Vepanda, Part1

Tempat tidur yang rapi, buku tertata rapi di meja, wangi aroma terapi yang menenangkan itu membuat cowok itu tidur dengan nyenyak. Ya jelas itu semua bohong. Kalo kalian percaya, sekolah. Disebuah kamar kosan yang berantakan dan bau rokok yang memenuhi seluruh  ruangan itu terlihat seorang cowok sedang tidur dengan pulas, namanya Rezza Okta biasa dipanggil Rezza. Ia adalah seorang siswa kelas 2 di SMA N 48.

Drrrrttt… drrrttt…

“Siapa sih yang nelfon pagi-pagi gini, ganggu orang tidur aja,” ucap Rezza kesal.

“Hallo….” Ucap Rezza masih mengantuk.

“Bangun dek, sekarang udah jam setengah 7, ntar telat loh,” ucap seorang cewek dibalik telefon.

“Eh? Kak Melody… iya kak ini aku bangun,” ucap Rezza melempar smartphone-nya ke atas kasur tanpa menutup telfonnya lalu berlari ke kamar mandi.

“Yaudah cepetan sana kamu mandi terus berangkat,” ucap Melody kemudian menutup telfonnya.

Setelah mandi dan ganti baju, Rezza pun langsung mengeluarkan motornya dari garasi dan berangkat ke sekolah.

“Semoga aja nggak telat,” ucap Rezza dalam hati sambil memacu motornya dengan kencang.

10 menit kemudian ia sampai di sekolah dan memarkir motornya.

“Untung nggak telat,” ucap Rezza.

Dengan rambut acak-acakan, baju dikeluarkan, celana “pensil” dan dasi yang berantakan membuat Rezza menjadi perhatian banyak siswa saat ia berjalan ke kelasnya, terutama anak kelas 10. Sesampainya di kelas, Rezza meletakkan tasnya di bangku yang terletak paling belakang dan barisan paling jauh dari guru.

“Kok lu sendirian aja, yang lain pada kemana? Yupi mana?” tanya Rezza setelah meletakkan tasnya dan duduk dimeja.

“Eh? Tumben lu nggak telat,” ucap Najong, cowok yang duduk didepan Rezza sambil melepas earphone dari telinganya.

“Mungkin pagi ini gue lagi dapet mukjizat makanya nggak telat haha…,” ucap Rezza tertawa.

“Eh btw minggu depan lu ikut main kan?”

“Iya lah, biar nggak ikut pelajaran haha…,”

“Hahaha… bener, yaudah yuk ke lapangan,”

“Ngapain?”

“Upacara bego, ini kan hari pertama masuk,”

“Oiya gue lupa, makanya dari tadi gue mikir kenapa nih kelas sepi amat haha..,”

“Yang lain udah pada ke lapangan dari tadi,”

“Terus lu kenapa nggak ikut yang lain?”

“Gue kan nungguin elu kampret,”

“Ciee… yang nungguin hahaha…,”

“Kampret!”

Mereka berdua pun pergi ke lapangan dan mengikuti upacara seperti biasa. Meskipun ini upacara pertama setelah libur kenaikan kelas, upacaranya tidak begitu lama karena pembinanya adalah Pak Totok. Guru tergila satu sekolahan.

“Nih kira-kira pidatonya Pak Totok bakalan kaya biasa nggak ya?” tanya Rezza sambil melepas topinya dan dijadikan sebagai kipas.

Tidak ada satu orang pun yang menghiarukan pertanyaan Rezza.

“Woy jong! Lu ditanya diem aja sih,” ucap Rezza memukul kepala Najong dengan topinya.

“Lu nanya ke gue?” jawab Najong dengan polosnya.

“Bodo ah!” ucap Rezza kesal.

Seorang guru menghampiri Rezza dari belakang dan menjewernya.

“Sakit bego!” ucap Rezza marah.

“Siapa yang bego?” tanya guru itu terlihat marah.

“Eh… enggak kok pak hehe…,” jawab Rezza cengengesan.

“Kenapa topinya nggak dipake?” tanya guru itu.

“Panas pak, gerah,”

“Ya itu resiko, cepetan pake!”

“Iya pak,”

“Itu juga, kenapa kamu pake sepatu putih?”

“Waduh, kampret,” ucap Rezza dalam hati.

