Roulette Love, Part 2

 

*part sebelumnya*

“Kita lihat aja, siapa yang akan menang kali ini!” ujarnya.

“Iya kan girls?” tanyanya kepada anggotanya.

“Yes, Mam!” ujar mereka kompak.

“Ngg.. Kak, ini UKM apa ya?” tanya seorang perempuan menghampiri mereka.

“Ah, selamat datang, kami adalah…”

~~
“Kami adalah, Bonita Girls,”

“Bonita Girls,” tanya murid baru itu.

“Ya, kami adalah kelompok yang terdiri dari beberapa mahasiswi yang berbeda jurusan,” ujarnya sambil mengukir senyum.

“Sama seperti Red Camisa itu?” tanyanya.

“Tentu saja beda! Kelompok kami sudah memiliki izin disini, dengan kata lain kami adalah kelompok yang legal, berbeda dengan mereka yang baru dibentuk itu dan tidak memiliki izin untuk membentuk grup!”

“Hmm begitu, lalu apa yang kalian lakukan dalam grup ini?” tanya mahasiswa baru itu.

“Kami membentuk kelompok wanita yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang, jika kamu ingin mengenal kami lebih jauh, datanglah ke ruang audisi besok pagi, jangan lupa sertakan identitas kamu, ini persyaratan yang harus kamu siapkan dalam audisi nanti,”

“Maaf nama kakak?”

“Aku Melody,” ujarnya sambil menunjukkan badge M yang merupakan inisial namanya.

“Baik kak Melo, nanti aku akan ikut audisi,” ujar mahasiswa baru itu semangat.

Anggota yang lainnya tersenyum melihat itu.

“Betewe kenapa pada nyebutnya UKM ya? Apa di maps nggak dikasih petunjuk kalo stand di daerah sini adalah stand khusus kelompok tertentu?” tanya perempuan yang mengenakan kacamata.

“Hmm, mungkin ada salah paham, atau mereka tidak membacanya,” ujar perempuan yang sedang asik mengabadikan moment dengan kameranya.

Mereka mengangguk mengamini perkataan temannya itu.

~><~

Hari berganti, mereka yang sudah menentukan akan masuk ke dalam unit kegiatan apa mulai memenuhi bagian barat kampus, di mana semua basecamp atau biasa disebut sekre, mereka mulai berkenalan dengan para seniornya. Dari mulai unit manga, musik, doodlers, desainteam, theater vierzig, hingga BEM Vierzig.

Di tempat lain, di sebuah aula besar, tempat di mana biasanya anak theater melakukan latihannya.

“Selamat pagi para penghancur duniaa,” ujar seseorang yang kini berdiri di atas panggung.

Semuanya yang ada di ruangan itu berteriak semangat.

“Well, kalian semangat sekali ternyata, baik perkenalkan, nama saya adalah Della, dari jurusan broadcasting…”

“Hai kak Della,” ujar semuanya.

Della tersenyum, “Baiklah, kalian semua yang ada di sini, pasti bingung kenapa kalian berada di sini? Tidak berada di ruangan sekre khusus unit seperti yang lainnya bukan?”

Semuanya mengangguk menjawab pertanyaan Della.

“Nah, karena kalian akan masuk ke dalam sebuah unit yang luar biasa!! Penuh dengan orang-orang berbakat! Tidak hanya satu bakat! Bahkan lebih dari tiga bakat! Kalian akan diseleksi oleh mereka para senior dengan ketat, jadi jangan sia-siakan kesempatan ini!” ujar Della dengan semangat.

“Siap kaaak!!” ujar mereka para mahasiswa baru.

“Baik, saya akan perkenalkan dulu unit apa ini,” ujar Della.

Della memberi kode kepada temannya yang membantu ia untuk menyalakan proyektornya.

“Vierzig, kami mengambil nama kampus tercinta ini sebagai nama unit ini, karena unit seperti ini hanya ada di sini, yes, the one and only,” ujar Della.

“Dalam vierzig, ada beberapa kelompok yang nanti akan memilih kalian, diantaranya!

Pertama, Bonita Girls, kelompok pertama yang membangun unit ini, saat ini diketuai oleh Melody Laksani, mahasiswi jurusan Musik.

