Vepanda, part 10

“Hallo za,” ucap Sinka setelah Rezza mengangkat telfonnya.

“Iya ada apa?” tanya Rezza.

“Kamu udah tau kabar kak Ve?”

“Udah.”

“Bagus deh kalo gitu.”

“Udah cuma mau nanya itu doang?”

“Enggak sih, aku juga mau kasih tau sesuatu.”

“Apaan?”

“Barusan kak Ve datengin aku terus dia nyuruh aku buat jagain kamu, aku gatau maksut kak Ve apaan.”

“Sorry ya sin, gue nggak ada waktu buat becanda, bye.” ucap Rezza menutup telfon dari Sinka.

“Kok malah dimatiin sih!” ucap Sinka kesal.

Tuut… tuut… tuut…

Sinka pun kembali menelfon Rezza.

“Apaan lagi?” tanya Rezza saat mengangkat telfon dari Sinka.

“Kok dimatiin sih tadi?!” tanya Sinka kesal.

“Kan gue udah bilang, gue nggak ada waktu buat becanda!”

“Siapa juga yang becanda, aku serius!”

“Ohh….”

“Terserah kamu mau percaya apa enggak, yang penting aku udah nyampein apa yang kak Ve bilang ke aku,”

“Gue nggak percaya, bye,” ucap Rezza lalu kembali menutup telfon dari Sinka.

“Nyebelin banget sih!” ucap Sinka kesal lalu membuang smartphone-nya ke sebelah kepalanya.

“Bodo ah!” ucap Sinka kesal lalu ia mulai tertidur.

-di rumah Melody-

“Aku pulang…,” teiak Melody saat masuk ke rumah.

Setelah menutup pintu antara garasi dan ruang makan, Melody berjalan ke kamarnya. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat ada dua kardus dan satu tas besar disana. Ia pun membuka salah satu kardus itu dan melihat beberapa pakaian di dalamnya.

“Ini punya siapa sih?” tanya Melody heran.

“Itu baju aku, mulai sekarang aku nggak bakalan ngekos lagi,” ucap Rezza keluar dari kamarnya dan menghampiri Melody.

“Beneran?” tanya Melody.

“Iya lah, ngapain juga aku bohong,” jawab Rezza lalu mengangkat dua kardus tadi.

“AAAHH… kakak seneng banget dengernya!” teriak Melody sambil memeluk Rezza.

“Kaget njirr,” ucap Rezza melepaskan pelukan Melody.

“Maaf hehe…,” ucap Melody nyengir.

Rezza lalu berjalan ke arah kamarnya, namun saat menaiki tangga, ia berhenti dan menoleh ke arah Melody yang sedang berdiri menatapnya.

“Kakak dari mana aja kok baru pulang?” tanya Rezza.

“Kakak abis dari rumah sakit,” jawab Melody lalu menunduk.

“Udah gausah sedih, mendingan kak Melody bantuin aku angkat itu tas,” ucap Rezza lalu berjalan ke kamarnya.

“Kamu udah tau soal-“ tanya Melody.

“Iya aku udah tau soal kak Ve,” potong Rezza.

“Yaudah kalo gitu,” ucap Melody lalu mengangkat satu tas pakaian Rezza dan membawanya ke kamar Rezza.

“Kamu besok dateng kan ke pemakamannya Ve?” tanya Melody sambil meletakkan tas Rezza di sebelah tempar tidur Rezza.

“Nggak ah,” jawab Rezza sambil membuka kardus dan mengeluarkan isinya ke atas kasur.

“Kenapa? Kamu masih nggak berani ke pemakaman?” tanya Melody duduk di kasur dan menatap Rezza.

“Tuh kakak tau sendiri.”

“Tapi ini pacar kamu sendiri za, masa kamu gamau dateng?”

“Iya aku tau, tapi aku tetep nggak bakalan dateng.”

“Yaudah deh kalo gitu,” ucap Melody sambil berdiri lalu pergi meninggalkan Rezza.

Setelah selesai mengeluarkan semua pakaian dan barang-barangnya, Rezza duduk di lantai sambil menyandar ke tempat tidur dan memikirkan perkataan Melody tadi. Setelah berfikir cukup lama, Rezza memutuskan untuk datang ke pemakaman Ve.

Karena hari ini adalah hari pemakaman Ve, maka Rezza dan Melody ijin tidak berangkat sekolah. Mereka langsung datang ke rumah Ve bersama dengan Yupi, Sinka dan juga Najong.

