“Directions The Love and It’s Reward” Part 12

yup

“Arrkkkhhhh…!!!” Yuvia menjerit. Ia mendapati seekor serigala sedang menatapnya dengan tatapan ganas dan lapar.

GRRR!!!

GRAUR!!!

Raungan serigala itu. Serigala itu makin mendekat. Menatap tajam sambil berputar-putar. Mencari posisi untuk memojokkan Yuvia yang sedang dalam incaran pemangsaan.

“Aku takut” batinnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bergerak sedikit demi sedikit untuk membuat keadaan tenang. Setidaknya, itu membuatnya bisa mengulur waktu karena serigala akan cepat menyerang jika mangsa bergerak cepat. Mengulur waktu berharap ada seseorang yang datang. Menolongnya…

GRAAARRR!!!

“Mamah, Papah, dan temen-temen, maafin Yupi kalo Yupi banyak salah. Rain, maafin Yupi karena nggak bisa nepatin janji kita.” Batin Yuvia

TIS!

Air matanya jatuh dari kedua kelopak matanya yang indah.

Serigala itu hendak menerkam tapi…

 

BUGKZ!

 

Tiba-tiba, serigala itu terpental. Mengerang keskitan dari sebuah hantaman counter dari seorang pemuda yang membawa sepotong kayu.

AUUU!!!

GRAWR!!!

Serigala itu menerkam kembali. Pemuda itu kurang sigap sehingga kayu yang ia bawa terjatuh. Menyisakan tangannya yang menahan rahang dan gigi tajam yang hampir mengoyak lehernya. Posisinya berada di bawah seekor serigala itu.

TIS!

Beberapa bagian tangannya terkena sayatan taring serigala itu. Meneteskan darah-darah murni merah kental pekat.

“Kalo lu bayangin, ini pasti mirip Handsome-Handsome Wolf dah. Lu bayangin aja kalo si Yuvia itu yang punya darah suci” THOR datang buat nonton doang. Dasar, bukannya bantuin -_-

Yuvia masih diambang ketakutan, air matanya masih mengalir. Dengan segenap keberanian, ia mengambil sebilah kayu.

 

BUGZ!

 

Memukulkannya pada bagian punggung Sang serigala.

RAWR!!!

Serigala itu terpental, meronta-ronta kesakitan. Menatap tajam sejenak.

GRRR!!!

Kemudian berlalu pergi. Pemuda itu bangun dan membersihkan beberapa bagian kotor dari jaketnya yang terkena dedaunan dan tanah akibat serangan serigala tadi.

“Ada yang luka? Nggak ada yang kenapa-napa kan?” tanya pemuda itu santai. Menepuk-nepukan kedua tangan membersihkan sisa-sisa debu dari pasir dan tanah.

Air mata Yuvia berlinangan kembali menetes. Dengan tak terduga…

PLUK

Yuvia memeluknya erat. Tak peduli dengan keadaannya saat ini. Setidaknya, pelukan hangat itu memberinya ketenangan karena shock yang dialaminya dalam waktu dekat tadi. Antara hidup dan mati.

“Aku nggak papa! Tapi liat Rendy! Kamu yang kenapa-napa! Hiks…” tangisnya di bahu pemuda itu yang ternyata adalah Rendy. Ia hanya membalas pelukan Yuvia hangat, membelai puncak kepalanya yang berada dalam dekapannya.

“Udah, nggak papa” jawabnya santai.

“Aku takut” ucap Yuvia.

“Tenang, aku udah di sini. Nggak perlu takut lagi ya” kini Rendy melepas pelukan itu perlahan, memegang erat kedua bahu Yuvia sambil menatapnya dalam.

“Tatap mataku” ucap Rendy. Yuvia menatapnya dalam. Ternyata pancaran sinar bulan membuat mata Rendy terlihat begitu bersinar, berkilauan di tengah pekat hitam matanya. Yuvia seperti mengenal tatapan itu. Bukan, ia lebih mengenal bola mata tajam dengan sinar itu. Mengingatkannya pada seseorang. Ya, seseorang yang penting dan berharaga bagi dirinya.

“Semuanya akan baik-baik saja” ucap Rendy. Yuvia hanya mengangguk. Rendy menyeka air mata Yuvia dari pipinya.

“Sekarang kita cari tempat buat bermalam dulu. Besok, baru kita balik ke bumi perkemahan” ucap Rendy berjalan mendahului Yuvia. Rendy melihat ke belakang sebentar dan mendapati Yuvia masih terdiam di tempatnya. Anehnya, dia tersenyum-senyum sendiri.

“Eh, ngeri gue liatnya mbak. Serem tau” ucap Rendy mengkode Yuvia untuk mengikutinya.

“E-eh i-iya. Eh tungguin! Aku takut tau!” Yuvia berlari kecil mengikuti langkah Rendy.

Mereka berjalan tak tentu arah. Tapi dengan sedikit bantuan kompas yang dibawa Rendy di tas ranselnya membuat mereka memutuskan pergi ke arah Timur Laut. Ya karena tadi sore, mereka berjalan ke arah Barat Laut. Sebelumnya mereka berjalan ke arah Barat Daya tadi siang saat mengikuti alur pos.

 

—o0o—

“Hadeuh… pake ngilang segala tuh bocah. Tau tadi gue temenin nyari kayu bakarnya” ucap Rio mengeluh di tengah eksplorernya mencari Rendy dan Yuvia.

