X-World (Pt.46) : Fixing Timeline (1/2)

“Suara itu…” Erron menurunkan senjatanya, “…Gary?!!”

Terkjut? Pasti. Baru beberapa hari yang lalu mereka melihat teman mereka tidak sadarkan diri dan berbaring di atas kasur seharian, tapi kini mereka melihat Gary dalam keadaan yang bisa dibilang sehat, sangat sehat malah.

Tatapan benci nampak jelas di mata Gary. Tangan kanannya mengepal erat, siap untuk menghajar si koboy yang ia labeli sebagai musuh dalam benaknya. Kacau, tidak ada yang sadar kalau Gary belum mengetahui situasi saat ini.

Gary bangkit, dan tangan kanannya langsung melesat cepat ke arah wajah Erron. Beruntung bagi Erron, di antara teman-teman Gary, masih ada satu orang yang awas dengan tindakan Gary tersebut. Sebelum kepalan tangan itu dapat mendarat di Wajah Erron, Ve berhasil menahannya.

“Ve?” Gary cukup terkejut temannya menahan dirinya untuk menyerang musuhnya.

“Gary, tahan dulu!” Ucapan Ve sama sekali tidak dihiraukannya. Gary melayangkan pukulan kedua menggunakan tangan kirinya ke arah perut Erron.

*TAP!*

“Gary, hentikan!” Viny berhasil menghentikan tangan kiri Gary tepat waktu. Melihat kedua temannya bersusah payah menahan serangan darinya, Gary akhirnya mengalah dan mundur. Seseorang menepuk pundak Gary dari belakang, dan dengan cepat Gary langsung menoleh dan bersiap memukul orang itu, tapi…

“WOW! WOW! Tenang! Ini aku, Andela.”

“Gary, kau tidak apa-apa kan?” Tanya Ve. Gary tidak menjawab. Ia terus menatap sekelilingnya, menatap teman-temannya dengan heran.

Melihat teman-temannya menatapnya balik dengan tidak wajar, dan 2 dari 3 temannya mencegahnya untuk memukuli musuh bebuyutan mereka membuat Gary berpikir kalau dia masih berada dalam alam bawah sadarnya.

Ve menghampiri Gary dan berusaha menenangkannya, “Tenang, kau bersama kami. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku senang akhirnya kau kembali.”

Ve memeluk orang yang paling ia rindukan dengan erat. Melihat perlakuan Ve pada dirinya, Gary menjadi semakin bingung.

“Ada apaan nih? Gue dimana? Kenapa….”

“Shhtt…” Ve menutup mulut Gary dengan jari telunjuknya, “Akan aku jelaskan semua nanti.” Ucap Ve seraya ia menghapus air matanya.

“Oiya, ngomong-ngomong, kali ini dia *menunjuk Erron* bukan musuh kita.” Ucap Ve. Gary agak ragu dengan ucapan itu, tapi karena teman baiknya yang mengatakannya, jadi ia percaya.

Reuni Gary dengan timnya harus terganggu sedikit begitu mereka mendengar ledakan dari area kumuh Count Avano. Ledakan tersebut tidak lain berasal dari bengkel yang tadi diserang oleh Dena dan pasukannya. Erron memindahkan Anto dan Sagha yang setengah sadar ke dalam mobilnya, sementara Andela pindah ke truk bersama Gary.

Mereka menaiki kendaraan masing-masing dan pergi sebelum Dena kembali mengejar mereka. Mereka sudah tidak bisa kembali ke bar di area kumuh itu karena lokasi bar itu tidak jauh dari bengkel yang diledakkan oleh Dena dan pasukannya. Andela pun kembali memutar otak untuk mencarikan dirinya dan teman-temannya tempat persembunyian baru.

**

“Perempatan di depan belok kanan, lalu lurus terus sampai ke ujung jalan.” Andela menuntun truk yang dikendarai Gary dan juga mobil Erron yang berada tepat di belakang mereka menuju suatu tempat. Setelah hampir 15 menit menempuh perjalanan, mereka tiba di tujuan, sebuah depo kereta.

Mereka menerobos masuk ke dalam depo itu dan memarkirkan mobil mereka di antara gerbong-gerbong kereta bekas di sana. Erron membantu Anto yang masih dalam keadaan lemah untuk berjalan, sementara Gary membantu Sagha. Mereka berjalan menuju ruangan security di depo kereta.

“Letakkan mereka berdua di atas meja panjang itu.” Perintah Andela pada Erron dan Gary. Keduanya meletakkan Anto dan Sagha di atas sebuah meja berukuran besar di dalam ruangan milik security itu. Andela membuka lemari P3K yang ada di ruangan itu, lalu ia mulai menangani luka-luka pada tubuh Sagha dan Anto satu persatu.

“Ger, gue mau ngomong sama lo.” Ucap Erron.

Erron keluar dari dalam ruangan diikuti Gary di belakangnya. Mereka pergi menuju tempat dimana banyak gerbong-gerbong bekas ditimbun.

