The Rescuers 3 -Part 3-

 

Pukul 3 Sore..

“Gimana? Cukup istirahatnya? Cukup makannya?” tanya staff yang kini berdiri di depan mereka.

Tersisa dua kelompok lagi, otomatis di ruangan ini tinggal 20 orang yaitu Melody, Nabilah, Lidya, Saktia, Desy, Shani, Sisca, Refal, Ahmad, Vina, Ve, Beby, Gaby, Kinal, Della, Gre, Feni, Celine, Anto, dan Edho.

“Jadi, babak ketiganya apa kak?” tanya Sisca.

“Hihi sabar dong, ini kan mau kakak jelasin,”

Turun kembali sebuah layar, kemudian muncul seperti map yang menggambarkan letak pulau itu.

“Kita kan sedang berada di sini di tengah pulau ini, tempat kalian melakukan bentengan tadi di sini dan di sini. Nah kali ini kita akan melakukannya di dua tempat dalam waktu bersamaan. Yaitu pantai dan pegunungan,”

“Maksudnya kak?” tanya Feni.

“Babak ketiga ini adalah Babak Survival. Di mana kalian akan mencoba untuk bertahan hidup. Tanpa gadget, tanpa kompor listrik, tanpa makanan, atau apapun itu,”

“Eh eh!?” Kinal, Anto, dan Refal terkejut.

“Nah kan yang sering makan mah ketauan protesnya,” celetuk Gaby.

“Terus kita makannya gimana?” tanya Kinal.

“Ya kalian cari sendiri lah, baik laut maupun hutan itu kan banyak sumber makanan, tinggal kalian belajar untuk memilih dan memilah mana yang bisa di makan dan mana yang nggak bisa di makan,” ujar staff.

“Hh.. kurus dah gue,” ujar Anto.

“Haha, kalem To, kan kalo pulang-pulang kurus enak,” ujar Refal sambil menepuk pundak Anto.

“Gimana udah paham?” tanya staff.

“Tapi kita dapet tenda kan kak?” tanya Melody.

“Iya tenang saja, kalian sudah di siapkan tenda, dan juga seikat kayu bakar yang harus kalian hemat,”

“Emang Survival ini sampe kapan kak? Terus gimana cara nentuin pemenangnya?” tanya Lidya.

“Survival ini akan selesai besok pagi, penentuan pemenang nanti di lihat dari bagaimana kalian memanfaatkan alam, bekerja sama, dan yang lainnya,”

“Dan yang lainnya?” tanya Refal.

“Iya, intinya nanti kami jelaskan bagaimana penilaiannya setelah kami umumkan pemenangnya besok, yang kalian perlu lakukan sekarang hanyalah bertahan hidup hingga esok pagi, bagaimana? Menarik bukan?”

“Menarik sih, tapi penilaiannya adil kan kak?” tanya Desy.

“Jelas dong, udah di susun juga sama Jiro San, jadi nggak perlu khawatir,”

Seperti menemukan keyword saat mendengar nama Jiro San, semuanya jadi yakin kalau mereka akan baik-baik saja dan penilaiannya akan adil.

“Oke, nanti kalian akan di pandu oleh staff, sekarang kita tentukan tim mana yang akan ditempatkan di pantai, dan tim mana yang akan ditempatkan di gunung, bukan gunung sih ya, bukit gitu,” ujar staff.

“Kita pantaaai!” teriak Nabilah.

“Eeh enak ajaa!! Gua juga mau dipantai kali Bil,” ujar Beby.

“iih, lo kan timnya para penghuni gunung, udah cocok Beb, ada putri Elsa kan?” ujar Nabilah sambil melirik Kinal.

“Sialan, ogah gue, kaga tahan ama dinginnya,” ujar Kinal.

“Iya bener bener,” ujar Beby.

“Eh, lu tuh udah pada biasa di Bandung kan? Kak Kinal, lu Beb, Kak Anto juga orang Bandung kan?” ujar Nabilah.

“Iya sih.. tap..”

“Yak yak, tunggu tunggu, ini kita undi kok, jadi tolong yaa jangan ribut, pusing saya denger kalian ribut gini,” ujar Staff sambil menutup telinganya.

“Tau nih dede,” Melody membekap Nabilah yang hendak berbicara kembali.

“Oke, siapa yang mau ngambil kertas di depan ini? Perwakilan dari tiap tim,” ujar staff.

Akhirnya Melody dan Ve maju ke depan, keduanya mengaduk toples yang berisikan banyak bola, kemudian mengambil salah satu bola untuk masing-masingnya.

“Oke, kita buka ya,” Staff menghampiri Melody dan Ve sambil membawa cutter, kemudian membelah bola itu.

“Bacakan, silahkan dari Melody dulu baru Ve,” ujar staff.

“Gunung,” ujar Melody yang kemudian Beby dan Kinal langsung berteriak bahagia. Ya, karena pasti mereka akan di pantai.

“Yaaah nggak aci ah, ulangin ulangin,” ujar Nabilah.

“Yee udah napa bwang lu protes mulu,” ujar Desy.

Nabilah hanya merengut menanggapinya.

“Oke, silahkan untuk naik ke dalam mobil yang sudah di siapkan, maaf ya pickup, karena kalau mobil biasa tidak akan muat untuk sepuluh orang sekaligus,” ujar staff.

“Iyaa kaak,”

“Baiklah, selamat berjuang ya, untuk Ve dan Melody kakak mau bicara sebentar,”

“Iya kak,” ujar Melody dan Ve yang kemudian mengikuti Staff menuju ruangan sebelahnya.

“Kalian jaga adik-adik kalian ya, hati-hati, tolong hati-hati karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di luar sana. Tapi tenang kami juga sudah memasang beberapa cctv di tempat kalian akan tinggal nanti, jadi tolong himbau semuanya jika ingin berganti pakaian jangan di luar tenda, dan juga, ini HT untuk menghubungi kami kalau ada keadaan darurat,” ujar Staff panjang lebar dan memberikan HT kepada Melody dan Ve.

“Siap kak, terima kasih,” ujar Melody dan Ve.

“Baik, selamat berjuang,”

Melody dan Ve mengangguk, kemudian mereka berdua menyusul timnya yang sudah bersiap di mobil.

~

Perjalanannya memang tidak begitu lama untuk tim 4 yang menuju pantai, karena tidak melewati jalanan terlalu terjal, tidak seperti tim 1 yang harus rela bergejolak di atas mobil pick up.

“Mati guaa matii.. astagaa..” ujar Nabilah sambil memegang erat besi penahan.

“Lebay lu, orang asik gini juga,” ujar Lidya.

“Tau nih, orang yang paling cablak ternyata takutan,” celetuk Ahmad.

“Eh maap maap aja ye bwang, gue begini-begini juga cewe,” ujar Nabilah.