“Tau nih, mana banyak nyamuk lagi” Guntur juga sama.

“Mana nih Vin? Katanya di sekitar sini?” tanya Rio.

“Iya nih, kok nggak ada” ucap Guntur.

“Dah ah, jangan pada ngeluh. Yang penting kita harus cari sampai ketemu” ucap Viny melerai.

“Ini gegara lu juga kali! Ngapain lu ninggalin Yuvia di tengah hutan!” ucap Guntur dan Rio bersamaan.

“Ya maaf, kan reflek takut jadinya ambil langkah seribu” ucap Viny bersalah.

“Udah-udah. Jangan pada berantem, mendingan kita lanjutin besok aja deh. Udah malem nih, liat. Udah jam 11 malem lebih, mendingan kita siapin tenaga buat besok” ucap Shani melerai.

“Bener tuh kata Shani. Mending kita istirahat dulu. Yuk balik lagi ke tenda” ucap Gre.

“Ya dah, yuk balik semuanya” ucap Viny. Mereka semua kembali dari pencarian mereka. Tidak terlalu jauh mereka mencari, sekitar dari tempat yang diingat Viny meninggalkan Yuvia.

 

—o0o—

Semakin jauh mereka berdua berjalan. Mencari ke sana kemari. Hanya senter yang dipegang Rendy lah yang menjadi penerangan mereka di gelapnya midnight.

“Kita istirahat di sini” ucap Rendy. Setelah lama, akhirnya mereka menemukan tempat yang cukup luas. Tidak tertutupi pepohonan yang teralu lebat dan juga dekat dengan sungai.

“Terus aku tidur di mana?” tanya Yuvia. Sedangkan Rendy hanya diam melakukan sesuatu. Merasa kesal, tapi ia tahan. Dia ingin melihat karena penasaran dengan apa yang dilakukan Rendy.

“Untung tadi dibawa” ucap Rendy tenang menghembuskan nafas lega. Ia mulai membangun apa yang ia ambil dari tas ransel besarnya itu. Ya, sebuah tenda otomatis. Yuvia masih memperhatikan apa yang diperbuat Rendy.

Rendy menegakkan tenda otomatis itu. Mendirikannya, tapi belum selesai. Terlihat luka bekas gigitan serigala tadi pada tangan Rendy dengan darah yang masih mengucur perlahan. Dengan iba, Yuvia membantu pemuda yang menolongnya itu. Mungkin sekedar rasa terima kasih.

“Sini aku bantuin” ucap Yuvia membantu memegang bagian tenda itu.

“Udah nggak usah” tolak Rendy.

“Sssttt… diem! Tangan kamu aja berdarah gitu! Udah nggak usah nolak” Yuvia bersikeras membantu Rendy. Heran, ya itulah yang dirasakan Rendy.

Setelah beberapa menit, akhirnya tenda itu selesai dibangun. Tak lupa juga, Rendy membuat api unggun dari kayu bakar yang dibawanya tadi

“Fyuhh… selesai” Rendy menghembuskan nafas panjang. Yuvia hanya tersenyum melihatnya. Dia merogoh sakunya dan mendapati tissue yang dia bawa. Dengan inisiatif, ia langsung memegang tangan Rendy. Menuntunnya menuju…

“Eh? Ma-mau dibawa kemana?” Rendy bertanya-tanya lantaran tangannya dituntun ke arah yang tidak jelas.

“Kita obatin luka kamu” Yuvia masih menarik tangannya. Rendy hanya bisa pasrah.

Yuvia menuntunnya menuju tepi sungai.

CPLEK!

“Sssttt… perih tau” erang Rendy.

“Diem! Biar cepet sembuh” ucap Yuvia masih membasuh tangan Rendy. Tujuannya agar tidak terjadi infesksi pada tangan Rendy. Ya kali lau lau pada ngira infeksinya bikin dia jadi manusia serigala -_-

“Eh i-itu tissuenya buat a-apa??” Rendy terbelalak.

“Ini buat…” Yuvia menggantungkan kalimatnya sembari tersenyum tipis.

“Aw! Sst… perih. Udah dong” ucap Rendy mengerang kesakitan.

“Hu…! dasar pikirannya. Udah jangan berisik, bentar lagi selesai” Yuvia membersihkan luka-luka Rendy menggunakan tisue yang dia bawa. Ya kali lau pada ngira buat ritual sunnah rasul -_- . Setelah itu, Yuvia mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya.

“Itu buat apaan lagi?” tanya Rendy.

“Ini buat bekap mulut kamu yang nggak bisa diem!” langsung saja ia bekap mulut Rendy sejenak.

“Hei, dah jangan bercanda mulu” ucap Rendy sedikit kesal.

“Lagian kamunya nggak bisa diem” ucap Yuvia sambil mengikat sapu tangan itu pada tangan Rendy. Memberhentikan pendarahan yang sedari tadi terus mengalir. Rendy terlamun melihat wajah Yuvia dari samping.

“Dah selesai, pendarahannya udah berhenti deh. Gimana? Udah mendingan?” tanya Yuvia sambil melihat ke wajah Rendy. Ia mendapati Rendy yang masih terdiam menatapnya.

“Hei! Dengerin nggak sih?” tanya Yuvia.

“Eh iya duh!!! Kok sakitnya makin parah sih!! Aduh tolong! Sakit!!” erang Rendy meronta-ronta kesakitan.

