Zombie Attack, Part 6 : Good bye my bestfriend

 

Alarm Hp milik Dendhi berbunyi, dengan malas Dendhi dan dua orang temannya bangun dari tidur nya.

“udah pagi nih, sekitar tujuh jam tidur. Udah seger ini badan” kata Dendhi

“Den, bentar lagi kita ke mana?” tanya Rafles.

Dendhi lalu membuka aplikasi Google Maps, dia langsung mengetikkan koordinat yang di berikan oleh Veranda

“Kita ke sini *nunjuk tempat*, di situ katanya Ve nanti kita akan di jemput, tempatnya kalo menurutku ” kata Dendhi

“ya udah, kita jalan yuk” ajak Dendhi.

“yakin mau jalan?” tanya Rafles

“apa kamu nggak kelaparan?” tanya nya lagi

“agak laper sih” ujar Dendhi.

“kamu bangunin Michelle Den, aku mau bikin mie instan dalam cup dulu” ujar Rafles yang lalu berjalan meninggalkan Dendhi dan Michelle

“Michelle.. Michelle, bangun” katanya pelan sambil menepuk pipinya pelan.

“hmmmm..” Michelle masih menutup matanya.

“ayo bangun, sudah jam enam ini. Bentar lagi kita mau berangkat” kata Dendhi pelan

“iya kak” Michelle langsung bangun. Dengan mata yang setengah terbuka ia lalu duduk di samping Dendhi yang sedang duduk termenung.

“kak, kakak kenapa? Kok kayaknya lagi ada masalah?” tanya Michelle penasaran

“Iya, aku lagi ada masalah, simple sih. Aku cuman kangen adik aku doang kok.” jawab Dendhi

“waaah… kakak punya adik?” tanya Michelle lagi

“iya, ini foto nya” ujar Dendhi yang lalu memberikan HP nya kepada Michelle. Terlihat foto adiknya di layar HP Dendhi

“kakak pasti beruntung banget yaa” ujar Michelle

“ah.. bisa aja” balas Dendhi singkat.

Suara langkah kaki mulai terdengar. Suara itu semakin lama kencang terdengar. Dendhi lalu mengambil pistol nya, Michelle bersembunyi di belakang badan Dendhi saking takutnya

“oiii… ini aku” ujar Rafles yang naik ke lantai dua

“ngagetin aja deh kamu Raf” kata Dendhi yang lalu menurunkan senjatanya.

“ini sarapan nya udah datang” kata Rafles sambil membawa mie dalam cup yang sudah matang.

“waaah… dari aroma nya udah menggugah selera. Jadi pengen langsung makan” kata Michelle.

DAAAR…

Suara ledakan terdengar. Mereka yang hampir saja memakan mie itu harus membatalkan nya

“Raf, kamu sama Michelle makan, aku bakal standby di depan” ujar Dendhi yang lalu turun dengan membawa semua persenjataan nya.

“Den. Mending kita calling an pake Voice call nya Skype” tawar Rafles

“oke.”

Dendhi mulai berjalan menuruni lantai dua rumah itu, dengan hati-hati ia keluar dari rumah itu, menuju ke sumber suara. Di lihatnya mayat warga desa.

“Raf. Agak cepet makan nya. Aku punya firasat buruk” kata Dendhi

“oke. Kamu masuk dulu aja ke rumah” ajak Rafles

“nggak, kondisi nya kurang aman, warga desa masuk ke prangkap kita Raf, kamu duluan, kalo udah baru gentian kamu yang jaga, aku yang makan” kata Dendhi.

Dendhi mulai waspada dengan keadaan sekitar nya.

GREEEENG…

Warga desa membawa gergaji mesin tiba-tiba muncul dari semak-semak. Ia bersiap menyerang Dendhi.

