Alter Ego and Me part 2

 

sp“Eh kamu?” ucap Shani kaget.

“Hai Shan,” ucapku sambil tersenyum.

“Radika kan?” ucap Shani sambil memiringkan kepalanya.

“Kalian udah saling kenal?” tanya Gre.

“Hehe iya Gre, kemaren aku ga sengaja nabrak dia pas mau ke kelas” kataku tertawa kecil

“Kok aku gatau?” ucap Gre memicingkan matanya.

“Kan kamu sama Viny bilang mau ke toilet dulu-_-” ucapku memasang wajah datar.

“Oiya aku lupa hehe,” ucap Gre yang nyengir tanpa dosa.

“Kalian ga pesen?” tanya Shani.

“Oiya ke asikan ngobrol jadi lupa pesen deh hehe,” ucap Gre nyengir seperti biasanya.

Shani pun melambaikan tangan ke pelayan restoran, seorang pelayan pun datang dengan membawa menu restoran tersebut.

“Radika kamu mau pesen apa?” tanya Gre kepadaku.

“Aku samain kaya kamu aja Gre,” kataku.

“Oke deh. Mbak nasi goreng seafood 2 sama minumnya milkshake strawberry 2 juga,” ucap Gre kepada pelayan restoran.

“Ada lagi yang mau di tambah?” tanya pelayan itu kepada Gre

“Udah itu aja,” ucap Gre singkat

“Saya ulang ya, nasi goreng seafood 2 milkshake strawberrynya 2. Mohon di tunggu,”

Gre dan Shani pun kembali mengobrol, sedangkan aku mengambil hpku dan membuka aplikasi game. Ketika bermain game tiba tiba ada notif line dari kak Melody, ku abaikan saja dan kembali bermain tetapi notif itu terus-terusan muncul. Akhirnya aku menyerah dan membukanya.

“Dek…,”

“Dek…,”

“Dek…,”

“Dek…,”

Itulah isi chat dari kak Melody, karena kasihan aku pun membalasnya.

“Kenapa sih kak?”

“Kamu di mana kok belom pulang?”

“Aku lagi makan kak.”

“Beliin kakak ifu mie dong adek ku yang ganteng, pinter, dan rajin menabung.”

“Giliran ada maunya aja di puji-puji, Iya iya aku beliin.”

“Yeaay makasih dek.”

Aku pun hanya me read line terakhir dari kak Melody. Pesanan kami akhirnya datang, karna lapar aku pun langsung memakan makanan itu tetapi rasanya ada yang aneh, perutku tiba-tiba mual dan ingin muntah.

“Kamu kenapa?” tanya Gre kepadaku.

“Tadi kamu pesen apa Gre?” tanyaku.

“Nasi goreng seafood” ujar Gre

“Ada udangnya ga?” tanyaku lagi.

“Kyanya ada, namanya juga seafood” ucap Gre.

Ucapan Gre tersebut membuat aku kaget dan berlari ke toilet, ya aku memang dari kecil alergi oleh udang, mencium baunya aja udah pengen muntah duluan apalagi di makan.

 

Author Pov

 

Tiba-tiba setelah mendengar bahwa nasi goreng itu ada udangnya, Radika berlari ke toilet dengan kecepatan yang bisa di bilang mengalahkan Flash. Gre dan Shani yang melihat kejadian tersebut pun heran hanya karna udang Radika bisa berlari seperti itu.

“Radika kenapa Gre?” tanya Shani.

“Aku juga gatau shan, apa jangan-jangan…,” ucap Gre menggantungkan kalimatnya.

“Jangan-jangan apa?” tanya Shani penasaran.

“Jangan-jangan dia alergi udang Shan. Aduh gimana nih Shan, nanti dia marah lagi sama aku” ucap Gre khawatir.

“Yaudah, mendingan kita samperin aja” usul Shani.

“Yaudah yuk” jawab Gre.

Mereka berdua pun berjalan menuju ke toilet dan begitu sampai mereka langsung mengetuk-ngetuk pintunya.

“Radika kamu gapapa?” tanya Gre cemas.

“Radika? Siapa tuh? gue ucup, salah orang kali mbak,” ujar orang dari dalam toilet.

“Lah terus dia kemana? Kan toilet cowok ini doang,” ujar Gre.

