CIUMAN KU BUKAN UNTUK ANAK KECIL

~ MELODY POV ~

Hari ini adalah 14 Februari. Nggak ada yang salah dengan tanggal itu.

“Ayolah itu ?” kata Ve gemas. “Ha,,,habis, pasti dia akan menolakku sih,”kataku, yakin. “,Melody bagaimana kau tahu kalau kau tidak pernah mencobanya?” sahut Kinal, tak kalah gemas.

“Pokoknya aku tidak jadi memberinya coklat. Pasti dia sudah menerimanya dari banyak cewek,” kataku.

“ Hei, mana ada cewek yang mau memberikan coklat pada cowok berandal itu,” balas Kinal.

“Nall,,,! Dia itu bukan berandal. Dia hanya sedikit suka berantem,” kilahku.

“ Sedikit!? Dia menghabisi 19 orang dalam 1 hari, kau bilang hanya sedikit suka berantem?” pekik Kinal kesal.

“Sudahlah, tak ada salahnyakan kalau Melody menyukai cowok itu,”kata Ve. “ Vee…,” aku memeluk teman itu.

“ Sudah-sudah,” Ve mengelus kepalaku lembut.

“Iya,memang tidak ada salahnya, kalau begitu,berikan coklat itu padanya,” tiba-tiba Kinal mendorongku.

“Uwa,” aku menutup mataku, pasrah. Tapi sesaat sebelum aku benar-benar terjatuh, seseorang menangkapku.

“kau baik-baik saja??” Tanya orang itu.

“oh,,ya terima kasih…” saat aku menengo untuk melihat penyelamatku, ternyata itu Willy!

“Ma,,,maaf” aku langsung berdiri tegak di depannya. Bahkan saat aku satu tangga di depannya, dia masih lebih tinggi dibandingkan aku.

“ A,,,aku tahu ini mengganggu. Tapi, maukah kau menerima coklat ini?” kataku gugup.

“ maaf kata Willy. Uh, sudah kuduga.

“Aku tak bisa menerima coklat dari anak kecil,” lanjutnya. Aku semakin menunduk.

“Aku Melody Laksani, kita sekelas,”kataku.

”Maaf”, kataku lagi dan aku langsung berbalik dan pergi. Uh, dia bahkan tidak mengenalku.

Hh, aku menghela nafas panjang. “Dunia memang tidak adil!” teriakku.

Kinal masih tertawa karena penolakan willy tadi. Sedangkan Ve mati-matian menahan tawa.

“ Sudahlah Mel, bukan salahmu kalau dia tidak tahu,” kata Ve.

“ Ya, bukan salahmu kalau dia begitu tinggi dan kamu begitu pendek,” lanjut Kinal, kemudian dia kembali tertawa.

“ Hei, kembali ke kelas saja yuk, bel sudah berbunyi lho,” Ve mengalihkan topik.

“Aku tidak mau masuk kelas, aku bolos saja,” kataku.

“Iya deh, jangan terlalu bersedih ya,” Kinal mengacak_acak rambutku.

