“Directions The Love and It’s Reward” Part 13

yup

Di kelompok Guntur CS.

Shani masih bangun, belum tertidur. Ia masih terjaga dengan sebuah rasa gelisah di hati dan pikirannya. Ia sebenarnya tidak peduli dengan seseorang yang dipikirkannya, tapi di satu sisi ia sangat mengkhawatirkan orang tersebut.

“Rendy… kamu di mana?” batin Shani. Ia hanya duduk menelungkup tertunduk.

Bagaimana dengan yang lainnya?

Guntur dan Rio sudah tidur, begitu juga dengan Viny dan Gre. Hanya Shani yang masih terjaga dari tidurnya.

“Hiks…”

Gre perlahan bangun karena mendengar suara rintihan dan tangisan. Ia menengok ke arah samping kanan, mendapati temannya yang sedang menangis. Ya, itu adalah Shani.

“Shan… kamu kenapa? Masih mikirin Rendy?” tanya Gre pelan, berusaha menenangkan dengan cara mengelus punggung Shani. Sadar akan Gre yang bangun dan duduk di sampingnya, Shani menoleh.

Matanya sembab, penuh dengan linangan air mata yang berderu.

“Tenang aja, aku yakin Rendy pasti baik-baik aja. Percaya deh J” Gre tersenyum meyakinkan Shani. Perlahan, Shani menghapus sisa-sisa air matanya yang sedari tadi mengalir.

“Iyah. Thanks Gre” ucap Shani.

“Sekarang kamu tidur aja. Kita berdoa yang terbaik buat Rendy dan juga Yuvia. Semoga mereka baik-baik aja. Besok, kita harus langsung menuju ke bumi perkemahan buat kasih tau yang lainnya.”

“Kamu bener Gre” Shani mulai menuruti perkataan Gre. Mereka berdua akhirnya melnjutkan tidur mereka.

“Rendy… semoga kamu baik-baik aja.” Shani menatap kalung berbentuk huruf ‘I’ di lehernya.

 

 

—o0o—

Keesokan paginya…

“Hoamz…” Yuvia meregangkan semua otot-ototnya. Efek tidur semalam membuatnya segar di pagi hari.

CIT

CIT CIT CUIT…

Suara burung kian bernyanyi. Menambah kesan harmoni di pagi hari yang indah ini. Ia sekarang sudah di luar tenda. Ia menoleh ke sisi lain. Mendapati seorang pemuda yang tidur layaknya anak kecil. Tempat tidurnya berantakan, tapi ia masih tidur dengan lelapnya seperti tidak merasa terganggu akan hal apa pun.

“Ckck, udah pagi masih aja tidur” Yuvia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ia berjalan mendekati pemuda itu. Terlihat wajah tampannya yang masih tertutupi beberapa helai rambutnya dengan sedikit berantakan.

“Hihihi… lucu juga yah kalo lagi tidur” seketika Yuvia tersenyum-senyum sendiri.

“Bangun Ren! Bangun!” Yuvia mencoba membangunkan Rendy dengan cara menggoyang-goyangkan tubuhnya.

“Ahzzz mam… aku masih ngantuk. Masih mau tidur…” Rendy menepis tangan Yuvia, kemudian bertelungkup menghadap sisi lain.

“Bangun nggak?! Kalo enggak, aku cubit nih!” Yuvia mulai kesal, sebenarnya hanya ingin bercanda dengan Rendy atas ancamannya itu.

“Hmmzzz… ahz… biarin. Aku masih mau tidur. Lagian ini masih pagi…” Rendy masih mengigau dengan mata tertutup.

“Nih! Rasain ya!” Yuvia menggelitiki sekujur tubuh Rendy.

“Duh-duh! Mah! Geli mah! AHAHAHA….” Rendy kegelian, tapi masih belum membuka matanya.

“Ayo bangun!” ucap Yuvia keras sambil masih menggelitiki Rendy.

“AHAHA… iya udah… iya!” Rendy membuka matanya. Seketika ia langsung bangun. Tanpa di sadarinya…

TUK!

“Aduh!” ucap mereka bersamaan.

