Roulette Love Part 4

 

“Aku tidak akan kalah kali ini,”

“Ya. Akupun tidak akan pernah mengalah,”

“Kita lihat saja nanti,”

“Aku menunggu itu,”

~

“Bangun woy, lo kaga ada kelas?” tanya Boby.

“Haah.. Iya iya, males aja gue kelas filsafat pagi-pagi gini,” ujar Keynal.

“Mamam tuh filsafat, haha,”

“Diem lo Rish,” Keynal melempar bantal tepat di muka Farish.

FYI, Vierzig merupakan Universitas yang memiliki asrama sendiri, jadi untuk semua mahasiswa Vierzig wajib menempati asrama itu hingga mereka semester 3, setelah itu mereka bebas memilih ingin tinggal di mana.

“Nabiiill!!!! Jail banget siii!!”

Keynal memutar tubuhnya mencari sumber suara itu. Ia menangkap ada Nabil dan juga Gaby yang sedang kejar-kejaran.

“Key key, tolongin Key,” Nabil berlari ke arah Key dan berlindung dibalik tubuhnya.

“Ada apaan sih?” tanya Keynal.

“Itu, dia ngumpetin jaket Key!” ujar Gaby.

“Ini anak emang suka cari gara-gara, lo umpetin di mana?” tanya Keynal.

“Emang kenapa Key?” tanya Nabil.

“Yaa jangan ampe ketauan ngumpetinnya,” ujar Keynal enteng.

“Ish!! Kaliaan!! Sama aja dasar! Awas aja nanti gue bilangin ke kak Melody,”

“Bilangin sana, gue nggak takut!” ujar Nabil.

“Rr..! Eh?”

Sesuatu menutupi kepala Gaby.

“Kelakuan anggotanya dijaga ya Kak,”

“Kak Melo,” Gaby tersenyum senang, ternyata Melody menemukan jaketnya.

“Cih,” Nabil berdecak.

Keynal menatap Melody. Kemudian tersenyum.

“Siap,” Keynal memberi hormat kepada Melody.

Tentu saja ini membuat Nabil, Gaby dan Melody menatap Keynal heran.

“Lo sakit?” tanya Melody.

“Haha, nggak, lagi seneng aja,”

Melody tidak melanjutkan pertanyaannya, tapi dari sorot matanya Keynal menangkap rasa penasaran dari Melody.

“Ya, karena akhirnya gue bisa ngalahin lo, setelah dua tahun kita bersaing,” ujar Keynal dengan senyum jahatnya.

“Cih, lo pikir lo bisa?”

“Ya!”

“Udah Bil, masuk kelas sana lo,”

“Ayay!” Nabil berjalan meninggalkan Keynal.

“See you~” ujar Keynal, ia juga meninggalkan Melody dan Gaby.

“Kita jangan sampe kalah kak sama mereka!” ujar Gaby geram.

“Ya.. Tentu..”

~

Siangnya

“Ini materi pertandingan tahun lalu, gue harap kalian bisa nempelajarinya, jadi kalian nggak akan kaget,” ujar Maul sambil memberikan sebuah map kepada Andrew dan Okta.

“Oke,”

“Ng.. Kira-kira siapa ya yang akan menjadi lawan kalian,” ujar Mario.

“Maksudnya kak?”

“Ya, karena tradisinya, tiap anggota kita memiliki saingan masing-masing,” ujar Nino.

“Seperti Key, dan Farish yang pasti akan turun jika Melody atau Ve yang mewakili Bonita, Boby yang selalu bersaing dengan Shania, gue sama Nino juga biasanya ngelawan Gre atau nggak Ayana,” ujar Mario.

“Kalo kak Nobi? Sama kak Maul?” tanya Okta.

“Mereka masih bersaing ngalahin Sinka dan Shani, tapi sampe sekarang peringkat mereka masih dibawah Shani dan Sinka,” ujar Nino.

“Bagian itunya jangan disebutin!!” Nobi dan Maul menjitak kepala Nino.

“Aa.. Ittai!” Nino mengelus kepalanya.

“Gue udah punya target,” ujar Andrew.

“Oh ya?” Keynal yang sejak tadi memainkan HP ikut melirik ke arah Andrew.

“Ya Elaine Falinska dari Bonita,” ujar Andrew.

Keynal tersenyum, yang lainnya juga.

“Lalu Okta?”

“Ah… Entahlah, aku belum menentukannya, lagipula aku belum tahu kemampuan mereka, yang pasti aku tidak bisa meremehkan mereka,” ujar Okta.

“Ya, lo juga jangan lupa sama Tejege, ada Jeje di sana,” ujar Farish sambil menunjuk Maul.

