Fiksi dan Fakta part 41

Kelvin Mandala’s POV

Mataku terbuka diiringi senyuman lebar dari Andela, pujaan hatiku.

“Udah siap buat keluar hari ini??” Tanyanya semangat.

“Udah dong bu gulu!” Jawabku menirukan suara anak kecil.

“Kalo aku ibu gulu, berarti Kelvin harus ikutin kata-kata ibu!” Balasnya manja.

“Weeekk.. Bu gulu banyak maunya :P” Andela memasang wajah cemberut andalannya.

Ditengah candaan ringan di pagi hari, sebuah pesan masuk dan membuatku terheran-heran.

“Ada apa?” Andela mendekatkan
wajahnya.

Kuletakkan kembali ponsel yang sejak tadi dalam genggaman.

“I’m really really love you..” Andela lirih.

“I’m really really always in love with you. And I can’t explain ‘How much I wanted you to be here next to me’, stood it, babe..”

Dahi dan hidung kami saling bertemu. Dengan sedikit memiringkan kepala, Andela memberikan ciuman yang sangat  mengejutkanku.

“Maaf, kamu ga harus ngelaku-“

Andela memotong ucapanku dan kembali melanjutkan hal yang sebenarnya tergolong liar.

“Karna aku percaya kamu, dan ini udah
kelamaan untuk kita..” Andela tersenyum kepadaku.

“Ndel…” Panggilku pelan.

“Ya?”

“Tapi.. Aku ga bermaksud jadi pacar kamu untuk ini..” Aku tak enak.

“Kelvin Mandala?” Andela menaikkan daguku yang tertunduk.

“Ndel..”

“Ini terimakasihku atas semuanya..” Andela tersenyum lagi.

Aku memalingkan pandangan.

“Vin.. Kenapa?” Terlihat kekecewaan di raut wajah Andela.

“Sebenernya ada apa, Ndel?” Aku
sedikit ragu dengan semua ini.

“Maksud kamu?” Andela bingung.

“Everything’s okay, kan?”

Andela mengangguk mantap.

“Ada apa, Vin?” Aku menoleh kearah gadis yang kucintai itu.

“Jangan pergi, Ndel. Banyak yang kehilangan stelah momen kek gini..” Andela tertunduk.

“Jadi?” Aku meminta kepastian darinya.

“Aku gaakan ninggalin kamu, Vin. Gaakan dan gamungkin akan ninggalin kamu, aku janji..” Andela menjulurkan jari kelingkingnya.

“Makasih, Ndel. Makasih banyak..” Aku
meraih kelingkingnya dengan sangat yakin.

“Aku yang seharusnya bilang makasih..” Andela memelukku erat setelah itu.

Tak ada yang mengetahui momen yang baru saja terjadi tadi. Kuharap tuhan slalu menjaga Andela.. Salah satu hal terbaik yang pernah datang ke hidupku.

*Author’s POV

“Udah bangun?” Ucap Jaka kepada Michelle.

“Eh, Raz? maaf aku kesiangan.” Michelle segera bangkit.

“Santai aja, Chel. Kan kita gaada jadwal juga hari ini..” Jaka tersenyum sambil terus mengutak-atik ponselnya.

“Eh, ko piyama aku lepas ya?” Tanya Michelle buat Jaka kaget setengah mati.

“Eh?? Bukannya kamu pake semalem?” Jaka panik.

“Iya, tapi..” Michelle terhenti.

“Tapi apa?!” Jaka cemas, ia meraih segelas air putih yang berada di meja.

“Kamu kemaren tidur jam berapa?” Michelle menatap Jaka.

“Emm.. jam 11 mungkin? setelah kamu tidur kalo gasalah..” Jaka meneguk air putih perlahan.

“Huh?” Michelle menatap Jaka serius lalu menaikkan alis sebelah kirinya.

‘Buusshhhh!!’ Jaka menyemburkan air
putih yang berada di mulutnya.

“Maaf, ma..af. Aku kebawah dulu..” Jaka bergerak cepat keluar kamar.

“Hahaha..” Tiba-tiba Michelle tertawa sejadi-jadinya.

“Eh?” Jaka menghentikan langkahnya.

“Kamu mudah banget ditipu! hahaha XD” Michelle tertawa puas.

Jaka menyipitkan kedua matanya dan dengan sangat kesal bergerak turun kebawah.

‘Ding-ding!!’ notifikasi baru masuk ke ponsel Jaka.

“Hah?” Kaget Jaka nyaris menjatuhkan gelas yang ia genggam.

Jaka segera mengambil pel dan
kembali keatas.

“Chel, tolong dipel ya..”

“Iya siap, pas-” Michelle terhenti.

“Ada apa, Raz?” Tanya Michelle heran.

“Yoyok, temenku. Dia minta jemput sekarang.” Mendengar jawaban Jaka, Michelle hanya mengangguk tanda mengerti.

“Bye..!” Dengan terburu-buru, Jaka meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Michelle dengan kebingungannya.

*Skip

Sementara itu, Fuuto sedang berdebat ditelepon dengan seseorang.