“Liat Rezza nggak?” tanya Melody menghampiri Yupi, Sinka dan Najong yang sedang berbincang di teras rumah Ve.

“Bukannya tadi sama kak Melody ya?” tanya Sinka.

“Iya tadi dia ikut aku tapi gatau tiba-tiba malah ilang,” jawab Melody.

“Biar aku yang cariin dia, kak Melody duduk aja dulu nggak usah khawatir,” ucap Najong sambil berdiri lalu pergi meninggalkan Melody, Sinka dan Yupi.

“Gimana nih? Bentar lagi Ve dibawa ke pemakaman,” ucap Melody mulai panik.

“Udah kak Melody tenang aja, palingan juga Rezza lagi buang aib bentar,” ucap Yupi menenangkan Melody.

“Buang air kali yup bukan buang aib,” ucap Sinka sewot.

“Eh?! Salah ya? Maaf hehe…,” ucap Yupi cengengesan.

“Kalian jangan becanda dong! Ini lagi gawat!” ucap Melody kesal.

“Iya maaf kak,” ucap Sinka dan Yupi bersamaan.

“Ini Najong juga kemana sih?! Lama banget nyarinya,” tanya Melody kesal.

“Iya kemana sih dia?” tanya Sinka pada Yupi.

“Kenapa kamu nanya aku? Kan aku dari tadi disini bareng kamu!” jawab Yupi kesal.

“Udah-udah, mendingan sekarang kamu telfon Najong yup,” suruh Melody pada Yupi.

“Iya kak,” jawab Yupi lalu mengeluarkan smartphone-nya dan menelfon Najong.

“Kamu juga sin, sekarang kamu telfon Rezza,” suruh Melody pada Sinka.

“Eh?! I-iya kak,” jawab Sinka lalu menelfon Rezza.

Drrrtttt… drrrtttt…

“Hp siapa tuh?” tanya Melody lalu mencarinya.

Sinka dan Yupi hanya mengangkat kedua bahu mereka menandakan mereka tidak tau.

“Ini kan hpnya Rezza,” ucap Melody lalu mengambil smartphone Rezza yang tergeletak di bawah kursi.

“Rezza kemana sih kok hpnya malah ditinggal disini?!” tanya Melody lalu me-reject telfon dari Sinka.

“Kamu dimana?” tanya Yupi setelah Najong mengangkat telfonnya.

“Aku lagi di belakang rumah,” jawab Najong.

“Rezza udah ketemu belom?”

“Belom, aku udah cari di dalem, depan, samping, atas, bawah rumah tetep nggak ketemu.”

“Gimana yup?” tanya Melody.

“Nggak ketemu kak,” jawab Yupi dengan wajah pasrah.

“Yaudah deh, Najong suruh kesini lagi aja, Ve udah mau dibawa ke pemakaman,” ucap Melody kecewa.

“Kamu kesini aja, kak Ve udah mau dibawa ke pemakaman,” ucap Yupi lalu menutup telfonnya.

Setelah Najong datang, mereka berempat pun keluar dan pergi ke pemakaman.

Terlihat banyak sekali orang yang datang ke pemakaman Ve, mulai dari keluarga, guru, teman, sahabat, hingga penjual tahu bulat keliling juga ikut datang ke pemakaman Ve. Mereka semua berkumpul mengitari tempat peristirahatan terakhir Ve dengan penuh kebahagiaan karna saat itu tiba-tiba terjadi hujan uang 100 ribuan. Oke itu absurd banget. Mereka berkumpul dengan penuh kesedihan saat upacara pemakaman dimulai.

Di sebuah tempat yang cukup jauh dari upacara pemakaman Ve, terlihat sepasang kasih yang sedang bermesraan di atas kursi. Mereka adalah anak alay yang nggak punya modal buat pacaran di tempat umum jadi mereka pacaran di kuburan. Oke itu salah fokus. Di bawah pohon terlihat seseorang yang berpakaian serba hitam dan kaca mata yang juga tidak kalah hitam sedang memperhatikan upacara pemakaman Ve dari jauh. Dia bukan malaikat pencabut nyawa, dia adalah Rezza. Ia sedang bersandar di motornya sambil memperhatikan upacara pemakaman Ve dari jauh.