“Jangan-jangan dia masuk toilet perempuan Gre,” ucap Shani.

Dari dalam toilet perempuan keluar sesosok laki-laki dengan wajah yang pucat, sontak Shani dan Gre pun kaget dan berteriak.

“Setan!!” ujar Gre.

“Kuntilanak rambut pendek!!” ucap Shani.

Entah ada angin apa mereka menyebut orang itu kuntilanak, jelas-jelas itu laki-laki. Mereka berdua menutup mata mereka, karena takut mereka menggampar hantu tersebut dan menendang selangkangan hantu tersebut sekuat tenaga.

“Aduh…,” ucap hantu yang ternyata manusia.

“Eh kok hantu bisa di pukul ya?” ujar Shani heran.

“Eh iya juga ya,” ucap Gre yang tidak kalah herannya.

Dan yang di pukul hanya memegang selangkangannya yang nyut-nyutan dan seketika dia tak sadarkan diri, sebut saja pingsan.

“Radika?” ucap mereka berbarengan.

Mereka kaget ternyata orang yang mereka duga hantu ternyata adalah Radika, sedangkan orangnya sedang terkapar tak bernyawa di lantai.

“Gre gimana nih?” tanya Shani panik.

“Gatau Shan,” ucap Gre yang sama-sama panik.

Mereka pun mencoba membangunkan Radika yang pingsan dengan berbagai cara mulai dari di jewer di cubit pipinya dan lain sebagainya.

“Aku punya ide Shan,” ujar Gre.

“Apaan Gre?” tanya Shani.

“Gimana kalo kita kelitikin aja, siapa tau dia bangun,” ucap Gre mengeluarkan senyum iblisnya.

“Bisa di coba tuh hihi,” ucap Shani mengeluarkan senyum yang tidak kalah dari Gre.

Mereka menggelitik Radika yang tergeletak tak bernyawa itu. Pertama tama pelan lama kelamaan semakin buas, dan akhirnya Radika pun sadarkan diri.

“HUAHAHAHAHAH udah dong ngelitikinnya aku udah bangun… HUAHAHAHA,” ucap Radika yang tertawa tidak berenti-berenti.

Shani dan Gre akhirnya menghentikan aktivitas menggelitikinya, walau sepertinya dari raut wajahnya mereka tampak kecewa karna harus menghentikan kesenangan mereka.

“Rad kamu gapapa?” tanya Gre agak khawatir.

“Eh udah gapapa kok cuman muntah sedikit aja tadi hehe” ucap Radika yang nyengir kaya kuda balap.

“Maafin aku ya aku gatau kalo kamu ga suka udang dan maaf tadi aku udah nendang sumber kehidupan kamu,” ucap Gre yang tampak sangat bersalah.

“Aku juga minta maaf ya Rad,” ujar Shani.

“Iya gapapa Shan, Gre,” ucap Radika sambil tersenyum.

“Pulang yuk udah malem, Shani takut di marahin mama,” ucap Shani.

“Kamu pulang sama siapa Shan?” tanya Radika.

“Sendiri sih emangnya kenapa?” tanya Shani.

“Bareng aja yuk pulangnya nanti kamu kenapa-kenapa kalo sendirian” ajak Radika.

“Engga ngerepotin?” tanya Shani memastikan.

“Engga ko santai aja” ucap Radika santai.

Mereka bertiga pun pulang bersama menggunakan mobil Radika, dan tak lupa juga membayar makanan mereka. Di perjalanan suasana canggung tidak ada yang membuka pembicaraan. Saat tiba di pertigaan mobil mereka di jegat oleh 5 orang preman.

“Woy keluar lu! Serahin semua barang barang lu kalo mau selamet!” ucap bos preman.

Mereka pun keluar dari mobil itu dengan perasaan takut. Para preman itu mulai mendekati Shani dan Gracia.

“Wih yang dua ini bawa aja nih, lumayan buat senang senang HAHAHA,” ucap salah seorang preman.

 

Radika POV

 

“Cih sialan tuh preman berani nyentuh nyentuh mereka, apa gua lawan aja ya?” batinku.

Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Sebagai laki laki aku harus berani melawan, tapi apa akan menang? Ah hasil mah belakangan yang penting niatnya.

“Woi lu jangan gangguin mereka,” ucapku.

“Berani juga nih anak kampret, abisin boy,” ucap bos preman.

