Vepanda part 4

Keesokan harinya Rezza datang ke sekolah hampir terlambat.

Setelah memarkir motornya, Rezza berjalan ke kelasnya. Saat berjalan, Rezza sibuk memainnkan smartphone-nya sehingga ia menabrak seseorang siswi hingga siswi itu terjatuh.

“Sorry… gue barusan gue nggak liat,” ucap Rezza sambil membantu siswi itu berdiri.

“Huuhh! Makanya kalo jalan pake mata dong!” ucap siswi itu kesal.

“Jalan itu pake kaki bukan pake mata,” ucap Rezza.

“Terserah!” ucap siswi tadi meninggalkan Rezza.

“Cewek aneh,” ucap Rezza lalu kembali berjalan ke kelasnya.

Tanpa mengetuk pintu, Rezza langsung masuk ke kelasnya dan berjalan ke tempat duduknya.

“Heh! Mau kemana lu?” tanya guru yang sedang mengajar.

“Ehh… Pak Totok, mau duduk pak,” jawab Rezza.

“Enak aja lu main duduk-duduk aja, sini dulu!” suruh Pak Totok.

Dengan ekspresi malas, Rezza berjalan ke depan kelas.

“Dari mana aja lu jam segini baru dateng?” tanya Pak Totok.

“Dari rumah lah,” jawab Rezza.

“Terus ngapain lu telat?”

“Kesiangan.”

“Abis magang di perempatan lu semalem? Hahaha…,” ucap Pak Totok tertawa dan membuat seisi kelas juga ikut tertawa.

“Kampret nih guru,” ucap Rezza dalam hati.

“Ngomong apa lu?” tanya Pak Totok.

“Enggak, nggak ngomong apa-apa.”

“Lu pikir gue nggak tau lu barusan ngomongin gue dalem hati hah?!”

“Kok bapak bisa tau saya abis ngomongin bapak dalem hati.”

“Iya lah, gue dibisikin sama author barusan hahaha….”

“Bangke lu thor!” ucap Rezza dalem hati.

“Yaudah sana lu duduk, kasian author udah stres mau bikin obrolan gimana lagi hahaha…,” ucap Pak Totok tertawa.

Kemudian Rezza berjalan ke tempat duduknya, ia melihat Sinka sudah duduk di bangku sebelahnya.

Saat Sinka menulis apa yang diterangkan oleh Pak Totok, dengan sengaja Rezza menyenggol tangan Sinka sehingga membuat tulisannya tercoret.

“Apa-apaan sih kamu?!” tanya Sinka kesal.

“Nggak apa-apa, cuma pengen aja gangguin lu haha…,” jawab Rezza tertawa.

“Ngeselin banget sih!” ucap Sinka kembali menulis.

“Percumah lu nyatet dipelajarannya Pak Totok,” ucap Rezza.

“Kenapa emang?” tanya Sinka berhenti menulis dan menoleh ke arah Rezza.

“Nggak bakalan kepake, lu masuk nggak dengerin dia ngomong ato mau tidur juga nilai lu udah pasti 90,” jawab Rezza.

“Ya kan bisa dipake pas mau tes biar nilainya bagus.”

“Sebelum tes biasanya Pak Totok bagiin soal yang mau buat tes sekalian sama kunci jawabannya.”

“Loh… kok gitu?”

“Ya mana gue tau, lu tanya aja sama Pak Totok kenapa gitu.”

“Tapi kan tujuan kita ke sekolah buat belajar, kalo kaya gitu bukan belajar dong namanya.”

“Terserah lu dah.”

Kemudian Sinka kembali menulis apa yang diterangkan Pak Totok, sedangkan Rezza malah tidur.

Beberapa saat kemudian Pak Totok ijin keluar kelas, Sinka berhenti menulis dan menggambar dihalaman buku paling belakang.

Saat sedang asik menggambar, tangan Sinka kembali disenggol oleh Rezza dan membuat gambarannya tercoret.

“Ihhh… Apaan sih?!” ucap Sinka kesal.

