Sebuah Cinta dan Kenangan, Part24

“Harusnya pertanyaan itu buat lu. Ngapain lu ada disini ?” Ucap Erza.

“Eh ?!” Anin kaget mendengarnya sambil menoleh.

 

Erza mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Anin sambil tersenyum.

 

“E…ehh ?” Anin yang kaget dengan reaksi Erza membuat pipinya memerah dan sedikit memundurkan wajahnya.

“Ngapain ?” Tanya Erza kembali.

“Ta…tadi ada anak kucing. Iya, tadi ada anak kucing lari kesini makanya gue kejar”

“Anak kucing atau anak nakal yang nguping pembicaraan orang lain saat sedang nerima panggilan masuk ?” Ucap Erza dengan senyum khas nya.

“Nggga kok” Balas Anin cepat dan pergi.

“Lah ngapain lari dia ?” Pikir Erza dan berjalan menyusul Anin.

 

“Kenapa lari ?” Tanya Erza setelah berhasil berjalan disamping Anin.

 

Anin hanya diam tak menjawab sambil terus berjalan. Erza memiringkan kepalanya saat melihat Anin dari samping.

 

“Shani…Gracia…sampai hari ini belum diketahui keberadaannya dan lu ? Lu sebagai pacar dari Shani dan bisa dibilang kakak juga buat Gracia malah keliatan santai aja ?” Ucap Anin.

 

Anin terlihat menarik nafas…dan menghembuskannya lumayan kasar. Anin meghentikan langkah kakinya.

 

“Mereka itu dua orang yang lu sayang kan, za ? Sadar !” Tambah Anin.

“Iya bener. Mereka orang yang masuk dalam daftar orang yang gue sayang dan juga orang yang berharga di hidup gue” Jawab Erza.

“Kalo emang bener mereka orang yang lu sayang, kenapa lu keliatan kaya ga terjadi apa-apa. Berasa sedikit tak peduli”

 

Erza lagi-lagi kembali tersenyum dan menghempaskan nafas.

 

“Gue peduli nin”

“Peduli apanya ?!” Anin kini berbicara dengan sedikit menaikan nada bicaranya.

“Gue peduli dengan cara gue sendiri. Peduli ga harus kita perlihatkan didepan orang lain. Yang penting dengan rasa menghormati dan tindakan”

“Gue bakal cari Shani sama Gre sampe ketemu”

“Yakin lu bisa ?” Ucap Anin.

 

Erza terdiam tak menjawab.

 

“Polisi yang udah terlatih bertahun-tahun aja belum bisa nemuin mereka apalagi lu dan lu juga sendiri…” Ucapan Anin sedikit membuat telinga panas, dipotong Erza.

“Gue bisa…”

“…gue bisa cari mereka dan gue ga sendirian” Ucap Erza dengan nada datar.

 

Anin menaikan sebelah alis matanya saat mendengar ucapan Erza itu.

 

“Ga usah repot-repot lu cari, orang lu yang sembunyiin” Batin Anin dengan melihat Erza.

 

“Apa ? Gue beneran. Kalo perlu gue ikut dipenjara gara-gara selamatin Shani gue juga ga masalah” Tanya Erza.

“Iya, serah lu aja deh” Ucap Anin sambil kembali berjalan.

 

Sementara itu di tempat lain, diwaktu yang sama.

 

Didalam satu ruangan kosong dengan lembaran kardus sebagai alas tidurnya. Shani dan Gracia berada didalamnya selama disekap. Dengan kondisi masih mengenakan seragam sekolah, Gracia memeluk Shani dan begitupun sebaliknya. Mereka merasa ketakutan atas hal yang sedang terjadi. Memang siapa yang ingin merasakan disekap oleh orang yang tak dikenal ?

 

“Gre pengen pulang kak…” Gracia memeluk erat tubuh Shani.

“Kak Shani juga tau itu gre…”

“Kak Shani percaya kalo kita bakal segera bisa keluar dari tempat ini gre dan semua juga akan berakhir” Shani mebalas pelukan erat Gracia.

“Apa orang-orang cari kita kak ?” Tanya Gracia.

“Jelas mereka bakal nyariin kita, gre” Balas Shani.

 

Shani memandang lurus kedepan dengan terlihat memikirkan sesuatu. Kemudian dilanjutkan dengan mengeluarkan nafas dengan perlahan.

 

“Apalagi ibu…dia pasti khawatir banget sama aku” Lirih Shani.

“Aku kangen ibu, bu” Tambah Shani.

 

Terdengar suara handle pintu diputar. Sesaat kemudian masuklah seorang laki-laki dengan penampilan seperti anak berandal dengan membawa sebuah nampan berisi dua buah piring makanan.

