Aku hanya bisa melihat senyuman mu dari kejauhan tapi aku harap kamu juga suka kepada ku  part 3 : panggung yang kecil untuk seorang bintang besar.

a

Matahari sudah rendah membuat langit sore berubah jingga,di ruang musik sekolah Jeremy hanya bisa diam di depan pintu ruang musik. Mata nya masih tak dapat percaya apa yang dilihat nya, pemilik suara itu ternyata bukanlah orang yang asing.

“Viny ? jadi kamu Serrica,” ucap Jeremy yang masih tak dapat percaya.

Viny berjalan meninggalkan panggung nya yang berupa terpaan matahari sore,Viny juga tak dapat percaya ada yang mengenali suara terlebih lagi tahu nama nya yang lain. Dia pikir saat sore hari dia bisa bernyanyi sendiri disini,tapi seseorang baru masuk dan memanggilnya dengan nama yang disembunyikan dari sekolah ini.

“Kamu Jeremy kan ? bisakah kamu rahasiakan ini semua,” pinta Viny.

“Kenapa ? kamu Serrica kamu hebat,” jawab Jeremy.

“Aku tak mau ada yang tahu, tolong rahasiakan ini,”

Viny berlari mengambil tas nya lalu pergi meninggalkan ruang musik, sementara Jeremy hanya bisa diam melihat Viny yang berlari dilorong sekolah yang sepi. Dia masih tak percaya bahwa idola nya selama ini hanya berjarak beberapa langkah dari nya, tapi dia masih tak mengerti mengapa Viny merahasiakan ini semua jika dia tahu lebih awal mungkin dia bisa…

Tak ada lagi alasan bagi nya untuk berada disekolah, dia pun mengambil tas nya lalu pulang ke rumah. Kak Sinka sedang berlari dari kejaran Kak Naomi, seperti nya mereka sedang berebutan remote TV Jeremy tak terlalu peduli jadi dia langsung masuk ke kamar nya.

Jeremy memandangi layar komputer nya membaca issue terbaru Captain America, sambil mendengarkan lagu-lagu di channel youtube Serrica. Ada sesuatu yang menganggu nya bukan tentang Steve Rodgers yang ternyata agent Hydra, tetapi mengapa Viny selama ini merahasiakan bahwa diri nya adalah Serrica tak ada alasan untuk menyembuyikan diri mu adalah orang terkenal setidak nya itu menurut Jeremy.

Pintu kamar Jeremy terbuka dan masuklah Kak Naomi yang sibuk dengan smartphone nya,Jeremy pun langsung mengambil gulungan koran lalu menghampiri Kak Naomi.

“TUNGGU,” teriak Kak Naomi sebelum Jeremy memukul kepala Kak Naomi.

“Ada apa. ?” tanya Jeremy.

“Kamu belum makan kan. ?” ucap Kak Naomi balik bertanya.

“Iya,” jawab Jeremy.

“Ibu nggak masak jadi Kakak mau delivery, kamu mau makan apa. ?”

“Nasi padang,”

“Ok,”

Kak Naomi pun balik badan tanpa melepaskan pandangan nya dari layar smartphone nya, Jeremy hanya bisa geleng geleng melihat tingkah Kakak nya.

“Dek,” panggil Kak Naomi lagi.

“Iya. ?”

“Pinjem koran nya,”

“Buat. ?”

“Pinjem bentar,”

Jeremy memberikan gulungan koran nya meski tak tahu maksud Kak Naomi,setelah menerima gulungan koran dari Jeremy Kak Naomi pun menyimpan smartphone nya ke dalam kantong dipegang nya erat erat gulungan koran itu dengan dua tangan diangkat nya sebelah kaki sebagai ancang ancang. Sementara Jeremy hanya terdiam karena tak tahu harus bagaimana, Kak Naomi mengayunkan gulungan koran seperti pemukul baseball dan strike , batter out. Kak Naomi berhasil mengKO Jeremy dengan sebuah gulungan koran.

Jeremy masih merasakan pusing setelah mendapat swing mematikan dari Kak Naomi,dia sendiri masih bingung bagaimana mungkin sebuah gulungan koran bisa membuat nya KO. Tapi itu tak terlalu menganggu nya,yang lebih menganggu nya adalah saat dia melihat Viny dari jauh dengan mengetahui jika dia adalah Serrica.

Viny masih seperti biasa hanya diam seperti biasa duduk disebelah Via yang terus bercerita dan membuat lelucon,meski tak percaya tapi kenyataan nya Viny adalah Serrica Jeremy tak bisa membantah hal itu tapi masih ada satu hal yang menganggu pikiran nya yaitu kenapa Viny merahasiakan itu semua.

