The power of Indra,part1 : Awal punya kekuatan

Udara sejuk dan segar, seorang pemuda terbangun dari tidur nyenyak nya, dengan malasnya pemuda itu beranjak bangun dari atas tempat tidurnya. Dan mulai berjalan kearah kamar mandinya. Rio? Ya itulah nama pemuda yg sedang mandi di dalam itu. Setelah selesai mandi dan sudah rapi pula Rio mulai berangkat menuju ke tempat sekolahnya. Setibanya di sekolahan Rio mulai masuk kedalam kelasnya.

“Hai bro, lama gak jumpa dengan lo, gimana liburan lo? Enakan?” Tanya Hans sahabat dekat dari Rio.

 

“Enak pala lu peang, di skorsing sama kepsek satu minggu lu bilang enak hah!” Balaa Rio.

 

“Yaelah bro, gitu aja lo marah, gue kan bercanda aja bro, btw lu di cariin bebeb lu tuh.” Ucap Hans.

 

“Bebeb?,”

 

“Yaelah lo pura-pura gak tau lagi tuh, itu loh lo dicariin si Via,” Kata Hans.

 

“Kamvret lu hans, gue di cariin anak idiot itu. Ogah dah ogah,” Rio mulai duduk di tempat duduknya.

 

“Iya bro, dari kemaren gue di tanyaiin Via terus soal lo kemana kok beberapa hari ini gak masuk,” Ujar Hans.

 

“Terus lo jawab apa tuh Via?,”. tanya Rio mengeluarkan smartphonenya dari dalam saku celananya.

 

“Gue jawab lo lagi di scorsing sama kepsek gitu hahaha,” Hans tertawa dengan lebarnya, sampe-sampe Rio gedek dan Rio menyumpal mulut Hans yg terbuka lebar dengan kertas yg ada sorok mejanya Rio.

 

“Wuasem tenan koe Yo, main sumpel-sumpel ae cangkemku iki,”

 

“Itu salahmu sendiri ngapain lo buat gue kesel kayak gitu,” balas Rio.

 

Dari kejauhan seorang cewek masuk kedalam kelasnya Rio, ia mulai berjalan menghampiri dua sahabat itu, dan mulai duduk di sebelahnya Rio.

 

“Kamu apa kabar?” Tanya cewek yg duduk di sebelahnya itu.

 

“Gue baik-baik saja,” balas Rio Acuh.

 

“Emmm…” Hans mulai beranjak dari tempat duduknya, tapi di tahan Rio agar hans tidak pergi dari dalam kelas.

 

“Lo jangan kemana-mana, temenin gue disini,” Ucap Rio.

 

“Gue mau ke kantin bro, gue laper banget nih dari tadi belom di isi, toh lo juga di temenin sama si Via juga kan,” Kata Hans berbohong.

 

“Ah lo bukan soib gue nih, udah kalau mau pergi, pergi aja jangan pernah kembali lagi kehidupan gue lagi,” Rio mulai sinis dengan Hans.

 

“Ah lu mah ngambekan kayak cewek lu bro, ya deh gue tungguin tapi lo jangan buat iri dengan kemesraan kalian yg nanti akan gue lihat ya,” Kata Hans.

 

“Aku kangen tau sama kamu yo, kata Hans emang kamu di scorsing sama kepala sekolah ya?” Tanya Via.

 

“Iya betul..” Balasnya Dingin.

 

“Emang kenapa kamu sampe di scorsing sama kepala sekolah seperti itu?,” Tanya Via lagi.

 

“Lo kepo banget jadi orang ya, gue di scorsing kepala sekolah juga gara-gara lo, gue di kira mampar lo pas ada event kemaren itu, dan anak-anak lihat begitu juga dengan kepala sekolah.”

 

“Oh, maafin aku ya, kalau gara-gara aku, kamu sampai di scorsing sama kepala sekolah gitu,” Via menyenderkan kepalanya di samping pundaknya Rio.

 

“Iya udah gue maafin lo, dan lo tolong pergi dari gue jauh-jauh, gue jijik ngelihat lo.” Rio membuang kepalanya Via dari atas pundaknya itu.

 

“Jangan kasar donk bro, kalau jadi cowok itu. Cewek itu butuh di sayang dan di lindungin, bukan di kasarin kayak begitu,” Ucap Hans yg tengah sibuk main Handphone.

 

“Diem lu anak garong, banyak bacot lu,” Ketus Rio, sambil beranjak dari tempat duuknya dan mulai meninggalka mereka berdua yg sedang ada di dalam kelas.

 

“Teman kamu gimana sih Hans, kok judes banget sama gue gitu?,”

 

“Biasalah Via, lo gak tau aja sama sifatnya Rio kalau akhir bulan mah,” Balas Hans, kembali dengan layar handphonenya.