 

Saat si berandal tiba didepan Shani dan Gracia, ia berjongkok sementara Shani dan Gracia menjauh. Belum mengeluarkan kata-kata. Si berandal meletakan nampan tersebut dibawah dan mendorongnya ke arah Shani dan Gracia.

 

“Gue bawa makanan buat lu berdua” Ucap si berandal.

 

Namun ucapan si berandal malah mendapat ekspresi takut dari wajah Shani dan Gracia.

 

“Makanlah” Lanjutnya.

“Tolong lepasin kita” Ucap Shani lirih.

“Lepasin kalian ? Hahaha”

“Emang kita salah apa ? Apa kalian mau minta tebusan ?” Tanya Shani dengan mata mulai berkaca-kaca.

 

Si berandal mengambil sendok, mengisinya dengan satu suapan dan mendekatkannya ke mulut Shani tapi oleh Shani langsung ditepis sehingga sendok tersebut terlempar lumayan jauh. Si berandal malah tersenyum.

 

“Tujuan utama kenapa kalian sekarang ada disini bukan karena uang. Oke, gue disini juga dibayar. Gue berada disini karna gue menjadi orang yang yang harus jaga kalian dan awasin kalian saat bos ga ada”

“Jujur gue ga tau apa tujuan nya tapi yang penting gue dapet duit”

“Bos bilang lu itu pacaranya. Gue akui lu emang cantik buat rata-rata cewe biasa dan gue mau jujur lagi kalo gue juga sebenernya tertarik sama lu tapi sayangnya kata bos jangan ada yang boleh apa-apain lu” Ucapnya sambil mengelus pipi Shani.

“Jauhin tangan menjijikan lu itu !” Cegah Shani.

“Oke oke. Ruangan lu ini dari luar kita jaga dan kita awasi, jangan sampai coba-coba berani buat kabur dari sini atau kalian bisa dapet akibatnya dari bos” Ucap si berandal.

“Gue percaya sekarang polisi lagi nyariin kalian” Ucap Shani.

“Kalian bakal segera masuk sel !” Tambah Shani.

“Polisi ? Kita udah biasa berurusan sama polisi, ini bukan pertama kalinya buat kita jadi, kita ga takut. Kirim aja polisi yang banyak buat cari tempat ini”

“Asal kalian tau, gue udah sering keluar masuk dari dinginnya lantai sel penjara. Terakhir gue rasain belum lama ini gara-gara gue tusuk orang tapi untungnya tuh orang masih beruntung, dia ga sampai mati cuma sampai sekarat doang”

“Oh iya, nanti malam bos bakal datang kesini. Mending kalian habisin ini makanan, jangan sampai bos punya pikiran kalo kalian disini oleh gue ga dikasih makan ya” Ucap si berandal dengan akhiran sambil menepuk-nepuk pelan pipi Shani.

 

“Woy ! Lama amat lu ngasih makan doang” Teriak satu teman berandal lainnya.

“Mentang-mentang tuh cewe cantik jadi lo godain ya. Inget kata bos, jangan kita apa-apain mereka” Tambahnya.

“Siapa juga ya mau apa-apain ini cewe” Ucap si berandal dan bangkit dari posisi jongkoknya.

“Jangan lupa dimakan, dihabisin juga” Lanjutnya sambil menunjukan senyum menjijikannya.

 

“Kak…” Lirih Gracia.

“Udah ga papa. Kamu tenang aja” Ucap Shani mencoba menenangkan Gracia yang terlihat lebih ketakutan daripada Shani.

“Tadi kata dia bos mereka itu pacar kakak, apa…”

“Aku yakin bukan Erza…”Ucap Shani memotong.

“Aku juga ga percaya kalo kak Erza bisa lakuin hal kaya gini. Buat apa ?” Ucap Gracia.

“Walau baru kenal beberapa tahun ini tapi aku tau sifat Erza kaya gimana. Memang kadang suka tempramental, susah ngendaliin emosinya tapi Erza bukan orang jahat” Ucap Shani.

 

 

Semua orang sedang berkumpul dirumah Shani. Dimana beberapa anggota dari kepolisian datang ke rumah untuk memberitahukan hasil pencarian sementara. Terdapat Erza, Elaine, Sinka, Anin, Yogi, Ve, Okta, Melody dan yang lainnya.

 

Walau malam itu kondisi rumah Shani bisa terbilang ramai oleh banyaknya orang yang ada tapi semua diam. Mereka diam mendengarkan apa yang dibicarakan oleh salah satu anggota kepolisian.

