X-World (Pt.44) : Unexpected Troubles

Suasana di ruang tamu cukup tegang. Tiap sudut sofa di ruangan itu diisi seseorang. Tak ada satupun tempat duduk lagi yang tersisa. Orang-orang yang memenuhi ruang tamu saling menatap. 5 dari 6 orang yang ada di ruang tamu itu menatap orang yang sama, yaitu orang keenam yang tidak lain adalah Erron Black.

Mendapat tamu tak diundang, apalagi tamu itu adalah salah satu musuh bebuyutan mereka, Sagha sepertinya adalah orang yang paling kesal di antara teman-temannya dengan kedatangan Erron. Tangan kanannya semenjak tadi terus mengepal erat.

“Lo mau ngomong 4 mata kan? Sekarang silahkan,” Ucap Anto, memecah suasana hening di ruang tamu.

“Lo punya waktu, uhh… kira-kira 1 menit untuk ngomong sekaligus ngeyakinin kita, terutama si Sagha yang udah ngepel tangannya daritadi, kenapa kita harus ngasih tambahan waktu buat lo ngomong.”

Erron yang menyadari tatapan-tatapan sinis di sekitarnya hanya cuek. Ia pun mulai bicara dengan orang-orang di sekitarnya, Anto, Andela, Sagha, Ve, dan Viny.

“Mulai dari Best Couple abad ini, Anto dan Andela. Gue tau lo berdua lagi ngeraguin identitas gue. Kenapa? Kaget gue muncul di depan lo berdua tanpa ngacungin pistol kayak biasa?” Viny, Ve, dan Sagha mengangkat alis mereka. Sementara itu, reaksi Anto dan Andela sama. Keduanya cukup terkejut, Erron bisa menebak apa yang tengah mereka pikirkan.

“Jangan mikirin yang macem-macem. Gue masih ERRON BLACK, orang yang akan ngebunuh lo semua suatu hari nanti. Untuk sekarang, gue ada di pihak lo. Tandain! UNTUK SEKARANG.”

“GAK USAH KEBANYAKAN BASA-BASI! Waktu lo tinggal 40 detik lagi untuk ngasih alasan yang bagus kenapa tangan gue nggak harus mendarat di muka lo.” Tukas Sagha.

“Gue disini untuk mencegah seorang robot bernama DENA yang datang dari masa depan untuk membunuh temen lo yang nggak lagi sadarkan diri di dalam kamar itu.” Ucap Erron sambil nunjuk kamar Gary.

“Kalo lo masih merasa gue kurang bukti, mungkin Best Couple abad ini mau berbagi cerita apa yang baru aja mereka alami tadi.” Seketika semua orang yang ada di ruangan itu menatap ke arah Anto dan Andela.

Anto dan Andela pun menceritakan tentang serangan yang mereka dapatkan dari seorang perempuan misterius yang berpakaian serba hitam di jembatan dekat kampus Andela. Dengan keterangan baru dari Erron, sekarang mereka tau kalau perempuan misterius yang menyerang Anto dan Andela itu bernama Dena, dan dia adalah sebuah robot.

Dena datang dari masa depan ke masa ini dengan tujuan membunuh Gary. Sementara itu, Erron yang saat ini ada di tengah-tengah mereka, ternyata berasal dari masa depan bukan zaman ini (Beda orang), dan ia datang untuk menghentikan Dena membunuh Gary.

Awalnya Anto, Ve, Viny, Andela, dan Sagha sulit untuk percaya dengan cerita Erron, terutama dengan tujuan Erron yang bilang kalau dia datang dari masa depan untuk menyelamatkan Gary. Memang terdengar konyol, saat seorang Erron Black, orang yang punya dendam terhadap Gary tiba-tiba ingin menyelamatkan orang yang paling dibencinya.

Akan tetapi, dengan bukti kuat yaitu keadaan V-Mon dan Wormon yang terluka parah akibat serangan Dena beberapa saat yang lalu membuat mereka berpikir ulang mengenai ketidakpercayaan mereka pada Erron.

“Lo semua bisa bayangin seburuk apa masa depan sampai-sampai versi masa depan lo semua ngirim gue kesini untuk nyelamatin Gary. Lo berlima tau sifat asli gue. Gue nggak bakalan mau dan nggak akan pernah mau untuk ngebantuin orang-orang naif kayak kalian,”

“Lalu kenapa pada akhirnya kamu mau datang kesini?” Potong Andela. Hening untuk sesaat, dan semua kembali menatap Erron dengan curiga.

