Last Love, Part3

“E…eh bentar ya,” kataku yang langsung menjauh dari sana.

Kulihat kembali hp ku sebelum mengangkatnya. Apa bener? Batinku. Dan kemudian ku click tanda hijau disana, untuk menerima Video Call tersebut.

“Hai…” sapanya riang, seperti biasa.

“Hai juga. Kenapa Gre? Tumben ngehubungin,”

“Ih kok kamu gitu sih sama pacar sendiri?”

Deg!

“Ka…Kamu bilang apa?” Tanyaku

“Kamu jahat ah sama pacar sendiri aja masa lupa sih,”

“Gre, kan gue udah bilang kalo….”

“Yayaya aku tau. Tapi aku, kamu, kita masih sah sebagai sepasang kekasih,”

“Gre, cukup ya. Gue kan udah pernah bilang kalo kita itu pacaran cuma pura-pura supaya keluarga lo gak ngejodohin elo Gre.”

“Yaahh aku tau. Tapi liat hasilnya Key. Sekarang keluargaku malah mau jodohin aku sama kamu. Yeeeeaaaayyyyy….!”

Deg!

A…apa? Gak, ini gak mungkin. Gak mungkin! Batinku.

“Heiii my prince, kenapa diem aja? Kamu terlalu seneng ya?”

“Seneng? Seneng apaan seneng? Gue kagak seneng, gue cuma nyesel udah mau bantuin elo waktu itu Gre,”

Tiba-tiba saja Elaine menepuk pelan bahuku. “Eh Key, itu dicariin sama kak Melody. Katanya ada yang mau diomongin,”

Saat Elaine hendak pergi beranjak darisana, aku langsung menarik lengannya dan merangkulnya. Bodo amatlah, yang penting gue harus terbebas dulu dari si Gre ini, batinku.

“Gre lo ngaca ya. Gue udah punya pacar dan gue setelah lulus SMA ini bakal tunangan sama dia, jadi lo batalin aja penjodohan ga guna itu,” kataku

“Eeh? Apa-apaan nih!” Sahut Elaine. Aku cepat-cepat menutup mulutnya.

“Kamu boong kan Key? Aku tau cinta kamu tuh cuma buat aku, gak mungkin ada orang lain lagi…”

“Sumpah deh Gre. Gue kagak mau sama lo, gue udah punya pacar. Ya gila kali kalo gue ninggalin dia demi lo doang. Ogah,”

“Kamu jahat… hiks…”

Tut tut tut tut…

Sambungan video call pun terputus, kulepaskan rangkulanku tadi. “Ma…Maaf ya Len jadi ngerepotin. I..itu tadi mantan aku, hehe…” kataku

Kulihat wajah Elaine yang memerah. Ia hanya mengangguk pelan lalu kembali berlari menuju meja kantin kami itu, aku mengekorinya dari belakang dan kemudian duduk di salah satu kursi, meletakkan hpku diatas meja.

“Kamu apain Elaine, hah?!” Tanya kak Melody, suaranya tiba-tiba saja meninggi.

“E…eh? Ampun kak. Itu tadi si Gre yang nelfon, jadi aku harus pura-pura gitu kak…” jawabku

“Kenapa harus Elaine? Kan bisa Andela atau siapa gitu!”

Astaga..

“Ya…. tadi kan mumpung adanya cuma Elaine jadi ya Elaine aja. Toh ga mungkin si Andela, kan Gre tau si Andela tuh siapa. Gak mungkin juga si Sinka, Gre udah tau Sinka tuh….” aku terdiam sejenak. “Ya pokoknya gitu deh!” Sahutku

Kak Melody menatapku dengan tatapan menyelidik. Ia berusaha melihat apakah aku bohong atau tidak. Aku gak boong kak! Batinku berteriak

“Yaudah terserah kamu aja. Sana gih, dicariin sama Ve di taman. Katanya kamu ada janji sama dia?”

“Oh ah iya…” aku mengecek jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 5 lebih 10 menit. “Kalo gitu aku duluan ya. See ya… eeh tunggu dulu. Ngomong-nomong itu mesin kantin rusak ya?”

“Iya rusak. Makanya ada pelayannya gitu. Udah gih sana buruan,”

“Iya iya… see ya!” kataku sambil mengambil bakso plastik milikku dan mulai berlari meninggalkan mereka menuju taman belakang, sesuai perjanjian.

~oOo~

Aku langsung berlari menuju kak Ve yang benar saja sudah duduk di salah satu bangku taman. Sebelah tangannya memegang sebuah kertas, sementara itu ia sedang memandang langit yang sudah hampir berubah menjadi senja.

“Hai kak Ve…” sapaku

“Oh, Key. Kakak kira kamu gak bakal dateng.. sini duduk,”

Aku mengangguk dan menuruti perkataannya. “Emm, itu kertas apa kak?” Tanyaku to the point.

Kak Ve menyodorkan kertas itu kearahku. “Dari Nathan, kakak kelas kamu. Menurut kamu Key, kakak harus gimana?”

Aku menerima kertas tersebut, membukanya, dan kemudian membacanya. Oh shit! Itu adalah surat cinta, dan di dalamnya kak Nathan menembak kak Ve, dia menunggu jawaban kak Ve nanti malam.

“Jadi?” Tanya kak Ve

“Ke…Kenapa kak Ve nanyain hal ini ke aku?”

“Hhh~” kak Ve menghela nafas panjang. “Soalnya kamu itu bijak, Key. Kamu bisa milih yang mana yang bener dan yang mana yang salah.”