Mereka pun menyerangku, preman pertama hendak memukul kepalaku, aku menghindar kebelakang dan menendang telak di kepalanya dan dia pun tersungkur. Preman kedua hendak memukul perutku tetapi aku tangkis dan ku lancarkan kakiku sekuat tenaga ke arah perutnya dia pun tersungkur, sisa preman itu mengepungku satu dua pukulan bisa ku hindari dan ku balas mereka satu persatu hingga tak tersisa. Para preman itu tidak ada kapoknya dan mereka mengeroyokku beserta bosnya. Aku tidak bisa menahan mereka semua dan akhirnya akupun tersungkur dengan luka yang cukup parah, pandanganku kabur lama kelamaan semua menjadi gelap.

Saat aku bangun, aku tiba di tempat yang serba putih. Kosong, satu kata itulah yang bisa menggambarkan ruangan ini. Secercah cahaya muncul yang lama kelamaan semakin terang dan tiba-tiba seseorang muncul.

“Aku di mana? apa yang terjadi denganku? apa aku sudah mati?” pertanyaan itulah yang aku tanyakan karena melihat apa yang terjadi padaku.

“Tenang kau belum mati, kau masih hidup,” ucap orang tersebut.

“Apa yang terjadi padaku?” tanyaku.

“Ini seperti kejadian 4 tahun yang lalu.”

“Apa dia muncul lagi? Setelah selama ini? Kenapa dia muncul lagi?” tanyaku kesal.

“Entahlah aku juga tidak tau. Aku bukan tuhan yang tau segalanya.”

“Lalu siapa kau?” tanyaku lagi.

“Sebut saja aku orang yang menjaga dia.”

 

~o0o~

 

Author pov

 

 

“HAHAHA temanmu yang lemah itu sudah mati gadis manis,” ucap bos preman.

“Tidak Radika tidak akan mati!” ucap Gre.

“Dia tidak akan mati, dia akan menyelamatkan kami!” seru Shani.

“Apa itu mungkin? dia sudah terkapar dengan luka yang cukup parah HAHAHA,” ucap bos Preman sambil perlahan mendekati Shani dan Gracia.

Tiba tiba radika bangkit dengan tatapan yang berbeda dari biasanya tatapan tajam yang siap membunuh kapan saja, aura membunuhnya membuat para preman gemetar.

“Siapa yang kau bilang lemah dasar sialan!!” ucap Radika sembari bangkit.

Tanpa basa basi dia langsung menyerang preman terdekat dengan kecepatan luar biasa, sekali pukul preman itu langsung jatuh tak sadarkan diri.

“Woi kalian ngapain ngeliatin aja serang lah dongo,” ucap sang bos preman dengan wajah takut-takut.

Mereka bertiga langsung menyerbu Radika dan menyerangnya membabi buta tapi dengan mudahnya dia dapat menghindari semua serangan itu dan membalasnya dengan cepat tanpa terlihat oleh mata manusia normal. Para preman itu pingsan setelah terkena serangan tersebut hingga hanya tersisa bos preman kampret itu saja. Bos preman itu masih bersikeras melawan dan sekali pukul dia pun pingsan.

 

~o0o~

 

“Berapa lama lagi aku akan berada di sini?” tanya Radika.

“Bersabarlah sebentar lagi.”

“Bagaimana aku bisa bersabar teman-teman ku berada dalam bahaya!!” ucap Radika terpancing emosinya.

“Tidak, mereka tidak akan kenapa-kenapa santai saja dia pasti akan melindunginya.”

 

~o0o~

 

“Radika kamu gapapa?” tanya Gre cemas.

Baru saja Gre bertanya dan belum sempat di jawab, Radika sudah pingsan lagi dan membuat meraka berdua panik setengah mati. Tak lama kemudian Radika pun sadar dari pingsannya yang kedua ini.

“Radika kamu gapapa? hiks.. hiks..,” tanya Shani cemas dengan sedikit menangis.

“Aku gapapa ko Shan,” ucap Radika sambil mengelap air mata Shani dengan ibu jarinya. Sontak wajah Shani pun menjadi merah seperti tomat yang di rebus bareng kepiting, sedangkan Gracia tampaknya cemburu dengan kemesraan mereka berdua.

“Emangnya tadi aku kenapa?” tanya Radika.

