Saat Cinta Merubah Segalanya2, Part 3

Kini di apartement, Naomi sedang memasak untuk sarapan mereka bertiga. Naomi mengikat rambutnya asal ke belakang. Kemudian ia memotong sayuran yang telah disiapkannya, dan memasukkannya ke dalam wajan untuk dimasaknya bersama dengan nasi goreng(?). Sangat simple mungkin, ia sangat malas dengan yang ribet-ribet jadinya yang simple aja lah..

Setelah selesai, Naomi pun menaruh ke piring dan meletakkannya di meja makan. Kini tugasnya membangunkan adik-adiknya yang sedang tidur. Ia berjalan menuju kamar, kemudian membuka pintu kamar tersebut. Terlihat kedua adiknya yang masih tertidur, yang satu tertidur dengan aman sedangkan yang satu tertidur dengan brutal(?).

Naomi berjalan perlahan mendekati mereka, “Bangun yuk dek, kita sarapan dulu.”

Naomi menggoyangkan tubuh Yupi perlahan dan tubuh Robby. Yupi perlahan membuka matanya dan ia meregangkan tubuhnya. Sedangkan Robby ia masih terlihat nyaman sekali dengan tidurnya.

“Dek, bangun yuk. Kita sarapan dulu.” Naomi menepuk-nepuk pelan pipi Robby.

“Kakak duluan aja deh, aku yang bangunin kak Robbynya,” ucap Yupi.

“Yaudah, kakak tunggu di meja makan ya kita sarapan bareng.” Naomi mengangguk kemudian berjalan keluar kamar. “Jangan lama Yup.”

Yupi berjalan kearah Robby yang tidur di sofa. Memang tidak ada pilihan lain kalau mereka berdua menginap di sini, dan beginilah jadinya tidur di sofa..

“Kak?” Yupi menggoyangkan tubuh Robby.

“Hem?”

“Bangun ih. Udah pagi, kak Naomi nyuruh sarapan itu. Ayo cepetan kak.”

“Nanti aja Shan, kita kan lagi nonton ini. Habis ini aja makannya ya?”

Dahi Yupi berkerut, ini ngigo atau apa? Eh tapi kok Shan? Pikir Yupi.

Kadang Yupi merasa kasihan dengan kakaknya ini, sudah setahun ini ia tidak dihubungi oleh Shania. Yupi melihat kerinduan yang sangat besar pada Shania di mata Robby.

“Kak?” Yupi menggoyangkan tubuh Robby lebih kuat dari sebelumnya.

Robby membuka matanya, kemudian ia bangkit dari tidurnya.

“Makan dulu yuk? Kak Nomnom udah nungguin tuh,” ucap Yupi.

Robby mengangguk, kemudian ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Tak berapa lama, ia pun keluar. Dan mereka pun berjalan keluar kamar, menuju meja makan untuk sarapan bersama Naomi..

~

Siang ini, Robby bersama Yupi dan Naomi memutuskan untuk pergi entah kemana. Karena mereka sudah jarang sekali begini, dan sekarang ada waktu. Jadi ya gitu deh..

Kini mereka tengah berada di sebuah mall, Yupi merengek ingin nonton. Katanya ada film baru sih. Dan di sini lah mereka sekarang, di XXI yang ada di mall tersebut.

“Nonton film ini aja ya kak?” ucap Yupi yang menunjuk salah satu poster film horror.

Robby menggeleng cepat, “Enggak, yang lain aja. Ngebosein tau nonton horror gitu.”

“Bilang aja takut kali kak,” cibir Yupi.

“Gak. Enggak takut kali. Hih yang lain aja deh.” Robby mengedikan bahunya ngeri. Melihat posternya saja sudah membuatnya takut, apalagi kalau nonton pikirnya.

“Udah ah. Kalian apaan sih, gitu aja ribut. Udah kita nonton ini aja.” Naomi menunjuk salah satu poster film kartun.

Robby dan Yupi sempat terdiam melihat tingkah laku kakaknya. Ini muka judes, tapi tontonan bocah, pikir Robby. Muka aja galak ah, tontonannya cemen. Mending kayak aku dong, pikir Yupi.

“Y-yakin kak nonton angry birds?” tanya Robby.

“Iya, emang kenapa gitu?” tanya Naomi menatap heran Robby.

“Ya enggakpapa sih, aku terserah kakak aja deh. Asal jangan yang horror aja.”

