Fiksi dan Fakta part 37

Pagi dihari terakhir. Tidak ada satupun yang bangun dibawah jam 7. Michelle dan Jaka menjadi orang yang pertama bangun.

“Kecapekan ya?” Tanya papa Michelle.

“Iya om, hehe.. pagi om, chel.” Sapa Jaka.

“Pah, nanti bisa anter mereka?” Tanya Michelle yang tampak tidak sekacau Jaka.

“Oh iya lupa, papa gabisa, Chel. Nanti biar papa minta orang anter aja.”

“Gausah, pah. Nanti aku panggil taxi aja deh.” Lanjut Michelle.

“Engga, jangan. Nanti biar papa minta sama anak buah papa, terus sama mamang di sebelah juga.”

“Oke deh kalo gitu. Papa berangkat sebentar lagi?” Tanya Michelle lagi.

“Iya, sekitar jam 9 kurang papa udah harus berangkat. Kalian pesawat jam berapa?” Tanya papa Michelle pada Jaka.

“Emm.. sekitar jam 3 om.” Jawab Jaka dengan nada berat.

Tak lama, papa Michelle kembali ke kamar untuk bersiap-siap.

“Chel?” Panggil Jaka yang sedang duduk di sofa.

“Iya, Raz? Ada apa?”  Michelle mendekat.

“Gimana Elaine?” Tanya Jaka langsung to the point.
“Nihil, Raz. Aku kasian sama dia dan Viny juga.” Michelle menunjukkan ekspresi tidak enaknya.

“Itu bener-bener salah paham. Mike seharusnya ngeyakinin Elaine sejak awal.” Jaka menatap kosong kedepan.

“Maksud kamu, Raz?” Michelle bingung.

“Gamungkin ada cewe yang langsung marah gitu aja pas liat cowonya meluk temennya sendiri. Setidaknya, dia pasti positive thinking dulu.” Jaka memejamkan matanya, sambil menyenderkan lehernya di sofa.

“Iya sih. Aku ngerti maksud kamu.” Michelle mengangguk lalu izin membuatkan sarapan untuk semuanya.

Tak lama, Kelpo dan Bobby juga turun
bersamaan, disusul Shania yang kemarin menemani Viny tidur.

“Yo, Raz.” Kelpo duduk disebelah Jaka.

Bobby sedikit berbincang ringan dengan Shania.

Jaka menyerahkan remote tv kepada Kelpo dan bangkit mendekat kearah Shania dan Bobby.

“Pagi Shan, Bob. Gimana Viny, Shan?” Tanya Jaka langsung.

“Masih kurang baik, Raz. Dia ga tidur semaleman. Aku pusing dengerin dia nangis terus.” Keluh Shania memasang wajah malasnya.

“Idih, lebay banget malesnya. Kamu juga harus paham gimana keadaan dia sekarang tau.” Goda Bobby.
Jaka hanya menyaksikan aksi ‘ejek-ejekan’ antara Shania dan Bobby.

‘Just like someone in love.’ Begitulah salah satu kalimat di lagu favorit Jaka.

Ketika Bobby dan Shania masih berbincang-bincang, Mike dengan rapinya turun. Ia memakai kemeja hitam polos dengan celana pendek warna hitam andalannya.

“Pagi semua..” Sapanya santai.

Semuanya menatap Mike dengan tatapan campur aduk.

“Ada apa, Car?” Tanya Kelpo mewakili seluruhnya.

“Eh? Emang kenapa?” Tanya Mike santai seperti antara pura-pura tidak tahu atau hanya ingin melupakan semua masalah kemarin.

“Gak.” Balas Kelpo singkat.

Jaka tak berada disana saat itu. Dia sedang duduk di teras depan sambil menyulut rokoknya.

“Ati-ati, ntar keseringan kaya siapa tuh yang temennya Putaw juga?” Tiba-tiba Mike berdiri disamping Jaka.

“Eh, Car? Iye, si Zoski ama Luke.” Kaget Jaka langsung menatap Mike.

Mike mengangguk sambil tersenyum pelan.

“Uaahh.. Enak banget udara pagi disini.. Bakalan kangen banget gue.” Mike memejamkan matanya sambil terus menunjukkan pose menghirup kebebasan.

Jaka hanya menatap sahabatnya itu.

“Lu bakal klarifikasi hari ini?” Tanya Jaka yang nyaris seperti berbisik.

Mike menoleh, menaikkan alis sebelah kirinya, mengerucutkan bibirnya, mengangkat kedua bahunya, dan yang lebih parah lagi adalah langsung masuk meninggalkan Jaka begitu saja.