“Tadi tuh kamu pingsan tapi tiba-tiba kamu bangun dan ngalahin para preman itu, emangnya kamu ga inget? tapi kamu beneran ga kenapa-kenapa kan?” ucap Shani cemas..

“Udah aku gapapa ko Shan beneran deh,” ucap Radika sambil tersenyum.

“Tapi yang tadi ngalahin preman itu kaya bukan kamu deh,” ucap Gracia tiba-tiba.

“Iya sih, kaya ada sesuatu yang beda dari kamu tapi susah untuk di jelasin,” tambah Shani.

“Apa jangan-jangan itu Ryuto? Bukannya dia sudah tidak muncul lagi sejak waktu itu, kenapa dia bisa muncul lagi,” batin Radika.

“Mungkin perasaaan kalian aja kali hehe, mendingan kita pulang yuk,” ucap Radika mengalihkan pembicaraan mereka.

“Yaudah yuk udah malem juga,” balas Shani.

Mereka berdua pun berjalan menuju ke mobil sedangkan Gracia dia berjalan paling akhir sambil mendengus kesal karena di cuekin. Mobil pun di lajukan menuju ke rumah Gracia terlebih dahulu karena rumah dia yang paling dekat.

 

~o0o~

 

“Gre udah sampe nih,” ucap Radika.

“Eh udah sampe ya? Shan aku pulang dulu ya, Radika makasih ya udah mau nemenin aku dan udah nyelametin aku sama Shani,” ucap Gracia sembari berusaha tersenyum walau sebenarnya dia kesal.

“Iya sama-sama Gre. Aku pulang dulu yaa….,” ucap Radika tersenyum.

“Iya kami pulang dulu ya Gre,” ucap Shani.

“Iyaa kalian hati-hati ya,” ucap Gre.

“Sip tenang aja Shani bakal sampe rumah tanpa lecet sedikit pun,” ucap Radika sedikit bercanda.

“Ihhh Radika apaan sih,” ucap Shani yang mukanya memerah.

“Awas aja, kalo sampe lecet kamu tinggal pilih mau rumah sakit atau kuburan,” ucap Gracia sambil menangkat dua kepalan tangannya.

“Hiii takut ah sama Gre gamau deket-deket. Mending sama Shani aja deh,” ucap Radika meledek Gre.

“Ihhh kamu mah genit banget sama Shani,” ucap Gre menggembungkan pipinya.

“Engga ko aku cuman bercanda doang. Aku pulang dulu ya Gre,” ucap Radika sambil mengelus kepala Gracia.

“I… i… iyaa hati hati ya,” ucap Gre gugup dengan muka yang memerah.

Radika pun kembali memacu mobilnya menuju rumah Shani. Sesampainya di rumah Shani, Shani membujuk Radika untuk mampir di rumahnya untuk sekedar mengobati luka-lukanya. Awalnya Radika menolak tetapi karna Shani menunjukan wajah menggemaskannya akhirnya dia tidak bisa menolak dan mau di ajak ke rumah Shani.

“Assalamu’alaikum,” ucap Shani.

“Wa’alaikum salam, eh non Shani udah pulang,” ucap asisten rumah tangganya.

“Bi, tolong ambilin kotak P3K, handuk, sama air hangaat ya,” ucap Shani.

“Iya non,” ucap asisten rumah tangganya lalu beranjak pergi mengambil barang-barang yang di sebutkan Shani.

“Radika kamu duduk dulu aja,” ucap Shani.

“I… iyaa Shan,” ucap Radika gugup.

“Aku bikinin kamu minum dulu ya,” ucap Shani.

“Tapi Shan…,” ucap Radika.

“Udah gausah protes atau aku ngambek 7 hari 7 malam,” potong Shani.

“Yaudah iya deh,” ucap Radika pasrah.

Shani pun pergi ke dapur untuk membuat minum, setelah itu asisten rumah tangga Shani datang membawa obat, air hangat dan handuk untuk mengobati luka-luka Radika.

“Den, non Shaninya kemana ya?” tanya asisten rumah tangganya.

“Oh Shani, dia lagi bikin minum bi,” jawab Radika.

“Makasih ya den, obatnya bibi taruh sini bib nyusul non Shani dulu. Permisi den,” ucap asisten rumah tangganya lalu berjalan pergi menuju dapur.