“shit… apa lagi sekarang?” tanya Dendhi

Dendhi mulai menyiapkan shotgun dan juga empat granat High Explosion. Dia mendekati Zombie itu, dan mulai menembakkan shotgun ke arah warga desa itu, tak disangka nya, warga desa itu masih bisa berdiri dan mulai menyerang Dendhi. kepala Dendhi mungkin putus jika dia tidak menghindar dengan cepat.

“wiih.. gak nyangka aku” ujar Dendhi

Dendhi mengeluarkan Sniper Dragunov, dan dia mulai menjauh dari warga desa itu, dan

DAAARRR…

Peluru sniper Dragunov tepat bersarang di kepala warga desa itu, dia mati. Bersamaan dengan itu Rafles keluar.

“makan sana, bentar lagi kita berangkat” kata Rafles, Dendhi memasuki kembali rumah itu, di lihat nya Michelle yang menatap dalam matanya

“ini orang kenapa ya?” tanya Dendhi dalam hati

“kakak masih hidup kan?” tanya Michelle

“ya iyalah. Kalo nggak hidup nggak mungkin aku kelaparan” ujar Dendhi tertawa

“ya udah kak, makan nih. Atau… mau aku suapin?” goda Michelle

“nggak ah, aku makan sendiri. Orang kamu juga belum selesai makan” kata Dendhi.

Dia lalu menyantap makanan nya, Michelle menyelesaikan makanannya terlebih dahulu. Dendhi yang melihat itu hanya tersenyum. Ketika ia mau berdiri

“Bentar” kata Dendhi mengagetkan Michelle

“eh.. kenapa kak?” tanya Michelle

“mulutmu kotor” Ujar Dendhi yang lalu membersihkan mulutnya dengan tissue, Michelle hanya terdiam, entah kenapa pipinya memerah.

“dasar anak kecil” ejek Dendhi yang lalu tertawa lepas.

“udah selesai makan nya? Kalo udah ayo gerak lagi, perasaan ku nggak enak” kata Rafles yang tiba-tiba ada di samping mereka.

Di perjalanan Michelle hanya mengajak Rafles bicara, sedangkan Dendhi hanya mendengarkan music melalui iPod nya.

“kak, serius amat sih dengerin lagu nya” sapa Michelle

“iya, aku lagi dengerin lagu favorit ku, mau dengerin ” kata Dendhi yang lalu menlepas headsetnya. Michelle tanpa berpikir panjang langsung mendengarkan lagu favorit Dendhi. terlihat bahwa Michelle sedikit mengangguk-anggukkan kepala nya

“Den, itu anak Presiden kamu apain? Kok sampe ngangguk-ngangguk kayak ayam gitu?” ledek Rafles

“dia lagi dengerin lagu Favorit ku” jawab Dendhi sambil menoleh ke arah Michelle

“Peterpan ya?” tanya Rafles

“bukan, sekarang itu NOAH tau” kata Dendhi cepat, sedangkan Rafles hanya menatap Dendhi sebal.

“kak, ternyata enak juga ya lagu nya, judulnya apa ya?” ujar Michelle lalu melepas Headset dan mengembalikan iPod ke Dendhi.

“itu judul nya yang terdalam, dulu aku sering mainin lagu itu sama adik ku” kata Dendhi

“waaah… kak Dendhi bisa main alat music toh? Main alat music apa?” tanya Michelle kaget

“main keyboard” kata Dendhi singkat.

“aku jadi pengen belajar main keyboard kak, kalo udah di Jakarta ajarin aku ya” pinta Michelle

“iya” kata Dendhi singkat.

Lalu keheningan mereka, dipecahkan oleh panggilan masuk dari Veranda

Veranda : Dendhi, ada kabar buruk

Dendhi : kayaknya aku lebih baik gak dengerin.

Veranda : kami kehilangan kontak dengan helicopter. Dugaan kami helicopter itu di tembak jatuh

Rafles : what? Serius?

Dendhi : makanya itu aku lebih baik gak dengerin.

Veranda : jangan khawatir, aku akan mengirimkan helicopter lain nya untuk membawa kalian keluar dari sana

Mereka masih melanjutkan perjalanan hingga sampai di persimpangan jalan, ada dua jalan.

