Directions The Love and It’s Reward, Part 9

“Aku di mana?” Rendy bertanya-tanya akan di mana keberadaannya sekarang. Dia melihat ke sisi kanan-kiri pokoknya seluruhnya adalah laut.

“Apa ini di Dufan ya? Ancol? Seaworld?” Rendy bertanya-tanya pada dirinya sendiri seakan-akan dia memang berada di dunia itu.

Ikan-ikan berenang ke sana kemari dengan bebasnya. Mengelilingi, berkelompok, dan membuat pola perjalanan berdasarkan kelompok. Tak sering juga memeliki bentuk yang unik. Ubur-ubur berbentuk payung yang berenang mundur kayak undur-undur. Kerang-kerang yang menggelembung dan di dalamnya terdapat mutiara. Gurita milik Killer Be si jinchuriki ekor 8. Nggak lupa juga sama cumi-cumi raksasa si craken yang gede, aslinya baik tapi orang-orang ngira dia jahat. Kepiting asal Bikini Bottom pakaian orang bule *eh itu mah bikini yang arkkhhh… sudahlah!. Plankton makanan ikan paus. Dan juga… hah? Tupai? Njir wah bener-bener ini mah Bikini Bottom. Oke ini terlalu ngayal.

“Eh bentar-bentar…” dia merasa ada yang janggal pada dirinya.

“Kok aku masih pake baju tidur ya? Terus kenapa aku nggak pake baju diving atau semacamnya? Eh?” dia mencoba sesuatu sebentar.

“Loh kok? Aku bisa nafas di dalam air?” dia terus memikirkan hal itu hingga sesuatu mencuri perhatian dan pandangannya.

Ikan! Eh bukan! Manusia setengah ikan perempuan. Ya itu memang benar. Apakah dia putri duyung? Apakah dia keturunan Mermaid? Atau mungkin dia adalah Sofia The First dalam film Doraemon yang menjaga pintu perbatasan kota bawah laut yang tenggelam dan hilang Atlantis itu?

“Ah masa bodo. Ikutin aja dulu” Rendy mulai mengikuti liuk-liuk ke mana duyung keturunan Mermaid itu. Melewati batu-batu karang, kapal tua angker menyeramkan yang ditafsir milik Flying Dutchman. Kenapa Rendy bisa berpikir begitu? Karena terlihat banyak sekali tengkorak manusia yang membusuk di situ. Oh atau jangan-jangan itu adalah kapal perompak yang paling ditakuti di Samudera. Yang selalu muncul dalam ingatan Jack dengan sepatu Boot Separo. Ya, itu mungkin kapal Apel. Eh bukan itu, apa namanya? ssttt… apa ya? Oh iya Black Pearl anaknya tuan Krab si paus itu. Ah sudah lupakan khayalan fantasy dari filter imajinasi kebanyakan nasi goreng ini.

Rendy semakin dekat dengan duyung itu. Duyung itu duduk di sebuah karang dengan menyimpangkan ekornya. Sedikit mengesampingkan rambutnya. Rendy memberanikan dirinya untuk melakukan sebuah hal.

DEG

DEG

DEG

“Emm permisi… boleh aku ke…na…lan…”

BYURRR!!!

“Fuah!!! Brrtttt!!! Dii…diiingiiinn!!!” Rendy memegangi tubuhnya yang menggigil di atas kasur. Dia melirik ke arah samping kanan dan mendapati mimpi buruknya.

“Ini udah jam berapa?! kamu mau telat ketinggalan bis kemah?!” gadis itu hnaya mengomeli Rendy.

“Di..dii..dingin banget tau kak!” Rendy masih menggigil.

“Yaudah! Sekarang kamu cepetan mandi dan ganti baju. Setelah itu kita pergi ke sekolah. Kak Melody yang nganterin oke” ucap kak Melody.

“Tapi kan kak… aku bisa sen…”

“Nggak usah banya protes! 30 menit lagi bis kamu berangkat” kak Melody masih mengingatkan.