Refal menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nabilah. Kemudian Refal mengamati satu persatu anggota timnya. Yaa kapan lagi bisa satu mobil bersama member seperti ini? Ya kan?

“Lu napa Shan?” tanya Refal yang melihat Shani  agak pucat sambil memegang besi penahan.

“Mual ya?” tanya Refal.

Shani mengangguk.

“Tahan ya Shan, bentar lagi sampe kok,” ujar Desy yang berada di sebelahnya.

“Tahan Ci tahan,” ujar Sisca. Tapi kemudian Sisca memberikan kantung plastic, takut-takut Shani sudah tidak bisa menahannya.

“Kamu kuat dingin ya Vin,” ujar Melody yang melihat Vina hanya mengenakan kaos biasa saja.

“Ngg, iya kak hehe, abis biasa pake ac,” ujar Vina.

“Waah sombong nih anak, Isyana yang tinggal di kutub aja kedinginan,” ujar Saktia sambil merapatkan jaketnya.

“Cape gua Sak dengernya,” ujar Lidya.

“Yaudah nggak usah di dengerin, peluk aja sini biar anget,” ujar Saktia sambil memeluk Lidya.

“Hhh.. bakalan kaga mandi ini mah gua,” celetuk Refal.

“Lha kenapa bang?” tanya Ahmad.

“Gua kalo ikut kemping pas makrab kampus, jarang mandi, kaga kuat dingin gua, makanya kalo kayu bakarnya segini, paling gua nyari kayu lagi di sana,” ujar Refal sambil melirik ke seikat kayu bakar.

“Iya juga ya, ngg kita bagi jobdesk nya sekarang apa mau nanti?” tanya Melody.

“Nanti aja kak, aku nggak kuat kalo harus ngobrol,” ujar Shani lemah.

“Eh iya, yaudah deh sampe sana aja ya..”

Semuanya mengangguk setuju.

~

“Aaah pantaaai..” teriak Kinal dan Beby yang langsung berlari ke arah bibir pantai.

“Ish tuh anak bukannya bantuin buat tenda dulu,” keluh Ve.

“Ini digimanain lagi kak?” tanya Gre yang sedang memegang pasak.

“Di tanem aja dulu Gre, nanti gue yang masangin,” ujar Edho.

Ya mau tidak mau Anto dan Edho yang bekerja untuk membuat tenda.

Gaby dan Della kebagian menyusun kayu bakar. Sedangkan Feni dan Celine membongkar peralatan, ternyata staff masih memberikan panci dan enam botol air mineral.

“Ini pancinya, air mineralnya cuma ada enam nih Cel,” ujar Feni.

“Iya kak, harus hemat ya,”

“Iya mau nggak mau dah,”

Feni dan Celine membawa panci ke pinggiran api unggun.

“Kak Ve ini air mineralnya ada enam botol, mungkin kita bisa bagi, empat untuk kita dan dua nya untuk masak air,” ujar Feni.

Ve mengangguk, “Kinal Beby!! Cari kayu lagii!!” teriak Ve.

“Iyaaaaa!!” jawab Kinal.

“Ayo Beb ke sanaa!” teriak Kinal sambil menunjuk sisi pantai lainnya. Padahal mah mereka sambil ciprat-cipratan juga.

~

“Segini cukup kali ya,” ujar Refal sambil meletakkan dua ikat kayu bakar, ia mengikatnya dengan pelepah pisang.

“Cukup kayaknya deh, untuk sampe pagi doang kan,” ujar Desy.

“Yaudah nih kalian gotongan bawanya, yang ini gua babwa sendiri,” ujar Refal.

“Siap,” ujar Saktia dan Desy.

Ketiganya kemudian keluar dari hutan menuju tempat kemah mereka.

Di sana Melody, Nabilah, Ahmad, Lidya dan Vina sedang membangun tenda, sedangkan Shani dan Sisca menyiapkan kayu bakarnya di tengah.

“Nih Kak Meel kita bawa banyaak,” ujar Saktia.

“Waah okee, makasih yaaa,” ujar Melody.

“Yaudah kalian istirahat dulu gih,” ujar Melody.

Saktia dan Desy langsung duduk, sedangkan Refal menghampiri timnya yang sedang kesusahan membangun tenda. Timnya? Lidya maksudnya.

“Need help?” tanya Refal yang melihat Lidya dan Vina kesusahan membangun tenda.

“Yes please,” ujar Lidya frustasi, karena dari tadi ia tidak bisa juga memasang pasaknya.

Refal mengambil alih tugas Lidya sedangkan Lidya dan Vina hanya membantu Refal jadinya.

Setelah semua tenda terpasang, tim 1 berkumpul melingkari kayu bakar, matahari yang mulai terbenam membuat hawa semakin dingin

“Btw, ini yakin begini doang? Kenapa perasaan ogut mengatakan kalo nanti kita bakalan di kasih misi ya?” ujar Nabilah.

“Iya deh kayaknya, nggak mungkin Cuma begini doang kan?” ujar Lidya.

“Makan malemnya apa nih?” tanya Ahmad

“Aku nemuin beberapa buah kak tadi di hutan,” ujar Desy sambil menarik kantung plastik.

“Yakin bisa di makan nih?” tanya Ahmad yang melihat buah sepertinya agak asing.

“Nggak tauu,” ujar Desy dengan tampang polos.

“Yaah kenyang kaga keracunan iya nanti,” ujar Ahmad.

“Ng, bentar deh, Mad ikut gua yu, kayaknya gua nemuin ladang gitu tadi, semoga aja ada ubi atau singkong,” ujar Refal.

“Yu dah,”

Ahmad dan Refal beranjak sambil membawa golok dan juga pisau.

~

“Lu nangkep ikan apaan Nal kecil kecil gini?” tanya Edho.

“Ih mana gua tau, orang itu yang ada di pinggiran pantai,” ujar Kinal.

“Beby mendingan nih ada dagingnya ni ikan, lha ini…” Edho mengangkat ikan kecil yang ditangkap Kinal.

“Udaah masak ajaaa, daripada kelaperaan,” ujar Kinal.

Akhirnya mau tidak mau Edho membersihkan ikan-ikan kecil itu agar tidak amis.

“Bisa To?” tanya Ve.

“Bisa sih harusnya,” ujar Anto yang sedang kesusahan membuka kelapa.

Di seelahnya sudah ada Celine dan Feni yang siap dengan gelasnya.

“Yaudah nanti kalo udah di bawa ke sana ya, terus kita makan malem bareng-bareng,” ujar Ve

Semuanya mengangguk setuju.

~

Bulan kini mulai bertugas, memberikan secercah cahaya kepada kedua tim ini.

“Hhh kan dingin bangeet,” ujar Refal yang kini sudah memakai baju berlapis-lapis.