Kedua, Lock Angels, kelompok yang dipimpin oleh Naomi Prasetya, yang kini sedang menimba di jurusan Seni Pertunjukan.

Ketiga, satu-satunya kelompok yang menggunakan bahasa persatuan bangsa kita, yaitu Tiga Jajar Genjang, bingung? Sama. Tapi kalian akan tahu kenapa dinamakan seperti itu? Kalau kalian terpilih,” Della mengambil botol aqua yang ia siapkan sebelumnya. Ia tahu akan cepat haus jika berbicara non stop begini.

“Tejege ini diketuai oleh Jessica Vania atau kita biasa manggilnya Jeje, ia mahasiswi jurusan musik yang mendapat julukan dewi piano di vierzig.

Terakhir, kelompok yang baru-baru ini terbentuk, mereka adalah The Red Camisa, kelompok yang kini berisikan delapan cowok kece, uhuk, diketuai oleh Keynal.” ujar Della.

“Baik, seperti itulah, kalian diharuskan menampilkan dua keahlian kalian, dalam seni tentunya, silahkan menuju ruang sebelah, nama kalian akan dipanggil satu persatu,” ujar Della lagi.

Semuanya mengangguk mengerti, mereka beranjak pergi melalui pintu samping. Begitu mereka keluar, masuklah para senior dari kelompok-kelompok tadi. Empat kelompok besar, yang selalu bersaing secara sehat.

“Lho? Camisa udah boleh masuk?” ujar ketua Tejege, Jeje.

“Boleh dong Je, masa nggak? Kan udah kebentuk kelompoknya,” ujar Nabil sambil duduk dibarisan kedua dari depan.

“Welcome Key, semoga sukses,” ujar Naomi sambil mengecup pipi Keynal.

Keynal tersenyum cool, sudah tersebar memang kalau Keynal dan Naomi memiliki hubungan, tapi Keynal menyanggahnya kalau ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Naomi.

“Cih,” Melody mencibir.

“Kenapa?” tanya Keynal yang mendengar itu.

Melody menatap Keynal, kemudian menatap ke belakangnya?

“Kamu bertanya kepadaku?” tanya Melody sambil menunjuk dirinya.

Keynal menyipitkan matanya. Ia hendak angkat bicara lagi, namun Farish sudah menyuruhnya untuk duduk.

Melody tersenyum penuh ke menangan.

“Haiii Vierziiiig!!!!” sapa Della.

“Hallo Deeeeel,” semuanya membalas sapaan Della.

“Sudah siap untuk terkejut dengan talenta yang akan mereka tampilkan?” tanya Della.

“Siaaaaap!!!” jawab mereka serempak.

“Baiklah, profil mereka ada di meja bagian depan, silahkan untuk para ketua mengambil mapnya, sudah disiapkan untuk per-kelompoknya,” Della membiarkan para ketua itu mengambil mapnya masing masing.

“Baiklah! Ini peserta pertamanyaaa!!!”

~

“Gimana?” tanya Boby.

Mereka kini ada di ruang khusus Red Camisa. Sebenarnya ruangan ini adalah ruangan tidak terpakai yang letaknya ada di bagian belakang kampus, namun Keynal dan Farish berhasil mengambil alih ruangan ini. Karena Keynal juga ingin seperti grup yang lainnya, yang memiliki ruangan masing-masing.

“Hmm, ada dua nama yang menarik perhatian gue,” ujar Keynal.

“Siapa?” Nobi menghampiri Keynal dan ikutan membaca selembaran yang isinya profil dari peserta.

“Andrew Vadelgi, jurusan seni pertunjukan, selain akting waktu SMA sudah sering menjuarai perlombaan fingerstyle dan pernah ikut konser besar suatu orchestra, not bad,” ujar Keynal.

Yang lainnya mengangguk.

And then?” tanya Maul.

“Oktavianus Enfald, dari jurusan Desain Interior, weh? Tumben anak Desain Interior mau ikut beginian?” seru Keynal.

“Keahliannya apa?” tanya Farish.