“I-iya kak!” Rendy dengan kekutan cepat Flash berlari ke kamar mandi. Dia mandi dan berganti pakaian. Hadeuuh ribet -_- padahal tadi lagi enak-enaknya mimpi lagi ketemu bidadari bawah laut. Kalo bidadari khayangan kayaknya udah pernah ketemu deh, tiap hari malahan. Siapa hayoo?? Iya bener itu kak Ve si Vedadari badai. Rendy terus mengeluh sambil bergegas, diomeli kak Melody  menggugah semangat Rendy berangkat pagi. Ya memang berangkatnya harus pagi.

*****

Tak disangka dia pagi-pagi harus terkena siraman rohani guyuran masal. Di ruang makan, dia telah ditunggu oleh kak Melody. Kak Melody sudah sangat cantik menggunakan dress putih sembari mengambilkan sepiring nasi goreng yang dibuat sendiri olehnya. Jangan tertipu wajah cantiknya reads. Kadang dulunya, masakannya ya Allah, asin-keasinan, pahit-kepahitan, kentel-kekentelan, hambar malah rasanya manis gegara ngeliatin wajahnya. Dah dah spoiler kaca spion mulu.

“Cepetan eh kamu mah, kita abis ini berangkat” kak Melody terus saja mengejar-ngejar agar Rendy cepat.

“Yona kemana kak?” tanya Rendy.

“Yona tadi udah duluan sama temen-temennya.”

“Yaudah buruan lah. Ayo kak” ucap Rendy meminum segelas air putih dan mengambil tas ransel besarnya. Kak Melody sudah diluar, untung saja mobilnya sudah dikeluarkan dari garasi. Jadi tidak mengulur waktu untuk sampai ke sekolah, apalagi jam-jam segini pasti macet.

“Kakak yang nyetir” ucap kak Melody mengambil kunci mobil dari tanga Rendy.

“Ta-tapi…” Rendy memandang wajah kak Melody yang emm… seperti mengkode. Dia hanya pasrah saja lah.

Di perjalanan, mereka hanya sedikit berbincang-bincang.

“Eh Ren, kamu di bis duduknya sama siapa?” tanya kak Melody.

“Sedapetnya temen aja lah kak” balas Rendy sambil memperhatikan Hpnya. Dia mengecek gegara dari tadi sudah *ting nang ting gung* kayak topeng monyet, ah notifikasi.

“Nanti kabarin kakak loh kalo udah sampe. Nanti kalo misal kamu nggak enak badan atau sakit, langsung ngomong ke guru atau langsung kabarin kakak” ucap kak Melody yang masih fokus menyetir.

“Iya kak” balas Rendy.

—o0o—

“Yuvi! Ayo cepetan! Ish kakak ntar telat nih” duh kayaknya kak Ve udah marah. Kalo marah tetep aja keliatan lucu dan chubynya.

“Iya kak! Duh mana lagi ya?” Yuvia sedang mencari-cari sesuatu. Ya dia sedang mencari-cari kalung kenangan setengah hati miliknya berhiasan berlian berwarna merah. Semalam ia lupa menaruhnya karena dinginnya hujan membuatnya ingin lekas tidur. Ia mencari ke sebelah meja lampu.

“Ah ketemu!” dia menjumpai sebuah kotak merah yang berisi barang yang ia cari itu. Dia membukanya dan benar masih tersimpan rapi setelah semalam ia periksa.

“Fyuh… aku kirain ilang. Bawa nggak ya? Tapi kan kemah di sana lama. Takutnya kalo ditinggal ntar malah dimaling lagi” Yuvia terus berpikir.

“Yuv! Cepetan!” kak Ve tambah marah nih kayaknya.

“Ah! Udah bawa aja lah!” batinya langsung memakai kalung itu disebelah kalung ‘Y’ miliknya. “Iya kak! Ini mau ke situ!” Yuvia langsung berlari menuju mobil kakaknya yang sudah siap berangkat itu.

—o0o—

“Gre, kok si Rendy lama banget yah” Shani hanya menggigit jari sambil melihat jam tangan miliknya.

“Rendy? Siap nih? Pacar ya?” selidik Gre.

