See You Again In Jogjakarta

Pagi hari yang cerah di kota yang penuh dengan romansa kehidupan manusia, kota yang selalu membuat orang selalu ingin tetap tinggal di kota ini. Kota ini adalah Jogjakarta.

Di sebuah rumah ada seorang gadis yang masih tertidur pulas diatas kasur empuknya.

Lalu ada sebuah suara omelan dari kakaknya di depan pintu kamarnya.

“Oiii … bangun dong kebo balap. Ini udah jam setengah tujuh, jangan sampai bikin kakak terlambat gara-gara kamu !” omel seorang pria gempal di depan kamar gadis itu.

“Sebentar kak ini udah bangun tidur, baru mau siap-siap” balas gadis itu yang langsung bangun dari kasurnya.

Gadis itu langsung mengambil handuk lalu bergegas ke kamar mandi … Tak butuh waktu lama, dia kini sudah siap dan rapi dengan seragam SMA nya. Lalu gadis itu mamakai sepatunya dengan tergesa-gesa.

“Dek udah siap belom ???” teriak kakaknya dari luar kamar.

“Bentar kak, ini tinggal pakai sepatu doang” balas gadis itu yang sedang menyelesaikan tali sepatunya.

Setelah selesai gadis itu lalu keluar dari kamarnya sambil tersenyum ke arah orang yang dia panggil dengan sebutan kakak.

Sedangkan kakak nya itu hanya memasang tatapan malas nya.

“Aduh Michelle untung kamu udah bangun, kalo nggak udah kakak tinggal ke sekolah duluan” ujar kakak nya sebal.

“Maaf kak Dendhi, besok gak akan terjadi lagi deh” ujar Michelle terkekeh

“Jangan kebanyakan senyum, bentar lagi udah waktunya masuk,” bentak kakak nya itu.

Gadis itu bernama Michelle Christo Kusnadi, dan pria gempal yang di panggil kakak oleh Michelle itu bernama Dendhi Yoanda.

Akhirnya mereka berdua pun bergegas  berangkat ke sekolah, menggunakan mobil.

 

MICHELLE POV

 

Namaku adalah Michelle Christo Kusnadi, anak asli Jakarta yang sekarang tinggal di kota yang disebut kota pelajar ini, aku pindah ke kota ini bareng sama adik ku, nama nya Aninditha Rahma. Banyak hal yang membuat aku harus pindah ke kota ini.

Awalnya aku sama sekali tak betah waktu pertama kali menginjakkan kaki di kota ini … Tapi itu semua berubah (ditambah lagi)

 

 

Hari ini aku kesiangan.

Hmmm ….kesiangan adalah hal paling menyebalkan, dan hal ini juga jadi momok bagi cewek gamers kayak aku.

Mungkin seharusnya cewek itu bangun nya pagi, terus bantu orang tua. Tapi untungnya aku punya kakak yang setia buat bangunin aku, walaupun dia bukan kakak aku juga sih … nama nya Dendhi Yoanda, dia itu kakak sepupu ku, kita berdua sekolah di salah satu sekolah di Jogjakarta.

Kita tiba di sekolah persis dengan bunyi nya bel.

Tanpa babibu kakak ku langsung menuju ke kelas nya setelah memarkirkan mobil nya, sedangkan aku langsung menuju ke kelas ku.

“le, kamu udah selesai belum PR Matematika nya? Kalo udah selesai aku pinjem dong, punya ku belum nih” ujar teman sebangku ku, Gracia

“boleh, nih buku nya” ujar ku sambil menyerahkan buku ku padanya.

Baru saja dia mau menyalin hasil pekerjaan ku, guru Matematika ku sudah datang

“Anak-anak, hasil pekerjaan kalian kumpulkan di depan sekarang juga”

“Mati aku” Gracia berkata pelan, tapi masih bisa terdengar oleh ku. Aku hanya tersenyum kecut pada nya.

Guru ku langsung mendekati Gracia, dan mungkin kalian bisa menebak ending nya, Gracia di hukum oleh guru ku.

 

DENDHI POV

 

Nyaris aja aku di hukum guru BK gara-gara telat masuk sekolah.

“Bang den, pagi-pagi muka lu kusut amat” sapa teman sebangku ku

“iya wil, nyaris telat lagi gara-gara sepupu kampret itu” kata ku pelan

“Si Michelle lagi bang?” tanya nya yang ku balas dengan anggukan pelan.