Orang biasa nya tak menyembuyikan ketenaran mereka,bahkan ada yang melakukan apa saja untuk mendapatan nya. Menyembuyikan nya berarti Viny mempunyai suatu alasan tapi kenapa ? itulah hal yang menganggu pikiran Jeremy.

Di ujung kelas Yuriva dan teman teman nya sedang tertawa mendengar candaan Via,tapi kali ini ada sesuatu yang menganggu Natalia dia merasa risih kelompok nya dipandangi terus oleh Jeremy.

“Gila kali ya tuh orang,” ucap Nat.

“Maksud nya. ?” tanya Yuriva.

“Tuh si Jeremy dari tadi ngeliatin kita trus,” jawab Nat.

“Udah biarin aja,dia juga nggak ganggu kita,” ucap Ve.

“Nggak bisa dong, aku harus tahu kenapa dia ngeliatin kita,” ucap Yudha yang langsung emosi.

“Yudha DUDUK,” perintah Ve.

Mendengar perintah dari Ve, Yudha kembali duduk sementara Viny hanya diam karena dia tahu kenapa Jeremy memperhatikan kelompok nya. aku harus berbicara dengan Jeremy tentang Serrica, begitu pikir Viny dan dia pun berencana menemui Jeremy nanti.

Sekarang sudah jam istirahat dan Nat mengajak semua nya ke kantin,semua nya senang mendengar ajakan Nat yang berarti Nat yang akan membayar tetapi tidak bagi Viny.

“Vin ayo,” ajak Via.

“Aku nggak ke kantin,” jawab Viny.

“Nggak apa apa,”

“Ya udah duluan ya,”

Via pun berlari menyusul teman teman nya yang berjalan menuju kantin,sementara Viny mencoba mencari keberadaan Jeremy di kelas.Butuh beberapa saat bagi Viny untuk menyadari bahwa Jeremy tidak lagi berada di kelas, dia pun berlari keluar dan melihat Jeremy yang sedang berjalan di lorong tak membuang waktu Viny langsung berlari dan menarik tangan Jeremy.

Viny membawa Jeremy ke atap sekolah disana tak ada seorang pun, membuat Jeremy tak tahu apa tujuan Viny membawa nya kesana.

“Ada apa. ?” tanya Jeremy.

“Aku ingin bicara soal Serrica,”

“Baiklah aku mendengarkan,”

“Aku tahu jika tadi kamu memperhatikan aku dan teman teman ku,”

“Aku tadi…a..,”

“Aku tahu kamu ingin tahu alasan aku merahasiakan soal Serrica benarkan. ?”

Ada dua alasan Jeremy senang mendengar pertanyaan Viny, yang pertama dia tak harus menjelaskan alasan dia memperhatikan Yuriva dan teman teman nya, yang kedua karena memang hal itu yang ingin diketahui nya.

“Kau benar, kalau begitu boleh aku tahu kenapa kau merahasiakan dirimu adalah Serrica. ?”

Viny mengambil napas dalam, diri nya tak percaya bahwa diri nya harus menjelaskan mengapa diri nya merahasiakan ini semua, diri nya tak menyesal menjadi Serrica dia hanya tak ingin tahu jika diri nya adalah Serrica.

“Aku hanya tak ingin orang tahu,”

“Kenapa. ?”

“Kau pikir apa yang orang pikirkan jika tahu kalau aku adalah seorang penyanyi amatiran di youtube ? kau pikir orang orang akan memuji ku ? kau pikir orang akan mendukung ku. ?”

“Aku tak tahu,”

“Karena itu tolong rahasiakan ini semua,”

“Tapi aku tahu kalau kau penyanyi yang hebat, semua orang harus…,”

Viny menampar Jeremy membuat nya Jeremy terdiam, dilihat nya Viny sudah menyeka air mata yang jatuh di pipi nya.

“Vin…,”

Satu lagi tamparan diterima Jeremy, kali ini Viny menyandarkan wajah nya di dada Jeremy membuat seragam Jeremy basah oleh air mata. Jeremy mendekatkan wajah nya ke telinga Viny lalu membisikan.

“Maaf , semua orang harus tahu bagaimana indah nya suara mu,”

Viny hanya bisa terdiam membatu saat Jeremy pergi dari atap sekolah , meski diri nya berteriak untuk berlari mengejar nya tapi kaki nya lemas. Dia hanya diam saat bulir hujan mulai turun dan membasahi tubuh nya, seperti langit juga menangis untuk nya.

Jeremy pergi menyusuri lorong sekolah dengan ruang OSIS sebagai tujuan nya, dia ingat ajakan dari panitia beberapa hari yang lalu soal pensi sekolah. Awal nya Jeremy menolak karena dia sudah tak ingin menjadi pelawak sekolah, tapi kali ini dia punya alasan untuk sekali lagi naik ke panggung sekolah.

