Minutes to Midnight (Jangan Bermain)

PERINGATAN 17+ : Mungkin ada adegan yang kurang mengenakan di alur horornya :3

—-

“Hosh…hosh” suara hembusan nafas yang dikeluarkan secara kasar tak berarturan.

“Tetep jalan dibelakang kakak, dek” ucap Shani, namun tak terlalu terdengar.

Shani yang sedari tadi fokus berjalan pelan melihat suasana sekitar yang telah gelap akibat listrik padam. Kini ia menoleh kebelakang dimana sang adik mengikuti.

“D..dek…” ucap Shani lemas saat tak melihat sosok adik yang mengikuti dibelakangnya.

Tubuh serasa menggigil, lidah kaku untuk berucap. Suasana malam yang gelap dan sangat sunyi oleh aktifitas. Berdiri diatas lantai dingin ia berpijak sendiri tanpa ada orang lain didekatnya yang bisa menenagkan memberi rasa aman.

“Kak !” samar-samar terdengar suara teriakan yang memanggil.

“Dek…” balas Shani tak terlalu keras sambil memastikan sumber suara tersebut.

Suara tersebut berasal dari lorong bawah yang panjang dari Villa. Dengan langkah yang bergetar Shani mencoba mendekat. Sesaat satu kakinya menginjak anak tangga pertama. Hanya kesunyian dan suara angin malam beserta suara detak jarum jam yang bisa ia dengar.

Susana pagi hari disalah satu rumah kediaman keluarga yang harmonis. Terlihat kesibukan disana. Barang-barang yang dikemas dalam box kardus mulai diturunkan dari Truk pengangkut. Mereka baru saja sampai di rumah yang baru saja dibeli oleh sang suami. Sebenarnya bisa lebih disebut sebagai Villa. Villa dengan ukuran yang bisa dikatakan juga dengan ukuran besar.

Terlihat juga para putri mereka yang baru keluar dari dalam mobil berjumlah Tiga anak. Anak yang paling besar keluar dengan Hedset melingkar dilehernya bernama Shani Indira Natio, Shani. Diikuti oleh adiknya dengan menenteng botol minum berwarna ungu, bernama Shania Gracia, Gracia atau dikeluarganya sering dipanggil Gre. Sementara dipintu sebelahnya terdapat adiknya yang paling muda, Anindhita Rahma atau Anin. Anin sendiri terlihat baru bangun dari tidurnya. Bisa dilihat dari gerakannya yang mengucek kedua matanya dan menguap.

Tak berselang lama setelah mereka bertiga keluar dari dalam mobil. Dua orang anak laki-laki mendekat ke arah mereka. Dua anak tersebut adalah anak dari adik ayah Shani, Gracia dan Anin. Bernama Ido dan Willy. Mereka berdua memang sudah hampir setahun ini tinggal bersama keluarga Shani dikarenakan kedua orang tua mereka bekerja ke luar negri. Bukannya tak diajak tapi mereka lebih memilih tetap tinggal di Indonesia makanya mereka dititipkan ke keluarga tersebut.

“Bantuin masukin barang kek” ucap Willy pada ketiga anak perempuan.

“Iya bawel. Ini juga mau bantuin” balas Gracia.

“Angkat yang enteng-enteng aja” ucap Ido.

“Ngeledek” Sahut Anin.

Setelah semua barang selesai diturunkan dari dalam Truk dan Truk tersebut kembali pergi menjauh. Dengan saling membantu mereka membuka kardus-kardus dan mulai menatanya didalam ruangan sesuai fungsi atau letak yang telah diinginkan.

Shani dengan langkah pelannya mulai menelusuri sekitaran rumah barunya. Dengan alunan musik lewat Hedset menempel dikedua telinganya yang tersambung ke Smartphone nya, ia berjalan menikmati. Ia tertarik setelah melihat bangunan Gubuk kecil disamping rumah, mulai mendekat. Bangunan usang namun masih terlihat terjaga kebersihannya.

Shani mencoba membuka pintu tersebut tapi ternyata terdapat kunci Gembok yang tergantung. Ia mengambil jepitan rambutnya dan mulai membuka Gembok tersebut dengan alat itu.

“Krriieettt…” suara engsel pintu yang telah terbuka.

Tak ada apapun, hanya ruangan kosong yang Shani liat setelah berhasil membuka pintu dan memasukinya. Ia berjalan mengitari ruangan. Saat mengitari, Shani melihat sebuah Tape Recorder kecil seukuran Smartphone nya. Karna tak ada hal menarik lainnya, Shani keluar kembali dari Gubuk kecil tersebut namun, ditangannya ia membawa Tape itu.

Malam pertama dihari kepindahan. Seisi anggota keluarga tersebut berkumpul diruang makan untuk menyantap makanan yang telah tersaji hangat didepannya dengan aura menggoda lidah. Makanan yang dibuat oleh ibunya. Ayah, ibu, Shani, Gracia, Anin, Ido dan juga Willy telah siap untuk memulai menghabiskan.

“Jangan bengong aja dong, nanti kita keduluan sama Anin loh” ucap Shani.

“Ah iya bener, bisa-bisa kita ga kebagian jatah nanti” balas Ido menanggapi ucapan Shani.

“Ih, apaan sih kak ? Emang Anin serakus itu”

“Hehehe. Kak Shani cuma bercanda aja kok, Anin sayang” ucap Shani.