“C’mon Yan! Kami butuh lo!” Desak
Fuuto.

Terdengar penolakan dari orang yang Fuuto ajak bicara.

“Oke deh, maaf kalo gitu. Ditunggu ya..” Fuuto mengakhiri panggilan.

“Siapa, Fuu?” Tanya Dee-dee yang sejak tadi sudah menguping.

“Ian teman ‘mereka’, Dee-san.” Fuuto meraih jaketnya.

“Dia nolak?”

“Ah engga, Dee-san. Dia udah di Bandung kemaren, tapi harus balik lagi ke Jakarta. Katanya sih, nganter sepupunya.”

“Anter? LOL.” Dee-dee menahan tawa.

Tiba-tiba, Wood memanggil dari luar.

“Kami datang, Wood!” Teriak Fuuto mewakili Dee-dee dan bergerak keluar.

“Kalian jaga rumah ya..” Ucap Dee-dee pada Zoski dan Karel.

Mereka berdua menunjukkan pose siap.

“Dobby dan lainnya langsung?” Tanya Wood.

Fuuto hanya membalas dengan anggukan.

*Skip

Semuanya telah berkumpul di taman dekat rumah Troy.

“Maaf udah bikin kalian dateng jauh-jauh kesini. Sebelumya, saya disini ingin memberitahu tentang
keberadaan target kita.” Troy dan teman-temannya yang lain mulai mempresentasikan keberadaan target mereka semua.

“Sebelum gue tutup ini, dipersilahkan kepada Razaqa Nafan, Narataro Fuuto, Joey Midokaze dan Keysal Yongki. Selaku perwakilan.” Troy mempersilahkan.

“Ini semacam perjanjian lisan diantara kita. Bahwa, kita sekaligus sekolah kita masing-masing akan bersatu buat nangkep target kita.” Yoyok membuka.

“Dibutuhkan kerjasama penuh untuk ini. Kita perlu untuk saling mengkonfirmasi demi kepentingan mendramatisir.” Joey menambahkan.

“Intinya, kita harus pancing mereka untuk keluar.” potong Fuuto
“Namun tak dapat dipungkiri, mereka memang extra cerdik untuk mengadu domba. Mereka bukan manusia.” Lanjut Fuuto mantap.

“Kali ini, mereka udah dipantau dan kayanya udah di Bandung. Jangan ada yang buru-buru. Tetep sama-sama, awasi sekitar kalian. Mereka bisa aja nyerang satu per satu.” Tambah Jaka.

Semuanya tampak berpikir sejenak.

Dobby mengangkat tangan.

“Bagaimana jika ancaman pemerintah itu serius?” Tanya Dobby mantap.

“Kita akan coba untuk engga anarkis. Dan diharapkan gaada saling tuntut diantara kubu nantinya. Setiap blok jangan saling provokasi.” Tegas Jaka lagi.
“Soal ancaman pemerintah, kita hadapi bersama.” Sambung Fuuto diikuti tepuk tangan dari mereka semua.

Setelah pertemuan itu, Troy dan Eka, anak buah Yoyok akan memantau kawasan yang mereka curigai akan ditempati target mereka.

“Gue izin ke rumah sakit, Kelvin keluar hari ini. Gue juga kasian ama Mike.” Pamit Jaka.

“Sip sip Zaq! Hati-hati!” Ucap semuanya.

Semua blok Fuuto juga menyebar keseluruh wilayah. Zoski dan Karel, Fuuto dan Dee-dee, Joey dan Sagara, Andy dan Kenji, Dobby dan Yuri, Wood dan Jerry.

*Skip
“Yeahh..!! Akhirnya keluar!” Seru Kelpo tak karuan.

Andela, Michelle dan Jaka hanya tertawa melihat ekspresi orang terdekat mereka itu.

“Sekarang langsung ke tempat Mike ya?” Ajak Jaka.

“Sip, mantap!” Seru Kelpo sangat semangat.

Selama perjalanan, mereka hanya mengobrol satu sama lain. Jaka dengan Kelpo di depan, dan di bangku penumpang ada Andela dan Michelle yang sedang asyik mengobrol.

“Po, jadi lu udah bisa inget pas kejadian lu waktu itu?” Tanya Jaka memancing.

“Ah, Jak. Gue lupa. Bahkan perkiraan
tingginya aja gue lupa.”

“Susah kalo gitu, Po. Gue penasaran deh..”

“Lu aja penasaran, Jak. Apalagi gue yang di timpuk langsung-_-” Kelpo malas.

Semuanya tampak berpikir.

“Jangan-jangan murid SMA kita sendiri yang ngelakuin ini..” Michelle beropini.

“Ya pastinya gitu. Gamungkin ada orang luar yang berani masuk gitu aja.” Sambung Andela setuju.

Kelpo hanya diam.

“Hmm.. bukannya waktu itu rame ya, Po?” Tanya Jaka lagi.

“Waktu itu emang sepi, Jak. Ya lu tau
ndiri kalo istirahat pertama, orang pada ke kantin bawah.” Jawab Kelpo.