“Kalo lo disuruh milih antara disiksa dengan dinding duri berjam-jam oleh diktator atau kerja sama dengan orang-orang yang paling lo benci di dunia ini untuk bisa selamat dari diktator itu, lo pilih mana?”

Tidak ada satupun orang yang menjawab pertanyaan Erron. Semua orang di ruangan itu paham betapa buruknya situasi di masa depan lewat maksud tersirat dari jawaban Erron.

“Kalo menurut lo gue masih kurang bukti…” Erron merogoh sesuatu dari dalam kantongnya. Kemudian ia meletakkan benda yang baru diambilnya itu di atas meja, “Tuh buat lo!”

Benda yang dikeluarkan Erron adalah sebuah proyektor digital yang menampilkan poster buronan dimana Anto, Viny, Ve, Andela, dan Sagha jadi model poster itu.

Dalam poster itu, terlihat jelas sedikit perubahan pada wajah Anto, Viny, Ve, Andela, dan juga Sagha. Seperti kumis lebat pada wajah Anto, janggut tebal pada wajah Sagha, luka sabetan pada mata kiri Viny, memar-memar pada wajah Ve, dan juga luka sabetan yang membentang dari pipi kiri hingga pipi kanan pada wajah Andela.

Poster-poster digital itu ternyata cukup berhasil meyakinkan Anto dan teman-temannya untuk percaya pada salah satu musuh bebuyutannya kali ini.

“Oke. Mungkin gue dan temen-temen gue percaya sama lo, tapi gue bakalan tetep pasang mata sama lo.” Ucap Sagha sambil mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah Erron.

Serangan dari masa depan oleh sebuah robot super yang mematikan. Dari semua masalah yang mereka perkirakan akan menimpa mereka, yang satu ini sama tidak pernah sama sekali terpikirkan di pikiran mereka. Hal yang membuat keadaan semakin buruk, ternyata robot bernama Dena itu tidak sendiri, tapi ia memiliki segudang pasukan robot yang tak jauh mematikan dari dirinya.

Beruntung bagi mereka, Erron tidak datang jauh-jauh datang dari masa depan tanpa persiapan. Ia sudah menyiapkan rencana untuk melawan Dena di zaman ini. Walaupun musuh mereka nanti akan menggunakan sejumlah alat canggih, tapi menurut Erron, dengan teknologi dari abad ini saja sudah cukup. Apalagi ditunjang kemampuan Anto, Viny, Ve, Sagha, dan Andela dalam bertempur.

Merubah masa depan yang kacau memang bukan hal mudah, tapi selama memiliki niat yang kuat, apapun bisa dilakukan bukan?

Tidak ingin membuang-buang waktu, Erron mulai menjalankan langkah pertama dalam rencana perangnya melawan Dena, yaitu mengamankan Gary yang masih dalam keadaan koma. Tempat yang menurut Erron aman untuk mengamankan Gary adalah markas Holy Guardian, tapi Andela tidak setuju dengan pendapat Erron.

Anggota-anggota The Holy Guardian adalah tipikal orang-orang yang individualis. Mereka cenderung tidak peduli dengan urusan yang bukan menyangkut iblis ataupun setan.

“Kalau masalah tempat, mungkin tempat itu bisa dipakai.”

“Tempat apaan, Ndel?” Tanya Anto.

“Nanti aku jelaskan, ayo kita pergi sekarang.”

Sagha dan Anto membawa tubuh Gary masuk ke dalam mobil Jeep Erron yang terparkir di garasi mobil Andela. Sementara itu Ve, Viny, dan juga Andela sibuk mengemasi barang-barang mereka dan juga barang-barang milik Sagha dan Anto. Kendala pertama yang mereka temui adalah transport.

Mobil Erron tidak muat membawa mereka berlima, apalagi ditambah tubuh Gary. Alhasil, mereka memanggil taksi untuk transport kedua mereka. Gary, Anto, dan Andela bersama Erron, sementara Ve, Viny, dan juga Sagha di taksi.

Sagha yang masih menaruh rasa curiga terhadap Erron, bersikeras ingin dia ada di mobil Erron agar dia bisa mengawasinya. Viny terpaksa turun tangan mengurus Sagha, dan akhirnya dia mau ikut dengan taksi. Sepertinya Viny menemukan peran baru dalam tim, selain urusan penyamaran dan memata-matai orang lain.