 

“Maaf bu, untuk sampai malam ini kami belum bisa melacak keberadaan putri anda dan satu temannya lagi. Untuk itu kami meminta agar semua tetap tenang” Ucapnya.

“Gimana saya bisa tenang ? Dia putri saya pak” Ucap ibu Shani.

“Saya tau perasaan ibu, perasaan seorang ibu kepada anaknya apalagi si anak adalah perempuan. Tapi sebaiknya ibu tetap tenang dan berdoa”

“Apa bapak belum bisa menemukan petunjuk ?” Tanya Ve.

“Kita sedang dalam tahap pengembangan. Kita sedang mengumpulkan petunjuk yang ada. Dari si korban keluar rumah, berangkat ke sekolah sampai si korban menghilang…”

“Kita juga sudah tanyai orang-orang sekeliling yang kami anggap melihat si korban ini”

 

Ve memeluk Melody dengan membenamkan kepalanya dileher Melody sambil menangis yang ditahan. Melody mencoba menenangkannya sambil mengelus pelan dan lembut rambut Ve.

 

“Tenangin diri kamu ve. Kita percaya kalo mereka diluar sana pasti baik-baik aja”

“Tapi gre, mel…”

“Iya, udah-udah”

 

“Buat kabar perkembangan selanjutnya nanti kita kabari lagi”

“Tolong temukan anak saya pak, saya bakal bayar berapapun kalo anak saya bisa ketemu” Ucap ibu Shani.

“Ini tugas kami bu. Ibu tinggal berdoa aja. Kami akan terus berusaha”

“Makasih banyak, pak”

“Kalo gitu, saya permisi pamit mau melanjutkan tugas”

“Iya pak”

 

Setelah beberapa anggota dari kepolisian yang menyelidiki hilangnya Shani dan Gracia pergi. Erza bangkit dari duduknya dan berpamitan.

 

“Maaf buat semua, saya ada keperluan mendadak. Ada yang harus saya tanyakan sama polisi tadi” Ucap Erza.

“Kalo gitu kita ikut sekalian aja” Ucap Elaine.

“Ga usah, mending kalian disini. Biar gue aja yang pergi sendiri” Ucap Erza.

“Saya pamit duluan, tan” Pamit Erza pada ibu Shani, tante Indira.

“Iya nak Erza. Tolong bantu cari juga, tante mohon…tante percaya sama kamu” Ucap ibu Shani, namun Erza hanya diam dan beberapa detik langsung melangkahkan kakinya.

 

Anin berdiri dari duduknya, berniat mengikuti tujuan perginya Erza. Namun dengan cepat tangan Ardi menahan Anin.

 

“Udah, biar gue aja” Ucap Ardi sambil menganggukan pelan kepalanya.

“Tolong di…” Ucap Anin.

 

Ardi memakai jaketnya dan keluar rumah Shani untuk mengikuti Erza dengan dengan motornya.

 

 

“BRUM ! BRUM !”

 

Suara motor membangunkan Shani dan Gracia dari tidurnya. Tak lama setelah suara motor, terdengar di luar orang mengobrol. Handle pintu kembali berputar. Muncul satu pria yang mungkin dimaksud si berandal tadi sore sebagai bos mereka dan dibelakangnya diikuti oleh 3 pria lainnya yang juga tetdapat si berandal.

 

Pria yang dimaksud sebagai bos mendekat ke arah Shani dan Gracia dengan menggunakan topeng wajah Vendeta. Dengan menyeret bangku kecil dan duduk tepat didepan Shani dan Gracia degan bangku tersebut.

 

“Selamat malam…” Ucapnya.

“Kok makanannya ga dimakan sih ?” Tanyanya.

“Malam-malam sengaja datang kesini cuma buat ketemu kalian tapi kalian malah cuekin gue ?”

“Oke, gapapa kalo emang ga mau ngomong. Cuekin aja” Ucapnya.

 

(Untuk sementara sebut saja X).

 

Ucapan X tak satupun yang dijawab oleh Shani maupun Gracia, mereka memilih diam sambil memandang tajam ke arah X. X berdiri dan berkeliling ruangan tempat Shani dan Gracia berada dan kembali lagi ketempat semula, namun bukan duduk melainkan jongkok tepat didepan Shani.

 

“Beberapa hari ga ketemu makin cantik aja, sayang” Ucap X sambil mengelus pipi Shani.

“Brengs*k !!”

 

Shani menggerakan tangannya dengan cepat, namun dengan cepat juga X menangkap tangan Shani yang mencoba membuka topeng dari wajah X.