“tuh anak kayaknya kagak beli jam beker kali” kata teman ku

“mungkin” kata ku lemas

Guru ku masuk ke dalam kelas dan kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasanya.

“Den, tolong ajarin aku  dong” suara lembut itu memanggil ku.

“Geografi susah banget nih” ujar cewek itu

“bab mana yang bikin seorang Viny kesusahan?” tanya ku

“ini loh,” ujar teman ku sambil menunjukkan materi yang membuat dia kesusahan

“Ya elah, ini mah gampang, menghitung epicentrum gempa” ujar ku mendengus sebal

“Tapi aku nggak bisa Den, mana lagi bentar lagi UN” ujar nya

“kalo bang Den nggak mau ngajarin, sama bang Willy Debiean aja” teman ku tiba-tiba nyeletuk.

“sama aku aja Vin” ujar ku cepat, ku lihat teman ku yang bernama Viny sempat menyunggingkan senyum nya.

Dengan sabar aku mengajari nya materi yang membuat dia kebingungan.

 

AUTHOR POV

 

TENG-TENG…

Bel pertanda Istirahat telah berbunyi, semua murid-murid keluar dari kelas mereka, menuju ke kantin.

“bang Den, gue denger kabar kalo kita pulang pagi hari ini” sapa teman nya

“yang bener kamu? Asik, bisa tidur lagi nih” kata Dendhi.

Tiba-tiba seorang cewek dengan rambut twintail menghampiri Dendhi yang sedang bercengkrama dengan teman nya

“Kak, aku minta uang nya dong, tadi nggak di kasih sama pakde” ujar cewek itu

“nih” ujar Dendhi sambil memberikan uang pecahan dua puluh ribu

“Makanya, jangan telat bangun” tambah nya sambil menjulurkan lidahnya

“Iya-iya” ujar Michelle sebal

“Ya ampun, ini Michelle ya” ujar Viny yang tiba-tiba bergabung dan mencubit pipi nya

“Kak, sakit tau” ujar Michelle kesakitan

“Maaf, kakak mu ini sering banget ngomong in kamu pas di kelas” ujar Viny menunjuk ke arah Dendhi

“Waduh, perasaanku gak enak nih” ujar Dendhi dalam hati

“ngomongin apa kak emangnya?” tanya Michelle penasaran

“eh le, kamu nggak makan? Kalo kelamaan nasi nya abis loh” ujar Dendhi mengalihkan pembicaraan, sedangkan Michelle dan Viny menatap tajam Dendhi

“udah dulu ya, aku pergi dulu” ujar Dendhi yang mencoba pergi dari mereka

“Kakak duduk di sini dulu” ujar Michelle sambil memegangi tangan Dendhi dan menatap nya tajam

Dendhi hanya pasrah menuruti permintaan saudara sepupunya

“jadi dia sering…” ujar Viny terpotong oleh bel masuk

“alhamdulilah, matur nuwun gusti” ujar Dendhi setengah berteriak.

Dendhi dan kawan-kawan nya masuk ke dalam kelas, sedangkan Michelle masih duduk diam di kursi kantin itu.

“Anak-anak, untuk kali ini kalian belajar di rumah, guru-guru akan rapat di Dinas pendidikan” ujar kepala sekolah melalui pengeras suara, yang di sambut oleh teriakan senang para murid-murid sekolah itu, termasuk juga Michelle

“yes, pulang pagi, pulang pagi. Enak nya ke Parangtritis nih” ujar Michelle dalam hati, dia segera menuju ke kelas kakak nya.

Tepat sekali dia di depan kelas kakaknya, karena dilihatnya Dendhi yang baru saja meninggalkan kelas nya menuju ke parkiran

“Kak, ke Parangtritis yuk” ujar Michelle

“heh? Ngapain?” tanya Dendhi

“yah.. nggak mau ya?” tanya Michelle yang lalu cemberut

Dendhi terlihat berpikir lagi

“ya udah deh, ayo. Tapi nanti sore aja ya, jangan sekarang” ujar Dendhi

“ya iya lah kak, ngapain coba kalo sekarang ke pantai” ujar Michelle sebal

“Ya udah, pulang ke rumah pakde yuk” kata Dendhi bersemangat

“ayo” ujar Michelle bersemangat

~oOo~

“Kak, bangun, bangun, katanya mau ke parangtritis, gimana sih?” ujar seseorang.