“Nyanyi, main alat musik drum, gambar tentunya, waktu SMA dia udah ngedesain tiga buah cafe,” ujar Keynal.

“Hmm,” Maul dan Farish manggut-manggut.

“Yaudah terima aja, ada anak cowo laginya nggak?” tanya Nobi.

“Ronald? Tapi dia nggak cocok sama kita, karena dia nggak punya prestasi sebelumnya,” ujar Keynal.

“Hmm, oke,” Nobi mengangguk.

“Jadi kita ambil ya Andrew sama Okta?” tanya Keynal.

“Sikaat~” ujar Maul.

Keynal mengangguk kemudian berjalan keluar dari ruangan Red Camisa.

Di Aula yang sama.

“Oke, tentukan pilihan kalian,” ujar Della. Gayanya sudah seperti sales saat ini.

“Bonita Girls, yang dipimpin oleh Melody, akan merekruit Elaine Falinska, dan Ratu Vienny,” ujar Melody.

“Ah eble, padahal gue mau ngambil Vienny,” ujar Jeje.

“Hm? Sorry Je, dia pasti lebih milih kita,” ujar Melody percaya diri.

“Iya iya gue ngerti, Tejege belum ada apa-apanya sama kalian,” ujar Jeje pasrah.

“Ya kalo mau, lo bisa milih kali Je,” ujar Della.

Jeje manyun, untuk apa? Pikirnya. Toh pasti lebih milih Bonita.

“Pfft, gue ah sekarang, Lock Angels yang dipimpin oleh gue Naomi, memilih Nadhifah Salsabillah, dan Natalia,” ujar Naomi.

“Seperti biasa ya, pilihannya hihi,” ujar Della.

“Iya dong harus dipertahanin,” ujar Naomi.

“TeJeGe yang dipimpin oleh Jessica Vania, memilih Aurelia Liandra, Sisca Andreada, dan Andrew Vadelgi,” ujar Jeje.

“Lho nggak jadi milih Ratu?” tanya Della.

“Males, milih yang pasti-pasti aja,” ujar Jeje.

“Oke last, Red Camisa?” tanya Della.

“Oke, Red Camisa yang dipimpin pleh Keynal, memilih Andrew Vadelgi, dan Oktavianus Enfald,” ujar Keynal.

“Lha lha? Lo siapa Key? Milih Andrew juga?” tukas Jeje.

“Gue? Keynal Putra Afloch,” ujar Keynal santai.

“Cih,” Jeje melengos kesal.

“Udah-udah lagian ini masih ada sisa banyak lho peserta yang daftar?” ujar Della sambil melihat formulir pesertanya.

“Nggak minat, yang lainnya kurang bagus,” ujar Melody santai.

“Haha kriteria kalian tinggi banget, kalo gue ikutan bisa masuk nggak ya?” canda Della.

“Lo cocok masuk Tejege Del,” ujar Naomi.

“Yee nanti grup gue berubah jadi grup lawak,” ujar Jeje.

“Lho kan cocok, udah ada Dewa sama Via, hahaha,” ujar Naomi.

“Sudah sudah jangan merebutkan diriku, aku lebih suka tampil terus dibayar,” ujar Della.

“Ah lo mah cewe bayaran,” tukas Jeje.

“Iya lah, cuma ngeMCin kalian doang aku rela tidak di bayar,” ujar Della.

“Iyalah rela, orang lo juga sekalian ngeliatin daun muda,” ledek Jeje.

“Malah ribut, udahkan Del? Tinggal diinformasiin aja?” tanya Melody.

“Yap, nanti gue sampein, seperti biasa, kalian tinggal tunggu di ruangan masing-masing,” ujar Della.

“Oke, bye Della,” ujar Naomi sambil melambai.

Setelah kepergian para ketua grup, Della memanggil semua peserta lagi. Untuk mengumumkan hasilnya.

“Hai hai, gimana rasanya tampil di depan mereka?” tanya Della.

“Menegangkaaan,”

“Degdeggaaan,”

“Seruuu,”

“Hmm, begitukah? Saya udah dapet hasilnya nih? Siapa yang penasaraan?” tanya Della.

“Kitaaaaa!!”