Dengan gaya yang cool ia berjalan beberangkah ke depan dan tanpa ia sadari, ia terpleset masuk ke dalam got dan gajadi keren. Oke itu becanda, setelah berjalan beberapa langkah ke depan, Rezza berhenti lalu mengeluarkan sebuah vape (rokok elektrik) dan melemparkannya ke arah sepasang alay tadi dan keributan pun langsung terjadi. Itu becanda (lagi), karena terlalu asik ribut dengan pasangan alay tadi, eh maksutnya menghisap vape, Rezza tidak menyadari jika ada seseorang berdiri di sampingnya.

Rambut panjang, wajah putih tapi leher hitam, celana gemes dan tank top dengan warna yang mencolok. Oke gue (author) salah sebut ciri-ciri, itu adalah ciri- ciri cewek dari pasangan alay yang tadi ribut dengan Rezza. Seseorang yang berdiri di samping Rezza itu berambut panjang, tinggi dan memakai baju serba putih.

“Kenapa kau tidak ikut kesana anak muda?” tanya orang yang berada di sebelah Rezza.

“Eh?! Kok malah Pak Ustadz yang muncul? Padahal kan saya berharap cewek bukan Pak Ustadz,” jawab Rezza setelah menoleh ke arah Pak Ustadz yang berdiri di sebelahnya.

“Ada pepatah mengatakan, tidak semua yang kita harapkan selalu sesuai dengan kenyataannya,” ucap Pak Ustadz dengan suara yang di berat-beratkan.

“Iya Pak Ustadz, kadang saya berharap kalo saya ini penjual tahu bulat, bukannya seorang pelajar.”

“Wahai anak muda, janganlah engkau berharap menjadi seorang penjual tahu bulat.”

“Kenapa Pak Ustadz?”

“Karena menantu saya adalah penjual tahu bulat, maka dari itu saya sarankan kau jangan berharap menjadi penjual tahu bulat.”

“Emang kenapa kalo menantunya Pak Ustadz penjual tahu bulat terus saya juga jualan tahu bulat?”

“NTAR PELANGGAN MENANTU SAYA JADI BERKURANG KAMPRET!!”

“Lahh?” ucap Rezza sambil memandang Pak Ustadz dengan heran.

Karena Rezza merasa kesal dengan Pak Ustadz, dia pun berinisiatif untuk mengerjai Pak Ustadz. Saat Pak Ustadz menatap ke arah upacara pemakaman Ve, dengan cepat tangan Rezza meraih sorban yang ada dileher Pak Ustadz dan mencekiknya.

Oke itu kelewatan sih ngerjainnya, Rezza mengambil sorban yang ada dileher Pak Ustadz dan melemparnya ke dalam got yang penuh dengan air comberan :v.

“Yaahh… sorbannya kelempar angin pak,” ucap Rezza sambil menahan tawa.

“ANAK SEETTTAAAANNNNNN!!!”

“Mana pak anak setannya?”

“ELU KAMPRETT!!!”

“Muhehehe….”

Karena takut dihajar oleh Pak Ustadz, Rezza pun segera menaiki motornya dan pergi saat Pak Ustadz sedang mengambil sorbannya.

Setelah upacara pemakaman Ve berakhir, semua orang yang hadir ke upacara pemakaman Ve pulang ke rumah mereka masing-masing, begitu juga dengan Pak Ustadz. Namun tidak dengan pasangan alay tadi.

-di rumah Sinka-

“Aku pulang…,” teriak Sinka saat masuk rumah.

“Masa sih? Kakak kira kamu lagi mau berangkat,” ucap Naomi yang sedang tiduran disofa ruang tamu.

“Apaan sih,” ucap Sinka kesal lalu menutup pintu dan duduk di atas perut Naomi :v. oke becanda, Sinka juga duduk disofa.

“Kok cepet banget pemakamannya?” tanya Naomi sambil asik memainkan smartphone-nya.

“Emang dikira pengajian, lama.”

“Hmmm.”

“Oiya kak Kinal mana kak? Kok nggak keliatan?”

“Lagi nganterin mama kondangan.”

“Kok aku nggak diajak? Kan aku pengen ikut kondangan.”

“Gatau malu banget sih, udah gede masih suka ngikut mama kondangan, kalo ada temen kamu yang gimana?”

“Ya bodo amat, lagian ikut mama kondangan itu enak tau.”

“Apanya yang enak coba? Palingan cuma makan sama ngobrol doang.”