“ Kinall…! Pekikku sebal.

~~~~

Saat aku sedang mengelilingi taman, aku melihat dua sosok cowok yang sedang memanjat pagar.  Wah, mereka mau bolos.

Saat aku lihat lebih dekat ternyata itu WILLY dan SHANJI, temannya. Aduh, aku ingin sekali ikut, tapi nanti kalau ketahuan bagaimana ?

Akhirnya aku memutuskan untuk ikut, karena aku sudah tidak bisa kembali ke kelas. Mau kemana yah mereka? Pikirku.

Ternyata mereka menemui seorang anak SMP. Kalau tidak salah, namanya DENDHI.

Tiga orang itu; WILLY, SHANJI, dan DENDHI, terkenal sebagai tiga sekawan angina puyuh.

Mereka dikenal sebagia berandal paling kuat di JAKARTA, Apa mereka akan berantem lagi hari ini? Pikirku. Sudahlah, ikuti saja.

Ternyata mereka memang berantem. Wah, lawan mereka banyak sekali. Ada sekitar 30 orang. Bagaimana mereka menghadapinya? Aku panik sekali. Padahal ini tak ada hubungannya denganku.

Tapi setelah beberapa saat, Willy dan dua temannya beradah di atas angin. Walaupun dikeroyok, mereka masih bisa menghadapi orang-orang itu.

Tiba-tiba ada seseorang yang menyerang dari belakang Willy. Willy tidak tahu, dan tanpa aku sadari, aku melompat kea rah Willy dan melindunginya.

“Jangan!” pekikku. Kayu yang sudah di ayunkan oleh orang itu tak mungkin berhenti. Kayu itu menghantam kepalaku keras.

Ugh, rasanya kepalaku pusing, dan dunia menjadi gelap.

“…Melody…Melody Laksani…” Panggil seseorang. Aku membuka mataku perlahan, kepalaku pusing banget.

“Dimana ini? Tanyaku. “Santai saja dulu. Tadi kamu di pukul sama anak SMA bhakti,” kata seseorang. Aku memperjelas pandanganku, ternyata itu Dendhi.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Shanji.

“ Mana ada gadis bodoh yang melompat ke tengah-tengah pertarungan?” kata Willy.

“Padahal waktu Melody pingsan, Willy panik loh,” bisik Dendhi.

“ Kau tidak perlu memberitahukan hal itu pada dia kan?” kata Willy kesal.

“Kami mau ke café the dekat sini, kau mau ikut? Ajak Dendhi. Apa perlu mengajak dia? Kata Willy sinis. “Jangan perdulikan omongan Willy,” kata Shanji melihat wajahku.

“Boleh aku ikut? Tanyaku ragu.

“Ikut aja yuk,” Dendhi menarik tanganku.

~~~

Kami masuk ke dalam café yang di maksud  Dendhi, dan menujuh ke salah satu meja.

“Wah, siapa dia Den? Hati-hati nanti Naomi marah loh,” kata seseorang.

“ Dia bukan cewekku, tapi ceweknya Willy,” balas Dendhi.

“Bu..bukan, aku hanya temannya Willy,” sangkalku.

“Melody, tidak boleh begitu. Kamu harus percaya diri,” kata Dendhi menyemangati.

Kami duduk di salah satu meja. “semua sudah mengenal kalian ya? Tanyaku.

“Kami sering keseni,” jawab Shanji.

“Shanji..!” Panggil seseorang. “Shani sini! Balas Shanji. Cewek itu duduk di sebelah Shanji, dan Shanji membisikan sesuatu ke cewek itu. “Salam kenal, namaku Shani,aku pacarnya Shanji,” Shani mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya.

“Aku,” “Aku tahu, MELODY kan? Pacarnya Willy,” potong Shani. Wajahku memerah.

“Bukan, aku hanya temannya Willy,” sangkalku.

“kenapa menyangkal begitu sih,” goda Shani

Karena aku memang bukan pacarnya, balasku dalam hati.

“Eh, setelah Naomi datang, kami akan janal-jalan ke taman ria. Saat orang belajar, taman ria pasti sepi. Mau ikut?” bisik Shani.

“Apa boleh?” tanyaku.

“Tentu saja, iyakan Nji?” Tanya Shani.

“Eh, apa? Shanji balik bertanya.

“Bolehkan kalau Melody ikut kita?” Tanya Shani.

“Kalau aku sih mengizinkan saja,” jawab Shanji.

“ Iya, kenapa tidak. Naomi pasti setuju juga,” kata Dendhi. Dan Willy hanya diam saja.

Dan tak lama kemudian aku melihat ada seorang cewek yang menuju ke meja kami, dan menurutku itu adalah Naomi yang di bilang Shani tadi.