Rio berjalan dengan penuh kekesalannya kearah atap gedung sekolahan, Rio mulai menaiki tangga ke atap gedung sekolahan, pada saat Rio hampir mencapai puncak gedung sekolahan. Kakinya Rio tergelincir dan membuat keseimbangannya mulai goyah, alhasil Rio terjatuh dari atas tangga yg sangat dingin terjun bebas ke lantai dasar.

 

PRAK!!

 

Darah bercucuran keluar dari dalam badannya Rio, pandangan mata Rio mulai kabur saat teman-temannya mulai mengerubungi badannya.

 

“Inaillahiwainairoziun..” Hans menyebut sambil menutup kedua matanya yg masih terbuka, Hans sebagai sahabat dekatnya Rio terpukul jelas akan meninggalnya temen dekat sekaligus sebagai seorang sahabat, Via menangis sejadi-jadinya di atas badannya Rio yg sudah terbungkus oleh kain kafan.

 

“Rio… Jangan tinggalin aku, aku nggak mau kalau kamu tinggalin aku…” Hans yg di sebelahnya Via, mencoba untuk menenangkan Via.

 

“Dimana aku ini?,” Tanya seseorang mulai sadar dari atas tanah.

 

Tiba-tiba seseorang keluar dari cahaya putih yg sangat menyilaukan itu, orang itu mulai berjalan menghampiri cowok yg berdiri dengan gagahnya di pinggir jurang, Orang yg baru keluar dari dalam cahaya itu menepuk pundak cowok gagah yg memakai pakaian serba putih.

 

“Siapa kamu?,” Tanya cowok itu.

 

“Aku adalah Ridwan, kamu adalah anak yg baik Rio, gara-gara kamu nggak bisa mengontrol emosi kamu, kamu bisa sampai disini,” kata orang yg keluar dari dalam cahaya yg sangat menyilaukan itu mulai mendudukan Rio di Kursi yg tiba-tiba muncul di depannya.

 

“Maksut kamu? Aku udah meninggal gitu?,”

 

“Iya kamu sudah meninggal, tapi di sisi lain kamu adalah anak yg aku awasi selama ini. Kamu akan saya kembalikan lagi ke dalam badan kamu dengan kekuatan dan tanggung jawab yg besar yg akan kamu terima setelah kembali hidup kembali,” Orang bernama Ridwan itu mengarahkan tongkatnya ke arah kepalanya Rio, dan tiba-tiba saja badannya Rio yg sudah menjadi mayat itu mengenjang hebat, para pelayat terkejut dengan apa yg di lihatnya itu. Hans mulai mendekati badan sahabatnya yg telah terbujur kaku itu,

 

“Awww…” Telapak tangannya Hans terasa seperti terbakar saat menyentuh badannya sahabatnya itu.

“Aku sudah buat kamu peka terhadap sesuatu, tugas kamu sekarang hanya menunggu saatnya untuk membinasakan orang yg mempunyai kekuatan yg lebih besar dari pada kamu sendiri, yg akan mengancam keselamatan dunia kamu,” Kata Ridwan, orang yg berpakaian serba putih membawa sebuah tongkat dan sekujur badannya berbau harum khas minyak kasturi.

 

“Baik, aku siapa melaksanakan tugas dari kamu, tapi kalau ada orang yg punya kekuatan lebih besar dari pada aku, bagaimana aku bisa mengalahkan orang yg kamu maksut itu,” Rio mulai bertanya ke orang yg ada di depannya.

 

“Pikirlah sendiri bagaimana kamu bisa mengalahkan orang yg akan membawa kehancuran bagi dunia kamu itu,” Ridwan mulai mengarahkan tongkatnya lagi ke arahnya Rio, seketika itu juga kembali lagi kedalam badannya yg sedari tadi mengenjang.

 

Rio mulai berdiri dengan kondisi kain kafan yg menutupi sekujur badannya terlepas,

 

 

AAAA…!!!”

 

Rio yg tersadar kenapa cewek-cewek yg ada di depannya menutup kedua matanya menggunakan telapak tangannya, Rio langsung berlari kedalam kamarnya untuk memakai baju dan kembali lagi ke tengah- tengah orang yg membacakan surat yasin kepadanya.

 

“Alhamdulilah lo balik lagi bro,” Hans sambil memeluk sahabatnya yg baru saja kembali dari kematian. Rio membalas pelukan dari hans sahabatnya itu dengan hangatnya.

 

Via yg sedari tadi melihat orang yg di sayangnya kembali lagi hidup, Via menangis haru sambil memeluk badannya Rio dengan eratnya. Rio memandangi gadis yg tengah nangis haru di pelukannya, Rio mulai mengelus-elus pundak dari Via gadis yg memeluknya itu.