“Eh eh bukan. Dia itu temen sekelas dan sebis sama kita tau” ucap Shani.

“Oh gitu, berarti masih dalam tahap gebetan nih?” Gre maasih memanas-manasi.

“Dah ah terserah” Shani mulai ngambek digodain Gre terus.

“Yon, kok si Rendy lama banget sih?” tanya Lidya.

“Tahu juga tuh Lid. Itu anak emang kebo” ucap Yona sedang melihat-lihat, menyipitkan matanya mencari dan menunggu seseorang itu datang.

Tibalah dua buah mobil, yang satu mobil Honda Jazz berwarna hitam, dan yang satunya lagi berwarna putih. Dua mobil itu parkir bersebelahan.

“Nah itu mobilnya kak Melody” ucap Yona yang akhirnya.

*****

“Yuk Ren, turun” ajak kak Melody” kak Melody membuka pintu mobil sebelah kanan. Ya karena kan emang kak Melody yang nyetir. Dikira mobil luar negeri yan setirnya di kiri?

“Kurang mainstream itu mah. Besok abad 21 gue nyiptain mobil setirnya ditengah” author datang lagi.

“Dah terserah lu deh thor” ucap Rendy.

“Kamu ngomong sama siapa Ren?” tanya kak Melody. Gawat.

“Nggak kok kak, emm.. tadi ada nyamuk aja” dia mencoba meyakinkan kakaknya.

“Udahlah, buruan” ucap kak Melody. Rendy membuka pintu mobil sebelah kiri.

JDUK!

“Aduh!”

“Aw!”

“Eh kalo buka mobil liat-liat apa?!” ucap cewek itu.

“Sorry nggak sengaja, lagian gue juga nggak tahu” Rendy masih mengusap ubun-ubun kepalanya. Lantaran kepalanya berbenturan dengan kepala seorang gadis.

“Yuv! Ayo bentar lagi bisnya berangkat” ucap kak Ve. Yah gadis yang berbenturan dengan Rendy tadi adalah Yuvia.

“Iya kak” Yuvia berjalan mengikuti kakaknya. Tak disangka, kakaknya berjalan berpapasan dengan kak Ve.

Mereka saling memandang dari atas hingga ke bawah. Ekspresi kaget, mengucapkan huruf ‘O’ tapi nggak ada suaranya.

“Melody!” ucap kak Ve kaget.

“Ve!” tak kalah juga dengan kak Melody. Mereka langsung berpelukan layaknya teletabis.

“Ya Allah, nggak sadar kalo ini Ve ternyata. Eleuh sekarang mah meni geulis pisan” ucap kak Melody sembari mencipika-cipiki pipinya kak Ve.

“Iya Mel, kamu ke sini kok nggak ngabarin dulu” tanya kak Ve.

“Hmm.. itu juga ke sininya mendadak. Baru kemarin malem aku sampe” ucap kak Melody. Tanpa mereka sadari, dua orang sedang memperhatikan mereka yang dengan akrabnya. Hanya bisa melamun karena tidak tahu tingkah kakaknya masing-masing. Ya Rendy dan Yuvia hanya larut dalam lamunan melihat keakraban kak Melody dan kak Ve.

“Kalian udah saling kenal??” Rendy terbelalak.

Merasa diperhatikan, kak Melody berbicara menjelaskan “Eh? Hmm jadi gini Ren, kak Ve ini itu temen masa kecil kakak dulu. Yang udah dari TK. Selalu nemenin kakak main masak-masakan” jelas kak Melody.

“Iya nih Yuv, kenalin ini kak Melody. Temen masa kecil kakak dulu yang suka main bareng kakak” ucap kak Ve menjelaskan pada Yuvia.

“Ve, ini adek aku Rendy” Melody memperkenalkan Rendy.

“Oh jadi Rendy ini adik kamu Mel? Wah kebetulan banget yah!” ucap kak Ve tersenyum manis padaku.

“Oh iya kenalin juga. Ini adik aku namanya Cindy Yuvia” kak Ve mengenalkan Yuvia ke kak Melody.

“Yuvi kak” ramah Yuvia sembari tersenyum tipis.

