Vepanda part 9

“Semoga kak Ve nggak kenapa-napa,” ucap Sinka sambil menangis.

“Terus sekarang kita mau ke rumah sakit dulu ato pulang?” tanya Kinal.

“Kita pulang dulu aja deh kak, ke rumah sakitnya besok aja bareng sama temen-temen,” jawab Sinka sambil mengusap air matanya lalu masuk ke dalam mobil.

-di rumah Melody-

“Kak… aku pulang…,” teriak Rezza saat masuk ke dalam rumah.

“Kok nggak ada yang jawab?” tanya Rezza dalam hati lalu berjalan ke ruang makan.

Sesampainya di ruang makan, ia mengambil sebuah roti dan memakannya sambil berjalan ke kamarnya. Saat melewati depan kamar Melody, ia berhenti karena melihat pintunya tertutup rapat.

“Kak?” ucap Rezza mendekatkan wajahnya ke pintu.

“Udahlah, mungkin lagi tidur,” ucap Rezza lalu berjalan masuk ke kamarnya.

Setelah meletakkan tas dan melepaskan jaketnya, Rezza melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Ia hanya melamun menatap lampu kamarnya sambil memakan roti.

Drrrtttt… drrrtttt…

“Njirr! Geli kampret!” ucap Rezza kesal karena smartphone-nya bergetar saat masih di dalam saku bajunya.

Ia pun mengambil smartphone-nya dan membaca pesan yang masuk tadi. Raut wajah Rezza yang tadinya kesal seketika berubah menjadi sedih setelah membaca isi pesan tadi.

Pelanggan yang terhormat, sisa kuota internet anda tinggal 9Mb. Ayo segera isi pulsa anda dan beli paketan biar bisa terus stalking mantan.

“Operator kampret,” ucap Rezza lalu melempar smartphone-nya ke samping.

BUG! SRRRRTT! PLAK!

Rezza langsung bangun setelah mendengar kabar bahwa smartphone-nya jatuh dari atas kasur. Ia pun mengambil dan menggenggamnya erat-erat. Dengan penuh kesedihan, Rezza mendekap smartphone-nya itu.

“KENAPA?!! Kenapa ini harus terjadi?!” teriak Rezza sambil menangis.

Drrrtttt… drrrtttt…

“GELI ANJIRR!!!” teriak Rezza kesal lalu melempar smartphone-nya ke atas kasur.

Suasana ruangan itu menjadi sangat emosional, Rezza yang tadinya bersedih kini ia berubah menjadi Power Rangers merah.

Go! Go! Power Rangers…!! *ceritanya ini backsound.

Dalam sekejap, Rezza pun berubah menjadi Rangers merah. Setelah berkeliling kota untuk berbuat kejahatan, eh? maksutnya menumpas kejahatan, ia pun kembali ke jalan cerita yang sebenarnya.

“Untung lu belom gue kubur,” ucap Rezza sambil mengambil smartphone-nya.

Rezza membuka pesan yang tadi masuk dan terlihatlah sebuah pesan yang sangat panjang, ia pun membaca isi pesan itu dengan sangat serius. Bahkan saat negara api menyerang desa Konoha dan Doraemon berubah menjadi musang ekor sembilan, ia tidak peduli, ia tetap fokus membaca isi pesan yang panjang itu sampai akhir. Setelah selesai membaca isi pesan itu, ia menghela nafas panjang dan melakukan senam pendinginan.

“LU KALO NULIS JANGAN DISINGKAT-SINGKAT JONG! GUE NGGAK PAHAM!!” balas Rezza dengan kesal.

Beberapa saat kemudian Najong mengirim pesan lagi kepada Rezza.

“Gue males bacanya, gue ke rumah lu aja,” balas Rezza lalu mengambil jaketnya dan keluar kamar.

Rezza memacu motornya dengan kecepatan penuh, tikungan, mobil, turunan, tanjakan hingga tonjokan ia lewati dengan skill yang sangat standart. Lima menit kemudian Rezza sudah memarkir motornya di depan rumah Najong. Disana Rezza melihat Najong sedang berbincang dengan Yupi di teras, ia pun berjalan menghampiri mereka.

“Ngapain lu disini?” tanya Rezza pada Najong.

