“Hitam Putihnya Panda : Rizal” Part 6

Sepulang sekolah hari kamis, aku berkumpul di hall Indoor beserta petinggi osis dan osis bidang olah raga, para anggota klub olah raga juga tidak luput dari rapat. Ada yang dari tim voly, bulu tangkis, bela diri, dan masih banyak.

“Besok hari jumat sekitar pukul delapan pagi kita akan pergi ke luar kota untuk melakukan malam bersama, tentu saja beberapa guru akan ikut serta, tujuannya sudah jelas yaitu demi membangun kebersamaan antara bidang olah raga satu dan lainnya.” Ucap ketua osis.

“Rizal…..” Sapa kak Melody begitu manis.

“Tidak, aku gak akan pergi.” Ucapku sambil membaca sebuah buku pelajaran.

Aku tahu jika ini akan terjadi yaitu kak Melody mengajakku pergi ke acaranya, sudah jelas tahun kemarin saja aku mangkir dan tahun ini mana mungkin aku akan ikut acaranya.

“Rizal, aku bilang kegiatan macam ini harus kamu coba, pasti akan menyenangkan,” kali ini ucapan kak Melody begitu lembut tidak seperti biasanya yang selalu tegas, apa karena sedang di depan banyak orang.

“Tidak berarti tidak, sekali lagi aku gak akan pergi.” Kali ini aku tidak akan kalah, ikut ke acara seperti itu? Lebih baik aku belajar sendiri di sekolah.

“Rizal…” ucap Melody.

“No.. no..” balasku sambil menggeleng.

Saat itu ekspresi kak Melody langsung berubah serius, tentu saja kepaswadaanku semakin meninggi karenanya. Ketua berjalan mendekat dan lalu berdiri menghadapku, semua orang yang lain hanya diam menunggu melihat kami.

“Rizal, kamu tau aku punya sesuatu yang sangat penting, kepunyaanmu yang kakak punya.”

Ekspresiku jelas berubah, aku menatapnya tajam, “Kakak!.” Mataku pun sedikit diciutkan menatap kak Melody.

“Sangat Penting! Sesuatu yang kamu cari.” Ucap kak Melody sambil memperagakan sesuatu yang membuatku malu nantinya jika orang lain tahu. Saat kak Melody melakukan hal aneh itu aku pun tidak tinggal diam, telunjuk tangan kananku di tempatkan di mulut agar kak Melody tahu untuk tetap diam. Jujur saja aku benar-benar benci jika kak Melody memaksa seperti ini.

“Kak, jangan lakukan ini.” Dengan terpaksa aku memohon dengan kedua tanganku dirapatkan  walau sebenarnya gregetan dan kesal.

“Kalo gitu kamu dan kakak akan membereskan masalah ini di luar hall.” Mau bagaimana lagi aku dan kak Melody berjalan keluar Hall, sedangkan yang lainnya tetap berada di dalam.

“Kakak, kakak nggak bisa ngelakuin ini! Kakak gak bisa memaksaku!”

“Kenapa kakak gak bisa memaksamu? Rizal, kamu gak bisa membiarkan Sinka sendirian pergi keluar kota, apalagi dia sekarang dekat dengan Yoga.”

“Sejak kapan kakak peduli Sinka dekat dengan siapa? Kakak, aku mohon, mohon padamu, jangan lakukan ini pada adikmu! Aku gak akan pergi!”

“Kamu akan pergi!”

“Tidak! Aku tidak akan pergi!”

“Ya!” ucap kak Melody.

“Tidak!” balasku.

“Ya!”

“Tidak!”

“Ya!”

“Tidak!”

“Ya!”

“Ya!” balasku.

“Tidak!” balas kak Melody.

“Ya! Aku akan melakukannya.”

“Tidak! Kamu tidak akan melakukannya.”

“Ya!” ucapku.

“Tidak!” balas kak Melody.

“Ya!”

“Tidak!”

“Ya!”

“Tidak!”

“Wah sayang sekali aku tidak harus pergi.” Ucapku santai.

Kak Melody sejenak diam, jarang-jarang aku bisa membodohinya, “Baiklah jika adik kakak ini gak mau pergi,” Asli kak Melody langsung bersikap manis banget.

“Kakak akan memberi tau semua orang kalo kamu pernah memakai bra warna pink.”

Sial! Kalian jangan salah paham dulu, aku waktu itu masuk ke kamar kakak untuk mencari foto masa kecilku yang memalukan, saat sedang mencari tanpa sengaja aku menemukan bra pink yang menurutku besar dan tidak cocok untuk kakakku, untuk memastikannya aku memegang bra itu dan sejenak membandingkannya lalu di waktu bersamaan kak Melody masuk ke kamar. Seperti itu masalahnya.

