak akan selalu sama. Hari ini, esok dan seterusnya akan selalu ada perubahan.
_0O0_

Aku hanya bisa memandangi punggungnya itu yg kini pergi meninggalkan kelas bersama beberapa anggota OSIS dari kelas ini. Aku bahkan belum mengatakan apapun padanya hari ini, sama dengan yg dia lakukan. Aku bisa mengerti akan hal itu. Ia kini benar-benar sibuk.  Jelas terlihat sekarang bagaimana ia kembali kekelas dengan wajah datar, tak ada wajah ceria khas darinya yg dulu selalu bisa kulihat.

” kamu belum makan kan?” tanyaku, saat aku kembali dari kantin. Aku masih mendapatinya berada dikelas dengan pulpen ditangannya dan juga beberapa buku dihadapannya. Dia hanya tersenyum ketika aku memberikannya sebungkus roti yg kini menemaninya menyelesaikan tugas yg tertinggal karena ada kegiatan OSIS mendadak.

” makasih kak…” aku mengangguk dan duduk di belakangnya. Aku diam sejenak memandanginya dari belakang. Aku bisa dengan jelasbagaimana tangan mungilnya ini menuliskan sesuatu dalam buku tulisnya itu. Sejenak ia kembali memakan roti yg tadi kuberi. Beberapa saat kemudian ia terlihat menggaruk kepalanya dan memegang keningnya itu. Aku menyentuh pundaknya, kemudian ia menoleh kearahku.

” ada apa kak?” tanyanya, aku diam sejenak,

” apa nanti masih ada kegiatan..?” ucapku. Ia terlihat menggeleng pelan,

” aku ga tau deh kak…”. Itu jawababan yg mengakhiri obrolan kecil itu didalam kelas karena kini guru telah mamasuki kelas.

_0O0_

Didalam kamarku, tepatnya dari jendela kamarku, aku bisa melihatnya masih berkutat dengan bukunya. Padahal ini udah 11 malam. Jarak kamarku dan kamarnya kurasa tidak terlalu jauh karena aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yg benar-benar terlihat lelah. Beberapa kali ia menguap. Akupun mengunci jendela kamarku dan berbaring ditempat tidur.

Pagi ini matahari benar-benar menusuk mataku. Sorot dari pusat cahaya itu mampu menembus celah jendelaku. Dan artinya aku harus segera mandi dan berangkat sekolah. Aku melihat kearah luar jendela kamarku dan membukanya. Aku masih bisa melihatnya duduk di tempat semalam. Dan ia tertidur disana. Terlihat buku tumpukan itu sebagai bantal tidurnya. Matanya masih terpejam dengan pulpen masih dipegang ditangan kanannya. Kasihan dia. Ck!

Hari ini aku tak melihatnya berada disekolah, mungkin ia memutuskan libur untuk hari ini. Hari ini, hari pertama dirinya tidak masuk sekolah. Semenjak ia bersekolah disini. Dan hari ini semua benar-benar sangat berbeda.

Aku berjalan meninggalkan garasi rumahku dan berjalan masuk menuju rumah. Aku mendapati kakakku diruang tengah yg sedang menonton tv. Mood ku hari memang sangat buruk, aku bahkan tak menyapa kakakku. Aku yakin ia akan menanyakan hal itu nanti.

” Anin ga masuk ya hari ini?” ucap kakakku tiba-tiba saat aku hendak menuju kamarku. Aku berhenti sejenak,

” tadi kakak kesana?, kata mamanya, Anin sakit. Terus ga bisa masuk sekolah?” lanjut kakakku, aku diam sejenak dan kemudian menengok kearah kakakku,

” gitu ya…” ucapku, kemudian berlalu meninggalkannya.

_0O0_

Entah kenapa langkah kaki ini menuju rumahnya dengan sendirinya, tanpa sadar kini aku sudah berada tepat didepan kamarnya beserta mamanya yg kini dibelakangku. Aku melihat sebentar kearah mamanya. Mamanya menatapku tersenyum sambil mengangguk. Mamanya membukakan pintu kamarnya Anin. Aku bisa melihatnya sedang memegang ponsel miliknya dan sekarang dia menatapku. Wajahnya pucat. Mamanya kini berpamitan meninggalkan kamarnya Anin.

” kenapa ga masuk tadi…?” tanyaku yg kini duduk dimeja belajarnya dekat dengan tempat ia merebahkan tubuhnya,

” lagi males kak…heheh” ia kini mencoba membangunkan tubuhnya, dan sekarang duduk menghadap kearahku,

” obatnya belum diminum…” tanyaku ketika melihat beberapa tablet obat yg ia taruh di meja belajarnya,

” belum kak…”

” sekarang diminum ya obatnya, aku kan udah disini…” pintaku. Aku teringat tadi mamanya mengatakan kalau Anin ga mau minum obat kalau bukan aku yg nyuruh. Dasar anak bawel.

” iya deh kak…” aku mengambilkan obatnya dan gelas berisikan air putih itu. Ia pun menelan beberapa pil obat itu dan langsung meminum semua air putih digelas itu sampai habis.

” pahit banget kak…” ucapnya, sambil menutup mulutnya,

” yg namanya obat pasti pahit…” dia terlihat hanya tersenyum.