“Eh-eh kenapa?!” Yuvia mulai panik.

“Ahahaha… bercanda wlee :p cie~ mukanya panik gitu hahaha…” Rendy tertawa puas karena bisa mengerjai Yuvia.

“Ishh… dasar! Huh… bercandanya jelek, nggak lucu tau! Gimana kalo kamu kenapa-napa beneran?! Huftyup…” kesal Yuvia menyilangkan tangannya di depan sambil manyun dan cemberut.

“Iya… iya sorry. Maaf deh nggak diulang lagi. Perhatian banget mbak” ucap Rendy menggoda.

“Iiihhh… nyebelin huft…” Yuvia tambah memanyunkan bibirnya.

“Maaf, iya bercanda doang kok. Dimaafin nggak nih?” tanya Rendy.

“Maafin nggak ya?”

“Maafin dong…” pinta Rendy.

“Iya… kalo bercanda tuh jangan keterlaluan. Kan aku jadinya khawatir tau” ucap Yuvia pelan menggembungkan pipinya.

“Kenapa? Khawatir?” tanya Rendy.

“Eh nggak kok. Bu-bukan apa-apa. Salah denger kali” ucap Yuvia mengelak tapi Rendy masih tak yakin. Tiba-tiba…

GRRTTT…

“Eh, suara apaan tuh? Serigala lagi?” Rendy waspada sambil mencari-cari sumber suara itu.

“Bukan, i-itu perut aku” wajah Yuvia memerah menunduk malu.

“Kamu laper? Bilang dong dari tadi” Rendy mencari-cari sesuatu di tas ranselnya.

“Nih, aku ada roti. Buat kamu aja” ucap Rendy sambil memberikan sepotong roti itu.

“Tapi kamu?” tanya Yuvia.

“Dah santai aja, aku kuat kok” senyum tipis terukir di wajah tampan Rendy.

“Yaudah, kita bagi setengah-setengah aja. Nih, kamu setengahnya” ucap Yuvia memberikan setengah dari potongan roti itu.

“Udah nggak usah” tolak Rendy.

“Cepetan! Atau mau aku suapin!” ucap Yuvia bersikeras.

“E-eh nggak usah, beneran kok” Rendy mengacungkan jari peace nya.

“Nggak usah sok. Nih rasain!” Yuvia menjejalkan setengah potongan roti itu di mulut Rendy. Hanya ekspresi datar dengan mulut penuh di wajah Rendy.

“Nah, gitu. Hahaha… ekspresinya lucu hahaha…” tawa Yuvia memecah keheningan malam.

“Tewus ajwa ketawanya mbwak” -_- bicaranya ngelantur lantaran mulutnya penuh.

“Udah puas ngetawainnya?” Rendy memasang muka kesal.

“Belom hehe” ucapn Yuvia.

“Dah tidur sana. Udah malem nih” Rendy melihat jam tangannya dan sudah menunujukan pukul 01.00.

“Udah jam 1 pagi, siapin tenaga buat besok. Tidur gih sana, kelamaan di sini kamu bisa jadi vampire” Rendy menakut-nakuti.

“Eh… k-kok bi-bisa jadi va-vampire?” tanyanya gemetar.

“Yai iyalah, orang nyamuknya peliharaan vampire. Liat nih, banyak banget ngisepin darah” ucap Rendy.

“Bercandanya jelek wlee :p” Yuvia hanya menjulurkan lidahnya menanggapi candaan Rendy.

“Dah masuk ke tenda sana” ucap Rendy.

“Lah kamu tidur di mana?” tanya Yuvia heran.

“Tenang, aku ada sleeping bag kok” Rendy menggelar sleeping bag yang ia bawa.

“Dah sana gih” ucap Rendy.

“Ngusir nih?”

“Terserah” Rendy langsung masuk ke sleeping bag nya. Tidur menghadap  ke sisi lain dari tenda. Hingga cukup lama, akhirnya dia terlelap tidur.

Yuvia keluar dari tenda sejenak memeriksa keadaan. Ia mendapati Rendy yang terlelap tidur tanpa menggunakan penutup selimut dari sleeping bag nya. Entah dari mana, lucu sekali melihatnya tidur bagaikan anak-anak yang butuh belaian dari ibunya. Posisi tidurnya mendekap, seperti ada sesuatu yang ingin ia peluk. Tapi, di sisi lain ia juga terlihat kedinginan. Dengan inisiatif, Yuvia menyelimutinya.

Senyum tipis melihat Rendy tidur dengan terlelap. Sejenak, ia memegang dahi Rendy kalau-kalau ia sakit. Ia singkirkan beberapa helai rambut dari wajah Rendy. Sejenak, lalu Yuvia tersadar dan segera bangkit.

“Eh gu-gue kenapa sih? Kok gue mikirin Rendy terus ya? Apa jangan-jangan gue…” tanyanya dalam hati. Tanpa disadarinya, wajahnya memerah.

“Gak mungkin! Gak mungkin!! Gak mungkin!!! Ini gak boleh terjadi sama gue!” Dia teringat akan kejadian kemarin malam, di mana mereka berdua duduk di tengah hangatnya api unggun. Menghabiskan keceriaan bersama, seakan tak mau lepas dan waktu berjalan begitu cepat.

“Hmm… aku nggak mau bangun mah…zzz.”

