Just Like The Rain

s

TIK!

TIK!

TES!!!

Hujan itu…

Semakin deras…

Tiap tetesnya, selalu aku rindukan bersamamu…

Rain…

~o0o~

Pagi harinya, seorang pemuda maasih terlelap di tempat tidurnya. Dinginnya hujan membuatnya masih ingin dan dan tidak ingin berpisah dari tempat tercintanya itu. Samar-samar…

Semakin nyaring terdengar.

“Elang… ayo bangun nak! Kamu nggak kuliah hari ini apa?” suara wanita aruh baya membangunkannya.

“Hoamzzzz….” Dengan sayup sembari ia kucek perlahan matanya itu. Membuka selimut yang menutupi dirinya dari hawa dingin hujan yang menusuk di pagi hari.

“Iya Mom, aku bangun” jawabnya dengan nada lemah. Ia mulai berjalan menuju ke kamar rmandi dengan langkah gontai.

—o0o—

“Pagi Mah! Pah!” sapa pemuda bernama Elang itu. Sebenarnya, namanya bukan Elang. Tapi Erlangga Rain. Lebih singkat dan akrab disapa Elang. Mengapa? Matanya tajam dengan bola mata hitam pekat itu. Wajah tampannya berpadu dengan pesonanya. Ia turun dari lantai 2 kamarnya. Lengkap dengan kemeja kotak-kotak biru Navy, celana Jeans hitam, dan jam tangan Quertz hitamnya. Dengan gaya rambut rapi, sedikit acak-acakan dengan klimis. Memperlihatkan kesan simple casual.

“Pagi juga Lang” ucap Mamahnya. Sedangkan Papahnya… masih terdiam menatap tajam ke anaknya, sesekali membenarkan dasi dari jas hitam miliknya. Elang hanya bisa diam seribu bahasa, melihat tatapan Papahnya penuh arti padanya.

“Ngomong saja Pah” ucap Elang duduk sambil memakan roti isinya.

“Kamu akan Papah jodohkan” ucap Papahnya tegas. Sedangkan Elang masih sibuk menuangkan susu pada gelasnya.

“Itu lagi yang dibahas?” jawabnya santai tanpa melihat sedikit pun wajah Papahnya yang serius.

“Dengarkan kalo Papah bicara!” ucap Papahnya meinggikan nada bicaranya.

“Tenang Mas” Ibunya hanya bisa menenangkan.

*Tok*Tok*Tok*

“Permisi…” ucap seseorang. Dari nadanya, itu adalah seorang gadis. Ibunya bangkit dan membukakan pintu.

“Pagi Tante! Om! Hmm… Elang!” gadis itu menyapa seluruh penghuni rumah itu.

“Eh nak Yupi. Silahkan masuk. Elangnya lagi sarapan tuh, ikutan gih” ucap Ibunya Elang mempersilahkan gadis lolli cantik nan imut itu bergabung dalam suasana hangat keluarga mereka. Bukan, suasana mencekam sebenarnya.

Perawakan gadis itu tidak terlalu tinggi dengan kulit putih. Lolli dengan poni yang menutupi wajah cantiknya. Ia hanya tersenyum sambil berjalan menuju kursi di sebelah Elang dan juga ayahnya.

“Pagi sayang…” ucapnya pada pemuda itu.

“Tolong jangan ganggu selera makanku” ucap Elang cuek. Tak menghiraukan, bahkan tidak menganggap gadis itu tidak ada di samping tempat duduk meja makannya. Yupi hanya memasang wajah diam, ia tahu sifat pemuda itu yang masih belum bisa menerimanya seutuhnya,

“Elang! Sopan sedikit pada calon tunanganmu!” ucap Papahnya meninggikan nada suaranya.

“Mas” istrinya masih memenangkan sang suami.

“Pah, tolong dengerin Elang. Aku itu nggak cinta sama dia! Perjodohan ini juga terpaksa kan?! Papah menjodohkan aku dengannya juga karena keluarga kita berhutang budi pada keluargannya kan?!” emosi pemuda itu mulai menyulut.

“Dasar anak tak tahu diuntung!”

PLAK!

“Sudah mas, sudah” istrinya masih memegangi tangan sang suami yang telah menampar anak kandungnya sendiri itu. Sedangkan Yupi hanya diam membisu.

“Baik! Aku pergi” Elang pergi membawa tas dan laptopnya dari rumah itu. Yupi yang menyadari hal itu, langsung saja berlari kecil menyusul langkah cepat pemuda itu.

“Lang! Tunggu! dengerin aku dulu” Yupi masih mengejar pemuda itu. Tiba-tiba, pemuda itu berhenti yang membuat Yupi menabrak punggung pemuda itu. Dia berbalik sambil menunduk.

“Ma-maafin aku” ucap Yupi dengan nada bersalah. Air matanya turun, berlinangan menghiasi wajah cantiknya.

“Hiks… hiks…”

“Nggak, nggak perlu minta maaf. Aku yang harusnya minta maaf. Aku memang bodoh, brengsek.” Elang menyeka air mata Yupi dengan tangannya.

“Kamu nggak salah, maaf aku telah membuatmu ikut campur dalam urusanku dan keluargaku. Kamu tidak tahu menahu tentang semua masalah ini. Jadi, tolong…” ia masih memandang Yupi, menopang wajah gadis itu menghadapnya dengan kedua tangannya.

“Aku mengerti. Kamu masih belum menerima aku seutuhnya. Tapi ketahuilah, aku masih tetap dan akan terus mencintaimu. Aku akan menunggu sampai kamu bisa tulus menerima aku apa adanya, tanpa paksaan. Tapi tulus dari hatimu” Yupi memgang wajah Elang dengan kedua tangannya.

“Baiklah kalau begitu, lebih baik kita berangkat kuliah saja. Kita ada jam kuliah pagi loh” ucap Yupi. Kini senyuman mulai terukir, menghapuskan jejak-jejak linangan air mata.

“Terima kasih” ucap Elang. Kemudian ia menstarter motornya. Lalu mereka berdua pergi ke kampus bersama dengan motor Elang.

 

—o0o—

“Makasih tumpangannya, aku pergi dulu ke kelas. Kamu juga jangan mabal kuliah ya” ucap Yupi tersenyum manis kemudian pergi meninggalkannya.

“Kau masih menyia-nyiakan gadis itu?” tiba-tiba seseorang datang merangkul pundaknya akrab.

“Eh? Tapi… ada yang mengganjal di hatiku tentang dibalik ini semua” ucap Elang. Pemuda di sampingnya adalah Arian. Pemuda bertipikal orang yang konyol, tapi ia adalah sahabat terbaik Elang.

“Ikutilah kata hatimu kawan. Oh iya, tolong datang ke taman kota sore ini. Ada yang ingin bertemu denganmu” ucap Arian lalu pergi.

“Siapa?” tak sempat menjawab, Arian hanya menaikan kedua bahunya yang terlihat dari sisi punggug.

“Ada-ada saja” pikir Elang. Kuliahnya pun dimulai. Dia berkuliah di Universitas 48 Bandung. Satu jurusan dengan Yupi, tapi beda kelas.