“Eh… anu pak… sepatu item saya basah,” ucap Rezza

“Alah, alesan aja kamu, udah sana kamu maju ke depan! Baris di samping guru,”

“Yahh.. jangan dong pak, ini kan hari pertama, masak disuruh maju sih,”

“Salah kamu sendiri nggak taat peraturan,”

“Lain kali aja deh pak,”

“Gabisa! Pokoknya sekarang kamu maju ke depan!”

Rezza pun akhirnya berjalan lewat samping lapangan menuju barisan para guru. Semua siswa dan guru memperhatikannya. “Kenapa lagi sih kamu dek,” ucap Melody dalam hati setelah melihat adiknya berjalan ke depan. Rezza berdiri di samping guru olahraga, namanya Pak Wahyu. Pak Wahyu ini umurnya bisa dibilang masih sangat muda untuk seorang guru dan ia juga sangat akrab dengan Rezza.

“Kenapa lagi?” tanya Pak Wahyu.

“Biasa lah pak, masalah sepatu,”

“Makanya pake sepatu item biar tiap upacara nggak disuruh maju terus,”

“Bapak kan tau sendiri kalau saya nggak punya sepatu item,”

“Ya kalo gitu tiap upacara kamu di kelas aja gausah ikut, ijin sakit gitu,”

Iya mungkin menurut kalian ini aneh dan khayalan banget tapi sumpah ini kejadian asli yang gue alamin pas naik kelas 3 kemaren. Oke lanjut ke cerita.

“Selamat pagi semua…,” ucap Pak Totok memulai pidoatonya.

“Pagi…,” jawab semua siswa bersamaan.

“Pertama saya ingin menyampaikan selamat kepada siswa kelas 10 yang telah diterima di SMA N 48 ini,”

Semua siswa pun bertepuk tangan. *gue nggak tau kenapa mereka tepuk tangan*

Pak Totok menghela nafas panjang dan melanjutkan pidatonya.

“Kedua, kalian semua terutama anak kelas 10 jangan tiru kelakuan si kampret Rezza itu,” ucap Pak Totok sambil menunjuk ke arah Rezza.

“Nih guru kampret amat sih,” ucap Rezza dalam hati.

“Kalian nggak akan pernah bisa niru dia,” lanjut Pak Totok.

Beberapa siswa mulai gaduh, terutama anak kelas 11 dan 12. Mereka membicarakan Rezza. Pak Totok diam sebentar dan kembali melanjutkan pidatonya.

“Panas ya? Yaudah dari pada kita semua gosong gara-gara saya kelamaan pidato mending langsung lanjut ke acara berikutnya, Terima kasih,” ucap Pak Totok sambil cengengesan.

Sontak keadaan menjadi ramai, para guru hanya menggelengkan kepala dan tertawa melihat tingkah Pak Totok. *ini kejadian nyata*

Upacara pun selesai, semua siswa kembali ke kelas meeka masing masing.

“Kampret banget sih Pak Totok,” ucap Rezza saat memasuki kelasnya.

“Hahaha… gokil lu za, hari pertama udah kena hukuman,” ucap salah seorang siswa.

“Iya lah, kalo nggak gokil bukan Rezza namanya haha…,” jawab Rezza tertawa.

Beberapa saat kemudian ada seorang guru yang akan menjadi wali kelas Rezza dan teman temannya selama kelas 11 ini.

“Selamat pagi anak-anak…,” ucap guru itu memberi salam.

“Pagi pak…,” jawab semua siswa bersamaan.

“Wah… bakalan gokil nih kelas kalo wali kelasnya Pak Toeng haha…,” celetuk salah seorang siswa.

Seisi kelas pun tertawa, begitu juga dengan Pak Toeng. Ngomong-ngomong sebenernya nama guru itu Pak Supri, tapi semua orang manggilnya Pak Toeng, dari mulai guru, siswa, tukang kebun, satpam, penjaga kantin bahkan sampai penjaga sekolahan pun manggilnya Pak Toeng.

Pak Toeng pun memperkenalkan diri dan bercerita tentang berbagai pengalaman hidupnya.

Tok… tok… tok…

“Keluar! Gausah masuk!” teriak Pak Toeng yang membuat seisi kelas tertawa.

Pintu pun dibuka dan masuklah seorang guru BK.

“Eh… maaf bu tadi cuma bercanda hehe…,” ucap Pak Toeng sambil cengengesan.

“Kebiasaan,” jawab guru BK.

Kemudian Pak Toeng dan guru BK itu keluar kelas dan membuat suasana kelas menjadi gaduh.

