Last Love, Part2

Ting !

Pintu lift pun terbuka, aku masuk ke dalam. Tumben banget lift sepi, batinku. Bulu kudukku sontak berdiri, ketika mengetahui kalau ternyata lift ini bergerak naik keatas bukannya turun ke bawah seperti yang kuinginkan.

Ting !

Pintu lift terbuka. Aku semakin keringat dingin. Namun ketika seorang kakak kelas cantik memasuki lift, semua pikiran menyeramkanku pun sirna. Ia tersenyum kecil kearahku, senyumannya itu seakan-akan menarik duniaku.

Ia mulai masuk dan kemudian menekan tombol lift menuju lantai satu sama seperti tujuanku sebelumnya. Ia terdiam sambil menatap pintu lift yang masih tertutup sempurna.

“Emm… kak,” panggilku

“Ya?” Ia menjawab tanpa melihat kearahku

“Emm, anu… kak Ve, apa kabar?”

“Hm?”

Ting !

Lift kembali berhenti di lantai yang salah. Kini lift berhenti di lantai 3, sepertinya akan ada orang yang masuk ke dalam lift ini lagi. Kulihat seorang siswi baru (sepertinya) memasuki lift ini.

Ia tersenyum jahil dan langsung berdiri di sampingku juga di samping kak Ve, ditengah-tengah kami. Dasar anak ini, batinku sambil terus melihat kearahnya.

“Nabilah, kamu keterima di SMA ini?” Tanya kak Ve pada anak yang ternyata bernama Nabilah ini

“Iya dong. Masa kakak aku aja keterima, akunya enggak?”

Kak Ve hanya tertawa. Apa mungkin Nabilah ini adik kak Ve? Tapi masa iya, kakaknya secantik dan selembut bidadari sedangkan adiknya sebrewok dan sejahat kang bajaj ini?

“Kak. Kalo dia siapa?” Tanya Nabilah sambil menunjuk kearahku.

“Dia anak baru juga. Kenalan gih, siapa tau cocok…”

“Hah? Apa?” Tanyaku tak terima.

“Oh gitu. Yaudah kenalin gue Nabilah. Lo siapa?”

“Gue Rama Keynan Putra, panggil aja Key.”

“Keynan ya… hmmm kayaknya gue pernah denger. Dulu lo SMP dimana?”

“Gue dulu SMP di… SMP43,”

“Oh?! Berarti bener. Lo Keynan yang jadi kapten futsal SMP43 kan?”

Aku hanya mengangguk saja tanpa membalasnya lagi.

Ting !

Lift pun akhirnya berhenti di lantai satu. Untunglah lift nyampe disaat yang tepat, batinku sambil mengelus dada. Pertama yang keluar adalah Nabilah, dia sok-sokan berjalan mundur sambil terus berbicara padaku yang sama sekali tidak mengindahkan pembicaraannya.

Aku masih terfokus pada kak Ve yang baru saja keluar dari lift. Memang benar sebutan-sebutan mereka yang bilang kalau kak Ve itu memang seorang bidadari, aku memang benar-benar terpukau dengan kecantikkannya.

Brugh!

“Awww!”

Nabilah meringis kesakitan ketika akhirnya ia bertabrakan dengan seseorang. Kak Ve yang melihat kejadian itu juga sedikit terkejut, namun tak berbuat apapun. Sementara aku? Aku tertawa kecil ketika melihat Nabilah dalam keadaan seperti itu.

“Ssshhh…. sakit…” ringis Nabilah sambil memegangi punggungnya yang sakit.

“Apa-apaan nih? Lo ngapain jalan mundur gak jelas kayak gitu sih?” Tanya orang yang sebelumnya Nabilah tabrak.

“Nyante aja jadi orang! Gausah sok kayak gitu oey,”

“Dih, cewek aneh. Lo yang jalan mundur ngapain gue yang disalahin?”

“Gue kagak ada nyalahin elo, tapi ngapain lo yang nyolot!?”

“Gua….”