Ia memasuki ruang kelasnya. Terlihat teman-temannya sudah menantinya.

“Woi bro!” sapa Gibran akrab. Gibran adalah teman satu band kampus dengannya, sebagai seorang basis.

“Wih! Dari mana aja lu?” tanya Irvan.

“Baru juga dateng kok” ucap Elang disertai senyum palsu. Tiba-tiba dosen yang mengajar pun datang. Sontak satu kelas langsung saja kembali ke posisi duduknya masing-masing.

“Selamat pagi anak-anak!” sapa dosen dengan kacamata itu.

“Pagi pak!” balas semuanya.

“Baik, sekarang buka buku kalian halaman 117” ucapnya.

Semuanya langsung menuruti perkataan dosen itu. Fokus membaca dalam hati, membolak-balikkan setiap halaman dan menyerap isi materi. Berbeda dengan Elang. Dia masih tidak fokus, pikirannya melayang ke mana-mana.

“Elang! Baca teksnya!”

“Diam!” ucapnya tanpa disengaja. Sontak seisi kelas menatapnya dengan tatapan heran.

“Apa!? Sekarang kamu berdiri di koridor kampus!” ucap dosen itu.

“Tapi pak…”

“Tidak ada tapi-tapian. Ini akibatnya karena kamu tidak memperhatikan. Sudah cepat sana!”

“Ba-baik pak” ucapnya lesu.

“Elang kenapa lagi tuh?”

“Tau? Ada masalah sama keluarganya lagi kali”

“Yang mana?”

“Yang katanya dia mau dijodohin sama anak kelas sebelah gegara keluarganya punya hutang budi”

“Hmm… kasian yah”

Beberapa orang membicarakannya

 

—o0o—

“Ah sialan!” ucapnya sambil menendang tong sampah.

DANG!

Dia melihat seorang gadis juga sedang berdiri di depan koridor kelas. Gadis itu mengenakan sweater kartun stich dengan kupluk yang menutupi wajahnya.

“Hai… kamu kok ada di sini?” tanya Elang.

“E-eh…emm…aku telat, jadinya aku nggak boleh masuk kelas” ucap gadis itu lembut.

“Nama kamu siapa? Aku Elang.” kata Elang. Ia memiringkan kepalanya, mencuri-curi pandang pada wajah gadis itu. Ia tak bisa melihatnya jelas, karena tertutupi kupluk sweaternya itu.

“Kamu lupa denganku? Tidak ingat sedikit pun tentangku? Rain…?” tanya gadis itu tak berani menatap wajah Elang. Elang hanya heran dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

“Maaf, maksudnya apa ya?” Elang hanya bingung dengan semua itu.

“Maaf, aku harus pergi” gadis itu pergi dengan membawa sebuah kotak di dekapannya.

“Eh tunggu!” Elang mencoba menghentikannya, ia mempercepat langkahnya membuat Elang tidak bisa menyusulnya.

“Sebenarnya…. Ada apa? Apa yang terjadi?” tanyanya masih berpikir.

Sekitar satu jam dia berdiri di koridor kelas, dan akhirnya…

KRING! KRING! KRING!

Belnya sudah berbunyi menandakan istirahat sebelum pergantian mata kuliah berikutnya.

“Huft… selesai juga hukumannya” ia menghembuskan nafas lega. Ia bisa denagn ringan pergi ke kantin.

—o0o—

“Bu, nasi goreng dan lemon teanya satu” pesannya pada ibu kantin.

“Siap mas” jawab ibu kantin. Tak lama kemudian, seorang gadis menghampirinya.

“Hai sayang!” ucap gadis itu.

“Yup, tolong jangan panggil aku sayang. Nggak enak keliatannya” ucap Elang.

“Eh iya maaf. Kamu udah pesen?” tanya Yupi sedangkan Elang hanya mengangguk.

“Bu, baksonya satu! Sama avocado juicenya juga” ucap Yupi kemudian mengambil tempat duduk persis di sebelah Elang.

“Udah selesai kuliahnya?” tanya Yupi.

“Iya, hari ini Cuma satu matkul” jawab Elang pelan. Tak lama kemudian, pesanan mereka berdua datang.

“Ini mas, mbak, silahkan dinikmati” ucap ibu kantin.

“Makasih” balas Yupi. Mereka memakan makanan yang mereka pesan masing-masing. Yupi lebih sering membuka percakapan, sedangkan Elang hanya menanggapi dengan sedikit bumbu candaan. Tanpa terasa, ia mulai nyaman dengan Yupi.

“Yup, apa kamu tulus cinta padaku?” kini Elang mulai bertanya.

“Ya, walau aku tahu kamu nggak cinta sama aku. Aku akan terus menunggu” terlihat dari sorot matanya, menunjukan dia tulus dan bersungguh-sunggu tanpa ada sedikit pun bumbu kebohongan.

“Terima kasih, maaf aku masih belum bisa…”

“Sssttt… jangan terlalu dipikirin. Belajar mencintai seseorang juga bisa kok” ucap Yupi sambil mengajukan satu jari telunjuk di mulut Elang. Tapi… ada yang membuat pandangan Elang terfokus. Gadis itu lagi…

Ya, dia menatap kemari dengan tatapan sedih sepertinya. Elang mulai merasa heran. Gadis itu kemudian pergi menghilang lagi dari pandangannya. Tapi ia kini beruntung bisa melihat sedikit wajahnya.

“Hei…? liatin apa sih?” tanya Yupi sambil melambaikan tangannya di wajah pemuda itu.

“Eh? Ah… nggak, bukan apa-apa kok”

“Woi, mesra amat mas. Calon tunangan nih ye~” sorak teman-temannya membuat mereka malu.

“Apaan sih” ucap Elang salah tingkah. Sedangkan Arian yang ada bersama teman-temannya itu hanya diam. Elang seperti berbicara dengan mimik mukanya pada Arian. “Kenapa?” batinnya melalui mimik mukannya.

“Bukan apa-apa” balas Arian juga dari mimik muka.

“Tunangannya nanti malem ya?” tanya para gadis. Yaitu Saktia, Della, dan Sisil.

“Eh?” Elang hanya heran.

“Iya” jawab Yupi.

“Tapi…”

“Wah! Ntar malam kita datang kok. Di pusat taman kota kan?” tanya Della.

“Iya, wah makasih udah mau datang >.<” balas Yupi.

“Oke, bye~” semua teman-teman mulai meninggalkan mereka. Menyisakan Yupi dan Elang.

“Jadi…”

“Iya, ayahku mempercepat pertunangan kita” ucap Yupi.

“Tapi, kenapa aku nggak dikasih tau?” tanya Elang bingung.

“Kalau mereka kasih tahu kamu, mungkin kamu akan menolak” raut wajah Yupi mulai diam lesu membisu. Entah, Elang langsung pergi dari tempat itu. Dia berjalan tak tentu arah.