“Kayaknya disini aman.” Ucap Erron.

“Lo mau ngomong apa? Kenapa harus ngumpet-ngumpet kayak gini?” Tanya Gary.

“Karena temen-temen lo nggak boleh tau.”

“Nggak boleh tau soal apa?” Gary mulai curiga dengan ucapan Erron.

“Lo butuh penjelasan kan?”

“Oh, ternyata lo jago juga baca pikiran gue. Dari tadi itu yang gue tunggu dari Andela, tapi kayaknya denger langsung dari lo bakalan lebih seru.”

“Lo udah tau kan lo sempet ngalamin koma lebih dari 3 hari?” Tanya Erron.

“Oh, jadi yang tadi itu gue koma? EH??!!! Tunggu, gue koma?” Gary sepertinya cukup terkejut dengan kenyataan yang diberitahukan oleh Erron.

Sempat terpikir dalam otaknya kalau Erron mengada-ngada cerita itu, tapi setelah otaknya kembali berputar dan mengingat-ngingat ulang kejadian dengan makhluk-makhluk hijau di alam bawa sadarnya, ia menjadi sedikit yakin Erron sedang tidak berbohong saat ini.

“Lo koma gara-gara lo kena radiasi berlebihan partikel GN dari pedang lo. Lo harus tau, kondisi koma lo itu bukan Cuma ngerepotin temen-temen lo, tapi juga gue.”

“Lah? Kok?”

“Kalo lo nggak koma, mungkin gue nggak bakalan dateng ke sini buat nyelamatin lo.” Mendengar pernyataan Erron barusan, Gary tiba-tiba saja tertawa.

“HAHAY! Gila, gue nggak nyangka lo jago juga ngelawak. Emang ada gitu, pembunuh berdarah dingin sejenis lo mau nyelamatin gue?” Erron menarik pistolnya dengan cepat, lalu ia mengarahkannya ke dahi Gary.

“Jangan ketawa lo brengsek! Gue nggak dateng jauh-jauh ke masa lalu Cuma untuk ngomong bullshit ke lo!”

“Masa lalu? Duh, lo ngomong apaan lagi sih? Makin ke sini gue makin nyium kentalnya bumbu-bumbu imajinasi dari cerita lo.”

“DENGER! GUE BUKAN ERRON BLACK DARI MASA INI, TAPI GUE ERRON BLACK DARI MASA DEPAN!” Pupil mata Gary mengecil. Terlihat jelas dari reaksinya itu, kalau dia cukup terkejut.

“Saat ini lo bukan buronan yang Cuma diincer di zaman ini, tapi lo juga jadi buronan yang diincer di masa depan. Ada orang dari zaman gue yang pengen lo mati.”

“Bentar-bentar. Rrangnya cewek terus pake baju serba hitam gitu bukan?” Tanya Gary.

“Jadi lo udah ketemu sama Dena? Teknisnya bukan dia yang pengen lo mati, tapi orang yang ngirim dia. Cewek yang lo lawan itu Cuma suruhan, dan dia bukan manusia, tapi robot penghancur.”

“Wow. Oke, tapi itu masih belum ngejawab pertanyaan gue. Kenapa lo mau nolongin gue sampe capek-capek balik ke masa lalu?” Erron menurunkan pistolnya dari dahi Gary. Ia mengeluarkan poster buronan yang berisi gambar teman-teman Gary.

“Sejak kapan…?” Tanya Gary

“Masa depan lebih kacau dari yang lo kira, dan penyebab semua masalah di masa depan adalah LO.”

“Kok gue?”

“Lo mau tau siapa yang ngirim Dena buat ngebunuh lo di zaman ini?”

“Siapa?”

“RIZAL!” Lagi-lagi jawaban mengejutkan yang didapat oleh Gary.

“Hah?!! K-Kenapa? Kenapa Rizal pengen ngebunuh gue?”

“Lo nggak sengaja ngebunuh… Orang yang penting bagi Rizal.”

“Orang yang penting bagi Rizal? Siapa?”

“Sori, tapi gue nggak bisa ngebocorin banyak informasi dari masa depan ke lo. Masa depan yang sekarang udah cukup ruwet berkat ulah lo. Kalo lo tau siapa orang yang akan lo bunuh nanti, mungkin masa depan bakalan berubah lagi dan bisa aja jadi lebih buruk dari yang sekarang.”

“Trus maksud dari poster-poster buronan ini apa?”

“Itu nasib temen-temen lo di masa depan.” Gary terdiam sejenak memandangi poster-poster yang berisi gambar teman-temannya. Kemudian dia kembali menanyakan pertanyaan pada Erron.

“Ada banyak yang janggal dari pernyataan lo. Pertama, kalo emang motif Rizal Cuma dendam pribadi dan dia pengen gue mati supaya kita impas, kenapa dia capek-capek ngirim robot pembunuh untuk ngebunuh gue di masa lalu? Kenapa dia nggak ngebunuh gue yang di masa depan aja biar nggak repot?”