Aku menahan emosiku dengan menipiskan bibirku, “Kalo gitu berikan aku foto masa kecilku dulu.”

“Dengan satu syarat kamu akan pergi?” tanya kak Melody.

“Berikan aku semua fotonya, baik itu file di memory SD kamera, file JPG atau apa pun, letakkan semuanya di kamarku. Jika aku melihat foto-foto itu masih ada di bumi ini meskipun hanya satu foto……. aku akan kabur.”

Keterlaluan, selama aku berbicara kak Melody hanya tersenyum sambil mengangguk riang, “Baiklah, sumpah kelingking.” Ucapnya sambil menujukan kelingking kanannya.

Aku pun terseyum sinis, “Kakak, ini namanya bukan janji, tapi ini pemerasan.” Balasku langsung pergi meninggalkannya, sedangkan kakakku sepertinya dia kembali ke dalam hall.

Besoknya mau bagamana lagi aku dan kak Melody berserta Shani datang ke sekolah bersama, aku benar-benar kesal dengan apa yang kak Melody lakukan.

“Aku pergi ya, jangan kangen.” Ucapku menatap Shani.

Sesuai jadwal kami semua pergi ke bandara untuk pergi ke luar kota, saat di pesawat aku duduk bersebalahan dengan kak Melody dan kak Ve. Selama di penerbangan aku hanya memakai headset untuk mendengarkan musik, sesekali juga aku melihat Sinka yang tertawa lepas dengan Yoga dan para sahabatnya.

Beberapa jam penerbangan akhirnya kami sampai, mulai dari situ kami melanjutkan menggunakan dua bus besar untuk sampai ke tempat tujuan. Di dalam bus aku duduk berdua dengan kak Melody, tidak seperti di dalam pesawat, kali ini aku melihat Sinka kelelahan dan aku melihat juga saat dia malah tertidur dengan kepalanya bersandar di pundak Yoga selama perjalanan.

Sesampainya di lokasi semua lelahku di bayar lunas oleh suasana disana, udaranya begitu segar walau sudah pukul dua siang, pasti udaranya lebih segar pada pagi hari besok. Perjalanan ini belum berakhir, kami harus berjalan masuk lebih dalam ke perbukitannya, akhirnya kami benar-benar sampai di lokasi dan sepertinya penderitaanku akan segera di mulai.

Semua orang berbaris di lapangan itu, sebagai ketua osis dan seorang guru yang bertanggung jawab mereka berdua memulai pidato mereka masing-masing, “Yang perlu diingat adalah kita harus tetap menjaga kebersihan tempat ini, dilarang membuang sampah sembarangan dan jangan keluar arena tanpa persetujuan dari guru. Satu lagi, tidak jauh dari sini kiri-kira satu jam lebih perjalanan ada sebuah pedesaan jadi jangan mengganggu mereka serta tetap ikuti peraturan yang ada di tempat ini. Bila sudah mengerti kalian dipersilahkan membuat tenda.”

Semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sedangkan aku duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku tentang fisika sambil melirik timku membangun tenda. Tidak bisa tenang apa sejenak cewek itu? Dia terus saja berteriak bahagia saat sedang membangun tenda, aku menurunkan bukuku dan meliriknya, oh come on tim mereka belum ada kemajuan sama sekali, malahan bisa dibilang jika mereka paling terakhir. Aku berjalan menghampiri mereka dan kemudian memperhatikannya dengan sedikit serius, dimana letak bahagianya saat membuat tenda saja tidak bisa.

“Aku mulai gak tahan.”

Dengan terpaksa aku menghampiri Sinka dan menitipkan buku yang sedang kubaca tadi, “Simpan baik-baik dan lalu perhatikan.” Aku mulai merangkai kerangka tenda-tendanya sendiri sehingga tenda itu bisa berdiri kokoh sekitar lima menit lamanya.

“Wah kamu hebat bisa bikin tenda sendiri, gak salah IQ kamu 200.”

Aku sejenak mendekatkan wajahku ke wajah Sinka, untuk bisa melakukannya aku harus sedikit membungkuk karena perbedaan tinggi kami, “Anak SD aja udah pada bisa bikin tenda kayak gini.” Balasku sambil mengambil kembali buku yang sedang dia pegang.

“Kak Rizal makasih ya..” beberapa teman se-tim Sinka pun terlihat senang, jika sudah begini aku kemudian berjalan kembali ke para temanku untuk melihat kerjaan mereka.

Baiklah semua tenda sudah tertata rapih, kini saatnya bersiap untuk makan malam. Saat sedang bersantai di dalam tenda sebuah pertanda masalah datang, kak Melody tanpa diduga menemuiku di dalam tenda, senyum manisnya menandakan jika aku tidak akan mudah untuk bersantai.

