Roulette Love Part 5

 

As we know, Vierzig adalah kampus unggulan dengan sejuta fasilitas, dan dari sekian banyak fasilitas yang berada di Vierzig, Gedung Olahraga adalah tempat yang paling banyak dikunjungi mahasiswanya.

Dari mulai adanya kolam renang di lantai dasar, ruang fitnes di lantai dua yang tidak berjauhan dengan ruang sauna.

Adanya lapangan indoor di lantai tiga untuk bulu tangkis dan juga basket.

Dan lantai empat dengan lapangan futsal dan juga lapangan serba guna.

Kini, Red Camisa sedang berada di lantai dasar. Ya Keynal baru saja berenang bersama anggota lainnya. Satu-satunya olahraga yang disukai seluruh anggota Red Camisa.

“Ffuaah..” Andrew yang baru saja berenang dari ujung timur memunculkan kepalanya di ujung barat kolam renang.

Ia tiba paling akhir diantara yang lainnya.

“Hehe, gue nggak lagi jadi yang terakhir,” ujar Nabil.

“Hrrr, iye iye,” Andrew merengut.

“Tapi harusnya kan lo bisa lebih cepet Ndrew? Secara badan lo lebih tinggi kayaknya daripada Nabil,” ujar Keynal sambil memperhatikan keduanya.

“Siaaaal.. Jangan bawa bawa tinggi badan deh,” Nabil mencipratkan air ke wajah Keynal.

“Haha sewot, canda kali,”

“Waaah ada curut lagi main air nih,”

Keynal cs menoleh ke arah pintu masuk.

“Cih, mau apa kalian?” tanya Maul.

“Eh kang cimol, emang ini kolam punya nenek moyang kamu?” ujar Shani.

Ya Bonita.

Mario dan Nino saling pandang begitu anggota Bonita yang lainnya masuk ke dalam dan mencari tempat untuk menaruh handuk mereka.

“Hadeuh, ini sih berat No,” bisik Mario.

“Iya, nggak kuat iman, lepaslah sudah,” Nino menggelengkan kepalanya.

Iman? Tidak, Bonita tidak memakai bikini sexy untuk berenang, mereka bahkan memakai baju renang tertutup dengan lengan panjang (tau kan? Yg biasa dipake atlit gitu, ya gitulah).

Tapi kan… Tetap saja…

“Glek,”

Nabil menelan ludah begitu melihat Sinka melepas handuk kimononya. Dan menampilkan lekuk tubuhnya.

“Ke.key, lebih baik kita pergi deh,” ujar Farish.

Keynal sweatdrop.

“Lo tau kan Key, meski kita playboy, tapi kalo sama mereka, bisa runtuh harga diri kita,” ujar Farish.

Keynal mengangguk paham, tapi pandangannya tidak lepas dari… Veranda.

Ve yang memakai baju renang berwarna biru dongker terlihat sangat.. Sexy(?). Lekuk tubuhnya terlihat, dan perfect. Rambutnya ia biarkan menjuntai indah ke bawah.

“Key…” Nobi mengibaskan tangannya di depan wajah Keynal.

“Can…tik,” ujar Keynal polos.

“Iya Key, gue tau! Tau banget! Tapi… Apa sampe sini doang harga diri kita?” ujar Nobi.

Melody yang melihat itu memanfaatkan moment ini.

“Ayo pemanasan dulu,” ujar Melody sambil mengedipkan matanya.

Semuanya mengerti, mereka akan melakukan ‘pemanasan’ sebelum berenang. Bukan memanaskan gerak tubuh mereka, melainkan mereka sengaja untuk membuat panas para laki-laki di sana.

Yang bahkan kini semuanya menatap ke arah mereka.

Tanpa mereka sadari dua anggota baru Bonita mengendap dari belakang mereka dan..

BYUUR!!

Dua ember air menyiram mereka.

“Bhwaah!! Anjir! Siapa ini woy!” ujar Nobi.

“Hahahahaha, kedip maaas! Nanti kelilipan,” ujar Viny cengengesan.

Anggota Bonita yang lainnya juga tertawa karena mereka berhasil mengerjai Red Camisa.

“Cih, sial,” Keynal keluar dari kolam renang.

Saat ia keluar, gantian Viny yang tiba-tiba terdiam. Ia seperti tersihir saat melihat Keynal yang dengan gagahnya kuar dari air.

Badannya yang atletis terlihat berkilau karena buliran air.