“Idihh kata siapa cuma makan sama ngobrol doang? Kalo kita mau, kita bisa tuh nimpuk pengantinnya pake baskom yang buat tempat sup.”

“Emang berani?”

“Kan tadi aku bilang kalo mau, kalo mau dihajar sama warga hahaha….”

“Kamu tau nggak sin kalo kenyataan itu pait?”

“Iya tau, kenapa emang?”

“Kenyataanya, kakak nggak peduli sama omongan kamu huehehe….”

“Kakak!!”

“Apa?!”

“Ternyata kakak yang jutek gini juga bisa becanda hahaha…,” ucap Sinka lalu tertawa.

“Iya lah, emangnya cuma kamu doang yang bisa becanda,” ucap Naomi.

“Udah ah, kakak mau ke kamar,” ucap Naomi lalu bangkit dari sofa dan pergi ke kamarnya.

“Kok ditinggal?” tanya Sinka dengan wajah memelas.

“Yaudahlah aku juga ke kamar aja sekalian mandi, lengket coeg tadi pagi nggak sempet mandi,” ucap Sinka lalu pergi ke kamarnya.

Setelah mandi dan berganti baju, Sinka mengambil smartphone-nya dan tiduran di kasur. Seperti yang kita semua tau, kalo cewek cantik main hp itu ya cuma buka menu dan geser-geser layar doang. Saat sedang asik menggeser-geser menu, ada notif BBM masuk di hp Sinka. Ia pun dengan cepat membuka isi pesan itu dan membacanya.

“Siap-siap, gue jemput bentar lagi.” Isi pesan yang Sinka terima.

“Mau kemana?” balas Sinka.

Namun pesan Sinka hanya dibaca dan tidak dibalas. Kemudian Sinka ganti baju dan menunggu orang yang mengajaknya tadi di depan rumah. Beberapa saat kemudian orang itu sampai di depan rumah Sinka dengan motor matic-nya. Orang itu tidak turun dari motornya, ia hanya mematikan mesin motornya dan mengubur motornya. Itu becanda, orang itu mematikan motornya dan melambaikan tangannya ke arah Sinka.

Sinka yang melihat orang tadi melambaikan langsung berjalan ke arah orang tadi. Tanpa berbicara orang itu langsung menyodorkan helm kepada Sinka setelah Sinka berada dipelukanmu mengajarkanku, apa artinya kenyamanan *kok malah nyanyi -,-

Sinka memakai helm itu dan langsung naik ke atas motor (berdiri tentunya :v). Setelah Sinka naik ke atas motor, orang itu menyalakan motornya dan membawa Sinka pergi ke suatu tempat. Selama perjalanan, mereka berdua tidak saling berbicara.

Beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai di sebuah taman yang terletak di pinggir kota. Taman itu tidak begitu banyak pengunjung, hanya ada beberapa orang saja yang sedang duduk di beberapa bangku taman. Sinka dan orang yang membawanya tadi turun dari motor dan menuju ke sebuah bangku kosong yang berada di tengah taman.

“Ngapain kita kesini za?” tanya Sinka sambil duduk.

“Gue mau ngomongin sesuatu sama lu,” jawab orang tadi yang ternyata adalah Rezza. Tapi bukan Rezza Rahardian tentunya.

“Kan bisa lewat telfon za.”

“Ini penting, gabisa lewat telfon.”

“Yaudah lewat surat aja kalo gabisa lewat telfon.”

“Lu mau gue tinggalin disini? Hah?!”

“Becanda doang kali za, gitu aja sewot.”

“Jangan sekarang becandanya, gue lagi serius.”

“Ohh… oke.”

“Jadi gini, omongan lu yang kemaren soal Ve datengin lu itu beneran?”

“Iya lah, ngapain juga aku bohong sama kamu.”

“Ve ngomong apa aja sama lu?”

“Kak Ve cuma nyuruh aku buat jagain kamu doang sih, abis itu dia pergi.”

“Haha….”

“Kenapa?”

“Gapapa, cuma heran aja sama Ve, buat apa dia nyuruh lu buat jagain gue, aturan tuh gue yang jagain lu bukan lu yang jagain gue.”

“ya mana aku tau, itu kan kak Ve yang nyuruh bukan kemauan aku sendiri.”

“Iya gue tau itu Ve yang nyuruh, tapi kan lu yang cewek, jadi harusnya elu yang dijagain bukan gue.”