“Yaelah, itu mah bukan ‘orang’. Itu kerjaan kita dari dulu :v” Jaka menahan tawa.

Melihat ekspresi Jaka dan Kelpo, tawa pun kembali pecah.

“Gimana soal ‘Kembar’?” Tanya Kelpo buat suasana hening seketika.

Andela dan Michelle yang tak mengerti apa-apa hanya menyimak.

“Mereka disini..” Ucap Jaka pelan dengan nada berbisik.

“So?” Kelpo menaikkan alis sebelah kirinya.

“We must get out from their range, dan kali ini kita bersama-sama.” Jaka
menoleh dan tersenyum.

“Oke.. fokus nyetir dulu deh..” Kelpo mengalihkan perhatian ke ponselnya lagi.

Mobil mereka sudah memasuki kawasan rumah sakit tempat Mike dirawat.

“Jak?” Kelpo menahan tangan Jaka.

“Yup po?” Toleh Jaka.

“Kalian duluan aja ya Ndel, Chel.” Perintah Kelpo.

“Kamar yang kemarin ya, Raz?” Tanya Michelle memastikan.

Jaka mengangguk.

“Gue mau nanya soal Inyi. Gimana tentang mereka?”

“Gaada apa-apa, Po.” Jaka datar.

“Ayolah, Raz. Ceritain gue please..” Pinta Kelpo.

“Rumit pokoknya..” Jaka tertunduk.

Kelpo menyerah begitu saja.

“Yaudah, ayo ki-“

“Maafin gue ya.. Nanti deh gue cerita..” Jaka menepuk pundak Kelpo dan dibalas dengan anggukan dari sahabatnya itu.

Singkat cerita, mereka hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama-sama.

Blok Fuuto juga telah memberikan sinyal pasti untuk hari itu.
*Skip

Keesokan harinya.

Jaka memulai hari dengan duduk sendirian sambil memikirkan sesuatu di taman dekat rumahnya.

“Hai..” Tiba-tiba Michelle datang dan duduk disampingnya.

Jaka tak terbiasa untuk menolak berbicara begitu saja kepada siapapun. Oleh karena itu, Jaka hanya melemparkan senyuman kearahnya.

“Dari mata kamu, kayanya lagi mikirin sesuatu nih..” Michelle terus menatap Jaka dengan wajah riangnya.

“Gaada apa-apa. Lagi pengen ngelamun aja nih..” Jaka tersenyum kearah Michelle
“Aku kangen Bali deh.”

“Uh? Serius? Aku lumayan kangen, hehe..”

“Tapi lupain deh soal Bali. Dalam waktu dekat, ada kejutan.” Michelle bangkit.

“Kejutan apa?”

“Mau jogging?” Ajak Michelle tanpa menghiraukan pertanyaan Jaka.

“Aku udah tadi.” Michelle berpamitan setelah itu.

Jaka menatap kosong kearah bunga-bunga yang terlihat menghidupkan suasana taman pagi itu.

*Skip

Semuanya sudah berkumpul di
lapangan dalam SMU 48.

“Jadi itu aja, ini surat dari dia.”

Jaka membuka surat yang diberikan target mereka itu.

“Untuk yang terhormat, Fuuto dan temannya.

Untuk kedua kalinya, kami akan berjumpa dengan kalian. Kota ini sangat pas dengan skenario kami. Bermainlah dengan sempurna.

Tertanda, Sahabat lama.”

Jaka nyaris merobek kertas yang ia buka barusan.

“Bikin dosa aja nih orang.” Keluh Jaka.

“Ya, pastinya kita harus delay ampe lebaran.” Lanjut Yoyok.

“Seterusnya, kita waspada aja ya..” Seru Zoski.

“Sampai ketemu..” Jaka, Bobby dan Kelpo langsung meninggalkan tempat tersebut.

Terhitung sejak hari itu, semuanya mulai serius tentang ini semua.

Jaka dan yang lainnya memutuskan untuk menemui Mike di rumah sakit.

“Jadi, Fuuto siap-siap? Yoyok sosialisasi? Tonny Sosialisasi? Troy juga siap-siap?” Tanya Mike.

Jaka mengangguk.

Sekitar jam 17.30, Viny datang.

“Hai, Nyi.” Sapa Kelpo hangat.
“Eh, Kelvin? kapan keluarnya?” Viny ramah.

“Kemaren, Vin. Kamu ga kesini ya kemaren?”

“Engga nih… Eh, ada Razaqa. Aku bawa makanan nih.” Viny menaruh kantong yang ia bawa di meja dekat lemari penyimpanan.

Jaka melihat kearah arlojinya.

Tanpa mereka sadari, setiap harinya adalah persiapan. Setelah beberapa minggu yang akan terlewati, pertunjukan sesungguhnya akan segera dimulai.

~~

“Satu cara untuk pergi dengan tenang adalah dengan tidak terburu-buru dan melangkahi setiap gundukan dan
lubang yang kita temui. Jangan memilih yang instan, hidupmu terlalu berarti untuk melewatkan pengalaman hebat.” – Abdul Sony Gunawan

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s