—o0o—

Ia pergi ke taman kota sore itu. Ia ingat akan janji seseorang yang ingin menemuinya di taman kota sore itu. Pikirannya kosong, menerawang apa yang akan terjadi di masa depan tanpa kehendaknya itu. Apa mungkin dia bisa bahagia dengan Yupi? Apa dia bisa belajar mencintai gadis itu? Tapi… kenapa di setiap ia memikirkan itu, selalu ada perasaan mengganjal yang sangat kuat di hatinya. Ia mulai memegangi kepalanya, sejenak terasa sakit.

Dari kejauhan ia berjalan, Elang melihat seorang gadis dengan paras cantik dan rambut selaras panjang itu duduk di bangku taman itu. Gadis itu hanya diam menatap kosong ke depan. Elang mulai mendekat ke bangku taman dan menyapa gadis itu.

“Hai… kamu…” Elang masih mengingat-ingat wajah gadis itu.

“Kamu gadis yang pake sweater stich itu kan?” tanya Elang dan gadis itu hanya mengangguk.

“Kamu orang yang diceritain Arian itu ya?” tanya Elang sambil duduk di sebelah gadis itu.

“Iya” jawab gadis itu singkat tanpa menoleh sedikit pun ke Elang.

“Kamu nggak ingat aku sama sekali?” gadis itu mulai menoleh kepada Elang. Waja cantiknya kini terlihat jelas di depan matanya persis. Matanya seperti menangis, tapi tidak mengeluarkan air mata. Berkaca-kaca? Tapi hanya terlihat kilauan di matanya.

“Kamu siapa ya? Apa kita pernah bertemu sebelum-sebelumnya? Aku saja tidak tahu namamu” balas Elang.

“Aku Ve, Jessica Veranda. Kamu nggak ingat sama sekali denganku… Rain?” tanya gadis bernama Ve itu lagi.

“Maaf, aku nggak kenal siapa kamu. Dan apa maksudmu, Rain? Siapa?” tanyanya semakin dibuat bingung oleh gadis itu.

“Aku pacar kamu” ucapnya pelan.

“Eh… hmmm… maaf. Aku nggak ngerti. Pacar? Aku aja nggak punya pacar. Ada sih tapi, bukan pacar. Cuma dijodohin” ucap Elang tidak percaya dengan ucapan gadis itu.

“Begitu ya” ucap gadis bernama Ve itu lalu berdiri.

“Ini mungkin hari terakhir kita. Tolong, habiskan waktu bersamaku. Kali ini saja” matanya mulai menangis menatap Elang dengan penuh kesedihan. Elang yang tak tahu apa-apa pun hanya bisa diam. Berpikir, ia masih bingung. Kepalanya sejenak terasa sakit kembali.

“Ma-maaf, ssstt….” ia masih bingung.

“Walau kutahu sekarang… kamu pacarnya dia. Maafkan aku telah mengajak kamu ke sini” ucapnya tertunduk lemah.

“Eh eh? Duh. Hmm… ba-baiklah. Aku akan memenuhi permintaan kamu.” ucap Elang.

“Jadi… apa yang harus aku lakukan?” tanya Elang.

“Kamu cukup menemani saja. Di sampingku menjadi orang terdekat… sama seperti dahulu tanpa berubah” ucapnya mendekat pada Elang.

“Maksudnya?” Elang semakin dibuat bingung.

“Untuk terakhir kalinya aja. Ikutilah cintaku yang konyol ini… sampai petang terbenam nanti” pinta Ve.

“Baiklah” Elang mulai berdiri. Entah ia masih bingung, tapi naluri lelakinya menginginkannya bersama gadis itu.

“Ikut aku” Ve mengajak Elang ke suatu tempat. Tempat bermain di pinggir taman kota. Masih dipenuhi keramaian anak kecil yang asik maiin jungkat-jungkit, prosotan, jembatan, atau pun permainan lainnya. Semuanya terasa menyenangkan dan indah ditemani langit jingga senja di sore berwarna orange itu.

“Kita duduk di situ yuk” ucap Ve sambil menggenggam erat tangan Elang. Seperti tidak ingin melepaskannya dari genggaman eratnya itu. Elang hanya bisa pasrah. Mereka duduk di bangku taman itu berdua.

“Dulu, ini tempat favorit kita menghabiskan waktu senja” ucap Ve tersenyum pada Elang.

DEG

Sakit, itu yang ia rasakan di kepalanya.

“Kamu kenapa?” tanya Ve khawatir.

“Nggak, nggak papa. Cuma pusing sedikit” ucap Elang masih memegangi kepalanya.

“Kak! Main bola bareng yuk!” ajak anak-anak di taman bermain itu. Sedikit menyelamatkan Elang dari rasa sakit di kepalanya.

“Yuk main sama mereka!” ajak Ve bersemangat.

“Boleh deh” Elang kemudian bangkit. Kini mereka bermain bola bersama. Dibagi menjadi tim Ve dan tim Elang.

Lucu sekali saat mereka bermain. Beberapa kali, Elang ditarik-tarik tangannya oleh pion-pion anak kecil dari tim Ve karena selalu mendapatkan bola.

“Eeh… mainnya jangan tarik-tarik” ucap Elang.

“Ayo serang kak Elang!” ucap semuanya. Kini merek saling menariki tangan dan kaki Elang. Membuatnya tak bisa berkutik dari cengkraman para anak kecil itu.

“Hahaha… kamu lucu” Ve hanya terrtawa. Setelah itu tersenyum manis masih menahan gelagak tawa. Lega, akhirnya gadis yang tak dikenalnya itu bisa tersenyum hangat.

DEG

Tiba-tiba, ia merasakan sakit lagi di kepalanya. Bola pun lepas dari kendalinya.

“Ayo! Serang gawangnya kak Elang!” ucap para anak kecil itu menyerbu. Saling mengoper asal-asalan seperti taktik yang tak beraturan.

DEK!

“Goal!!!” salah satu dari mereka berhasil menjebol gawang Elang.

“Yeay! Kita menang!” semangat dari Ve pada anak-anak kecil itu.

“Yeay…!!!” sorak semuanya. Ve tersenyum manis sekali melihat tingkah para anak kecil yang konyol itu.

Tiba-tiba…

“Anak-anak! Yuk pulang, mam dulu. Udah sore!” ucap para ibu-ibu paruh baya yang datang menjemput satu persatu buah hatinya. Mereka semua menghampiri Ve dan Elang.

“Mah, tadi kakak-kakak ini loh yang main bareng kita!” ucap anak paling gendut di gendongan ibunya itu.

“Iya mah. Kak Ve sama Kak Elang yang main bareng kita! Seru banget tadi mah!” ucap seorang anak gadis dengan rambut twintailnya.

“Makasih mas dan mbaknya mau meluangkan waktu untuk main bersama anak-anak kami. Mas dan mbak siapa namnya?”

“Ve dan Rain bu” ucap Ve tersenyum, sedangkan Elang hanya menngangguk.

“Oh iya makasih mas Rain sama mbak Ve. Kalian pacaran kan? Semoga langgeng sampai jenjang pernikahan ya” ucap ibu itu.

“Iya bu” jawab Elang.

“Ya sekali lagi makasih. Saya pamit pulang bersama anak-anak” kemudian ibu itu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Gimana?” tanya Elang pada Ve.