“Haha oke, karena kalian udah penasaran, dan saya juga ada urusan ngeMC di acara lain, kita percepat yaa,” ujar Della.

Della membacakan satu persatu peserta yang terpilih. Mereka yang tidak terpilih harus bisa menerima kekecewaan itu, ada yang sampe nangis(?)

“Baik kalian yang sudah terpilih, silahkan ke ruangan masing-masing, oh ya, untuk Andrew, kamu bebas memilih, apakah ingin masuk ke grup Red Camisa, atau Tejege,” ujar Della sambil memberikan kunci ruangan masing-masing Grup.

“So pilih mana Ndrew?” Della menyodorkan dua kunci, satu kunci berwarna merah bertuliskan Red Camisa dan kunci berwarna Hitam bertuliskan TJG.

“I choose Red,” ujar Andrew.

“Oke, silahkan menuju ruangan masing-masing, dan selamat berkaryaaa,” ujar Della.

Semuanya mengangguk, dan mereka keluar dari aula.

Di ruang Bonita Girls.

Clek.

Pintu ruangan dibuka dengan kunci yang diberikan Della.

“Welcome to the grup, Vienny, Elaine,” sambut Melody bersama dengan anggota lainnya.

Vienny dan Elaine tersenyum sumringah.

“Terima kasih,” Vienny dan Elaine membungkuk.

“Aku akan memperkenalkan anggota lainnya, silahkan duduk,” ujar Melody sambil mempersilahkan Vienny dan Elaine duduk di sofa tengah.

“Yang pertama, aku, Melody Laksani, dari jurusan Seni Musik,” ujar Melody.

“Aku Ve, Jessica Veranda, dari jurusan DKV,” ujar perempuan yang kini sedang memakai kacamata.

“Aku Shania Junia, dari jurusan Seni Pertunjukkan,” ujar perempuan yang jug memakai kacamata, ia tersenyum manis kepada Vienny dan Elaine.

Elaine dan Vienny membalas senyum itu.

“Aku Sinka Julia, bedain Junia dan Julia ya, hehe, aku dari Jurusan Seni Rupa,” ujar perempuan yang kini memakai jaket panda.

Elaine dan Vienny mengangguk paham. Setelah itu hening.

“Lho? Ayana?” Melody celingukkan.

“Woy, malah tiduur,” Shania mencubit pipi Ayana.

“E,eh maaf hehe, aku Ayana, dari jurusan Fotografi, salam kenal,” ujar gadis itu dengan mata yang masih melek setengah.

“Aiih dasar, makanya jangan keseringan motret malem,” ujar Shania.

“Aah diem ah,” Ayana menelungkupkan lagi kepalanya diantara kedua lututnya.

“Oke, aku Gracia, kalian bisa memanggilku Gre, sama dengan Ayana, aku dari jurusan fotografi,” ujarnya sambil membungkuk sopan.

“Aku Shani Indira, dari jurusan Seni Pertunjukkan juga sama kaya Shania,” ujar Shani.

“Shani, dan Shania?” ujar Elaine.

“Iya, jangan ketuker ya namanya,” ujar Shania.

“Banyak yang mirip ya namanya,” ujar Vienny sambil membiarkan otaknya menghafal nama dan wajah seniornya.

Last, it’s me, Gaby Margareth, dari jurusan Seni Musik,” ujar Gaby.

“Oke karena sudah berkenalan, aku harap kalian berdua bisa bekerja sama dengan kami, karena banyak hal yang mesti kita lakuin untuk semester ini,” ujar Melody.

“Siap!” Elaine dan Vienny menjawab dengan kompak.

~

Teeet

Suara terompet menggema begitu Okta dan Andrew masuk ke dalam ruangan Red Camisa.

Welcome Andrew dan Okta, selamat bergabung,” ujar Keynal.

Okta dan Andrew tersenyum.

“Terima kasih kak,” ujar mereka berdua.

“Gue sepertinya nggak perlu ngenalin anggota Red Camisa satu persatu kan?” tanya Keynal.

Okta dan Andrew menggeleng.

“I think, I know you all,” ujar Andrew.

Good, so we have to move to the point,” ujar Farish.