“Melody” ucap kak Melody. Rendy kemudian melihat jam tanganya.

“Duh kak, bisnya mau berangkat nih!” ucap Rendy gelagapan.

“Oh iya! Yuk yuk buruan!” Mereka semua berlari ke lapangan karena akan ada pengumuman dari kepala sekolah terlebih dahulu.

*****

Langsung saja mereka memposisikan diri di kelas dan gugusnya masing-masing, kak Ve di OSIS, Yuvia dan Rendy di kelas X-A, dan kak Melody hanya mengantarkan lalu kembali.

“Woy Ren!” seseorang melambaikan tangan padanya. “Di sini!”

“Oke Tur!” Rendy berjalan mendekati Guntur.

“Dari mana aja lu? Mepet banget nyampenya” ucap Guntur.

“Tau nih, ditungguin dari tadi juga” ucap Rio menepuk pundaknya.

“Lah inseiden tak terduga tadi Tur, lagian jam wecker gue mati” ucap Rendy.

DUK

DUK

DUK

“Check, check” kepala sekolah membenarkan micnya.

“Selamat pagi anak-anak!” pak kepala sekolah menyapa murid-murid.

“Pagi pak!” jawab semuanya serentak.

“Sudah tahu kegiatan hari ini dan 2 hari ke depannya?” tanya pak kepsek.

“Belum!!!” jawab semuanya.

“Jadi begini, kalian akan mengikuti kegiatan Perkemahan selama 3 hari di bumi perkemahan Garut, Jawa Barat. Untuk acara dan lain-lainnya saya persilahkan perwakilan dari OSIS” pak kepsek mundur sejenak. Seorang gadis dengan paras cantiknya membawa badai, menyapu mata para lelaki.

“Pagi semua” sapanya.

“Njir! Kak Ve!” Guntur langsung nge-aktifin sinar inframerah mode auto fokusnya di on.

“Pagi!!! Kak Ve!” antusiasme para lelaki.

“Oke, jadi gini. Kita kemah selama 3 hari ke depan. Hari pertama kita packing barang, bangun tenda, dan juga ada api unggun. Hari kedua kita nanti jalan sehat, penjelajahan, dan ekspedisi malam. Dan terakhir hari ketiga ada geladi bersih dan kerja bakti. Paham semuanya?” tanya kak Ve.

“Paham!!!”

“Sekian dan terima kasih” kak Ve kemudian turu dari atas panggung lapangan.

“Terima kasih perwakilan dari OSIS. Sekarang kalian bisa masuk ke bis kalian masing-masing sesuai kelas dan gugusnya masing-masing. Tak lupa juga nanti akan ada kakak pendamping OSIS yang akan membimbing kalian.

“Hai” seorang gadis menyapa Rendy.

“Hai juga kak. Eh? Kak Naomi?” tanya Rendy.

“Kakak nanti jadi pembimbing kelas kamu lagi loh” ucapnya sembari tersenyum.

*****

Semua murid mulai memasuki ruangan bis masing-masing. Rendy masuk ke bis 1 yaitu bis anak X-A bersama Guntur dan Rio beserta anak-anak kelas X-A.

“Tur, gue duduk sama lu ya” ucap Rendy.

“Oke deh” ucap Guntur.

“Om Gun, gue duduknya agak ke tengahan dikit yak” Rio pergi meninggalkan Rendy dan Guntur yang duduk dibagian belakang.

“Lah si Rio kenapa Tur?” tanya Rendy.

“Gak kuat dia, kebiasaan dari kecil emang udah mabokan orangnya” ucap Guntur. Rendy hanya manggut-manggut pertanda mengerti.

“Pagi adek-adek semua!” kak Naomi langsung nyapa jadi kayak Tour Leader gitu.

“Pagi!” semua mata lagsung tertuju.

“Oke, di sini kakak akan jadi pembimbing kalian bersama kak Shania”ucap kak Naomi memperkealkan seorang gadis di sebelahnya.

“Njir! Kak Shania!” kalo pake imajinasi, matanya Guntur udah ada Love-lovenya gitu.