“Hai,” sapa cewek tersebut.

“Cewek itu cantik sekali” Kataku dalam hati

“Kalian sudah siap? Tanya Naomi.

“Wah, siapa cewek ini? Tanya Naomi sambil melihat saya

“Melody,” aku mengulurkan tangan.

“Aku Naomi, senang bertemu denganmu,” balas Naomi.

“Pacarnya Willy ya?” tebak Naomi

Aku menggeleng keras. “ Teman,” kataku.

“Oh,” Naomi hanya tersenyum.

“Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?” Tanya Dendhi. Dia melihat ke arah jam tangannya.

“Yuk, aku juga sudah tidak sabar,” sahut Shani

“Benar aku boleh ikut?” Tanyaku ragu. “ tentu saja boleh, kenapa tidak?” kata Shani

“Ikut saja” kata Naomi. Akhirnya aku ikut mereka ke taman bermain.

~~~

Di taman bermain kami menaiki berbagai wahana permainan.

“Sudah lama aku tidak main itu,” kata Shanji. Kami baru saja naik roller coaster.

“Dan aku bersumpah aku ngga akan menaikinya untuk kedua kalinya,” kata Willy

“Ah, kamu lemah banget sih Willy,”ledek Shanji

“Jangan meledekku,” kata willy jengkel

“Bagaimana istirahat dulu,” usulku.

Shanji dan Dendhi sambil melempar pandangan nakal, aku merasa ada yang aneh dengan sikap mereka tapi Ah, sudahlah aku tak ambil pusing.

“Aku dan Shani mau naik wahana lain,” kata Shani

“Aku juga mau main lagi,” kata Dendhi. “ Kalian istirahat saja dulu,” kata Naomi

Aku mulai mengerti apa yang direncanakan Dendhi dan Shanji.

“Ta..tapi,” belum sempat aku tolak, mereka sudah pergi.

“Biar saja,”kata Willy

Dia langsung duduk lemas di salah satu bangku. Dia menengadakan kepalanya dan memejamkan matanya. “Aku memang tidak bisa naik wahana itu,” gumamnya.

“Tunggu sebentar ya,” aku langsung pergi tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.

~~~

Aku membelikannya minuman kaleng. Saat sedang berjalan,aku tidak melihat sekeliling dan menabrak seseorang. Aduh,aku pasti jatuh, memalukan pikirku.

“Hup,” tiba-tiba Willy sudah ada di sebelahku dan menangkapku.  “Kau ini hobi sekali jatuh sih,”katanya.

“Ma..maaf,” kataku.

Habis dengan tinggiku yang hanya 153 cm, orang-orang pasti mengabaikanku.

“Kau masih pusing? Ini,” aku menyodorkan minuman kaleng yang sudah aku beli.

“Bagaimana kamu tahu aku suka minuman ini? Tanya Willy.

“Aku sering melihatmu meminumnya saat pulang sekolah,”jawabku

“Biasanya aku sering meminumnya di stasiun. Memangnya di mana rumahmu?” Tanya Willy.

“Perfektur C” Jawabku singkat

“Bukannya kalau melewati stasiun jalannya memutar?” Tanya Willy, heran.

“ A,,,aku bukanya mengikutimu, tapi,” aku terdiam dan menunduk, Huwaa malunya kataku dengan suara pelan.

Willy tertawa kecil. “ Aku tidak menuduhmu  melakukannya, kenapa berkata begitu?” katanya.

“Ja…jahat! Kataku kesal.

“ Habis, kenapa kau menyangkal seperti itu sih?” dia masih tertawa

“Lihat, sampai-sampai kupingmu memerah tuh,” godanya.

“Jangan tertawa! Pekikku.

“Cewek itu manis kalau malu-malu seperti itu,” kata Willy.  Aku menoleh, wajahnya terlihat serius.

