Alter Ego and Me part 4

sp

Beberapa jam telah berlalu tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Terlihat seorang pemuda masih tertidur di kasurnya dengan posisi yang tidak karuan, kaki di kepala dan kepala di kaki. Tiba-tiba sebuah ketukan terdenganr di pintu kamarnya.

“Dek, kakak masuk ya,” ucap seseorang sambil mengetok-ngetok pintu kamar orang yang di sebut adiknya itu.

“Dek…” karena merasa tidak ada jawaban orang tersebut langsung saja masuk ke dalam.

“Hmhm… Pantes aja ga di jawab, orangnya aja tidur”

“Dek bangun dek udah magrib nih, solat dulu,” ucap orang tersebut mencoba membangunkan adiknya itu dengan cara menggoyang-goyangkan tubuh adiknya.

Tidak seperti biasanya, adiknya itu langsung bangun hanya dengan di goyang-goyangkan badannya saja, biasanya harus di siram air dingin dahulu agar dia bangun dari tidurnya.

“Eh, tumben kamu langsung bangun, biasanya susah banget di bangunin,” ucap orang tersebut.

“Salah mulu dah ama kak Mel mah” ternyata adalah adiknya Melody yaitu Radika.

“Hehe gitu aja ngambek. Yaudah solat dulu, kalo udah selesai kebawah kita makan,” ucap Melody sebelum berlalu pergi.

“Iyaa bawel,” ucap Radika lalu beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Setelah wudhu Radika pun melaksanakan solat magrib. Setelah selesai solat, Radika pergi ke bawah untuk makan bersama kakaknya. Selama makan tidak ada perbincangan antara Radika dan Melody, karena di rumah ini ada sebuah peraturan, yaitu tidak boleh berbicara saat sedang makan. Setelah selesai makan barulah mereka mengobrol sebentar.

“Kak, mamah kemana?” tanya Radika pada kakaknya.

“Mamah pergi ke rumah temannya,” jawab Melody.

“Oh. Kak aku keluar sebentar ya?”

“Mau kemana?” tanya Melody curiga.

“Cuman mau jalan-jalan nyari angin doang bentar, gerah di rumah,” jawab Radika sekenanya.

“Oh yaudah, pulangnya jangan malem-malem”

“Oke kak”

Radika beranjak dari meja makan ke kamarnya untuk mengambil jaket, smartphone, kunci motor, dan sebuah buku, lalu dia pergi menuju ke garasi untuk mengambil motor. Serasa motornya sudah cukup panas, Radika menjalankan motornya pergi dari garasi.

Dia memacu motornya perlahan-lahan, menikmati pemandangan di sekitarnya sambil menikmati terpaan angin malam yang sejuk. 20 menit berlalu, Radika beristirahat di sebuah taman, dia duduk di salah satu bangku taman tersebut sambil mendengarkan musik dan membaca buku yang di bawanya dari rumah.

~0o0~

Saat tengah membaca tiba-tiba dia mendengar sebuah suara benda ingin patah yang suaranya mengalahkan musik yang di nyalakannya, saat mencari sumber suara dia menemukan seorang gadis tengah berjalan perlahan dan di atasnya terlihat sebuah ranting besar yang hendak patah yang akan menjatuhi gadis tersebut.

Cahaya bulan menyinari gadis yang tengah berjalan itu, Radika memfokuskan pandangannya dan terlihat itu orang yang di kenalnya yaitu Shani. Setelah mengetahui bahwa gadis yang hendak kejatuhan ranting itu adalah Shani, tiba-tiba MSP Radika naik menjadi tinggi yang membuat nafasnya menjadi sesak dan kesulitan untuk bernafas.

Nb: MSP menunjukkan tekanan darah, denyut nadi dan tingkat suhu.

“Sha- ni a-was” Radika mencoba memperingatkan Shani dengan susah payah.

Tiba-tiba Radika jatuh bertumpu lututunya sambil memegang lehernya dan mencoba mengambil nafas dengan membuka mulutnya, tetapi sayangnya tidak berhasil. Radika pun pingsan dengan bertumpuan lutut dan kepala menunduk.

~Shani POV~

 

Aku tengah berjalan-jalan di sebuah taman untuk sekedar mencari udara segar, ya walaupun hanya berjalan-jalan, tapi bisa membuat beban menjadi hilang. Saat sedang berjalan-jalan aku tiba-tiba mendengar suara benda yang ingin patah, tapi kuabaikan saja. mungkin itu hanya suara burung di dahan pohon pikirku, tapi tiba-tiba terdengar suara seperti memperingatkanku sesuatu, dia bilang ”Shani awas” tapi orang yang mengucapkannya tidak terlihat dan suaranya pun patah-patah, aku pun kembali menghiraukannya.