“Hai semuanya! Nama kakak Shania Junianatha. Kakak akan mendampingi kelas ini menemani kak Naomi” ucap kak Shania memperkenalkan diri.

“Emang kenapa kak Shania Tur?” tanya Rendy penasaran.

“Menurut kamus IPG gue (Ilmu Pengetahuan Gadis) kak Shania merupakan kakak kelas yang cantik. Beh kawaii pokoknya bro. Perawakannya udah kayak model, udah tinggi, cantik lagi” ucap Guntur dengan teori absurdnya lagi.

“Ya ya ya, terserah lah Tur” Rendy mulai bosan dengan ocehan teman sebangkunya itu. Dia memalingkan pandangannya pada bangku sebelah kanan.

“Ah kenapa aku harus sebelahan sama ini cewek nyolot lagi” batin Rendy. Ya disebelahnya adalah Yuvia dan Viny.

“Apa lo liat-liat?! Mau gue kasih bogem lu?!” Yubvia mengepalkan tangannya.

“Eh enggak-enggak” Rendy kemudian memalingkan pandangannya ke sebelah kiri. Melihat pemandangan kota-kota. Yah ini masih di daerah Jakarta sih. Perjalanan dari Jakarta ke Garut sekitar 3 jam kalo lagi nggak macet. Kalo macet mah bisa sampe 5 jam. Rendy melirik jam dan masih menunjukan pukul 10.30.

—o0o—

2,5 jam sudah berlalu. Tapi mereka belum juga sampai. Baru keluar dari tol dan sekitar 2 jam baru akan nyampe di bumi perkemahan. Dia lihat ke sebelahnya dan mendapati Guntur yang tertidur. Di bagian bangku gugus kanan yaitu Yuvia dan Viny juga tertidur. Lalu kemudian Guntur terbangun.

“Ren, gue pindah paling belakang ya. Gue mau nyenyakin ini tidur” Guntur kemudian bangun dan berjalan ke 6 bangku paling belakang yang masih kosong karena sisa.

“Yoi” balas Rendy. Dia memalingkan wajahnya ke arah kaca lagi. Benar ternyata sudah mendapati pemandangan sawah,perkebunan,gunung,sungai, dan hutan yang asri.

Tiba-tiba ada yang membuyarkan lamunannya.

“Permisi dek” ucap seorang gadis datang membawa seorang gadis lagi yang nampak pucat.

“Eh iya kenapa kak Shania?” Rendy bertanya.

“Ini dek, temen kamu mabuk duduk di depan” memang benar terilihat wajahnya yang pucat.

“Katanya dia pengen duduk paling belakang. Nah, kakak nggak bisa nemenin gara-gara harus ngontrol bagian depan sama kak Naomi. Bisa minta bantuannya buat jagain dia?” tanya kak Shania.

“Oh iya kak nggak papa. Dengan senang hati.” Ternyata gadis yang pucat itu adalah Shani.

“Makasih kak” ucap Shani tersenyum tipis pada kak Shania.

“Shan, kamu mabuk ya?” tanya Rendy sembari menududukannya di sebelahnya.

“Iya nih Ren, suka pusing kalo ngeliat jalan. Harusnya aku duduk di belakang biar nggak pusing. Tapi kalo duduk di belakang suka ketiduran” Shani hanya tersenyum.

“Yaudah kamu di sini aja, aku temenin” ucap Rendy.

*****

Tak lama kemudian sekitar 1 jam, Shani tertidur. Dia tertidur di bahu Rendy. Tak enak hati untuk membangunkannya, ya jadi Rendy hanya pasrah saja. Dia menatap wajah cantik Shani saat tertidur. Entah dorongan apa tangannya ingin sekali membelai rambut Shani. Menyingkirkannya dari wajah cantik Shani yang tertutupi rambut indahnya itu.

“Hmm.. Shani kalo tidur cantik juga yah” pikir Rendy.

*****

Tak sadar Rendy sedang diperhatikan dari dekat. Ternyata sayup-sayup wajah Yuvia melihat ke arah sebelah kiri. Dia coba membangunkan Viny.

