My Last Ramadhan

Sahu…urrrr!!!

 Sahuuuuur!!!

 Anak-anak muda komplek membangunkan orang yg masih terlelap tidur di dalam mimpinya untuk bangun, agar tidak telat pas sahur hari pertama. Dengan malasnya Hans bangun dari atas tempat tidurnya, ia langsung berjalan menuju kearah dapur dengan kondisi kedua matanya masih di kucek-kucek, pemuda itu langsung memotong-motong sayur dan ayam buat menu sahur pertamannya semenjak dirinya menjadi seorang musafir, tapi bukan musafir cinta yah! Hihihi *Bakar Authornya*.

Setelah masakan nya jadi, hans langsung membunkus-bungkusin nasi dan serta lainnya kedalam box nasi, setelah semuanya selesai dan hans juga udah selesai makan sahur juga. Hans langsung memasukan semua kotak-kotak box penuh nasi dan lauk pauknya itu, hans dengan mobil panzernya langsung berhenti di alun-alun kota Semarang, dimana sudah banyak gembel(Pengemis dan fakir miskin) yg tengah berbaris untuk menerima makanan sahur dari orang dermawan yg mau berbagi makanan sahur ke orang-orang yg kurang beruntung.

 

Setelah hans menghentikan mobilnya di depan mereka semua, hans di keruminin oleh para anak-anak jalanan dan yg lainnya.

 

“Iya sabar, sabar yah. Mohon berbaris biar semuanya kebagian makanan,” Ucap Hans.

 

Mereka semua langsung menuruti apa perkataannya hans, hans membagikan makanan yg ada di dalam mobil ke mereka semua tanpa ada yg tersisa sedikit pun, hans merasa bahagia ketika melihat para anak jalanan yg kurang beruntung itu senang karena bisa makan enak pagi hari ini. Adzan subuh telah berkumandang, setelah membagikan makanan sahur ke mereka-mereka semua. Hans tak langsung pulang ke rumahnya. Hans langsung menjalankan sholat berjamaah bareng dengan mereka di masjid terdekat.

 

Seorang pemuda yg tinggal sebatang kara di kota semarang, jawa tengah. Dengan harta peninggalan orang tuanya yg lumayan banyak, di balik itu semua hans adalah anak yg tak suka bergaul dengan orang layaknya anak muda zaman sekarang. Dia lebih memilih memperdalam ilmu agama sepulang sekolah, hans adalah salah satu murid SMA yg ternama di kota Semarang.

 

 

“Kak hans, boleh minta tolong nggak?” Tanya salah seorang siswi yg menghampirinya, pada saat hans sedang melintas di depan kantin sekolahan.

 

“Boleh, emang Shani minta di bantuiin apa?” Balas Hans.

 

“Tolong bantu angkat-angkatin galon, galon air ini ke belakang ya,” Ucap Anak Ibu kantin yg bernama Shani itu.

 

“Iya..”

 

Dengan langkah kaki yg ringan, hans langsung membantu memindahkan galon – galon air di atas meja itu ke belakang. Setelah selesai membantu anak ibu kantin itu. Hans langsung melanjutkan jalannya ke arah kelasnya.

 

Jam pembelajaran kedelapan telah usai, satu mata pelajaran lagi, hans dan teman-temannya bisa di perbolehkan pulang, karena puasa setiap mata pelajaran di kurangi jam pembelajarannya.

 

Setibanya hans di rumah, hans tak lekas langsung beristirahat. Hans mengajak salah satu satpam depan kompleknya untuk membantu nya mengangkat barang belanjaan yg akan di olah menjadi makanan berbuka puasa dan sahur untuk tiga hari kedepannya.

 

Di rumah sudah ada yg siap mengolah semua bahan makanan itu, lima pembantu dan tiga satpam, dan beberapa suster yg setiap kalinya melayani hans. Tanpa beberapa orang tau, hans mempunyai penyakit turunan dari orang tuanya. Penyakit yg sangat berbahaya, dan bisa saja mengancam nyawanya sendiri.

 

“HUEEKK!!!”

 

Hans mengeluarkan darah dari dalam mulutnya, seketika itu juga suster yg bertugas merawatnya memberinya obat untuk di minum oleh hans, tapi tiap kali suster memberinya obat hans slalu saja menolak obat pemberian para suster yg merawatnya.

 

“Tidak usah suster, saya tidak perlu obat-obatan itu,” Tolak Hans sambil menghapus bekas darah di mulutnya.