“hmmm… bentar,” ujar kakak nya yang lalu bangun dari tidurnya, sedangkan Michelle lalu duduk di runag keluarga sambil menonton TV

“Ayo berangkat” ujar Dendhi yang tiba-tiba muncul di hadapan nya

“ayooo” ujar Michelle bersemangat.

“kita naik mobil ya” ujar Dendhi yang mengambil kunci mobil honda jazz hitam kesayangannya yang di balas anggukan pelan Michelle

Mereka berdua menuju ke pantai yang sangat terkenal di Jogja, perjalanan itu membutuhkan waktu sekitar satu jam

“Oh iya le, kapan Anin pulang dari camping nya?” tanya Dendhi di sela-sela perjalanan nya

“besok pagi kak, kenapa?” tanya Michelle

“ya mau aku jemput lah dia, kasian kan kalo dia nggak ada yang jemput” ujar Dendhi dengan tatapan sebalnya, sedangkan Michelle hanya terkekeh.

Tiba-tiba di tengah perjalanan ada mobil yang salah mengambil jalur, Dendhi yang mengklakson mobil nya mendapat kejutan yang tak terduga.

“Goblok kowe” ujar pengemudi mobil itu yang ternyata ibu-ibu yang lalu pergi begitu saja

“lah.. padahal yang salah dia kok nyalahin kakak. Kejar kak, biar aku yang marah-marah ke dia” ujar Michelle terpancing emosi.

“udahlah le, kalo kamu ngerespon dia, malah kita yang beneran goblok” ujar Dendhi sambil menggelengkan kepala nya pelan.

~oOo~

Mereka berdua tiba di pantai parangtritis, sebuah pantai yang bisa dikatakan terkenal di kota Jogja.

 

MICHELLE POV

 

“Bagus banget kak pantai nya” aku terkagum dengan ciptaan-Nya, sedangkan kakak nya itu tidak menjawab, dia terlihat merenung di pantai itu, terlihat memikirkan sesuatu. Entah kenapa tiba-tiba mataku tertuju dengan orang berkulit putih dengan postur badan yang jauh lebih tinggi daripada aku dan kak Dendhi, dia melihati kami dari kejauhan, tapi aku tak menghiraukan

“kenapa kak?” tanya ku pelan dengan wajah penasaran

“nggak ada, aku cuman kangen sama temen-temenku” ujar kakakku lirih

“udah lah kak, mereka udah damai di Sana. Kalo kakak pikirin terus, mereka nggak akan tenang” aku berusaha menghibur kakak sepupu ku ini

“aku masih kepikiran si..” ujar Dendhi terpotong

“Sisil maksud kakak?” tanya Mi

“iya, aku udah berusaha untuk nggak mikirin dia, tapi entah kenapa semua yang aku lakuin malah ngingetin aku sama dia le?” kakakku ini menunduk, dia seperti nya masih belum bisa melupakan “seseorang” yang pernah mengisi hati nya.

Jujur hati ku sedikit sakit mendengar kalimat itu, apakah sehebat itu kah orang yang namanya Sisil sehingga membuat kakakku tak bisa melupakan nya? Harus kuakui aku memiliki rasa yang “lebih” dari sekedar kakak dan adik terhadap kakak ku yang satu ini, tapi entah kenapa dia tak pernah peka, boro-boro peka, menoleh pun tidak.

“kakak harus bisa move on dari sisil kak, bagaimana pun kakak sama dia udah beda dunia sama dia” kata ku yang berusaha mengangkat kakak ku ini dari lubang dalam yang bernama “Depresi”.

Dia menatapku dalam-dalam, ayolah kak, jangan menatapku seperti itu. Aku makin deg-deg an, lalu ia tersenyum manis.

“thanks for everything my little angel” kata kakak ku, lalu ia mendekat padaku

“I love you”

Whaat?? Aku nggak salah denger kan? Dia barusan ngomong I Love You.

“kalo seandainya kamu bukan sepupu ku, udah aku sikat kamu” ujarnya tertawa

“sakit semua dong kak kalo di sikat” aku berusaha membuat suasana di pantai itu menghangat.