Aku langsung menepuk-nepuk ringan pundak cowok yang ditabrak Nabilah tadi. Ia menoleh kearahku, amarahnya mereda malah wajahnya menjadi tak percaya setelah ia melihatku.

“Sabar… sabar… orang sabar jodohnya mengantri…” kataku asal.

“Ebuset. Jodoh cukup satu aja tapi untuk selamanya,” jawabnya.

Ya, dia Fino sahabatku dulu saat SMP sekaligus menjadi salah satu teman futsalku. Dia memang cukup pintar, kurasa karena itu dia di terima masuk ke SMA ini. Karena SMA48 ini tidak menerima siswa baru yang memakai jalur prestasi.

“Lo kenal sama ni cowok udik ini?” Tanya Nabilah padaku sementara jarinya menunjuk kearah Fino.

Fino menurunkan telunjuk Nabilah. “Diem aja lo, wartawan mading SMP43!” Sahut Fino

“Eh? Darimana lo tau status gue dulu??” Fino hanya tersenyum kecil.

“Shuuutt… udah lah, ngapain coba adu bacot cuma karena gituan doang? Iya Bil, dia temen gue dulu waktu SMP jadi pantes aja dia tau status lo dulu,” jelasku

“Kalian… bukannya siap-siap buat nanti malem, malah reuni disini,” sapa kak Ve yang ternyata daritadi melihat tingkah laku kami

“Bidadari ..” ucap Fino asal

Aku menoleh kearah Fino yang masih cengo akibat melihat wajah kak Ve. Aku langsung mengelap wajahnya dengan telapak tanganku. “Parah lu, semua mau di crocos..”

Lagi-lagi Fino menyingkirkan tanganku secara paksa. “Aelah! Ganggu orang lagi ngedelusi aja lu.” Jawabnya. “E..eh, kak, kakak siapa namanya?”

Kak Ve tersenyum kecil, “sudah-sudah. Buruan kalian ke kamar, jangan kayak gini ah kalian udah gede. Gih…”

Aku tertawa melihat Fino yang tidak diperdulikan oleh kak Ve. “Hahahah, i…iya kak. Bil, gue sama Fino pergi dulu yak. Bye…!”

Cepat-cepat kudorong kedua bahu Fino menjauh darisana sebelum ia benar-benar terkena virus cinta seorang kak Veranda. Ketika kami berada di kantin, Fino mencengkram kedua bahuku.

“Buruan kasih tau gue siapa nama kakak kelas tadi,” katanya penuh rasa penasaran.

“Harus ya?” Tanyaku menantang sambil duduk di salah satu kursi kantin.

“Harus! Udah buruan napa kasih tau,” katanya memohon. Kini ia duduk di depanku sambil terus menerus memohon.

Aku mengambil handphone ku dari saku celana lalu membaca chat LINE yang ternyata sudah menumpuk. Ada chat dari group SMP ku dulu, ada juga dari Personal Chat teman-temanku.

LINE

Petra : woy guys! Lu pada SMA dimane?

Rezky : SMA 1 bro. Lo?

Petra : SMAN 4, heheheh..

Gera : kalo gue di SMA43, yah alumni lah…

Tania : kita sama Ger, aku juga disana.

Mashi : kalo gue mah di SMAN 2.

Aku hanya men-read semua percakapan teman-teman lamaku itu tanpa ikut berkomentar. Hingga aku melihat kearah personal chat dari kakakku juga dari kak Ve. Eh tunggu, kak Ve? Ada juga dari Sinka teman SMP ku dulu.

Kak Melody : dek. Ini file jadwal sekolah kamu… (Download File)

Kuclick tanda download untuk mengunduh file tersebut.

Kak Ve : nanti sore jam 5 kakak tunggu di taman belakang.

Key : oke.

Sekarang tinggal Sinka

Sinka : hai Key. Kamu SMA dimana? Siapa tau samaan..

Key : hai jg. Aku SMA di SMA48, kamu?

Aku menlock hp ku dan kemudian menatap kearah Fino yang sudah memakan mie goreng. Tunggu dulu, sejak kapan ia memesan dan sejak kapan makanannya itu sudah sampai?