“Dia pengen ngerubah masa depan. Kalo lo yang di masa lalu mati, pembunuhan yang lo lakukan nggak akan pernah terjadi dan orang itu akan tetap hidup di masa depan.”

“Hmm… Bener juga. Oke. Itu baru satu kejanggalan. Ada yang lain lagi. Kenapa di poster-poster ini, Cuma ada Ve, Viny, Anto, Sagha, dan Andela? Lo bilang gue juga buronan di masa depan. Apa mereka nggak masang harga untuk kepala gue?”

“Buat apa masang harga untuk nyawa lo? Lo udah mati duluan!” Gary ikut terdiam seperti Erron tadi. Bingung antara harus percaya atau tidak dengan pernyataan yang satu ini. Kejutan kali ini sukses membuat Gary speechless.

“Si Rizal emang pinter. Selain nyelamatin nyawa orang yang penting buat dirinya, dia juga ngejadiin ini sebagai tindakan balas dendam. Bener-bener multi-fungsi.” Jelas Erron.

Gary mulai mengerti konflik yang tengah dihadapi dirinya dan teman-temannya saat ini. Dia sama sekali tidak menyangka kalau salah teman yang ia kenal baik akan berbalik mengincar nyawanya di masa depan hanya karena dendam pribadi.

Gary bersender sejenak pada salah satu bangkai gerbong kereta di sampingnya. Ia mendongakkan kepalanya ke atas dan menutup matanya, berusaha untuk mencerna konflik rumit ini. Gary menghela nafasnya perlahan.

“Ya sudahlah,” Gary membenarkan posisi berdirinya. Ia mengembalikan poster-poster buronan yang dipegangnya ke Erron.

“Kejanggalan ketiga. Masih pertanyaan yang sama, kenapa lo mau nolongin gue? Jangan bilang lo udah tobat karena suatu hal.”

“Rizal di masa depan, sama dengan 5x lipatnya seorang Ezio Auditore. Puas?” Mendengar jawaban Erron, Gary hanya menggeleng.

“Ini yang terakhir. Kalo kita berhasil ngancurin si Dena ini, lalu apa? Rizal bakalan tetap dateng untuk ngejar gue ke zaman ini atau dia bisa aja ngirim suruhan lainnya untuk ngebunuh gue–”

“Dan satu-satunya cara untuk bikin masalah ini selesai ini adalah ngebunuh Rizal. Gue tau apa yang lo pikirin,” Potong Ezio.

“Soal Rizal di masa depan, lo percayain aja sama temen-temen lo yang di masa depan sekarang. Mereka yang bakalan ngurus itu, dan setelah gue selesai di sini dengan Dena, gue juga akan balik lagi ke masa depan untuk bantuin mereka ngurusin Rizal.” Jelas Erron.

“Lo nggak usah mikirin banyak hal. Kerjaan lo sekarang adalah bantuin gue nyingkirin Dena dari bokong lo, DAN LO HARUS TETAP HIDUP! Awas kalo lo sampe mati!” Kata-kata terakhir Erron terdengar tidak wajar. Seolah ada pesan tersembunyi di balik kata-kata itu yang ingin disampaikan Erron kepada Gary.

Gary mengangguk paham. Setelah bicara empat mata, mereka berdua kembali menemui yang lain untuk membahas rencana mereka selanjutnya dalam menghadapi Dena. Dengan kembalinya Gary dalam tim, tentunya akan ada sedikit perubahan rencana.

“Gue nggak pernah memprediksi kalo Gary bakalan balik ke tim secepat ini. Oleh karena itu, rencana gue akan maju sedikit lebih cepat.” Ucap Erron.

“Lalu sekarang apa?” Tanya Viny.

“Waktunya nyingkirin Dena selama-lamanya,” Semua langsung menatap Erron dengan serius.

“Denger! Gue nggak bisa lama-lama di sini! Gue juga masih punya kerjaan di masa depan yang harus gue tuntasin. Jadi setelah selesai dengan Dena, gue serahin sisa masalah di sini ke lo semua.” Ucap Erron.

“Gue paham sama urusan lo di masa depan. Tenang aja, lo bisa serahin sisanya ke kita setelah urusan kita sama Dena selesai.” Ucap Gary.

“Masa depan itu tentatif. Nggak pernah fix, selalu berubah-rubah, dan itu semua tergantung dari apa yang lo lakuin hari ini, dan saat ini. Gue harap konflik ini nggak bakalan bikin lo semua jera untuk nyari mati demi hal yang ingin lo perjuangin.” Ucap Erron.

“Gila… Sejak kapan Erron ngikutin jejak Mario Teguh?” Bisik Sagha pada Anto.

*DUAR!!!*

Sebuah peluru melesat dengan cepat ke arah Sagha. Peluru itu tidak mengenai tubuhnya, tapi Sagha dapat dengan jelas merasakan hembusan kuat saat peluru itu lewat di samping telinganya.

