My First Ramadhan

Pagi hari buta seorang pemuda terbangun dari atas ranjang empuknya, pemuda itu mulai keluar rumah untuk membeli bahan makanan di pasar yg letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Pemuda itu adalah seorang pedagang makanan cepat saji yg di jualnya di sekolahan-sekolahan tingkat atas, pemuda itu membeli bahan makanan sesuai keperluannya, dengan uang yg sangat pas-pasan pemuda itu mendapatkan barang yg di butuhkannya.

Setelah pulang dari pasar, langit sudah berubah menjadi terang benderan dan jam sudah menunjukan waktu pukul 7 set pagi, beberapa jam bergelut di pasar tradisional dekat tempat tinggalnya. Pemuda itu langsung mencuci semua barang dagangannya, contohnya saja daging babi, anjing dan setengah kilo daging sapi, memang tidak hallal rasanya jika ada daging dari hewan najis dan haram seperti itu di campur dengan daging hewan hallal, tapi mau apa dikata lagi.

 

Pemuda itu juga non muslim dan uang buat beli barang kebutuhan juga tidak cukup memadai, makanya untuk menekan kerugian yg akan di terimanya pemuda itu mengoplos daging hewan-hewan itu menjadi satu. Setelah semua bersih, sayur-sayuran lalu di potong-potongnya menjadi berbagai bagian dan semua daging itu di gilingnya menjadi satu dan di campur dengan beberapa bahan pembuat bola bakso.

 

Setelah semuanya siap! Dan dirinya juga udah rapi untuk berjualan di sekolah-sekoahan, setibanya di depan gerbang sekolahan banyak anak-anak SMA yg sudah menunggu kedatangannya untuk memesan baso buatnya yg terkenal enak di antara pedagang kaki lima lainnya.

 

“Iya sebentar-sebentar..” Ucapnya sesekali, saat tengah kualahan melayani para pembeli baksonya yg slalu bertambah, saat satu pelanggan satu tlah selesai makan bakso buatannya.

 

Dari kejauhan seorang laki-laki paruh baya, yg memakai baju preman datang dengan mengendap-endap ke arahnya, pemuda yg jualan itu curiga dengan tingkah laku preman yg mengendap-endap di belakanng para pembelinya.

 

“Angkat tangan! Kamu kami tahan karena Kamu sudah mencurangi barang dagangmu itu dengan daging oplosan,” Sontak para pembeli baksonya itu kaget begitu juga dengan dirinya, pemuda itu mengangkat tanganya dan di letakan di atas kepalanya.

 

“Berbalik badan sekarang!” Ucap preman yg menodongkan senjatanya ke pemuda yg kita kenal sebagai Rizky Abdul Hamid, biasa di panggil kepeng sama teman-teman sesama pkl. Kedua tangannya Rizky di borgol oleh preman yg ternyata seorang intel polisi itu.

Rizky di masukan kedalam mobil patrol polisi, pemuda yg hiduo sebatang kara itu di bekuk oleh jajaran intel polisi gara-gara ada masyarakat yg resah akibat dari penjual bakso yg di oplos dengan daging celeng atau daging anjing. Sebelum bulan yg sangat suci datang alias bulan ramadhan, perwira polisi membentuk tim-tim kecil untuk membekuk pedagang yg ketahuan curang dengan dagangannya. Dan salah satu target dari oprasi mereka adalah menyelidik seorang pemuda bernama Rizky Abdul Hamid, pemuda yg terkenal enak akan dagangan yg di jualnya itu.

 

“Kenapa aku harus bernasip sial seperti ini sih.” Ucapnya dalam hati, sesekali memijat orang-orang yg di kenal senior di dalam jeruji besi itu.

 

Beberapa bulan telah berlalu dan rizky sudah di bebaskan oleh pihak polisi karena sudah membayar denda yg cukup besar nominalnya, bagaimana tidak, rizky harus menanggung semua kerugian yg di derita oleh pelangan-pelangannya dan negara. Rizky di bebaskan pas bertepatan dengan hari awal puasa ramadhan.

 

Kruyuk!! Suara perutnya mulai meronta-ronta untuk di isi dengan makanan,

 

“Aduh! Lapar pula, uangku juga habis lagi, apa aku ngejambret saja ya!” Pikir Rizky dalam hati melihat seorang ibu-ibu bawa tas di jinjing di tangan kananya.

 

“Ah jangan deh, aku udah nggak mau lagi masuk kedalam penjara, nggak enak banget!” Ucapnya lagi, sambil menahan perutnya dengan kedua tangannya.

 

Dari kejauhan seorang wanita sholeh berhijab melihat seorang pemuda dengan baju yg compang-camping sedang menahan tangannya. Perempuan itu berinisiatif untuk mendatangi pemuda yg tengah terduduk lesu di pinggir trotoar.

 

“Kenapa kamu mas? Kamu lapar?,” Tanya perempuan misterius yg menghampiri cowok yg terduduk di atas trotoar itu.

 

“Iya saya lapar, saya butuh makan dari tadi pagi saya belum makan.” Ucapnya.