Krek…. krek…. krek…

Suara itu terdengar lagi, suara suatu benda yang hendak patah, lalu aku mencari-cari asal suara tersebut dan ternayata berasal dari sebuah ranting yang cukup besar tepat di atasku. Aku sontak panik, aku ingin berlari menjauh tetapi kakiku tidak mau merespon, mataku terpaku melihat ranting yang hendak patah itu. Tiba-tiba air mataku turun, apakah ini akhir perjalanan hidupku? aku hanya pasrah saja kepadanaya apakah aku akan mati sekarang atau allah masih memberiku umur lagi. karena terlalu rakut aku menutup mataku menunggu ranting itu menimpaku.

 

~Author POV~

 

Krek…. Krek… Ctass…

Ranting itu pun jatuh ke tempat Shani berdiri, ranting itu memangkas jaraknya dengan Shani begitu cepat dan sudah hampir mengenainya, tapi tiba-tiba ada seseorang yang melompat ke arah Shani dengan cepat dan memeluknya kemudian dia mengubah posisinya yang membuat punggungnya menjadi alas mereka jatuh. Mereka berdua terseret tidak begitu jauh dari ranting itu dengan beralaskan tubuh dari si penyelamat itu.

“Woi, bangun lu, berat nih,” ucap si penyelamat.

Perlahan Shani membuka matanya, dan terlihat seorang pemuda dengan mata birunya dan rambut yang acak-acakan menutupi keningnya, tapi pengelihatannya masih agak samar.

“Woi bangun lu!!” ucap sang penyelamat agak keras.

“Eh i-iya maaf” ucap Shani sambil berusaha bangun dari tubuh pemuda itu.

Setelah berdiri dan pandangannya sudah fokus, Shani menatap pemuda itu seakan dia sudah mengenalnya. Dia terus-menerus menatapnya dan akhirnya dia ingat siapa itu.

“Radika” panggil Shani.

“Radika?” tanya orang itu.

“Kenapa kamu bertingkah aneh?” tanya Shani memiringkan kepalanya.

“Lu kenal Radika?” tanya orang itu.

“Kenal Radika?” Shani di buat bingung dengan pertanyaan itu.

“Lupakan saja” orang itu beranjak pergi meninggalkan Shani.

Merasa di tinggalkan, Shani mengejar orang itu dengan berlari kecil untuk menyamakan langkahnya.

“Maksudmu, kamu ini bukan Radika?” tanya Shani lagi.

“Apa itu penting?” tanya orang itu ke Shani sambil tetap berjalan.

“Iya, sangat penting”

Orang itu pun berhenti, yang membuat Shani ikut berhenti. Orang itu menghela nafas lalu dia berbicara.

“Memangnya kalau bukan kenapa?” orang itu menatap Shani dengan datar dan dingin.

“Kalau begitu-” Shani berhenti sejenak.

“…-kamu siapa,” lanjut Shani

“Namaku Ryuto, apa itu cukup?” ucap Ryuto datar.

“Kamu itu siapa, kenapa kamu persis seperti Radika?” tanya Shani lagi.

“Bisa gak lu diem, lu itu berisik banget,” ucap Ryuto masih dengan ekspresi datarnya.

“Jawab dulu kenapa kamu terlihat seperti Radika, tapi kamu bilang kamu itu Ryuto?” Shani terus-menerus bertanya yang membuat Ryuto agak kesal, walau dia hanya memberikan ekspresi datar.

“Gua yakin kalo kami berbeda,” jawab Ryuto.

“Kamu siapa?”

“Seperti yang kamu bilang, kalian memang berbeda. Cara bicaramu-“

“…-rasamu”

“…-bahkan karaktermu. Semuanya berbeda tapi, wajah kalian sama. Siapa sebenarnya kamu?”

Ryuto hanya diam, dia mencoba mengingat-ingat sesuatu yang di tanyakan Shani.

 

~Flashback On~

Terlihat sebuah layar komputer menayangkan wajah Radika, dia mengatakan sesuatu dari layar komputer itu.

“Ryuto. Ini aturan ke-3 yang harus agar kita bisa bekerja sama. Aturan ketiga, yaitu identitasmu. Jika siapapun menanyakan kau siapa, maka kau dan aku akan memberikan jawaban yang sama”

~Flashback Off~

“Gua, kembarannya,” ucap Ryuto.

“Kalian kembar?” Shani kembali bertanya.

Ryuto menanggapi pertanyaan itu hanya dengan memberikan sebuah ekspresi datar, setelah itu dia langsung pergi meninggalkan Shani, tapi Shani membuntutinya dari belakang tanpa berbicara. Karena dianggap tidak mengganggunya Ryuto hanya membiarkannya dan terus berjalan.