“Mentang-mentang aku cewek terus kamu pikir aku gabisa jaga diri aku gitu?!”

“Iya lah, cewek kan lemah.”

“Ihhh… nyebelin banget sih!”

“Bodo weeeekk.”

“Lagian aku juga gamau jagain kamu! Kamu kan bandel! Susah diatur!”

“Lu tau nggak?”

“Apa?!”

“Sejujurnya….”

“Sejujurnya apa?”

“Sejujurnya, gue nggak peduli sama omongan lu tadi hahaha….”

“Ihhh! Tau ah!”

“Gitu aja ngambek, nggak asik lu.”

“Bodo amat!”

“Yaudah kalo lu ngambeknya masih lama, gue tinggal beli minum bentar, jangan kemana-mana! Gue nggak mau disangka penculik sama keluarga lu.”

Talk to my hair!” ucap Sinka sambil memutar badannya membelakangi Rezza.

“Oke…, gue tinggal bentar ya,” ucap Rezza sambil mengelus rambut Sinka lalu pergi meninggalkanya.

Sinka yang mendengar suara langkah Rezza menjauh langsung berbalik dan menatap Rezza dengan heran.

“Pantesan kak Ve suka sama kamu za, kamu itu orangnya lucu, baik, perhatian, ganteng, ya meskipun kamu susah diatur sama kalo ngomong nggak pernah mikir dulu, tapi itu bukan masalah sih,” ucap Sinka dalam hati lalu tersenyum.

Sinka menoleh ke arah air mancur yang ada di depannya, ia menatap air mancur itu dalam-dalam. Padahal sih kolamnya nggak dalem-dalem amat, cuma paling 30cm.

“Aku pasti bakalan jagain Rezza baik-baik kak,” ucap Sinka sambil terus menatap air mancur itu.

“Hah? Ngomong apa lu barusan?” tanya Rezza yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Sinka.

“Ehh?! Ng-nggak, aku nggak ngomong apa-apa kok,” jawab Sinka yang gugup karena kaget.

“Padahal barusan kayaknya gue denger lu ngomong deh,” ucap Rezza sambil membuka tutup botol minuman yang baru saja dibelinya.

“Eng-enggak kok, kamu salah denger kali,” ucap Sinka gugup.

“Yaudahlah bodo amat, nih minum,” ucap Rezza sambil memberikan botol minuman yang baru ia buka.

“Eh?! Iya…,” ucap Sinka tersenyum.

Rezza dan Sinka pun meminum minuman mereka masing masing. Setelah minum, tidak terdengar suara dari mereka berdua. Yang terdengar hanyalah suara air mancur dan speaker penjual tahu bulat.

“Oiya, tadi kamu kok nggak ikut ke makam?” tanya Sinka memecahkan keheningan.

“Oh soal itu, tadi gue ada urusan mendadak,” jawab Rezza.

“Urusannya penting banget ya sampe kamu tiba-tiba ilang gitu?”

“Kelewat banget malahan pentingnya.”

“Emang urusan soal apaan?”

“Itu tadi aku ditelfon katanya anak tetangga ada yang pingsan gara-gara gabisa pipis.”

“Hah? Kenapa emang anak tetangga kamu kok gabisa pipis?”

“Katanya dia nyari resleting celananya nggak ketemu terus karna kelamaan jadinya dia nangis terus pingsan deh.”

“Hehh?! Kok bisa nggak ketemu? Kan resleting ada di depan, nggak mungkin kemana-mana.”

“Iya kalo make celananya bener emang di depan, masalahnya dia itu make celananya kebalik jadi resletingnya ada dibelakang dan dia gatau kalo celananya itu kebalik.”

“Hahaha… anjay, itu anak tetangga kamu pasti didikannya Herp.”

“Enggak sih, dia didikan aku hahaha….”

“ANCOEG!! Parah banget kamu za! Hahaha….”

“Haha… udah ah, kasian tuh anak kalo dia tau kita ketawain.”

“Haha… iya-iya.”