Tidak sengaja, Rendy membentur kening Yuvia membuat keseimbangan Yuvia hilang. Alhasil, mereka jatuh bersamaan dengan Rendy yang berada di posisi bawah. Untung saja dengan sigap, tangan Yuvia masih menahan tubuhnya agar tidak jatuh di atas Rendy.

Mereka masih bertatapan cukup lama dari jarak hanya sekitar 1 jengkal. Bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas mereka satu sama lain.

“Emm… bisa bangun nggak? Berat nih…” Rendy memecah keheningan. Dengan reflek cepat, Yuvia langsung bangun dan berdiri. Menghadap ke sisi lain agar Rendy tidak melihat wajahnya.

Ya, wajah Yuvia saat ini sedang merah merona sekali. Malu, panik, bercampur deg-degan membuat jantungnya kian berdebar kencang.

“Hah? Kenapa tuh anak?” batin Rendy. Ia bangun dari tidurnya, dan berdiri. Perlahan melihat dari samping wajah Yuvia yang sedang menunduk. Terlihat wajahnya yang sangat merah. Rendy berinisiatif mengecek keadaan Yuvia dengan memegang keningnya, apakah panas atau tidak.

Yuvia semakin tak tahan dengan situasi seperti ini.

DEG DEG

“Ah!!! Ini kenapa sih?! Gue kenapa! Kok gini?! Kok deg-degan banget sih?!” Yuvia bingung pada dirinya sendiri. Kenapa rasanya begitu berdebar.

“Kamu kenapa sih? Sakit? Mukanya merah gitu. Tapi kok nggak panas ya?” Rendy membolak-balikan antara telapak tangan dan punggung tangan. Masih memeriksa kening Yuvia.

Rendy mendekatkan wajahnya ke wajah Yuvia.

“Jangan mendekat…” batin Yuvia.

“Hmm… mungkin kamu…”

PLAK!!!

 

—o0o—

 

“Er… sakit tahu” Rendy masih memegangi pipinya yang merah sambil memberesi beberapa perlengkapan yang dipakainya semalam. Mulai dari tenda, hingga sleeping bag yang ia gunakan semalam.

“Lagian sih! Kamu deketin muka kamu gitu! Ya aku kira kamu mau macem-macem tau! Huftyup…!” Yuvia menggembungkan pipinya.

“Kan cuma ngecek kamu kenapa-napa atau enggak, sakit atau enggak. Udah, itu doang kok” Rendy masih tidak mengerti jalan pikir Yuvia.

“Ya kan nggak perlu ngedeketin muka segala!” kesal Yuvia.

“Lah, dari tadi ditanya diem aja. Lagian aku cek kening kamu biasa aja, padahal muka kamu itu asli! Merah banget!” Rendy mengelak akan peryataan Yuvia.

“Eh… masa sih?” tanya Yuvia.

“Iya, tadi merah banget. Ya… aku kira kamu sakit” Rendy memasang muka polos.

“Lain kali jangan lakuin kayak gitu lagi! Aku jadi deg-degan banget tahu! Dasar mesum!” Yuvia marah sambil meninggikan nada bicaranya.

“Eh? Deg-degan? Kamu punya penyakit apaan emangnya?” Rendy masih menatap dengan tatapan polos.

“Dasar nggak peka.”

“Eh… bu-bukan apa-apa” Yuvia mengelak.

“Ya dah. Sekarang mendingan kita lanjut aja. Males ribut mulu” ucap Rendy sambil memasukan barang-barang pada tas ranselnya.

 

*****

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak hutan. Terlihat hutan yang masih dibasahi embun pagi. Sungguh suasana yang menyejukan. Aroma rumput segar dan juga beberapa buah-buahan yang mulai mekar pun tercium jelas. Tak lupa ditemani dengan kicauan burung-burung di beberapa sisi pohon menjadi pelengkap.

“Hmmm… masih jauh nggak sih?” tanya Yuvia. Sepertinya di sudah mulai kecapekan. Sedari tadi hanya itu saja yang ia tanyakan.

“Ngg… Nggak tau juga deh, jalan aja terus” balas Rendy sambil sedikit mempercepat langkahnya.