 

“Tahan sebentar ya, sebentar lagi mau adzan nih, mari kita ngumpul bareng sama anak-anak di sana.” Ucap cewek itu sambil menyuruh cowok di depannya itu berjalan kearah anak-anak pesantren tengah membaca sebuah buku yg tulisanya arab, yg nggak tau berpikiran buku apa yg bertuliskan arab seperti itu. Ya itulah kitab suci al quranmul kharim, kitab suci bagi umat islam di dunia.

 

Dug!!

 

Dug!!

 

Dugg!!

 

Suara bedug di pukul pertanda orang-orang yg ada di depannya rizky mulai memakan dan meminum, minuman yg ada di depan mereka masing-masing, pemuda itu mulai ikut makan dan minum dengan mereka semua, cewek yg mengajaknya makan itu melihat cowok itu terus-terusan, alangkah terkejutnya cewek itu dengan cowok yg ada di depannya berdoa dengan cara kanan-kiri-tengah-atas menggunakan tangan kanannya.

 

“Kamu non muslim ya?” Tanya cewek di depannya secara tiba-tiba.

 

“Iya, aku non musim,” Balasnya, sambil menghentikan makannya.

 

“Oh gitu rupanya, lanjutkan saja makan kamu,” kata cewek itu sambil pergi dari hadapannya. Cewek itu mulai bercerita dengan sang ayah tentang cowok yg tadi di ajaknya berbuka puasa bersama dengan santri-santri lainnya.

 

“Kamu jangan gitu sama orang yg kamu maksut itu, biar pun dia tidak muslim, tapi memberi makan orang yg sedang kelaparan juga sebagian dari ibadah kita terhadap orang fakir miskin seperti itu.” Ucap sang kyai.

 

“Baik ayah, maafin tingkah laku okta tadi yah!” Ucap cewek yg bernama okta itu.

 

“Sehabis sholat maghrib ayah pengen ketemu dengan cowok yg kamu maksut tadi!”

 

“Baik yah, nanti saya panggilkan cowok itu.” balas Okta sambil pergi dari hadapan ayahnya sendiri.

 

Setelah mereka selesai berbuka puasa, mereka semua langsung sholat maghrib di masjid, rizky memperhatikan cara orang-orang muslim menyembah tuhan mereka dengan cara aneh seperti itu.

 

“Beda banget dengan tuhanku, aku menyembah tuhanku dengan jelas, lah sedangkan mereka tidak ada yg di sembah.” Kata Rizky dalam hati, memperhatikan orang-orang yg memakai baju serba putih dan songket(peci) di atas kepala.

 

“Nama kamu siapa nak?” Tanya bapak-bapak paruh baya, yg baru saja keluar dari masjid.

 

“Nama saya Rizky Abdul Hamid,” Ucapnya.

 

“Kalau boleh bapak tau, kamu bukan orang sini ya?” Bapak paruh baya itu duduk di sebelah seorang pemuda yg terlihat lusuh dengan baju compang-campingnya.

 

“Iya pak, saya bukan penduduk sini, saya dari jakarta yg kebetulan saya baru di bebaskan dari penjara.” Katanya.

 

“Hah! Penjara!”

 

“Iya pak, saya pernah di penjara gara-gara saya curang dalam hal berdagang..” Cowok itu menceritakan tentang kehidupannya ke orang yg baru dia kenalinya itu.

 

“Oh gitu rupanya..” Bapak itu sambil menepuk-nepuk pundak cowok itu.

 

“Iya pak, apa saya masih bisa bertaubat pak, saya banyak dosa!” Cowok itu mulai menunduk.

 

“Kamu masih bisa bertaubat anak ku, agama yg saya anut itu masih menerima orang seperti kamu ini. Agama bapak Rahmatanlilallamin, allah tidak beranak mau pun di peranakan.” Ucap Bapak itu sambil bangun dari dirinya.

 

“Saya pengen mencoba untuk belajar tentang agama yg bapak anut boleh?” Ucap Rizky secara tiba-tiba.

 

“Apa kamu yakin?”

 

“Iya saya yakin pak, sepertinya agama yg bapak anut itu mudah dan menyenangkan,”

 

“Baik, kalau mau kamu begitu, ikuti kalimat saya ini….” Bapak tua itu membacakan kalimat syahadat ke Rizky, Cowok di depan bapak tua itu langsung mengikuti ucapan dari orang yg ada di depannya itu.

 

“Kamu sudah membaca kalimat syahadat, berarti kamu sudah menjadi bagian dari kami semua.” Kata Bapak Tua sambil mengelus-elus rambutnya Rizky.

 

Dari kejauhan seorang perempuan tersenyum manis melihat cowok yg tadi sore di bawanya ke masjid itu.

 

“Alhamdulilah, orang itu sudah di islamkan oleh bapak,” Ucap Cewek itu dalam hati sambil berjalan kearah rumahnya.

 

Beberapa minggu telah berlalu semenjak Rizky Abdul Hamid benar-benar masuk islam, sekarang Rizky mengabdikan dirinya menjadi marboot masjid, banyak cacian dan pujian dari orang-orang sekitar pondok pesantren tempat Rizky mengabdikan dirinya. Rizky sangat senang jika ada orang yg suka kepada dirinya, beberapa hari lagi Rizky memutuskan untuk ijin keluar dari pesantren agar bisa mencari pelajaran hidup di masyarakat.

The ends….

 

Creater by:@lastwota

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s