“Anin ndut” sahut Gracia sambil mencubit pipi Anin.

“Sakit ah kak”

“Udah jangan bercanda terus. Kalo mau makan berdoa dulu” ucap Ibu menengahi.

“Ayah yang mimpin doa. Berdoa…mulai” ucap Ayah.

“Sikat !” ucap Ayah dengan semangat selesainya berdoa.

Sementara itu yang lain hanya diam menatap kelakuan ayah, om mereka dan juga si ibu menatap sang suami. Namun, mereka tertawa setelahnya.

Pukul 23.10 WIB. Shani masih terlihat dalam posisi tengkurap diatas tempat tidurnya sambil jari nya bermain kursor Mouse di Laptopnya. Bosen. Hal itulah yang Shani rasakan setelah lumayan lama bermain dengan Laptopnya. Saat ingin megembalikan Laptopnya ke atas meja, pandangan Shani tertuju pada Tape Recorder yang ia ambil dari Gubuk kecil samping rumah barunya.

Ia mengambilnya dan mulai membolak balik Tape tersebut sambil tiduran terlentang.

“Tape siapa ya ?” ucap Shani menerawang.

“Didalam juga masih ada kasetnya. Kaset rekaman apa ?”

“Coba puter kali ya”

Shani memberanikan diri memencet tombol play pada Tape. Hening. Tak ada suara setelah tombol play ditekannya, namun gulungan plastik film didalamnya tetlihat berputar.

Sekitar satu menit menunggu apa isi rekaman tersebut. Penasaran rekaman lagu atau hanya rekaman biasa. Menunggu dengan hati berdebar kencang. Tak lama Shani langsung dibuat kaget setelah oleh suara yang muncul dari rekaman tersebut.

“A,a,aaaaa….hihihihihihi….a,a,aaa…..AAAAAA !!!” suara Tape Recorder.

Sebuah suara melengking namun tak berarturan. Jika kalian pernah mendengar rekaman Karl Mayer yang Reverse mungkin suaranya hampir sama seperti itu. Suara yang bisa mempengaruhi mental si pendengar jika didengarkan secara berulang dengan volume tinggi.

“Rekaman apa itu ?!” Shani langsung mematikan Tape Recorder tersebut dan menyebunyikan tubuhnya didalam selimut miliknya. Dengan kondisi kaget bercampur takut ia mengatur nafas didalam selimut sembari mencoba tertidur.

Dikarenakan Shani yang belum bisa menghilangkan rasa kaget dan takutnya. Ia bergegas keluar dari kamarnya dan pergi menuju kamar kedua adiknya dan tidur bertiga dalam satu ranjang. Namun sesampainya dikamar adik-adiknya, ia masih memikirkannya walaupun telah berada satu kamar dengan Gracia dan Anin.

Hari-hari yang dilalui tak beda jauh dari hari saat dirumah lamanya. Akhirnya Shani bisa menenagkan pikirannya setelah kejadian malam itu dan tak menceritakannya kepada yang lain. Sekarang adalah malam ke delapan setelah kepindahannya. Namun, malam itu juga adalah malam yang akan memulai rangkaian kejadian yang tak pernah Shani bayangkan sebelumnya.

Malam itu Shani seperti malam sebelumnya, bermain bersama Gadget dan Laptopnya. Namun malam ini lebih lama dari malam sebelumnya karna jam sudah menunjukan pukul 01.05 dini hari. Saat Shani masih asik bermain dengan alat canggihnya. Kamar pintunya terdengar diketuk dari arah luar kamarnya.

“Siapa ? Masuk aja, ga Shani kunci kok” ucap Shani, namun tak ada jawaban dan ketukan kembali terdengar.

“Dek, jangan jahil deh. Ini udah malem, tidur gih” namun kembali tak ada jawaban dan ketukan kembali terdengar dari balik pintu.

“Dek…” lirih Shani dan mulai bangkit dari kasurnya untuk mendekat ke arah pintu.

Dengan langkah pelan Shani mendekat dan mulai memegang gagang pintu kamarnya. Namun, saat ia akan memutar Handle pintu suara ketukan tiba-tiba berpindah ke arah jendela kamarnya. Shani menolehkan pelan kepalanya dengan perlahan. Dijendela tak terdapat siapa-siapa.

“Bukannya kamar aku ada dilantai dua ? Kenapa tadi kaya ada yang ketuk kaca Jendala kamar. Apa cuma perasaan aku aja ya ?” batin Shani.

Shani kembali melangkahkan kakinya kembali menuju kasurnya, namun baru beberapa langkah pintu kamarnya kembali diketuk. Perasaan Shani saat itu mulai tak karuan. Pikirannya menerawang macam-macam. Shani membalikan badannya dan menatap pintu kamarnya. Beberapa saat ia diam menatap.

“BRAK !” pintu kamarnya terbuka dengan sendirinya dan terbuka dengan keras. Shani kaget namun masih berdiri diposisinya.

“Hihihi…kakak” Terdengar suara dari luar kamarnya sambil menyebut kakak.

“Dek ?” lirih Shani sambil mencoba melangkah pelan ke arah pintu.