Itu bukan keberuntungan, tapi Erron memang sengaja membuat tembakannya meleset. Semua orang di ruangan hanya diam melihat kejadian tersebut termasuk Sagha sendiri.

“Yang selanjutnya nggak bakalan meleset lagi dari kepala lo,” Erron memasukkan kembali revolvernya ke dalam saku di pinggangnya.

“Oke, masuk ke rencana. Ger, lo bisa nahan Buster Mode berapa lama?” Tanya Erron.

“Hmm… Sekitar 7-15 menit. Paling lama 20, tapi biasanya kalo udah menjelang segitu, pasti ada anggota badan gue yang kaku.”

“Oke, 10 menit. Lo berdiri di tengah jalan dalam keadaan Buster Mode. Partikel GN yang keluar dari pedang lo bakalan mancing Dena untuk dateng ke sini.” Ucap Erron.

“Gila, jenius banget rencana lo. Dena belom dateng, gue udah keburu dikejar sama polisi sekitar karena disangka teroris. Serius, nggak ada rencana yang lebih bagus?” Keluh Gary.

“Udah, banyak ngeluh lo. Gue udah mikir soal itu, dan kemungkinan lo dikejar polisi cuma 10%. 90%-nya, polisi-polisi itu pasti bakalan lari ketakutan bareng warga yang lain. Itu yang kita harapin dari mereka. Kalo mereka lari dan kota ini kosong, nggak bakalan ada warga sipil yang terlibat di pertempuran nanti.” Ucap Erron.

“Benar juga. Kita tidak mau perang ini berlangsung seperti saat kita melawan Lucifer dimana warga kota banyak dijadikan sandera oleh para setan.” Ucap Ve.

“Oke, fix! Kita pake rencana ini.” Serentak semua mengangguk.

Mereka pergi meninggalkan depo kereta menuju kota untuk melakukan survei lokasi terlebih dahulu. Untuk rencana ini, mereka memerlukan daerah kota yang memiliki banyak rute-rute alternatif berupa gang-gang kecil, karena pertempuran kali ini akan melibatkan aksi kejar-kejaran menggunakan kendaraan.

Setelah berpencar dan melakukan survei, mereka sepakat akan menggunakan kawasan Barat Daya kota. Selain memiliki banyak gang-gang kecil yang bisa mereka manfaatkan untuk mendukung mereka selama pertempuran, kawasan itu juga memiliki banyak basement umum yang bisa mereka manfaatkan untuk bersembunyi seandainya keadaan berbalik berpihak pada Dena.

Briefing terakhir pun mereka lakukan di salah satu basement umum sebelum eksekusi di mulai.

“Lo udah tau kan spot buat umpannya?” Gary mengacungkan jempolnya pada Erron.

“Bagus. Yang lain siap-siap di mobil masing-masing. Sagha, lo standby di sini sama Peterblit. Anto, lo ikut Viny di Aston Martin. Andela bareng gue. Ve, lo bisa kan sendirian di Ferrari?” Tanya Erron.

Ve mengangguk, dan mereka semua berpisah menuju spot masing-masing. Gary berjalan ke tengah perempatan kota dan di sana ia berdiri sambil menggenggam GN-Swordnya. Awalnya hanya sedikit penduduk kota yang memperhatikan dari Gary. Kebanyakan sibuk dengan urusan masing-masing.

Begitu Gary menyalakan Buster Mode-nya, para warga langsung lari ketakutan menjauhi dirinya termasuk mobil-mobil yang hendak berjalan melewati perempatan tempat Gary tengah berdiri. Mereka semua berputar balik dan menjauh. Sempat terjadi sedikit kerusuhan, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekati Gary.

Selang 3 menit, Gary masih dalam keadaan baik dengan Buster Modenya. Area sekitar sudah bisa dibilang steril, karena sudah tidak ada warga sipil yang terlihat. Dari dalam mobil, Erron melihat kejadian itu sambil tersenyum. Ia menyalakan radar yang ada pada dasbor mobilnya untuk memantau keadaan.

Menjelang 7 menit, belum juga ada tanda-tanda dari Dena. Erron dan yang lain masih bersabar menunggu di dalam mobil masing-masing. Sementara itu, Gary merasakan sebuah kejanggalan dalam dirinya.

Ia merasa kali ini ada yang berbeda dengan Buster Mode. Apa mungkin ini efek karena ia baru menggunakan Buster Mode lagi atau mungkin ini efek pasca koma yang terjadi pada tubuhnya?

Lamunan Gary tiba-tiba pecah saat telinganya menangkap bunyi sirine dari arah kiri. Hebat, gangguan rencana yang tidak disangka-sangka tengah menuju ke arahnya, polisi.

“Ron, ada polisi. Gue tunda dulu apa gimana nih?” Tanya Gary lewat walky talky.

“Tahan dikit lagi. Mereka udah hampir sampai ke sini.”

“Mereka?”

“Sebelah kiri lo, Ger!” Teriak Erron dengan tiba-tiba. Semua orang yang ada di jalur komunikasi langsung kaget mendengar teriakan Erron.