-di rumah Najong-

Dirumah Najong terlihat sepasang anak alay yang sedang bermesraan. Ya, mereka adalah Najong dan Yupi. Mereka terlihat sangat biasa saja, Yupi duduk di sofa dengan Najong yang tiduran dan kepalanya ditaruh di atas paha Yupi. Dengan penuh konsentrasi Yupi mengambil kutu-kutu yang ada di kepala Najong dan meletakkannya ke piring kosong yang ada di meja. Najong juga tidak mau kalah aneh, dia pun mengambil kutu yang ada di piring dan memakannya stau persatu. Sungguh pasangan yang menyedihkan :’v

“Kamu abis ini mau pulang ato kemana dulu?” tanya Najong sambil melahap kutu dengan jijiknya.

“Mmmm…, ntar aja deh pulangnya,” jawab Yupi sambil terus mencari kutu dengan jijik-jijik manja.

“Terus mau kemana kalo nggak mau pulang?”

“Kemana aja deh terserah kamu.”

“Nonton aja yuk.”

“Emang mau nonton film apa?”

“The Kokjuling aja gimana?”

“Nggak ah, setannya nggak asik, suka ngagetin.”

“Terus mau nonton apa dong?”

“Apa aja deh yang penting banyak adegan mesra sama ciumannya.”

“Maksut kamu Teletubbies?”

“Nah iya itu.”

“Okelah kalo gitu, yuk berangkat sekarang aja.” Ucap Najong lalu bangkit dari tidurnya.

Kemudian mereka berdua dan pergi ke bioskop dan menonton film Eek Disitu *dibaca AADC 2*. Setelah selesai menonton film, mereka berdua berjalan keliling mall untuk mencari makan. Saat berjalan melewati sebuah food court, Najong melihat seseorang yang ia kenal sedang mengais makanan di tong sampah.

Oke gue becanda bagian terakhir itu, Najong melihat seseorang yang dikenalnya itu sedang makan di dalam food court sendirian. Ia pun mengajak Yupi untuk menghampiri orang itu dan berharap orang itu mau membelikannya makanan. Lumayan makan gratis :v

“Sendirian aja nih?” tanya Najong sambil menepuk pundak orang itu dengan keras dan membuat orang itu pingsan seketika.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Note :

Akhirnya selesai juga part yang lebih panjang dari biasanya ini, makasih buat para reader yang nyuruh gue buat manjangin ceritanya tiap part, makasih! Kalian udah bikin jari sama otak gue kram anjay :v

Tapi gapapa, kepuasan anda adalah kebahagiaan kami XD. *iya gue tau itu kata-kata yang biasanya diucapin sama administrator tempat pijet -,-

Dan mulai dari part ini, FF ini cuma update setiap hari sabtu doang nggak kaya sebelumnya yang seminggu dua kali. Bukannya gue belom bikin part lanjutannya ato takut sama deadline, bukan!. Gue cuma pengen bikin kalian penasaran aja sama kelanjutan tiap partnya muehehe XD

Gue juga mau minta kritik dan saran kalian buat bagian jokes-nya, soalnya gue nggak begitu bisa bikin jokes pake P.O.V orang ketiga :v

Jangan bosen baca FF ini ya ^,^

Iklan

8 tanggapan untuk “Vepanda, part 10

  1. makinseruu nih,,next updateenya thor,,gk bakalan boseen udaa ada lucu2nyaa 😀
    soal kritik dan saraan jokenyaa, coba tanya anto theoe yg buat jomblo is you 1,2,3/senyumin aja/kanker,,,, bg ghifari yg buat kos2an bidadari/eyes,,,,, bg dion yg buat plain vanilla/biutifull auroa,,,,bg rizal yg buat senior high schiol,,,,,bg zilmyy yg buat abu2 putih/bekicot tak bercangkang/pensil..,,., soalnya ff nya mreka yg sy baca ada lucu2nyaa hhe,, ad jg sih author lain tp yg kuingat cumaa itu…

    Suka

  2. Ternyata member bisa juga ngomong ANCOEG :V
    Itu si Najong keturunan Saitama-sensei apa gimana sih :v cuma nepuk pundak bisa langsung pingsan :v
    Oh iya, btw… Awalan note kenapa pada pake kata “Akhirnya” semua nih? Wah pada seikan tongkol ya? *eh sekongkol :v
    Lupakan, gw hanya angin yang berhembus~ 🍃

    Suka

    1. ya bisa lah, member kan juga manusia :v
      najong emang gitu orangnya, kalo nepuk nggak pernah bisa pelan -,-
      kan notes di akhir tulisan, kalo notes sebelum tulisan baru pake “sebelumnya” bukan “akhirnya” :v

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s