“Pinjem pulpen,” jawab Rezza singkat.

“Nggak ada!” bentak Sinka.

“Dasar pelit,” ucap Rezza lalu berdiri dari bangkunya.

“Biarin!” ucap Sinka kesal.

“Koperasi yok, anterin gue beli pulpen,” ajak Rezza pada Najong.

“Gue lagi males gerak, lu sendiri aja ato ajak nih Yupi,” jawab Najong.

“Anterin gue ke koperasi yuk,” ucap Rezza menepuk pundak Yupi.

“Bentar aku beresin buku dulu,” ucap Yupi sambil membereskan bukunya.

“Yaudah cepetan, gue tunggu diluar,” ucap Rezza sambil berjalan keluar kelas.

“Kamu mau ikut nggak sin?” tanya Yupi menoleh ke arah Sinka.

“Nggak ah, males kalo sama Rezza,” jawab Sinka.

“Kok males, kenapa emang?”

“Ya males aja, dia ngeselin.”

“Jangan dimasukin hati, dia emang suka usil, makanya nggak ada yang betah duduk di sebelah dia.”

“Cepetan yup!” teriak Rezza dari luar kelas.

“Aku pergi dulu ya sin,” ucap Yupi lalu pergi keluar kelas.

Sinka hanya tiduran di kelas sambil memainkan smartphone-nya.

“Lama amat sih,” ucap Rezza kesal setelah melihat Yupi keluar dari kelas.

“Hehehe…,” Yupi hanya cengengesan.

Mereka berdua berjalan ke koperasi sekolah. Di perjalanan, Rezza terlalu sibuk bercanda dengan Yupi dan tidak memperhatikan jalan. Akhirnya ia pun menabrak seorang siswi hingga siswi itu terjatuh.

“Aduh…,” ucap siswi itu kesakitan.

“Ehh… maaf ya gue nggak liat tadi,” ucap Rezza sambil membantu siswi itu berdiri.

“Kak Rezza?” ucap siswi itu setelah berdiri dan melihat wajah Rezza.

“Mmmm… siapa ya?” tanya Rezza dengan wajah tololnya.

“Ini aku kak, Shani sepupu kakak,” ucap siswi yang bernama Shani itu.

“Ohh… Shani…, Shani siapa ya? Hehe….”

“Ya ampun za, kamu sama sepupu kamu sendiri aja bisa lupa gitu,” ucap Yupi.

“Duhhh… aku Shani Indira Natio, masa kakak lupa sih,” ucap Shani.

“Ohh…,” ucap Rezza mengangguk-ngangguk.

“Udah inget?” tanya Shani.

“Iya inget kok, kayaknya hehe…,” jawab Rezza cengengesan.

“Ihhh… kak Rezza!” ucap Shani kesal.

“Hahaha… inget kok inget,” ucap Rezza.

“Beneran inget?” tanya Shani.

“Iya beneran, kenalin nih temen aku” ucap Rezza.

“Shani…,” ucap Shani mengulurkan tangannya pada Yupi.

“Cindy Dea Yuvia biasa dipanggil Yupi,” ucap Yupi tersenyum sambil menyalami tangan Shani.

“Ngomong-ngomong kalian mau kemana?” tanya Shani.

“Ke koperasi,” jawab Rezza.

“Eh shan, ngapain sih kamu lama banget?” tanya seorang siswi keluar dari dalam kelas Shani.

“Eh sorry, ini lagi ngobrol bentar,” jawab Shani.

“Hai… kenalin Rezza Okta,” ucap Rezza mengulurkan tangannya pada siswi tadi.

“Shania Gracia, panggil aja Gracia,” ucap Gracia sambil menyalami tangan Rezza

“Cindy Dea Yuvia biasa dipanggil Yupi,” ucap Yupi tersenyum sambil bersalaman dengan Gracia.

“Gracia..,” ucap Gracia tersenyum saat bersalaman dengan Yupi.