Enam kotak pada perutnya membuat ia terlihat semakin sexy.

Viny hampir tidak berkedip saat itu, jika saja Elaine tidak menariknya dari sana dan bergabung bersama Bonita.

Satu persatu Red Camisa keluar dari air. Ia mengikuti ‘induk’ mereka. Selain itu, mereka takut khilaf. *eh.

“Yaaah kabur deeh,” ujar Melody, lebih tepatnya meledek kepergian mereka.

“Yaudah toh jadi enak sepi,” ujar Ayana, yang diangguki oleh Gaby.

Ayana dan Gaby terjun duluan ke air, disusul anggota lainnya.

“Kak Mel nggak nyebur?” tanya Shani.

“No, aku mau ke kamar kecil dulu, kebelet kayaknya,” ujarnya kemudian mengambil kembali handuk kimononya, dan berjalan ke kamar mandi.

“Key kita ke ruangan duluan ya,” ujar Nabil.

“Iya, nanti gue nyusul,” ujar Keynal yang masih menghanduki rambutnya.

“Kita mau ke kantin dulu, mau nitip?” tanya Okta.

“Samain aja deh,”

“Oke..” Okta manggut.

Tinggal Keynal sendiri di ruangan itu.

Saat selesai memakai kaos, Keynal dikejutkan oleh suara yang sangat ia kenal.

“Hai,”

“Hai..” jawab Keynal tanpa menoleh.

“Hmm, kemajuan tim kamu hebat juga ya,”

Thanks,” Keynal dusuk di kursi depan lokernya, dan memakai Nike Airwalk nya.

“Tapi kamu masih inget perjanjian kita kan?” tanyanya.

Keynal berhenti sejenak. Kemudian ia melanjutkan memakai sepatunya.

“Masih,” ujar Keynal.

“Well, I hope you’ll keep your promise,”

“Hh… Yes I will,”

“Good,” 

Keynal berdiri dan mengambil tas selempangnya.

“Ada yang mau dibicarain lagi?” tanya Keynal sambil menatap orang itu.

“Ngg, No, hanya mengingatkan saja. Karena jujur, aku menantikan kehancuran Red Camisa, karena tanpamu mereka hanyalah mahasiswa yang punya kemampuan tapi tanpa arah,”

Keynal tersenyum, “Kamu akan menyesal meremehkan mereka Melody,”

“Hmm, oke aku tarik kata-kataku, jika kamu bisa mengalahkanku,”

Keynal kini tepat berada di sampingnya.

“Kami akan mengalahkannu, tuan putri yang egois,”

“Baiklah, aku tunggu prajurit bodoh,”

Keynal dan Melody tersenyum penuh arti. Kemdian Keynal meninggalkan Melody.

~

Esoknya..

“Ronde keduanya masa ada di lapangan olahraga dah Key,” ujar Nobi yang membaca selembaran yang ditempelkan di depan ruang Red Camisa.

“Hmm?” Keynal ikut berpikir.

“Apa bakalan balap lari ya?” tanya Maul.

“Masadah kak, hubungannya ama seni apaan?” tanya Nino.

“Tau dia mah kalo ngomong asal,” tambah Mario.

“Yee sini lo pada, ngebantah aja,” Maul berdiri mendekati Mario.

“Udeeh elah,” Farish menarik Maul hingga ia terduduk lagi.

“Tapi disuruh siapin 5 orang kak untuk ronde kedua,” ujar Okta yang ikutan membaca.

“Lima orang? Jangan-jangan lomba estafet lagi, haha..” ujar Nabil.

Ting.

Keynal, Farish, dan Boby saling tatap.

“ESTADRAW!!” ujar ketiganya bersamaan.

“Estadraw?” kini giliran yang lainnya ber-koor.

“Iya, lha? Lo kaga inget Ul? Nob?”

“Apaan?” tanya Maul dengan tampang bego.

“Itu anjir, estafet drawing, lomba gambar sambil lari,” ujar Farish.

“Lomba gambar? Sambil lari?” tanya Andrew.

“Iya, aih, ini perlombaan tua, dulu gue liat ini pas gue semester satu,” Keynal mengangguk menyetujui Farish.

“Wah bakal seru nih,” ujar Boby sambil nyengir.

“Gue rasa ini giliran lo Bob,” ujar Keynal.

Boby mengangguk sambil tersenyum.