Radar milik Erron mendeteksi kedatangan Dena. Walaupun hanya sebuah sinyal kecil dan lemah, tapi Erron sangat yakin kalau itu adalah Dena. Memangnya siapa lagi yang mau datang dari masa depan ke masa ini? Terlebih lagi, di domain ini.

Selang beberapa saat, sinyal tersebut tidak mengalami perubahan. Entah kebetulan atau bagaimana, ketika Gary memberi kabar tentang kedatangan polisi yang datang ke arahnya, tepat saat itu tiba-tiba saja sinyal yang dideteksi oleh Erron berubah menjadi kuat.

Gary menengok ke kiri, dan ia langsung terkejut. Perhatiannya tidak tertuju pada mobil polisi yang bergerak menujunya saat ini, walaupun saat ini 2 orang polisi di dalam mobil itu akan jadi masalah baginya jika mereka tiba dan menangkapnya karena menganggu ketertiban umum.

Hal yang membuatnya terkejut, berada tepat di belakang mobil polisi itu. Sebuah portal besar berwarna hitam terbuka dan mengeluarkan banyak kilat berwarna ungu yang menyambar benda-benda di sekitar.

Dari dalam portal itu muncul mobil sport hitam yang diikuti oleh puluhan mobil silver bergaya futuristik dengan roda anti-gravitasi. Sepertinya ini adalah nasib buruk bagi kedua anggota polisi itu. Mobil sport hitam yang tak lain dikendarai oleh Dena melihat mobil polisi yang ada di depannya sebagai gangguan.

Sisi kiri dan kanan bemper depan mobil Dena terangkat, memperlihatkan 2 buah lubang pelontar roket. 2 buah roket meluncur keluar dari dalam lubang itu, dan mobil polisi yang berada tepat di depan Dena hancur seketika.

Ve yang mengetahui Gary dalam bahaya langsung mengoper persneling mobilnya dan menginjak pedal gas. Ferrari yang dikemudikan Ve bergerak cepat menghampiri Gary. Bukan hanya Ve yang langsung bergerak begitu mendengar ledakan mobil polisi barusan, tapi juga Erron.

Melihat keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan rencananya, Erron memutuskan untuk mengambil tindakan spontan sebelum satu-satunya tiket yang dapat menyelamatkan masa depan hilang.

“Gha, Vin, keluar! Perubahan rencana!” Mendengar perintah Erron, Viny dan Sagha pun ikut bergerak menuju Gary dipandu radar yang terpasang di mobil mereka.

Kalah dalam segi jumlah, apalagi musuh menggunakan kendaraan sementara Gary tidak, satu-satunya opsi Gary adalah lari dari pertempuran kalau ia masih ingin hidup. Akan tetapi, melihat kendaraan Dena dan pasukannya yang berjalan berbaris ke arahnya membuatnya berpikir ulang untuk sejenak.

Ini kesempatan bagus untuk menjatuhkan Dena dan pasukannya dalam sekali serang menggunakan GN-Sword-nya, tapi apabila gagal, sebuah konsekuensi buruk mau tidak mau harus diterimanya.

“Ah, sialan! Oke lah, FIX!” Gary merubah GN-Sword-nya ke rifle mode. Masih dalam keadaan Buster Mode, ia mengisi tenaga GN-Sword-nya untuk melakukan aksi nekat. Sebuah pertaruhan, 1 kesempatan, 1 kali tembakan.

“Ini pertama kali gue mohon-mohon sama keberuntungan gue. Oke, keburuntungan, jangan bikin gue kecewa kali ini.” Tenaga GN-Sword telah terisi penuh. Ia mengarahkan moncong GN-Sword-nya ke arah kendaraan Dena dan pasukannya.

“BEGO! LO MAU NGAPAIN?!!”

*BOOOOM!!!*

Gary menarik pelatuk GN-Sword-nya, dan sinar laser bertenaga partikel GN dilepasakan oleh senjatanya. Sebelum sinar laser itu dapat menghancurkan Dena dan pasukannya menjadi berkeping-keping, kap depan mobil Dena terbuka dan muncul sebuah senjata kecil dari dalamnya.

Senjata berbentuk antena kecil itu menembakkan sebuah energi listrik yang menciptakan portal berukuran kecil. Tidak diduga, ternyata portal berukuran kecil itu mampu membuat tembakan Gary gagal. Sinar GN yang ditembakkan Gary diserap total oleh portal itu.

Entah dimana portal itu berujung, tapi Gary telah dikecewakan oleh keberuntungannya. Dena dan pasukannya menambah kecepatan mereka, begitu juga dengan Erron dan teman-teman Gary yang lain. Setelah melakukan serangan nekat barusan, kondisi tubuh Gary langsung drop dan kali ini anggota badannya yang mengalami kaku adalah kedua kakinya.