“ok, ada dua jalan sekarang, kita pilih mana? Kiri atau kanan?” tanya Rafles

“kalo aku sih terserah Michelle, dia kan yang kita selametin” kata Dendhi.

 

VINY POV

 

Hari kedua aku berada di desa gila ini. Cukup banyak hal yang kualami. Pertemuan ku dengan teman lama ku Dendhi, dan Vylendo adalah salah satunya. Untuk masalah makanan, aku hanya bisa mendapatkan nya dari menjarah rumah di desa ini, untung nya masih ada bahan-bahan yang bisa aku olah menjadi makanan yang bisa ku makan.

Anto Teo calling

Itu lah notifikasi yang tertera di hp ku, dengan malas aku menerima nya, jujur saja aku malas menerima nya, lagian dia kan punya satelit, mengapa ia tidak melacakku lewat satelit saja?

“halo” suaranya terdengar di seberang sana

“halo, kenapa To? Tanya ku

“lu pasti kelaperan kan di sana, gue udah kirimin persediaan makanan selama lu di Spanyol, mungkin beberapa saat lagi nyampe di tempat lu, catat koordinat nya” ujar nya yang lalu memberikan koordinat di mana persediaan itu di jatuhkan. Aku hanya mencatat nya di selembar kertas.

“udah, gue tutup dulu, ada urusan yang harus gue kerjain” ujar nya yang lalu menutup panggilan nya.

Dengan segera aku menuju ke koordinat itu, menuju ke sana tidak lah mudah, koordinat itu di jaga oleh warga desa itu. Peluru ku mulai habis. aku terpaksa menunggu pengalih perhatian, tak lama aku menunggu, pengalih perhatian itu, Pedro tak sengaja masuk ke kerumunan orang itu. Baguslah. Mereka mulai sibuk

 

DENDHI POV

 

Berita buruk ku dengar dari Veranda, jujur. Aku sedikit kaget mendengar nya, di hadapan kita sekarang ada dua jalan, Michelle yang seharusnya memilih jalan, malah diam saja. Rafles sedikit tidak sabar dengan nya, aku sedikit memaklumi nya. Situasi seperti ini sangat sulit di terima oleh remaja seusia dia.

“Kita ambil sebelah kiri aja” aku menjatuhkan pilihan ku, semoga saja pilihan ku tidak salah. Baru beberapa langkah, aku mendengar suara tembakan.

“kak Den, feelingku nggak enak” ujar Michelle, kurasakan dia mendekatkan badannya kepada ku.

Aku melihat di sekeliling ku yang kiranya bisa digunakan Michelle untuk bersembunyi.

Pandangan mataku akhirnya mendapatkan sebuah tempat sampah yang berbentuk balok.

“Michelle, kamu sembunyi di sana” ujar ku sambil menunjuk tong sampah

“kak, kakak serius?” seperti nya dia tidak suka dengan tong sampah.

“iya, dari tadi kita nggak dapet perlawanan setelah keluar dari rumah itu, aku curiga sama ini semua, cepet sembunyi.”

Kulihat dia menunjukkan ekspresi sebal nya, lalu ia berjalan menuju ke tempat sampah itu. Dia masuk ke dalam tempat sampah itu. Untunglah tempat sampah itu kosong. Aku dan Rafles lalu pergi ke asal suara tembakan itu, ternyata kita salah memilih jalan, tempat ini seperti basis kekuatan warga desa itu, di mana ada Menara pengawal.

“Great” ujar Rafles.

“Brace Yourself” ujar ku yang lalu mengeluarkan senjata Kriss dan mulai membabat warga desa itu.