Aku lalu mulai mengeluarkan kamera DSLR ku. Kakak ku hanya memasang wajah cengo nya. Diam-diam aku memotret kakakku yang sedang dalam wajah jeleknya ini

“kak, selfie yuk” aku mengajak dia untuk selfie, seperti biasa, ia selalu menolak

“ah… selfie terus, kamu nggak bosen apa? Bukannya kemarin kita udah selfie ya di Iphone kamu?” kakak ku sedikit protes.

“kak, kali ini bukan pake Iphone, tapi pake ini” ujar ku sambil menunjuk kamera DSLR  kesayanganku ini. Ku lihat kakak ku hanya menunjukkan ekspresi pasrah nya

“ayo deh” ujarnya kembali.

Aku segera mencari orang, untuk ku mintai tolong tentu nya.

“mas, bisa minta tolong fotoin kita?” tanya ku

“lho kak Willy?” tanyaku kaget

“ngapain di sini?” tanyaku lagi

“aku lagi nikmatin suasana sore aja” ujar nya tersenyum

Aku segera menarik kakak ku mendekati kak willy

“lho wil.. ketemu lagi kita” ujar kakakku sambil menggaruk kepala nya

“ahh.. iya bang, gue males ketemu sama ayo aja” ujar nya tertawa, dia lalu berkutat dengan kameraku

Satu foto berhasil diabadikan

“kak, kita ganti pose yuk” ajakku pada kak Dendhi

“hmmm.. ayo aja kalo aku” ujar kak Dendhi

Kami mengganti pose foto kita, entah di sengaja atau tidak, tangan kami membentuk pose hati.

Satu foto kembali diabadikan oleh kak Willy

“udah kak, makasih ya” kataku kepada kak Willy

“oke” ujar nya yang lalu meninggalkan kita.

“kak, udah jam 5, pulang yuk” ajakku pada kak Dendhi, dia hanya mengangguk pelan.

Sepanjang perjalanan kami saling melemparkan candaan, hingga tiba-tiba terdapat panggilan dari daddy ku, tanpa pikir panjang aku mengangkat panggilan itu.

“Halo dad, ada apa ya?” tanyaku sopan

“halo, kamu di mana? Daddy lagi di jogja ini. Di rumah pakde” ujar daddy ku

“aku di parangtritis sama kak Dendhi, ada apa?” tanya ku lagi

“ya sudah, kalau sudah selesai cepat pulang ya, daddy mau ngomong penting sama kamu” kata daddy ku menutup telpon

“daddy kamu ya?” tanya kakakku

“iya kak, daddy ku ngomong kalo mau ngomong penting sama aku, tapi tentang apa?” kata ku penasaran

“ya udah, mungkin lima belas menit lagi kita nyampe” kata kak Dendhi

~oOo~

Aku dan kakak ku sampai di rumah pakde, terlihat mobil Mercedes Benz yang biasa nya di pakai daddy ku terparkir di sana. Setelah memarkirkan mobil, aku dan kak Dendhi berjalan masuk ke dalam rumah pakde

“kita pulang” ujar kak Dendhi.

Ku lihat ekspresi orang-orang yang ada di situ sedikit tegang, ada apa ini?

“Michelle daddy mau ngomong sama kamu penting” kata Daddy ku

“tentang apa dad?” tanya ku

“dua minggu lagi kamu bakal pindah ke London, kamu sudah daddy jodoh kan sama anak teman daddy, nama nya Josh” kata Daddy ku

Apa? Ini serius? Di tahun 2016 masih ada jaman nya perjodohan?  Aku nggak mau pindah ke London, aku ingin tetap di Jogja, entah kenapa

“aku nggak mau Dad, aku udah nyaman di Jogja” aku setengah berteriak

“kamu harus Michelle, biarin Anin yang di Jogja” ayah ku berteriak

Ku lihat kak Dendhi ingin mengucapkan sesuatu, tapi tangannya di pegang oleh budhe, budhe lalu menggelengkan kepalanya

“ojo ngomong Den” kata budhe pelan, dia lalu hanya diam.