“Ada beberapa hal yang harus kalian lakukan, sebelum kami menerima kalian berdua di sini,” ujar Nabil.

“Apa yang kalian ketahui tentang Red Camisa?” tanya Deva.

“Hm, sekelompok cowo ganteng dan keren yang memiliki bakat lebih dari satu dalam bidang seni?” ujar Okta.

“Good, kecuali satu, Maul itu cantik bukan ganteng,” ujar Nobi.

“Sial!” Maul melempar bantal sofa ke arah Nobi.

Okta dan Andrew tersenyum melihat tingkah senior mereka.

“Andrew? Apa jawaban lo?” tanya Farish.

“Same with Okta, but, kalo gue nggak salah, syarat utama untuk masuk sini adalah, being playboy?” ujar Andrew kalem.

Semuanya tersenyum. Tersenyum jahat tepatnya.

“Tau dari mana?” tanya Nabil.

“Hm, gue udah mengamati kampus ini sejak lama, begitu pula dengan UKMnya,” ujar Andrew.

Are you spy, or stalker?” tanya Farish.

“Haha no I’m not, gue cuma kebiasaan untuk mencari tahu dulu kemana gue akan melanjutkan pendidikan gue, mengetahui tentang sistem pendidikannya, dan tentang apa yang ada di dalamnya,” Andrew mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum.

“Sip, gue nggak perlu ngejelasin lebih lanjut kalo gitu,” ujar Deva.

Deva menatap Nino dan Mario yang sudah siap menarik kain hitam yang menutupi papan tulis.

Sret.

“Itu adalah syarat yang harus kalian tempuh untuk bisa masuk ke Red Camisa,” ujar Keynal sambil menunjuk papan tulis.

Andrew dan Okta menoleh ke papan tulis.

“Serius kita harus ngelakuin itu?” taya Okta dengan tampang polosnya.

Keynal mengangguk, begitu juga anggota yang lainnya.

“Boleh gue yang nentuin apa yang pertama harus mereka lakukan?” tanya Boby.

“Yes, please,” Keynal melempar spidol hitam kepada Boby. Boby menangkapnya.

Kemudian Boby membulatkan salah satu nomor yang ada pada papan tulis itu.

What!?” ujar Okta dan Andrew bersamaan.

“Kenapa? Takut?” tanya Boby sambil tersenyum jahil, mamerkan ‘lubang’ pada pipinya.

“Nggak sih, tapi…” Okta menggaruk kepalanya.

“Hmm, pengerjaan semua tugas yang ada di papan tulis cuma gue kasih sebulan, kalo kalian gagal, ya maaf kami tidak bisa menerima kalian,” ujar Keynal.

Okta dan Andrew mengangguk pasrah.

“Bacain Bob, kasian yang baca fanfict ini penasaran sama tugasnya,” ujar Keynal.

“Yaelah, kan seru kalo penasaran gitu,” ujar Maul.

“Oke, tugas pertama Okta dan Andrew adalah, membuat sketsa dengan model mahasiswi dari Vierzig Acht, sebanyak 28 sketsa,” ujar Boby.

“Tapi kenapa 28 kak?” tanya Okta.

“Karena 2 model terakhir kami yang menentukan,” ujar Farish.

Okta menepuk jidatnya.

“Baiklah, mulai kapan?” tanya Andrew.

“Mulai sekarang lha! Buru!! Deadline kalian besok malam!” ujar Nabil galak.

Okta dan Andrew terkejut, kemudian ia segera berlari keluar ruangan Red Camisa.

“Hahaha, galak bener Bil,” ujar Maul.

“Abis pake nanya,”

“Hm, mereka bisa nggak ya?” tanya Nino.

“Kita lihat aja,” ujar Keynal.

~

Esoknya.

“Sip, beres makasih yaa,” ujar Okta riang, awalnya ia sempat tidak yakin kalau bisa menyelesaikan tugasnya, tapi dengan wajahnya yang -katanya- kayak anak kecil itu, justru banyak kakak tingkatnya yang ingin digambarkan oleh Okta.

“Iyaa, jangan sungkan ya Ta,” ujar kakak tingkat perempuannya sambil mengecup pipi Okta.