“Kak Rezza ini sepupu aku, adeknya kak Melody juga,” ucap Shani pada Gracia.

“Ohh…,” ucap Gracia mengangguk-ngangguk paham.

“Yaudah aku pergi dulu ya, kalian masuk kelas dan jangan nakal dikelas,” ucap Rezza lalu pergi bersama Yupi.

“Iya kak…,” ucap Shani dan Gracia bersamaan.

“Kamu sok-sokan nasehatin orang buat nggak nakal tapi kamunya sendiri nakal,” ucap Yupi.

“Gue nggak mau mereka nakal, cukup gue aja yang nakal sama kena hukuman hahaha…,” ucap Rezza tertawa.

“Halahh… sok bijak kamu,” ucap Yupi.

Setelah membeli pulpen, mereka berdua membeli minuman dan duduk sebentar dibangku koperasi.

“Kamu tadi usilin Sinka ya dikelas?” tanya Yupi lalu meminum minumannya.

“Dikit,” jawab Rezza membuang botol minumannya yang sudah habis.

“Bohong, kamu pasti gangguin Sinka terus tadi, soalnya tadi dia bilang kalo dia kesel sama kamu,” ucap Yupi.

“Hehehe…,” Rezza menoleh ke arah Yupi sambil cengengesan.

“Urat bersalah kamu udah putus ato emang nggak ada dari lahir sih?” tanya Yupi heran.

“Nggak ada dari lahir sih kayaknya hahaha…,” jawab Rezza tertawa.

“Ya tuhan, kenapa sih aku harus punya sahabat aneh gini,” ucap Yupi sambil membuang botol minumannya yang sudah habis.

“Udahlah gausah dipikirin, yuk balik ke kelas,” ucap Rezza berdiri.

Mereka berdua berjalan kembali ke kelasnya.

Saat melewati kelas Shani, Rezza melihat Pak Wahyu sedang mengajar dikelas Shani. Ia pun berhenti di depan pintu.

“Ciee yang lagi ngajar hahaha…,” ucap Rezza  sedikit berteriak sehingga membuat seisi kelas Shani dan juga Yupi tertawa.

Pak Wahyu yang mendengar ucapan Rezza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

Rezza dan Yupi pun melanjutkan perjalanan mereka.

“Udah gila kamu ya? Sama guru kok gitu,” tanya Yupi.

“Alahh… sama Pak Wahyu mah santai aja,” jawab Rezza.

“Santai sih santai, tapi nggak gitu juga lah,” ucap Yupi.

-di kelas Melody-

“Mel, ini Pak Adi nerangin apaan sih?” tanya Ve pada Melody berbisik.

“Aku juga nggak tau dia nerangin apa hihihi…,” jawab Melody tertawa kecil.

“Lahh… terus dari tadi kamu ngapain?” tanya Ve heran.

“Bengong,” jawab Melody dengan wajah polosnya.

“Yahh… kirain dari tadi kamu merhatiin Pak Adi ngomong, eh taunya malah bengong,” ucap Ve.

Tak terasa bel pulang pun berbunyi. Para siswa yang tadinya mengantuk langsung kembali bersemangat.

“Kamu nanti mau ikut aku ke mall nggak?” tanya Melody pada Ve.

“Sama siapa aja?” tanya Ve balik.

“Sama Rezza,” jawab Melody.

“Mmmm… enggak deh,” ucap Ve.

“Kenapa? Kalian lagi ada masalah?” tanya Melody.

“Enggak, aku masih ada urusan aja abis ini,” jawab Ve.

“Yaudah kalo gitu, aku duluan ya,” ucap Melody lalu pergi meninggalkan Ve.

Saat sampai di parkiran, Melody tidak melihat Rezza disana.

“Kemana dia? Kok belom ada disini?” ucap Melody dalam hati.

Kemudian Melody mengambil smartphone-nya dari dalam tas dan mengirim pesan ke adiknya.

“Kamu dimana? Kakak udah diparkiran,” isi pesan Melody pada Rezza.