“Cemen wuu,” ejek Yupi.

“Yupi.” Panggil Naomi dingin, seolah-olah memperingatkannya untuk berhenti memulai keributan.

Yupi terdiam dan menundukkan kepalanya menatap takut Naomi. Kalau Naomi sudah begitu, dan lewat dari itu habis lah dia..

“Yaudah sana gih kamu beli tiketnya, duduknya di tengah aja deh ya. Biar enak nontonnya.” Naomi pun memberikan uang seratus ribuan dua lembar pada Robby.

“Oke kak.” Robby pun mengantri tiket untuk mereka nonton.

Sedangkan Naomi dan Yupi, mereka membeli popcorn dan minuman untuk mereka. Kemudian mereka berdua duduk di sofa yang berada di sudut ruangan untuk menunggu Robby yang tengah mengantri tiket mereka.

Cukup lama Robby mengantri tiket, Naomi yang merasa ada tidak beres pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke antrian tiket untuk mencek Robby.

Naomi tidak melihat Robby pada antrian tiket, ia mulai meneliti setiap sudut ruangan. Dan… gotcha! Ia melihat Robby di salah satu sudut dalam ruangan tersebut. Tetapi ada yang aneh menurutnya, ia melihat Robby bersama… seorang perempuan?

Naomi berjalan menghampiri Robby, setelah di belakang Robby. Ia pun menepuk pundak Robby.

“Tiketnya udah dibeli?” tanya Naomi.

Robby mengangguk menanggapi Naomi.

“Oh yaudah deh, kirain tadi belum soalnya lama banget. Kasian Yupi nungguin dari tadi,” ucap Naomi.

“Ngg, maaf ya kak lama. Ada temen aku soalnya kak.”

“Hoo.. oke, kakak di sana ya? Nanti ke sana aja.” Naomi menunjuk salah satu sofa di sudut ruangan.

“Oke.”

Naomi pun berjalan kembali menuju sofa tersebut menghampiri Yupi. Sedangkan Robby ia masih bersama perempuan lain.. ralat. Masih bersama perempuan tersebut.

“Siapa tadi Rob?”

“Itu kakak gue,” jawab Robby.

“Oh, kirain pacar kamu tadi.”

“Yakali gue pacaran sama dia Shan, orang dianya galak gitu,” ucap Robby lesu.

“Kan aku gak tau, lagian beda sih. Aku gak yakin soalnya, kakak kamu cantik banget sih-.“

“Terus gue jelek gitu?” tebak Robby.

Shani. Ya perempuan tersebut adalah Shani sepupu Gre. Gre hari ini mengajak Shani untuk jalan-jalan. Setelah kehabisan rencana untuk ngapain, mereka pun memutuskan untuk nonton. Dan pada saat selesai membeli tiket, Shani bertemu Robby. Sedangkan Gre ia membeli popcorn. Jadi ya gitu deh ya..

Shani terkekeh geli, “Bukan aku loh yang ngomong ya.”

Robby mendengus kesal pada Shani, tetapi ia sedikit senang? Entahlah, ada perasaan senang ketika melihat Shani begitu.

“Gue ke sana dulu ya? Kasian kakak sama adek gue nungguin kelamaan, gakapapa kan?” ucap Robby.

Shani mengangguk, “Gakpapa kok, lagian aku sama Gre mau masuk juga ini.”

“Yaudah, gue duluan ya.”

Shani tersenyum manis kepada Robby. Senyum yang paling manis diberikan untuknya. Entahlah, ia merasakan ada sebuah perasaan yang hangat ketika bersama Robby.

Robby berjalan menghampiri kakak dan adiknya yang sedang menunggunya. Dan kini ia tengah berada di depan Naomi dan Yupi.

“Lama banget kak beli tiketnya, enggak penuh juga ini lagian. Masa iya lama banget.” Yupi mendengus kesal pada Robby karena ia lama sekali.

“Maaf ya, tadi ada temen kakak soalnya.” Robby mengacak-ngacak rambut Yupi gemas.

“Ish! Berantakan tau!” Yupi menggembungkan pipinya kesal.

Robby terkekeh pelan melihat tingkah laku Yupi. Sedangkan Naomi ia hanya menatap Robby, ia baru kali ini melihat Robby bersama perempuan lain selain teman-temannya. Atau ia yang tidak memperhatikan adiknya selama ini?

“Kak ayo masuk, itu udah mau mulai bentar lagi,” ucap Yupi.