Sikap konyol Mike kadang membuat Jaka kesal, tapi sudahlah. Jaka juga memahami perasaan Mike.

Tak lama, Viny turun. Mata Mike dan Viny bertemu. Viny langsung menunduk dan berjalan cepat menghindari Mike.

“Hai, Vi-” Ucapan Mike terhenti.

Viny segera mengambil posisi duduk di sofa ruang keluarga sambil ikut menonton serial kartun favorit Kelpo,
Spongebob Squarepants.
Mike yang awalnya ingin bergabung, memutuskan untuk duduk kearah taman. Ia juga berpikir bagaimana nantinya jika Elaine bangun dan langsung bertemu muka dengannya.

“Ah sial!” Mike tak menyadari bahwa rokoknya tak bersisa satu batang pun.

Ia terpaksa masuk kembali.

“Bob, bagi rokok.” Ucap Mike santai.

“Nih..” Ucap Bobby memberikan satu bungkus rokoknya.

“Berenti napa, Rus?” Ucap Kelpo.

“Yaelah, mentang ga ngerokok.” Ucap Mike malas sambil sedikit melirik kearah Viny yang tampak menatap layar tv serius.
Itu Spongebob. Serius? tak ada orang yang menonton kartun tersebut dengan serius hingga ekspresinya. Minimal mereka menunjukkan ekspresi senang, dan lainnya.

Jam menunjukkan pukul 8 tepat. Belum ada tanda-tanda dari Andela dan Elaine. Gre yang sudah mandi juga telah bergabung.

“Ayo semuanya! Kita sarapan dulu!” Panggil Michelle dan Shania.

Semuanya menyantap nasi goreng buatan Michelle dengan lahap. Namun, Jaka dan Mike masih diluar.

“Nanggung!” Teriak Mike beralasan.

Obrolan kembali berlanjut. Beberapa jam terakhir ini ingin Michelle manfaatkan dengan baik.
Tepat pada jam 9, papa Michelle
berpamitan kepada semuanya. Mereka semua juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.

“Kemana lagi ya??” Tanya Michelle memancing.

Semuanya tampak berpikir.

“Tapi lumayan juga liburan ini. Bali ternyata ribet juga.” Keluh Kelpo.

Jaka sudah bergabung.

“Yang jelas, uang gua dah ludes. Hahaha..” Jaka tertawa geli.

“Gile lu, Jak. Gue sih masih ada di tabungan.” Timpal Bobby lagi.

Mike juga masuk dan mendekat kearah yang lainnya.

“Itu noh, oleh-olehnya satu koper.
Hahaha..” Tunjuk Kelpo pada Mike.

“Paan dah-_- Perasaan ga banyak.” Mike bergumam lesu.

“Hahaha.. jangan pake perasaan, Mike. Perasaan itu suka nipu.” Celetuk Kelpo diikuti tawaan dari semuanya.

“Maksud lu?” Mike menatap Kelpo tajam. Seketika, semua orang terdiam. Viny hanya memperhatikan ekspresi Mike.

Kelpo menatap Mike bingung.

Suara langkah kaki yang menuruni tangga buat emosi Mike reda seketika.

Andela dan Elaine turun berdua. Elaine terus menggandeng tangan Andela.

Mike tak bisa berkata-kata lagi. Elaine tak sedikitpun melirik kearah Mike.

Singkatnya, hari terakhir hanya diisi dengan pembersihan total. Menuju jam 2, mereka memutuskan untuk makan siang diluar, sekaligus langsung ke bandara.

“Selesai!” Seru Kelpo memegangi perutnya.

“Yaudah, ayo langsung ke bandara.” Ajak Jaka memvokali.

Semuanya setuju dan segera menuju mobil masing-masing.

Mike tak berkata apapun, Jaka merasa tidak enak akan hal ini.

Rombongan berpisah dengan Michelle. Gadis-gadis juga tak kuasa menahan air mata.

“Sampai ketemu di Bandung ya.. Chel..”
Ucap mereka satu per satu.

Bobby, Kelpo, Mike dan Jaka juga tak lupa berpamitan.

“Makasih banyak, Le. Gue bener-bener utang budi sama lu.. ampe ketemu ya..” Ucap Mike sedikit membungkuk hormat.

“Iya, car. Hehehe.. ini udah jadi kewajibanku sebagai temen kalian..” Michelle balas membungkuk.

Jaka mendekat.