“Ck kulit doan tebel, hahaha,” ledek Nabilah.

“So.sokan lu nab, tadi aja kaga mau mandi lu,” ujar Lidya.

“Ya lagi mandi di kali, ogah banget gua, meski air terjunnya bagus sih, tapi iih sorry ya maap maap aja,” ujar Nabilah.

“Haha koplak, padahal die ya yang kesenengan pas liat aer kali jernih gitu,” ujar Desy.

“Tau, pas nyentuh airnya yang dingin eh meringsut,” tambah Lidya.

“Hahaha..” semuanya tertawa.

Api unggun yang bertugas menghangatkan pun sedikit sedikit mulai berkurang.

“Hh, tau gitu nyari kayu lebih banyak lagi,” ujar Refal.

Krak.

“Yuhuu singkongnya mateng,” ujar Sisca yang sedari tadi membolak-balik singkong.

“Aw aw.. panas banget,”

“Taro sini dulu nih, nanti kalo udah agak adem baru kita makan,” ujar Melody sambil menggelar koran.

“Tapi, ini udah jam delapan malem lho, apa emang beneran gini doang ya babak terakhirnya?” tanya Ahamd.

“Ya semoga aja Mad, kalo sampe mikir lagi, hadeuh, beku otak gua ini,” ujar Refal.

“Haha, ya mungkin emang cuma gini aja, ampe pagi nanti, terus udah deh,” ujar Melody.

“Semoga deh, pengen cepet-cepet pulang eug,” ujar Saktia.

“Iya kangen kasuur,” ujar Shani.

“Haha bener sih, tapi yaa.. namanya juga event ya kan?” ujar Melody. Lagi-lagi semuanya mengangguk. emang dah Bu Ji em kalo udah ngomong. Ngangguk semua..

~

“Jangan diabisin Nal, nanti kalo malem laper kan masih ada sisa,” ujar Ve.

“Ya ini sekarang aja laper, gimana nanti tengah malem,” ujar Kinal yang masih setia mencomoti ikan ikan kecil hasil buruannya. Ternyata racikan bumbu dari Ve dan Gaby cukup enak.

“Tau nih Kinal, kelaperan tengah malem sia,” ujar Anto.

“Ih ya jangan ih kak, tapi serius ini abis ini udah, dua lagi dua lagi,” ujar Kinal sambil memasukkan dua ikan ke dalam mulutnya langsung.

Yang lainnya hanya menggelengkan kepala melihatnya.

“Oke, karena udah malem juga, mungkin lebih baik kita tidur dulu ya,” ujar Ve.

Semuanya mengangguk setuju, dan masuk ke tenda masing-masing. Ve, Beby, Gaby dan Gre satu tenda, sedangkan Kinal, Della, Feni, dan Celine satu tenda, sedangkan Anto dan Edho juga satu tenda di tenda terpisah tentunya dengan member.

Pukul 12 malam.

“BANGUN!”

Kinal dan Della gelagapan saat ada seseorang yang menarik kakinya.

“Apaan sih Kak, nggak pake teriak-teriak juga kali banguninnya!” gerutu Kinal sambil mengucek matanya. Pandangannya masih kabur.

“Iya nih ih! Nyebelin banget orang lagi tidur enak-enak juga!” ujar Della.

“Yee cepet keluar!” Kinal dan Della di tarik paksa.

Saat keluar tenda Kinal terkejut melihat anggota timnya sudah di ikat dan di sumpal mulutnya.

“Eh apa-apaan nih!?” sergah Kinal saat tangannya juga diikat dari belakang. Begitu juga dengan Della.

“Udah diem aja! Ato mau gue bunuh lu!”

Nyali Kinal langsung menciut, entah kenapa orang berbadan besar di depannya ini membuat dirinya langsung ketakutan. Sudah begitu ia mengenakan masker penjahat pula.

“Udah bos!” ujar yang berbadan besar itu.

Orang yang dipanggil bos mengangguk dan memberi kode agar Kinal dan Della di satukan dengan yang lainnya.

“Cuma sembilan ya yang ada di pantai?” ujar si Bos.

Kinal menatap Veranda penuh tanya, Veranda hanya memberi kode agar Kinal diam.

“Kayaknya sih emang cuma bersembilan bos, paling ini cowo staff mereka,” ujar anak buahnya sambil menoyor Edho.

Edho hanya menggeram kesal, yang lainnya juga bungkam tidak memberi tahu ada berapa mereka sebenarnya, dan ia berharap kepada satu orang yang tidak ikut terikat itu. Ya, Anto.

“Cih, kampret, untung tadi gua kebelet kencing, terus gimana ini? Mereka siapa ya? Staff atau gimana? Tapi kok gua agak kenal suaranya ya,” gumam Anto. Anto bersembunyi di balik semak-semak yang gelap.

“Gue tanya, kalian nginep di mana di sini? Nggak mungkin Cuma segini dan tidur di pantai gini kan?” tanya si Bos sambil membuka sumpalan mulut Veranda.

Veranda menggeleng, tidak mau memberi jawaban.

“Jawab!”

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Veranda, Kinal yang melihat itu langsung bangkit dan hendak menyeruduk si Bos.

“Eits! Mau kemana lu bocah,” sayang Kinal di tahan oleh anak buah yang lainnya.

“Hiks..hiks..” Veranda mulai terisak karena sakit pada pipinya.

“Nah jadi gua tanya sekali lagi, kalian nginep di mana!?” tanya si Bos.

“Di..di.. tengah pulau ada hotel, di..di sana ada member lain dan juga staff,”

Si bos manggut-manggut, kemudian ia menyuruh anak buahnya untuk mengangkut mereka ke atas mobil bak yang dibawa menggunakan kapal mereka.

“Ayo!”

Mereka meninggalkan pantai.

“Haduh, kayaknya gue harus jalan nih ke sana,” gumam Anto sambil melirik ke arah mobil yang sudah menjauh.

“Ngg…” Anto menatap kapal yang mereka gunakan untuk ke sini.

“Barangkali di sana ada sesuatu yang bisa digunakan,” ujar Anto sambil mengendap menuju kapal.

~

BRAK!

Pintu hotel dibuka secara paksa, penjaga yang tadi sedang berpatroli sudah dirungkus dan diikat pada pohon di depan hotel.

“Periksa semuanya, kumpulkan di ruangan sana,” ujar si Bos sambil menunjuk pintu besar di depannya.

“Siap Bos,” anak buahnya yang berjumlah sekitar sepuluh orang mulai menggeledah kamar demi kamar.

“Gha, lo denger kaga tadi?” tanya Rizal.

“Iya, kaya ada yang dobrak pintu deh,” ujar Sagha sambil mendekat kea rah pintu.