“Seru nggak tadi?” Kini giliran Ve bertanya

“Seru! Kok hehe” ucap Elang.

“Kamu lucu deh tadi ditarik-tarik sama mereka hahaha…” Ve kembali tertawa mengingat kejadian konyol tadi.

“Asal kamu seneng, aku juga seneng deh.” Ucap Elang.

“Oh iya, duduk di bangku situ yuk. Mataharinya mau terbenam, kayaknya bagus kalo liat dari situ” Ve menunjuk pada kursi taman itu tadi.

“Ya udah, yuk” balas Elang. Mereka berjalan beriringan ke sana.

“Tunggu bentar yah, itu ada tukang es krim. Aku mau beli dulu. Kamu haus juga kan?” tanya Elang.

“Iya nih” balas Ve.

Sekitar 5 menit, akhirnya Elang kembali lagi ke tempat itu. Dengan membawa dua buah eskrim corong bertoping Black Forest dan Red Velved.

“Nih, jangan belepotan ya makannya. Pelan-pelan” ucap Elang memberikan eskrim Red Velved itu.

“Makasih, iya iya, tau kok. Aku bukan anak kecil lagi wlee :p” ia hanya menjulurkan lidahnya menambah kesan lucu.

“Ternyata, kamu masih ingat kalo aku suka eskrim Red Velved “ ucap Ve sedikit-demi sedikit melahap eskrimnya.

“Maksdunya?” Elang kembali dibuat heran.

“Udah, lupakan” Ve membalas dengan tersenyum.

Matahari semakin mendekat di ufuk barat. Langit jingga berubah menjadi kemerahan, semakin menghitam di bagian lain.

“Thank’s yah buat hari ini. Sebenernya, aku mau ngasih sesuatu ke kamu. Siapa tahu, kamu masih ingat dengan ini” ucap Ve mengambil sebuah kotak yang sedari tadi dia bawa dari kampus.

“Coba kamu buka” Ve memberikan kotak itu pada Elang. Ia membukannya…

“Apa ini? kotak musik?” tanya Elang heran.

“Iya, apa kamu masih ingat?” tanya Ve.

DEG!

Kali ini rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Lebih dari tadi yang dia rasakan sebelumnya. Ve yang melihat Elang memegang kepalany merasa khawatir.

“Kamu nggak papa?” tanya Ve dengan nada cemas.

“Enggak kok, nggak papa” ucap Elang. Dia coba melihat-lihat bagian kotak musik berbentuk love / hati itu. Dia coba membukannya.

“Kok nggak bisa dibuka?” tanya Elang pada Ve. Kemdian ia lihat lagi dan menemukan sebuah lubang kunci pada salah satu bagian kotak musik itu.

“Kuncinya hilang bersamaan dengan ingatanmu di hari itu. Di sini, di tempat ini. Di mana kamu menyelamatkan aku dari maut yang hampir menjemputku kembali ke tempat Sang Maha Pencipta. Tempat khayangan yang selalu kamu bicarakan untuk bidadari sepertiku” Tiba-tiba air mata Ve mengalir, berlinangan membasahi pipinya.

TIK!

TIK!

TES!

DEG!!!

“Arrkkkhhhh…!!!” Elang memegangi kepalanya yang semakin sakit. Sedangkan Ve semakin khawatir ditambah lagi air matanya terus-menerus berdera bersama turunnya hujan. Deras merintik, bersatu dengan dinginnya air hujan.

“Hiks…. maafin aku, hari itu udah buat kamu jadi kayak gini hiks…” tangis Ve pecah seketika.

Elang masih memegangi kepalanya yang kian semakin sakit. Menerawang jauh di memory otaknya. Memaksanya mengingat kembali.

“Kalau saja hiks… hari itu aku tidak ceroboh dan memikirkan kebahagiaanku sendiri… hiks… kamu tidak akan kehilangan ingatanmu… Rain…” ucap Ve.

“Arrkkkhhhh…!!!” teriaknya memegangi kepalany yang terasa sangat ngilu. Tiba-tiba…

TILILIT!

DRRTT!

DRRTT!

Handphone Elang berdering keras. Kurang terdengar karena suara hujan deras yang membasahi sekujur tubuhnya dan juga Ve. Dengan satu tangan, ia merogoh saku celananya dan meraih Handphonennya. Memencet beberapa tombol dan…

“Elang! Kamu di mana! Cepat ke sini sekarang! Papahmu…” ucap ibunya dari telepon yang mebuatya bingung, menambah beban rasa sakit di kepalanya.

“Apa!? Papah?! Apa yang terjadi sama Papah, Mah?!”

“Papahmu kecelakaan nak, hiks… sekarang dia sedang koma. Cepat kamu ke sini”

“Di mana? Kirimkan aku alamatnya Mah!”

“Di rumah sakit Pelita Harapan hiks…”

“Baik, aku segera ke sana”

TIT!

Elang langsung menutup teleponnya.

“Ve maaf aku harus…”

“Pergilah… ayahmu membutuhkan kehadiranmu secepatnya” ucap Ve dengan tulus ikhlas tersenyum di tengah derasnya hujan.

“Tapi tolong, bawa ini” Ve memberikan kotak musik berbentuk hati itu pada Elang

“Makasih”

TAP!

TAP!

Elang langsung saja pergi dari bangku taman itu meninggalkan Ve seorang diri.

 

TIK!

TIK!

TES!!!

Hujan itu…

Semakin deras…

Tiap tetesnya, selalu aku rindukan bersamamu…

Rain…

 

~o0o~

TAP!

TAP!

“Mas, cari siapa?” tanya suster receptioist itu.

“Sus, tolong pasien atas nama Prasetya Widjaja!” pemuda itu masih tersengal-sengal dengan nafasnya dan bajunya basah.

“Ruang VIV III kamar Anggrek lantai 3” ucap suster itu.

“Makasih sus” Elang langsung berlari mencari ruangan itu. Lift, ya lift!

“Ah sialan! Penuh! Ck” langsung saja ia memutar jalan. Ia berlari menaiki tangga darurat menuju lantai tiga.

—o0o—

Di sana, sudah terlihat wanita paruh baya sedang menangis di depan ruang tunggu depan kamar Anggrek. Bersama dengan gadis lolli yang menggunakan dress putih.

“Mah! Gimana keadaan Papah?!” Elang langsung memeluk Mamahnya.

“Belum tahu Lang, masih nunggu hasil dokter hiks…” ucap Mamahnya. Lalu ia melepas pelukannya sambil menyeka air mata yang kian tak henti menetes di pipinya.

“Lang… yang sabar ya” ucap Yupi menenangkan.

“Makasih” ucap Elang. Tak lama kemudian, dokter keluar.

“Dok, gimana keadaan Ayah saya dok” tanya Elang tergesa-gesa.

“Pasien bapak Widjaja masih dalam keadaan koma dan kritis. Beliau kehilangan banyak darah. Kita perlu darang golongan AB sus” ucap dokter itu.

“Hmm.. maaf dok, stock darah sample itu sedang habis” ucap suster itu.