 

“Jangan begitu tuan, Anda harus minum obat ini agar anda lekas sembuh.” Suster di depannya hans terus membujuk hans untuk meminum obat yg sedang di bawanya itu.

 

Dengan sekian lama suster Hannna membujuk Hans, akhirnya hans mau juga meminum obat-obatan yg tengah di pegang oleh suster yg bernama Hanna itu.

 

Terik nya matahari membuat seorang cewek yg memakai hijab berjalan sempoyongan seperti orang mabuk, hans yg melihat itu langsung berlari mencoba untuk menolong cewek yg tak di kenalnya itu. Tapi cewek itu menolak untuk di tolong oleh hans, dan beberapa saat kemudian, cewek itu pingsan terkapar di pelukannya hans.

 

“Mbak bangun mbak…”

 

Hans terus mengoyang-goyangkan badannya, dengan paniknya hans langsung mengangkat badan cewek yg tak di kenalnya itu, dan membawanya ke puskesmas terdekat. Sesampainya di dalam puskesmas, dokter langsung meletakan setestoskopnya(Tulisanya bener gak ya) di dada cewek yg pingsan di atas dadanya hans tadi.

 

“Bagaimana keadaanya dok?” Tanya Hans mulai panik, bangun dari atas tempat duduk depan ruangan pasien.

 

“Kondisi pacar mas baik-baik saja, pacar mas hanya kelelahan saja, sebentar lagi juga sadar pacar mas.” Kata Dokter.

 

“Alhamdulilah kalau gitu, makasih dokter,” Ucap Hans.

 

“Iya sama-sama…” Dokter yg memeriksa keadaan cewek itu langsung pergi dari hadapannya hans.

 

Beberapa jam telah berlalu dan kondisi cewek itu mulai perlahan sadar dari pingsannya, cewek itu mulai merasakan pusing sembari memegangi kepala dengan kedua telapak tangannya.

 

“Dimana sekarang aku ini?” Cewek itu mulai turun dari atas matras tempat tidur, dan mulai berjalan ke arah pintu, hans yg mau masuk kedalam ruangan langsung di kejutkan dengan cewek itu yg tengah menyenderkan dirinya di depan pintu.

 

“Kamu ngaget-ngagetin aja, kamu udah agak mendingan?” Tanya Hans.

 

“Iya aku agak mendingan, dimana aku sekarang ini, dan siapa kamu?” Balasnya, kembali berjalan ke arah matras tempat tidur.

 

“Kamu ada di poliklinik, tadi kamu tak sadarkan diri di atas bahuku. Jadi aku bawa saja kamu kesini, kata dokter kamu kecapean.” Kata Hans, memberikan sebotol air minuman kaleng ke cewek di depannya itu.

 

“Makasih..” balas cewek itu menerima pemberiannya hans.

 

“Iya sama-sama,”

 

Sekian lama saling bertatap-tatapan dan saling terdiam satu sama lain, hans memulai untuk membuka percakapan tapi sudah di dahului cewek yg ada di depannya.

 

“Aku Sinka Juliani, kamu?” Ucapnya.

 

“Aku Hans, Hans Keintara Renaldi.” Balas Hans sambil membalas senyuman dari cewek yg di ajaknya ngobrol itu.

 

Sekian lama berbincang-bincang asik tak sadar mereka berdua sedang di lihat oleh beberapa pasien puskesmas yg lalu lalang masuk kedalam Ruangan Puskesmas. Setelah tau dimana rumah kediaman dari cewek yg baru saja di kenalnya hans langsung saja menghantarkan pulang Sinka sampai di depan rumah mewah yg sangt besar, dengan dinding yg cukup tinggi, dan beberapa satpam rumah bersedia menjaga rumah dari Sinka di depan pagar pintu.

 

“Aku balik pulang dulu ya.” Ucap Hans.

 

“Iya hans, hati-hati di jalan,” Balas Sinka sambil turun dari atas sepeda motornya hans.

 

“Iya…” Dengan tingkah sok jadi pembalap motor sport, hans mengegas sepeda motornya menjauh dari rumahnya Sinka, 156 Mph/Km ya itulah standart motor yg di bawa oleh hans.

 

Sebelum hans menghantarkan Sinka pulang ke rumahnya, hans berinisiatif meminta nomer telphone dari cewek yg baru di kenalnya siany hari ini. Begitu juga dengan Sinka, Sinka juga meminta alamat rumah dari cowok yg baru saja membawanya ke puskesmas itu.