Sagha menempelkan telinganya di pintu, mencoba mencuri dengar apa yang terjadi di luar sana.

“Shit, kayaknya ada yang nggak beres Cal,” ujar Sagha. Sagha langsung mencari tempat bersembunyi.

“Keluar aja Gha dari jendela,”

Sagha mengangguk, Rizal membuka jendelanya dengan perlahan. Saat ia sudah keluar, Sagha langsung menutup daun jendelanya.

“Ada apaan ya,” bisik Sagha.

“Tau dah,”

Klek.

Sagha reflek membungkam mulutnya saat mendengar pintu kamarnya terbuka.

Rizal dan Sagha merapatkan tubuhnya di bawah Jendela agar tidak terlihat.

“Kosong, mungkin lagi ikut event yang lainnya,” suara yang cukup besar terdengar dari dalam ruangan.

“Ini kira-kira bos mau ngapain ya?” tanya suara yang lebih cempreng dari sebelumnya.

“Bos punya dendam sama menejemen ini, makanya mau diculik terus di jualin membernya,”

“Lha itu staf sama fans yang lagi ikut event ini gimana?” tanya si cempreng.

“Ya bunuh aja,”

“Oh iya juga,”

“Yaudah cari di kamar lainnya,”

Sagha dan Rizal menelan ludah, keringat mengalir melalui pelipis mereka.

“Cal, gawat ini..” ujar Sagha.

Rizal mengangguk.

“Kita harus ngapain nih?” tanya Rizal.

“Apa kita coba masuk ke dalem aja? Cari informasi?” tanya Sagha.

“Gila lo, yang ada di tangkep terus dibunuh kita,” ujar Rizal.

“Ya daripada di sini aja? Kita coba ke depan dulu deh,” ujar Sagha.

Rizal mengangguk, mereka berdua merangkak menuju halaman depan. Rizal yang berada di depan Sagha melihat ada dua penjaga yang berdiri di samping mobil.

“Uph!” Sagha membentur bokong Rizal.

“Sialan lo Cal, mau berenti ngasih kode dulu dong,” rutuk Sagha sambil memegang hidungnya.

“Gha, itu ada mobil Gha,” ujar Rizal.

“Ya terus?”

Sebelum Rizal berbicara, ada dua orang yang keluar dari dalam, “Kita ke gunung, jemput member yang masih ada di sana,” ujar salah satu dari mereka yang berbadan paling besar.

Rizal dan Sagha saling tatap, kemudian mereka berdua mengangguk. Selagi para penjahat itu mengobrolkan letak tim 1 berada di kap mobil, Rizal dan Sagha mengendap-endap dan mencoba naik ke atas mobil. Rizal yang di dorong Sagha dengan mudah naik ke bak mobil.

“Ayo Gha buruan,” bisik Rizal.

“Bentar ini mobil kaga kecil Cal, lu tarik gua,” ujar Sagha sambil mengulurkan tangannya.

“Lo tunggu di sini kalo ada yang mencurigakan tembak aja!” terdengar suara dari arah depan, dan mobilpun dinyalakan. Sagha buru-buru naik ke atas mobil.

Dalam perjalanan ke gunung Sagha dan Rizal bungkam pikiran mereka masih melayang-layang.

“Cal, pas mereka turun dan jalan ke tempat member, kita juga turun aja Cal, serang mereka dari belakang,” ujar Sagha.

“Iya, tapi kita harus bawa minimal balok kayu buat gebuk yang badannya gede itu Gha,” ujar Rizal.

“Oya di sana ada siapa dah?” tanya Sagha.

“Tadi kalo nggak salah denger dari staff, kayaknya tim 1 deh, ada Refal berarti,” ujar Rizal.

~

“Siapa kalian sebenarnya!?” tanya salah satu staff.

“Hihi.. lo nggak kenal gue?” tanya si Bos sambil melepas maskernya.

“Hah? Kak Tyo!?” ujar Haruka, Okta dan juga tim T yang lainnya.

“Oh ini ulah Lo Tyo!?”

“Ya, lo tau kan gue benci banget sama menejemen ini?” ujar Tyo tanpa dosa.

“Tapi..”

“Hh, padahal gue udah ngerahin dan ngasih semuanya ke sini, eh malah ditendang gitu aja, brengsek,” umpat Tyo.

Para staff menunduk, ia tahu dulunya Tyo adalah menejer dari tim T, dan dikeluarkan dengan cara tidak layak oleh menejemen karena melakukan kesalahan yang kecil.

“No mistake, cuih! Gue kasih lihat nih apa kesalahan kalian,”

Tyo menodongkan moncong pistolnya ke salah satu staff.

“Tyo jangan!”

“Jangan kak! Jangan!!” ujar para member.

DOR!

Satu peluru menembus begian lengan staff.

“Akh!!”

Para member menutup matanya, sebagian lagi menangis karena ketakutan.

“Hahaha, uuuh adik adikku sayang, takut ya? Maaf ya maaf, hahaha,” ujar Tyo sambil menatap Okta, Anin dan juga Feni.

“Tenang, kalo kalian mah nggak akan ngerasain itu kok, karena kalian itu barang yang bagus bagus anget,” ujar Tyo samil mencolek dagu Naomi.

“Cih sialan,” umpat Ghaida.

“Ow ow, ada yang mau berubah nih,” ledek Tyo.

“Sabar ya Ghai, nunggu Melody dan kawan-kawan dulu, baru kalian akan saya bawa ke luar negeri, dan sisanya, maaf aja kalo ini hari terakhir kalian melihat matahari,” ujar Tyo dingin.

~

“Hoi! Ayo bangun bangun!!” teriak ketiga penjahat itu, satu tembakan dilesatkan. Dan itu membuat para member keluar dari tendanya.

“Ini ada apaan sih!?” Melody yang keluar dari tendanya kaget saat ada tangan yang membekap mulutnya dan pipinya sudah ditempeli moncong pistol.

“Ssh.. jangan marah marah cantik, suruh anak buah kamu kumpul di dekat api unggun ya, dan jangan ada perlawanan,”

Baik Nabilah Lidya dan yang lainnya tercekat saat tahu Melody sudah dibekap seperti itu.

“Ini kenapa?” tanya Desy yang masih bingung.

“Heh! Gue bilang kan jangan banyak tanya! Udah sana!”

Desy tersentak kemudian mengikuti member lainnya ke arah api unggun.

“Nah, gua kaga mau ya ngehabisin nyawa kalian sekarang, tapi kalo kalian ngebandel ya gua juga kaga keberatan sih, sekarang ikatkan tali ini ke temen kalian masing-masing,” ujar penjahat yang berbadan besar itu.

Melihat member yang masih bengong si besar geram, “Heh lu pada BEGO APA!? Cepetan baris dan iket!!” bentaknya sambil mengarahkan pistolnya ke mereka.