“Gunakan saja darah saya atau ibu saya dok selaku kelarganya!” ucap Elang.

“Hmm… baiklah, harus di tes di laboratorium dulu untuk kecocokan” ucap dokter itu.

“Mari mas, ibu” ucap suster itu.

*****

“Maaf mas dan ibu, hasil tes darahnya tidak cocok dengan milik pasien” ucap dokter dan suster itu.

“Lalu bagaimana?! Lakukan apa yang kalian bisa!” Elang mulai tersulut emosi.

“Tenang nak” ucap ibunya.

“Gunakan darah saya dok!” ucap Yupi mengajukan.

“Baik sus, ditest dulu” ucap dokter.

Sekitar lima menit mereka menunggu dan…

“Cocok dok!” ucap suster itu. Benar, golongan darah Yupi cocok dengan golongan darah Ayahnya Elang.

“Alhamdulillah” ucap Elang dan ibunya bersyukur. Elang menggenggam tangan Yupi dan tersenyum. Senyuman indah dari wajah tampannya.

“Makasih Yup” ucap Elang.

“Sama-sama” Yupi balas tersenyum

 

—o0o—

Elang terus mondar-mandir ke sana kemari menunggu ayahnya siuman. Sedangkan ibunya tak henti-hentinya menggenggam erat tangan sang suami itu.

“Egghhh…” jari-jari ayahnya mulai bergerak perlahan-lahan namun pasti.

“Papah!”

“Mas!”

“Aku di mana?” tanyanya mencoba duduk.

“Mas di rumah sakit. Jangan banyak gerak dulu mas. Mas tadi kecelakaan” jelas Mamahnya Elang.

“Maafin mas ya udah bikin kalian khawatir” ucap papahnya Elang.

“Nggak kok Pah. Justru Elang yang harus minta maaf karena nggak nurut apa kata Papah” Elang bicara dengan nada bersalah.

“Yupi yang udah donorin darah buat Papah” Elang mengkode Yupi agar mendekat.

“Makasih ya nak Yuvia” ucap Papahnya Elang berterima kasih.

Ayahnya Elang memegang tangan Elang dan Yupi. Menggabungkan tangan mereka. Sejenak, Elang dan Yupi bertatapan. Belum terlalu mengerti maksud dari perlakuan ayahnya Elang.

“Tolong kali ini saja. Kalian mau bertunangan” ucap Papahnya Elang. Elang bingung, bimbang lebih tepatnya. Bagiaman mungkin dia bisa bersanding dengan orang yang tidak dicintainya?

“Baiklah, demi Papah :”)” ia hanya tersenyum palsu ikhlas. Sedangkan Yupi hanya diam, tidak bisa menyangka perkataan lelaki yang ia cintai itu.

“Terima kasih telah memenuhi permintaan Papah” ucap Papahnya Elang.

“Dan Papah ingin, pertunangan kalian berlangsung malam ini juga. Di tengah taman kota” ucap Papahnya Elang.

“Eh… tapi Om…” Yupi kaget.

“Tolong, kali ini saja” ucapnya lagi.

 

—o0o—

Pertunangan berlangsung dengan meriah. Tapi belum resmi karena mereka belum memasangkan cincin satu sama lain di tangan kedua mempelai. Sementara orang tua mereka masing-masing masih sibuk menyambut para tamu yang datang di pesta pertunangan anak tercintanya masing-masing.

“Selamat pak Widjaja, selaku CEO perusahaan WDJ Group atas pertunangan putra anda Elang” ucap klien Ayahnya Elang.

“Oh terima kasih pak. Anda datang kemari saja sudah kehormatan bagi kami. Terima kasih atas waktunya” sambut ayahnya Elang ramah.

“Selamat juga atas pertunangan putri sulung anda pak Burhan Yovie. Selaku direktur perusahaan YVO Group.”

“Iya terima kasih sudah datang di hari yang berbahagia kelarga saya ini.”

Tiba di mana acara memasangkan cincin satu sama lain antar mempelai laki-laki dan perempuan.

“Cie~ Yupi sama Elang cocok nih! Serasi deh kalian berdua!” ucap Devils Attack atau bisa dibilang itu adalah Della, Via, dan Sisil.

“Bro, jangan lupain yang jones di sini! Haha have fun sama tunangan lu” ucap Gibran dan Akbar, kecuali Arian yang masih diam. Terukir senyuman di wajah Yuvia yang mengenakan kebaya-dress motif bunga putih design zaman sekarang. Tapi, dia juga masih bingung dengan keputusan Elang.

Elang sendiri? Dia mencoba menerima dengan ikhlas. Tertanam rasa bimbang di hatinya. Rasa mengganjal yang tidak tahu menah datang dari mana. Seperti ia tak ingin, tapi ia harus. Sekarang, pikirannya malah tertuju pada Ve. Bagaimana keadaan Ve sekarang? Apa dia baik-baik saja setelah dirinya tinggal di taman kala hujan deras sore tadi. Dengan jas tuxedo gagah miliknya, ia memulai acara itu.

“Pasangin cincinnya!!!” ucap teman-temannya.

“Pasang!”

“Pasang!”

“Pasang!”

Elang mulai membuka kotak cincin itu. Terlihat sebuah cincin berlian biru di dalamnya. Bermotif bunga di setiap sisinya. Ia mengambil cicin itu. Meraih tangan kanan Yupi. Di sejajarkan dan mulai mengincar jari manis Yupi. Semakin dekat dan hampir masuk…

Tinggal berjarak satu centimeter lagi…

DEG!

Dia berhenti sebelum cincin itu masuk. Dia melihat sebuah kalung berbentuk kunci di tanah. Tak jauh dari pancoran air utama di dekat tengah taman kota itu. Kepalanya pusing bukan main. Sakit teramat, ia sampai berlutut memegangi kepalanya.

“Arrkkkhhhh…!!!”

“Elang! Kamu kenapa?!”tanya Yupi khawatir sambil membantunya berdiri.

“Lanjutin acaranya!” sorak teman-temannya. Elang mulai memasukkan lagi dan…

 

“TUNGGU!!!” pemuda itu maju ke singgasana pertunangan.

“Pertunangan ini batal! Mempelai pria tidak bisa melanjutkan pertunangan ini!” Arian dengan lantan mengucapkan itu di depan umum.

“Kenapa sih?”

“Ada apa sih?”

“Itu cowok ngapain sih?”

Semua yang di sana hanya heran menatap Arian.

“Elang! Bukan… Rain!!! Lu dengerin gua! VE ITU PACAR LO!!! DIA CINTA SAMA LO!!! DIA MATI-MATIAN PERJUANGIN CINTANYA BUAT ELO!!!

SADAR! KALO LO ITU BUKAN ELANG…!

TAPI RAIN YANG GUE KENAL…!!!”

Arian sudah mulai emosi. Sedangkan Elang masih sakit memegangi kepalanya.

“Hentikan…!” teriak Elang.

“Apa yang lo lakuin sama dia!” Yupi mulai khawatir.

BUGKZ!

“Arrkkkhhhh….!” lirih Elang.