“Ayo main kak…”

Suasana luar dari kamar Shani gelap dengan sedikit pencahayaan yang dihasilkan oleh beberapa lampu malam rumahnya. Saat Shani melongokan kepala didepan kamarnya, tak terlihat siapapun disana. Kakiknya kembali berjalan dengan menahan pijakan suara yang ditimbulkan. “Tap…tap…” langkahnya begitu pelan dan berhati-hati.

“Ting…ting…ting…”

Terdengar suara ketukan piano dilantai bawah. Diposisi lantai dua Shani melihat ke arah bawah. Tepat ke arah dimana piano yang sejak pertama keluarganya pindah sudah ada dirumah itu. Shani menangkap sosok Anin dibawah sedang bermain piano tersebut. Shani pun menghampirinya.

“Ngapain malam-malam main piano sendirian dek ? Manalagi lampu ga dihidupin. Emang ga takut ? Biasanya kamu juga yang paling penakut” Shani terus berbicara pada Anin yang terus memainkan piano tersebut dengan acak.

“Balik kamar yuk. Kamu kedinginan nih” bujuk Shani sambil memegang tangan Anin.

Anin menggeleng, “mau main”

“Kakak mau main sama aku kan ?” Tanya Anin masih fokus dengan piano nya.

“Yaudah deh, kak Shani mau main sama kamu” balas Shani.

“Kalo gitu kakak mau ambil Jaket kamu dulu ya biar ga kedinginan” Sambung Shani dan berjalan naik kembali ke lantai dua menuju kamar Anin untuk mengambil Jaket.

“Gre, buka pintunya…” panggil Shani saat mengetahui pintu kamar dikunci dari dalam.

“Apa sih kak ? Masih malem juga udah bangunin orang aja” gerutu Gracia saat membuka pintu.

“Maaf deh, kakak cuma mau ambil Jaket Anin aja”

“Buat apa ?” batin Gracia.

“Buat Jaketin Anin lah, masa buat kakak”

Gracia menaikan sebelah alis matanya saat mendengar ucapan kakaknya tersebut.

“Kok bisa denger ?” heran Gracia pada kakaknya itu. Padahal ia berbicara di dalam hati.

“Ya bisalah, emang kakak budeg” balas Shani, Gracia diam.

Shani masuk kedalam tapi, sesampainya didalam kamar Shani menemukan tubuh Anin sedang tertidur pulas diranjangnya. Shani memandang Gracia yang masih berada diambang pintu kamar. Gracia pun membalas pandangan kakaknya tersebut. “Ada apa ?” mungkin kalimat tanya itu yang ada dibenak Gracia saat itu. Seketika raut wajah Shani berubah. Ia bergegas melihat ke arah lantai bawah, tepatnya ke arah dimana piano berada dan, PAW ! Tak ada siapa-siapa dibawah sana.

“Kenapa kak ? Kok kaya ketakutan gitu” tanya Gracia saat menyadari perubahan raut wajah yang diperlihatkan kakaknya itu.

“Ga papa” Shani langsung pergi meninggalkan kamar adiknya dan kembali ke kamarnya sendiri.

“Ada apa sih ?” batin Gracia sambil ikut mencoba melihat ke lantai bawah.

Didalam kamar Shani langsung mengunci pintu kamarnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut miliknya. Ada hal-hal aneh selama Shani diposisi itu. Seperti bunyi ketukan dipintu maupun jendela. Bayangan seseorang dibalik selimut. Bau busuk dan lain-lain. Shani mengacuhkannya.

Pagi hari menjelang. Shani terbangun dari tidurnya. Pikirannya masih terus dihantui oleh kejadian semalam. Ia bangkit dari ranjangnya dan membuka laci meja kecilnya. Tape Recorder yang ia ambil dari Gubuk kecil samping rumahnya masih tergeletak didalamnya. Ia mengambilnya dan keluar kamar.

“Pagi sayang, sarapan dulu sini” sapa ibunya.

“Nanti mah, Shani mau keluar sebentar”

“Mau kemana ?” namun Shani tak menjawab dan terus berjalan keluar.

Bertanya dari satu warga ke warga yang ia temui dijalan. Akhirnya Shani telah sampai dirumah ketua RT daerah tempat tinggalnya. Siapa tau RT ditempatnya tau apa yang sebenarnya apa yang membuat dirinya mengalami kejadian semalam.

“Oh nak Shani yang baru pindah itu ya” ucap pak Wawan ketua RT setempat.

“Iya pak”

“Maaf, ada perlu apa ya ? Kayaknya oenging sampai-samapi jam segini udah datang”

“Sebelumnya saya minta maaf karna sudah menganggu acara pagi bapak, tapi saya mau menanyakan sesuatu” pak Wawan mendngarkan.

Shani merogoh saku Jaketnya, mengeluarkan Tape Recorder yang ia temukan di Gubuk samping rumahnya dan meletakannya diatas meja.

“Sebenarnya ada kejadian apa dibalik rekaman Tape ini pak” tanya Shani langsung ke inti tujuannya. Pak Wawan menatap tajam Shani.

“Nak Shani sudah mendengarkan isi rekaman itu ?”

“Semalam saya menjumpai anak perempuan berwujud adik saya sedang bermain piano dilantai bawah. Saya naik ke lantai dua untuk mengambil Jaket miliknya tapi saat sampai di dalam kamar adik saya, saya menemukan adik saya malah sedang tertidur dan saat saya kembali melihat ke lantai bawah sosok perempuan tadi menghilang” jelas Shani.