Shani dan Sisca sudah menangis sejak tadi, begitu juga Lidya, Saktia dan Vina, mereka saling mengikatkan tali ke tangan orang yang di depannya.

Refal masih mengerutkan keningnya, berpikir apakah ini permainan staff atau memang aksi kejahatan.

“Lid, jangan kenceng-kenceng ya,” bisik Refal pelan yang kebetulan Lidya lah yang mengikat tali ditangannya.

Lidya yang terisak mengangguk samar-samar.

“Gha, siap?” tanya Rizal.

Sagha mengacungkan jempolnya.

Sagha mengendap menuju penjahat yang sedang membekap Melody, sedangkan Rizal menuju penjaga yang berada di sebelah Desy.

“Kalo ngiket yang bener! Lo kaga diajarin ngiket apa pas sekolah hah!?” bentak penjahat yang berada di sebelah Desy.

Desy hanya diam dan terisak.

“Heh denger kag…”

DUK!

Suara pukulan terdengar keras, karena Rizal memukul tepat di bagian kepala si penjahat, dengan balok kayu yang cukup besar.

“Rizal,” ujar Desy.

“Woy!” bentak penjahat yang berbadan besar itu.

DUAK!

Sagha juga memukul penjahat yang membekap Melody tepat di ubun-ubunnya.

“Eh bangsat!” saat tangan si besar itu mengarahkan pistolnya ke Sagha Refal berlari ke arah api unggun, mengambil balok kayu yang masih tersisa arang panasnya, kemudian mengayunkannya ke wajah si besar.

PRAK!

Telak, kayu panas itu mengenai wajah si Besar.

“Uaagh!!” Si besar kelimpungan menahan panas di pipinya yang juga mengenai sebagian matanya.

Melihat si besar masih bergerak, Refal langsung menendang wajah Si Besar sekuat tenaganya.

Dan.. ia lansung pingsan.

“Cih, gua kira kuat, taunya gitu doang pingsan,” ujar Refal sambil menggosok kakinya yang kesakitan.

“Gila, sadis juga lo,” ujar Rizal yang melihat pipi si besar itu kena luka bakar.

“Hadeuh, gua kaga mikir tadi, orang adanya ini,” ujar Refal sambil membuang balok kayunya.

“Diapain nih mereka bertiga?” ujar Sagha.

“Iket aja di pohon, terus tutupin tenda badannya, biar kaga mati kedinginan,” ujar Refal.

Member yang melihat aksi sadis itu hanya terdiam, mungkin ada rasa takut karena tidak menyangka Refal akan melakukan itu.

“Hh, yaudah saling lepas ikatannya aja ya, Mad, bantuin kita buat ngiket penjahatnya ya,” ujar Rizal.

Ahmad mengangguk.

Setelah penjahatnya terikat, mereka semua naik ke atas mobil, dengan Refal yang menyetir.

“Ada apa sebenernya Cal?” tanya Melody.

“Hh, kayaknya ada kasus lagi teh, di hotel juga sama keadaannya,” ujar Rizal.

“Lha terus ini kita mau balik ke hotel? Bahaya dong!?” ujar Nabilah.

“Ya terus kita mau di sini? Ngebiarin yang lainnya gitu aja?” ujar Sagha.

“Ya nggak gitu..” ujar Nabilah.

“Yaudah kalian di belakang aja, biar gua ama Ahmad ama Refal yang di dalem, apa ada yang mau di dalem mobil?” tanya Sagha.

Semuanya kompak menggeleng, masih syok mungkin.

“Temen kamu apa sekejam itu?” tanya Melody saat mesin dijalankan.

“Nggak, semua orang kalo lagi terdesak bakalan ngelakuin apa aja buat nolongin temennya,” ujar Rizal.

Semuanya terdiam dan dalam hati mereka, mereka masih menyimpan rasa takutnya.

~

“Nah persiapannya udah selesai, asik juga ternyata bikin beginian,” ujar Tyo.

“Bos, bukannya lebih enak kalo langsung kita bunuh aja mereka?”

“Kaga enak dodol, enak begini, nyiksa mereka pelan-pelan, ye nggak?” ujar Tyo sambil mengangkat alisnya kepada para staff.

Ia kemudian menutup pintunya dan menguncinya dari luar.

Tyo tersenyum sambil memperhatikan 52 buah peti kecil yang sudah ia siapkan sebelumnya. Ia memasukkan kunci pintu dan juga kunci penghenti timernya ke dalam salah satu peti.

Kemudian kuncinya ia gantungkan di antara tiga kunci lainnya.

“Bos niat amat ampe bawa peti sebanyak ini,” ujar pengawalnya.

“Berisik lu, ini permainan favorite gue, empat kunci untuk lima puluh dua peti,” ujar Tyo.

“Waktu dimulai,” Tyo menyalakan timer yang terletak di gagang pintu. Ternyata di dalamnya sudah ia pasangi banyak bom, dan akan meledak jika waktunya habis. Kemudian Tyo dan pengawalnya turun kembali ke lantai satu.

Dalam ruangan yang dijaga oleh dua orang penjaga bersenjata tajam itu.

Kinal menendang kaki Gre yang berada di depannya itu.

Gre menatap Kinal seakan bicara ‘apa kak?’

Mata kinal melirik ke arah Tyo yang sedang berjalan memasuki ruangan.

Gre mengikuti arah lirikan Kinal, tapi ia masih tidak paham maksudnya.

Kinal menghela nafas.

Kemudian menyenggol Ve yang berada di sebelah kanannya,

“Ngg.” Gumam Ve pelan.

Kinal menunjuk dengan dagunya.

Ve melirik, kemudian melihat Bos yang sedang berjalan.

Tangan dan mulut mereka diikat serta di sumpal membuat mereka tidak bisa bergerak dan bicara.

“Ngg?” Ve bergumam tanda tidak paham.

Kemudian Kinal menunduk frustasi. Bagaimana cara memberi tahunya??

“Kenapa Kinal? Ada apa?”

Kinal tersentak saat mengetahui Tyo sudah berada di sampingnya.

“Kamu mau ngasih tahu Gre ama Ve apa?” tanya Tyo.

Mereka yang berada di depan Kinal menatap Kinal bingung. Sedangkan yang berada di belakang Kinal hanya diam karena tidak bisa melihat langsung.

“ngg..” Kinal menggeleng.

“Kamu mau ngasih tahu kalau saya yang melakukan penculikan waktu itu?” tanya Tyo.

Gre dan Ve mengerutkan alisnya. Sedetik kemudian mata Gre membulat, ia ingat! Ia ingat saat dirinya dan teman-temannya itu diculik!

“Hhh..” Kinal mengangguk pasrah.