“Iya iya, Kak Naomi juga harus jadi perhitungan,” ujar Nabil.

“Ya intinya jangan ngeremehin lawan kita,” ujar Keynal.

“Kita fairplay aja dulu,” tambah Keynal.

“Ya.. Ya ‘dulu’,” ujar Maul sambil menekankan kata ‘dulu’.

Keynal tersenyum.

Kemudian ia pamit karena akan ada kelas siang ini.

~

“Nal,”

“Ya Ve?”

“Kamu udah tugasnya?”

“Belum, banyak banget kan Ve, gimana caranya bisa selesai dalam seminggu,” ujar Keynal.

“Iya sih,” Ve manggut-manggut.

“Red Camisa gimana?” tanya Ve.

“Haha, tumben kamu mau ngomongin itu di kelas,” ujar Keynal.

“Yaa.. Kan perjanjiannya kalo di kelas kita berdua temen, cuma di grup aja kita musuhannya, jadi nggak apa dong, aku mau tau perkembangan grup temen aku,” ujar Ve sambil menghapus gambar desainnya yang ia gambar di sketchbook.

“Haha, iya iya, yaaa gimana ya? Baik-baik aja sih, belum ada yang berubah,”

“Kamu sendiri? Gimana Bonita?” tanya Keynal.

“Hm, begitulah,”

“Gimana dengan…”

Ve menatap Keynal, menunggu lanjutan dari ucapan Keynal.

“Tidak, lupakan,”

“Kak Melody ya?” tanya Ve.

Keynal tidak menjawabnya, hanya terdiam seribu kata.

~

“Yop.. Hap hap,”

Di sebuah game center terlihat dua orang yang sedang memainkan game dance virtual.

Tampak banyak sekali yang merubungi mereka berdua. Bukan hanya karena mereka jago menari, tapi juga karena wajah mereka yang diatas rata-rata.

“Yosh! Menang lagi No,”

“Yoi Ka, next!” ujar Nino.

Ya, Nino dan Maul sedang menghabiskan waktu mereka di sebuah game center. Itung-itung latihan ujar Maul saat pamitan dengan yang lainnya.

“Yaah, master of game, berkat mereka game center ini jadi rame pengunjung,” ujar salah satu penjaga game center itu.

“Iya, kayaknya udah semua stage dan semua level deh mereka mainin,” ujar temannya.

“Kyaaa Ka Hamids!! Ka Maul!!” beberapa gadis SMA meneriaki mereka yang terlihat super keren di sana.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.

“Boleh aku mencobanya?”

Maul menoleh, “Hmm, bisakah mengantri? Tinggal 2 game lagi kok,” ujar Maul.

Nino memperhatikan penampilan dari orang tersebut. Dia memakai badge khusus dari Vierzig. Tapi Nino belum pernah melihatnya.

“Maksudku, boleh kah aku menantangmu?” tanyanya.

Maul dan Nino saling tatap.

“Ng.. Kalo mau main, silahkan deh, kami juga mau pulang,” ujar Nino.

“No, kok lo pulang? Ditantangin masa pulang?” bisik Maul.

“Jadi bagaimana?” tanya orang itu lagi.

“Baiklah! gue yang bakal ngelawan,” ujar Maul.

“Tapi kak,” Nino mencoba menahan Maul.

“Ah berisik lo, udah sana liat aja,” ujar Maul.

Nino akhirnya turun, kemudian ia duduk di kursi dekat tempat game itu.

Nino memperhatikan orang yang kini berada di sebelah Maul, matanya memperhatikan dari bawah hingga atas sambil ia menenggak sebotol air mineral.

Game start!

~

Esoknya di ruang Camisa

“Maul mana?” tanya Keynal begitu ia masuk ke dalam ruang Red Camisa.

Semuanya mengangkat bahu tanda tidak mengetahui di mana keberadan orang satu itu.

“Kemarin yang terakhir bareng Maul siapa?”

Boby menunjuk Nino dari balik komiknya.

Keynal menghampiri Nino.

“Maul mana No?”

“Aah.. I.itu,”

Flashback

“Haha cuma segini kekuatan seorang Red Camisa? Kuciwa,”

Gigi maul bergemeletak. Nino menahan pundak Maul agar ia tidak tiba-tiba menyerang.

“Hahaha.. Sampah,” ia pergi meninggalkan Maul dan Nino sambil tertawa lepas.

flashback off

“Jadi gitu, pasti tu anak kaga bakalan masuk,”

Nobi mengangguk, “nanti juga baik sendiri, kan udah biasa,” ujar Nobi.