“Eh?!” kaget Yuvia. Dia melihat kembali ke belakang dan ternyata Rendy hanya mengigau. Sejenak ia tertawa kecil.

“Hihihi… orangnya pemales ternyata. ‘Bad But Brilliant’. Mungkin itu julukan yang pas buat dia. Buruk tapi brilliant” ucap Yuvia. Dia mengalihkan pandangannya ke langit. Melihat rasi bintang Gemini di sana. Kembar, ya itulah arti dari rasi bintang tersebut. Sejenak ia teringat perkataan Rendy saat mereka bernyanyi di hangatnya api unggun kemarin.

“Kamu bintang di langit itu” ucap Yuvia. Sebenarnya, ia mendengar kalimat itu. Tapi terdengar samar, mungkin itu hanya candaan yang dibuat Rendy. Tunggu…

“Bintang di langit itu?”

 

[FLASHBACK ON]

Itu terjadi di saat mereka berumur 4 tahun. Di mana mereka masih anak kecil polos yang suka bermain. Rain dan Yupi. Anak lelaki dan perempuan yang selalu bermain bersama. Menghabiskan waktu mereka tatkala tak mengenal waktu. Walaupun sering dimarahi kakak mereka, bahkan orang tua mereka sekalipun. Namun, ikatan mereka begitu kuat.

“Di hari itu, kamu berjanji bermain bersamaku” batin Yuvia.

 

—o0o—

Sore itu, di saat mereka tengah menghabiskan waktu di bawah rindangnya pohon apel milik keluarga Yupi. Mereka membeli es krim sebagai teman cemilan mereka.

“Wah panas banget ya ternyata” ucap Rain.

“Iya untung kita beli eklim slurp…” Yupi masih menjilati es krim itu.

“Pelan-pelan Yup, nanti keselek tau” ucap Rain.

“Iya, iya maaf” ucapnya.

Setelah lima menit sekiranya, es krim mereka habis satu sama lain.

“Sekarang mau main apa lagi?” tanya Rain.

“Telselah kamu aja deh” ucap Yupi.

“Hu… anak kecil makan es krimnya belepotan” Rain melihat sisa-sisa es krim itu di beberapa bagian mulut Yupi. Ia langsung mengelapnya dengan kedua tangannya. Yupi diam membisu, hanya menatap keheningan di wajah anak laki-laki yang sedang bersamanya itu. Seketika, detak jantungnya tak karuan. Wajahnya merah tersipu malu.

Seketika, jantung Yuvia berdebar kencang mengingat kenangan masa lalu itu. Kenangan di mana masa indah bersama teman kecilnya.

“Rasa ini masih ada. Bahkan… Tumbuh semakin besar” ucap Yuvia.

 

“Makanya, kalo makan es krim tuh pelan-pelan. Biar nggak belepotan” ucap Rain membersihkan sisa-sisa es krim itu dari mulut Yupi.

“Bialin wlee :p” ledek Yupi.

“Dasar, eh nanti malam main yuk!” ajak Rain.

“Ke mana?” tanya Yupi penasaran.

“Kita ke sini lagi aja. Lagian kan deket juga dari rumah kamu. Deket kamar kamu malahan. Tuh liat, pohon apel ini kan juga nutupin kamar kamu” ucap Rain.

“Tapi… mana boleh aku main malam-malam sama olang tua aku. Apalagi sama kakak aku, bisa-bisa nanti aku dijewel lagi” cemberut Yupi.

“Tenang aja, nanti malam bakal ada kejutan kok.” Senyum tipis dari wajah Rain. Tapi, Yupi tidak tahu-menahu tentang apa yang dilakukan teman kecilnya itu.

“Hmm… sekarang… mending kita ukir nama kita di pohon itu yuk! Mau nggak?” ajak Rain.

“Ukil? Mau! Aku paling bisa kalo soal gambal sama nulis!” Yui tampak bersemangat.

“Bentar, aku ambil pisau dulu ya” ucap Rain berlari ke rumahnya sejenak dan mengambil benda tajam itu.

“Nih” Rain memberikan pisau itu. Yupi menerimanya dan mengangguk.

“Hati-hati, itu tajem loh” ucap Rain.

“He’emm” angguknya. Dia mulai mengukir nama mereka di pohon apel itu. Bertuliskan ‘Rain Yupi’ dengan tanda love di tengahnya. Hampir selesai, tapi Rain melihat pisau tajam itu akan menggores tangan kecil Yupi.

“Awas!” teriak Rain memegangi pisau yang hampir melesat mengenai tangan Yupi itu.

DEG

TIS!

Darah mengucur sedikit demi sedikit dari tangan Rain. Yupi hanya terkejut akan hal itu. Ia hanya menangis tersedu-sedu.

“Ma-maaf… aku nggak hiks… hati-hati” ucapnya pelan bersalah.

“Ssstt… udah nggak papa” ucap Rain tenang sembari menahan rasa sakit. Untungnya, Yupi membawa air minum dari botol minum yang dibawanya. Langsung ia bersihkan luka Rain itu.

“Sekali lagi maaf ya…” Yupi masih menunduk bersalah.

“Dah nggak papa. Cuma goresan kecil doang. Lain kali hati-hati ya” Rain membelai puncak kepala Yupi pelan yang sontak membuatnya terkejut.