“SADAR! DI MANA INGATAN LO YANG DULU! BALIK!!! INGATAN LO HARUS BALIK!!!” Arian memukul Elang dengan kencang sekali tepat di wajahnya. Tiba-tiba, kotak musik berbentuk hati pemberian Ve itu terjatuh.

“Ini…” Dia menatap di kedua benda itu. Ya… kotak musik berbentuk hati itu dan kalung berbentuk kunci itu.

DEG!!!

[FLASHBACK ON]

Sore itu, di bulan Agustus. Tepatnya tanggal 19 adalah ulang tahun Ve. Ya, dia adalah Ve. Jessica Veranda. Wanita yang dicintai Rain, belahan jiwannya, separuh dari dirinya. Dia sudah janjian dengan Ve di taman kota sore itu.

Terlihat Ve yang menunggunya di tempat biasa. Di bangku taman tepat di mana mereka sering menghabiskan sisa waktu mereka di kala jingga senja mentari petang. Iseng, dia sedikit memberi kejutan. Dari belakang, Rain iseng menutup kedua mata Ve dengan temannya.

“Siapa hayo?” canda Rain.

“Ini siapa? Rain ya?” Ve masih tertutupi matanya. Kemudian, tangan Rain dilepaskan dari kedua mata Ve.

“Rain! Ishh… iseng banget deh” Ve hanya tersenyum sambil memasang wajah pura-pura ngambek..

“Yah, bidadari jangan ngambek dong. Nanti pangeran hujan berkuda putihnya cari bidadari lain loh” ucap Rain dipenuhi candaan.

“Hahaha… apaan sih pangeran. Jahat deh, iya nih bidadarinya senyum” ucap Ve sambil ternsenyum.

“Gitu dong. Senyumnya jangan kelamaan dong. Kemanisan itu, nanti pangeran hujan diabetes hehe” ucap Rain menahan gelagak tawa.

“Hahaha… bisa aja” Ve ikut larut dalam candaannya.

Bidadari, itu adalah panggilan Rain pada Ve yang dia kira adalah seorang bidadari tanpa sayap yang diutus Tuhan untuknya.

Sedangkan Pangeran Hujan, adalah panggilan Ve pada Rain karena dia tampan dan namanya memang memiliki arti hujan.

“Pangeran hujan bawa sesuatu loh. Tuan putri bidaidari mau lihat?” ucap Rain.

“Apa sih? Kasih tau dong pangeran” :3 Ve memasang wajah imut chubbynya.

“Tutup matanya dulu dong” ucap Rain.

“Beneran ya? Awas jangan ditinggal loh” Ve mulai menutup matanya.

“Iya” balas Rain.

 

“Nah sekarang, buka matanya…” ucap Rain.

“Wah…!” Ve terkejut dengan apa yang dibawa Rain.

“Happy birtday Vedadariku. Wish you all the best J ! Wish di tahun ke 22 ini apa?” tanya Rain pada Ve sebelum dia meniup lilin pada kue yang dibawa Rain. Ve mulai mengucapkan permohonan.

“Fuuhh…” semua lilin berangkaian angka 22 mati secara bersamaan.

“Yeay!!! Tadi wish apa sih?” tanya Rain.

“Ish kepo deh” ucap Ve.

“Apa? Masa pangerannya nggak dikasih tau L” Rain memasang muka memelas.

“Mau tahu? Bidadari pengen pangerannya tambah jelek kayak bebek wlee :p” Ve menjulurkan lidahnya.

“Kok bidadari jahat sih?” ucap Rain.

“Oh iya sama satu lagi. Nih, kado dari aku buat kamu. Semoga suka ya” ucap Rain memberikan sebuah kotak berukuran sedang.

“Boleh dibuka sekarang?” tanya Ve.

“Boleh dong!” ucap Rain bersemangat. Ve mulai membuka pitanya. Kemudian membuka tutup kotak tersebut.

“Ini…” Ve menggantungkan ucapannya.

“Cobe deh, masukin kuncinya ke lubang yang ada di kotak itu” ucap Rain. Ve mendapati sebuah kalung berbentuk kunci dan juga sebuah kotak misterius berbentuk hati.

CEKLEK

Ting triring ting trang triring *kurang lebih begitu lah ya*

Sebuah miniatur dua orang sedang berdansa berputar di tengah kotak musik itu. Dan juga terdengar suara alunan khas dari kotak musik itu.

“Wah…!” Ve terkagum-kagum.

“Gimana? Suka nggak?” tanya Rain.

“Suka banget!” >_<

“Syukur deh hehe. Hmm… Ve. Ini Cuma seandainnya aja. Kalo misal aku nggak bisa bersama kamu, atau mungkin sebaliknya gimana ya? Kalo semisal juga aku kembali ke ‘kerajaan’ dan kamu kembali ke ‘khayangan’ gimana juga ya?” tanya Rain berangan-angan.

“Hus… ngomong apa sih” ucap Ve heran.

“Hehe, lupakan yang tadi.”

“Eh itu ada eskrim! Aku mau! Aku mau beli dulu ya!” ucap Ve beranjak dari bangku taman itu.

 

*****

“Pak, eskrimnya dua ya. Black Forest satu, Red Velvednya juga satu” pinta Ve.

“Siap! Nih neng” ucap abang eskrim itu.

“Berapa bang?” tanya Ve lagi.

“15 ribu kok.”

“Nih bang, kembaliannya ambil aja” Ve memberikan uang berwarna hijau bernilai 20 ribu itu.

“Makasih neng” ucap abangnya.

 

“Rain!” Ve berlari kecil menghampiri Rain yang berada di sisi jalan sambil membawa dua buah eskrim corong itu di kedua tangannya masing-masing. Dari kejauhan, melintas sebuah mobil truck dengan kecepatan tinggi.

“VE!!! AWAS!!!” Rain langsung berlari menghampiri Ve dengan masih membawa kotak musik dan cincin itu.

“Arrkkkhhhh…!!!” jerit Ve.

DUAR!

Rain terpental ke sisi jalan, sedangkan Ve hanya terjatuh di trotoar.

“Aduh…!” Ve memengangi kepalanya yang masih pusing. Terlihat banyak orang sudah berkerumunan mendekati salah seorang korban. Ve menangis dan langsung bangkit dari jatuhnya, menghampiri pemuda itu.

“Permisi hiks… minggir, minggir!” Ve mencari celah jalan. Begitu terkejutnya dia. Orang yang ia sayangi, selalu ada untuknya, selalu di sampingnya, orang yang berharga sekali untuk dirinya, dan orang yang selalu berjanji menjagannya tergeletak lemas berlumuran darah di sekujur tubuhnya terutama di bagian kepala.

“RAIN!!! BANGUN! JANGAN TINGGALIN AKU!!! HIKS!!!” tangisnya pecah seketika di sana. Sirine ambulance mulai mendekat. Langsung saja Rain dilarikan ke rumah sakit.

—o0o—

“Rain kamu bangun Rain, jangan tinggalin aku hiks…” Ve masih berlinangan air mata. Mengikuti Rain sampai di ruang UGD. Saat sampai di depan pintu UGD…

“Maaf mbak, dilarang masuk” ucap susternya.