“Nak Shani sempat berbicara dengan dia ?”

“Saya sempat ngajak dia ngobrol karna saat itu saya pikir dia adik saya karna memang wujudnya memang adik saya. Dia sempat bertanya apakah saya mau bermain dengan dia”

“Jawabannya ?” ucap pak Wawan mulai terlihat gelisah.

“Saya mau bermain”

“Nak Shani beserta keluarga harus berhati-hati” jawaban pak Wawan membuat Shani bingung.

“Anak yang nak Shani liat semalam memang sebenarnya bukan adik nak Shani. Namanya Sinka Juliani. Dulu dia beserta keluarganya tinggal dirumah yang nak Shani tinggali sekarang. Sinka dan anggota keluarganya dibunuh oleh ayah mereka sendiri” jelas pak Wawan yang membuat Shani tercengang.

“Ayahnya terikat perjanjian dengan Iblis. Setiap bulan si ayah harus memberi darah sapi dewasa untuk tumbal”

“Pesugihan ?” tanya Shani pelan.

“Bukan, Tapi ilmu hitam. Waktu itu ayah mereka tak dapat membayar hutang bulananya sehingga si Iblis murka dan si Iblis membuat si ayah menjadi orang yang lepas kendali. Si ayah akhirnya membunuh semua anggota keluarganya. Orang terakhir yang dibunuh adalah Sinka. Sinka telah melihat bagaimana ibu, kakaknya dibunuh oleh ayahnya sendiri”

“Sebelum dibunuh Sinka mengajak ayahnya bermain bersama. Sinka mengajak ayahnya bermain, bermain dalam arti saling membunuh. Karna saat itu Sinka langsung terguncang kejiwaanya saat melihat adegan sadis didepannya dan rekaman yang ada didalam Tape itu adalah rekaman ibu dan saudara Sinka saat di bantai oleh ayahnya. Sinka tewas dengan tubuh dimutilasi. Sementara ayahnya bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri setelah berhasil membunuh semua anggota keluarganya” jelas pak Wawan.

“Maaf, sudah cukup. Terima kasih atas penjelasannya pak. Saya ijin pamit” ucap Shani.

“Sebentar nak Shani” pak Wawan membisikan sesuatu di telinga Shani.

Shani merebahkan tubuhnya dikasur. Ia menghela nafas panjang dan membuangnya secara perlahan. Ia terus menghawatirkan keluarganya dan juga dirinya sendiri. Apa yang akan terjadi ? Pikirnya.

Shani tiduran dalam posisi menyamping, saat ia merubah posisinya ke arah samping lainnya. Ia benar-benar kaget dibuatnya. Tepat saat Shani berbalik posisi didepan wajahnya terdapat wajah lain.

“Hahaha”

“Bikin kaget aja !” jutek Shani.

“Lagian pagi-pagi dah ngelamun aja. Sampe ada orang masuk ga tau” Ucap Ido.

“Mikirin apa sih ?” lanjut Ido sambil duduk dipinggiran ranjang milik Shani.

“Oi ! Disuruh manggil malah ngobrol sama orangnya” ucap Willy ikut menghampiri.

“Panggil sama siapa will ?” tanga Shani.

“Ibu, disuruh sarapan tuh. Tadi kan belum sarapan malah ngeloyor aja keluar” balas Willy.

Malamnya. Shani ingin ke kamar Gracia untuk meminjam Charger karna charger miliknya rusak. Saat Shani membuka pintu terlihat dari kejauhan, lorong didepannya. Sebuah sosok perempuan berlari lurus tepat ke arah pintu kamar Shani. Shani hanya bisa diam dalam kagetnya. Setelah lumayan dekat, Shani langsung menutup pintunya.

“BRAK !” suara pintu yang ditutup keras oleh Shani.

“Tadi itu apa ?”

Hari berikutnya.

Cahaya Matahari berganti menjadi Rembulan. Malam hari telah datang menghampiri kembali. Tik tok suara jam dinding besar terdengar menggema keseluruh penjuru ruangan. Dengan jarum jam menunjukan pukul 23.45. Sorotan cahaya Rembulan yang menghiasi langit malam tak berlangsung lama, ditutup paksa oleh kumpulan awan hitam yang menyerang. Rintik hujan berjatuhan dengan kian lama berubah menjadi tetesan dalam jumlah yang banyak dan deras diserai petir yang mulai muncul.

Nada dering smartphone berbunyi. Shani berniat melihat ke layar siapa yang menelpon namun saat ingin mengambil smartphone yang berada disamping tubuhnya, panggilan tersebut berakhir. Hal seperti itu terjadi berulang selama tiga kali. Hingga panggilan ke empat. Shani melihat ke layar siapa yang iseng malam itu.

Tertera di layar, “Panggilan masuk dari Ayo Main

Shani hanya melihat ke arah layar karna bingung. Terlihat juga warna tulisan dilayarnya berwarna merah dengan gaya font seperti darah mengalir.

Saat panggilan berakhir dengan sendirinya tanpa Shani angkat. Saat itu juga bersamaan dengan itu, listrik rumahnya yang padam.

“Yah, pake listrik padam segala lagi” gerutu Shani.

“BRAK !” suara bantingan pintu terdengar oleh pendengaran Shani.