“Eh eh! Tunggu!” Yuvia berlari kecil untuk menyusul Rendy.

 

Mereka berjalan cukup lama. Sudah cukup jauh untuk menerobos masuk ke dalam hutan. Dengan insting dan alat seadanya yaitu kompas. Dan pada akhirnya mereka menemukan sebuah petunjuk.

“Eh, liat. Itu kayaknya ada papan petunjuk deh!” ucap Yuvia menujuk ke sebuah tiang balok kayu.

“Eh iya, bentar. Aku lihat dulu” Rendy mendekati tiang balok itu.

“Lanjut lurus terus! Jarak 5 km lagi ^^” sekiranya, begitulah tulisan pada balok kayu itu.

“Eh buset! Masih 5 km lagi!” keluh Yuvia.

“Ya, kuat-kuatin aja. Masih untung kita dapet petunjuk. Kalo enggak, mungkin kita bisa nyasar lebih dalam lagi ke hutan ini. Mungkin aja kita bakalan ketemu binatang buas kayak semalem tadi. Atau mungkin lebih buruk…” Rendy menggantungkan ucapanya.

“Apa? Apa kemungkinan terburuknya?” tanya Yuvia penasaran.

“Mungkin kita bisa juga ketemu makhluk astral yang tak terlihat.” Seketika wajah Yuvia mendadak pucat.

“Ren, jangan bercanda deh.” Yuvia hanya mengira itu hanya sebuah lelucon.

“Enggak kok, beneran. Tuh buktinya, disamping kamu udah ada Valak” ucap Rendy kemudian langsung berlari pergi.

“Eh! Mana?! Mana?!” Yuvia langsung berlari mengejar Rendy.

“Lari…!!!”

“Eh! Eh?! Tu-tunggu!” Yuvia berlari mengejar Rendy.

 

*****

Rendy sudah berada cukup jauh di depan. Yuvia terus saja berlari karena rasa takut yang menghantuinya. Tanpa sadar…

KRETEK!

TAK!

“Aduh!!!” Yuvia terjatuh karena ada ranting dan juga akar pohin di tengah jalan. Saking takutnya, ia tidak menyadari hal itu. Ia terduduk meringis kesakitan.

“Sssttt… aduh…” erangnya.

“Aw! Iihhh…. ssstttt… huhuhu…” mata Yuvia berkaca-kaca menahan rasa sakit pada lututnya.

“Lah? Tuh anak kemana?” Rendy baru sadar setelah ia menoleh ke belakang. Ia tak menemui Yuvia. Rendy akhirnya memustuskan untuk kembali mencarinya.

 

Dia melihat seorang gadis. Yah, gadis itu sedang mengerang kesakitan. Rendy hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia berjalan mendekati gadis itu.

“Kenapa? Ckck…. makanya hati-hati” Rendy mengulurkan tangannya membantu gadis itu.

“Hah? Huft… kamu tanya kenapa?! Ini gara-gara kamu tahu nggak sih?! Dasar! Huft…” Yuvia menepis tangan Rendy.

“Iya-iya… maaf. Kan Cuma bercanda. Lagian kamu kok percaya banget sih? Mana ada hantu siang-siang begini hahaha…”

“Cie~ ahaha Yuvi penakut” ejek Rendy.

“Eng-enggak kok!” Yuvia mengelak.

“Lah tadi apaan coba? hayoo… penakut.”

“Huh… terserah! Aku ngambek pokoknya!”

“Udah… maaf dong. Gitu aja ngambek.”

“Lagian kamunya! Yaudah sekarang mendingan kita lanjutin aja perja…

Duh..!” Yuvia hendak berdiri, tapi kakinya tak bisa menahanya. Sepertinya, jatuh tadi memberikan dampak buruk.

“Tuh kan… sok kuat sih. Dah ikut aku dulu” Rendy menarik tangan Yuvia untuk duduk. Ia mengambil sebotol air mineral dari tas ranselnya. Langsung saja ia menyiramkannya pada lutut Yuvia yang kini sedang berdarah.

“Sssttt…. aw! Ishhh! Sakit tahu!” Yuvia meringis kesakitan.

“Udah, nggak usah banyak bawel. Bentar lagi selesai kok” Rendy mengambil antiseptik.