“Ayo, kita main lagi,” ajaknya.  Rugikan kalau sudah bayar tiket mahal-mahal hanya untuk duduk diam saja,” katanya.  Aku mengangguk.

“Mau main apa?” tanyaku.  Willy menunjuk salah satu wahana yang berhubungan dengan ketinggian.

“Kenapa?” Tanya Willy

“Aku takut ketinggian,” jawabku

“Loh, kalau kau main yang seperti itu, siapa tahu penyakitmu bisa sembuh” kata Willy

“Pokoknya ngga!” tolakku.

“Ya,sudah. Bagaimana kalau yang itu?” Willy menunjuk rumah hantu.

Aku menggeleng cepat, “Aku takut” kataku.

“Apa sih yang tidak kau takuti? Tanya Willy jengkel

“ Bagaimana kalau kau masuk saja sendiri” kataku, takut dibenci oleh Willy.

“Heh? Lalu kau hanya menunggu?” Tanya Willy,  Aku mengangguk.

“Bagaimana kau ini, ikut masuk saja bersamaku” ajak Willy

“Tapi,tapi” aku masih menolak

“Aku akan mejagamu” kata Willy, lalu dia menarik tanganku karena aku hanya diam.  Uwaa,aku bisa mati kalau Willy mengatakannya lagi, pikirku.

~~~

“Kyaa!!!” pekikku takut.  Belum 5 menit kami berjalan, tapi rasanya sudah  setahun kami berada di dalam rumah hantu ini.

“Kamu ini, kecil-kecil suaranya keras yaa” kata Willy sambil menutup kupingnya.

“Habis..habis, mengerikan sekali sih” kataku.  Wajahku benar-benar pucat.

“Kan sudah kubilang, aku akan menjagamu”Willy mengatakan sambil mengacak-acak rambutku.   Uwa, dia benar-benar menganggapku anak kecil.

Baru selangka kami jalan, tiba-tiba muncul setan dari sumur buatan disebelah kami, Setan itu meraba-raba kakiku.

“Hi, Willy…” pangilku lirih

“Ada apa Mel?” katanya menoleh

“Mu…muncul…muncul”kataku, saking paniknya aku tidak bisa berkata dengan benar.

“Apanya yang muncul?” Tanya Willy, tidak mengerti

“Se..se..se” aku tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun.

Tiba-tiba setan itu mengejutkanku. “Bha!!” teriak orang yang berpura-pura menjadi setan itu. Karena saking shocknya, aku sampai tidak dapat berteriak, tubuhku langsung lemas.

 

~ WILLY POV ~

 

“Gubrak! Melody pingsan karena ketakutan.  “mel..mel? panggilku panik, Aku menggendongnya.

“Maaf, pintu keluar daruratnya di mana ya? Tanyaku pada orang yang berpura-pura menjadi setan itu

“Di..di sini, maaf aku tidak menyangka akan seperti ini” kata orang itu menyesal

“Tidak apa-apa, ini salahku yang memaksanya masuk. Permisi” aku bergegas keluar melalui pintu darurat.Aku mencari-cari bangku panjang dan menidurkan Melody di bangku itu.

~~~

 

 

~ MELODY POV ~

“Uh…” keluhku sambil memegang kepalaku yang sakit. Ini kedua kalinya aku pingsan

“ Kau tidak apa-apa? Tanya Naomi

“Loh, di mana ini?” tanyaku

“Ruang kesehatan taman ria, Aku beri tahu Willy yah kalau kau sudah siuman” kata Naomi sambil keluar ruangan.  Aku mendengar ada yang melangkah mendekat.

“Uh, dia itu sering sekali pingsan sih?” suara itu, Willy.

“Iya,membuatmu panik ya Willy” lalu, itu pasti suara Shanji

“Ini serius,Shanji. Dia itu tipe wanita yang menyusahka” kata Willy

Brukk! Aku terjatuh lemas, Ternyata aku menyusahkan, aku menunduk. Baik aku tidak akan menyusahkan lagi, aku melihat kearah jendela yang ada di ruangan itu.