Berbekal senter dari smartphone nya, ia berjalan ke arah pintu kamar. Pintu kamar telah terbuka namun Shani melihat ada orang berdiri diam ditangga awal, tepat didepan arah pandangan Shani. Diam…masih terdiam. Kilatan petir terjadi, seketika wajah sosok tersebut terlihat. Dengan sangat jelas Shani melihat sosok yang tak ia kenal itu tersenyum ke arahnya tapi senyumannya sangat lebar dan terkesan mengerikan.

Sosok perempuan tersebut terlihat melayang dan secara tiba-tiba terbang dengan cepat dan menghilang ke lantai bawah. Seolah tubuh dan kaki Shani tak dapat digerakan, ia hanya bisa melihatnya. Sosok tersebut kembali muncul dari lorong gelap arah dari depan kamar Anin dan Gracia. Kemudian terus berjalan dan menuruni anak tangga dengan diiringin cekikan kecil, “hihihihi…”

Saat itu bulu kuduk Shani langsung berdiri dengan tanpa ragunya. Benar-benar membuat dirinya takut. Ditambah listrik padam dan cahaya sangat terbatas menambah rasa takutnya. Tak berapa lama terdengar suara kegaduhan dilantai bawah. Tepatnya bersumber di kamar Willy ?

“Kemana sih orang-orang ? Kenapa ada teriakan serta kegaduhan seperti ini tak ada yang muncul” batin Shani.

Terdengar kembali erangan dari kamar Willy. Shani hanya terpaku diposisinya sedari tadi. Tak lama erangan tersebut tak terdengar lagi, barulah Shani bisa menggerakan anggota tubuhnya. Ia memberanikan diri menuruni anak tangga dan menuju kamar Willy.

Bau anyir yang menyengat. Itulah yang Shani cium saat berada semakin dekat dengan kamar Willy. Namun, bercampur juga dengan bau busuk.

Pintu kamar terbuka. Shani memasuki kamar Willy. Tak terdapat siapapun didalamnya. Kondisi kamar secara samar-samar terlihat sangat berantakan.

“DUK !” Shani menendang sesuatu.

“Wwwaaaa !!” teriak Shani kaget dengan apa yang barusan ia tendang. Sebuah kepala ? Kepala Willy tergeletak dilantai kamar dengan darah disekitarnya.

“Ke…ke…kepala ?” Shani tak percaya dengan apa yamg dilihatnya bahwa ada sebuah kepala dan memang benar itu adalah kepala Willy.

Saat Shani berbalik kesamping tak kalah kagetnya juga. Diatas lemari terdapat sosok si perempuan yang dibilang pak Wawan adalah bernama Sinka. Dia sedang memangku tubuh Willy yang tanpa kepala dengan aktifitasnya sedang… mengeluarkan isi perut Willy. Melemparkan isinya begitu saja ke lantai.

Shani yang tak tahan dengan pemandangan didepannya berlari keluar kamar. Dengan kaki gemtar dan menahan mual, kepala serasa pusing akibat efek shock yang baru saja ia alami. Sebelum berlari Shani sempat terdiam melihat sosok Sinka diatas Lemari. Ia memandang balik ke arah Shani dengan tatapan tajam kemudian tersenyum lebar.

“Na…na…naaa…” terdengar oleh pendengar, Sinka bersenandung didalam kamar dan setelahnya suara piano kembali terdengar.

“Tidurlah…wahai sayangku” Sinka terus bernyanyi pelan menambah kesan merindingnya.

Shani berhenti berlari ketika didepan kamar adik-adiknya. Ia memastikan bahwa keberadaan mereka masih aman didalam kamar dengan posisi terlelap dalam tidur namun, Shani tak melihat adanya tubuh kedua adiknya. Pikirannya saat itu sungguh sangat campur aduk. Takut sudah pasti, ia juga mengkhawatirkan nasib adik-adiknya.

Hal sama juga dialami saat mencari keberadaan Ido maupun kedua orang tuanya. Mereka tak berada dikamar. Shani bersandar ditembok. Terdengar suara rintihan diruang belakang tepatnya di area dapur. Shani menghampiri dan melihat sosok Ido sedang bersender ditembok pinggir lemari pendingin. Namun dengan kondisi mulut yang mengeluarkan darah dan terlihat menangis menahan sakit dan merasa ketakutan.

“To..tolong…” lirih Ido dengan tangan melambai memberi kode supaya ditolong oleh Shani.

Saat Shani akan melangkahkan kakinya. Secara tiba-tiba Ido seperti ditarik oleh bayangan yang cepat menuju halaman belakang rumahnya melalui pintu dapur yang terbuka. Shani menutup mulutnya. Shani mencoba mengejar namun pintu tertutup dengan sendirinya dan terkunci dari luar.

Beberapa saat setelah pintu tertutup. Terdengar teriakan Ido dari arah luar rumah, “AAAAAARRGGHHH…..”

“Darraahh…ssappiiii !!”

“Hauss !” teriakan Ido terdengar keras melengking disusul juga setelahnya oleh suara orang tertawa, “hihihihihi…”.

Shani mencoba keluar dari dalam rumah namun ia tak bisa. Mencoba memecahkan kaca. Barang yang Shani lempar malah berhenti melayang dan jatuh ke lantai. Mencoba mendobrak pintu. Apa daya, kekuatannya tak sebanding dengan kerasnya pintu. Mencoba menghubungi orang. Sinyal hilang seketika. Shani hanya bisa pasrah didalam dengan menangis ketakutan.