“Kamu itu… sempurna,” lanjut kak Ve yang sedikit tidak dapat kudengar

“A…apa? Apa kak?” Tanyaku

“Ya gitu, pokoknya kakak minta tolong ke kamu…”

“Nah masalahnya gini dulu kak. Pertama. Apa kakak juga sayang sama kak Nathan itu?” Tanyaku, dan kak Ve menggeleng.

“Okey. Kedua. Menurut kak Ve, kak Nathan itu cocok gak buat kak Ve?” Tanyaku lagi.

“Emmm…. gak tau yah. Menurut kakak tuh, Nathan orangnya simple, perhatian, baik, anak futsal, banyak fansnya.”

“Dan salah satunya kak Ve. Gitu?” Tanyaku tapi kak Ve menggeleng.

“Enggak. Nah itu masalahnya, Key. Kak Ve gak suka sama Nathan, dia tuh kayak apa ya? Tebar pesona nya tuh terlalu Extream.”

“Lahhh, apa hubungannya?”

“Ya gitu deh. Kakak gak suka aja sama dia,”

“Oke. Jadi itulah hasilnya. Kak Ve sendiri yang bilang kalo kak Ve gak suka sama dia, ya mau gimana lagi?” Tanyaku

“Iyasih, tapi kan kasian dia.”

“Gak ada salahnya lho kak, kalo kak Ve ngasih kesempatan dia untuk belajar dari kesalahannya. Mungkin kak Ve ga bisa nerima dia sekarang, tapi aku harap ia sadar trus belajar lebih menyayangi kak Ve, lebih mencintai kak Ve lagi, sampe pada akhirnya dia diterima sama kak Ve. Jadi perjuangannya gak sia-sia,” jelasku panjang lebar

“Kamu emang bijak banget deh Key…” kak Ve tersenyum sambil mengacak-ngacak rambutku.

“Duh, apaan sih kak? Udah dibantuin malah ngeberantakin rambut,” gumamku

“Yaudah. Jadi gimana nih menurut kamu? Jadi kakak tolak nih ceritanya?” Tanya kak Ve

“Kok ceritanya sih? Ya iyalah. Tapi lain cerita kalo kak Ve nyaman ya pas ketemu sama dia,”

“Maksud kamu?”

“Ya kalo kata orang sih ya… kalo seseorang nyaman ada sama orang lain, itu tandanya ia sayang dan cinta sama orang itu kak. Ya kalo menurutku sih emang bener, karena aku pernah ngalamin sendiri,” jelasku

“Oh jadi gitu. Yaudah deh, makasih ya Key. Hadiahnya buat kamu …”

Chuuu….

Kak Ve mencium pipi kananku. Sedetik kemudian ia langsung berlari meninggalkanku yang masih tak percaya dengan apa yang dilakukannya padaku. Kulihat kepergiannya yang sangat tergesa-gesa itu, well.

——

Author POV

Ve yang sedang berlari meninggalkan adik kelasnya, Key, di taman sendirian pun memilih untuk pergi ke toilet wanita. Ia membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari keran, ia melihat sendiri pantulan wajahnya dari kaca yang membentang cukup panjang.

Nafasnya tak karuan. Wajahnya tampak merah padam.

“Apa… bener yang dibilang Key?” Tanyanya pada dirinya sendiri.

“Kalo gitu. Berarti aku…. suka sama dia? Aku sayang sama dia? Aku…. Argh… entahlah, aku ga tau sama sekali…”

——

Keynan POV

Aku kembali berjalan mengelilingi sekolah baruku ini. Dua jam menuju pertemuan murid baru, aku masih dapat bersantai-santai sambil memakan bakso ku yang sudah dingin ini. Beberapa grombolan eskul tampak sudah mulai mempersiapkan diri mereka masing-masing.

Eskul Band, Dance, Vocal, Futsal, Basket, bahkan Balet pun ada. Mereka mendirikan stand untuk memperkenalkan eskul mereka kepada anak-anak baru. Aku begitu tertarik dengan eskul futsal, terlebih lagi dengan anak yang bernama Nathan.

“Emmm…. gak tau yah. Menurut kakak tuh, Nathan orangnya simple, perhatian, baik, anak futsal, banyak fansnya.”

Aku teringat dengan perkataan kak Ve tadi dan langsung melihat kearah stand Futsal. Dan, benar saja. Banyak sekali fans-fans dari anggota futsal yang sudah rela berdesak-desakkan disana, mungkin termasuk aku(?).

“Jadi gini, kami merupakan Vancom FC.. kami disini mencari anak-anak baru yang mau menjadi next generation dari Vancom FC.” Jelas seorang kakak kelas yang tinggi dan putih, cool juga orangnya.

“Dan disini, kami akan mencari orang yang sungguh-sungguh saja.”

“Perkenalkan, nama kakak Aditya,” kata kakak kelas yang tadi itu.

“Kalo kakak, Dito,”

“Kakak, Farish,”

“Kenalkan nama kakak Dendhi,”

“Dan kakak, Nathan,”

Deg!

Aku terkejut ketika melihat wajah kakak kelas yang bernama kak Nathan itu. Mereka melanjutkan sesi tanya jawab dengan anak-anak baru, sementara aku tidak ingin lagi berdesakkan disana. Cukup sudah.

Aku cuma terkejut saja ketika melihat wajah kak Nathan yang sangat familiar denganku. Sial… jadi dia orangnya. Kenapa harus dia? Kenapa? Tanyaku dalam hati sambil terus memperhatikan yang namanya kak Nathan itu.

*Tbc

-Seena-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s