Aku terlalu serius melihat ke depan, hingga tak menyadari warga desa yang membawa kapak bersiap menyerangku

DAAAR…

“watch your back bro, nice to see you again” ujar seseorang (perhatikan belakangmu bro, senang bertemu dengan mu lagi)

“Nice to see you too bro, I owe you one” balasku (Senang bertemu denganmu bro, aku berhutang padamu satu kali)

“No, you owe me two” ujar Ramires yang kini membawa handgun Red9 (kau berhutang padaku dua kali)

“Let’s dispose of them” kataku menyemangati mereka (ayo habisi mereka).

Rafles mengganti senjata nya dari handgun ke Uzi, sedangkan Pedro mengganti senjata nya dari Red9 ke TMP, kami mulai menggempur basis pertahanan warga desa. Butuh waktu sepuluh menit bagi kami untuk mehabisi basis pertahanan warga desa ini. Aku kembali ke tempat persembunyian Michelle, dan mengetuk pelan tong sampah itu.

“ayo, kita berangkat lagi.” Ujarku kepada Michelle

“ii.. iya kak”  balas Michelle.

Entah aku berhalusinasi atau apa, aku melihat helicopter terbang rendah.

“tunggu, logo itu, nggak salah lagi” kata ku

“Den, kamu tau apa yang ada di pikiranku?” tanya Rafles

Nggak salah lagi, itu logo organisasi Black Organization, suatu organisasi yang membuat virus dan vaksin. Aku tau sekilas karena pas aku di Timor Leste, aku sempet ngeliat logo organisasi mereka, dan ketika aku terlibat kontak senjata sama pasukan nya, aku nggak sengaja berhadapan sama Anto Teo, aku berhasil memberikan luka sayat di tangan nya.

Tapi apa yang organisasi itu lakukan di sini? Yang aku tau, desa ini kena parasite, bukan karena Virus.

“ayo kita selidiki Den” Rafles ngajak aku, jujur. Ini orang nggak mikir ya kalo kita harus nyelametin Berlian.

“Raf, ini terlalu beresiko, kita bawa berlian” kata ku, kita akhirnya memilih melanjutkan perjalanan.

 

VINY POV

 

Aku bergegas menuju ke tempat Drop Zone, Anto bakal nge drop bahan makanan. Sebuah helicopter super puma mendekat, dengan logo Black Organization, terbang rendah. Itu pasti bawa bahan makanan nya.

Ku lihat orang yang mengenakan seragam angkatan bersenjata nya mengawasi sekitar nya, sedangkan yang lain nya bersiap untuk menjatuhkan “cargo” nya. Dan…

BRUKKK…

“cargo” nya mendarat dengan selamat, aku segera menuju ke tempat itu. Dan…

“ya ampun, ini terlalu banyak buat aku sendirian”  gumam ku pelan.

Aku Cuma butuh setengah dari bahan makanan ini, sisa nya mungkin aku tinggalin di sini, aku bakal kasih ke temen-temen ku yang saat ini ada di desa. Kalian mungkin pasti bisa menebak siapa yang aku maksud. Aku tinggalin sisa nya di sini, aku juga nggak mungkin ke desa, karena posisi ku saat ini sudah mendekati kastil itu.

 

AUTHOR POV

 

Viny sudah berjalan menuju ke kastil, tak di sangka ada orang yang mengambil Vaksin virus, vaksin virus itu tak terlihat karena tertutupi oleh tumpukan Roti gandum dan Mie Instan cup dan orang itu berjalan kembali ke desa.

Dendhi, Rafles dan Michelle sedang berjalan menuju ke Rendezvous Point yang di tunjuk oleh Veranda, dari kejauhan telihat tempat lapang. Tak ada yang menghalangi apapun untuk mendarat, hanya saja, di tepi kiri lapangan itu terdapat jurang yang sangat dalam.

“oke, kita tunggu aja ya mereka di sini” kata Rafles, mereka bertiga lalu duduk di lapangan itu.

“kak, aku udah nggak sabar pengen balik ke Jakarta, aku pengen ketemu sama temen-temen ku” kata Michelle, terlihat ekspresi kegembiraan di raut wajahnya. Dendhi yang melihat itu sedikit tersenyum.