Naomi tersadar dari lamunannya, ia mengangguk dan bangkit dari duduknya. Kemudian mereka berjalan masuk ke salah satu pintu bioskop yang akan menayangkan film yang mereka tonton..

~

“Kak makan dulu yuk! Aku laper nih,” ucap Yupi.

Robby menatap Naomi, “Gimana kak?”

“Boleh deh, lagian kakak juga laper ini. Makan dulu deh baru pulang. Tapi kita makannya di sana aja ya?” Naomi menunjuk sebuah restoran yang di mall tersebut.

Robby dan Yupi mengangguk patuh pada Naomi. Mereka bertiga pun berjalan masuk ke restoran tersebut. Dan mereka duduk yang untuk empat orang di bagian kanan restoran tersebut, Yupi duduk di samping Robby. Dan Naomi duduk di hadapan mereka berdua. Mereka pun memesan makanan..

“Dua tenderloin double, satu chicken double, dua orange juice dan satu jus mangga.” ulang seorang pelayan yang mencatat pesanan mereka.

“Ada tambahan lagi?” tanya pelayan tersebut.

“Enggak ada.”

“Baiklah, tunggu sebentar ya.” Pelayan tersebut pun masuk ke dalam.

Robby mengeluarkan handphonenya, membuka aplikasi chat miliknya. Robby membuka semua chat yang masuk di handphonenya, tiba-tiba dahi Robby berkerut..

“Kenapa kak?” tanya Yupi yang heran menatap Robby.

“Ha? E-eh, enggak kok. Enggakpapa Yup,” jawab Robby.

Yupi memicingkan matanya pada Robby, “Kakak main rahasia-rahasian nih sama aku.”

“Enggak ada yang dirahasiain kali Yup.”

“Dek?” panggil Naomi.

Robby menatap Naomi, “Kenapa kak?”

“Ngg, cewek yang tadi siapa?”

“Tuh kan! Sekarang udah gak cerita-cerita lagi, main rahasian gitu. Tau ah kesel aku.” Yupi menggembungkan pipinya.

“Ish. Dengerin dulu ya Yupi adiknya kakak yang cantik. Jadi gini, kakak enggak ada rahasia-rahasian ya. Soal yang cewek tadi, itu temen kali bukan siapa-siapa juga,” ucap Robby.

“Bener?” tanya Yupi.

Robby menganggukkan kepalanya, “Iya bener Yupiii.”

“Ngg, kok kakak ngerasa dia kayak suka sama kamu ya dek?” ucap Naomi.

Robby menghela nafasnya pelan, “Baru kenal itu kak, dikenalin sama temen aku.”

“Tapi kakak ngerasa cara dia natap kamu itu beda deh, kayak Shania dulu waktu natap kamu. Itu sih menurut kakak ya, soalnya kakak ngerasain kayak gitu.”

“Emangnya siapa sih kak ceweknya?” tanya Yupi penasaran.

“Dia it-.”

“Robby?”

Robby pun menoleh kearah kirinya..

“Loh Shani?”

“Wah ketemu lagi nih hehe.”

Yupi menatap Shani, kemudian ia menatap Naomi. Seolah-olah ia bertanya ‘ini siapa kak?’. Naomi hanya mengendikkan bahunya.

“Ngg, kenalin dulu deh ini kakak sama adek gue,” ucap Robby.

Shani tersenyum pada Naomi dan Yupi. Mereka berdua pun membalas dengan senyuman juga.

“Shani kak.” Shani mengulurkan tangannya pada Naomi sambil tersenyum.

“Naomi.” Naomi menjabat tangan Shani dan tersenyum juga.

“Nah, kalau ini adek gue.” Robby mengacak rambut Yupi gemas. Sedangkan Yupi mengerucutkan bibirnya kesal.

“Shani,” ucap Shani tersenyum.

“Yupi kak,” ucap Yupi.

“Eh, tadi lo bareng Gre kan? Grenya mana?” tanya Robby.

“Ke toilet tadi sebentar katanya, baru juga masuk tadi udah ke toilet aja,” ucap Shani.

“Hobi banget ya.” Robby terkekeh pelan.

Ting!

Shani membuka chat yang masuk di handphonennya.

ShaniaGracia : Gue duluan ya? Gakpapa kan? Ini mendadak gue disuruh sama temen buat ngebantuin ngerjain tugas.