“Entah mengapa, belaian itu aku rasakan kembali. Tenang, lembut, dan nyaman sekali. Padahal, Rain jauh entah ada di mana. Tapi aku merasa…

…Ia semakin dekat denganku” batin Yuvia memegangi puncak kepalanya. Teringat kembali masa kecilnya bersama Rain yang indah. Entah berantah, belaian Rendy hampir sama dengan belaian pemuda teman masa kecilnya itu.

“Ngomong-ngomong, kok dikasih tanda hati sih?” tanya Rain.

“Gak boleh ya emangnya? Kan aku udah naluh hati aku di kamu” ucap Yupi pelan sambil mukanya memerah tersipu malu.

“Eh?” Rain kaget sekali.

“Kalo nggak suka, aku hapus aja deh” ucap Yupi.

“Eh jangan! Jangan! Aku suka kok” ucap Rain tersenyum.

“Huftyup… tadi katanya enggak” Yupi menggembungkan pipinya.

“Bercanda, gitu aja marah” Rain mencubit pipi Yupi pelan.

Seketika, Yuvia mengusap pipinya kembali. Rasanya, seperti kembali ke masa lalu.

“Aw! Sakit tahu…” ucap Yupi dibuat-buat marah.

“Eh maaf…”

“Hehe canda wlee :p” Yupi menjulurkan lidahnya.

“Huh… dasar” ucap Rain.

“Yupi! Pulang nak! sudah sore!” panggil ibunya dari dalam rumah.

“Iya mah! Sebentar!” sahut Yupi.

“Aku pulang dulu yah” pamit Yupi.

“Nanti malam jangan lupa loh” kata Rain mengingatkan.

“Iya deh telselah. Dah~” lambaian tangan dari Yupi mengakhiri momen indah sore itu.

 

—o0o—

Matahari sudah tak tampak di langit, hanya meninggalkan jejak-jejak orange kemerahan. Perlahan berubah menjadi nila dan terakhir hitam kelabu berhiaskan awan-awan yang tak beraturan. Malam pun tiba. Sekitar sudah pukul 8 malam. Yupi sedang makan malam bersama orang tuanya.

“Wah! Masakan mamah enak banget!” ucap Yupi dengan lahap memakan masakan tersebut.

“Makasih sayang, ini juga bukan mamah doang kok yang buat. Kak Ve tadi juga bantuin mamah nih” Mamahnya Yupi membelai rambut anak perempuan sulungnya yang bernama Ve itu.

“Ah mamah bisa aja” kak Ve tersipu malu.

“Keren nih, kakak sekarang udah bisa masak bantuin mamah. Mau nyaingin mamahnya nih ye?” ucap Papahnya memuji.

“Wah kakak hebat! Mah mah! Yupi juga mau diajalin masak dong!” ucap Yupi memuji kakaknya dan bersemangat untuk diajari memasak.

“Iya, lain kali mamah ajarin deh” ucap Mamahnya tersenyum senang.

Mereka makan malam bersama diselingi canda dan tawaan hangat di keluarga mereka. Sekitar sudah pukul setengah sembilan malam, mereka selesai makan.

“Yupi, cuci kaki, muka, dan tangan sebelum tidur ya. Jangan lupa juga gosok gigi” peringat mamahnya.

“Iya mah!” jawab Yupi kemudian ia bergegas ke kamarnya. Melakukan apa yang diperintahkan ibunya dan hendak bergegas tidur

*****

“Di malam itu lah tingkah bodoh  yang kamu lakukan” Yuvia sejenak tersenyum menahan gelagak tawa mengingat hal itu.

Saat Yupi hendak tidur, tiba-tiba…

DUK!

DUK!

Seperti ada yang mengetuk-ngetuk jendela kamarnya. Sekelebat bayangan terus saja berkeliaran menghantui sekitaran jendela kamar Yupi.

“M-mah a..a-ku takut” pekiknya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Perlahan, ia coba bangkit dan berdiri. Dengan gemetar, ia mendekati jendela itu. Semakin dekat dan semakin dekat. Tiba-tiba…

DUK!

“Arrkkhhh…” teriak Yupi.

“Ssstt.. ini aku” ucap seseorang.

“Ka-kamu siapa?!” Yupi masih ketakutan.

“Buka dulu jendelanya” ucap seseorang itu.

Yupi membuka jendela itu. Terlihat seorang pemuda dengan jaket hoddie dan kupluk yang menutupi sebagian wajahnya. Pemuda itu kemudian membuka kupluknya.

“Rain?!” Yupi terbelalak tidak percaya.

“Hai!” senyum santai sembari melambaikan tangan pada Yupi dari Rain.

“Kok kamu bisa…” ucap Yupi menggantung.

“Aku manjat lewat pohon apel hehe” ucap Rain meringis.

“Huft… bikin takut aja tau nggak” ucap Yupi.

“Ya lagian kamu kan tadi sore bilang kalau malam gak boleh main. Ya jadinya aku ke sini diem-diem” ucap Rain.

“Sini ikut aku” Rain menuntun tangan Yupi menuju jendela. Rain keluar terlebih dahulu dan melompat keluar. Dia sekarang berada di ranting-ranting pohon apel itu.

“Ma-mau kemana sih?” tanya Yupi.

“Udah lompat aja!” perintah Rain.

“Nggak mau! Aku takut” jawab Yupi bersikeras.