“Lo nanti siapin 4 orang lagi Bob,”

“Hmm,” Boby menatap masa depan *plak. Boby menatap sekelilingnya.

“Yang pasti bukan gue,” ujar Maul.

“Gue juga,” ujar Nobi.

“Oke, Andrew, Okta, Farish,dan… Nabil,”

“Lha? Kenapa ogut? Kenapa nggak Key aja, kan dia dekape?” ujar Nabil.

“Yaudah Keynal,”

Gubrak!

“Labil lo,” ujar Farish.

“Hahaha, ya kan kali aja kalian mau di dalam satu pertandingan, kan seru,”

“Seru pale lo,” ujar Nabil.

“Haha, yaudah nanti kita turun,”

“Welah, coba sama Kak Nob, ace nya keluar semua,” ujar Nino.

“Iyaa, kan nambah seru,” ujar Mario.

Keynal terkekeh dan menggeleng.

“Yaudah nanti malem kita kumpul di gedung selatan,” ujar Keynal.

“Ngapain?” tanya Maul.

“Ini pertandingannya malem ini Bang Mauuul,” Keynal menemplokkan surat undangan itu di wajah Maul.

“Etdaaah, jahat amat da ah,” Maul misuh-misuh.

Malamnya, Red Camisa sudah bersiap di arena pertarungan.

Sebuah trek lari dengan panjang 500 meter pada tiap sisi nya yang membetuk persegi.

“Dingin,” ujar Keynal sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dan menggosoknya.

“Hai,”

Keynal menoleh, ia tersenyum begitu melihat Naomi membawakan segelas susu hangat untuknya.

“Minum nih biar anget,” ujarnya.

“Thanks Mi,” Keynal menerimanya.

“Ini nggak diracun kan?” tanya Keynal sebelum meminumnya.

“Ngaco, yaudah aku ke kelompok aku ya,” ujar Naomi.

Keynal mengangguk.

“Duh enaknyaaa,” ledek Maul.

“Iya, enak yang punya pacar di mana-mana mah,” ujar Nabil.

Keynal menyipitkan matanya, kemudian ia beranjak menghampiri Sinka.

Maul dan Nabil menatap Keynal heran. Begitu Nabil melihat Keynal berbicara dengan Sinka sambil melirik dirinya Nabil bersiap kabur.

“Eit eit, tunggu,” ujar Boby yang sudah menahan tubuh Nabil.

“Ah rese lu berdua, komplotan ya lu?” yjar Nabil sambil meronta.

“Kenapa Bil?”

Deg.

“Ke.kenapa apanya?” tanya Nabil.

“Kata Keynal kamu mau ngomong sesuatu sama aku?” tanya Sinkadengan muka polos.

“Eh? E.enggak kok aku ng…” Nabil melihat Keynal dan Boby sudah menjauh darinya begitu juga anggota yang lainnya.

“Ah elah padaan,” Nabil menggaruk kepalanya.

“Jadi mau ngomong apa?”

“E.eh? Itu… Aku, nggak kok, aku nggak mau ngomong apa-apa,”

“Hah?”

Nabil menghela nafas kasar, ia mulai jengah dalam keadaan awkward ini.

“Sin! Ayo udah mau mulai!”

Sinka menoleh ternyata Melody yang memanggilnya.

“Iya kaak,” ujar Sinka.

“Yaudah kalo nggak ada yang mau diomongin yaudah aku ke sana ya,” ujar Sinka.

Nabil mengangguk.

“Yaaaah!! Sayang bangeeet,” ujar Boby begitu Sinka menjauh.

“Sayang apanya?” tanya Nabil.

“Jangan belaga bego deh, lo suka kan dari dulu? Hahaha,” ujar Boby.

“Seriuuus!!?” ujar Okta, Andrew, Mario dan Nino barengan.

“Eh kagaa!! Percaya aja ama curut ini, udah deh, udah mau mulai,” ujar Nabil meninggalkan mereka semua.

Keynal, Boby dan juga Farish terkekeh melihatnya.

Pertandingan di mulai.

Seperti tebakan Keynal ini merupakan Estadraw.

Bonita diwakili

Ve
Shania
Melody
Elaine
Vienny

Red Camisa diwakili oleh

Boby
Keynal
Farish
Andrew
Okta

Tejege diwakili oleh

Jeje
Sendy
Via
Dewa
Ronald

dan Lock Angels menurunkan

Farin
Tya
Manda
Natalia
Nadse

“Haha lock angels turunin kriteria kalian deh, masa yang tanding itu lagi itu lagi,” ledek Jeje

“Weits nanti standarisasi lock angels jadi jelek kalo asal nerima,” ujar Tya.