“kak, halo?” tanya Michelle sambil mengibaskan tangan nya di depan wajah Dendhi

“eh.. iya, bisa di ulang kamu ngomong apa tadi?” tanya Dendhi.

“kakak nggak pengen balik ke Jakarta?” tanya Michelle.

“pengen, udah nggak sabar nih aku” kata Dendhi.

Mereka tak menyadari bahwa di sana sudah berdiri seseorang di belakang mereka. Orang itu berlari dan

JLEB…

“Arrrrggghhh” Rafles merintih kesakitan.

“shit…” Dendhi dengan cepat menoleh ke belakang.

“Chris, apa yang kamu lakuin?” tanya Dendhi geram

“aku Cuma nyuntik in vaksin itu ke Rafles” ujar Chris sambil tertawa.

“Chris, dia itu temen kita” Dendhi mulai tersulut emosi nya.

“terserah kamu mau nyebut dia temen atau nggak” ujar Chris yang lalu meninggalkan mereka.

“heiii.. tunggu” Michelle setengah berteriak, namun Chris tak menghiraukan nya.

Dendhi dan Michelle mendekati Rafles

“raf, hold on. Please” ujar Dendhi

“iya, aku bakal tahan. Aku Cuma mau ngomong sesuatu sama kamu” kata Rafles.

Michelle mengambil Hp dari saku Dendhi, Dendhi tak menghiraukan nya, dia hanya focus dengan Rafles. lalu Michelle merekam adegan yang memilukan itu

“Aku mau ngomong kalo aku udah bahagia banget berteman sama kamu, dulu kamu itu orang nya nyebelin karena sering ngabisin makanan ku pas di kantin waktu kita masih SMA di Banyuwangi, tapi kamu selalu bisa bersikap dewasa, aku bahagia. Aku mau minta maaf ke kamu kalo aku ada salah sama kamu” ujar Rafles yang meringis kesakitan.

“raf, jangan ngomong kalimat itu, kesan nya kamu mau mati. Please, jangan ngomong kayak gitu, kamu pasti bisa bertahan sampai misi ini selesai. Kamu bakal sembuh. Kamu bakal ngelewatin ini bareng sama aku” kata Dendhi, tak terasa butiran bening mengalir dari kelopak matanya. Namun rafles tak menghiraukan nya, dia mengambil hp peminjaman Dendhi. dia lalu menelpon seseorang

Rafles : Haii adik kakak yang cantik dan sedikit nyebelin

Sofia : halo kak, gimana kabarnya?

Rafles : baik kok, Cuma kakak habis sakit.

Sofia : hah? Yang bener kak? Kakak istirahat aja. Kalo udah mendingan baru jalan lagi, kasih tau aja sama temen kakak itu.

Rafles : iya-iya bawel ah, ooh iya, kakak mau ngomong sesuatu sama kamu

Sofia : ngomong aja kali kak, susah amat sih

Rafles : kakak habis di suntik vaksin sama warga desa itu, kayak nya sih vaksin virus. Umur kakak mungkin nggak panjang lagi Sof.

DEG

Sofia meneteskan air matanya. ia tak percaya bahwa kakak nya.

Sofia : kakak, jangan tinggalin aku sendirian. Aku nggak mau kehilangan kakak, please.

Rafles : aku nggak bakal ninggalin kamu, kamu harus jadi anak yang mandiri, dewasa.

Rafles menitikkan air mata nya.

Sofia : kakak, pasti selamat. Jangan ngomong gitu kak, please. Kalo kakak kena Vaksin virus, kakak tinggal cari vaksin antivirus nya.

Tak ada jawaban dari Rafles.

Sofia : ini gara-gara temen kakak itu.

Rafles : Sof, jangan salahin kak Dendhi. dia nggak salah apa-apa. Itu murni kesalahan kakak, kakak nggak waspada.

Rafles tiba-tiba muntah darah dan lalu jatuh tersungkur. Dendhi dan Michelle kaget setengah mati, warna kulit Rafles berubah menjadi putih pucat.