“Gila, orang kaya gitu kenapa bisa jadi guru ya?” tanya cewek yang duduk disebelah Najong heran.

“Iya, gue jadi curiga kalo sebenernya dia bukan guru, tapi tukang kebon haha…,” jawab Rezza tertawa.

“Hahaha…,” Najong dan cewek yang disebelahnya ikut tertawa.

Pak Toeng pun masuk kembali ke kelas.

“Haii… guys…,” ucap Pak Toeng menirukan gaya anak alay.

“Hahaha…,” Seisi kelas pun tertawa melihat tingkah Pak Toeng.

“Hari ini kelas kita bakalan kedatangan ada siswi baru,” ucap Pak Toeng.

“Cewek apa cowok pak?” tanya Rezza.

“Cewek lah, tadi kan saya sudah bilang kalo bakalan ada S-I-S-W-I baru,” jawab Pak Toeng

“Cantik nggak pak?” tanya salah satu siswa.

“Cantik banget, kaya member idol group Jepang,” jawab Pak Toeng sambil mengacungkan kedua jempolnya.

“Hahaha… asik dong kalo gitu,” ucap Najong.

“Yaudah gausah lama-lama, silahkan masuk,” ucap Pak Toeng mempersilahkan murid baru itu masuk ke kelas.

Terlihat seorang siswi berwajah cantik berponi dan membawa tas berbentuk kepala panda masuk ke dalam kelas.

Setelah siswi baru itu berdiri di depan kelas, Pak Toeng menghampirinya dan menenteng tangannya di pinggang layaknya seorang preman yang sedang ingin memalak korbannya.

“Anak pindahan dari mana lu?” tanya Pak Toeng yang membuat seisi kelas tertawa.

“Emmm… sa… saya pindah dari jakarta pak,” jawab cewek itu menunduk seperti ketakutan.

“Berani-beraninya lu masuk kelas gue,” ucap Pak Toeng.

“Lu pikir lu siapa berani banget masuk kelas gue, lu nggak tau siapa gue?!” lanjut Pak Toeng.

“Eng… enggak pak,”

“Siapa nama lu?”

“Si… Sinka pak,”

“Sinka siapa?!”

“Sinka juliani pak,”

“Pasti kamu lahir dibulan juli ya,”

“Wah… masa sih pak? Bapak cerdas sekali,” ucap Rezza.

“Hahaha…,” seisi kelas tertawa.

“Yaudah sekarang lu duduk disana,” ucap Pak Toeng menunjuk ke arah Rezza.

“I… iya… pak,”jawab Sinka.

“Kok disebelah saya sih pak,” keluh Rezza.

“Apa-apaan lu? Berani sama gue hah?!” ucap Pak Toeng.

Seisi kelas hanya tertawa melihat tingkah Pak Toeng.

Sinka pun duduk disebelah Rezza dan meletakkan tasnya.

“Hai… salam kenal ya,” ucap Sinka sambil mengulurkan tangannya.

“Udah gausah basa-basi, gue lagi nggak mood,” jawab Rezza.

Belum sempat Sinka menarik kembali uluran tangannya, Najong sudah menyambar tangan Sinka dan menyalaminya.

“Kenalin nama gue Navis Najib biasa dipanggil Najong hehe…,” ucap Najong cengengesan.

“Sinka…,” ucap Sinka tersenyum.

“Aku Cindy Dea Yuvia biasa dipanggil Yupi,” ucap cewek yang disebelah Najong menyalami Sinka sambil tersenyum.

“Sinka…,” ucap Sinka tersenyum.

“Yang disebelah kamu itu namanya Rezza Okta, panggil aja Rezza,” ucap Yupi.

Sinka menoleh dan senyum ke arah Rezza namun Rezza tidak menghiraukannya, ia malah mengambil dan memainkan smartphone-nya.

“Gausah dimasukin hati ya, dia emang gitu orangnya kalo belom kenal,” ucap Najong.

“Iya…,” ucap Sinka mengangguk.

“Tapi sebenernya dia itu gila kok, eh maksut aku baik, ya kan yup?” ucap Najong.

“Baik dan gila sih kalo dia mah,” jawab Yupi.

“Oh… gitu ya,” Sinka hanya mengangguk.

Sinka melihat Rezza yang sedang memainkan smartphone-nya dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

*to be continue*

Author: Luki Himawan

Iklan

4 tanggapan untuk “Vepanda, Part1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s