“Chel, sekali lagi kami ngucapin terimakasih banyak sama kamu. Lusa aku bakal jemput kamu. Sampe ketemu ya..” Jaka, Kelpo, dan Mike mengurus semuanya, termasuk bagasi.

“Po, po.. Tolong ambilin koper Elaine.”
Bisik Mike pada Kelpo.

“Iyeiye, ribet bener lu.” Balas Kelpo malas.

*Skip

2 hari berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.35, Jaka mengajak Michelle kerumahnya terlebih dahulu.

“Razaqa pulang.” Teriak Jaka seraya membuka pintu depan.

Michelle membuntut dibelakang Jaka.

“Michelle??” Mama Jaka langsung memeluk Michelle.

Obrolan singkat sempat terjadi diantara mereka ber-empat.

“Oy, Jak! Sini ikut gue!” Panggil Son
yang entah sejak kapan telah berdiri menyender didekat tv.

Jaka bangkit.

“Selamat datang, Michelle.” Ucap Sony tersenyum kearah Michelle.

Lalu, Sony menggiring Jaka ke lantai atas.

“It’s absolutely insane!” Pekik Sony seperti penjahat di film-film action.

Mata Jaka terbelalak, Jaka berdiri mematung dan tak bisa berkata-kata.

“Keren kan?” Ucap Sony penuh kemenangan.

Gudang yang berantakan sudah dirapikan. Terdapat kurang lebih 5 kotak sepatu branded diatas lemari, sebuah gitar listrik Fender Telecaster,
poster-poster tokoh superhero favoritnya dan semua barang baru yang sangat Jaka idam-idamkan.

“Ini apa? untuk siapa?” Tanya Jaka menatap Sony yang berdiri menyender disampingnya.

“Ruang belajar baru buat lu! Hahaha..” Sony tertawa sejadi-jadinya.

“Wait wait.. lu kan baru pulang?” Jaka menaikkan alis sebelah kirinya.

“Hahaha.. gue dah pulang dari 5 hari yang lalu.. Sedikit dana buat lu, ga salah kan?” Sony menepuk pundak adiknya itu.

“Gudangnya dikemanain?” Tanya Jaka lagi.

“Dibawah kan juga ada gudang, gue pikir-pikir buat apa kalo yang bawa
masih muat. Kemarin kakek sakit, papa mama nginep dirumah kakek beberapa hari. Gue inisiatif beres-beres.” Sony bergerak menuruni tangga, tinggalkan Jaka dengan rasa kagumnya.

Jaka penasaran, ia mengecek kamarnya dan kamar Sony.

“Kardus?” Jaka bertanya dalam hati.

Beberapa kardus di gudang dipindahkan ke kamar Sony.

Jaka juga kaget akan 5 pasang sepatu baru yang kakaknya berikan itu.

“Sialan, udah gila dia..” Gerutu Jaka dalam hati.

Jaka perlahan menuruni tangga.

“Kamu disini aja, chel. Kan kakak juga
mau ngekost nanti.” Kata-kata itu keluar dari mulut Sony.

Jaka berdiri mematung di tangga.

“Iya, chel. Dirumah kan kamu sendiri, sekalian bisa berangkat dan pulang bareng Razaqa terus.” Timpal mama Jaka lagi.

Jaka bergerak mendekat.

“Kita bisa beresin kardus-kardus di kamar bang Sony, chel. Ntar aku bantu.” Ucap Jaka tiba-tiba. Sony menoleh kearah Jaka.

Jaka menggeleng-geleng malas.

Akhirnya, Michelle memutuskan untuk tinggal bersama keluarga Jaka. Alasan kampus Sony yang berada diluar Bandung cukup kuat untuk membiarkan Sony mengekost.

“Ruangannya keren.” Puji Michelle pada ruang belajar Jaka.

“Yang ngerenov-nya yang keren, chel.” Ucap Sony sekenanya.

“Udah-udah, kardusnya masih banyak tuh, kalo banyak omong ntar ga selesai-selesai.” Ucap Jaka diikuti tawaan dari Sony dan Michelle.

*Skip

“Luke salah alamat, dia kerumah Dobby.” Lapor Jerry pada yang lainnya.

“Hahaha.. dia lupa alamar rumah gue, kasih, Jer.” Suruh Fuuto.

“By the way, Gilang yang tangan kanannya Iman itu ke Jakarta ya?” Tanya Dee-dee.
“Emang liat dimana, Dee?” Tanya Sagara mendekat.

“Nih, di path.” Dee-dee menunjukkan.