Aku lalu berlari ke kamar, ku curahkan semua air mata ku di bantal ku ini, aku nggak rela kalau ku meninggalkan kota ini, aku sudah benar-benar betah di kota ini, aku nggak mau pindah ke London, sayup-sayup ku dengar kak Dendhi beradu argument dengan daddyku

“tapi om, Michelle nggak harus pindah kewarganegaraan juga kan?” sayup-sayup ku dengar perkataan itu keluar dari mulut kak Dendhi

Aku mau pindah kewarganegaraan? Tuhan kenapa ini? Serasa hidupku serasa di balik. Baru aja tadi senang-senang sama kak Dendhi, kenapa harus keluar cobaan seperti ini

“Den, keputusan om sudah bulat”

“apa om nggak mikir gimana kondisi psikis nya Michelle pas di sana?”

“keputusan Om sudah Bulat Den” daddy ku kini berteriak.

Tak terdengar lagi suara kak Dendhi, namun ku dengar suara langkah kaki mendekat ke arah kamar ku

“Le, ini aku. Dendhi. aku boleh masuk?” tanya nya dari balik pintu kamarku

“Masuk aja kak”

Dia masuk ke dalam kamar ku, aku bangkit dari tempat tidurku, ku peluk erat diri nya. Ku tumpahkan semua kesedihan dan air mata ku di dalam pelukan nya. Aku tak peduli bahwa aku akan membasahi baju kakak ku ini.

“kak, aku nggak mau kalo aku pindah ke London, aku udah betah di Jogja. Aku nggak mau pisah dari kakak” ujar ku

“aku juga sebenernya nggak rela juga le”

Seperti nya ia sedang menangis. Seumur-umur, baru kali ini aku melihat kakak ku ini menangis.

“aku nggak mau pisah dari kakak”

Aku melepas pelukan ku, entah datang keberanian dari mana, aku mendekati badan kakak ku ini,

Aku terus mendekati wajah kakak ku ini, dan

CUUUUP..

Aku mencium bibir kak Dendhi. air mataku menetes. Ku lihat kak Dendhi menutup matanya

“maaf kak.” Ujar ku lalu menjauhkan badanku dari badan kak Dendhi.

Ku lihat kak Dendhi mendekati badanku lagi. Dia mengelus kepala ku pelan

“udah, tidur sana” ujar kak Dendhi dengan mata sembab

“aku mau nya tidur sama kakak”

~oOo~

 

AUTHOR POV

 

Mentari pagi kini mulai bersinar lagi di kota pelajar. Di sambut kemudian suara ayam yang berkokok, Dendhi terbangun, dilihatnya adik sepupu yang kini teritdur di sampingnya, posisi nya tengah memeluk dirinya

“perasaan tadi malem udah jauh-jauhan deh” ujar Dendhi pelan

Dengan hati-hati ia mengambil guling, ia memposisikan tangan sepupu nya itu hingga ia memeluk guling itu.///

Dendhi menuju ke ruang tengah, terlihat ayah dari Michelle sedang duduk sambil meminum kopi.

“den, ke sini” ujar ayah Michelle memanggil Dendhi

“ini nanti om beliin kamu tiket ke Jepang bareng sama Michelle, ajak dia senang-senang”

 

DENDHI POV

 

Apa? Aku nggak salah denger kan? Om ku ini kemarin membuat keputusan sepihak, dan sekarang aku di perintahkan untuk membahagia kan Michelle di Jepang. What the… tapi aku nggak ingin adik sepupu ku ini kepikiran soal kejadian semalam. Dengan nafas berat, ku terima saja.

“oke om, kapan berangkat nya?” tanya ku

“nanti malam, jam setengah dua belas pesawat nya dari Denpasar” balas om ku

“ya udah om, aku mau jemput Anin dulu, dia katanya sekarang pulang dari camping” kata ku lalu meninggalkan om ku.

Ku pacu mobil, perlahan mobil ku mulai meninggalkan rumah pak de menuju ke tempat Anin bermalam. Ternyata jauh juga ya. Perlu waktu dua jam dari rumah pak de menuju ke camping ground nya.

Dari kejauhan ku lihat anak-anak yang sedang memakai baju pramuka, lengkap dengan tongkat nya. Lalu ku tepi kan mobil ku persis di samping dia

“mau ke mana neng” aku berusaha membuat candaan, walaupun suasana hatiku sedang tidak baik gara-gara kabar semalam

“ih.. apaan sih kak, pulang yuk. Aku udah kangen sama Daddy, semalam pakdhe ngasih tau ke aku” ujar nya sambil menggembungkan pipinya.