Sofia : kak? Kakak nggak apa-apa kan?

Rafles : saaa…satu lagi per…permintaan kakak, setelah kak Den…Dendhi selesai dari misi ini, ka…kamu tinggal sa…sama kak Dendhi aja, dii..dia pasti mau menerima ka…kamu, biii..biarin kamu se..serumah sama Gracia… ooh iya Den, ka… kamu mau kan ne..nerima So…Sofia?

Dendhi : Raf, please jangan ngomong gitu, aku mau nerima Sofia, kamu jangan ngomong gitu.

Suara Dendhi samar-samar terdengar oleh Sofia. Dan lagi-lagi Rafles muntah darah.

Sofia : kak, kakak…

Kali ini dia berteriak.

Dendhi mendekati Rafles perlahan, tangan nya memegang Handgun, dia memegang leher Rafles.

“he is gone.” Dendhi menangis.

“Raf, aku minta maaf, kalo seandainya aku lebih waspada, kamu mungkin masih hidup

Dendhi perlahan menuju ke Michelle Dan tiba-tiba

“GROOOOAAAARRR…”

Rafles terbangun, dengan langkah gontai ia berjalan mendekati Dendhi dan Michelle. Michelle dan Dendhi hanya menggeleng tak percaya, perlahan air mata Dendhi turun lagi

“please Raf, don’t make me do this” kata Dendhi, tapi Rafles terus berjalan mendekati Dendhi dan Michelle. Sedangkan Michelle hanya diam mematung. Dendhi teringat oleh perkataan Gracia dengan cepat ia membidik kepala Rafles.

“Maafin aku Raf, maafin aku Raf.” Dendhi berteriak

“Sofia, aku minta maaf” Dendhi berteriak lagi.

DOOOORRR…

Rafles tumbang, kepala nya tertembus peluru. Dendhi mendekati Hp nya dan melihat bahwa sambungan telepon Skype nya masih tersambung dengan Sofia

Dendhi : Sofia, aku bener-bener minta maaf

Sofia : kakak jahat, kakak kenapa bunuh kak Rafles, kenapa?

Dendhi : itu terpaksa Sof, kalo aku nggak nembak Rafles, aku sama Michelle yang mati

Sofia : aku nggak percaya sama kakak.

Panggilan nya di putus oleh sofia. Dendhi hanya bisa meneteskan air matanya, Michelle yang kasihan perlahan mendekati Dendhi dan menepuk-nepuk pundak Dendhi pelan

“Kak, udah kak, ini mungkin takdir nya” ujar Michelle pelan

“udah, nggak usah di record” ujar Dendhi yang lalu merebut Hp milik nya dan mematikan fitur video nya, ia lalu mengembalikan lagi di saku, dia mengambil Hp Xperia Z Ultra, dan menaruh di ransel nya

“Aku pastiin kalo sebentar lagi kamu bakal mati Chris” ujar Dendhi

 

To Be Continued

 

Author’s Note :

Halo rek, apa kabar? Pasti baik kan? Makasih buat kalian yang baca karya ku ini di blog karyaotakgue.wordpress.com, buat yang kasih komentar dari part satu sampe part ini mungkin, akum au ngucapin “matur nuwun nggih”. Ooh iya, buat kalian, iya kalian, kalian yang lagi baca part ku ini. Bagi kalian yang mau gabung di grup Blacklist Author, bisa add line ku, di grup itu kita bisa sharing-sharing tentang FF JKT48, kolaborasi, dan belajar bikin FF.

Dan juga yang mau ngajak aku kolaborasi secara personal, monggo. Tinggal kontakin entah itu di twitter atau LINE..

Special thanks to KOG. Jangan bosen baca karya ku ya ^_^

ID LINE : dendhi97

@Dendhi_yoanda

Iklan

Satu tanggapan untuk “Zombie Attack, Part 6 : Good bye my bestfriend

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s