“Baiklah aku akan pergi” kataku, membulatkan tekat. Aku melompat dari jendela kemudian aku berlari jauh entah kemana.

Tiba-tiba hujan turun. Aku langsung basah kuyup, aku berhenti di sebuah taman kemudian duduk di sebuah ayunan.

“Hik, ternyata aku hanya menyusahkan Willy saja” gumamku. Air mataku mengalir deras, sederas hujan yang turun. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang.

“Kau benar-benar menyusahkan” katanya

“Willy” aku langsung berbali.  “Iya, Aku ini menyusahkan, seperti yang kau bilang pada Shanji” kataku

“Kau” Willy memandangku.  “Kau ini kalau mau nguping dengarkan sampai akhir, bodoh! Bentak Willy.

~~~

~ WILLY POV ~

Flashback~

“Uh, dia itu sering sekali pingsan sih? Kataku saat aku keruangan tempat Melody tidur.

“Iya, membuatmu panic ya, Willy” ledek Shanji, wajaku memerah

“Ini serius Willy, dia itu tipe wanita yang menyusahkan” balasku

“Iya, tapi tipe wanita yang kamu sukai juga kan? Shanji tetap meledek.  Wajaku benar-benar memerah

“Wah, ternyata benar berarti diantara tiga sekawan angina puyuh, tidak akan ada yang tidak punya pacar lagi ya” kata Shanji

“Apaan itu?” elakku. Aku membuka pintu, Ternyata Melody tidak ada di ruangan itu.

“Jangan-jangan dia mendengar saat kau katakan dia itu menyusahkan” tebak Shanji

“Dasar bodoh! Aku memukul dinding.

 

Flashback off

 

~~~

~ MELODY POV ~

Ternyata begitu pikirku.  “ Makanya, kau dengarkan sampai selesai dong” kata Willy kesal

“Jadi, kau juga suka padaku?” tanyak berharap

“Kau sedah tahu jawabannya kan? Kata Willy malu

Pandangan kami bertemu, dia mendekatkan wajahnya. Uwa, apa kami akan berciuman dibawah hujan deras seperti ini?

“Haattcchiieeemmmmm” Willy memalingkan wajahnya

“Willy? Makanya jangan hujan-hujanan seperti ini” aku langsung mengajaknya berteduh

“Memangnya salah siapa aku hujan-hujanan seperti ini? Gerutu Willy

“Iya, maaf..maaf” kataku menyesal.

Kami berteduh dibawah perosotan berbentuk penguin yang biasa dimainkan akan TK.

“Katanya, kalau flu ditularkan dengan ciuman akan cepat sembuh loh” ledekku

“Maaf, aku tidak berciuman dengan anak kecil” Willy balas meledek

“Kauu jahat, akukan sudah 17 tahun, sama sepertimu” aku memalingkan wajah, mengambek

“Hey kau, masa gitu aja kamu ngambek sih?” kata Willy

“Biar, pokoknya aku…” kata-kataku terhenti karena bibir Willy sudah mendarat di bibirku. Dingin.

 

THE END

 

 

 

Setelah sekian lama akhirnya selesai juga nih Ff.

Thanks buat yang udah sempetin baca Ff saya ini.

Sorry yah kalau jelek, soalnya saya belum perna nulis cerpen atau cerbung sebelumnya dan ini menjadi cerpen pertama saya.

Masukan dan Saran dari kalian sangat di harapkan.

 

Yang mau gabung di grup Blacklist author bisa add Id Line di bawah ini, Di grup itu kita bisa sharing-sharing tentang ff JKT48, belajar bikin Ff dan kolaborasi juga.

 

Id Line : altrikawahongan

BBM ; 5E80BBEA

Iklan

5 tanggapan untuk “CIUMAN KU BUKAN UNTUK ANAK KECIL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s