Dengan pelan aku mengendarai mobilku ini kembali ke rumah pakdhe, jalanan nya sedikit macet, aku sudah tak sabar ingin berangkat ke Jepang, aku akan melakukan apapun untuk membuat Michelle tersenyum,

~oOo~

 

AUTHOR POV

 

Dendhi dan Michelle kini sudah sampai di jepang, mereka akan menghabiskan waktu mereka di jepang selama tiga hari.

“kak, ayo kita pergi ke Fuji Q Highland” Michelle merengek manja.

“ah.. ngapain?” tanya Dendhi malas.

“kita baru aja landing, masa langsung ke Fuji Q Highland?” protes Dendhi

“yaaaah… nggak mau nih?” wajah Michelle cemberut

Dendhi terlihat berpikir keras

“iya deh, ayo berangkat” ajak Dendhi ke Michelle.

Satu setengah jam perjalanan dari pusat kota Tokyo menuju ke Fuji Q Highland, tiga jam mereka habis kan di sana, ekspresi kegembiraan terlukis jelas dari wajah mereka.

“kak, andaikan saja kita bisa tetep kayak gini” ujar Michelle menggandeng erat tangan Dendhi, Dendhi hanya bisa mengerutkan keningnya

“maksudnya? Kalo kamu mau. Tiap liburan kamu bisa ngajak aku liburan ke manapun” kata Dendhi yang memaksakan senyumnya.

“kita ke studio yuk” ajak Dendhi

“ngapain kak?” tanya Michelle dengan muka cengo

“kangen ngeband aku, mumpung temen-temen ku ada di Jepang semua” balas Dendhi

“ya udah deh, kita berangkat ke Studio” kata Michelle.

Mereka kembali ke Tokyo

“cukup melelah kan juga hari ini, tapi aku seneng banget, karena hari ini aku lalui sama kakak, tetep di sampingku ya kak” ujar Michelle di sela-sela perjalanan menuju ke Tokyo.

“iya-iya” ujar Dendhi yang lalu mengelus pelan rambut Michelle

 

~oOo~

 

Mereka sudah sampai di depan Studio yang biasanya di pakai Dendhi untuk bermain band, tak berpikir panjang, Dendhi langsung menarik tangan Michelle untuk masuk ke dalam studio itu.

“halo jenderal, piye kabare?” tanya salah satu orang yang ada di sana

“apik aku” jawab Dendhi.

“hajar wis” jawab Dendhi yang lalu memasuki studio bersama teman-teman nya, tak lupa, Dendhi mengajak Michelle masuk ke dalam ruangan Studio. Satu persatu lagu dimainkan oleh mereka. Aku tak mengerti Bahasa dari planet mana yang mereka gunakan. Mungkin kak Dendhi menggunakan Bahasa jawa nya kali ini.

MICHELLE POV

Lagu-lagu yang kak Dendhi mainkan bener-bener ngingetin aku sama masa lalu kita, aku juga baru sadar kalo band nya Kak Dendhi mainin semua lagu favorit ku. Aku sudah tak sabar menebak apa lagu selanjutnya yang akan di mainkan oleh kak Dendhi dan teman-teman nya. Dentingan piano terdengar sangat manis.

Bila rindu ini, masih milikku

Ku hadirkan sebuah tanya

Tanya untuk mu

Harus berapa lama aku menunggumu

Aku menunggumu

Reff lagu itu tertancap di memory otak ku, tak akan ku lupakan bagaimana suara kak Dendhi menyanyikan ini. Entah kenapa air matanya tiba-tiba menetes?

Satu jam sudah berlalu, hari sudah mulai malam, kini aku dan kak Dendhi sedang menikmati makan malam di Shibuya, sekalian berbelanja, yang aku tahu harga barang-barang di sini cukup ramah di kantong, aku membeli baju bertuliskan I Love Japan, sedangkan kak Dendhi hanya membeli lensa Fish Eye. Entah kenapa aku ingin mengabadikan moment – moment terakhir ku bersama kakak sepupu kesayanganku ini

“Kak, ayo ke Photobox” pintaku sambil menunjuk Photobox yang ada di seberang jalan

“aduh Le, tadi kan kita udah foto – foto, masa kita foto – foto lagi?” tanya kak Dendhi, kelihatan sekali kalau dia kurang suka di foto.

“jadi gak mau nih?” aku sedikit kecewa dengan kakak ku, ku lihat dia sedang berpikir keras

“ayo deh” ujar nya lemas, senang sekali melihat ekspresi nya kala itu, dengan semangat ku Tarik tangan nya menuju ke photobox itu.