“Woii pantat kuda! Itu dialog gue!!” jawab Najong sewot.

Rezza hanya tertawa dan duduk di antara Najong dan Yupi.

“Ihh apaan sih kamu?!” tanya Yupi sambil bergeser.

“Lu jangan deket-deket sama Najong, ntar lu diapa-apain,” jawab Rezza dengan gaya sok bijak.

“Udah to the point aja, ngapain lu kesini?” tanya Najong.

“Gangguin lu berdua haha…,” jawab Rezza tertawa.

“Kampret!” ucap Najong mengeluarkan Kamehameha dan menyerang Rezza.

Rezza yang mendapat serangan Kamehameha dari Najong tidak mau kalah, ia mengumpulkan chakra dan membuat Rasengan *dibata tahu bulat* dan melemparkannya kepada Najong. Akhirnya mereka berdua bermain Volly dengan Rasengan *dibaca tahu bulat*, dan dengan izin dari Hokage kelima, Nobita pun memenangkan pertandingan Volly itu. Setelah selesai bermain Volly, mereka berdua meninggalkan Nobita dan kembali masuk ke dalam cerita yang sebenarnya.

“Udah-udah, kalian jangan becanda terus, ini ada kabar serius za,” ucap Yupi melerai pertarungan sengit Najong dan Rezza.

“Serius amat sih yang, santai aja lah,” ucap Rezza menoleh ke arah Yupi dengan manja.

“Hoeekk, geli anjirr,” ucap Najong sambil memuntahkan semua aibnya.

“Apaan sih manggil sayang-sayang, kamu mau ditonjok sama Najong?” tanya Yupi kesal.

“Hahaha… bodo amat, lagian Najong juga nggak bakalan nonjok gue,” jawab Rezza tertawa.

Najong dan Yupi saling memandang beberapa saat, sedangkan Rezza malah memakan snack yang dari tadi dipegang Yupi. Ia menoleh ke arah Najong dan Yupi bergantian, ia heran kenapa mereka saling memandang dengan serius.

“Woy! Kalian kenapa sih? Serius amat,” ucap Rezza membuyarkan keheningan.

Ucapan Rezza tidak dihiraukan oleh mereka berdua, kemudian Najong menghela nafas panjang dan memberi isyarat pada Yupi dengan mengangguk.

“Jadi gini za,” ucap Yupi menatap Rezza dalam-dalam sedalam cinta author kepada Yupi #eaaaa.

“Iya kenapa?” tanya Rezza sambil terus mengunyah snack milik Yupi.

“Kak Ve udah ngasih ke kabar kamu nggak dari tadi?” tanya Yupi.

“Belom tuh kayaknya,” jawab Rezza.

“Gue ambilin minum bentar,” ucap Najong berdiri lalu masuk ke dalam rumahnya.

“Jadi kamu belom tau keadaan kak Ve?” tanya Yupi.

“Palingan dia lagi tidur jadi lupa ngasih kabar ke aku,” jawab Rezza sambil terus menjejal snack ke mulutnya.

“Kamu bener, kak Ve lagi tidur.”

“Oh….”

“Tapi kak Ve nggak bakalan bangun lagi kali ini.”

“Hah?! Maksut lu?”

“Kak Ve udah nggak ada, dia ketabrak mobil tadi di depan sekolah.”

“Hahaha… ternyata lu punya selera humor juga yup.”

“Aku nggak becanda za.”

“Percumah yup, lu nggak bakalan bisa bego-begoin gue hahaha….”

“Kalo kamu nggak percaya, coba sekarang kamu telfon kak Ve.”

“Emang gue nggak percaya.”

“Yaudah kalo gitu cepetan telfon kak Ve.”

“Oke gue telfon sekarang,” ucap Rezza lalu mengeluarkan smartphone-nya dari saku.

Tuut… tuut… tuut…

“Iya hellaw, what’s up, what’s down, ha” ucap seorang laki-laki dibalik telfon.

“Hallo, Verandanya ada om?” tanya Rezza.

“Ini siapa ya?”

“Ini saya Rezza om, pacarnya Veranda.”

“Oh ternyata kamu, emang belom ada yang kasih tau kamu soal Ve?”

