Vepanda part 6

Setelah mengucapkan itu, Najong menunduk menunggu jawaban dari Yupi. Mereka berdua hanya diam, yang terdengar hanyalah suara ocehan segerombohan cewek dari bilik sebelah mereka.

“Yupi denger nggak ya apa yang gue bilang tadi?” ucap Najong dalam hati.

“Kok Najong nggak ngomong lagi sih?!” ucap Yupi kesal dalam hati.

Beberapa saat kemudian, pesanan mereka berdua datang.

Mereka berdua makan tanpa saling berbicara. Selesai makan, Najong langsung mengajak Yupi pulang. Dalam perjalanan pulang, mereka masih saling diam.

“Apa jangan-jangan Yupi marah ya sama gue?” tanya Najong dalam hati.

Najong menghela nafas dan mencoba membuka pembicaraan.

“Kamu marah yup sama aku?” tanya Najong menoleh ke arah Yupi.

“Hah? Marah? Buat apa marah sama kamu?” tanya Yupi tanpa menoleh ke arah Najong.

“Terus kenapa kamu dari tadi kamu diem aja kalo nggak marah?”

“Ya kan kamu sendiri juga diem,”

Keheningan kembali terjadi sampai mereka sampai di rumah Yupi.

Yupi membuka pintu mobil namun tidak langsung keluar. Ia menatap Najong dengan tajam, sedangkan Najong hanya menatap Yupi dengan tatapan bego.

Yupi mendekatkan wajahnya pada Najong.

CUPSS

Tiba-tiba Yupi mengecup pipi Najong dan langsung keluar mobil. Najong terkejut dengan perlakuan Yupi, ia hanya memandang Yupi dengan tatapan bego.

“AKU JUGA SUKA SAMA KAMU!!” teriak Yupi sambil berlari masuk ke rumahnya.

Najong terdiam cukup lama di dalam mobil, ia bingung dengan tingkah Yupi.

Drrrttt drrrttt

Najong mengambil smartphone-nya yang berada di dalam saku.

“Udah sana kamu pulang udah malem, ntar kamu kesiangan bangunnya sayang *anggapajainiemotpeluk*,” isi pesan yang dikirimkan oleh Yupi pada Najong.

“Sayang? Berarti sekarang gue?” ucap Najong dalam hati.

“YESSS!!!” teriak Najong dalam mobil.

“Iya sayang ini aku pulang *anggapajainiemotcium*,” Najong membalas pesan Yupi.

Setelah membalas pesan Yupi, Najong pulang ke rumahnya.

-di rumah Melody-

“Aduuhh… sakit banget badan aku,” ucap Sinka bangun dari tidurnya.

“Eh… kamu udah bangun ternyata,” ucap seseorang mendekati Sinka.

“Iya…, mama udah pulang kak?” tanya Sinka masih mengantuk.

“Hah? Mama?” tanya orang itu duduk di sebelah Sinka.

“Iya…,” jawab Sinka.

“Ini aku Melody sin, bukan Naomi,” ucap orang itu yang ternyata Melody.

“Hah?! Kak Melody?! Sekarang aku dimana? Kok ada kak Melody?” tanya Sinka kaget.

“Kamu sekarang di rumah aku.”

“Kok aku bisa ada di rumah kak Melody? Bukannya kak Melody bilang mau nganterin aku pulang?”

“Ya tadinya sih gitu, tapi kan aku gatau rumah kamu dimana.”

“Kan kak Melody bisa tanya aku.”

“Kamu kan tadi tidur, aku juga nggak enak mau bangunin kamu tidur, kasian.”

“Kenapa kakak nggak tanya Rezza?”

“Dia kan juga tidur sama kamu di belakang, lagian emang Rezza tau rumah kamu?”

“What?! Dia tidur sama aku?!” tanya Sinka kaget.

“Gausah mikir aneh-aneh, cuma nyandar doang tadi,” ucap Rezza melewati depan kamar Melody.

“Huufftt,” Sinka menghela nafas.

Melody hanya tersenyum melihat Sinka.

“Oiya sekarang jam berapa kak?” tanya Sinka.

“Tuh,” jawab Melody menunjuk jam weker di meja sebelah tempat tidur.

“Haaahh?! Jam 9?! Kok kak Melody nggak bangunin aku sih?” tanya Sinka merengek.

“Yaelah baru juga jam 9,” ucap Rezza kembali melewati kamar Melody.

“Apaan sih?! Ngikut-ngikut aja!” teriak Sinka kesal.

“Bodo!” teriak Rezza dari kamar sebelah.

Melody hanya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kak Melody kok malah ketawa sih?” tanya Sinka kesal.

“Kalian ini lucu banget sih, berantem mulu kaya anak kecil,” jawab Melody menahan tawa.

“Ihh… kak Melody,” ucap Sinka merengek.

“Udah-udah, sekarang kamu mandi, ganti baju terus kita makan sama-sama di bawah,” ucap Melody berdiri.