Dengan tuntunan jalan dari Andela, mereka pergi ke area kumuh yang ada di dalam domain Count Avano. Sampai di area kumuh itu, mereka berhenti di depan sebuah bangunan bekas berlantai 2 yang kondisinya masih bisa dibilang sedikit lebih baik dibanding bangunan-bangunan di sekitarnya.

Andela menyuruh Erron memarkirkan mobilnya di halaman belakang bangunan itu. Dengan gaya sok taunya, Sagha berusaha membuka rolling door yang menutupi pintu depan bangunan itu, tapi usahanya gagal dan dia beralasan kalau rolling door itu sudah berkarat dan mungkin sudah tidak bisa berfungsi lagi.

“Rolling door itu memang sengaja diganjal dari dalam. Sekuat apapun kamu berusaha mengangkatnya, tetap tidak akan bisa.” Sagha Cuma bisa senyam-senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaan…

Mereka pergi ke belakang bangunan itu, dan terlihat Erron sudah menunggu di sana dengan barang-barang mereka yang sudah dikeluarkannya dari bagasi mobil. Andela membuka pintu belakang bangunan itu dengan kunci miliknya. Kemudian mereka semua masuk ke dalam bangunan.

Andela menarik tuas listrik yang ada tepat di samping pintu belakang dan dalam sekejap, ruangan di dalam menjadi terang dengan menyalanya beberapa lampu di dalam. Andela mengantarkan Anto dan Sagha yang kelihatan kelelahan mengangkat tubuh Gary. Mereka meletakkan tubuh Gary di dalam kamar tidur.

“Fiuh… Satu masalah selesai. Apa lagi abis ini?” Ucap Anto sambil meregangkan lengan kanannya yang pegal.

“Kita istirahat sebentar. Kegiatan kita kedepannya bakalan makan banyak tenaga.” Erron pergi meninggalkan kamar itu menuju luar untuk mengangkut barang-barang mereka yang masih ada di halaman belakang.

“Ndel, ini tempat apa sih sebenernya?” Tanya Sagha.

“Ini bar lama milik ayahku. Dulu ayahku membuka usaha bar, tapi sayangnya bisnisnya tidak berjalan terlalu baik. Jadi, begitu bisnisnya selesai, tempat ini menganggur. Tempat ini masih aku gunakan sesekali untuk menginap saat liburan semester, dan dulunya bar ini sempat dipakai untuk markas kami bertiga.” Jelas Andela.

“Kami?” Ucap Sagha bingung.

“Ya, kami bertiga. Aku, Ricky, dan Argott.”

“Owhh….” Ucap Sagha sambil manggut-manggut.

“Tadi lo bilang markas kan? Berarti…” Ucap Anto sambil tersenyum dan mengangkat alisnya beberapa kali. Andela paham dengan maksud ucapan Anto.

Andela mengajak Anto dan Sagha pergi menuju lantai 2 bangunan itu. Akses menuju lantai 2 terhalang oleh pintu yang terkunci. Andela mengeluarkan kunci-kuncinya, tapi saat ia akan mencari kunci untuk pintu itu, ia tiba-tiba menepuk jidatnya tanpa sebab.

“Kenapa, Ndel?” Tanya Anto.

“Aku baru ingat kalau kunci pintu ini hilang di asrama kampus.” Jawab Andela yang agak sedikit panik sambil menggaruk-garuk kepalanya. Sagha tiba-tiba menyuruh Andela dan Anto untuk mundur sedikit dari pintu. Dari gerak-geriknya saja, mungkin kalian sudah tau apa yang akan dia lakukan sebentar lagi.

*BRUAK!!!*

Sebuah tendangan dari Sagha sukses membuat pintu yang menghalangi mereka menuju ruangan lantai 2 terhempas ke belakang dan rusak. Viny yang panik mendengar suara pintu jebol langsung berteriak menanyakan keadaan mereka bertiga dari lantai bawah.

“SUARA APA ITU BARUSAN?!!”

“GAPAPA, KOK VIN! ITU CUMA ANTO SAMA ANDELA LAGI MAIN!” Teriak Sagha. Andela dan Anto langsung menatap Sagha dengan mata melotot bersamaan.

Peace! Bercanda doang kok, hehehe…”

Sampai di lantai 2, Anto dan Sagha terkejut melihat isi dari satu-satunya ruangan di sana. Senjata dan gadget-gadget tempur menghiasi sudut-sudut ruangan itu. Tepat seperti dugaan Anto.