“Haha iya serah deh bu,” Jeje mengibaskan tangannya.

‘Hihi, aku menurunkan mereka bukan karena tanpa sebab tau,” gumam Naomi yang melihat mereka dari kejauhan.

“Oke, Estadraw adalah pertandingan dimana kalian akan mengestafetkan gambar kalian, kepada teman kalian yang berada di depan.

Intinya, anggota pertama yang memulai perlombaan, diharuskan menggambar sesuai dengan tema yang ditentukan.

Setelah selesai menggambar, kalian harus lari ke ujung sana yang jaraknya 400 meter dari sini, dan memberikan pensil yang kalian pakai di awal sini.

Teman kalian harus langsung menggambar dan hanya boleh menggunakan pensil yang sama. Jadi satu pensil untuk lima orang.

Setelah anggota kedua selesai menggambar, anggota kedua memberikan pensil itu kepada anggota ketiga, dan begitu seterusnya.

Esta yang diambil dari kata estafet dan draw yang diambil dari kata drawing, ya memiliki arti lari estafet sambil menggambar. Eh?

Ya apapun itulah, mengerti kan?”

Della menjelaskannya dengan panjaaaaaaaang lebar!

“Ngerti Del,” ujar semuanya.

“Sip, silahkan ke posisinya masing-masing, di tiap pos nanti akan diberitahuka tema nya oleh panitia,”

Della melambaikan tangannya kepada panitia yang sedang duduk dan memegang mic.

Si panitia mengacungkan ibu jarinya, tanda ia siap.

“Oke, dari kiri ada Bonita diwakilkan Melody, kemudian RC oleh Farish, LA ada Nat, dan paling kanan Tejege ada Dewa. Kalian siap?”

“Siaaaap!”

Mereka berempat mengambil posisi, berada dalam jalur mereka, berdiri menghadap kanvas kosong yang ada di hadapan mereka.

“Ingat, hanya menggambar sketsa, tanpa warna, hanya menggunakan satu pensil, usahakan pensil awet hingga pos akhir,”

Della mengangkat tangannya.

“One! Two! THREE!!”

Dor!

Mereka berempat langsung mengambil pensil utuh disamping kanvas dan menajankannya.

“Tema pertama adalah, Teenage Heartbreak,” ujar panitia melalui speaker.

Semuanya berfikir.

Farish memejamkan matanya, mencoba mengartikan dari tema yang diberikan. Mengumpulkan objek yang berkaitan dengan tema dalam inajinasinya.

Merancang visual abstrak dalam otaknya.

Farish tersenyum.

Kemudian ia langsung menorehkan idenya pada kanvas itu.

Farish berencana membuat sebuah gadis yang sedang menekuk lutut dan menggenggam hati yang sudah hancur.

Farish memulainya dari rambut…

6 menit berlalu.

“Kok gerah ya?” ujar Nat sambil mengibaskan tangan kirinya. Tangan kanannya terus menggambar.

Dewa yang berada di sebelah kanan Nat meliriknya.

Astaga! Nat memakai kemeja yang kini sudah dua kancing dilepasnya.

Konsentrasi Dewa buyar. Dia lebih senang melirik ke arah belahan dada Nat yang kini hampir terekspose.

“Rish, gerah nggak sih?” tanya Nat dengan agak mendesah.

Farish menoleh, ia langsung menelan ludah.

“Astaga…astagaa…” gumam Farish.

“Konsen Rish konsen,” Farish kembali menggambar mencoba untuk tidak melirik ke arah Nat.

Farish melirik ke arah kanvas Melody, sepertinya sudah 76%.

“Oke fokus!” ujar Farish sambil memantapkan dirinya.

9 menit berlalu…

“Yak!” Melody lari setelah memastikan gambarnya selesai secara sempurna.

“Cih..”

Farish mempercepat gerakan tangannya.

“Ayo Farish!!!!” teriak Nabil dari bangku penonton.

Beberapa detik kemudian Farish langsung lari mengejar Melody.

Farish yang tertinggal 100m segera mengejar ketertinggalannya.

Di jarak 350m mereka sejajar.

“Kak Melody ayooo!!” teriak Gre.