 

Setibanya hans di rumah, hans langsung saja di marahi oleh suster Hanna yg bertugas merawat dirinya sampai sembuh, memang suster hanna sudah bekerja cukup lama dengan keluarganya hans dari semenjak hans masih dalam kandungan, jadi suster hanna tau betul tingkah dan sifat tuannya itu kayak apa.

 

 

“Maafin deh sus, lagian juga kan aku pengen menghirup udara di luar sana.” Kata Hans membela dirinya sendiri.

 

“Iya, kali ini suster maafin, tapi kalau sekali lagi kamu keluar tanpa pamitan sama suster, bakalan suster kurung kamu di rumah, biar suster yg memberi kamu pembelajaran dasar.” Suster hanna dengan tegasnya ke Hans.

 

“Baik sus..” Balas Hans tertunduk lesu,

 

“Sekarang kamu belajar gih sana, selesai belajar langsung istirahat. Suster mau pulang dulu,” Printah Suster Hanna.

 

“Baik suster…” Balas hans naik ke atas tangga lantai duanya, dan berjalan masuk kedalam kamarnya untuk belajar, dan membaca komik yg bernuansa cerita tentang para sahabat nabi yg berjuang melawan kafir qurais di timur tengah sana.

 

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu, Sinka.” Tegur sang kakak sambil menghampiri adiknya yg sesekali memandangi sesosok wajah seorang pria tampan.

 

“Ciee… Pacar baru nih Sin!” Goda Kakaknya sambil menyenggol bahu sang adik.

 

“Nggak kok kak Naomi, tadi aku ketemu orang ini kak, dia yg udah bawa aku ke puskesmas, tadi siang aku pingsan di jalan gara-gara kepala aku pusing banget.” Ujar Sinka ke kakaknya.

 

“Oh gitu rupanya, siapa namanya Sin, kenalin sama kakak kenapa?” Naomi kakaknya Sinka memincing-micingkan ke adiknya.

 

“Namanya Hans kak naomi, dia baik banget lho kak, tadi aja sebelum pulang aku di beliin martabak dan aku juga nemenin dia memberi makanan ke anak jalanan dan anak gelandangan lainnya.” Ungkap Sinka.

 

“Wah dermawan sekali temanmu itu Sin,” Puji Naomi kakaknya Sinka.

 

“Iya kak, kapan-kapan aku kenalin dia sama kakak,” Kata Sinka.

 

Beberapa minggu telah berlalu dan Sinka juga semakin suka dengan cowok yg bernama hans itu. Sempat sesekali Sinka dan kakaknya Naomi cek-cok ( Adu mulut ). Gara-gara Sinka sering sekali terlambat pulang kerumah, karena Sinka terlalu sibuk pacaran dengan Hans, memang tiga minggu belakangan ini Sinka dan Hans sudah jadian, tapi rahasia terbesarnya hans belum di ketahui oleh Sinka.

 

Sepulang sekolah hari ini. Hans mengajak Sinka untuk memasak di belakang rumahnya, seperti biasnya beberapa pembantunya hans menyiapkan nasi dan kotak-kotak box buat anak jalanan dan gelandangan untuk makan berbuka puasa.

 

Suasana romantis di timbulkan dari mereka berdua, sesekali pipinya Sinka terlihat memerah merona gara-gara hans menempelkan tangan yg bekas adonan kue di hidungnya Sinka. Sinka merasa senang dan bahagia dengan tingkah yg romantis yg di timbulkan oleh hans.

 

Saat hans mau mengangkat air galong ke tungku, tiba-tiba saja hans tergeletak ke tanah, dan air galon yg di bawanya tumpay semua. Sontak membuat para pembantu, suster, dan juga Sinka yg melihatnya itu langsung panik seketika.

 

“Bangun sayang, bangun, kamu kenapa sayang,” Sinka sambil menangis sesekali di atas badanya hans.

 

“Cepat bawa ke rumah sakit sekarang..” Teriak suster Hanna yg mulai panik dengan keadaan anak tuannya itu.

 

Hans langsung saja di larikan ke rumah sakit, setibanya hans di rumah sakit. Dokter ahli yg menangani penyakitnya itu langsung memberinya pertolongan pertama, alat oksigen dan infus di pasangkan ke nadi nya. Di luar ruangan, Sinka terlihat cemas dari tadi kerjaanya hanya mondar – mandir saja di depan ruangan tempat hans di rawat. Sinka sesekali melihat hans dari depan kaca jendela pintu ruangan.