“Enggak deh kak, aku pulang aja,” ucap Sinka.

“Gausah, kamu nginep aja disini gapapa, tadi aku udah bilang ke kakak kamu, dibolehin kok.”

“Ohh….”

“Yaudah cepet sana mandi, kamu ntar ganti pake baju aku aja gapapa.”

“Iya kak.”

“Yaudah aku tunggu di bawah ya,” ucap Melody lalu pergi keluar kamarnya.

“Iya…,” ucap Sinka berdiri dari kasur.

Saat Sinka berjalan ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Melody, tiba-tiba Rezza masuk ke kamar Melody.

“Eh?! Ngapain kamu masuk-masuk?” tanya Sinka kaget.

“Nih handuknya,” jawab Rezza sambil melemparkan sebuah handuk ke atas kasur lalu pergi.

Sinka mengambil handuk yang tadi di lempar Rezza dan menutup pintu kamar.

Beberapa saat kemudian Sinka telah selesai mandi dan ganti baju. Saat ia hendak membuka pintu kamar, ada seseorang yang membuka pintu kamar itu dari luar cukup kuat sehingga pintu itu mengenai lutut Sinka dan membuatnya terjatuh.

“Aduuhhh…,” ucap Sinka kesakitan.

“Eh?! Ngapain lu malah duduk disitu?” tanya Rezza saat masuk ke dalam kamar dan melihat Sinka terduduk di balik pintu.

“Duduk otak kamu bolong! Ini gara-gara kamu tau!” jawab Sinka kesal.

“Kok jadi gue sih yang disalahin?!”

“Ya iyalah kamu, kan kamu yang dorong pintu!”

“Bukan salah gue lah! Siapa suruh berdiri di belakang pintu!”

“Enggak! Pokoknya ini salah kamu!” ucap Sinka kesal lalu memalingkan wajahnya.

Mereka diam beberapa saat.

“Cepetan naik,” ucap Rezza tiba-iba jongkok membelakangi sinka di depannya.

“Mau ngapain kamu?” tanya Sinka menoleh ke arah Rezza.

“Udah cepetan naik, gue gendong sampe bawah,”

“Nggak! Gamau!”

“Nyolot banget sih nih anak!” ucap Rezza kesal.

“Biarin!” ucap Sinka kembali memalingkan wajahnya.

Rezza pun berdiri lalu dengan cepat mengangkat Sinka dan menggendongnya di depan.

Sinka terkejut dengan perlakuan Rezza terhadapnya, namun ia hanya diam dan menatap wajah Rezza.

“Ciee…,” ucap Melody saat melihat Rezza menggendong Sinka menuruni tangga.

Sinka sangat malu, ia menempelkan wajahnya ke dada Rezza. Sinka tidak sadar akan tindakannya, ia malah membuat dirinya dan Rezza terlihat semakin romantis.

“Heh bocah! Cepetan turun!” suruh Rezza setelah sampai di depan meja makan.

“Eh?!” Sinka kaget dan melihat sekitar.

Kemudian Sinka turun dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Melody.

“Kenapa sin?” tanya Melody.

“Eng… enggak, nggak kenapa-kenapa kok,” jawab Sinka gugup.

“Gausah kesenengan lu bocah,” ucap Rezza sambil duduk di sebelah Sinka.

Sinka menatap Rezza dengan tatapan kesal lalu membuang muka.

“Lu tau nggak sih, kalo lu ngambek, pipi lu tuh jadi tambah gede,” ucap Rezza.

“Ihhh… apaan sih kamu!” ucap Sinka kesal lalu memukul Rezza.

“Apa lu?!” tanya Rezza menghalau tangan Sinka yang mencoba terus memukulinya.

“Kamu itu yang apa?!” ucap Sinka kesal.

“Udah-udah, jangan berantem terus, cepet makan,” ucap Melody melerai Sinka dan Rezza.

Mereka bertiga pun makan bersama. Selesai makan, Rezza dan Sinka masih terus berantem dan beradu argumen. Melody yang melihatnya hanya tersenyum dan tertawa kecil.

“Kakak kok malah ketawa sih?” tanya Rezza.

“Kakak kangen suasana rame gini,” jawab Melody tersenyum.

“Emang biasanya nggak rame gini kak?” tanya Sinka.

“Enggak, sejak Rezza ngekos, rumah ini jadi sepi,” jawab Melody.

“Sok-sokan ngekos segala kamu,” ucap Sinka mendorong Rezza.

“Biarin, terserah gue dong!” jawab Rezza kesal.

“Biasa aja kali, gausah nyolot gitu daripada ntar aku tonjok!” ucap Sinka mengancam Rezza.

“Gue nggak takut sama lu!” ucap Rezza semakin nyolot.

Mereka berdua pun saling menatap dengan tajam.

“Apa lu?!” tanya Rezza.

“Kamu yang apa?!” tanya Sinka mendorong Rezza.