Nat dan Dewa juga sudah 100 meter di belakang mereka, meski tadi Dewa sempat tertinggal karena gambarnya yang belum selesai.

“Ndrew!”

“Len!”

Melody dan Farish tiba secara bersamaan.

“Tema kedua adalah, The Worse thing in our country,”

“Mel, Rish, kalian bisa kembali ke pos awal,” ujar panitia.

“Sabar mba, narik nafas dulu,” ujar Farish.

Beberapa menit kemudian Nat dan Dewa sampai.

Ronde kedua :

Bonita :
Elaine

RC :
Andrew

LA :
Manda

Tejege :
Ronald

Elaine dan Andrew sudah 1/4 gambar saat Manda juga Ronald memulai.

Tidak seperti Dewa yang mudah terkecoh Ronald memang anggota Tejege yang paling fokus.

Buktinya ia bisa menyusul Elaine dan Andrew.

12 menit berlalu.

Ronald langsung berlari meninggalkan yang lainnya.

“Anjir, gambar apaan dia? Cepet banget,” ujar Maul dari bangku penonton.

“Jangan mau kalah Ndrew!!!” teriak Nino.

Tak.

“Shit!!” teriak Manda. Pensil yang ia gunakan patah ujunnya. Tanpa babibu ia langsung menajamkannya kembali.

“Done!” ujar Andrew setelah berselang satu menit setelah Ronald.

Andrew memegang pensilnya erat dan kemudian langsung berlari.

“Susul Ndrew!!”

“Ayo Roon!! Jangan sampe kalaaaah!!”

Penonton makin memanas.

“Kak Sen!” ujar Ronald.

“Yaah tumpul gini, kamu nggak diraut dulu?” ujar Sendy.

“Lupa kak, itu kan disitu ada, raut aja dulu kak,”

“Aaah dasar,”

“Tema ketiga, Indonesian culture,”

“Mampus wa,” ujar Sendy begitu tau tema yang ketiga.

Beberapa menit kemudian, Andrew sudah sampai dan Okta langsung mulai menggambar.

Disusul dengan Vienny yang menggantikan Elaine juga Nadse dari LA.

10 menit berlalu.

“Okta, selesai lomba mau nggak ke rumah kakak?” tanya Nadse.

“Hm? Mau ngapain kak?” tanya Okta, keduanya berbicara tanpa mengalihkan perhatiannya dari kanvas.

“Nanti… Kita… Bisa berduaan..” ujar Nadse.

Okta tersenyum, “Hmm, boleh kak, aku duluan ya,”

Okta segera lari dari situ, kemudian disusul Vienny yang juga sudah menyelesaikan gambarnya.

‘Sial, niatnya mau bikin dia kalah, malah dia selesai duluan,’ batin Nadse.

“Aaaah!! Males banget emang gue kalo disuruh gambar,” ujar Sendy sambil mengacak-acak rambutnya.

Di depan sana Okta dan Vienny sedang beradu lari.

Nafas keduanya mulai terengah saat mencapai 300m.

Keynal meregangkan tubuhnya, ia melakukan pemanasan kecil di sana.

“Ready?” tanya Jeje.

Keynal menoleh ke arah Jeje yang ada di sebelah Tya.

“Lawan lo doang mah gampang Je, urusan gambar doang mah,” ujar Keynal.

“Iya, kecuali kalo main musik, okelah kita sih udah tau kamu yang paling jago,” ujar Ve yang ada di sebelah Keynal.

“Haha, kita liat ajaa nanti,” ujar Jeje.

“Buset gue kaya nyamuk,” ujar Tya sambil memutar matanya malas.

“Gue juga ada di sini woy, gue juga lawan kalian,” ujar Tya.

Tidak ada respon dari ketiganya.

“Bunuh aja bunuh,” ujar Tya kesal.

Okta lebih dulu sampai ternyata, ia langsung memberikan pensilnya ke Keynal.

Keynal segera merautnya terlebih dahulu.

“Tema ke empat, Doodle,”

Keynal tersenyum.

“Curaaaang!!! Itu gampang bangeet!!” teriak Melody yang sudah menunggu di pos awal.

Keynal cukup ahli untuk urusan membuat gambar doodle.

Tanpa menunggu lama ia mulai menorehkan pensilnya.

8 menit berlalu.

Semuanya masih fokus menggambar.

Ve, Keynal, Tya, dan Jeje terlihat adem ayem.