“Tenang, tutup aja mata kamu. Nanti aku tangkep turunnya” ucap Rain. Yupi perlahan menutup mata. Maju perlahan, menghembuskan nafas panjang dan…

“Aahhhh!!!”

“HAP! Dapat!” Rain berhasil menangkap Yupi.

“Sekarang buka matanya tuan putri” ucap Rain masih menggendongnya dengan posisi bridal style. Yupi membuka matanya, dia ternyata tidak terjatuh dan masih berada di atas ranting pohon bersamanya. Sejenak ia menatap mata Rain dalam.

“Turun dong, berat nih” ucap Rain.

“Iiihhh! Rain jahat! Ngeledek ya!” Yupi turun dan menggembungkan pipinya.

“Eh bu-bukan itu maksudnya. Ya kalo kelamaan berat juga tau Yup” Rain mencari-cari alasan.

“Udah, sekarang kita ke atap rumah kamu yuk!” Rain menuntun Yupi untuk naik ke ranting dan dahan pohon yang lebih tinggi. Yupi terus menggenggamnya erat seakan tak ingin melepaskan. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sudah berada di atap rumah Yupi.

“Mau ngapain sih ke sini?” tanya Yupi penasaran.

“Duduk dulu deh. Liat tuh bintangnya bagus” ucap Rain. Yupi duduk di sebelahnya. Ikut memandang lurus ke depan, ke langit nila hitam kelabu yang sedikit tertutupi awan. Bulan purnama sedang bersinar terang.

“Lihat bintang yang di sana. Lihat bentuknya” ucap Rain menunjuk ke sebuah gugusan bintang.

“Kamu bintang di langit itu”  Indah karena bentuknya simetris satu sama lain.

“Itu namanya rasi bintang. Dan rasi bintang itu namanya Gemini. Artinya kembar” ucap Rain.

“Wah! Iya, indah banget!” kagum Yupi.

“Gimana? Suka?” tanya Rain.

“Iya” Yupi kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Rain. Entah mengapa, Rain tidak menolaknya. Terasa sangat tenang, lembut, dan nyaman. Angin dingin di malam hari juga terus menusuk. Tapi tak membuat mereka berhenti menatap indahnya ciptaan-Nya. Yupi melihat wajah samping Rain dengan rambutnya yang diterpa angin. Tampan, memancarkan cahaya bulan.

“Kalau kamu di tata surya. Kamu mau jadi apa?” tanya Rain tanpa menoleh ke Yupi.

“Aku? Hmm… Aku apa ya?”

“Aku… aku pengen jadi matahali!” ucap Yupi semangat.

“Kenapa?”

“Karena… Aku ingin telus menyinali hali-hali kita” jawab Yupi.

“Kalau kamu?” tanyanya balik.

“Aku… apa ya? Aku pengen jadi bulan aja deh” jawab Rain.

“Kok jadi bulan, kenapa nggak jadi awan aja yang nemenin aku jadi matahali?” tanya Yupi heran.

“Ya pengen aja sih. Tapi aku pengen memantulkan cahaya kamu aja. Agar orang-orang tau, betapa begitu indah, terangnya kilauan pada dirimu” ucap Rain pelan.

Malam yang indah bersamanya. Tak ada hentinya aku berharap momen itu datang kembali. Kita berdua…

…bersama” Yuvia meneteskan air mata kerinduannya saat menatap malam yang sunyi itu.

TIK!

TIS!

TIKS!

Rain menenengadahkan tangannya ke depan. “Kayaknya udah mau hujan. Dingin, pulang yuk” ajak Rain.

“Tapi… aku masih mau di sini” ucap Yupi dengan nanda manja.

“Lain kali juga bisa lagi kok. Dah yuk, keburu deres nanti hujannya” ucap Rain bangkit dari duduknya. Mereka berdua turun bersama dengan jalan melompat kembali di antara ranting dan dahan pohon apel itu.

“Makacih ya malam ini” Yupi membisikan itu di telinga Rain. Sejenak, pipi Rain dan Yupi bersentuhan. Jantung Rain semakin berdebar kencang. Dengan cepat, ia menjauhkan wajahnya dari wajah Yupi yang tadi pipinya sempat bersentuhan.

“Ehehe… iya. Sama-sama. Oke, aku pergi dulu ya. Bye” dengan cepat, Rain melesat keluar dari jendela Yupi. Tanpa sengaja…

CTAR!

Pot bunga yang ditaruh di depan jendela kamar Yupi terjatuh dan pecah dari kamar.

“Eh?! Apaan itu Yup! Buka pintunnya” ucap kak Ve yang sedang kebetulan berada di depan kamar Yupi. Yupi pun panik, entah ingin berbuat apa.

“Udah sana buluan!” Yupi mulai geregetan menyuruh Rain segera melompat keluar.

KLEK!

“Apaan tadi Yup?” tanya kak Ve.

“Eh? Ehehehe… kak Ve. Tadi… ta-tadi…” Yupi berpikir mencari-cari alasan.

“Tadi apa?” tanya kak Ve khawatir.

Tiba-tiba, Papah dan Mamah Yupi juga ikut datang ke kamarnya.

“Tadi kenapa sayang?!” mamanya sangat panik.

“Iya, tadi papah denger ada sesuatu yang pecah. Adek kamu kenapa Ve?” tanya papahnya.

“Ta-tadi tuh…”

“Meong…” tiba-tiba terdengar suara kucing.