“Ternyata memang kamu anak yang cerdas, dan itu membuat saya tersanjung kalau kau bisa mengenaliku,” ujarnya sambil mengelus pipi Kinal. Kinal mengelak.

“Haha, tapi terlambat bukan, hahahaha!” Tyo tertawa terbahak-bahak.

Gre masih menatap Tyo dengan tajam.

“Bos, mereka udah kembali,” ujar salah satu anak buah Tyo. Tyo juga mendengar suara mobil terparkir di depan.

“Bagus, sekarang lengkap sudah 20 perempuan yang akan menghasilkan uang untukku,” ujar Tyo sambil tersenyum senang.

“Nah sekarang kita turun, lo Fal, Mad nanti dari depan..”

“Gua cari jalan lain deh kayaknya, kesian member kayaknya masih takut kalo ngeliat gua,” ujar Refal.

“Hhh, yaudah lo mau dari mana?” tanya Sagha.

Refal menunjuk atap hotel, “Nanti gua dari atas,”

“Oke, tunggu si penjaga ini dateng dulu,” ujar Sagha. Refal mengangguk. Ketiganya sejak datang sama sekali tidak bergeming menatap lurus ke depan tanpa menoleh saat mengobrol tadi.

“Ayo turun-turun!” ujar salah satu penjaga itu, para member yang dibelakang sudah diberi instruksi oleh Rizal agar menaruh tangannya di belakang seakan sedang terikat.

Para member mengangguk, dan begitu hendak turun mereka langsung membekap si penjaga. Kemudian dengan sekali hantaman balok besar oleh Rizal si penjaga itu jatuh pingsan.

“Nice,” ujar Rizal. Semua member mengangguk dan nyengir.

“Oke, inget ya, nanti kalian lari aja masuk ke dalem, sambil teriak minta tolong gitu, biar jadi pengalih perhatian, nanti gue, Sagha Refal, sama Ahmad yang ngeberesin penjaganya, paham?” ujar Rizal.

“Cal, Refal dari atas Cal,” ujar Sagha.

“Maksudnya?” tanya Rizal agak keberatan.

“Iya nanti gua dari belakang aja masuknya, terus ke lantai atas, kalo nggak salah ada tangga darurat gitu deh dibelakang,” ujar Refal.

“Hh, yaudah, ati ati lo, jangan ceroboh,” ujar Rizal.

Refal mengacungkan Ibu Jarinya.

Refal berpisah dengan yang lainnya menuju halaman belakang hotel.

“Siap ya?” ujar Rizal begitu mereka sampai di depan hotel.

Semuanya mengangguk.

1.

2.

3..

“Hwaa.. jangan dibunuuh,” ujar Sisca yang langsung memulai actingnya.

“Eh gua bisa jalan sendiri!” ujar Lidya dengan suara keras.

Rizal, Sagha dan Ahmad tersenyum.

Tyo yang mendengar itu makin tersenyum senang.

~

Refal kini sudah sampai di halaman belakang, ia memanjat tangga darurat menuju lantai dua.

Beranda yang berjarak setengah meter dari tangga memuat Refal agak kesusahan untuk menaiki eranda tersebut.

“Haah, nyesel gua milih ke lantai dua,” ujar Refal.

“Lha Guntur? Edho?” ujar Refal yang tidak sengaja melihat dari celah gorden jendela.

Refal kemudian mencongkel jendela itu, dan menggeser gordennya, tanpa sepengetahuan Refal tangannya tepat sekali menggesernya di antara kabel-kabel bom yang dipasang di dinding.

“Lho kalian kenapa ada di sini?” tanya Refal.

Para staff dan juga yang lainnya menoleh ke arah Refal, saat Refal hendak masuk, salah satu Staff langsung menggeleng sambil menjerit tertahan.

Yang lain juga memberi kode agar Refal tidak masuk ke dalam melalui jendela itu.

“Hah kenapa?” tanya Refal bingung.

Lusi menunjuk bom yang ada di dinding dengan dagunya.

Refal terkejut saat menyadari banyak bom yang tertempel di sana. Dan tangannya juga masih berada di tengah-tengah antara kabel bom tersebut.

“Ups..” ujar Refal. Dengan perlahan ia menarik kembali tangannya.

Ia juga baru sadar ada kabel tipis yang menghalangi jendela, untung kabel itu tidak putus saat ia membuka gorden tadi.

Para staff dan yang lainnya menghela nafas lega.

“Yaudah nanti gue balik lagi oke?” bisik Refal.

Mereka mengangguk, Refal mengacungkan jempolnya.

Refal menuju beranda kamar di sebelahnya, “Astaga, loncat lagi ini…” gumam Refal.

~

“Heh bocah siaaal aaa!!”

BRAK!

Benturan keras terdengar, karena baru saja Sagha dan Rizal mendorong penjaganya terakhir hingga membentur tembok, Sagha yang memegangi kepala penjaga itu memastikan kalau kepalanya terbentur dengan keras.

“Gila gila.. sadis,” ujar Ahmad yang menyaksikan itu.

“Hh, nggak usah ngomongin sadis dulu, atau lu pada mau mati di sini?” ujar Sagha.

“Bos, kayaknya terjadi sesuatu,” ujar dua penjaga yang berada di ruangan itu.

“Goblok, ya periksa sana!” ujar Tyo.

Saat kedua penjaga itu keluar dari ruangan, terdengar suara pukulan dan orang yang terjatuh.

Tyo mengerutkan keningnya.

Kemudian ia tidak serta merta membuka pintu tapi menarik Beby dan mengarahkan pistolnya ke pelipis Beby.

“Ngg!” air mata Beby mengalir, ia sangat ketakutan saat itu.

Teman-temannya menatap Beby kasian, tapi mereka bisa apa.

Klek.

Pintu dibuka.

“Ooh jadi kalian lagi,” ujar Tyo saat Sagha dan Rizal masuk ke dalam.

“Lagi?” ujar Rizal bingung.

“Di mana member yang lain?” tanya Tyo.

Rizal dan Sagha saling tatap, keduanya memang tidak mengizinkan yang lainnya masuk ke dalam.

“Bukan urusan lo!” ujar Rizal.

DOR!

Peluru melesat dan menembus paha Rizal melesat diantara kepala member.

“Agh!!” Rizal langsung terduduk dan memegangi pahanya.

Para member terdiam, hampir saja, peluru itu menembus kepalanya.

“Tenang kali, gue juara tembak dulu,” ujar Tyo kalem.

“Cih,” Sagha menoleh ke arah Tyo.

“Sebenernya lo siapa sih? Ada masalah apa sama jekate?” ujar Sagha.

“Hahaha, ya gua punya dendam sama menejemen ini, kenapa masalah!?” tanya Tyo.

“Lha ya terus kenapa harus ke membernya!?” tanya Sagha.