“Apaan sih lu bocah!” ucap Rezza menghalau tangan Sinka.

Sinka cemberut lalu memalingkan wajahnya.

“Dasar panda! Pipi tembem! Gendut! Berat!” ucap Rezza kesal.

Sinka menoleh ke arah Rezza dan menatapnya dengan penuh amarah.

“Apa?!” tanya Rezza sedikit membentak.

Sinka tidak menjawab, ia kembali memalingkan wajahnya.

Keheningan terjadi beberapa saat, hingga tiba-tiba terdengar suara isak tangis keluar dari mulut Sinka. Melody yang melihat Sinka mulai menangis memberi isyarat pada Rezza untuk menenangkannya. Awalnya Rezza menolak untuk melakukan itu, namun Melody memaksanya sehingga ia mau melakukannya. Melody berdiri dari kursinya dan berjalan ke ruang tengah meninggalkan Rezza dan Sinka.

“Sin…,” ucap Rezza sambil menyentuh pundak Sinka.

Sinka menggoyangkan pundaknya agar Rezza melepaskan tangannya, namun usaha Sinka tidak berhasil, tangan Rezza tetap memegang pundak Sinka.

“Maafin gue sin, gue nggak bermaksut buat bikin lu nangis,” ucap Rezza berdiri lalu berjalan ke depan Sinka.

Sinka masih tetap menangis, ia memalingkan wajahnya dari pandangan Rezza.

“Sin…,” ucap Rezza berlutut di depan Sinka.

“Berhenti dong nangisnya,” ucap Rezza sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Sinka.

Sinka menyingkirkan tangan Rezza dari wajahnya.

“Gini deh, lu boleh nampar gue sampe lu puas,” ucap Rezza tersenyum.

Perkataan Rezza tidak dihiraukan oleh Sinka, ia masih tetap menangis.

“Sin…,” ucap Rezza.

Tiba-tiba Rezza memegang tangan Sinka dan menampar-namparkan tangan Sinka ke pipinya. Namun usaha Rezza sepertinya sia-sia, Sinka masih terdiam dan menangis.

Rezza pun melepaskan tangan Sinka. Mereka berdua sama-sama diam sampai akhirnya Rezza berdiri dan memeluk Sinka.

Sinka tidak meronta saat Rezza memeluknya, ia malah menangis lebih kencang.

“Cup… cup… cup…,” ucap Rezza sambil mengusap rambut Sinka.

Beberapa saat kemudian, Sinka berhenti menangis. Rezza menghela nafas dan menggendong Sinka. Sinka memeluk Rezza dengan erat dan mendekapkan kepalanya ke tubuh Rezza. Rezza menggendong Sinka ke kamar Melody.

“Turun sin, udah sampe,” ucap Rezza berhenti di samping tempat tidur.

Sinka tidak menjawab perkataan Rezza, ia malah mempererat pelukannya.

Akhirnya Rezza merebahkan dirinya ke atas kasur dengan Sinka yang masih memeluknya. Rezza mencoba tetap tenang lalu mengusap rambut Sinka.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua tertidur.

-di kosan Ve-

Tok… tok… tok…

“Bangun shan, udah siang nih,” teriak Ve di depan pintu kamar Shania.

“Iya…,” jawab Shania berteriak dari dalam kamarnya.

Ve pun bergegas mandi dan berangkat sekolah dengan nebeng Shania karena sekolah Shania satu arah dengan sekolah Ve.

“Makasih ya shan,” ucap Ve sambil turun dari motornya Shania karena sudah sampai di gerbang sekolahnya.

“Iya kak Ve, yaudah aku berangkat ya kak,” ucap Shania.

“Iya hati-hati,” ucap Ve.

Lalu Shania melaju menuju ke sekolahnya.

Saat berjalan ke kelasnya, Ve melihat Sinka turun dari mobil Melody bersama dengan Rezza.

“Kok Rezza bisa bareng sama Sinka?” ucap Ve dalam hati.

*to be continue*

Auhor : : Luki Himawan

Iklan

5 tanggapan untuk “Vepanda part 6

  1. Wah, enak tuh si Najong dpt ciuman dr oshi gw :v lucunya dengan tatapan bego 😂
    Oke, next bang Luki. Gw cuma request ini cerita dipanjangin tiap partnya (kalo boleh) hehe. Tp lebih baik pendek tp menarik, drpd panjang tp berbelit-belit 🙂

    Suka

    1. sorry bang kalo sekarang pendek ceritanya, tapi dari part 10 udah mulai panjang kok, btw makasih udah mampir buat baca :v

      Suka

  2. wahhh parah tuh si rezza udah bikin si dudut nangis :v ,mantap bang banyakin lagi scene rezza x sinka nya ! panjangin dikit lah bang ceritanya

    Suka

    1. namanya juga cewek bang, dibentak dikit juga nangis :v
      iya mulai part 10 udah mulai panjang kon ceritanya XD
      makasih udah mampir buat baca 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s