Ve hampir sampai, begitu juga dengan Dena yang berada paling depan dari barisan pasukannya. Keduanya mengeluarkan senjata yang terpasang di mobil masing-masing. Siapakah diantara mereka yang berhasil mendapatkan Gary terlebih dahulu?

Ve memutar kemudinya ke kiri, dan dengan cepat ia kembali membantingnya ke kanan untuk melakukan drift. Ferrari miliknya melaju dalam keadaan horisontal ke arah Gary yang terbujur kaku di tengah perempatan jalan.

“GARY!!!” Teriak Ve dari dalam mobil. Gary memaksa kedua kakinya untuk bergerak mendekati mobil Ve, tapi kedua kakinya tidak mau bergerak. Kaku yang dialaminya tidak mengijinkan kakinya bergerak satu langkah pun dari posisinya sekarang.

Skenario menegangkan itu mendadak berubah menjadi kekecewaan setelah Dena berhasil mendapat Gary lebih dulu di banding Ve. Dena mengikat Gary di samping bangku kemudi dengan tali baja agar Gary tidak bisa kabur. Akhirnya, perintah yang tertanam di program Dena hampir tercapai.

“Aku tidak akan membiarkan dia membunuh Gary!” Ve mengoper persnelingnya ke angka 4 dan membetulkan posisi mobilnya untuk mengejar Dena.

“Mereka menangkap Gary!” Ucap Ve lewat walky talky.

“APA?!! Kalo gitu jangan sampe mereka lepas!!!”

Erron dan teman-teman Gary yang lain berpindah target. Kini mereka semua beralih mengejar Dena. Saat ini Ve lah yang paling dekat dengan Dena karena ia berada tepat di belakangnya dan pasukannya. Menyadari seorang pengekor berada tepat di belakangnya, Dena menyuruh beberapa pasukannya untuk mengurus Ve.

“MENYINGKIR DARI HADAPANKU!!!” Ve dengan agresifnya menghancurkan 5 mobil silver yang berusaha menghancurkannya di dalam kendaraannya. Jarinya bergerak dengan lihai memainkan tombol senjata pada dasbor mobil sambil menggerakan kemudi.

Dena kembali menyuruh beberapa anak buahnya untuk menjatuhkan Ve, tapi sayang, sebelum mereka bisa berbalik arah, Peterblit Sagha datang dari pertigaan yang mereka lewati dan berhasil menabrak 2 mobil yang berniat melenyapkan Ve. Viny, Sagha, dan Erron berhasil menyusul Ve dan juga Dena. Sekarang Ve tidak lagi sendiri dalam kejar-kejaran ini.

“Ve, Viny, lo berdua terobos barisan mereka. Sagha sama gue yang bakalan nanganin anak buah Dena.” Perintah Erron.

Ve dan Viny mengoper persneling mereka ke angka 6, dan mobil mereka melesat dengan kecepatan tinggi menerobos barisan mobil-mobil silver di belakang Dena. Sagha dan Erron berusaha mengimbangi kecepatan konvoi mobil Dena sambil menjatuhkan anak buah Dena satu persatu dengan senjata di mobil mereka.

Ve dan Viny berhasil menyusul mobil hitam yang dikendarai Dena, tapi tidak diketahui oleh keduanya, ternyata Dena sudah siap dengan kejutan baru agar bisa lolos dari mereka berdua. Senjata kecil berbentuk antena yang terpasang di kap mobilnya mengeluarkan kilatan-kilatan kecil. Sesaat kemudian, senjata itu menembakkan sinar lurus ke depan dan sebuah portal terbuka di ujung jalan.

“Portal? Apa yang dipikirkan robot wanita itu?” Ucap Viny.

“Apapun itu, pokoknya kita nggak boleh biarin dia lolos!” Ucap Anto.

Dena meningkatkan kecepatan mobilnya, begitu juga dengan teman-teman Gary yang berada tepat di belakang Dena. Entah apa yang dipikirkan Anto. Bukannya membantu memikirkan solusi, ia malah membuka pintu Aston Martin yang ditumpanginya, dan naik ke atap mobil.

“Hei! Apa yang mau kau lakukan di atas sana?!!” Viny kaget melihat ulah Anto.

“Deketin mobil Dena sebisa lo, Vin! Gue bakalan ngelompat naik ke mobilnya dan gagalin dia buat kabur!” Ucap Anto.

“Hei, turun! Kita bisa cari cara lain untuk menggagalkan Dena untuk kabur!”

“Nggak ada waktu! Lo mau perjalanan kita selesai di sini tanpa Gary?”

Mendengar ucapan Anto, Viny seperti mendapat sebuah dorongan. Dorongan untuk membantu Anto melakukan aksi nekatnya. Untuk sesaat, dunia seperti bergerak lebih lambat bagi Viny. Pikirannya berusaha menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambilnya.

Viny mengangkat kepalanya, menarik nafas panjang, lalu membuangnya. Ia meraba-raba sesuatu di bawah tempat duduknya, sebuah pegangan. Ia menarik pegangan itu, dan sebuah laci kecil yang berada di bawah bangku kemudi terbuka. Ia mengambil tali baja yang ada di dalamnya dan melemparnya kepada Anto yang ada di atap mobil.