“Tahan sebentar ya…”

“Aw! Sssttt…”

Rendy kemudian meniupi luka itu sejenak dan hingga cukup kering.

“Bentar lagi selesai”  Rendy kemudian mengambil plester dan kapas. Ia kemudian menempelkannya pada luka Yuvia.

Yuvia memandang wajahnya sejenak dari atas. Hanya senyum menghiasi dirinya.

“Walaupun terkadang ngeselin, tapi… sebenernya kamu baik juga yah” batin Yuvia.

“Dah… selesai. Gimana? Udah enakan?” tanya Rendy.

“Iyah… udah mendingan. Makasih.” Senyum tipis pada wajah Yuvia.

“Maaf buat yang tadi juga ya” Rendy meminta maaf.

“Udahlah, jangan bahas itu lagi. Mendingan kita…” Yuvia hampir terjatuh lagi saat berdiri. Untung saja Rendy menopang tubuhnya.

“Kayaknya… kamu belom bisa jalan deh” Rendy mengerti akan keadaa. Ia langsung membungkuk di hadapan Yuvia.

“E-eh? Ma-mau apa?” tanya Yuvia.

“Udah cepetan naik.”

“Tapi…”

“Nggak ada tapi-tapian” ucap Rendy. Setelah dibujuk, akhirnya Yuvia digendong oleh Rendy.

“Pegangan… nanti jatuh lagi.”

“Iya.” Yuvia kemudian mengalungkan tangannya pada leher Rendy.

 

—o0o—

“Vin, kta udah sampe pos berapa nih?” tanya Rio.

“Ini udah pos ke 9. Berarti bentar lagi kita sampe.” Balas Viny.

Kelompok mereka sudah berjalan cukup jauh. Mengikuti jalur dalam rute. Kini sudah sampai di pos 9.

Shani? Bagaimana dengan Shani?

Wajahnya sangat murung, lesu, dan tertunduk lemah. Ia sangat mengkhawatirkan Rendy.

“Shan…” lirih Gre.

“Shan?” panggilnya lagi.

“Eh iya Gre? Kenapa?” pertanyaan itu membuat lamunan Shani buyar.

“Tenang, kita bentar lagi sampai kok” ucap Gre.

 

*****

Mereka kini sudah sampai di bumi perkemahan. Sudah terlihat beberapa kelompok ekspedisi penjelajahan lainnya juga sudah sampai. Mungkin kelihatannya kelompok mereka lah yang paling akhir. Di depan, kak Ve sudah menunggu kedatangan para kelompok.

“Akhirnya kalian sampai juga.” ucap kak Ve tenang.

“Eh… tunggu? Yuvia sama Rendy mana yah?” tanya kak Ve mulai panik.

Semua dalam kelompok itu, Guntur, Rio, Viny, Gre, dan Shani hanya diam menunduk lesu.

“Me-mereka hilang kak” lirih Shani pelan.

DEG

“Kita harus lapor ke guru” ucap Guntur. Kemudian ia menoleh ke arah Rio dan mengkodenya untuk mengikutinya.

 

—o0o—

“Hmm… seperti itu” ucap pak kepala sekolah.

“Kita harus panggil tim SAR untuk mencari mereka” ucap guru killer berkacamata dan bermata empat (?) oke, ini ngayal.

“Baik pak, terima kasih. Kami pamit dulu” ucap kak Ve.

Barusan, kak Ve melapor kepada para guru penanggung jawab kegiatan untuk memanggil tim SAR. Kak Ve kemudian menemui Guntur CS.

“Gimana kak?” tanya Shani.

“Tim SAR akan segera datang” balas kak Ve ragu-ragu.

“Apa mungkin Rendy ama si Yuvia dimakan binatang buas? Jatuh  ke jurang gitu? Diculik tarzan? Oh… atau jadi handsome-handsome wolf? Mungkin juga digondol si Valak yak?” ucap Guntur asal ceplos.

“Sssuut… hus! nggak boleh gitu” ucap Viny.

Tak lama kemudian, tim SAR datang dan memulai olah TKP.