Ya benar saja, saat itu Maul sedang berada di rumahnya. Ia berbaring di ranjangnya dengan bantal menutupi matanya.

Ia masih merasa kesal atas kejadian kemarin. Ingin sekali ia membalas.

“Berengsek!!” Maul melempar bantalnya sembarang.

Maul menatap pantulan dirinya di cermin kaus oranye yang ia pakai terlihat kusut karena ia belum menggantinya sejak semalam.

“Haaish..”

~

“Gimana Key? Kerumahnya kaga?” tanya Nobi.

“Kaga usah, biar dia nyelesaiin masalahnya sendiri,” ujar Keynal.

“Hmm, baiklah,”

“Oya, gue ada perlu dulu, kalian latihan ya jangan lupa,”

“Yosh,”

Semuanya mengangguk.

Keynal keluar dari ruang Red Camisa. Berjalan menuju mobilnya.

“Hmm, di mana ya tuh anak kira-kira,” gumam Keynal.

Keynal menjalankan mobilnya.

~

Bruk.

“Kalo jalan liat – liat dong!”

“Maul!? Ish! Kamu tuh kalo jalan ya li..” Shani bengong melihat Maul yang terus berjalan tanpa mempedulikan ocehannya.

Shani mengikuti Maul sampai di lantai dua sebuah cafe. Maul duduk di bangku paling pojok setelah memesan segelas es jeruk.

Maul tampak murung, ia masih kesal dengan kejadian kemarin. Tapi ia mengakui kalau lawannya jauh lebih hebat darinya.

Terputar kembali bagaimana Maul bisa dikalahkan dengan mudahnya.

“Cih,”

Maul menghela nafas, mencoba mengatur emosinya.

Ia kembali merasa sangat tidak berguna, apalagi until RC.

“Kamu kenapa?” tanya Shani yang tanpa izin langsung duduk di depan Maul.

Maul mengangkat wajahnya, “Ngapain sih lo ke sini? Kalo mau nyari ribut gue lg kaga mood,”

“Yang mau ribut sama kamu itu siapa?” ujar Shani.

Maul menghela nafas, kali ini ia lebih memilih diam daripada meladeni Shani.

“Berarti rumor itu bener ya? Seorang Maul dikalahin?” ujar Shani.

Maul mendelik.

“Cut it off Shan,”

“Hahaha, cupu, baru kalah sekali tampang kamu udah kaya kucing gagal ngelahirin,”

“Maksud lo ap..”

“Denger Maul! Yang boleh ngalahin kamu itu cuma aku! Dan kalo kamu merasa sedih cuma karena satu kekalahan itu bukan Maul yang aku kenal! Dia bukan rival aku!” ujar Shani.

Deg!

Ucapan Shani terngiang di telinga Maul, memang sejak awal masuk kuliah Shani dan Maul memutuskan untuk menjadi Rival saat keduanya berada di tim berbeda. Nilai mereka juga sama, baik kalah menang maupun seri.

Saling menyusul.

So wake up! Stupid boy! Kalo lo cuma segini doang, lo nggak pantes jadi Rival seorang Shani!” ujar Shani lagi.

Maul menatap Shani, ia menatap ke dalam mata Shani. Tumben pake ‘lo’ ni anak, pikir Maul.

Meski mereka adalah musuh bebuyutan Shani tetap saja cewe normal yang jika di tatap seperti itu..

“Hahaha, kenapa muka lo merah gitu?” ledek Maul.

Shani gelagapan.

“E..enggak! Siapa juga ish..”

Maul terkekeh, “Ya Lo benar, gue nggak akan lemah cuma karena begini,” ujar Maul.

Thanks Shan,” ujar Maul tulus.

Shani tersenyum lembut.

“Yaa meskipun begitu, tapi kamu tetep akan kalah sih sama aku,” ujar Shani sambil mengibaskan tangannya.

In your dream Shan,” ujar Maul.

Dan.. Keduanya tertawa bersama..

Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Keynal memperhatikan dari jauh sana. Ia tersenyum melihat anggotanya sudah semangat kembali tanpa ia harus turun tangan.

Yaa Rival memang suatu hal yang rumit sekaligus menyenangkan.

~

“Pagi…” sapa Maul yang hari itu kembali berkumpul dengan RC.

“Ciye udh nggak baper,” ledek Nobi.

“Bangkek,” Maul menoyor kepala Nobi, Nobi misuh misuh.

“Katanya lo kemarin kalah ya?” tanya Keynal.

Maul mengangguk mengakuinya.

Keynal menatap Maul. Tatapan yang awalnya datar, kemudian terukir senyum di sana.

Tidak, ledekan tepatnya.