Tujuh foto sudah berhasil kami abadikan di dalam bilik foto itu, dengan membayar sekitar 250 Yen, kami berjalan ke Bandara, selama di perjalanan, ku gandeng erat tangan kak Dendhi.

“kak, janji ya. Kalau aku udah di London, kakak jangan lupain aku, jangan lupain semua memory kita dari kita kecil sampai kita jadi seperti sekarang ini” entah kenapa air mata ku menetes ketika aku mengucapkan kalimat itu

“iya, aku nggak akan lupain semuanya” senyuman itu lagi, senyuman yang bisa membuatku nyaman dengan nya, walaupun dia sedikit tempramen.

 

~oOo~

 

Delapan jam perjalanan sudah ku lalui, kini aku dan kak Dendhi sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Ku lihat di sana ada Daddy ku bersama Anin yang menunggu kedatangan kami berdua. Ku lihat ekspresi adikku yang bisa dikatakan cukup lucu, begitu kami sudah dekat, adikku langsung memeluk erat tubuhku.

“kak, jangan tinggalin Anin” ku rasakan baju ku basah terkena lelehan bening yang keluar dari mata nya.

“kakak gak akan ninggalin kamu, kalau kamu kangen tinggal video call pake aplikasi Skype aja” ujar ku yang berusaha menenangkan dirinya. Ku lihat daddy ku yang biasa saja. Kenapa Daddy ku bersikap biasa saja seolah tak ada apapun yang terjadi, anaknya akan pindah ke luar negeri dan ia tak meneteskan air matanya.

Daddy ku lalu mengajak kami untuk makan di restoran yang terletak di Jakarta Pusat, letaknya berdekatan dengan Stadion sepak bola yang ada di Jakarta.

“kamu sudah siap? nanti kamu kasihin alamat ini ke supir Taxi kalau kamu udah landing di London ya” Daddy ku memberikan sebuah alamat yang nanti nya akan aku tempati entah sampai kapan aku di sana

Aku hanya mengangguk pelan. Ku lihat kak Dendhi yang tersenyum kepadaku, tapi entah kenapa senyum nya terksesan seperti dipaksakan.

Tak lama kemudian kami menuju ke parkiran, daddy mengendarai mobil nya, ke jalan yang sangat aku kenali, iya. Aku pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah aku lalu masuk ke dalam kamar ku, tak ada candaan lagi keluar dari mulut semuanya, aku berusaha untuk menidurkan badanku, ku usahakan untuk memasuki alam mimpi.

 

~oOo~

 

Keesokan malam nya Aku, kak Dendhi, Anin, dan Daddy ku sudah berada di bandara soekano-hatta tepatnya di terminal 2, Daddy ku dan Anin mulai memberikan pelukan perpisahan kepadaku. Ku lihat kak Dendhi, matanya berkaca – kaca.

“please bro, don’t give me that look” aku berteriak di dalam hati, sakit sekali rasanya melihat orang yang ku sayangi meneteskan air matanya.

Ku peluk erat tubuh gempal kakak sepupuku ini, ku curahkan semua kesedihan ku bersama air mata yang keluar dari mataku, perlahan ku bisikkan kalimat ke telinga kak Dendhi

“See you in Jogjakarta my Big bro, thank you for taking care of me”

Sedangkan kak Dendhi ku lihat hanya mengangguk pelan sambil menahan air mata yang keluar dari pipinya.

Perlahan aku menuju ke ruang Boarding, meninggalkan negara dengan sejuta cerita. Aku berjanji. Aku akan kembali ke Jogjakarta ketika liburan nanti

 

The End

@MichelleTeofani

Iklan

9 tanggapan untuk “See You Again In Jogjakarta

  1. buat karya pertama menurut gw pribadi sih udah bagus. saran : buat tanda baca. tadi ada dialog pas ayah michelle teriak itu harus tambahin tanda “!” ya emang si udah ada penjelasan “berteriaknya” dan satu lagi…jangan terlalu sering ganti POV/sudut pandang itu bisa bikin pembaca agak bingung buat nikmatin ceritanya. udah gitu aja.

    oh iya, kaga di TL gw kaga dimari pasti willy pacaran mulu sama lele. gw kan panas :v

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s