Teror mengerikan yang menghampiri dirinya secara tiba-tiba sungguh diluar akal Shani. Ia sangat menyesal telah memasuki Gubuk kecil pinggir rumahnya, mengambil Tape Recoerder tersebut, dan hal terparahnya Shani sempat memutar isi rekaman tersebut yang ternyata hal yang terjadi malam itu bersumber dari dirinya mendengarkan isi suara dari Tape.

Shani telah kembali kedalam kamarnya. Jam masih menunjukan pukul 00.56 dini hari. Bersembunyi dibalik selimut mencoba menghilangkan rasa takutnya yang teramat, namun tetap juga mau hilang.

“Tolonggg…kak…”

Saat Shani mencoba menenagkan dirinya sendiri, samar-samar ia mendengar suara yang memanggil dirinya dengan sebutan “kak” dari arah luar kamarnya. Shani bangkit dengan gemetar membuka pintu.

“Do…” Shani melihat sosok Ido bersimpuh didepan anak tangga lantai dua. Namun kali itu Ido nampak tak terlihat terluka hanya berbicara pelan dan berdiri.

Shani melangkah mundur saat Ido menatap dirinya dengan tatapan datar. Ido berjalan pelan ke arah Shani. Saat jarak antar mereka lumayan dekat, dengan seketika wujud Ido berubah menjadi sosok perempuan namun dengan wajah tak terlalu jelas.

1

Shani langsung menutup pintunya dengan cepat dan bersembunyi kembali kebalik selimutnya. Terdengar ketukan pintu. Shani hanya diam menutup kedua telinganya. Ia mulai menagis.

Suara ketukan pada pintu kamar semakin intens. Cukup lama Shani dalam posisi itu. Ia melepaskan kedua tangannya dari telinga. Tak terdengar lagi suara pintu diketuk. Shani membuka selimutnya namun belum berani membuka matanya.

Saat dirasa aman Shani perlahan mulai membuka matanya dan… Sosok kepala tersebut telah berada didepan wajah shani. Saling tatap. Seketika pandangan Shani langsung menghitam dan tak sadarkan diri.

Shani tersadar kembali, namun tempat ia sadar berbeda dari sebelumnya. Ia berada diruang tengah bersandar di sofa. Shani sempat ketakutan saat melihat seseorang duduk diujung kakinya.

“Ga papa kak, ini aku gre”

“Gre ? Ini beneran kamu dek ?” tanya Shani memastikan.

“Iya kak”

“Dimana ayah sama ibu ? Dimana ?!”

“Ayah sama ibu…”

“Dimana dek ?” Shani bertanya sambil mengguncang-guncah tubuh Gracia.

“Te…”

“Apa dek ?! Bicara yang jelas sama kakak”

“Te,tergantung…dikamar mandi”

“Kamu ga lagi bercanda kan dek?”

Gracia menggeleng, “bener, kak”

“Dan..dan badan ayah…terpotong-potong”

“DAR !” suara petir terdengar diiringi hujan yang turun dengan lebat.

“Sebelumnya Gre juga sempat liat dari luar kak Ido seperti dilempar ke arah jendela entah oleh siapa. Kepalanya mengeluarkan banyak darah dan kak Ido seperti meminta tolong sama aku tapi aku ga berani. Gre juga liat kalau satu kaki nya yang hilang”

“Sementara Anin…dia menghilang” jelas Gracia dengan suara bergetar.

“Gre udah denger rekaman yang ada di Tape Recorder milik kakak” sambung Gracia.

Shani membulatkan kelopak matanya, “Kamu dengerin juga ?”

“Malam itu Gre panggil kakak tapi kak Shani ga denger akhirnya gre masuk aja, pas udah didalem gre liat ada Tape itu diatas meja. Karna gre penasaran gre pencet-pencet tombolnya dan rekaman berputar dan gre juga udah tau cerita dibaliknya. Karna besoknya gre tanya sama lurah daerah sini. Dia menceritakan semuanya. Ka…”

Shani memotong, “udah jangan dilanjutin”

“Ini juga salah kakak juga. Pas dia tanya mau diajak main bareng ? Malah kakak jawab mau. Karna kakak taunya itu Anin”

Shani memeluk Gracia dengan keadaan saling menangis pelan.

Terdengar alunan suara perempuan sedang bernyanyi dengan nada pelan dari arah lantai dua.

“Sekarang kita selesaikan semuanya” ucap Shani melepas pelukan.

“Tapi gimana caranya kak. Panggil orang pintar ?”

“Ga usah. Kak Shani dikasih tau sama pak Wawan dia ketua RT disini. Katanya kalau kita mau selesain hal ini, kita harus balik isi kasetnya”

“Maksudnya, kak ?”

“Kita putar rekaman ini tapi dalam arah berlawanan. Katanya kalau dia muncul, kita putar rekaman ini dalam keadaan terbalik maka dia akan kembali lagi ke dalam Tape ini. Karna ps kita pertama kali putar rekaman ini adalah sebuah kunci untuk membuka dia. Membuka untuk dia bebas”

“Aaaaaa….hihihihihi….”