Hujan turun dengan deras, jendela jendela ditutup agar dingin nya hujan tak dapat masuk, penghangat ruangan dinyalakan agar pelajaran masih dapat dilaksanakan. semua orang berusaha menghangatkan diri.

“Maaf Pak saya terlambat,” ucap Viny.

Viny masuk dengan pakaian basah oleh hujan, wajah nya basah oleh air mata yang bercampur hujan. Teman teman nya berlari menghampiri nya mencoba memberi sedikit kehangatan dengan jaket dan handuk kecil yang mereka bawa, hari itu Viny jatuh kalah oleh dingin nya hujan.

Sudah tiga hari Viny tidak masuk sekolah karena sakit, hari ini dia mulai masuk kembali bertepatan dengan acara pensi sekolah. Mereka menjemput nya dari rumah dan sekarang menjaga nya seakan Viny adalah sepasang mata merah kukerta, ini semua adalah ide Ve yang berharap kemeriahan pensi akan membuat Viny merasa lebih baik.

“Gimana udah enakan. ?” tanya Nat.

“EH, jangan disentuh nanti rusak,” ucap Via seakan akan viny adalah barang yang rapuh.

“Bikin kaget aja,” ucap Nat lalu menjitak kepala Via.

Berada diantara teman teman nya membuat perasaan Viny lebih baik, ditambah dengan tingkah Via yang selalu membuat nya tertawa. Semua nya baik Viny hanya berharap dia tak bertemu dengan…

“HEY semua nya,” ucap Jeremy dari atas panggung menyapa semua orang yang datang.

Inilah alasan tadi pagi Viny sempat berpikir untuk menolak ajakan teman teman nya, dia masih ingat perkataan Jeremy diatap sekolah dan dia tak berniat untuk tahu apa maksud perkataan nya.

“Kenapa. ?” pikir Viny.

“Kesana yuk,” ajak Yuriva.

“Aku….,” ucap Viny.

“Kenapa Vin. ?” tanya Yudha.

“Aku lapar,” jawab Viny.

“Ya udah kita cari makan aja dulu,” ajak Ve mengajak teman teman nya pergi.

Saat Viny dan teman teman hendak berjalan pergi Jeremy melihat mereka, dia melihat Viny yang menjadi tujuan nya setuju untuk naik ke pangung ini sekali lagi.

“Yang bernama Viny diharapkan naik keatas panggung,” ucap Jeremy.

Sekarang Viny yakin dia seharus nya menolak ajakan teman teman nya untuk datang, dia seharus nya mencari sebuah alasan atau tinggal berpura pura masih sakit agar tak perlu datang kemari.

“Vin, apa kamu barusan dipanggil. ?” tanya Yudha.

“Udah nggak apa apa, kita pergi aja,” jawab Viny yang hanya ingin pergi menjauh.

Nggak masalah sih, ayo kita cari makan aja,” ucap Nat.

Jeremy berlari turun dari panggung untuk mencegat Viny.

“Tunggu dulu, kenapa kau ingin cepat cepat pergi acara nya baru dimulai,” ucap Jeremy.

Yudha yang tak terima dicegat oleh Jeremy langsung mendorong Jeremy untuk mundur, Jeremy hanya mundur dengan tak kehilangan senyuman diwajah nya. Melihat Jeremy yang hanya tersenyum membuat emosi Yudha tersulut, dikepalkan nya tinju nya dan dia maju untuk menghajar Jeremy.

“Ada apa dengan mu ? aku hanya ingin bicara dengan Viny,” ucap Jeremy.

“Aku tak ingin bicara dengan mu,” jawab Viny yang mendengar alasan Jeremy.

“Kau dengarkan, sekarang pergi,” ucap Yudha.

Jeremy tahu menghadapi Yudha dengan kekerasan tak akan berakhir untuk nya, dia memikirkan cara agar Viny naik keatas panggung. Viny sudah mulai berjalan pergi dan Yudha masih menjadi carberos yang menghalangi nya, Jeremy melihat sekeliling nya dan dia menyadari kekuatan yang tak bisa dilawan oleh Yudha.

“HEY SEMUA, apa kalian sudah cukup terhibur. ?” tanya Jeremy memancing perhatian penonton.

BELUM,” jawab para penonton yang mulai berkumpul.

Para penonton mulai berkumpul membuat Viny dan yang lain tak bisa pergi, Yudha mencoba mendorong penonton agar teman teman nya bisa pergi, tetapi jumlah mereka yang terlalu banyak membuat dia kalah kuat inilah yang direncanakan Jeremy karena sekuat apapun Yudha tak akan bisa menang melawan jumlah penonton yang begitu banyak.

“Kalau begitu yang akan menghibur kita selanjutnya adalah Viny,” ucap Jeremy sambil menunjuk Viny.

NGGAK,” jawab Viny.