Saat Andela bilang kalau tempat ini dulunya juga bekas markasnya bersama Ricky dan Argott, Anto berasumsi kalau tempat ini pasti masih memiliki sisa-sisa barang yang bersangkutan dengan kata ‘markas’. Yang dimaksudnya seperti sisa-sisa senjata, peralatan tempur, komputer, dan alat-alat lainnya.

“Buset! Masih lengkap begini. Jago lo, Ndel ngejaga barang.” Puji Anto.

“Aku tidak pernah naik ke lantai 2 semenjak kunci pintunya hilang di asrama kampus. Selain itu karena aku malas merapihkan barang-barang ini, jadi aku putuskan untuk membiarkannya seperti ini.” Ucap Andela.

“Nggak nyangka ternyata rasa males lo akan berguna di lain waktu.” Ucap Erron yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Anto, Andela, dan Sagha refleks terkejut bersamaan.

“ANJRIT! Kampret… Untung jantung gue kagak copot.” Keluh Sagha.

“Pekerjaan selanjutnya akan melibatkan semua senjata di ruangan ini.  Siapa aja yang bisa nyetir di tim lo?” Tanya Erron.

“Sagha, Ve, Viny, sama Gary.” Jawab Anto.

“Lo nggak bisa nyetir, To?” Anto menggeleng menanggapi pertanyaan Sagha. Memang selama ini tidak ada yang tahu kalau Anto adalah satu-satunya anggota tim yang belum bisa mengemudikan kendaraan bermotor atau semacamnya.

“Kalo gitu lo jagain tubuh Gary disini,” Perintah Erron pada Anto, “Dan lo, suruh yang lain siap-siap. Sebentar lagi kita berangkat.” Perintah Erron pada Sagha. Setelah itu Erron beranjak pergi meninggalkan mereka ke bawah.

“Itu orang muncul tiba-tiba, ngasih perintah semau-mau jidat, ngomongnya enteng banget kayak juragan. Kalo bukan karena ini masalah serius, udah gue gesekin tuh kepalanya di aspal jalanan.” Keluh Sagha.

“Udahlah. Ikhlas aja sih. Ini demi Gary juga.” Ucap Anto.

“Mulut gue sih ikhlas. Hati gue kagak.”

**

Jam 4 sore. Sesuai perintah Erron, Sagha mengumpulkan semuanya untuk melanjutkan eksekusi rencana Erron, sementara Anto tetap tinggal di Bar untuk menjaga tubuh Gary. Erron sudah menyiapkan remot pengirim sinyal darurat untuk Anto seandainya Dena datang menyerang ketika mereka tengah pergi.

Mereka masuk ke mobil Jeep Erron. Kemudian mereka pergi meninggalkan kawasan perumahan kumuh. Di tengah perjalanan, Erron bertanya pada Andela lokasi showroom mobil-mobil bermerk terkenal yang ada di domainnya. Andela memberitahukan letak semua showroom mobil-mobil mahal yang ia ketahui pada Erron..

Kurang dari 2 jam, sekitar 5 showroom telah mereka kunjungi. Sagha sempat jengkel karena menganggap Erron mengajak mereka ke showrrom hanya untuk melihat-lihat mobil, bukan untuk tujuan lain. Percayalah, dia hanya belum mengetahui semuanya.

Selesai melihat-lihat showroom, Erron mengajak mereka semua pergi untuk makan malam sebentar di sebuah restoran cepat saji. Mereka semua masih bingung dengan rencana Erron kali ini, karena saat ditanya mengenai rencananya, Erron hanya menyuruh mereka untuk menikmati makanan masing-masing.

Sudah hampir 3 jam mereka berada di restoran cepat saji itu, dan ini juga sudah hampir root beer ke-7 yang Erron habiskan. Mereka semua heran melihat kelakuan Erron. Dia tidak memberitahu apa rencananya pada mereka. Sudah begitu, ia juga membuat mereka menunggu bosan di restoran selama 3 jam lebih.

*BRAK!!!*

“GUE PULANG!” Bentak Sagha sambil menggebrak meja yang ada di depannya. Aksinya itu membuat perhatian beberapa pelanggan yang masih berada di restoran itu beralih padanya. Viny, Ve, dan Andela ikut bangun untuk mengejar Sagha yang sudah berada di depan restoran untuk memberhentikan taksi.