“Kamu ke dapur ya sayang! Bantu masak disana.” Ucapnya sambil memperagakan sesuatu yang tidak bisa aku tolak.

Aku benar-benar sadar jika kak Melody adalah manusia setengah iblis, jika bukan karena dia punya kartu AS sudah pasti aku tidak akan terjebak ditempat seperti ini. Tujuanku sekarang ke dapur, disana sekitar 15 orang dengan dibagi menjadi beberapa kelompok.

“Rizal, kamu satu kelompok sama Yupi dari kelas 10 IPA 2. Tuh disana.” Ucap kak Ve.

Ini mudah, aku hanya membantu mereka dan semua ini akan cepat berlalu, “Maaf telat.” Ucapku saat Yupi sedang membelakangi.

“Eh kak Rizal, mohon bantuannya ya.”

Yah aku tahu kenapa kak Melody menyuruhku membantu masak apalagi satu tim dengan Yupi, karena di tim itu ada Sinka dan Yoga juga, mereka berdua sedang memasak entah apa aku tidak tahu namanya yang jelas mereka berdua begitu kompak.

“Em asapnya.” Ucap Sinka sambil mengedipkan mata kirinya.

Ketika Sinka ingin mengucek matanya dengan cepat Yoga mendekat “Sini biar aku liat dulu bentar.” Ucapnya. Yoga mendekati wajah Sinka, walau pun tujuannya untuk membantu memeriksa mata tetap saja posisi wajah mereka begitu dekat. Apa Sinka bodoh? Kenapa dia mau saja saat Yoga bertingkah seperti itu. Wah suasana di dapur cukup panas bagiku, aku kemudian mengambil peralatan masak dan hanya membantu Yupi tanpa berbicara lagi.

Malam tiba, kami semua makan dengan membuat beberapa kelompok lingkaran. Aku makan dengan begitu tenangnya, posisi duduk makanku sedikit unik yaitu karena aku dan Sinka saling membelakangi sehingga punggung kami pun menempel satu sama lain, tidak jarang aku dan dia saling bersandar untuk membuat nyaman posisi duduk.

Temanku memang sedikit cerewet saat sedang makan, dia bercerita walau pun mulutnya terisi makanan. Kalian pasti tahu seperti apa sikapku, ya aku hanya berekspresi biasa sambil memakan makananku, malah orang yang bersandar di punggungku ini sesekali terdengar suara tertawanya. Ada satu titik dimana cerita temanku begitu menarik, dan pada saat itu aku langsung memasang telingaku.

“…………….. meskipun seseorang digigit ular, dia baik-baik aja.”

“Bagaimana bisa?” tanyaku.

Temanku itu telihat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang aku berikan, “Gue sebenermya nggak yakin itu akan berhasil atau gak, gue ngeliat mereka menggiling beberapa tumbuhan dan menutupi lukanya. Didihkan dan minum, semua orang yang meminumnya akan pulih total dalam 2-3 hari.”

Baiklah itu info menarik, ternyata ada beberapa informasi tradisional yang aku belum tahu seutuhnya. Aku kemudian melanjutkan makan dengan kali ini bersandar kembali di punggung Sinka.

Esok harinya kegiatan sesungguhnya dimulai, kami memainkan perlombaan sederhana untuk membuat hubungan lebih erat, satu yang membuatku tidak habis pikir yaitu dari banyaknya orang kenapa aku selalu bisa melihat Sinka, dia begitu menikmati acara ini ditambah ……. dia tertawa bersama Yoga. Bahkan saat istirahat siang, mereka berdua duduk bersama, Yoga pun memberikan sebotol penuh air minum untuk Sinka, dan dengan polosnya dia meminumnya. Akh aku hanya bisa membuang muka saja sampai akhirnya ada sesuatu yang mendekat, sebotol air pun terlihat di depan wajahku.

“Nih minum, aku tau kamu belum minum dari tadi.” Dengan sikapku seperti biasa aku mengambilnya dari Sinka dan meminum beberapa teguk untuk sekedar membasahi tenggorokan.

Setelah makan siang aku berkumpul bersama kak Melody, kak Ve, dan kak Yona. Hingga dimana Sinka bersama Yupi mendekati kami.

“Kak, kami ijin buat jalan-jalan sebentar, waktu kita ke sini ada sebuah tempat yang bagus dengan banyak bunga.”

“Baiklah, jangan lama-lama ya.” Balas kak Ve.

Dengan tingkah polosnya Sinka mendekatiku dan tersenyum lebar, “Kamu yakin gak akan tersesat?” tanyaku.