“Nah, itu! Ta-tadi tuh ada kucing!” ucap Yupi berhasil mencari alasan.

“Tadi tuh kucingnya lompat ke jendela aku, telus nggak sengaja ngejatuhin pot bunga. Pecah deh akhirnya pot bunganya” Yupi menjelaskan.

“Oh gitu, bentar mamah periksa dulu” Mamahnya Yupi mendekat ke jendela itu.

DEG

“Gawat!” batin Yupi. Mamahnya melihat ke sana kemari. Tak ada apa pun dan akhirnya memutuskan untuk menutup kembali jendela itu.

“Kucingnya udah pergi kali mah” ucap Yupi.

“Huh bikin kaget aja. Yaudah, lanjutin tidur kamu ya sayang” ucap mamahnya.

“Iya, tidur dek udah malem nih” ucap kak Ve. Dan akhirnya mereka semua pergi meninggalkan Yupi sendiri di kamarnya. Yupi kemudian membuka jendela kamarnya lagi.

“Meong…” terdengar lagi suara kucing.

“Gimana?” tanya Rain.

“Fyuhhh…Untung tadi nggak ketahuan. Kamu sih, lagian ngapain coba nggak hati-hati” ucap Yupi.

“Hehe maaf. Dah, aku pulang dulu ya. Selamat tidur Sang Putri… Yupi” Rain berjalan sejenak dan…

GRR!!!

GUK!

GUK!

“Hwaa!!! Ada guguk! Lari…!!!” Rain dengan cepat berlari karena dikawasan depan seberang rumah Yupi ada *njing.

“Hahahaha….” Yupi menahan gelagak tawa.

“Selamat malam pangeran hujan…” ucap Yupi kemudian bergegas tidur. Kata-kata itu juga lah yang dibisikan Yupi pada Rain.

[FLASHBACK OF]

 

—o0o—

“Hihihi… lucu aja inget kejadin itu” Yuvia menahan tawa sambil melihat ke arah langit yang berhiaskan bintang.

“You are my moon, my sun, and all my star…

Rain…” ucap Yuvia.

“Hoamzzz… hmm… eh? Kok belom tidur? Ngapain di situ lu?” ucap Rendy terbangun sambil mengucek-ngucek matanya. Tak sadar, Yuvia melihat sebuah kalung seperti berbentuk ‘R’ di leher Rendy.

“Eh? Eng-nggak ngapa-ngapain kok.” Yuvia mencari alasan.

“Hmm… yaudah tidur sana gih. Udah malem tau” Rendy mengucek matanya lagi dan kemudian tidur kembali. Yuvia kemudian masuk kembali ke tenda.

“Bentar… Kok aku baru sadar ya daritadi tuh dia ngomongnya pake aku kamu? Kesambet apaan lagi tuh anak?” batin Rendy.

“Hi… Brrttt dah ah, merinding aku jadinya. Tidur aja lah, takut kalo dia emang bener-bener kerasukan” Rendy langsung menutup sleeping bag nya rapat-rapat dan terlelap tidur.

“Kenangan yang indah kita ukir bersama Rain. Aku kangen kamu… kamu di mana?” Yuvia terus membatin di dalam hati. Terasa kantuk sudah tak bisa lagi ditahan, akhirnya Yuvia memutuskan masuk kembali ke tenda. Menutup seluruh tubuhnya dengan jaket kemudian perlahan menutup mata.

“Tunggu… kalung yang dipakai Rendy…

apa jangan-jangan…

Rendy… apa kamu itu…

…Rain?”

-To Be Continued-

 

 

 

 

Spesial for You

“THOR… Ini kenapa banyak amat flashbacknya sih?” ‘-‘ ucap tukang sapu injukz…

“Karena THOR keinget masa lalu THOR mulu”jawab THOR.

“Emang masa lalu lu apa THOR?” tanya tukang sedot wc

“Masa lalu THOR adalah…. *drugdrudugdrudug suara marching band*

*ciu… duar! Duar suara kembang api.

“Masa lalu THOR adalah…

“Cepetan napa THOR” -_- sahut tukang masakan padang.

“Tukang sol sepatu, tukang pijet, tukang kerak telor”

-_- -_- -_-

“Pffttt… golok woy! Kang sapu! Golok cepetan” ucap kang sedot wc.

“Yaelah! Lu tau sendiri gue itu tukang sapu. Gue tegesin lagi gue itu TUKANG SAPU! GUE MANA PUNYA GOLOK!!!”

“Clurit woy kang masakan padang! Clurit” ucap kang sedot wc.

“LAU KIRA GUE TUKANG JUALAN SATE MADURA!!!”

“Elu dong!!! Kang sedot wc! Ambil piso!!!!” ucap kang masakan padang sama kang sapu injukz.

“LAU KIRA GUE PEMBANTU LO!!! LAU MAU GUE KASIH SEMBURAN TINJA!!! HAH?!?!?!” ciu! Piuw! Duar! Ctang! Tratang! Duar! Kbomzzz!

Semburan tinja WC-Man, Tameng Kapten Sapu Injuk, sama jaring-jaring gajih sapi Masakan Padang-Man bertarung dengan hebatnya.

“DIAM!!! KALIAN MEMBUATKU MARAH! RASAKAN MJOLNIRKU INI!!!”auTHOR dengan cepat memukul palu Mjolnirnya.

JDUAR!

KBOMZ!!!

BLAR!!!