Ketiga temannya berusaha meyakinkan Sagha untuk menunggu, tapi Sagha tetap bersikeras untuk pulang dengan alasan ia lelah diperintah oleh orang pernah (atau mungkin masih) ingin membunuhnya. Ketika mereka berempat sibuk berargumen, tiba-tiba suara klakson jeep Erron berbunyi tepat di belakang mereka dan Erron sekarang sudah berada di dalam mobilnya.

Sagha memutuskan untuk mengalah pada teman-temannya, tapi ia juga berkata bahwa ini terakhir kalinya dia mengalah untuk Erron. Mereka berempat masuk ke dalam jeep Erron dan pergi meninggalkan restoran cepat saji itu.

Di tengah jalan, mereka baru menyadari kalau Erron mengemudikan mobilnya bukan ke arah Bar atau bahkan kembali ke perumahan kumuh. Orang yang pertama kali menyadari hal itu adalah Andela yang duduk di kursi depan tepat di samping Erron.

“Kita mau kemana?” Tanya Andela.

“Balik ke showroom-showroom tadi. Jam segini showroom-showroom itu udah pada tutup kan?” Tanya Erron kembali pada Andela.

“Sudah.”

“Bagus,” Tidak terasa mereka hampir sampai di showroom pertama yang tadi mereka kunjungi saat sore, “Lo semua udah pada pernah ngerampok mobil kan?”

Serentak semua menggeleng, terkecuali Ve, karena ia pernah melakukannya sekali sewaktu perjalanan pertamanya bersama Gary. Erron menghentikan mobilnya di samping showroom itu. Lalu ia menyuruh Ve, Viny, Andela, dan Sagha untuk turun sambil membawa semua perlengkapan yang ada di bagasi.

“Tadi siapa yang pernah punya pengalaman maling mobil?” Tanya Erron memastikan. Semua serentak menunjuk Ve, dan Ve hanya bisa terdiam sambil menatap teman-temannya yang menunjuknya.

“Kalo gitu lo yang pertama. Masuk ke dalem, dan ambil mobil yang menurut lo spesifikasinya paling bagus,” Erron memberikan tas berisi perlengkapan seperti linggis, tang, stungun, dan juga satu buah jerigen yang terisi penuh dengan bensin

Ve hanya bisa pasrah dan menuruti perintah Erron. Toh, ini adalah bagian dari rencana untuk memastikan Gary selamat dari serangan robot pembunuh yang diceritakan Erron. Dibantu Erron, Ve memanjat masuk ke dalam area showroom, sementara yang lain menunggu di luar pagar.

“Liatin temen lo. Abis dia, nanti lo semua satu-satu dapet giliran.” Ucapan Erron seketika membuat Viny, Sagha, dan Andela menelan ludah. Senekat-nekatnya aksi mereka, mereka belum pernah mencuri mobil sebelumnya.

“Maaf, tapi aku tidak bisa menyetir.” Ucap Andela agak ketakutan.

“Gue tau. Kerjaan lo disini Cuma jadi tour guide.” Fiuh, setidaknya Andela masih bisa sedikit bernafas lega.

Sagha dan Viny sibuk memperhatikan Ve dengan seksama. Terlihat Viny sibuk dengan pulpen dan juga sebuah buku kecil di kedua tangannya. Ternyata selain mengamati, ia juga sibuk mencatat langkah-langkah mencuri mobil yang tengah Ve lakukan di dalam showroom.

Kurang dari 10 menit, Ve memberi tanda dengan lampu flip-flop dari dalam showroom. Erron, Viny, Sagha, dan Andela beranjak masuk ke dalam Jeep. Erron memindahkan mobilnya ke depan pintu masuk showroom.

Erron mengumpulkan momentum kecepatan dengan menginjak rem dan gas secara bersamaan. Begitu ia rasa cukup, ia langsung mengoper gigi mobilnya ke nomer 2 dan melepas injakannya pada pedal rem. Jeep milik Erron melaju dengan cepat dan akhirnya gerbang depan showroom yang tebal sukses dijebolnya dengan mudahnya.

Bersamaan dengan hancurnya gerbang depan, Ve langsung menyalakan mobil curiannya dan tancap gas pergi meninggalkan showroom.

Melihat Ve telah sukses melakukan pekerjaannya, Erron juga langsung tancap gas meninggalkan showroom pertama itu, dan tidak lupa, ia juga menghancurkan kamera CCTV yang ada di gerbang depan showroom dengan revolvernya.