“Ini pos suram banget, kaga ada suaranya,” ujar Nobi.

“Iya kalo di daerah sana nyebutnya mah sungil,” ujar Maul.

“Apaan tuh?” tanya Mario.

“Sungil tuh, singkatnya sama kaya angker,”

“Haha bedon, kuburan kali angker,” ujar Nabil.

“Weh, Keynal kelar tuh!” Maul yang melihat itu langsung berdiri.

“Ayoo Keeey!!!!” teriak mereka semua.

“Cih, harusnya Ve di pos terakhir,” ujar Melody. Melody baru ingat Ve tidak terlalu bisa lari, lihat saja, larinya santai dan kalem.

“Lari Vee!!” teriak Jeje yang mulai menyusulnya.

Ve hanya tersenyum menanggapinya.

Tya juga sudah menyusulnya, pos terakhir berada setelah tikungan.

Tya berlari cepat berusaha mengejar Jeje yang ada di depannya.

“Waaaah ada emak emak,” ujar Jeje sambil memasang tampang takut.

Rahang Tya mengeras, ia kesal sekali diledek emak-emak.

Tya mempercepat langkahnya.

Begitu ditikungan, Tya terpeleset karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, akhirnya ia tersungkur ke samping.

Dan…

Menabrak Jeje yang ada di sebelahnya.

“Eeeh!!?”

Sraaak…

Keduanya terjatuh.

“Huahahahaha, parah paraaaaah,” teriak Maul.

“Heh anjir! Ketawa lu,” Nobi menyikut Maul.

“Aduuh.. Sakit tuh,” ujar Shani yang juga melihatnya. Gre dan yang lainnya mengangguk setuju.

“Terakhir Bob!” ujar Keynal sambil menyerahkan pensilnya yang tinggal seukuran jari manis.

“Ya, serahin ke gue,” ujar Boby. Boby melirik ke arah Shania yang sedang dongkol karena melihat Ve yang lari secara anggun.

“Kak Ve!! Ini bukan catwalk!!! Teriak Shania,”

“Last, temanya adalah, ‘Suatu hal yang penting’,” ujar panitia.

Boby berpikir sejenak, mencoba mencari objek ya. Kemudian ia tersenyum.

Dalam benaknya sudah tergambar jelas, wajah ayah dan ibunya dalam bentuk kartun dan juga dirinya yang sedang digendong di atas pundak ayahnya.

13 menit berlalu.

Boby berjalan santai menuju tombol yang berada di depannya.

Ia tahu karena lawan-lawannya belum menyelesaikan gambarnya.

Apalagi Via dari Tejege yang baru setengah gambar.

Teeet…

Boby menekan tombol ya dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Wohooooo!!!” teriak Red Camisa yang senang atas kemenangan timnya.

~

“Baik, inilah hasilnya…

Bonita,
Urutan ke 2, mendapatkan nilai 40 point.

Gambar 1 = 7

Gambar 2 = 7

Gambar 3 = 8

Gambar 4 = 9

Gambar 5 = 8

Total pointnya adalah : 79 point.”

Della membuka lembaran berikutnya.

“Red Camisa,

Urutan pertama, nilai 50 point.

Gambar 1 = 8

Gambar 2 = 8

Gambar 3 = 8

Gambar 4 = 9

Gambar 5 = 10

Total nilaaii adalah… 93!!”

“Wohooo jauuh jauuuh,” teriak Red Camisa.

“Buset perfect Bob! Gambar lu, edaan,” ujar Nabil.

Boby hanya tersenyum manis mendengarnya.

“Dan Tejege mendapatkan nilai, 68. Dan untuk Lock Angels mendapatkan nilai, 62,” ujar Della.

“Yaah juara terakhir,” rengek Nadse.

“Dengan ini, Red Camisa memperoleh nilai tertinggi!!”

“Ayeeay,” semuanya bersorak riang.

“Dan untuk sementara, posisi Bonita dan Red Camisa adalah seimbang!” ujar Della.

Red Canisa tersenyum, sedangkan Bonita tampak kesal dengan hasilnya.

“Diposisi ketiga ada Tejege, dan yang terakhir adalah Lock Angels.

Mungkin cukup sekian pertandingan di babak ini. Nantikan final dari panitia. Seperti biasa akan kami umumkan lewat surat! Terima kasiih.. Sampai jumpa di pertandingan finaaal,” ujar Della.

-TBC-

 

-Falah Azhari-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s