“Berisik! Itu urusan gue!” ujar Tyo.

Sagha bungkam, suasana semakin memanas.

~

“Hup,” Refal sudah berhasil masuk ke dalam kamar, ia segera keluar dan menuju kamar di mana staff dan lainnya di tawan.

“Lha!? Si anjir, banyak banget ini,” ujar Refal yang melihat ada 52 buah peti di samping kamar tersebut, berjejer sepanjang lorong. Dan ada empat buah kunci yang tergantung di pintu. Refal berkerut saat memperhatikan warna kuncinya yang berbeda-beda. Hitam, Merah, Biru, Kuning.

Refal mengambil secarik kertas yang terselip pada timer.

“Waktu lo terbatas, salah satu kunci ini bisa membuka salah satu peti yang ada di sana.

Clue :

Aku adalah yang paling ditakuti di negaraku, karena aku adalah yang tinggi diantara lainnya. Meski empat Negara di satukan, akulah yang paling disegani. Tapi ada satu kelemahanku, akupun bisa terlempar kebawah jika para petinggiku mati.

Selamat mencoba..”

“Mampus apa ini!!?” teriak Refal sambil mengacak-acak rambutya.

Ahmad yang berada di lantai satu mendengar teriakan Refal.

“Itu Refal di atas deh kayaknya,” ujar Ahmad.

“Refal?” ujar Melody.

Ahmad mengangguk, “Gua ke atas dulu deh, ada yang mau ikut?” tanya Ahmad.

“Ng.. nggak deh,” ujar beberapa member.

“Gue ikut,” ujar Lidya, kemudian Shani juga mengangguk

Ketiganya kemudian menuju lantai dua.

“Kenapa Fal?” tanya Lidya.

“Eh? Ini staf sama yang lainnya ada di dalem, gua lagi nyoba buat buka,” ujar Refal sambil terus membaca secarik kertas itu,” ujar Refal.

“Emang susah?” Shani bergerak mendekati pintu mencoba untuk membukanya.

“Eh! Jangan!” tahan Refal.

Shani dan yang lainnya kaget.

“So.sorry, tapi kalo lo buka, yang di dalem bakalan meledak,” ujar Refal.

“Maksudnya?”

“Di dalem itu udah dipasangin bom, dan ini kodenya, kita harus nemuin pasangan kunci ini dan dari sekian banyak peti ini,” ujar Refal sambil menunjuk peti yang berjejer.

“Lha ini waktunya? Tinggal 20 menit lagi?” tanya Lidya sambil menunjuk timer.

Refal mengangguk.

“Aduh lo kenapa nggak dicoba satu-satu aja!” ujar Lidya kesal.

“Tapi lama lah!” ujar Refal.

“Ish! Udah kita aja yang nyoba, lu coba pecahin kodenya,” ujar Lidya.

Ahmad dan Shani mengangguk, kemudian mereka mencoba tiap kunci kepada peti itu satu persatu.

Refal duduk di koridor, ia mencoba berpikir apa jawabannya..

“Empat Negara? Lima puluh dua peti…”

Refal memutar oraknya.. ia sebenarnya hampir mendapatkan jawabannya tadi, tapi entah kenapa saat Lidya datang semuanya buyar..

Refal menatap Lidya yang lagi sibuk mencari kunci yang tepat untuk tiap peti.

“Lid..”

“Apa?” tanya Lidya tanpa menoleh.

“Lid…” panggil Refal lagi.

“Aparghh..” ujarnya sambil menggeram.

“Ih, serem amat lu, takut gue,” ujar Refal.

“Iya gue kan anakan serigala,” jawab Lidya asal.

“Hahaha iya deh si aum, tapi lo kenapa malah pake baju joker pas HS event Lid?” tanya Refal.

“Suka-suka gue, lagian tau dari mana lo? Eh gue lupa oshi lo kan gue ya..” ujar Lidya sengak.

“Najis sombong amat,” gerutu Refal.

“Haha, mampus lau, abis tadi lu bikin semua member takut sih,” ujar Lidya.

“Hh.. ya mau gimana lagi..” ujar Refal frustasi.

Lidya hanya tersenyum menanggapinya, Refal menggelengkan kepalanya, dasar joker cantik ini…

Joker…

Joker…

“JOKER!” teriak Refal.

“Monyong lu!” ujar Lidya latah.

Ahmad dan Shani juga terkejut karena Refal teriak tiba-tiba.

“Apaan sih! Masih ngebahas kostum gue? Ini peti gimana?” ujar Lidya.

“Bukan..bukan, lu tau kan kalo joker itu ada di kartu remi?” ujar Refal.

“Iya terus..?” tanya Shani dan Lidya.

“Lu tau kartu remi jumlahnya berapa?” tanya Refal.

“Kaga bang, jarang main gua,” ujar Ahmad.

“Lima puluh dua dodol! Dan ada empat jenis kartu di kartu remi, Sekop, Love, Keriting dan Wajik. Berarti, tunggu dulu..” Refal membaca lagi clue nya.

“Paling ditakuti, kartu AS,” ujar Refal.

“Dari empat Negara, berarti Sekop! As sekop! Karena sekop paling tinggi diantara yang lainnya, berarti..”

Refal mencari kunci warna hitam.

“Shan, kuncinya,” ujar Refal begitu melihat Shani yang sedang memegang kunci warna hitam. Shani mengangkat kuncinya.

“Kartu AS antara nomor satu dan nomor.. 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, Jack, Quen, King, As… berarti tiga belas, nomor tiga belas!!” ujar Refal.

“Coba Shan di peti nomor 13,” ujar Refal.

Shani mengangguk, kemudian buru-buru melangkah menuju peti nomor 13.

Klik.

“Yeay!!” teriak keempatnya.

“Sini Shan lempat kuncinya,” Shani melempar kunci pintu dan juga kunci penghenti timernya.

Refal segera membukanya satu persatu.

Tiit…

Timer berhenti, Refal menghela nafas lega.

Kemudian ia segera membuka kunci pintunya.

“Hh.. yaudah kalian bantuin staf dan lainnya ya, gua ke bawah,” ujar Refal.

Lidya, Shani dan Ahmad mengangguk.

Sampainya di bawah Melody dan lainnya masih menunggu di depan pintu.

“Ical Sagha?” tanya Refal.

“Di dalem, tapi kayaknya Ical ke tembak deh,” ujar Vina.

“Lha? Terus kenapa kalian masih di sini?” tanya Refal kesal.

“Tadi Ical nyuruh kita tunggu di luar,” ujar Melody.

Refal masuk ke dalam tanpa babibu..

“Wah wah… anggota lainnya..” ujar Tyo sambil ngangguk-ngangguk.

“Cal!” Refal menghampiri Rizal.