 

“Apa aku terlalu sadis dengan cewek ini ya? Sepertinya dia benar-benar tulus suka sama aku, apa aku bisa menjadi cowok idamannya?,” Pikir Rio dalam hati sambil melepaskan pelukannya Via.

 

Via mulai menghapus kedua matanya menggunakan tangannya sendiri, setelah kediamannya Rio sepi dan hanya menyisakan Hans, dan juga Via. Via mulai mengambilkan Rio makanan yg ada di dapur yg baru saja dimasakan Via buat para pelayat tapi Rio malah kembali hidup lagi, ya separuh masakannya Via di bagikan ke anak jalanan sama Hans tadi siang.

 

“Ini Yo, dimakan dulu masakan aku,” Ucap Via menyendokan makanan kearah mulutnya Rio, Rio mulai membuka mulutnya dan memakan masakan nya Via, Hans mulai cemburu dengan Via yg terlalu mesra dengan sahabatnya sendiri, sesekali Hans menganggu Via yg tengah menyuapinya.

 

“Apaan sih Hans, gangguin aja deh kamu, kalau mau di suapain juga bilang saja gak usah gangguin aku nyuapin Rio,” Ketus Via.

 

“Iya heheh…” Tawa Hans tanpa dosa,

 

Via langsung menyuapi kedua sahabat itu dengan sangat nikmatnya, sesekali Hans tertawa geli dengan Via yg memerah pipinya akibat terus-terusan di lihat oleh hans. Rio yg menyadari kalau sahabatnya sendiri suka dengan cewek yg ngejar-ngejar dirinya itu, Rio mulai memegang kedua tangan dari hans dan Via, Rio merapatkan tangan mereka berdua.

 

“Kalau kalian saling suka, ungkapkan isi hati kalian berdua masing-masing, jangan di bohongin seperti itu.” Ucap Rio.

 

Mereka berdua tersipu malu di hadapannya Rio.

 

“Aku..” Ucap mereka ngomong bebarengan.

 

Mereka saling terhenti dan bertatapan muka satu sama lain.

 

“Kamu aja yg duluan ngomong,” Ucap Hans.

 

“Nggak, kamu aja yg duluan..” Balas Via.

 

“Baiklah, Via kalau aku boleh jujur sama kamu, sebenarnya aku suka sama kamu sejak dulu pertama kali kita daftar masuk ke sekolahan ini bareng-bareng, aku tau kalau kamu tidak punya hati sama aku yg penting aku udah berani mengungkapkan isi hati yg aku pendam dalam-dalam sejak dulu sama kamu hari ini.” Hans mulai menghadap ke badannya Via, Via tersipu malu dengan ucapan hans. Via mulai memeluk erat badannya Hans, Rio yg melihat itu semua hanya tersenyum dari atas tangga rumahnya.

 

“Iya aku juga sama kok, aku juga suka sama kamu, tapi disisi lain aku juga suka sama Rio sahabat kamu, tapi Rio juga tidak suka denganku jadi aku ingin lupakan semua tentang sahabat kamu itu. Aku ingin mengisi hari-hariku dengan kenangan indah kita bersama-sama sayang,” Via mencium pipi kanannya Hans.

 

“Ehem…” Suara berdehem dari belakang mereka berdua.

 

“Kalau pacaran tuh jangan dirumah orang kalik, di taman kek, kafe kek, gak modal banget sih lo,” Orang yg berdehem tadi mulai turun dari atas tangga rumahnya.

 

“Iya dah iya Yo, gue juga pergi kok, yuk sayang kita pergi saja dari sini, lagian kita juga udah di usir juga kan sama yg punya rumah,” Ucap Hans sambil merangkul pinggangnya ceweknya (Via).

 

“Hahahaha…” Tawa Rio.

 

Bersambung…..

 

 

Akhirnya bisa menemukan kata-kata yg bagus juga buat part pertamanya, tapi ini baru awal kawan masih ada part-part selanjutnya. Semoga saja sih bisa bagus kayak yg di part pertamanya ini. Ini bukan teradaptasi dari Film,Comic,Animasi,or lain-lainnya ya. Ini Real keluar dari otak gue sendiri, karya yg buat gue tiga atau empat harian nggak ngetik cerita lagi. Cuman gara-gara mikirin alur cerita ini kayak gimana, dan harus di kemanaiin tokoh-tokohnya.

Mungkin fanfiction gue yg satu ini akan di post tiap dua minggu sekali, karena sulit buatku untuk menjalani kehidupan nyata dengan kehidupan delusi seperti ini.

Thanks to for reader and admin blog ini yg sudah membaca dan yg sudah sudi meluangkan waktunya untuk mengepost cerita fiksi yg tak bagus ini. 🙂

 

 

Created by: @Lastwota

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s