Sekarang mereka bertiga mengerti kenapa Erron meminta Andela mengantarkan mereka untuk melihat-lihat ke beberapa showroom yang menjual mobil mahal di domainnya. Selain itu, mereka juga sudah paham kenapa Erron mengajak mereka bersantai hingga malam di sebuah restoran 24 jam.

Mereka berhenti di sebuah persimpangan. Erron menyuruh Ve untuk kembali ke bar sementara ia, Viny, Andela, dan Sagha akan melanjutkan acara ‘perburuan’ mereka. Giliran kedua, Erron menunjuk Viny. Berbeda dengan Ve, kali ini Erron memperbolehkan Viny untuk memilih showroom yang diinginkannya.

Viny teringat salah satu showroom yang memiliki mobil yang menarik perhatiannya tadi sore. Viny pun memilih showroom itu sebagai tergetnya. Showroom yang terletak di dekat sebuah bangunan tower bekas itu rupanya berisi mobil-mobil keluaran baru yang tentunya memiliki harga yang bisa membuat seseorang mengelus dadanya.

Oke, untuk saat ini kesampingkan masalah harga.

Mereka telah tiba di showroom itu. Erron memarkirkan jeepnya di seberang jalan yang agak jauh dari showroom karena tadi mereka melihat ada sebuah mobil patroli yang tengah berkeliling di sekitar situ.

Viny terpaksa turun sendiri tanpa ditemani siapapun agar tidak membuat curiga beberapa orang yang masih ada di sekitar showroom. Viny berjalan memutari showroom itu dan memanjat masuk layaknya seorang maling professional dari pagar belakang. Sambil membuka dan melihat buku catatan kecilnya sesekali, Viny berhasil melewati sistem pengaman yang terpasang di sekitar showroom itu.

Erron, Sagha, dan Andela tidak bisa memantau pergerakan Viny. Mereka hanya bisa menunggu di mobil. Kalau mereka mendengar ada mobil yang melewati mereka dengan cepat dan membunyikan klaksonnya sebanyak 2x, itu tandanya Viny berhasil, karena mobil yang akan melakukan hal tersebut adalah mobil curian Viny.

Sementara kalau Viny gagal, akan terdengar sebuah ledakan petasan dari arah showroom sebanyak 3x, dan mereka harus segera pergi dari area itu meninggalkan Viny yang akan menyusul pulang menggunakan transport umum.

“Ayo, Vin, Lo bisa! Gue tau dibalik sikap lo yang paranoid pas disuruh maling tadi, sebenernya tersimpan jiwa seorang bandit kelas pro di dalam diri lo.” Gumam Sagha. Ucapan penyemangat macam apa ini??!!! Oke, bukan masalah. Tiap orang punya cara yang berbeda-beda untuk menyemangati temannya.

Viny memasang 2 buah peledak pada pagar depan showroom dan tidak lupa, ia menghancurkan kedua kamera CCTV yang terpasang disana. Viny lanjut masuk ke dalam showroom dan dengan gesitnya ia berlari tanpa mengeluarkan suara melewati mobil-mobil mahal untuk mencari mobil yang telah menarik perhatiannya.

“Nah, ini dia! Aston Martin Vulcan.” Viny mengelus-ngelus kap mobil itu.

Teringat kalau ia tidak punya banyak waktu, Viny langsung membobol kunci mobil menggunakan peralatan yang ada di dalam tas yang dipinjamkan Erron. Sambil melihat buku catatannya, ia mempraktikan langkah-langkah yang ia lihat dari aksi Ve sebelumnya. Ia berhasil membuka pintu mobil itu, lalu ia membuka tangki bensin mobil dan mengisinya dengan bensin dari jerigen yang ia bawa.

Viny menyalakan mobil itu dengan menghubungkan 2 buah kabel yang terletak dibawah stir mobil itu. Mesin mobil itu menyala dengan bunyi yang halus. Viny menginjak pedalnya beberapa kali untuk memanaskan mesinnya.

Mesin mobil sudah panas, dan di tangan kanannya sudah ada pemicu dari peledak yang ia pasang di pagar depan showroom. Viny langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan saat ia sudah berhasil menmbus kaca showroom, ia langsung menekan tombol peledak di tangannya.