 

Dokter mulai keluar dari dalam ruangan pasiennya.

 

“Gimana dengan keadaan pacar saya dok?” Sinka sangat cemas sekali.

 

“Keadaan pasien sangat kritis sekali, kemungkinan sadar hanya sebesar 0,8 saja. Lebih baik mbak banyak-banyak berdoa saja agar pacar mbak lekas sembuh,” Dokter mulai meninggalkan Sinka yg menangis di pelukan sang kakak.

 

“Yang sabar ya Sin, mungkin ini semua cobaan allah buatmu, yg sabar aja,” ucap Naomi menenangkan adiknya. Suster Hanna mulai mendekat ke kakak beradik yg tengah pelukan itu.

 

“Maaf kalau menganggu kalian berdua, gini saya sebenarnya di larang cerita sama mas hans soal penyakit yg di idapnya tapi saya akan ceritakan semua ke kalian soal penyakitnya.” Ucap Suster Hanna..

 

 

“Hans memang sakit apa suster, ceritakan yg jelas kepada saya,” Sinka mengkerah bajunya Suster hanna.

 

“Gini, sebenarnya mas hans punya penyakit liver dan leukimia yg sudah stadium akhir, dan sudah dari dulu mas hans mengidap penyakit itu. Tapi baru sekarang mas hans merasakan semua penyakitnya itu. Kita hanya bisa berdoa saja agar mas hans bisa selamat dari penyakit ganas itu.” Ucap Suster Hanna.

 

 

“Hans..!!” Sinka menangis keras di atas bahuku sambil mengengam erat kedua tanganku.

 

 

Jam tlah menunjukan pukul 12 malam, secara perlahan aku membuka kedua mataku, aku menoleh kekanan dan ke kiri, terlihat sesosok wanita cantik sedang memegang erat telapak tanganku, wanita itu tengah tertidur pulas di samping tempat tidurku. Sesekali aku membelai kepala dari wanita yg mengenakan hijab warna biru muda ( Pict gak ada ).

Aku mencoba untuk mengapai secarik kertas dan bolpoin yg ada di samping meja dekat matras tempat tidurku itu. Aku mencurahkan semua isi hatiku selama ini ke dalam secarik kertas, setelah pemuda itu selasai mencurahkan semua isi hatinya kedalam sebuah kertas polos, bolpoin yg di pegangnya itu tiba-tiba jatuh ke lantai dan sempat membangunkan Sinka dan Suster Hanna yg sedany menungguinya di rumah sakit.

 

“Hans sayang bangun hans, jangan tinggalin aku hans sayang!!!” Tangis Sinka sejadi-jadinya ketika mengetahui kalau orang yg di sayangnya beberapa minggu ini tlah di panggil sama yg di atas sana. Suster hanna juga menangis kala itu ketika tuan muda yg di jaganya tlah tiada untuk selama-lamanya.

 

 

 

Dear Orang-orang paling aku kasihi dan aku sayangi.

 

Kamu jangan nangis gitu donk sayang? Lagian kita juga akan berkumpul kembali di alam kedua, tapi kamu jangan buru-buru menyusulku ya Sinka sayang. Bahagian orang-orang yg kamu sayangi dan kamu cintai dulu, baru kamu boleh menyusulku  kesini tapi jangam dulu ya. Buat Susterku tersayang, suster hanna. Gimana sus? Sekarang aku gak bakalan ngerepotin suster lagi kan? Aku sudah tenang disana sekarang, tolong sebagian aset kekayaan orang tuaku suster hanna dan Sinka tolong sumbangi le fakir miskin dan para anak yatim piatu. Dan sisa hartaku boleh Sinka dan suster bagi dua, aku akan lebih senang lagi kalau semua harta warisanku itu di waqahkan ke masjid terdekat. Kalian jangan terus-terusan sedih donk, aku kan jadi ikutan sedih ini.  Akhirnya penyakit yg bikin susah hidupku selama ini bisa terlepas dari aku, dengam begini aku sudah tidak akan pernah lagi merasakan rasa sakit itu….

 

 

Suster hanna yg membacakan sepucuk surat itu terakhir dari hans itu langsung menangis sejadi-jadinya di pelukannya Sinka, pagi hari yg sangat cerah dan siulan angin pagi mememani pemakannya Hans keintara, sesuai dengan amanahnya hans, mereka berdua langsung mewaqahkan semua hartanya hans ke masjid terdekat dari rumahnya hans.

 

The end….

 

Created by:@lastwota

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s