“Hehe,” Okta memasang wajah tersipu.

“Iih lucu bangeet siih gemes,” ujarnya sambil mencubit pipi Okta.

“Aaw.. Sakit kaak,” Okta -berpura-pura- kesakitan sambil memanyunkan bibirnya.

“Hehe maaf deh, abis Okta lucu, yaudah kaka tinggal dulu yaa, daah Okta,”

“Daaah,” Okta melambaikan tangannya.

“Yosh! 15!” ujar Okta.

Andrew menghampiri Okta.

“Udah berapa Ta?” tanya Andrew.

“Lima belas Ndrew! Kamu?” tanya Okta.

“20 nih,”

“Lhaaa kok cepeet?” Okta manyun.

“Hehe, kan hari pertama kuliah dosen gue nggak ada, jadi langsung aja deh,” ujar Andrew.

“Ah curang, tadi pagi Okta ada dosen, makanya baru bisa mulai agak siangan,” Okta masih memanyunkan bibirnya.

“Yaudah, kan masih jam 2, bisalah hari ini diselesaiin,” ujar Andrew.

“Iya, tugas dari mereka masih banyak,”

“Yaudah, ke kantin dulu yuk, istirahat,” ajak Andrew.

Okta mengangguk, ia memasukkan sketchbook A3nya kedalam tas ranselnya.

Di kantin, Okta dan Andrew menikmati makan siang mereka. Mereka memang tidak ingin ke sekre RC dulu, karena belum menyelesaikan tugas mereka, atau lebih tepatnya mereka belum diizinkan masuk.

“Lo kebanyakan kaka tingkat ya?” ujar Andrew sambil melihat gambar-gambar Okta.

“Hehe, abis katanya muka aku kaya anak kecil,” ujar Okta.

“Emang, gue aja heran, kirain gue lo masih SMP,” ujar Andrew.

“Enak aja, Aku mau ke anak-anak seni pertunjukkan ah, kali aja ada yang mau jadi model gambarku lagi,” ujar Okta sambil menghabiskan minumnya.

“Yaudah semangat ye, ketemu di RC jam 7 malem,” ujar Andrew.

Okta mengangguk.

Okta dan Andrew berpisah, Andrew lebih memilih ke ruang perpustakaan. Habis di sana tenang katanya.

“Hm, kak,” Okta menepuk pundak mahasiswi yang sedang duduk sendirian.

“Ya?” tanyanya sambil menoleh ke arah Okta.

“Ngg.. Aku lagi ada tugas untuk menggambar, membuat sketsa dengan model perempuan tepatnya, kakak mau jadi model aku?” tanya Okta sambil mengeluarkan wajah ‘anak kecil’nya.

“Hmm, begitu. Boleh-boleh, mau di mana?” tanyanya.

“Di sini aja nggak apa kak,” ujar Okta.

“Gimana menurut lo?” tanya Keynal.

“Hmm, mungkin kita bisa lihat perkembangannya, he’s good,” ujar Boby.

Keynal mengangguk setuju.

“Bagaimana dengan Andrew?” tanya Nabil.

“Kakak lo sama yang lainnya yang nilai, gue percaya kok sama penilaian kakak lo,” ujar Keynal.

Mereka bertiga berjalan menjauh dari Okta.

Seperti biasa saat di lorong, Keynal dan juga Nabil bercanda, sedangkan Boby hanya ikut tersenyum saat Keynal selalu bisa menjitak kepala Nabil.

“Aah sakit elah, kalah mulu gue kalo suit sama lo,” ujar Nabil.

“Haha, ya elu kaga kapok-kapok,” ujar Keynal.

“Ng, Bil, mending lo jalan yang bener,” ujar Boby. Karena saat ini Nabil berjalan sambil menghadap ke belakang.

“Emang kenapa?”

Bruk.

Nabil menabrak seseorang.

“Aw.. Sakit tauu,” ujarnya sambil meringis.

“E,eh maaf maaf,” Nabil segera membantu dia berdiri.

“Elo Sinka?”

 

-TBC-

 

-Falah Azhari-

Iklan

4 tanggapan untuk “Roulette Love, Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s