Saat Shani dan Gracia sedang merencanakan sesuatu dari arah lantai atas terdengar suara teriakan diikuti orang tertawa.

Tak berapa lama sosok Sinka muncul dilantai dua. Melihat ke arah Shani dan Gracia di lantai bawah. Sinka menatap tajam sambil bertingkah seperti menari khas Ondel-ondel atau seperti anak kecil yang sedang terlihat gembira.

Sinka mulai terbang mendekat ke arah Shani dan Gracia saat itu. Karna kaget mereka akhirnya berlari untuk menjauh, namun Sinka terus saja terbang mengikuti sambil tertawa.

Cukup lama mereka berlari, berjalan dan berlari kembali hanya berputar-putar didalam rumah yang bisa dikatakan besar itu. Selama berjam-jam energi maupun pikiran Shani tetus tetkuras habis. Ia sangat cepat-cepat ingin mengakhiri semua kejadian malam itu. Saat itu kaki sebelah Gracia sedikit pincang akibat saat berlari kakinya menabrak kaki kursi. Pandangan minim karna listrik yang kunjung belum nyala juga.

“Hosh…hosh” suara hembusan nafas yang dikeluarkan secara kasar tak berarturan.

“Tetep jalan dibelakang kakak, dek” ucap Shani, namun tak terlalu terdengar.

Shani yang sedari tadi fokus berjalan pelan melihat suasana sekitar yang telah gelap akibat listrik padam. Kini ia menoleh kebelakang dimana sang adik mengikuti.

“D..dek…” ucap Shani lemas saat tak melihat sosok adik yang mengikuti dibelakangnya.

Tubuh serasa menggigil, lidah kaku untuk berucap. Suasana malam yang gelap dan sangat sunyi. Berdiri diatas lantai dingin ia berpijak sendiri tanpa ada orang lain didekatnya yang bisa menenagkan memberi rasa aman.

“Kak !” samar-samar terdengar suara teriakan yang memanggil.

“Dek…” balas Shani tak terlalu keras sambil memastikan sumber suara tersebut.

Suara tersebut berasal dari lorong bawah yang panjang dari Villa. Dengan langkah yang bergetar Shani mencoba mendekat. Sesaat satu kakinya menginjak anak tangga pertama. Hanya kesunyian dan suara angin malam beserta suara detak jarum jam yang bisa ia dengar.

Sesampainya dilorong tersebut yang begitu gelap. Namun tak semua, karna dibagian dimana sosok Sinka berada lumayan mendapat cahaya. Entah cahaya darimana padahal ini adalah lorong bawah tanah menuju gudang.

Berdiri sosok Sinka dengan Gracia disebelahnya. Tanganya memegang tangan Gracia seolah-olah kalau Gracia adalah adiknya. Sinka hanya tersenyum lebar. Sementara Gracia terlihat sangat ketakutan.

2

Shani ngeri saat melihatnya saat itu.

“Lepasin adek aku !” teriak Shani memberanikan diri.

Sosok Sinka masih terus tersenyum ke arah Shani. Malah kini terlihat kembali seperti menari kecil.

“Ayo main…” Sinka berbicara pada Shani. Sementara Shani sendiri agak merasa ngeri dengan tatapan dan senyuman yang diperlihatkan oleh Sinka.

“Main la….”

“Ga ! Aku udah ga mau main lagi sama kamu !” ucap Shani memotong dengan cepat, menolak keras ajakan main dari Sinka.

Sinka menatap tajam Shani dengan warna mata mulai berubah kemerah-merahan dan senyum lebar yang sedari tadi ditunjukan kini telah pudar berganti dengan memperlihatkan deretan giginya yang tajam.

“Maiinnn !!!” teriak Sinka tiba-tiba sangat mengganggu pendengaran. Teriakan Sinka terjadi dua kali sebelum ia kembali diam menatap tajam Shani kembali.

Shani menatap Sinka walau tubuhnya gemetar, “Jangan memperlihatkan kejadian mengerikan keluargamu lagi !”

“Dan lepasin adik aku !” Shani bersuara dengan tegas.

Namun sosok Sinka malah tertawa, “Hihihihi….”

“Aku ga tau apa tujuan kamu dengan semua ini tapi…”

“Tapi yang jelas aku, GA SUKA !” Shani berbicara dengan sangat lantang di kalimat terakhir.

“Sekarang kak…” ucap Gracia dalam takutnya.

Shani merogoh saku Jaketnya mengambil Taoe Recorder yang disimpan didalamnya.

“Semuanya akan segera berakhir !” ucap Shani dengan lantang.

Saat Shani mencabut kotak kaset dari dalam Tape dan mencoba membalikan posisinya sosok Sinka dengan cepat mendekat ke arahnya. Dengan tangan gemetar Shani menutup kembali tutup Tape. Dan menekan tombol “play”.

“main dan bunuh !” ucap Sinka sambil terbang mendekat.

“CEKLEK !” Shani menekan tombolnya.

“A,a,aaaaa….hihihihihihi….a,a,aaa…..AAAAAA !!!” suara Tape menyala.

“Aaaaaaa…..” “hwaaa…..”

Sosok Sinka langsung terlempar kebelakang saat mendengar rekaman Tape dihidupkan dalam keadaan berjalan terbalik melawan arah alur isi gulungan.