“Kasih tau soal apa ya om?”

“Ve… Veranda udah meninggal.”

“….”

“Hallo?”

“I-iya om, jadi soal Veranda udah meninggal itu beneran ya om?”

“Iya, pemakamanya besok pagi, kamu dateng ya.”

“Mmmm… gimana ya, kayaknya saya nggak bisa dateng deh om.”

“Loh? Kenapa?”

“Saya gabisa liat orang yang saya sayang udah nggak bernyawa, mendingan orang itu tiba-tiba ilang dari hidup saya om dari pada saya harus liat mereka udah nggak bernyawa.”

“Aseeekk… keren abis.”

“Haha… iya dong.”

“Hahaha….”

“Eh om, ini lagi suasana sedih jangan ketawa.”

“Oh iya, yaudah kalo gitu, makasih ya kamu udah jagain Ve selama ini.”

“Hehe… iya om, salam buat tante ya om.”

“Iya.”

“Makasih om,” ucap Rezza lalu menutup telfonnya.

“Gimana?” tanya Yupi.

“Hehe…,” jawab Rezza dengan senyum terpaksa.

“Sebenernya gue mau ngasih tau lu soal ini dari tadi pas masih di sekolahan, tapi gue cariin lu nggak ada,” ucap Najong saat keluar dari rumahnya sambil membawa minuman.

“Iya gapapa, santai aja,” ucap Rezza yang tampak sedih.

“Kamu yang sabar ya za,” ucap Yupi memegang pundak Rezza.

“Hehe… iya, gue gapapa kok,” ucap Rezza menoleh ke arah Yupi dan tersenyum.

Yupi tiba-tiba memeluk Rezza dari samping, namun karena tubuh Rezza jauh lebih tinggi dari Yupi, yang terlihat malah seperti Rezza sedang ngetekin Yupi bukannya dipeluk Yupi.

“Aku tau kamu pasti sedih banget,” ucap Yupi mulai menitihkan air mata.

“Haha… apaan sih yup, gue nggak sedih kali,” ucap Rezza melepaskan pelukan Yupi.

“Udahlah za, lu itu kalo bohong keliatan banget men,” ucap Najong memegang pundak Rezza.

“Haha… ketauan deh,” ucap Rezza menoleh ke arah Najong sambil tertawa.

Keheningan pun terjadi di antara mereka, yang terdengar hanyalah suara isak tangis yang keluar dari mulut Yupi. Akhirnya Rezza menghadap ke arah Yupi dan memegang kedua pundaknya dengan kedua kaki dan bersiap melakukan gerakan smackdown ala Rey Mysterio.

Oke itu becanda, Rezza memegang kedua pundak Yupi dengan tangannya dan menghela nafas panjang.

“Gini ya yup, sedih sih udah pasti, namanya juga kehilangan orang yang disayang, tapi kita gaboleh terlalu sedih, itu nggak baik, sekarang udahan nangisnya ya,” ucap Rezza sambil mengusap air mata Yupi yang meleleh dari hidung, eh?! maksut gue dari matanya.

“Iya…,” ucap Yupi masih terisak-isak.

“Yaudah gue pulang dulu ya,” ucap Rezza berjalan pergi.

“Hati-hati men,” ucap Najong saat Rezza menaiki motornya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Rezza langsung memacu motornya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia berbaring di atas kasurnya dan mulai tertidur.

-di rumah Sinka-

“Ma… aku pulang…,” teriak Sinka saat masuk ke dalam rumah.

“Sayurnya langsung taruh diatas meja aja, ntar biar dicuci dulu,” teriak mamanya Sinka dari dapur.

Sinka pun berjalan ke meja makan dan meletakkan belanjaannya di atas meja. Saat ia hendak berjalan ke kamarnya, tangannya ditahan oleh seseorang dari belakang. Ia menoleh ke belakang, namun tidak ada seorang pun disana. Ia melihat sekitar dan hanya melihat Kinal yang sedang berjalan ke arahnya dari arah ruang makan.

“Kenapa?” tanya Kinal sambil meletakkan kunci mobil dimeja ujung tangga.

“Nggak, gapapa kok,” jawab Sinka lalu ia kembali berjalan ke kamarnya.