Ryuto hanya berjalan berputar-putar di taman itu karena dia bingung. Dia ingin pulang ke rumah Radika, tetapi terlalu jauh dari sini jika berjalan kaki lalu, dia mencoba merogoh-rogoh saku celana dan jaketnya barangkali ada yang berguna, lalu dia menemukan sebuah kunci motor. Ryuto kembali berjalan untuk mencari motor yang di gunakan Radika untuk pergi ke sini, dengan masih di buntuti oleh Shani di belakangnya.

Akhirnya Ryuto menemukan motor Radika, karena motornya masih sama seperti 4 tahun yang lalu yaitu motor berjenis sport dengan nama R25 yang berplat B 1501 CRS. Ryuto berjalan mendekati  motor itu, ketika sudah dekat dia memasukkan kunci ke lubang kunci di motor itu, tak lupa dia memakai helm yang terletak di atas tangki bensin. Ketika ingin menjalankan motornya, Ryuto menyadari ada yang memperhatikannya.

“Kenapa lu ngikutin gua terus?”

Sedangkan yang di tanya hanya diam saja dengan ekspresi agak memelas.

“Lu ga mau pulang apa?” tanya Ryuto lagi.

Tapi yang di tanya hanya terdiam saja tak menjawab.

“Gua pasti udah gila kalo ngelakuin ini,” batin Ryuto.

“Ayo gua anter pulang em…”

“Shani” orang itu memberi tahu namanya.

“Ngapain diem aja, cepetan naik,” ucap Ryuto masih menggunakan ekspresi datarnya.

Shani hanya mengangguk dan menuruti perkataan Ryuto, dan dia pun naik ke motor dan duduk manis di sana. Tapi karna posisinya belum pas Shani mencoba mencari posisi yang pas tapi, tiba-tiba motor melaju yang membuat Shani kaget dan karena kaget Shani sontak memeluk Ryuto dengan erat.

“Ngapain peluk-peluk?” tanya Ryuto datar.

“A-ah i-iya maaf,” ucap Shani dengan muka yang mulai memerah dan dia langsung melepaskan pelukannya terhadap Ryuto.

“Ah iya, rumah lu dimana?” tanya Ryuto.

“I-itu di jalan pengasinan perumahan Permata Blok A35,” ucap Shani.

“Baguslah ga begitu jauh dari rumah gua,” gumam Radika.

“Emangnya rumah kamu di mana?” Shani mencoba mencari tahu rumah Ryuto yang sekaligus rumah Radika.

“Emang buat apaan?”

“I-itu b-biar aku tahu rumahnya Radika, aku kan temen sekolahnya,” ucap Shani terbata-bata karena masih gugup.

“Oh. Rumah gua di perumahan Berlian blok A15,” jawab Ryuto datar.

Setelah itu tidak ada percakapan yang tercipta hingga mereka sampai di rumah Shani. Sesampaiya di rumah Shani, Shani langsung turun dari motor Ryuto.

“Makasih udah mau nganter dan makasih juga buat yang tadi” Shani tersenyum.

“Iya” Ryuto hanya menjawabnya dengan singkat.

“Yaudah gua cabut” Ryuto pamit dengan dinginnya.

“Hati-hati di jalan ya” Shani melambai-lambaikan tangannya.

Ryuto mulai memacu motornya pergi meninggalkan rumah Shani, setelah tidak terlihat lagi Shani lalu masuk ke dalam rumahnya.

~0o0~

Ryuto sudah sampai di rumah Radika, setelah memasukkan motornya ke garasi dia berdiri dia hanya berdiri di depan pintu.

“Rumah ini masih sama seperti dulu” gumam Ryuto.

Lalu perlahan dia memutar knop pintu dan mendorongnya, dan masuklah dia ke dalam rumah itu. Seperti biasa di sofa terdapat ka Melody dan Mamanya atau lebih tepatnya Mamanya Radika, mereka berdua tengah asyik menonton sebuah program tv yang berada di channel a*tv sambil mengobrol ringan. Ryuto terus berjalan menuju ke kamar Radika tapi tiba-tiba sebuah panggilan menghentikannya.

“Dek, kamu udah pulang?” tanya Melody.

“Udah tau udah pulang pake segala nanya,” ujar Ryuto dalam hati.

“Iya,” jawab Ryuto singkat, padat dan jelas.

“Lain kali kalo masuk rumah ucapin salam,” tambah Mamahnya.

“Iya mah, maaf,” ujar Ryuto.

“Yaudah kamu langsung tidur gih,” suruh Melody.

“Iya kak Imel” ujar Ryuto lalu berlalu pergi ke kamar.

Karena merasa ada yang aneh dengan sikap adiknya, Melody pun mengikuti adiknya pergi ke kamarnya.