“Permisi… kami ingin menanyakan sesuatu terkait kasus ini” ucap pemimpin tim SAR.

“Iya silahkan pak” ucap kak Ve.

“Di mana terakhir kali kalian melihat korban?”

“Di tengah hutan pak. Yang satu menghilang karena mencari kayu bakar. Dan yang satu lagi… entah pak” jawab Viny.

“Kalau begitu terima kasih atas infonya. Baik, tim 1 ke kiri! Tim 2 ke kanan! Dan tim tiga ke tengah!” perintah sang atasan.

“Baik pak!” jawab semuanya serentak.

“Rendy… tolong

Jaga Yuvia.”

 

—o0o—

Rendy berjalan sudah cukup jauh dengan menggendong Yuvia. Wajahnya nampak pucat sekali. Bibirnya pun juga sudah kering. Sebenarnya, dia sudah tak kuat untuk berjalan lagi. Yuvia juga sepertinya khawatir dan kasihan padanya.

“Emm… Ren, mendingan kita istirahat dulu deh” ucap Yuvia.

“Hmm… nanggung, be-bentar lagi sampe kok Yuv” ucap Rendy masih terus berjalan lurus.

Peluh keringat membasahi sekujur tubuhnya. Langkahnya mulai gontai, keseimbangan tubuhnya pun perlahan mulai hilang.

 

*****

 

“Apa ini? aku kayaknya punya firasat mereka ada di sekitar sini” batin kak Ve.

“Maaf pak, saya akan memeriksa di sebelah sini” ucap kak Ve.

“Oh, baiklah.”

“Kak Ve! Tunggu!” Viny, Gre, dan juga Shani ikut mengejar kak Ve.

 

*****

 

“Ren, mendingan kita istirahat di pohon itu sebentar” ucap Yuvia.

“Hmm… yaudah deh” kini Rendy hanya menurut saja apa kata Yuvia.

“Duduk dulu” ucap Yuvia.

“Nih, minum” ucap Yuvia memberikan sebotol air mineral pada Rendy.

“Makasih.”

“Hmm… Ren, kamu nggak perlu maksain diri” ucap Yuvia tertunduk lesu.

 

~o0o~

 

“Mungkin di sekitar sana” kak Ve terus berlarike arah yang menurut firasatnya benar.

“Tunggu kak” ucap Shani yang tertinggal. Ia berhenti sejenak dengan nafas yang tersengal-sengal. Kemudian ia menunduk sejenak.

“Eh? Apa ini?” Shani menemukan sesuatu. Sebuah kalung berbentuk hati dan berhias permata berwarna merah.

“Ah udah, bawa aja dulu” Shani kemudian mengantungi kalung itu

 

*****

“Kita jalan lagi” ucap Rendy bangkit dan berdiri.

“Kamu yakin?” Yuvia seakan gelisah tak yakin.

“Tenang, aku gapapa kok.”

Mereka berjalan lagi. Firasatnya mengatakan bahwa mereka semakin dekat.

KRESEK!

“Hah… hah…

Re-Rendy?!?!?!” beberapa wanita keluar dari semak-semak.

“Syukurlah kita selamat” ucap Rendy.

“Tim SAR! Di sini!” teriak kak Ve. Ternyata, beberapa wanita tadi adalah kak Ve, Viny, dan Gre.

Rendy perlahan menurunkan Yuvia dari gendongannya. Kemudian, datang lagi seorang gadis.

“Rendy?! Syukurlah kamu gapapa” itu adalah Shani. Langsung saja Shani memeluk erat Rendy, seakan tak ingin melepaskan. Dia seperti terharu bahagia karena akhirnya orang yang dipikirkannya itu baik-baik saja.

Tim SAR segera membawa Yuvia menuju pos kesehatan.

~o0o~

Di sebuah rumah, di kala hujan merintik…

“Hmm… hujan-hujan gini enak kali ya bikin kopi” ucap seorang gadis.

“Apa ya?” gadis itu masih memilih-milih rasa kopi yang ia inginkan. Tapi entah mengapa, ia tiba-tiba saja mengambil kopi dengan rasa Cappucino Espresso.