Beberapa saat kemudian Rezza membalas pesan Melody.

“Aku tunggu di gerbang sekolah aja,” balas Rezza.

“Terus motor kamu gimana?” tanya Melody.

“Ntar ada temen aku yang bawa, tenang aja,” balas Rezza.

Melody pun masuk ke mobilnya dan pergi ke gerbang sekolah.

Saat berjalan ke gerbang sekolah, Rezza melihat Sinka sedang berdiri sendirian. Ia pun berjalan mendekatinya.

“Sendirian aja neng?” goda Rezza sambil mencolek pundak Sinka.

“Eh? ngapain kamu ada disini?” tanya Sinka kaget dengan kehadiran Rezza.

“Nyopet -,-“ jawab Rezza.

“Hah?” ucap Sinka kaget dengan jawaban Rezza.

“Nggak lah, gue lagi nungguin kak Melody,” ucap Rezza.

“Kirain beneran mau nyopet,” ucap Sinka.

Mobil Melody pun datang dan Rezza langsung masuk ke mobil.

“Itu Sinka kan?” tanya Melody saat Rezza masuk ke mobil.

“Iya,” jawab Rezza singkat.

“Kok dia berdiri sendirian disitu?” tanya Melody.

“Ya mana aku tau, tanya aja sendiri,” jawab Rezza sambil mengeluarkan smartphone dari sakunya.

“Sini sin bareng aku sama Rezza aja,” ajak Melody setelah menurunkan kaca mobilnya.

“Nggak usah kak, ntar ngerepotin,” jawab Sinka tersenyum.

“Gapapa, sini masuk aja,” ucap Melody.

“Nggak kak gapapa, lagian bentar lagi jemputan aku dateng kok,” ucap Sinka.

Hp Sinka bergetar tanda ada sebuah pesan masuk. Ia pun membuka isi pesan itu.

“Sorry dek kakak gabisa jemput hari ini, kakak lagi nganterin mama ke rumah tante,” isi pesan yang ternyata dari Naomi.

“Aaarrrggghhh… tauk ah!” ucap Sinka kesal sambil memasukkan smartphone-nya ke dalam saku.

“Kenapa sin?” tanya Melody.

“Gapapa kok kak,” jawab Sinka.

“Jemputan kamu gajadi dateng?” tanya Melody.

“Iya nih, nyebelin banget kakak aku,” jawab Sinka cemberut.

“Yaudah sini bareng aja gapapa,” ucap Melody tersenyum.

“Beneran gapapa kak?” tanya Sinka.

“Iya gapapa,” jawab Melody.

Kemudian Sinka pun masuk ke mobil Melody dan duduk di sebelah Rezza.

Rezza tidak menyadari kehadiran Sinka karena ia sedang mendengarkan lagu dengan headphone sambil memejamkan matanya.

“Kamu nggak lagi buru-buru kan sin?” tanya Melody.

“Enggak kak, kenapa?” tanya Sinka sambil menutup pintu mobil.

“Yaudah kalo gitu kita jalan-jalan dulu aja ke mall,” ucap Melody lalu menancap gas.

“Aku jadi nggak enak kak,” ucap Sinka.

“Udah gapapa,” ucap Melody tersenyum.

Cause all of me loves all of you

Loves your curves and all your edges

All your pefect imperfections…

Tiba-tiba Rezza menyanyi dengan keras.

Sinka menoleh ke arah Rezza dengan tatapan heran. Melody yang sedang menyetir hanya tertawa melihat tingkah Rezza.

“Nih anak kesurupan ato kenapa sih?” ucap Sinka dalam hati.

Tangan Rezza meraba-raba ke kursi sebelahnya mencari ukulele miliknya, ia tidak tau jika ukulele itu sudah dipindah ke kursi depan oleh Sinka. Karena masih memejamkan mata, tak sengaja tangan Rezza menyentuh paha Sinka sehingga membuat Sinka dan dirinya kaget.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Iklan

6 tanggapan untuk “Vepanda part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s