“Adik Sony dan yang lainnya juga dah pulang dari Bali.” Wood membuka topik lainnya.

“Gue denger-denger juga gitu..” Sahut Zoski yang sedang bermain ps bersama Karel.

“GOL!!” Teriak Karel keras.

“Ishhh..” Zoski membuka notifikasi ponselnya.

“Gue kenal salah satu siswi di SMA 48, kalo ga salah namanya itu Shania apa gitu, lupa. Dia ikut ke Bali juga.” Ucap Zoski pada semuanya.

Joey mendekat, ia menunjukkan
sesuatu yang berhasil ia dapatkan.

“Selangkah lebih deket. Hahaha..” Semuanya pun tertawa puas melihat sesuatu yang Joey tunjukkan.

Itu adalah akun facebook salah satu dari ‘Si Kembar’ yang blok Fuuto buru.

“Jadi, dia di Jakarta sekarang?” Fuuto berdiri dan melihat kaca kearah luar.

“Tentu, Fuu-san.” Dee-dee berdiri dan membuka pintu depan rumah Fuuto.

“Hai semua!” Tak lama, seorang Luke datang.

“Hai Luke!” Zoski memeluk teman seperjuangannya itu (?)

“Lu ga ngerokok lagi??” Tanya Zoski kaget.
Luke menggeleng pelan.

“Lagi belajar sayang sama kesehatan, hahaha..” Luke meletakkan ransel yang ia jinjing sejak tadi.

Fuuto mendekat.

“Hai Luke..” Fuuto semakin dekat.

Tiba-tiba..

“Bruk!” Luke tersungkur.

Fuuto menonjok Luke dengan sangat-sangat telak.

Semuanya terdiam.

“Selamat datang, selamat juga karena lu sudah berubah.. Tak ada lagi tempat kembali yang terbaik..” Fuuto mengulurkan tangannya dan membantu Luke berdiri.

Semuanya bisa merasa lega karena tak terjadi apa-apa.

Luke langsung memeluk Fuuto.

“Maafin gue, Fuu. Gue disini buat nebus semuanya.” Luke terus memeluk Fuuto erat.

“Gaada yang perlu ditebus, satu pukulan udah cukup kan? Hahaha..” Pelukan itu terlepas, tawa kembali pecah di ruang tamu Fuuto.

*Skip

“Oscar, kamu ada masalah sama Elaine?” tanya kedua orangtua Mike pada anaknya itu.

Mike hanya menggeleng.

Sebuah pesan masuk. Mike membuka
pesan tersebut.

‘Aku pengen ketemu kamu.. tempat biasa sekarang.’ Tentu itu dari Elaine.

Mike sempat bingung tentang tempat biasa yang Elaine maksud, untungnya tebakan Mike tentang cafe dekat rumah Elaine benar.

Tak butuh waktu lama untuk Mike sampai di cafe tersebut. Seorang wanita bertubuh mungil sudah duduk di bangku terujung dengan jus jeruk dihadapannya. Mike menarik kursi dan duduk.
“Len..” Panggil Mike pelan.

Elaine menghembuskan nafas panjang.

“Mike.. Aku mau minta maaf sebelumnya.” Elaine akhirnya membuka obrolan.

Mike cukup senang akan Elaine yang mulai mau berbicara kepadanya.

“Iya?” Mike memasang telinganya dengan sangat-sangat baik, memastikan ia akan menjadi pendengar yang baik pula.

“Aku mungkin cuma salah paham sama kamu waktu di Bali. Aku harus cerita tentang perjodohanku..” Elaine menghentikan ucapannya dan menunduk, lalu memejamkan matanya.

“Len, ayo lanjutin..” Tanpa rasa terkejut ataupun marah sedikitpun, Mike meraih tangan Elaine. Menggenggam tangan itu dengan cukup erat.

“Aku gabisa..” Perlahan, tangis Elaine tak bisa dibendung.
“Aku akan nunggu kamu ampe tenang dulu..” Mike tersenyum tipis.

“Mike, tolong jaga Viny ya.. Aku gabisa sama kamu lagi, aku pindah ke Jogja.” Elaine menuntaskan kalimat singkatnya.

“Iya.. apapun yang kamu mau, aku pasti ngelakuinnya. Maaf atas semuanya, kwek. Semua kesalahan aku pas ninggalin kamu diparkiran, dan lainnya. Ayo pulang?” Ajak Mike begitu saja. Tanpa sedikitpun marah, atau kecewa akan keputusan orang tersayangnya itu.