“Iya bi,” ucap Radika tersenyum.

 

Radika Pov

 

“Sebenernya kenapa dia muncul lagi, dia hanya muncul sekali waktu itu dan dokter bilang dia sudah menghilang permanen. Kenapa dia kembali lagi?”

 

Flashback On

 

Author Pov

 

“Tolong…. tolong….”

“Eh kok kaya ada yang minta tolong,” ucap seorang anak laki-laki yang pada saat itu habis berbelanja di supermarket.

Karna penasaran akhirnya anak laki-laki mencari darimana asal suara itu, setelah mencari cukup lama akhirnya dia menemukan sumber suara itu yang berasal dari seorang anak perempuan yang di kelilingi beberapa preman yang sedang menggodanya.

“Tolong…. tolong…,” ucap anak perempuan itu.

“Ssstttt… jangan berisik cantik nanti ada yang denger,” ucap salah satu preman.

“Kalian mau ngapain, jangan gangu aku,” ucap anak perempuan itu sambil menjauh secara perlahan.

“Kami ga akan nyakitin kamu kok paling cuman bersenang-senang sedikit hahaha,”

Anak perempuan itu mundur secara perlahan dan tiba-tiba berlari ke arah anak laki-laki yang sedang memperhatikannya dari jauh. Melihat ada orang yang bisa menolong, anak perempuan itu bersembunyi di belakang tubuh anak laki-laki itu untuk menghindari kejaran para preman.

“Kak tolongin aku,” ucap anak perempuan tersebut.

“Iya kamu tenang aja ya,” ucap anak laki-laki itu sembari tersenyum.

“Woi!! Serahin tuh anak!!” ucap bos preman tersebut.

“Maaf ya tapi kyanya itu ga akan terjadi,” ucap anak laki-laki itu.

“Cih sialan tuh anak, serang dia!!” ucap bos pereman kesal.

Para preman itupun menyerang anak laki-laki itu secara membabi buta, satu dua serangan bisa dia hindari tapi lama-kelamaan membuat dia agak kewalahan. Anak laki-laki itu sama sekali tidak dapat melancarkan satu seranganpun karna terlalu sibuk menghindari dan menangkis serangan-serangan mereka. Tanpa dia sadari salah satu preman mengendap-ngendap di belakangnya dan preman itu memukulnya menggunakan balok kayu yang membuat dia pingsan, menyisakan anak perempuan itu seorang diri.

“Hahaha bocah sok-sok an itu udah pingsan kebanyakan gaya sih” ucap bos preman.

“Hei kamu bangun dong,” ucap anak perempuan tersebut.

“Hei manis.. udah gaada yang bisa ngelindungin kamu lagi. Cepat bawa dia ke markas,” ucap bos preman sambl tertawa.

“Siap bos.”

Para preman itu hendak membawa anak perempuan tersebut ke markas mereka, tetapi sesuatu mencegahnya.

“Oy monyet!! lepasin dia!!” ucap seorang anak laki-laki sembari bangkit, dia adalah anak laki-laki yang pingsan tadi.

“Eh lu lagi. Tenyata masih idup lu, bocah,” ucap boss preman.

“Ngapain ngeliatin doang? Serang lah,” ucap boss preman kesal.

Para preman itu mulai menyerangnya, tetapi anak laki-laki itu dapat menghindarinya dengan mudah, Tidak seperti tadi, sekarang dia mulai membalas serangan-serangan mereka hanya tersisa bossnya saja. Tanpa berkata-kata lagi anak laki-laki itu mulai mencekik bos preman dan mengangkatnya hingga kaki bos preman itu tidak lagi bisa menginjak tanah.

“A… a… am…pun… to… to…long… le… lep… pasin…. gu… gu… a…,” ucap bos preman tergagap karena kesulitan bernafas.

Tanpa peduli anak laki-laki itu langsung melempar bos preman itu hingg.a membentur pohon dan seketika itu bis preman itupun pingsan. Setelah itu anak perempuan itu pun mendekati Radika.

“Kakak gapapa?” ucap anak perempuan itu.

“Iya,” ucap anak laki-laki itu singkat.

“Ada yang luka?” tanyanya lagi.

“Engga,” ucap anak laki-laki itu.

“Oiya nama kakak siapa?” tanyanya lagi.

“Apa itu perlu?” tanyanya.