ShaniIndiraN : Lah? Aku gimana pulangnya? Kamu kok baru bilang sih? Astaga Gre.

ShaniaGracia : Ya maaf, baru juga temen gue ngabarin Shan. Gue duluan ya? Nanti naik taksi deh ya? Nanti gue ganti deh duit taksinya.

ShaniIndiraN : Yaudah deh. Gak usah. Bodo Gre.

Shani menghela nafasnya pelan, ada-ada saja pikirnya. Terus ia harus apa sekarang? Tadi mau makan, tiba-tiba moodnya hilang untuk makan gara-gara Gre.

“Kenapa Shan?” tanya Robby.

“Ngg, ini Gre katanya mau ngebantuin temennya ngerjain tugas. Jadinya dia pulang duluan deh.” Shani mengerucutkan bibirnya. “Aku sendirian deh jadinya.”

“Yaudah, gabung aja di sini Shan,” ucap Naomi.

Shani menatap Naomi, “Gakpapa kak?”

“Gakpapa kok, lagian kalau kamu sendirian kan gak enak juga. Mending gabung di sini aja deh.”

“Yaudah deh boleh.” Shani pun duduk di samping Naomi. Dan ia pun memesan makanan..

~

“Makasih ya Rob.” Kini Shani telah sampai di depan rumah Gre yang diantar oleh Robby, dengan cara dipaksa tentunya Shani diantar pulang Robby. Shani hanya merasa tidak enak pada Robby, cukup jauh kalau mengantarkannya pulang pikirnya.

“Iya sama-sama, masuk gih sana,” ucap Robby.

“Iya, kamu hati-hati pulangnya ya.” Shani tersenyum manis pada Robby.

“Gue pulang ya Shan.” Robby berjalan masuk ke mobil.

Shani mengangguk, “Hati-hati ya.”

Dan perlahan mobil Robby pun berlalu meninggalkan Shani yang masih berada di depan rumah. Setelah tidak terlihat lagi, Shani pun masuk ke dalam rumah. Sedangkan Robby kini menuju apartementnya, masih bersama Naomi dan Yupi tentunya.

“Kak?” panggil Yupi yang di samping Robby.

“Ya?”

“Kayaknya bener deh kata Kak Nomnom tadi,” ucap Yupi.

“Maksud kamu?” tanya Robby.

“Ya cara natap kak Shani itu beda, sama kayak kak Shania dulu,” jawab Yupi.

“Tuh Yupi aja ngerasa kali dek, masa iya kamu enggak? Atau jangan-jangan kamu juga suka sama dia?” tebak Naomi yang berada di belakang.

Robby menghela nafasnya pelan, “Engga kali kak, aku enggak mungkin suka sama dia. Lagian aku udah punya Shania kok.”

“Dek kita enggak tau ke depannya gimana, nanti bisa aja kamu suka sama dia. Malah bisa aja kamu jatuh cinta sama dia. Kan sekarang kamu enggak sama Shania, bisa aja perasaan kamu itu berubah.”

“Ngg, udah ah kak. Aku gak mau bahas itu dulu.”

Keadaan pun mendadak jadi hening tak ada yang berbicara. Setibanya di depan apartement Robby, Robby pun keluar dari mobil begitu juga dengan Naomi. Naomi berjalan menuju bagian kemudi.

“Kakak pulang ya.”

“Hati-hati kak.”

Naomi pun mulai menjalankan mobilnya, setelah cukup jauh Robby pun berjalan masuk ke dalam apartement. Ia membuka pintu apartement miliknya, dan menutup kembali setelah ia sudah masuk.

Robby meletakkan sepatunya di rak sepatu di depan, dan berjalan menuju kamarnya. Ia meletakkan handphoenya di nakas, kemudian ia merebahkan tubuhnya di kasur. Hari ini cukup melelahkan pikinya.

Tiba-tiba..

Ting!

Robby pun mengambil handphonenya, dan ia membuka aplikasi line miliknya. Dan Robby terkejut dengan apa yang didapatinya sekarang..

Shani Indira Natio add your as friend.

 

*To be continued*

 

Created by : @RabiurR

Iklan

17 tanggapan untuk “Saat Cinta Merubah Segalanya2, Part 3

    1. Cuma panggilan doang mz. Ga marah lah, kan mereka yg manggil gitu. Haha, masa sih tambah dewasa? Percintaan Naomi? Boleh kayaknya ya? Nanti deh liat dulu ya~

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s