Dalam sekejap, gerbang depan hancur, dan Viny berhasil keluar dari showroom itu dengan mobil curiannya. Ia berjalan melewati Erron dan memberinya tanda berupa klakson sebanyak 2x sama seperti apa yang ia bilang sewaktu di mobil.

Sekarang tersisa Sagha yang belum mendapatkan giliran. Viny telah pergi kembali menuju Bar bersama dengan mobilnya.

“Tadi udah 2 mobil kan?” Tanya Erron.

“Iye. Sekarang giliran gue–“

“Tunggu! Target lo bukan mobil kecil kayak yang sebelumnya. Mobil yang bakalan jadi target lo agak beda, tapi yang jelas, masih masuk kategori keren.”

Entah apa yang direncanakan oleh Erron terhadap Sagha, tapi dia yakin kalau Erron tengah memilihkan showroom yang bagus untuknya. Nyatanya, tidak. Mereka tiba di kantor polisi dan Erron menghentikan mobilnya tepat di belakang kantor polisi tersebut.

“Eh, Ron, ini masih hunting mobil kan? Kok ke kantor polisi?” Tanya Sagha.

“Mobil yang bakalan lo curi, ada di dalem tempat itu.” Ucap Erron sambil menunjuk sebuah bangunan terpisah yang terletak di belakang kantor polisi itu. Sagha melihat ke arah yang ditunjuk oleh Erron, dan sekejap ia langsung kaget.

Bangunan yang ditunjuk Erron adalah gudang barang sitaan yang berisi kendaraan-kendaraan hasil sita oleh polisi setempat. Sagha menelan ludahnya begitu dia tau kalau ia harus mencuri mobil yang dari dalam tempat itu. Itu belum bagian terbaiknya. Bagian terbaiknya, Sagha harus mencuri sebuah truk besar yang tersimpan di dalam gudang itu.

“Apa kamu yakin ini tidak terlalu berbahaya?” Tanya Andela pada Erron.

“Iya, gue tau. Makanya gue nunjuk Sagha buat yang satu ini.”

Hebat bukan? Tempat dengan penjagaan ketat, dan juga sebuah mobil sitaan besar yang menjadi target kali ini. Sepertinya malam ini akan semakin menarik. Khususnya untuk Sagha. Erron memberikan tas perlengkapannya pada Sagha dan menyuruhnya untuk mulai bergerak melakukan pekerjaannya.

Sementara Sagha kewalahan memanjat pagar perlahan-lahan, dari dalam mobilnya, Erron tersenyum kecil dengan puas melihat kebodohan Sagha dalam aksi mengendap-ngendapnya. Sagha berhasil masuk ke dalam area lapangan kantor polisi itu tanpa tertangkap satupun CCTV dan alarm yang terpasang di sekitar kantor polisi.

Kedua penjaga yang menjaga gudang itu tidak bergerak dari tempatnya dan hanya sesekali memalingkan pandangannya untuk membuang ludah dan juga melihat ke sekeliling mereka. Sagha mengeluarkan sebuah stungun dari dalam tas perlengkapan yang diberikan Erron, dan ia bersiap-siap untuk menjatuhkan kedua penjaga tersebut.

Ia melempar sebuah batu ke arah tower antena yang berada di samping gudang. Kedua penjaga yang mendengar bunyi batu tersebut beranjak meninggalkan tempat mereka. Begitu melihat para penjaga itu telah meninggalkan pos-nya, Sagha langsung berlari dan menerjang ke salah satu penjaga dengan stungun.

Satu selesai, tapi penjaga yang satu lagi menangkap basa Sagha dan menyerangnya. Sagha melawan balik penjaga itu dan ia berhasil membungkam penjaga kedua dengan pukulan andalannya. Kedua penjaga kini telah lumpuh, dan Sagha pergi meninggalkan kedua penjaga tersebut menuju gudang.

Saat ingin pergi, Sagha mengalami sebuah kecelakaan kecil akibat kecerobohannya. Kaki Sagha tersandung lengan salah satu penjaga yang ada dibawah kakinya sehingga ia terjatuh ke tanah.

Bukan itu saja. Pada saat ia jatuh, tangan kanannya masih menggenggam stungun yang tadi ia gunakan. Begitu tubuhnya menghantam tanah, tangan kanannya refleks menekan tombol On pada stungun dan alat itupun secara tidak sengaja menyetrum bagian perut Sagha.

Sagha bernasib sama seperti salah satu penjaga yang menjadi korban dari senjata itu. Erron dari dalam mobil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya melihat kecerobohan Sagha.