“Salah satu roket di dalam pelontarku memiliki moncong tajam yang bisa mencapit benda lain. Ikat tali baja itu pada leher roket dan ornamen lingkaran di atap mobil. Aku tidak bisa mengejar Dena dengan kecepatan mobilnya yang seperti itu, tapi mungkin aku bisa memperlambatnya sedikit dan membawanya dekat padamu.” Ucap Viny.

“Sip!” Tanpa membuang-buang waktu lagi, Anto memeriksa pelontar roket yang berada tepat di belakang pantatnya.

Ia berhasil menemukan roket yang dimaksud oleh Viny. Ia mengikat tali baja yang tadi diberikan Viny, lalu ia memberitahu Viny bahwa roket yang ia maksud ada di lubang pojok kanan bawah atau lubang nomer 4.

Viny bergerak sedikit ke kiri agar posisi mobilnya benar-benar berada tepat di belakang mobil Dena. Setelah menyesuaikan posisi, ia langsung menekan tombol nomer 4 yang ada di kemudi mobilnya.

Roket tersebut meluncur dari pelontar dan hampir mengenai kepala Anto. Untung saja anak itu dalam posisi menunduk. Kalau tidak, pasti tubuhnya sudah melayang bersama roket tadi. Roket yang diluncurkan itu berhasil tertancap di bagian belakang mobil dan capit di ujung roket bekerja cukup efektif untuk menahan gerakan Dena.

Ternyata mengandalkan ornamen di atas mobil sebagai penahan bukanlah ide bagus. Baru tertarik sedikit, ornamen tersebut sudah terlihat renggang dan mungkin akan lepas dalam hitungan detik. Anto memutar otak, dan dalam situasi kepepetnya, ia kembali melakukan hal nekat.

Ia mengambil bagian tengah tali dan menggulungkan bagian itu pada tangan kananya. Melihat tindakan nekat Anto yang kedua Viny buru-buru menginjak rem dan memindahkan persnelingnya ke ‘R’ lalu menginjak pedal gasnya.

“Anto! Pegangan yang erat! Kau cukup tahan tali itu agar tetap terhubung dengan kita.” Ucap Viny dari dalam mobil.

Dengan sekuat tenaga, Anto berpegangan erat dengan atap mobil menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya berusaha menahan tali baja yang menghubungkan Aston Martin Viny dengan kendaraan milik Dena.

Melihat mobil Dena tertahan, Ve makin gencar mengejar Dena. Ia hampir bisa mendekatinya, tapi lagi-lagi ia mendapat gangguan. Dari portal yang dibuka Dena, muncul mobil-mobil silver yang datang dan menembaki Ve dengan roket kendali.

Ve mengerahkan 2 buah Gatling Gun yang terpasang di kiri dan kanan mobilnya untuk menghancurkan roket-roket itu. Usahanya berhasil, tapi 2 roket selamat dan masih mengejarnya. Buru-buru Ve memutar kemudinya dan berjalan balik untuk menghindari kedua roket itu.

Tertinggal di jauh di belakang bukanlah jaminan tidak mendapat gangguan. Mobil-mobil silver yang tadi mengganggu Ve sekarang mengincar Erron dan Sagha. Erron maju melewati Sagha. Apa yang akan dilakukannya?

Dia menekan salah satu tombol senjata yang ada di bawah kemudinya. Roket-roket kecil yang ada di belakang jeepnya meluncur ke atas dan sesaat kemudian mereka turun ke bawah, ke arah mobil-mobil silver itu.

*BOOM!!!*

“Itu tombol yang lo bilang nggak boleh gue pencet pas latihan, Ron?” Tanya Sagha.

“Itu tombol biru. Yang hijau nggak bakalan gue pake, kecuali kalo emang darurat.”

Kali ini giliran Sagha. Melihat Ve yang bergerak kembali ke arahnya diikuti 2 buah roket kendali di belakangnya, Sagha mengerahkan Vulcan Cannon yang terpasang di atas kargo truknya. Vulcan Cannon itu berputar 30 derajat searah jarum jam dan langsung menembak hancur kedua roket yang membuntuti Ferrari Ve.

“Terima kasih bantuannya.” Ucap Ve.

“Sama-sama cantik.”

“Masih sempet bercanda juga lo.” Ucap Erron.

“Abisnya pada serius. Yaudah, gue bercandain dikit biar agak santai.”

Ve, memutar mobilnya. Ia bersama, Sagha, dan Erron kembali mengejar Dena yang saat ini terlibat aksi tarik menarik dengan mobil Viny.

Kembali ke Viny. Di saat ia pikir kalau ia hampir bisa mendapatkan Dena, sebuah insiden terjadi pada Anto.

“Vin! Gue… UGH! Udah nggak kuat nahan talinya!”