“Tapi sus, hiks… saya khawatir dengan pacar saya sus” Ve panik.

“Serahkan semuanya pada kami. Anda tunggu di sini dan berdoa semoga mas yang di dalam cepat membaik” ucap susternya kemudian langsung pergi masuk kembali ke ruangan UGD.

“Tuhan… hiks… kali ini saja. Dengarkan doaku. Tolong selamatkanlah dia, renggut saja kebahagiaanku untuknya. Sesungguhnya aku tak sanggup melihatnya menderita. Apa artinya kebahagiaanku tanpanya. Hiks… tolong kabulkanlah doaku. Amin… hiks…” Ve masih menangis sesenggukan.

Tak lama kemudian, orang tua Elang datang.

“Apa yang kamu lakukan terhada putraku?!” Papahnya Rain langsung tesulut emosi.

“Sudah mas, tenang. Kita doakan Rain nggak kenapa-napa” ucap ibunya juga menangis.

“Maafin saya Om, Tante” Ve hanya tertunduk bersalah sambil tiada hentinya menangis.

“Untuk terakhir kalinya… JAUHI ANAK SAYA!” ucap Papahnya. Tak lama kemudia, dokter keluar dari ruangan UGD.

“Ada keluarga pasien?” tanya dokter.

“Kami dok, kami orang tuanya” ucap Papah dan Mamahnya Rain.

“Begini, putra anda mengalami pendarahan yang sangat banyak sekali akibat tarakan yang dialaminya. Tapi tenang, masalah pendarahannya masih bisa pihak rumah sakit tangani karena stock darah golongan tersebut tersedianya banyak. Masalahnya…” dokter menggantungkan ucapannya.

“Masalahnya, putra anda kemungkinan 90% mengalami amnesia dikarenakan benturan yang sangat keras di bagian kepala bagian belakangnya. Tepat di otak besar bagian kanan selaku otak yang bekerja mengingat jangka lebih panjang” ucap dokter.

“Lalu bagaimana dok? Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya?” tanya dokter.

“Ada, hanya satu. Bantu dia mengingat kembali semua, mulai dari dirinya sendiri. Semakin lama seiring berjalannya waktu, ingatannya akan kembali lagi” ucap dokter.

“Kalau begitu, saya permisi dulu” ucap dokter pergi.

“Terima kasih dok.”

Mereka langsung menjenguk Rain. Berharap ia bisa langsung siuman. Sementara Ve…

Dia hanya memandang Rain dari balik jendela ruangannya. Hanya bisa tersenyum menangis melihat kekasihnya sudah siuman. Walaupun dia tahu, kekasihnya tak akan mengingatnya lagi, tak akan ada di sisinya lagi, dan tak akan melindunginya lagi.

[FLASHBACK OFF]

“Ve! Di mana Ve?!” Elang langsung tersadar dari semua sakit di kepalanya. Ingatannya mulai perlahan kembali, dia bukan Elang. Tapi dia Rain, Rain yang dicintai Ve. Rain yang selalu ada di sampingnya, menjaganya, dan melindunginnya.

“Bagus lo udah sadar sekarang” Arian hanya tersenyum.

“Apa yang terjadi sama Elang?!” Yupi heran sekaligus kaget sekali.

“Yup, maaf. Aku ini bukan Elang yang kamu kenal. Tapi aku ini Rain. Maaf, semoga kamu bisa ngertiin aku. Maaf aku udah jadi cowok brengsek yang udah kasih harapan palsu ke kamu. Percayalah, kamu bakalan dapetin yang lebih baik dari aku” Rain langsung berlari meninggalkan singgasana pertunangan itu.

“Elang tunggu!” Yupi hanya bisa diam pasrah.

“Eh itu si Elang kenapa lari?”

“Tau tuh, eh ikutin aja yuk.”

“Ya udah yuk. Takut dia nanti kenapa-napa.”

Rain berlari menuju Papah dan Mamahnya.

TIK!

TIK!

TIS!

Hujan turun dengan derasnya.

“Pah, Mah. Aku Rain, bukan Elang. Maaf kalo aku nggak nurut sama kalian, maaf kalo aku bukan anak yang berguna. Tapi tolong, kasih aku kesempatan untuk kalian mengakui Ve lagi” Rain bersungguh-sungguh dengan permintaanya. Mamahnya terharu sedih, sedangkan Papahnya…

PLAK!

“Dasar anak keras kepala!!!” Papahnya semakin emosi sambil meninggikan nada suaranya.

“Mas!!! Berhenti! Udah cukup semua ini! kita nggak berhak melarang keinginannya dia!” ucap Mamahnya Rain.

“Pah, tolong dengerin aku sekali ini… aja. Aku butuh restu dari kalian berdua” Rain mencium tangan Mamah dan Papahnya.

“Rain! Lu harus cepetan! Gue denger Ve bakalan pindah ke Jepang buat nerusin kulianya di sana!” ucap Arian.

“Pah…” Rain sudah sangat bersungguh-sunggung.

“Huh… baiklah… bawa kembali gadis itu. Buktikan bahwa kamu laki-laki sejati, bertanggung jawab membawanya kembali. Bahagiakan dia. Papah merestuimu” Papahnya kini tersenyum, terenyuh hatinya melihat kesungguhan anaknya yang luar biasa.

“Mah…” lirik Rain.

“Mamah merestuimu. Pergilah nak…” Mamahnya meneteskan air mata terharu. Rain langsung mencium tangan kedua orang tuanya dan langsung pergi menggunakan mobil Lamborghini Gallardo putih pribadi miliknya.

“Ayo Yan!!!” teriak Rain.

“Gas pol! Rem pol! Mas bro!!!”

“Ya kali, nggak jalan kalo digituin mobilnya.” -_-

“Udah cepetan meluncur ke bandara Soekarno Hatta. Sebentar lagi pesawatnya take off!” Langsung dengan kecepatan kilat, Rain menjalankan mobilnya meuju bandara.

“Pak Widjaja! Bagaimana ini?!” tanya Aayahnya Yupi (Pak Yovie).

“Maaf, pertunangan anak kita batal. Saya sudah sadar dan sangat teramat bersalah sekali menghalangi keinginan anak saya. Kesungguhannya dalam mencintai seorang wanita, membuat hati saya terenyuh untuk melepaskannya” ucap Papahnya Rain (Pak Widjaja).

“Ah…! bagaimana semua ini! Kita batalkan kontrak kerja sama perusahaan kita! TITIK!”

“Batalkan saja, lagipula saya masih banyak klien dan kontrak kerja sama dengan perusahaan lain” jawab Papahnya Rain (Pak Widjaja) santai.

“Kurang ajar!!!”

“Sudahlah Pah, aku juga nggak cinta sama Rain” Yupi datang menenangkan amarah ayahnya.

“Tapi nak…”

Yupi hanya tersenyum.

“Ayo kita pulang” permasalahan ini berakhir sudah.

 

—o0o—

“Ah sialan! Pake macet segala lagi!!!” Rain memukul-mukul jock mobilnya sendiri.