Sosok Sinka berubah wujud dari yang awalnya menyeramkan berubah menjadi sosok perempuan cantik. Wujud asli Sinka. Saat menjadi sosok aslinya, Shani bisa melihat kesedihan diraut wajah Sinka. Shani juga merasakan sebuah rasa kasian terhadapnya. Sinka memegang kepalanya sambil menangis keras.

“Aku cuma pengen main” ucap Sinka disela tangisnya.

“Main dengan kalian yang memanggilku…”

“UNTUK MEMBUNUH KALIAN SENDIRI !”

“Aaaaaaa….”

Tak lama setelahnya Sinka menghilang bersamaan dengan habisnya suara rekaman tersebut. Listrik rumah pun kembali hidup. Terlihat Gracia terdusuk lemas diatas lantai sambil menangis pelan. Shani menghapirinya dan langsung memeluknya.

“Krieett…”

“Kakak !”

Suara pintu gudang belakang mereka terbuka. Memperlihatkan sosok Anin disana. Anin berlari menghampiri ikut memeluk saudara-saudaranya.

Ternyata didalam gudang bukan hanya Anin tapi juga ada Willy, Ido, ayah dan ibu mereka. Bukannya mereka telah meninggal ? Kenapa mereka berada disini ?

Ternyata Willy, Ido dan kedua orangtuanya bukanlah mereka yang asli. Terus siapa mereka tadi ? Mereka adalah sosok penggambaran keluarga-kelurga Sinka saat dibantai oleh sang ayah. Bukannya jelas-jelas yang membunuh Willy dan Ido adalah Sinka ? Jawabannya bukan. Itu adalah Sinka yang berperan sebagai sang ayah. Ia hanya berniat memberi gambaran bagaimana kondisi saat keluarganya dibantai.

Niat Sinka hanya untuk memperlihatkan. Namun akan lain lagi ceritanya jika Shani tak menghentikan permainan Sinka. Sinka bisa saja membawa mereka ke dimensi lain tempatnya berada dan menghilang dari dunia nyata. Walau ia tak benar-benar berniat mebunuh keluarga Shani.

Willy, Ido dan kedua orang tuanya dipindahkan kedalam gudang dan dibawa sementara ke dimensi lain. Untungnya Shani berhasil dan dengan sendirinya pembatas antara dua dunia tersebut lenyap.

Listrik yang mati kembali hidup. Hujan yang deras beserta petir kian mengecil dan menghilang. Shani beserta keluarga berjalan menuju ruang atas, ke ruang keluarga. Waktu itu telah menunjukan pukul 04.02 pagi.

Pagi itu Shani bersama keluarganya telah berada didepan Gubug kecil samping rumahnya. Setelah dua hari sudah lewat setelah kejadian malam menakutkan itu. Ditangannya ia membawa Tape Recordernya. Shani berniat mengembalikan barang tersebut ke tempatnya kembali.

Seperti semula. Shani juga menaruh kunci gembok dipintunya dan sesuai ucapan pak Wawan, Shani menetesi Gembok tersebut dengan darahnya.

“Jangan pernah menampakan kejadian itu pada orang lain lagi” ucap Shani melihat kearah gubug.

Hari itu juga keluarga Shani meninggalkan rumah tersebut dan berpindah rumah kembali. Setelah kejadian malam itu mereka sepakat untuk meninggalkan rumah itu beserta ceritanya. Semua barang sudah dimasukan kedalam truk pengangkut dan para penghuninya juga sudah masuk kedalam mobil. Mereka menghidupkan mesin dan pergi menjauh.

###

Beberapa tahun kemudian.

“Rumahnya gede ya pah” ucap seorang anak pada ayahnya. 

Hari itu Sebuah keluarga pemilik baru dari rumah besar tersebut telah tiba untuk kepindahannya. Istri, suami dan kedua anak.

“Pah, Dendhy mau keliling ya. Pengen liat-liat” ucqp si anak yang bernama Dendhy.

“Iya, jangan jauh-jauh. Kalo udah langsung balik”

“Siap pah !” 

Dendhy berkeliling rumah. Tepat disebelah rumah ia melihat Gubug kecil disana. Karna merasa penasaran ia pun mendekat tapi terdapat Gembok dipintunya dengan main dobrak saja pintu pun berhasil dibukanya. Saat didalam ia melihat sebuah Tape Recorder yang sangat bagus baginya. Ia lantas mengambilnya dan membawa kedalam rumah.

“Hihihi….main lagi” ucap lirih agak serak dari seseorang dipojok ruangan setelah Dendhy pergi dan ternyata itu adalah Sinka yang sedang menari kecil. Hampir sama seperti tarian Kuntilanak.

“Main…lagi…” ucap Sinka dengan suara berat serak dan wajahnya berubah menjadi mengerikan dengan darah mengalir dimatanya.

3

-THE END-

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

 

 

Kritik maupun saran diterima dengan baik disini. Bisa lewat kolom komentar atau lewat Twitter juga bisa => @ShaNjianto

Maaf juga kalo alur atau adegannya kurang mengenakan, masih terdapat typo. Terimakasih sudah mau membaca ^^

 

Iklan

20 tanggapan untuk “Minutes to Midnight (Jangan Bermain)

  1. Nice Nji, angkat topi buat elo. Dari awal emang gue udah ada feel nya waktu baca. The best *sip-sip

    Oh ya btw mau dilanjut gak nih ?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s