Mike sudah paham. Tak perlu penjelasan berlebih. Setelah ini, Elaine akan pindah ke Yogyakarta. Sepanjang perjalanan pulang, Elaine tak sedikitpun mengurangi gandengan eratnya.
“Mike.. aku pengen sama kamu terus.. tapi ini yang terbaik..” Mike hanya mengangguk dan tersenyum tipis kearah Elaine.

“Aku ga peduli tentang apapun keputusan kamu. Yang jelas, Elaine-ku sudah memutuskan apa yang terbaik untuk masa depannya. Termasuk menerima perjodohannya.” Mike tersenyum tipis.

Mereka sudah sampai didepan pagar rumah Elaine.

“Makasih ya, jalan-jalannya.” Elaine berkaca-kaca.

“Dengan senang hati, tuan putri.” Mike memasang pose pelayan kerajaan.

Elaine tersenyum ditengah air mata yang terus berjatuhan dari kedua matanya. Setidaknya, itu adalah
senyuman terakhir yang bisa Mike liat.

“Len.. kamu cinta kan sama orang yang dijodohin sama kamu?” Tanya Mike menahan tangan Elaine.

Elaine mengangguk.

“Apapun yang terjadi, aku bakal belajar untuk mencintai dia..” Mike lega dengan jawaban Elaine yang terdengar cukup yakin.

Mike tersenyum. Perlahan rintik-rintik hujan mulai turun. Mike memasukkan kedua tangannya pada saku celana.

Elaine yang sudah membuka pintu pagar, tiba-tiba berlari dan memeluk Mike. Mike membalas pelukan itu dengan hangat. Kedua bibir mereka bertemu, seperti yang keduanya lakukan dulu. Melakukannya karena cinta. Pelukan dan ciuman singkat
ditengah rintik hujan itupun berakhir. Mike berjalan ke cafe untuk mengambil motornya yang terparkir disana.

“Pfuuhh..” Mike menatap keatas langit malam dan kembali kerumahnya.

2 hari berlalu. Jaka sudah siap akan panggilan yang ia terima. Ia diminta untuk mewakili SMU48 pada lomba lari jarak jauh dan lompat jauh yang entah tidak jelas siapa penyelenggaranya. Sepertinya hanya latihan sekaligus persiapan untuk kejuaraan yang sebenarnya.

Mike, Sony dan Kelpo juga menonton dari bangku penonton.

Jaka gagal, dia harus puas di posisi ke-5.

“Ah.. fisik gue turun jauh selama
liburan.” Keluh Jaka pada yang lain.

“Itu udah maksimal, Jak.” Puji Kelpo.

Sony berdiri sambil membisikkan Jaka.

“Makasih dah pake tuh sepatu, yang lain juga dipake, hehehe..” Jaka hanya tersenyum kearah abangnya itu.

*Skip

“Joey add gue!” Teriak Mike tiba-tiba.

“Serius?” Tanya Jaka, Kelpo dan Bobby bersamaan.

“Nih..” Mike memberikan ponselnya.

“Kelvin!” Terdengar suara samar-samar dari bawah.

“Po, ibu lu manggil tuh.” Ucap Jaka.

Kelpo segera meninggalkan kamarnya.

Kelpo kembali lagi.

“Oy!!! Rendi!!!” Mendengar siapa yang datang, semuanya langsung bangkit dan berlari menuruni tangga.

“Hey!!” Rendi melepaskan tas yang ia tenteng sejak tadi.

“Rendi!!” Semuanya bergantian memeluk Rendi.

“Fosa ga ikut?” Tanya Jaka to the point.

Rendi menggeleng.

“Ah, tahun kedua bukan masalah.” Ucap Rendi memancing.

“Eh?” Kelpo diam sejenak.

“Jangan bilang kalo…” Mike menatap Rendi sinis.

“Hahaha..” Mereka melakukan tos dengan tinjuan seperti yang mereka sering lakukan dulu.

Ditengah sambutan tersebut, datanglah sebuah mobil BMW warna merah dengan plat nomor kendaraan B.

Jaka, Bobby, Kelpo, Bobby dan Rendi memperhatikan.

“Eh?” Semuanya kaget.

“Masih ingat kan?” Tanya sang pengemudi.

“Semua kebahagiaan yang kita peroleh hanyalah ilusi. Kau tak bisa tersenyum tanpa alasan, maka dari itu orang gila
identik dengan tersenyum sendiri.” – Abdul Sony Gunawan

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Satu tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s