“Kenapa Gha?” tanya Refal.

“Dia megang senj…”

DOR!

“Argh!” Refal memegang lengan atasnya yang kini berdarah. Timah panas itu mengenai tepat ditengah-tengah lengan atasnya.

Beberapa member teriak tertahan.

“Heh, kalo ada orang di sini itu diperhatiin! Pada kaga tau sopan santun lu bocah!” ujar Tyo kesal.

“Hhh..hh..” Beby makin sesenggukkan ketakutan.

“Ssh ssh.. sabar ya sayang, maaf ya udah bikin takut,” ujar Tyo sambil mengelus pipi Beby.

“Gua nggak mau tau ya, lu bertiga diem di sana, atau gua tembakin ni kepala satu-satu,” ujar Tyo.

“Mau lu apa sih?” tanya Sagha.

“Lu kaga usah sok care dengan menanyakan apa mau gue, ini mau gue, gue maul u semua mati di sini sekarang jug…”

PRAANG!!

Tiba-tiba dari arah samping ada sebuah motor yang menerobos masuk dari jendela.

“What the F..!”

Ternyata Anto, ia membawa sebuah motor cross.

“Anto?” ujar ketiga temannya tidak percaya.

Tyo terpaksa mendorong Beby agar mereka berdua tidak tertabrak Anto.

“Ukh!” Tyo terduduk.

Sagha dan Refal yang melihat itu langsung lari ke arah Tyo.

“Haaah!!” Refal yang sudah dekat hendak menendang Tyo dari samping.

DOR!

Satu timah panas kembali melesat, kali ini tepat mengenai dada Refal.

Mata Refal membulat…

“Akh..” kemudian ia ambruk.

Anto yang melihat itu langsung turun dari motornya, saat Tyo mengarahkan pistolnya ke Anto, Sagha sudah menendangnya terlebih dahulu sehingga pistolnya terbuang jauh.

“Anjiing!!” ujar Anto sambil terus menghajar Tyo.

“Mel masuk Mel!” ujar Rizal sambil menggedor-gedor pintunya.

“Hah.. Cal gimana?” tanya Melody.

“Itu tolongin yang lainnya,” ujar Rizal sambil menunjuk ke arah para member.

Melody, Nabilah, Saktia, Desy, Sisca dan juga Vani langsung membuka ikatan member yang lainnya.

“To udah To!” ujar Sagha sambil menarik tubuh Anto.

Tyo sudah babak belur tak sadarkan diri.

“Cuh! Bangsat!” Anto meludahi Tyo.

“Udah anjir, mending kita tolongin Refal,” ujar Sagha sambil menarik Anto.

Anto mengangguk, kemudian ia menghampiri Refal.

“Fal, tahan dulu Fal,” ujar Anto panik.

“Eh Gha gimana ini?” tanya Anto.

“Teken dadanya! Tahan darahnya tolool!!” teriak Rizal dari kejauhan.

“Oh, iya iya..” Sagha langsung menekan bagian luka Refal, menahan agar darahnya tidak keluar.

“Kalo ada yang pegang hape tolong panggil bantuan sekarang!” teriak Rizal lagi.

Member yang tadi sempat bengong dan memperhatikan Refal yang terluka langsung gelagapan, dan lari keruangan masing-masing untuk mengambil HPnya.

“Eh eh kenapa ini?” tanya Lidya yang baru saja datang bersama staff.

“Kak itu tolong kak, Refalnya ketembak dadanya,” ujar Nabilah.

“Hah? Mampus!” salah satu staff langsung panik dan menghampiri berlari ke dalam.

Ahmad yang juga datang menghampiri Rizal, “Lu nggak apa bang?” tanya Ahmad.

“Tolong dong ini… ambilin kaen atau seprei guling kek, buat nahan darahnya,” ujar Rizal.

Ahmad celingukan kemudian ia berhenti ke gorden, ia langsung lari dan menarik gorden itu.

“Ini bisa?” tanya Ahmad.

“Iya bisa, iket yang kenceng ya,” ujar Rizal.

Ahmad mengangguk dan mulai mengikat paha Rizal kuat-kuat..

“Anjir, gimana ini kak?” tanya Ghaida yang melihat Refal mulai pucat.

“Udah ada yang nelfon bantuan?” tanya Sagha.

“Udah kak, tapi mungkin nanti pagi datengnya,” ujar Nabilah.

Keadaan makin panik.

“Bawa ke kamar aja, ada P3K kan, seenggaknya kita kasih pertolongan pertama dulu,” ujar salah satu staff.

Kemudian Anto menggotong Refal dibantu dengan Sagha.

Pandangan Refal mulai kabur… dan akhirnya menggelap..

~

Di sebuah pemakaman..

Beberapa member JKT48 hadir dalam pemakaman hari itu, memakai pakaian yang serba hitam dalam suasana yang berkabung.

Satu persatu dari mereka menaruh bunga di atas sebuah nisan.

Hujan rintik-rintik memuat suasana makin sendu..

“Hhh.. untung bukan lo yang di sana,” ujar Rizal.

“Iya, gua udah takut aja kalo lo bakalan mati waktu itu,” ujar Anto.

“Kalo lo mati, gimana ya..” gumam Sagha.

“Ini lu bersyukur apa nyumpahin nih?” tanya Refal.

Rizal, Sagha dan Anto mengangkat bahunya.

“Hh dasar, tapi iya juga sih.. kata dokter yang waktu itu meriksa gue, untung tembakannya nggak tepat ngenain jantung atau paru-paru gue, dan nggak terlalu serius lukanya,” ujar Refal.

“Thanks ya buat lo lo pada yang udah nyelametin gue,” ujar Refal lagi.

“Ya yay a..” ujar Rizal.

“Lu bilang ini bakalan terakhir kan?” tanya Anto.

Sagha, Rizal dan Refal mengangguk.

“Iya, ini adalah yang terakhir gua ngikutin kegiatan Jeketi,” ujar Rizal.

“Iya, gua udah bosen, kasian juga tuh member kalo kita ikut kegiatan pasti ada aja masalahnya,” ujar Sagha.

“Haah.. selain itu, gua bakal ngasih alesan apa ke nyokap kalo tau gua kaya gini lagi,” ujar Refal sambil memegangi lengannya.

“Bilang aja ada peluru nyasar,” ujar Rizal kalem.

“Atau kepentok tiang,” ujar Sagha ngaco.

“Atau, lo dengan beraninya menolong member jekate, terus ngorbanin diri lu…” ujar Anto.

“Terus gua di pasung kaga boleh keluar lagi sama nyokap gue,” tambah Refal.

“Heleh heleh… haha..” ke empatnya tertawa pelan.

  • The End –
Iklan

5 tanggapan untuk “The Rescuers 3 -Part 3-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s