“Huahahahaha!! Maul dikalahin hahaha,” ujar Keynal.

Maul menatap Keynal tajam, teman-teman anggota lainnya juga menertawakan Maul.

“Aah kampret emang lu pada!” ujar Maul.

“Haha, tapi di pertandingan nanti, gue nggak mau lo kalah lagi,” ujar Keynal.

“Lo bisa andelin gue Key,” ujar Maul mantap.

Keynal mengangguk.

Yang lain juga tersenyum, ya tidak ada maksud untuk saling merendahkan satu sama lainnya. Karena mereka percaya, jika bersama, karangpun akan hancur.

Stage 1.

“Jadi tiap kelompok harus mengirimkan tiga anggota yang akan mewakili dalam dance battle ini. Kalian hanya tinggal mengikuti beat dari musik yang sudah disiapkan. Ingat spontanitas, serta kekompakan kalian yang menentukan pemenang,” ujar Della yang menjadi MC malam itu.

Mereka berkumpul di bagian belakang kampus, yang biasa dijadikan tempat show outdoor.

“Bonita?”

“Shani, Gre, Gaby,” ujar Melody.

“LA?” (Lock Angels)

“Farin, Tya, Manda,” ujar Naomi.

“Weew, Sexyster langsung muncul pemirsah,” ujar Della.

Mereka yang menonton juga langsung heboh. Ada yang bersiul dan lainnya.

“So, Tejege?”

“Jeje, Dhika, Sendy,” ujar Jeje.

“Waduh ini bosnya langsung turun?” ujar Della.

Jeje hanya mengangkat alisnya.

“Oke oke, last, Red Camisa?”

“Maul, Nabil, Mario,” ujar Keynal.

“Oke, ini bebuyutannya Shani ya, eh ups gimana?”

“Waah kompor haha,” ujar Via.

Shani menatap Maul.

You’ll lose Maul,’ ujar Shani tanpa suara.

Maul hanya tersenyum tenang.

“Untuk juri di lomba kali ini, ada para dosen dari seni tari, dan keputusan mereka mutlak, tidak bisa diganggu gugat,” ujar Della.

Round 1

Dentuman musik terdengar. Keynal dan lainnya yang tidak bertanding duduk di bangku penonton.

“Let’s go Bonita!”

Gre melangkah maju, diikuti Shani dan Gaby. Gre menjadi center untuk ronde pertama ini.

Mereka melakukan beberapa dance dasar, meski begitu karena kompaknya mereka, mereka mendapat tepuk tangan yang meriah.

“Kalo nggak bagus, bukan bonita namanya,” ujar Keynal.

~

Setelah saling beradu gerakan. Kini hanya menyisakan Bonita dan juga Red Camisa.

“Panas woooy!!” teriak Nobi.

“Aah gue pake salah gerakan lagi!” rutuk Dhika sambil melempar sepatunya.

“Tau sih lu aah,” ujar Sendy.

“Hhh.. Mereka nggak cape apa?” Manda bersandar di bahu Tya.

“Mereka robot kali,” celetuk Farin.

Peluh mereka masih mengalir dari pelipis.

“Last Dance! Begin!”

Maul memulai gerakan, diikuti Nabil dan juga Mario. Beat berikutnya mereka bertikar posisi dan Nabil melakukan beberapa gerakan break dance.

Beat melemah, tanda mereka harus bergantian.

Shani memulainya dengan sedikit meliuk erotis.

Maul yang melihat itu menelan ludah.

“Suit suiit!!”

Penonton kembali bersiul.

Disusul dengan Gre dan Gaby yang memegang pundak Shani, kemudian juga ikut meliuk.

“Lawan Maul! Bil! Mar!” teriak Nino dan Nobi.

Keynal dan Farish masih duduk anteng meski kaki mereka tidak berhenti bergerak. Beby, Okta dan Andrew hanya ikut bertepuk tangan

“Rr! Jangan mau kalah Shan! Gre! Gab!” teriak Melody.

Kelompok Bonita terus menyemangati anggotanya uang sedang bertanding itu.

Teeeet!!

Bel berbunyi tanda pertandingan telah usai.

“Yo yo yow!!! Gilaaaa!! Kalian pecaaaah!!” teriak Della histeris.

“Ini rival nya kerasa banget ya, oke oke, gue pun nggak sabar pengen tau, siapa sih pemenangnya,” Della menghampiri meja juri.

Ia mengambil selmbar amplop hasil dari penilaian juri. Kemudian para juri pergi meninggalkan tempat.

“Daaaan pemenangnya adalaaaah,” teriak Della.

“BONITAAAA!!”