” yaudah aku tinggal ya, istirahat yg banyak…dan jangan bawel…” ucapku sambil berdiri dari kursi itu,

” kak…makasih…” aku menoleh sejenak kemudian berlalu meninggalkannya.

_0O0_

Aku bisa melihatnya kembali duduk di bangku depanku. Ia mengerjakan tugas yg kemarin tertinggal. Aku bisa melihat tangan mungilnya cekatan menuliskan sesuatu dalam lembaran kertas bukunya. Dia kembali dengan kesibukannya. Aku berjalan meninggalkan kelas untuk membelikan sesuatu yg bisa ia makan. Aku tak peduli meski belum jam istirahat. Aku kembali ke kelas membawa satu bungkus roti utuh yg kini aku taruh didepan mejanya. Ia menoleh sejenak kearahku lalu tersenyum.

” makasih kak…” aku hanya mengangguk.

Aku kembali duduk dibangku ku. Sejenak aku melihat kearahnya, dia terlihat berhenti menulis kemudian meletakkan alat tulisnya itu. Ia menengok ke belakang.

” nanti ke rooftop ya…” aku hanya menatapnya datar. Ia masih terus melihat kearahku menunggu jawaban dariku. Aku mengangguk perlahan. Aku sudah risih melihat tatapannya itu.  Jam istirahat telah berbunyi beberapa menit yg lalu. Dan kini aku berjalan menuju rooftop bersamanya yg kini menuntun tanganku dengan cepat. Duduk disana dan bersandar. Aku hanya jadi pendengar bagaimana ia mengucapkan sesuatu tanpa henti.

_0O0_

Hari ini aku tak melihatnya dijam terakhir, padahal aku tau dia masuk sekolah dan mengikuti beberapa mata pelajaran sebelum ini.

” Anin kemana?” tanyaku pada teman sebangkunya,

” loh, kamu ga tau ya dia kan mau pindah sekolah…” aku hanya menatapnya semu, seakan tak percaya.

Aku berlari menuju luar kelas, beruntung belum ada guru di dalam kelasku. Aku menembus ramainya jalanan dengan cepat. Aku berhenti tepat didepan rumahnya. Aku bisa melihat kini hanya kakakku dan juga mamaku yg ada disana. Terlambat, ia sudah pergi beberapa menit lalu. Itu yg kakakku katakan padaku. Aku tak tau apa yg aku rasakan saat ini, aku merasa kehilangan. Mungkin iya. Aku berjalan lesuh menujukamarku.

” ada sesuatu untukmu dari Anin…” aku menoleh sejenak kebelakang, aku bisa mendapati kakakku disana berdiri dan membawa sesuatu ditangannya, ia berjalan pelan kearahku,

” ini…tadi Anin menitipkan ini sama kakak?” kakakku memberikan satu buku tebal yg kukira adalah buku diary milik Anin. karena aku bisa melihat ada namanya disana.

Aku melanjutkan langkahku menuju kamar, meninggalkan kakakku disana dan membawa buku itu ditanganku. Aku meletakkan buku itu dimeja dekat kamarku. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur.

_0O0_

Aku hanya menepi ke rooftop. Aku tak mengikuti pelajaran hari ini.Malas sudah hari ini untuk mengikuti pelajaran. Berdiam disanamemandangi lapangan futsal yg terbentang luas. Aku menoleh, padahaltak ada siapapun disana. Aku menghela nafas panjang, kusadari tidakada lagi dirinya disini. Aku bisa mengingat bagaimana ia menaruh es itu dipipiku saat itu. Aku berharap itu bisa terulang saat ini, namun melihat kenyataan itu pahit. Yah pahit. Aku mengambil buku diary itu. Lalu membukanya perlahan. Baru kusadari jika isi dari buku itu bukanlah tulisan melainkan hanya gambar didalamnya, ku perhatikan gambar itu satu persatu. Dan di ujungnya ada sebuah tulisan disana.

” Aku bikin gambar biar kakak mau lihat, karena aku tau kakak ga suka baca. Maaf juga ga bisa ngasih langsung ke kakak, karena aku mungkin ga mampu ngucapin sesuatu saat tangan kakak melambai. Makasih buat semuanya kak…hehe. Aku seneng bisa ketemu sama kakak

*anggapiniemotsenyum.”

Aku menutup buku itu dan kembali memasukkannya dalam tas.

Aku menatap kosong dari jendela kamar ini. Sudah satu bulan ini aku tak melihat senyumannya. Aku harus mengatakan sekarang, kalau aku merindukannya. Merindukan sosoknya yg dulu selalu mengganggu hariku. Aku menutup jendela itu rapat dan mencoba menghilangkan bayangannya dari rumah di seberang sana. Merebahkan tubuh di kasur dan mencoba memejamkan mata ini. Berharap bahwa di alam mimpi aku bisa bertemu dengannya. Ck!

# End…

@sigitartetaVRA

Hai…hai. Aku kembali. (Siapa?). ga penting banget.

Ini adalah cerpen ke 4 buatan aku yg aku kirim ke blog ini. Jelek ya?.
Masih belajar nulis soalnya. Masih butuh panduan dari para master
fanfict. Silahkan kritik dan sarannya…

Iklan

10 tanggapan untuk “Datang dan pergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s