 

“Eit, eit, eit…ga usah buru-buru. Hahaha”

“Nanti juga kamu tau siapa dibalik topeng ini” Lanjutnya.

“Kamu siapa ? Apa salah kami ?!” Tanya Shani kini berbeda dengan biasanya karna kali ini Shani benar-benar tak bisa menahan tangisnya.

“Kenapa ? Kamu sebenarnya tau, bukan hanya kata kamu tapi kalian. Kalian sebenernya tau apa alasannya” Ucap X.

“Tadi gue dari rumah kamu” Ucap X berbicara pada Shani.

“Bukan hanya gue tapi ada juga yang lain, semua teman-teman juga ada disana dan ibu kamu…”

“Keadaan ibu gimana ?!” Potong Shani dengan cepat.

“Dia khawatir banget sama kamu. Seharusnya ibu kamu ga usah khawatir, harusnya dia senang. Kenapa ? Karna anaknya berada dengan orang yang benar-benar sayang sama dia” Ucap X.

 

“CTAK !” Suara jari.

 

“Ambilin barangnya…” Ucap X.

“Siap bos !”

“Malam ini aku bakal kasih kamu hiburan. Hehehe”

“Cuih !” Shani meludahi topeng (wajah) X.

“Oke, gue anggap ini sebagai rasa terima kasih lu sama gue karna gue mau kasih lu sesuatu”

 

Salah satu anak buah X kembali lagi dengan sesuatu ditangannya yang ia bawa. Sebuah Gitar ?

 

“Gitar” Ucap X.

“Gue mau ngasih kamu sebuah lagu. Mungkin kamu udah denger lagi ini, bukan mungkin tapi emang kamu udah denger”

“Dengerin baik-baik”

 

X mulai memetik senar-senar gitar tersebut. Apa yang Shani dengar membuatnya kaget. Musik dari suara gitar yang dimainkan oleh X.

 

“Lagu ini…” Lirih Shani.

“Kak Erza ?”

 

~~

 

Bukan manusia, itu kata mereka tetang dirimu

Bidadari surga yang turun ke bumi dan berada di hidup ini…

Terlalu menyilaukan

Kau berdiri di bumi ini..

Tatap matamu dan saat itu juga, kau ambil jantung hatiku…

Ku tak mau terjatuh seperti ini

Berulang kali  ku lafalkan dalam hati…

Shani biasa aja…

Shani biasa aja…

 

~~

 

“Masih inget sama lagu itu ?” Tanya X.

“Pasti masih inget. Itu lagu bisa dibilang lagu yang bersejarah buat hubungan kamu”

 

 

Terdapat tiga orang dibalik semak-semak terlihat sedang mengintai sesuatu.

 

“Bener apa kata gue kan kalo malam ini dia bakal datang ke tempat yang kita butuhin kebetadaannya” Ucap Aldo.

“Yang nyari informasi mah gue do, bukan lu. Lu kan cuma nyampein aja ke pihak ke tiga” Ucap Nanto.

“Ya deh…”

“Gimana ? Sekarang lu bisa percaya sama kita. Kita sekarang ada dipihak lu” Ucap Aldo.

“Oke, senang kerja sama bareng kalian”

“Kerja sama bareng gue ada imbalannya, ga gratis kali” Ucap Aldo agak keras.

“Pelanin suara lu do, nanti kita bisa katauan” Protes Nanto.

“Iya, maaf…”

“Gue harus bayar berapa kalo kerja sama bareng lu pada ?”

“Gue ga minta bayaran pake duit tapi….”

 

“Setuju ?” Tanya Aldo.

“Ga usah lu suruh kalo itu, gw bakal bayar sepenuh hati”

“Eh bentar ! Kalian denger ga ?” Ucap Nanto.

“Suara gitar sama orang nyanyi” Ucap Aldo.

“Tapi ini lagunya kaya ga asing lagi, kaya pernah denger” Ucap Nanto.

 

Berpikir untuk beberapa saat. Mengingat dan menggali memori otak untuk mencari berkas tentang lagu tersebut.

 

“Ini kan…” Ucap Aldo dan Nanto bersamaan.

 

Mereka saling pandang satu sama lain saat baru mengenali alunan musik dan lagu yang mereka dengar dari arah rumah dimana Shani dan Gracia berada.

 

 

“Mungkin pencipta lagu ini yang kamu tau hanya satu orang kan ?” Ucap X.

“Ini lagu yang ciptain dua orang. Satu orang lainnya itu adalah gue”

 

 

 

*bersambung…

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

 

Iklan

7 tanggapan untuk “Sebuah Cinta dan Kenangan, Part24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s