Kuraih menu yang ada di meja ini dan kemudian memesan makanan.

“Mbak, pesen baksonya satu ya, pake kuah pake bihun, ga pake mangkok,”

“Lha…?”

“Yaudah bakso satu pake kuah ga pake bihun ga pake mangkok ga pake sendok ama garpu. Ngerti kan mbak?” Tanyaku.

“O..oh. ya ngerti-ngerti.” Jawabnya sambil manggut-manggut.

Setelah mbak itu pergi, Fino menatap kearahku dengan tatapannya seperti biasa saat kami di SMP dulu. “Lo gak berubah,” katanya

“That’s me,” jawabku.

Line ! *ceritanya bunyi line itu loh. Tau kan?*

Sinka : eh. Sama dong, aku juga di SMA48.

Key : oh ya? Yaudah kamu lagi dimana Sin? Biar bisa ketemu gitu.

Tak berselang lama, bunyi line ku kembali lagi. Dari Sinka.

Sinka : aku lagi di kantin. Km?

“Oh ya?” tanyaku spontan. Aku langsung mengedarkan pandanganku sekeliling berusaha mencari sosok Sinka disana.

“Oh ya kenapa lu?” Tanya Fino

“Katanya itu si Sinka ada disini, katanya lagi di kantin. Makanya gue cariin,”

“Sa ae lu. Masih chattingan sama si Sinka toh? Gagal move on yak?”

“Enak aja lu kalo ngomong. E..eh tu Sinka.” Kataku sambil menunjuk kearah Sinka yang duduk berdua dengan cewek yang kupikir adalah temannya.

Akupun langsung bangkit berdiri dan berjalan untuk menemuinya. “Hai..” sapaku.

Oh damn. Ternyata yang duduk di samping Sinka itu adalah Elaine, dan Andela? Dia baru saja datang setelah memesankan makanan untuk teman-temannya.

“Hai Key. Aku kira kamu cuma boongan aja bisa masuk kesini,” balas Sinka. “Duduk duduk…”

Aku mengangguk dan mulai menduduki sebuah kursi. “Aelah Sin, anda meremehkan kemampuan seorang Rama Keynan Putra ya?” Tanyaku

Sinka tertawa. “ya gitu deh..”

“Dasar,” gumamku

“Eh Key. Entar kamu ngambil eskul apa? Jangan bilang futsal lagi,” tanya Andela

“Nah tuh tau. Kan aku ga bisa lepas dari yang namanya futsal, Ndel. Jadi wajarlah,”

“Ka…kamu, suka main futsal?” Tanya Elaine

Aku mengangguk. “Yeah, dari umur 4 tahun.”

“O…oh…”

“Emangnya ke…kenapa Len? Kamu inget sesuatu?” Tanya Andela

“Ah, engga Ndel.” Jawab Elaine sambil menggelengkan kepalanya.

“Baksonya mas…” mbak-mbak yang tadi mengantarkan pesananku. Ia meletakkan sebuah plastik bening yang dalamnya terdapat bakso, sesuai permintaanku. “Wah, si mas ini banyak pisan pacarnya.”

“E…eh? Bu.bukan mbak, ngawur aja.. mereka cuma temen kok, temen…” jawabku

Ia terkikik, “soklah kalo begitu. Saya permisi dulu mas, monggo…”

“Huff gila.” Komentarku

“Halah. Lu mah apa atuh Key.” Balas Andela

“Cuma manusia biasa yang ditinggal pacarnya kecelakaan. Duh sakit banget ya?”

“Hahahah… sabar Key sabar.. aku yakin si doi mu itu bakal sehat lagi. Ya kan Len?” Tanya Andela

“Iya apanya?” Balas Elaine kebingungan.

“Yaaaa gitu deh…”

Aku tersenyum saja. Tiba-tiba hp ku berdering. Video call dari…. tunggu dulu, APA!?

*Tbc

-Seena-

Iklan

Satu tanggapan untuk “Last Love, Part2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s