Dia hanya tersenyum sambil mengangguk, setelah itu Sinka dan Yupi pergi ke semak-semang hingga aku tidak bisa melihat mereka lagi. Aku membaca buku dengan begitu serius hingga sudah lewat dua jam, eh? Dua jam? Dengan cepat aku melihat jam tangan menunjukan pukul 4 sore. Apa Sinka sudah kembali? Lebih baik aku tanya ke kak Ve.

“Belum tuh, dari tadi gak liat Sinka.”

Dengan cepat aku menyebarkan berita ini ke guru dan osis lainnya, untuk tetap tenang masalah ini dirahasiakan kepada murid lainya, walau begitu ada saja pengganggu datang, “Sinka dari tadi belum balik ke tendanya.” Yoga datang dengan wajah cemasnya.

“Seseorang coba cari signal HP, jika mendapatkannya coba untuk hubungi mereka berdua.” Ucap kak Melody.

“Kita mungkin mendapatkan signal tapi belum tentu mereka mendapatkannya, aku rasa kita harus mencarinya.” Balasku.

Guru yang bertanggung jawab sepertinya setuju dengan ideku, dia lalu menyuruh kami para osis untuk mencari mereka dan kembali setengah jam kemudian. Setengah jam berlalu, dari lima kelompok belum mendapatkan kemajuan, akhirnya kami berkumpul kembali.

“Waktu kita perpanjang menjadi dua jam, masing-masing dari kalian membawa senter, dan satu kembang api di setiap kelompok, jika kalian menemukannya cepat nyalakan kembang api itu.” Ucap kak Melody.

Kami semua dengan gesit menyebar mencari Sinka dan Yupi. Dua jam, apa bisa aku menemukan mereka dalam waktu itu? Aku harus bisa. Matahari sudah terbenam dan langit menjadi gelap, dengan kencangnya Yoga meneriaki nama Sinka berulang, cih saat ini aku tidak peduli satu kelompok dengannya yang penting mereka berdua bisa ketemu.

“Sinka! Sinka! Sinka! Sinka!” teriak Yoga.

Sial Yoga berisik sekali, aku mencari dengan caraku sendiri, walau Yoga dan dua lainnya jauh di depanku, aku tetap tenang menyoroti sekitar dengan senterku, mulai dari tanah, batang pohon dan lainnya.

“Sinka! Sinka! Sinka! Sinka! Sinka! Sinka! Sinka!” teriak Yoga kembali.

“Guru bilang kita gak boleh meneriaki nama mereka, bukan begitu?” tanyaku.

Dengan sedikit kesal Yoga mendekatiku, “Jika kita gak manggil nama mereka, bagaimana mereka tau kalo kita mencari mereka? Huh?” Aku pun berdiri menghadap Yoga sehingga kami saling berhadapan.

“Lu gak akan bisa mendengar balasan mereka karena lu berteriak!”

Yoga mendekatkan tubuhnya hingga kami hampir saling mengadu pundak, tapi seseorang dari osis menahan badan Yoga dan menjauhkan dia dariku, “Tapi gue mengkhawatirkan Sinka dan lu gak mengkhawatirkan mereka. Jika lu gak khawatir dan hanya berjalan untuk mencari bintang, lu bisa pulang kalo gitu.”

“Yog tenang..” ucap salah satu osis menarik Yoga.

“Lepasin gue.” Balas Yoga dan kemudian berdiri diam.

“Tenang lah yog, Guru tadi benar-benar bilang begitu, itu kepercayaan masyarakat disini.” Ucap osis itu.

“Tolong jangan bertengkar, ini waktunya kita kembali sekarang.” Ucap osis lainnya.

Sepertinya Yoga tidak terima jika pencarian ini berakhir, ini hanya membuang-buang waktu saja. Aku menyoroti sekitar kembali dan pergi memisahkan diri dari mereka. Aku terus berlari dan sejenak berhenti untuk memastikan pohon, tanah, tumpukan daun berharap menemukan sebuah jejak. Ini mustahil pikirku sambil aku bersandar di batang pohon, bukan saatnya pesimis. Aku kembali berjalan menyoroti tanah dan daun beberapa meter ke depan, dugaanku tepat karena ada beberapa jejak di tanah dan daun.

“Tolong! Tolong!”

Sebuah suara tangisan terdengar, ketika aku menyorot arah suara itu aku melihat orang yang kucari tidak juah dari pohon besar, dengan cepat aku berlari mendekati mereka, “Sinka.” Ucapku.

 

 

*To Be Continued ………

Twitter : https://twitter.com/BeaterID

Iklan

Satu tanggapan untuk ““Hitam Putihnya Panda : Rizal” Part 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s