“Iya dong aku kan harus tau nama orang yang nolongin aku hihi,” ucap anak perempuan itu tertawa kecil.

“Panggil saja Ryuto,” ucapnya.

“Anterin aku pulang ya kak, aku takut pulang sendirian. Boleh yaa.. ya..,” ucap anak itu mengeluarkan ekspresi lucu yang membuat Ryuto tidak bisa menolak.

“Cih, baiklah,” ucap Ryuto.

“Yeaay makasih kak,” ucap anak tersebut melompat-lompat kegirangan.

Dengan agak malas Ryuto mengantar anak perempuan tersebut yang sepertinya seumuran dengannya. Di jalan mereka mengobrol-ngobrol, walau sebenarnya yang berbicara di dominasi anak tersebut sedangkan Ryuto hanya menjawab dengan kata ‘iya’ dan ‘tidak’.

Anak laki-laki itu sebenranya adalah Radika dan itulah pertama kali kepribadian kedua Radika muncul, dia menyebut dirinya adalah Ryuto.

 

Author Pov end

 

Flashback Off

 

“Hei Radika kok bengong aja,” ucap Shani yang membuatku kembali dari ingatanku di masa lalu.

“Eh i… iya Shan,”

“Sini aku obatin dulu luka kamu, tahan ya,” ucap Shani.

Shani mulai mengelap luka-lukaku dengan handuk yang sudah di celupkan ke air hangat, setelah itu dia membubuhkan obat merah di luka-lukaku secara lembut dan hati-hati.

“Aww… pelan-pelan Shan,” Ucapku meringis

“Eh maaf ya, tahan dulu, dikit lagi udah kok.”

“Shani cantik juga ya,” ucapku pelan.

“Eh kamu ngomong sesuatu?” tanya Shani.

“Eh eng… engga kok Shan, kamu salah denger kali,” ucap Radika patah-patah

“Iya kali ya. Nah udah beres kamu langsung mau pulang?” tanya Shani.

“Iya aku langsung pulang aja Shan kasian kak Melody sendirian di rumah. Makasih ya Shan udah mau ngobatin aku, jadi ngerepotin nih,” ucap Radika.

“Engga kok ga ngerepotin, justru aku yang harusnya berterima kasih sama kamu karna udah ngelindungin aku sama Gre,” ucap Shani sembari memberikan senyuman yang bisa membuat orang pingsan.

“Iya sama-sama Shan. Aku pulang dulu ya, Dadah Shani,” ucap Radika pamit.

“Dadah, hai-hati di jalan ya kamu. Oiya aku minta id line kamu dong,” ucap Shani.

Setelah memberikan id lineku aku berjalan meninggalkan rumah Shani menuju ke mobilku dan bergegas memacu mobilku pulang ke rumah.

“Kenapa dia bisa muncul lagi ya.”

 

Flashback On

 

“Siapa kau?”

“Aku ini kepribadian keduamu perkenalkan namaku Ryuto.”

“kenapa kau muncul?”

“entahlah aku juga tidak telalu tahu, itu terjadi begitu saja dan itu bukan kemauanku.”

 

Flashback Off

 

“Apa mungkin itu alasan kenapa dia muncul lagi. Dia hanya membantuku dan melindungiku di saat aku dalam masalah.”

“Ahsudahlah pusing.”

Aku pun mencoba untuk melupakan masalah itu karna membuat pusing, tidak terasa aku  sudah sampai di depan rumahku. Setelah selesai memasukkan mobil ke garasi, aku langsung masuk ke dalam rumah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam. Kamu udah pulang dek? Pesenan kaka mana di beliin ga?” ucap ka Melody.

“Oiya lupa ka hehe.” Ucapku nyengir

Tiba-tiba kepalaku terasa berat dan pusing setelah itu semuanya menjadi gelap dan samar-samar terdengar ka Melody memanggil-manggil aku dan setelah itu aku benar-benar pingsan. Tiba tiba aku terbangun di tempat yang seluruhnya berwarna putih dan sepertinya tidak ada siapa-siapa di sini, sampai terdengar seseorang memanggilku.

“Hei Radika  lama tidak bertemu.”

“Kamu kan….”

 

******

Bersambung

By: @radikaydh

 

Mohon kritik dan sarannya^^

Iklan

Satu tanggapan untuk “Alter Ego and Me part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s