BZZTTT-BZZTTT! (yang ini ledakan petir).

—o0o—

“Gimana? Film Civil War AuTHORvengernya Yup?” tanya Rendy.

“Hahaha… ngakak deh. Seru nih! Wajib nonton gais!” jawab Yuvia.

“Oh iya, katanya si THOR mau bikin part ke-1000 ya? Mana?” tanya Rain.

“Mau tahu aja atau mau tahu banget?” ucap Shani.

“Gak pengen tahu aja deh, pengennya tempe.” ucap Guntur

“Bercanda lau kagak lucu mz brew -_-“ THOR datang siap dengan mjolnirnya.

“Sorry deh THOR. Apaan sih emangnya Yup?” tanya Rio

“Ini dia…!!!

Happy Birthday auTHOR!!!

Happy Birthday auTHOR!!!

Happy Birthday! Happy Birthday! Happy Birthday auTHOR!!!”

“Yeay!!! Selamat ultah yang ke 1.400 tahun THOR! Semoga umur lau makin pendek” ucap Rendy.

“Ah iya, ma-ka… lau bilang apa tadi?” tanya THOR waspada.

“Eh, bu-bukan. Potong kuenya maksudnya THOR hehehe.”

“Oh gitu, makasih! Makasih semuanya”

“Ini THOR kuenya. Nih pisaunya buat motong” Yuvia memberikan kue itu pada THOR.

“Wish dulu THOR” ucap Rendy.

“Pertama-tama dan utama ucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga lau berdua bisa bersatu mengikuti alur absurd ‘Directions The Love and It’s Reward’ atau bisa dibilang ‘Arah Sang Cinta dan Balasannya’

Kedua, semoga gue bisa ketemu oshi gue yaitu kak Ve, Yupi, dan Okta.

Ketiga, semoga blog KOG dan jajarannya semakin maju! Fyuhh!” THOR meniup lilin yang jumlahnya ada 1.400 buah.

“Amin, dah sekarang potong kuenya THOR” Rendy sudah nampak tak sabar ingin memakan kuenya.

“Pake pisau THOR” ucap Yuvia.

“Nggak ah, enakan pake palu”

“Hyaaahhh!!!”

BZZZTT-BZZTT

JDUM!

BLAR!

JDER!

CRAT! (pikiran lau-lau pada jangan kotor -_- ini tuh suara krim kuenya yang muncrat ke mana-mana njir :v)

-The End- (Maksdunya ‘The End sketsa absurnya’ njir :v)

“HL? AD BBQ G D ST?”

Ha El gais. Tadi adalah part 1000 dari cerbung ini gais ^^ Yah berhubung THOR ultahnya di bulan puasa, jadi… semoga yang laki-laki juga pada menstruasi biar pada ngganti puasa hehe. Nggak deng, maksudnya yang menjalankan puasa semoga amal ibadahnya diterima dan kuat buat 1 bulan penuh puasanya *Amin*

Oke gini, gini tuh ya gimana ya. Yaudah, gitu. Gitu ya… gitu lah pokoknya. Okelah maksudnya begono, THOR ultahnya itu di tanggal 12 Juni, lau bisa bilang kemaren itu. Dan pas banget ‘Direct Von Mangkeling Van Ki Kempot’ ini update’nya di part 12. Tanggal 12, update’an ke-12. Hmmm… ada kemistry di sini yak. Mungkin balon-balon di twitter THOR sekarang udah ilang T.T L tapi gapapa. Thanks juga buat admin KOG dan para viewers yang mau mampir ngebersihin debu di cerbung ini. Yang mau ngucapin (emang ada yang mau ngucapin?) ya bisa langsung menson ke twitter THOR  di bawah langit atas bumi ini. Oh iya, saran, kritikan, masukan, atau apalah terserah perlu asupan. Tapi please jangan bikin ribut di blog orang 🙂

Bye~ salam #JustKiding #JustLikeTheRain #PriaPenyukaHujan

—~o0o~—

AuTHORized by         : Reza atau Rendy atau Aldo atau apalah lau manggil eug.

Twitter                        : @Rendyan_Aldo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

14 tanggapan untuk ““Directions The Love and It’s Reward” Part 12

  1. wihhh mantab thor scene digigit serigala nya udah dimasukin nah tinggal jatuh ke jurang sama dicolong tarzan nya nih yg belum :v lanjut terus thorr !! update nya

    Suka

  2. wihhh mantab thor scene digigit serigala nya udah dimasukin, nah tinggal nunggu yang jatuh ke jurang sama dicolong tarzan nih, btw gantian si yupi dong thor yg nyelametin si rendy ,masa si rendy terus yg nyelametin si yupi kan kesan nya jadi kaya si yupi itu pembawa sial :v
    btw lanjut terus thor update nya!!

    Suka

    1. Nggak deh, dua scene itu nggak masuk akal -_- 🔨
      Kalo masalah Yupi yg nyelametin Rendy… Hmm.. Mungkin bisa lah diatur ulang. Gampanglah, btw thanks udah mampir… Ayah~
      Tapi lu ayah gue beneran apa bukan sih? Ayah! Jangan seret aku kembali ke Asgar 😭

      Suka

  3. THOR, kok lu malah di sini? Tuh dipanggil ayah suruh balik ke Asgard :v
    Btw, trus berkarya yak. Penasaran gw ama lanjutannya :v

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s