Akan tetapi, stungun dengan 100 juta Volt bukan penghalang bagi Sagha untuk menyelesaikan tugasnya. Dengan keadaan tubuh yang masih bergetar dan langkahnya yang gontai akibat sengatan listrik yang cukup besar tersebut, ia berjalan masuk ke dalam gudang.

Sampai di dalam, ia menghantamkan kepalanya pada dinding gudang sebanyak 3x. Dia menganggap rasa sakit mampu membuat pikiran seseorang berjalan lebih fokus, dalam kasusnya kali ini, dia berusaha mengembalikan fokusnya agar bisa bergerak normal lagi.

Percaya tidak percaya, solusi anehnya itu berhasil. Jidat Sagha mengalami memar, tapi itu bukan masalah. Setidaknya memar terasa lebih baik daripada harus bergerak layaknya sebuah robot idiot selama sisa tugasnya. Ia melihat targetnya di dalam gudang tersebut. Sebelum lanjut mengeluarkan mobil itu, Sagha terlebih dahulu memberi kabar pada Erron.

Erron melihat Sagha keluar dari gudang sambil melambai-lambaikan tangannya. Ia paham maksud Sagha. Erron turun dari mobil, dan ia mulai memasangkan peledak pada beberapa titik di pagar belakang area kantor polisi tersebut.

Sagha menyalakan mesin truk dan memanaskannya selagi menunggu Erron selesai memasangkan peledak di pagar belakang untuk membuat jalan keluar bagi kendaraannya. Sagha pergi keluar gudang untuk melihat keadaan Erron, dan terlihat di seberang pagar, Erron memberi isyarat dengan mengacungkan jempol.

Sagha kembali masuk ke gudang dan langsung masuk ke dalam truknya.

“Raja jalanan siap turun!” Sagha langsung mengoper persnelingnya ke angka 1 dan menginjak pedal gas.

Mobil mulai berjalan, dan Sagha mengoper persneling ke angka yang lebih tinggi seiring truk berjalan. Truk yang dikendarai Sagha keluar dari gudang dengan menghantam dinding bangunan hingga hancur.

Begitu melihat mobil Sagha keluar dari gudang, Erron menyalakan 4 buah peledak yang telah ia pasang pada pagar belakang. Pagar tersebut meledak, dan Sagha pun keluar bersama mobil curiannya sebelum ada polisi yang tau dan mengejar mereka saat itu juga.

**

*TIN-TIN!!!!!!!*

“HOAM!!! Hoh? Suara apaan tuh?”

Menjaga tubuh Gary sepanjang malam ternyata bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Terbukti, Anto langsung tertidur di kursi yang berada tepat di depan kamar Gary. Suara klakson mobil membuat Anto terbangun dari tidurnya. Sepertinya teman-temannya telah selesai berburu perlengkapan.

Anto berjalan ke belakang untuk membukakan pintu, tapi saat ia sampai di depan pintu, ia baru menyadari satu hal. Seingatnya, mereka hanya pergi dengan satu kendaraan, yakni Jeep milik Erron, tapi kenapa saat ini terdengar lebih dari 1 suara mesin mobil dari balik pintu?

Penasaran, Anto pun segera memutar kunci pada gagang pintu dan membukanya. Begitu Anto keluar, ia kaget melihat kumpulan mobil-mobil mahal yang kini terparkir di halaman belakang bar.

“Gokil! Jadi Erron bawa duit banyak sebelum ke zaman ini?” Tanya Anto.

“Duit? Maksud lo?” Tanya Sagha balik.

“Lah, itu mobil dapet darimana? Beli kan?”

“Sejak kapan Erron beli?” Jawaban Sagha lantas membuat Anto terkejut. Ia paham apa maksud jawaban Sagha.

“Gila, maling mobilnya nggak nanggung-nanggung.” Ujar Anto.

“Udah gue bilang bukan? Ini untuk persiapan pertempuran kita,” Ucap Erron, “Mobil dan senjata udah ada, sekarang waktunya masuk ke langkah berikutnya.”

“Kali ini apa?” Tanya Ve.

“Modifikasi total. Pertempuran kita yang selanjutnya udah masuk level baru yang lebih tinggi dari pertempuran-pertempuran yang udah pernah lo alamin.”

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

9 tanggapan untuk “X-World (Pt.44) : Unexpected Troubles

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s