~0o0~

Begitu sampai di kamar, Ryuto duduk di pinggir kasurnya. Dia hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba pintu kamar di ketuk.

Tok tok tok

“Dek kamu di dalem? Kakak masuk ya?” Melody kemudian masuk ke kamar Ryuto.

Di dalam terlihat adiknya sedang duduk terdiam di kasur dan terlihat seperti memikirkan sesuatu.

“Apa jangan-jangan gadis itu pemicu kenapa gua bisa kembali lagi” kata Ryuto dalam hati.

“Dia bilang nama dia Shani, kok gua ngerasa kenal sama nama itu tapi, di mana dan kapan gua kenal nama itu. Argh sialan!!!” Ryuto pusing dengan pikirannya sendiri dan dia pun meremas rambutnya sendiri, saking pusingnya dia sampai tidak tahu bahwa ada orang yang masuk ke kamarnya.

“Dek” Melody memanggil adiknya tapi tidak ada respon.

“Dek” Melody memanggil adiknya lagi tapi tetap tidak ada respon.

“Dek!!” kini Melody memanggilnya dengan sedikit keras.

Ryuto menoleh karena merasa ada yang memanggilnya.

“Kenapa?” tanya Ryuto dengan datar seperti biasanya.

“Kakak ngerasa ada yang aneh sama kamu. Kamu kalo ada masalah cerita aja sama kakak, oiya satu lagi kenapa kamu manggil kakak kak Imel? Biasanya juga kak Mel”

“Apa kakak masih ingat siapa yang memanggilmu begitu?”

“J-jangan-jangan kamu-”

“..-Ry-Ryuto?!” Melody cukup kaget bahwa sekarang dia berbicara dengan kepribadian kedua adiknya.

“Sepertinya lu masih inget sama gua, kak Imel.”

“Ka-kamu beneran Ryuto? di mana adikku? apa yang terjadi sehingga kamu keluar lagi?” Melody masih shock dengan kejadian ini.

“Tenang, akan gua jelaskan”

Lalu Ryuto menjelaskan bagaimana dia bisa kembali, mulai dari kejadian di taman itu saat dia menyelamatkan Shani. Melody hanya menanggapinya dengan anggukan-anggukan kecil tanda bahwa dia mengerti, setelah Ryuto selesai bercerita Melody kembali bertanya padanya.

“A-adikku bisa kembali kan?” tanya Melody yang mulai agak tenang.

“Tenang saja, setelah gua tidur dia akan bangun sebagai dirinya besok pagi” Ryuto menenangkan Melody walau masih menggunakan ekspresi datarnya.

“Ah, syukurlah kalau begitu” Melody mengelus-elus dadanya menandakan bahwa dia lega.

“Yasudah, kalau begitu kakak ke kamar dulu, kamu jangan tidur malem-malem ya”

“Iya tenang saja”

Lalu Melody pergi meninggalkan kamar adiknya untuk kembali ke kamarnya, sedangkan Ryuto dia melaksanakan solat terlebih dahulu sebelum tidur, karena itu merupakan salah satu syarat yang dirinya dan Radika sepakati. Selepas solat dia duduk di meja komputer, di depannya terpampang sebuah layar LCD komputer. Dia menyalakan komputer tersebut lalu membuka internet dan dia mengetik sebuah link https://goo/AR7y2s. Lalu muncullah sebuah laman bertuliskan 404 Forbidden Error, lalu dia mengarahkan panah mouse ke huruf ‘F’ dan setelah itu dia klik, dan dia di minta memasukkan Usernam dan Password.

Ryuto mengetik usernamenya yaitu, ryu.to dan passwordnya, setelah dia login muncullah tulisan ‘Message’, Ryuto langsung mengklik tulisan itu dan setelah di klik muncullah dua opsi yaitu ‘Arrive’ dan ‘Send’ Ryuto pun memilih ‘Send’ dan muncullah aplikasi untuk merekam video. Ryuto menarik nafas panjang lalu membuangnya, dia mengklik tombol berbentuk lingkaran berwarna merah untuk memulai rekaman video tersebut.

~0o0~

Setelah selesai membuat video dan mengirimnya, Ryuto menulis sebuah pesan dan dia menaruhnya di meja kecil di samping kasur. Setelah itu dia membaringkan dirinya di kasur dan  tak lama kemudian dia pun tertidur lelap.

 

******

Bersambung

By: Radika Yudha

Twiter: @radikaydh

Line: radika_23

 

Author note:

Mohon maaf jika part ini lebih pendek dari part lainnya karena saya sempat kurang sehat jadi sekali lagi mohon maaf. Di usahakan part berikutnya sudah kembali normal^^

~Terima Kasih~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s