“Siapa suruh pake ‘Oke Guugle’. Mendingan lu ikutin arahan gue tadi lewat jalan pintas” ucap Arian.

“Kenapa nggak dari tadi anjir!”

“Lu nggak nanya!”

Mereka berdua langsung meluncur ke arah jalan yang ditentukan Arian.

*****

Sesampainya di bandara…

“Maaf pak, mobil anda dilarang parkir di sana. Atau mobil anda akan diderek mobil derek karena menghalangi jalan.”

“Masa bodoh! Mau mau dibegoin pake mobil bego juga terserah!!!” Rain langsung masuk ke bandara.

“Yaelah, santai aja mas brew” ucap Arian.

“Udah ayo cepetan!” ucap Rain.

 

~o0o~

Gadis itu berada di tengah kerumunan. Masih menunduk tidak percaya bahwa dia akan meninggalkan semuanya yang ia sayangi.

“Panggilan kepada penumpang Garuda AirLine 119. Diharap memasuki pesawat karena lima menit lagi pesawat akan take off” ucap pramugari yang mengkonfirmasi keberangkatan pesawat tersebut.

“Selamat tinggal Bandung, Selamata tinggal semuanya, dan…

Selamat tinggal…

Rain…” Ve mulai berjalan, sampai di depan pintu pesawat.

“Tunggu!”

—o0o—

“Eh siapa ya mas ganteng?” tanya mbak-mbak ganteng atau bisa dibilang itu adalah banci yang tak dikenal Rain itu.

“Eh sorry mbak, saya salah orang” ucap Rain.

“Pffttt…hahaha banci! Lari!!!” mereka langsung lari ngiprit.

“Eh mas! Tunggu mas!”

—o0o—

“Eh iya?” tanya Ve.

“Ini, ponsel mbak ketinggalan” ucap petugas bandara.

“Oh iya terima kasih mas” ucap Ve dan kembali berjalan memasuki pesawat.

“VE!!! Tunggu!!!” ucap seorang pemuda. Peluh keringat dan nafas tersenga-sengal terlihat dari pemuda itu.

“Elang… maksudku… Rain?!” tanya Ve terkejut.

“Ve! Tolong jangan pergi Ve! Aku cinta sama kamu Ve! Lihat ini!” Rain menunjukan kalung berbentuk kunci dan memasukkannya ke lubang kotak musik itu. Terbuka! Terlihat miniatur sebuah pasangan sedang berdasa ditambah alunan musik khas dari kotak musik itu.

“Ve! Kembali!” Rain naik dan menggenggam tangan Ve erat. Menatap dalam matanya, ia membuktikan kalau dia adalah Rain yang ia sayangi, Rain yang ia cintai, selalu ada di sisinya dan selalu menjaganya.

“Hiks… Rain…” Ve langsung memeluk Rain.

“Hey… udah… dong. Bidadari jangan pergi khayangan ya… nanti pangeran hujan kesepian di sini” ucap Rai membalasn pelukan Ve.

“Iya pangeran hujan jelek wlee :p” Ve menangis bahagia hanya senyuman terukir di wajah cantiknya.

TIK! TIK!

TES! TES!

GRUDUG!!!

“Hujan ini, jadi saksi bisu cinta kita…”

“Udah jangan nangis. Bidadari jadi jelek loh haha” Rain menyeka air mata Ve.

“Akhir yang bahagia…” Arian menangis terharu.

“Kyaa~ bisa nangis juga lu ternyata” Pffttt… THOR datang bawa mjolnir.

“Diem aja lah lu. Namanya manusia pasti juga bisa baper” Arian menyeka air matanya.

“Muehehe… THOR sekarang tinggal getok palu pernikahan aja nih J

 

 

~—o0o—~

 

“Pah, kopinya udah siap nih.”

“Iya… itu Rava sama Violetta jangan lupa disuruh sarapan. Biar semangat Ujian Kenaikan Kelas mah!” ucap seorang pemuda membenarkan dasinya.

“Hmm… Papah kalo pake dasi suka ngelantur haha” sang istri hanya menggeleng tertawa sambil membenarkan posisi dasi sang suami.

“Cie~ papah sama mamah mesra banget nih ye~” ucap dua orang anak memakai baju putih merah itu.

“Hus… anak kecil nggak boleh liat haha…” tawa sang suami mengawali keceriaan keluarga di hari Senin pagi.

“Dasar ya, papah kamu emang genit haha.”

“Kok mamah nyahat sama papah” sang suami memasang wajah cemberut.

“Udah lah pah, udah siang nih. Yuk berangkat!” ajak sang anak bernama Rava dan Violetta itu.

“Siap bos!” sang Suami hanya mengacungkan jempolnya.

“Jangan lupa mjolnirnya wkwkwkw”

“Siap THOR!!!” pose hormat satu keluarga.

“Bahagia dengan keputusanmu Rain?” tanya THOR.

“Iya, akhirnya aku bisa mempunyai istri seperti Ve. Bukan, memang dia adalah Ve yang kucintai. Ravatar Rendyan Aldo dan Vera Violetta. Nama kedua anakku, kuambil dari nama kami berdua. RAin dan VEranda.

~THE END~

Created by : Rain @Rendyan_Aldo

~Author’s Note~

Yah, akhirnya selesai juga tulisan ini. Dibumbui dengan niat nggak niat. Dikasih bumbu pelengkap mood nggak mood. Ya intinya sih gue kalo mau nulis tergantung mood dan niat. Walaupun sebenernya gue nggak niat juga sih. Tapi pas gue nulis ini tiba-tiba ada mood gegara hujan, Gue lagi asyik maen gitar, terus hujan turun dengan derasnya. Dingin, ya itu yang gue rasain. Terus kepikiran suatu ide gila. Dan akhirnya tertuanglah inspirasi dari ide gila itu di sini. Awalnya sih, gue mau buka laptop terus pengen bikin ff selingan “Direct Von MangKeling Van Ki Kempot” yah gampangnya Arah Anak Jahanam Dan Ganteng-Ganteng Seringgila *apaan seh :3

Hahaha dah, jadi kalian bisa liat sifat Rain itu kek gimana. B*d*h, Beg*, dan Br*ngs*k (sorry min pake kata-kata yang terlarang) :”) nggak pekaan sama cewek meuehee. Ibaratin aja Rain itu pencerminan diri gue di dunia maya. Kalo di dunia nyata ya Reza atau Rendy atau Aldo. Oke, intinya gue makasih banget pertama-tama buat admin blog KOG yang udah ngepost ide gila ini dan juga thank’s buat para viewers numpang lewat, hanya lewat, tukang sedot wc, sama tukang sapu injukz yang mau ngebersihin debu di karya gue ini alias mampir ke cerpen gue ini. Sorry kalo masih ada banyak typo. Diriku tidak sesempurna itu. Komen,kritik, dan saran perlu asupan. Yang kritik kejelekan juga nggak papa kok. Tapi kalo bisa DM twitter aja ya J soalnya nggak enak ribut di blog orang (Ini kalo ada aja orang yang nyari ribut). Kyaa~ salam #JustKiding #JustikeTheRain #PriaPenyukaHujan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Just Like The Rain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s