“Yang ini enak juga kayaknya” tidak biasanya seperti ini. Biasanya gadis itu selalu minum kopi dengan rasa Vanila Latte kesukaanya. Dia langsung menyeduh kopi itu di cangkir dengan air panas. Ada firasat yang aneh.

 

~o0o~

Kini, Shani telah melepas pelukannya. Entah mengapa itu membuat ada sesuatu yang mengganjal, lebih tepatnya rasa sakit ketika melihat momen itu. Entah berantah Yuvia seperti kesal.

“Huh… cewek yang suka cari kesempatan.”

“Tunggu… tunggu… ngapain juga gue gini ya. Kok rasanya agak sakit di hati. Masa iya gue cemburu?

Nggak ! Nggak mungkin! Paling gue Cuma kecapekan aja kayaknya.”

Yuvia menyadari ada sesuatu yang aneh pada Rendy. Berbeda sekali. Ia kelihatan sangat pucat, bibirnya pun kering. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Semakin diperhatikan, matanya sayup-sayup, sepertinya pandangannya mulai kabur. Keseimbangannya mulai goyang.

Yuvia yang menyadari hal itu, langsung mendekat.

“Ren, kamu nggak papa?” tanya Yuvia.

“Aku nggak pa…”

BRUK!

“Rendy…!!!”

~o0o~

CTAR!

“Sssttt… aw! Panas!” kak Melody tidak sengaja memecahkan gelas berisi kopi yang hendak diminumnya. Efek panas mungkin? Tapi ada yang aneh.

Kak Melody langsung saja memberesi pecahan-pecahan beling itu.

“Kenapa ya? Kok tiba-tiba keinget Rendy?”

“Apa dia baik-baik aja?

Firasatku buruk.”

 

-To Be Continued-

Written by : Rain @Rendyan_Aldo

~Note~

Sorry, mungkin part ini agak kurang dapet feelnya. Sorry juga, kalo kalian sadar… part ini lebih pendek beberapa lembar dari yang sebelum-sebelumnya. Mungkin efek angka 13 kesialan :v  Oh iya, kritik, saran, dan komentar perlu asupan ya. Thanks~

 

 

 

 

 

Iklan

9 tanggapan untuk ““Directions The Love and It’s Reward” Part 13

  1. mungkin si rendy pingsan gara gara kelamaan gendong si yupi yg berat, iya lah berat kan si yupi anak dino :v lanjut thor!!

    Suka

    1. Kagak, mungkin efek Shani meluknya kencengan banget. Terus kena bagian “itunya” :v pingsan gegara mimisan deh jadinya :v

      Suka

  2. Bukan ada maksud SPAM yak :3 ada sedikit promosi (yaelah biar laku).
    Jadi gini, gw ada project ff baru lagi. Tapi gw masih bingung untuk ngepostnya. Sedikit bocoran sih, genrenya Fantasy-Action dengan sedikit bumbu romance. Pengen gw post di sini, tapi… Ya gitu, gw takut keteteran aja soalnya bingung ngurusin yang ini dan yang itu. Dah, segitu dulu. Gw juga mikir, Romance terus kayaknya rada bosen yah. Ada saran?
    Thanks~

    Suka

      1. Dah, yang ntu jan dibahas lagi 😅 yang lalu biarlah berlalu.
        Ya, ntar gw pikir² lagi. Gw cuma takut keteteran aja. Tapi kan bulan puasa gini banyak liburnya, jadi mungkin banyak waktu gw buat nulis. Bukan masalah stuck atau gimana, tapi masalah waktu dan juga kadang males dan nggak mood nulis. Itu aja sih, gw pikirin dulu gimana enaknya ke depan 🙂
        Thank~ saranya ya :]

        Suka

  3. selesain ini dulu ren sambil ngerjain yg satu lagi tp jgn di posting dulu dah kelar semua baru deh di posting!

    eh ada michelle?

    Suka

    1. Iya deh bang. Ada baiknya gw bikin 5-10 part dulu deh buat persiapan 😯
      Tapi sih ya pengennya kalo bisa bulan ini diposting, lebih banyak waktu senggang soalnya. Ngeramein postingan hari Senin yang angker 👻
      Oke, thanks bang~

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s