“Siapa sih yang ngunci?! Perasaan tadi nggak aku kunci deh,” ucap Sinka saat mendorong pintu kamarnya yang terkunci.

“Siapa di dalem?!” teriak Sinka sambil menggedor-gedor pintunya.

“Ngapain sih sin teriak-teriak?!” tanya Naomi kelur dari kamarnya.

“Lohh?! Kok kakak disitu? Terus yang di dalem siapa dong?” tanya Sinka heran.

“Ya mana aku tau, aku aja baru pulang,” jawab Naomi sambil mengangkat kedua bahunya.

“Ada apaan sih?” tanya Kinal menghampiri Sinka dan Naomi.

“Ini kamar aku dikunci dari dalem,” jawab Sinka.

“Siapa yang ngunci?” tanya Kinal.

“Ya gatau, kan aku tadi sama kak Kinal,” jawab Sinka.

“Buka pake kunci cadangan aja,” ucap Naomi sambil masuk ke kamarnya.

“Oiya aku lupa, kan ada kunci cadangan,” ucap Sinka lalu pergi ke lantai bawah.

Sinka berlari ke lantai bawah mengambil kunci cadangan kamarnya dan kembali lagi. Setelah membuka pintu kamarnya dan masuk, ia melihat ada seorang perempuan sedang duduk di atas kasur membelakanginya.

“Lohh kakak kok ada disini?” tanya Sinka berjalan mendekati perempuan itu.

“Bukannya kakak tadi masuk ke kamar?” tanya Sinka berdiri dibelakang perempuan itu.

“Kak?!” tanya Sinka sedikit berteriak.

Saat Sinka hendak memegang pundak perempuan itu, terdengar suara penjual tahu bulat lewat depan rumahnya.

“AAAAAHH!! TAHU BULAT!” teriak Sinka.

“Sinka?!” ucap Kinal lalu berlari ke kamar Sinka.

“Ada apa sin?” tanya Kinal saat masuk ke kamar Sinka.

“Ini…,” jawab Sinka sambil menoleh ke arah perempuan yang duduk tadi.

“Lohh kok?” ucap Sinka heran karena melihat perempuan tadi sudah tidak ada.

“Apa?” tanya Kinal berjalan mendekati Sinka.

“Ini tadi disini ada kak Naomi,” jawab Sinka menoleeh ke arah Kinal.

“Naomi? Bukannya Naomi pulangnya masih ntar malem ya?” tanya Kinal heran.

“Kak Naomi itu udah pulang kak, tadi kak Kinal kan juga liat sendiri dia ada kamarnya,” jawab Sinka ngeyel.

“Hah?! Aku barusan aja di dapur kok, aku ke atas juga gara-gara denger kamu teriak,” ucap Kinal.

“Lohh… Terus yang tadi siapa dong?” tanya Sinka mulai ketakutan.

“Udah gausah dipikirin, mungkin cuma halusinasi kamu aja,” jawab Kinal menenangkan Sinka.

“Tapi kak.”

“Udah, kamu cuma kecapean mungkin, sekarang kamu makan aja terus istirahat,” ucap Kinal sambil mendudukkan Sinka dikasur.

“Aku langsung tidur aja deh, makannya ntar aja sekalian makan malem,” ucap Sinka mulai berbaring.

“Yaudah kalo gitu aku tinggal ya,” ucap Kinal lalu perg keluar dari kamar Sinka.

Setelah Kinal menutup pintu kamar Sinka dari luar, Sinka menarik selimut dan menutupi kakinya. Ia hanya menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan kejadian tadi yang membuatnya sedikit ketakutan. Sinka terdiam memikirkan kejadian tadi cukup lama, sampai akhirnya ia teringat akan sesuatu.

“Oiya kak Ve!” ucap Sinka kaget lalu bangkit dari tidurnya.

“Sinka…,” ucap sesorang dari luar kamar Sinka.

“Iya, ada apa?” tanya Sinka menoleh ke arah pintu kamarnya.

“Jagain Rezza baik-baik ya,” jawab orang tadi.

“Hah? Apa?” tanya Sinka karena suara orang tadi sangat pelan dan tidak terdengar jelas oleh Sinka.

“Jagain Rezza baik-baik ya…,” jawab orang tadi.