“Yeaaaah!!!” Kelompok Bonita saling berpelukan.

“Hehe,” Shani mengacungkan jempolnya, dengan gerakan perlahan ia membalik jempol itu.

Loseer,” ujar Shani sambil menjulurkan lidahnya.

Maul berbalik kesal. Bisa-bisanya ia kalah.

“Iye iye lo menang,” ujar Maul.

“Yap, Melody silahkan ke atas panggung,” ujar Della.

Melody melangkah naik ke atas panggung dengan senyum mengenbang.

“Ini badge penanda, penanda kalau kelompok kalian yang menduduki peringkat teratas,” ujar Della.

“Thankyu Del,” ujar Melody.

“Yap, dengan begini, Bonita mendapatkan 10 Poin, Red Camisa 8 poim, Tejege 5 Poin, dan Lock Angels 3 Poin,” ujar Della.

“Baiklah, silahkan kembali ke alam kalian masing-masing, tunggu tantangan berikutnya!” ujar Della menutup pertandingan hari itu.

~

“Aaah,”

Shani menghempaskan tubuhnya di sofa ruang Bonita.

“Good job Shan,” ujar Melody.

“Thanks, kak,” Shani mengacungkan jempolnya.

“Nih minum dulu kak,” Vienny memberikan sebotol minim untuk Shani.

“Shani doang nih?” tanya Gre dan Gaby bersamaan.

“Eeh iya iya, ini aku bawain juga kok kak,” ujar Vienny.

“Yeay, thanks Vin,” ujar Gre dan Gaby.

“Tapi tadi tumben nino nggak turun, biasanya ada gre pasti nino turun,” ujar Ve.

“Entahlah, mungkin emang bukan gilirannya,” saut Ayana

Diam diam Ayana tersenyum, karena jujur. Ia cukup terpukau dengan penampilan Mario tadi.

“Hmm, yaudah berarti tinggal ronde ke dua, kita belum tau apa, jadi kalian yang abis tanding tadi, silahkan istirahat yang cukup,” ujar Melody.

“Siap kak,” ujar Shani, Gre, dan Gaby bersamaan.

~

Di kantin esoknya.

See, you lose,”

“Masih terlalu pagi untuk memulai perang Shan,”

“Ya, tapi tetap saja aku senang karena aku bisa mengalahkanmu, sedangkan kau, hanya mengalahkanku sekali,”

“Inget aja Shan, nanti aku akan ngalahin kamu, dan dapetin… hati kamu,” ujar Maul kalem.

“Yayaya.. Nggak akan bisa kamu ngalahin ak…u, EEH!!!! Apaaa!?” tanya Shani yang baru sadar dengan apa yang dikatakan Maul.

“Nope, aku duluan,” Maul mengelus pipi Shani lembut. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Shani.

“Shan? Kok pipi lo merah?” tanya Gaby yang baru dateng.

~

Di Ruang Red Camisa.

“Bob, kira-kira tantangan berikutnya apa ya?” tanya Nobi.

Boby yang sedang membaca komik hanya mengangkat bahunya.

Nobi yang tidak mendengar jawaban Boby mendelik.

“Elaah jawab napa,” ujar Nobi.

“Yaa gue kaga tau Nob, kaga sabaran banget sih lu,”

“Ah nggak asik lu,” ujar Nobi. Nobi beranjak meninggalkan Boby sendiri di ruangan.

Begitu Nobi keluar, Beby tersenyum.

Ia mengambil HPnya, mengirimkan sms kepada seseorang.

Di Taman Belakang..

“Kenapa?” tanya seorang gadis yang kini duduk di sebelah Boby.

“Nggak, kangen aja, emang kamu nggak kangen?” ujar Boby.

“Tumben kamu kangen,” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kanvas yang kini sudah terisi setengahnya.

Boby mengerucutkan bibirnya, cemberut, ia menatap gadis di sebelahnya dengan kesal.

Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh.

“Iya iyaa, jangan cemberut gitu jelek tau,”

Boby mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu.

Kiss me now,”

Gadis itu tersenyum.

Kemudian menoleh ke arah Boby. Dan mencium bibir Boby lembut.

“Hehe, makasih,” ujar Boby. Lesung pipinya muncul malu-malu saat Boby tersenyum.

Gadis itu juga tersenyum dan melanjutkan memenuhi kanvasnya.

-TBC-

 

-Falah Azhari-

Iklan

Satu tanggapan untuk “Roulette Love Part 4

  1. ,keynal ini mengingatkan wee akan kinal jajajaja
    ,semakin menarik, tp coba cara penyampainan jgn trlalu byk enter,,gabungin saja
    ,dtunggu krya brikutnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s