“Ayolah kita semua ingin melihat aksi dari Viny benarkan. ?” ucap Jeremy berharap bisa mendapat dukungan penonton.

“VINY”

“VINY”

“VINY”

Sorak sorai penonton mulai riuh membuat Viny dan yang lain semakin sulit untuk pergi, Yudha yang sudah emosi mencoba memukul Jeremy tapi dia terhalang oleh banyak nya penonton.

“Gila tuh orang, ayo kita pergi aja,” ucap Nat.

“Aku setuju, disini sudah mulai ricuh ayo kita pergi,” ucap Ve setuju.

Dan saat mereka akan pergi Jeremy muncul dari balik kerumunan tepat didepan Viny, jauh dari Yudha yang terhalang oleh kerumunan.

“Maaf tapi Viny bisakah kau ikut dengan ku. ?” tanya Jeremy.

Nggak,” jawab Viny.

“Dia nggak mau jadi jangan dipaksa dong,” ucap Yuriva.

Ini pertama kali nya Jeremy bisa sedekat ini dengan Yuriva, mereka bertatapan membuat detak jantung Jeremy berubah tak karuan, tapi tujuan nya hari ini bukan Yuriva tujuan nya hari ini adalah membuat Viny bernyanyi didepan semua orang.

“Maaf tapi aku harus melakukan ini,”

Jeremy menarik tangan Viny masuk kedalam kerumunan membuat teman teman nya tak bisa mengejar, Viny mencoba melepaskan tangan nya tapi Jeremy terus menarik nya keatas panggung.

“Apa yang kamu mau. ?” tanya Viny.

“Aku hanya ingin mereka semua tahu mengapa aku selalu mendengarkan lagu lagu mu, aku hanya ingin mereka tahu mengapa aku pikir suara mu adalah hal terindah yang pernah ku dengar..”

Yudha memukul Jeremy jatuh, dia berhasil bebas dari kerumunan penonton setelah menghajar beberapa diantara nya. Dia menarik tangan Viny mengajak nya turun dari panggung, tapi Viny berhenti dia berbalik dan melihat kearah Jeremy yang masih meringis memegang kepala nya.

“Ayo Vin,” ajak Yudha.

“Kenapa kau harus memukulnya. ?” tanya Viny.

“Dia membuat mu malu, aku harus menghajarnya,”

“malu ya,”

Yuriva dan yang lain menghampiri Viny mereka berhasil lolos karena perhatian semua orang beralih ke Jeremy yang kesakitan ditengah panggung.

“Udah ayo kita pulang aja,” ajak Ve.

“Kenapa dia sampai melakukan semua ini hanya untuk membuat ku malu. ?” ucap Viny.

“Apa maksud kamu Vin. ?” tanya Ve yang tak mengerti.

“Tadi aku…bilang kalo…” Yudha tak tahu bagaimana menjelaskan nya kepada yang lain ucapan nya kepada Viny.

“Kalian tahu, aku pikir dia tak salah aku aja yang keras kepala,” Ucap Viny yang sadar akan maksud dari kata kata Jeremy.

Viny pun melepaskan gengaman teman teman nya, dia berjalan ke tengah panggung mengambil microphone Jeremy yang jatuh. Dia berjalan menghampiri pemain piano yang masih terkejut atas apa yang terjadi, dia meminta Jessica pemain piano itu untuk memainkan lagu favorite nya, lagu pertama yang dulu dia nyanyikan.

Alunan piano mengalun di ruang pensi dengan Viny berdiri ditengah panggung, Jeremy bangkit berdiri dan betapa senang nya dia melihat Viny berdiri ditengah panggung bersiap untuk bernyanyi, akhir nya semua orang akan tahu betapa merdu nya suara penyanyi favorite nya Serrica atau yang lebih dikenalnya dengan nama Viny.

Viny mengambil napas dalam, lalu dia mulai bernyanyi suara indah nya membuat semua orang diam. Mereka hanya bisa dia mendengar suara Viny yang merdu bagaikan nyanyian malaikat, mereka terhipnotis suara Viny yang hangat seperti sinar matahari sore hari.

 

Itu lah yang diharapkan oleh Jeremy semua orang dapat mendengar indah nya suara Viny suara yang begitu indah sampai rasa sakit dikepala nya hilang, sampai selanjutnya dibagian lain dari potongan kisah ini, aku akan menunggu mu.

 

oleh:chris

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Aku hanya bisa melihat senyuman mu dari kejauhan tapi aku harap kamu juga suka kepada ku  part 3 : panggung yang kecil untuk seorang bintang besar.

  1. saran bang, kalo mau pindah tempat dikasih keterangan biar nggak bingung yang baca
    sorry ya kalo nggak berkenan dihati, itu pendapat gue aja sih XD

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s