Suara orang itu seperti memenuhi seisi kamar Sinka dan bergema terus-menerus. Sinka yang mendengar itu langsung ketakutan, ia kembali tidur dan menarik selimutnya sampai ke leher.

“Kak Ve…,” ucap Sinka perlahan karena takut.

Suhu diruangan itu tiba-tiba menjadi dingin, Sinka melihat ke seluruh ruangan dengan penuh ketakutan. Tiba-tiba jendela kamar Sinka terbuka dan membuat angin kencang masuk ke dalam kamar. Kini di kamar Sinka begitu dingin karena angin yang masuk tadi, ditambah AC yang juga menyala. Sinka menatap ketakutan ke arah jendela yang terbuka tadi.

“Iya sin…?” tanya seseorang dari belakang Sinka.

Sinka begitu kaget dengan suara orang itu, ia langsung menoleh ke belakang dan melihat seorang perempuan sedang berjalan ke arahnya dengan perlahan.

“Kamu nggak perlu takut sin…,” ucap orang itu yang semakin dekat dengan Sinka.

“Nggak takut pale lu pincang! Didatengin setan siapa yang nggak takut bego!” teriak Sinka sewot.

Hahaha bencanda, nggak mungkin Sinka ngomong gitu. Dia terlalu penakut buat ngelakuin itu.

“Iya kak Ve, aku pasti bakalan jagain Rezza baik-baik,” ucap Sinka ketakutan.

“Janji?” tanya Ve yang kini berada di samping tempat tidur Sinka.

“Iya kak, aku janji,” jawab Sinka mengangguk.

Ve yang mendengar jawaban Sinka hanya tersenyum, ia berjalan *dibaca melayang* memutari tempat tidur Sinka dan perlahan mulai menghilang. Setelah Ve menghilang, jendela yang tadi terbuka tiba-tiba langsung tertutup dengan sendirinya dan angin kencang yang berada di dalam kamar itu juga langsung menghilang. Kini ruangan Sinka kembali seperti biasa, tenang dan sunyi senyap.

Sinka masih terdiam ketakutan dibalik selimutnya, saat Sinka memikirkan perkataan Ve *dibaca hantu Ve* tadi, ia langsung teringat akan Rezza Rahardian, pemain film yang menjadi idolanya. *plak! Inget thor! Ini lagi suasana horor, jangan becanda!

Oke kembali ke cerita, Sinka langsung teringat akan Rezza, ia pun meraih smartphone yang ada dimeja sebelah tempat tidurnya dan langsung menelfon Rezza.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Iklan

9 tanggapan untuk “Vepanda part 9

  1. Apa cuma gw yg ngerasa kayaknya ini spesial part? :v agak aneh juga saat-saat sedih lu masih bisa tersenyum dan tertawa. Tapi, orang yg udah ninggalin lu pasti nggak bakalan pengen lu sedih karena kepergiannya 👻 karena itu, dia pasti bakalan ngasih kebahagiaan baru yang lebih dari sebelumnya. Contohnya, cinta baru :3

    Oke, jadi mulai keliatan nih jalan ceritanya. Dari judulnya “Vepanda”. Kata ‘Ve’ merujuk ke Ve. Dan ‘panda’ merujuk pada ‘Sinka’ (cuma nebak :v)
    Gw agak paham alur ceritanya sekarang. Gw kagak mau spoilerin :v
    Next bang Luki!

    Suka

    1. tau aja lu kalo ini spesial part, cerita dipart ini sebenernya kejadian nyata sih kecuali bagian humornya. soal masih bisa ketawa sama senyum itu gue emang gamau keliatan cemen aja jadi cowok :v
      ya kurang lebih gitu lah kenapa gue milih judul itu, judulnya sih nggak bakalan spoiler ceritanya, soalnya cerita ini nggak ada hubungannya sama sekali sama judulnya XD

      Suka

  2. busset si ve malah wafat , kirain bakalan ada insiden cinta segitiga gitu , lanjut bang!! :v btw rada pekok juga nih author nya

    Suka

    1. kalo gue bikin cinta segitiga, nih ff bisa lebih panjang dari uttaran, makanya gue matiin aja ve :v
      makasih bang pujiannya :v

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s