Tepat setelah Anto menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba tali baja yang dipegangnya mendapat sebuah hentakan kuat.

Dena mengaktifkan NOS pada mobilnya, membuat ornamen di atas mobil Viny lepas karena tertarik, sekaligus membuat Anto terpental ke atas mobil Dena. Belum selesai dengan pendaratan kurang mulus yang harus dialaminya, Anto kembali bernasib sial.

Dena yang berhasil melepaskan dirinya dari cengkraman Aston Martin Viny langsung tancap gas dan masuk ke dalam portal… Bersama GARY, dan juga ANTO yang berada tepat di atas mobil Dena.

“ANTO!!!”

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Note from Author :

Heyhow!!! Selamat (*Pagi/Siang/Sore/Malem) para readers! Gimana kabarnya? Pasti baik dong, ye gak tjoy? :v hehehehe. Gak kerasa ya cerita ini umurnya udah 1 tahun 12 hari.

Yap, tepat tanggal 17 Juni 2015 cerita ini mulai mengudara di KOG. Seiring waktu, cerita ini ngalamin banyak perubahan dan gue sebagai penulis ngerasain banget perubahan cerita ini dari segi plot, gaya tulisan, sampai yg paling baru akhir-akhir ini adalah sudut pandang cerita atau POV.

Sebagai penulis, gue mau berterima kasih, pertama-tama ke Allah SWT karena atas berkat rahmatnya kita masih diberikan kesehatan hingga saat ini dan semoga seterusnya juga. Ehem… Sori, template abis ngetikin pidato orang jadi begini nih :v.

Next, terima kasih buat owner sekaligus admin blog, Bang Ical, yang udah ngasih ijin buat numpang posting di blognya. Lastly, big thanks buat para readers aktif ataupun silent readers yang udah ngikutin cerita gue dan ikutan ngasih komen dan saran buat kelanjutan cerita. I really appreciate you guys!

Sebelum note ditutup, gue mau minta maaf berhubung rabu depan udah lebaran, cerita ini bakalan mangkir dulu. Authornya mau jalan-jalan dulu ke rumah-rumah saudaranya XD hehehehe. Doakan ku dapat THR yang banyak ya gaezz *plak!

Sebagai penutup, jangan bosen-bosen main ke KOG ya… :v (y) wkwkwk

Minal Aidin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. –Dari Author (Bacanya pas lebaran aja biar momennya pas :v tapi kalo udah dibaca duluan, yaudah gpp wkwkwk ntar dibaca lagi aja.)

NB : *Coret yg tidak perlu :v

Ciao!~

Iklan

5 tanggapan untuk “X-World (Pt.46) : Fixing Timeline (1/2)

  1. Kece mad gila-gila gue baca tengah malam gini jadi merinding sama action nya wkwk , by the way anyway busway gue juga minta maaf mad kalo suka ngerepotin situ buat project ff yang baru insyaallah udah lebaran tuh ff udah di share wkwk xD

    Suka

  2. First, siapa orang kesayangan Rizal yang dibunuh Gary?
    Second, apa alasan Erron (masa depan) buat bantuin Gary? Dan gimana jadinya lalo semisal Erron (masa depan) ketemu Erron (masa sekarang) :v
    Third, ini pertanyaan yang paling ganjel. Siapa yang udah bikin Time Machine untuk Time Travel?
    Oke, next om! Gak ada bosen² buat mampir ke ff ini :v

    Suka

    1. 1st : Hehehe, sorry. No spoiler dulu :v disimpen dulu ya yg ini untuk jadi surprise kedepan

      2nd : Kan Erron udh bilang, “Rizal di masa depan 5x-nya Ezio”. Ditambah lagi Rizal jadi diktator (hampir) seluruh Battleworld dan bagi dia di masa depan, seluruh dunia adalah musuh. Erron jadi salah satu orang yg diburu Rizal, dan alasan itu yg bikin dia mau pindah pihak utk sementara waktu. Selain itu Erron juga adalah orang yg paling ‘least expected’ buat nolongin Gary, jadi Rizal nggak akan curiga klo ternyata temen2 Gary di masa depan ngirim orang buat gagalin rencana besarnya untuk ngebunuh Gary di masa lalu.

      Klo erron (masa lalu) ketemu erron (masa depan), keduanya bakalan menghilang & gak akan ada pernah sejarah ttg erron. Semua ingatan ttg Erron dipikiran orang2 yg udh kenal dia. So, he’s like going to disappear TOTALLY if that is ever happened.

      3rd : It’s Battleworld, nothing impossible. Mungkin nanti gue akan bikin side-story utk ngejelasin gimana Erron (masa depan) pergi ke masa lalu utk nyelamatin Gary, tapi utk skarang fokus ke plot utama dulu.

      Terima kasih atas pertanyaan dan komentar 😀

      Suka

      1. Ralat :

        *Semua ingatan ttg Erron dipikiran orang2 yg udah kenal dia bakalan ilang total. So he’s going to disappear TOTALLY as if it never happened or he ever existed

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s