“Eh Vin” Yuvia berpura-pura tidur sambil membangunkan Viny.

“Hmm apaan seh? Gangguin aja deh.”

“Ssttt jangan berisik” ucap Yuvia.

“Tuh liat” Yuvia menunjuka ke arah bangku Rendy. Terlihat Shani yang sedang bersandar tertidur di bahu Rendy.

“Kenapa baby dino? Oh aku tahu” Viny berpikir. “Cemburu ya?” Viny menaikan sebelah alisnya.

“Ih siapa juga yang cemburu. Ah mamah dino jahat” Yuvia menggelumbungkan pipinya.

“Ulululu nggak kok bercanda” Viny mencubit pipi Yuvia.

“Ih sakit tau” Yuvia mengusap-usap pipinya.

“Sorry hehe.”

—o0o—

2 jam berlalu, mereka kini sudah sampai di bumi perkemahan yang dimaksud. Segera kak Naomi bangun dari tempat duduknya lalu mulai menjelaskan.

“Siang semuanya!”

“Siang” jawabanyanya kurang semangat.

“Loh kok pada loyo sih? Coba lagi. Siang semuanya!!!” ucap kak Naomi lagi. Para lelaki langsung terbangun.

“Siang!!!” yaps, semuanya kini telah terbangun.

“Oke, kita udah sampai nih. Abis ini kalian packing-packing dan bangun tenda ya!” intruksi dari kak Naomi.

“Siap kak!!!” semuanya menjawab dengan seksama.

Rendy mencoba membangunkan Shani. Hmm.. gimana banguninnya ya? Nggak enak nih. Tapi kalo kelamaan gini juga nggak enak. Rendy mencoba menepuk pundak Shani.

“Shan…Shan… bangun Shan… kita udah sampe” ucap Rendy.

“Emmm… udah sampe ya? Eh?! So-sorry aku ketiduran di bahu kamu” wajah Shani langsung memerah seperti udang rebus.

“Duh kok aku bisa ketiduran sih?! Arkkhhh!!!” batin Shani.

“Hey?” Rendy melambaikan tanganya di depan Shani.

“Udah nggak papa. Aku ngertiin keadaan kamu kok” balas Rendy tersenyum tipis yang membuat Shani lega. Kini semua murid turun satu persatu dari bis. Terlihat ada yang menenteng banyak barang, bahkan hingga yang sudah berselfie ria di bumi perkemahan. Sejuk,hening,asri pemandangan indah di dekat daerah dataran tinggi. Suasana yang bebas dari polusi metropolitan. Kicauan burung bernyanyi ria.

“Perhatian semua adik-adik” kak Ve berbicara.

“Sekarang kalian bisa membangun tenda untuk kalian masing-masing, jangan lupa setelah itu, kalian kumpul lagi di sini. Kita persiapan untuk api unggun utama. Jangan lupa juga untuk mencari kayu bakar kalau-kalau kalian membutuhkan untuk membuat api unggun dekat tenda kalian sendiri.” Ucap kak Ve menjelaskan.

“Iya kak!” jawab semuanya mengerti.

“Ren, yuk bangun tendanya buat kita bertiga tidur” ucap Guntur.

“Okelah Tur” Rendy langsung mengeluarkan tenda. Guntur dan Rio membentangkan tenda, sedangkan Rendy langsung mempasak tenda. Menalinya dengan simpul pangkal. Sedangkan untuk bagian tengah, Guntur memgangi sisi bagian atas dan Rendy langsung menalinya dengan ikatang palang dan canggah.

Guntur, Rio, dan Rendy mengecek semua. Terasa sudah erat dan kencang, mampu menopang tenda kalau-kalau ada hujan deras atau angin kencang.

“Wih! Hebat juga lu Ren, belajar dari mana nih?” tanya Rio yang kagum.

“Gue dulu anak pramuka” ucap Rendy

“Frankeinstein anak pramuka juga ternyata haha” ucap Guntur.

“Terserah lu lah Tur. Nah sekarang tinggal nyari kayu bakar nih” ucap Rendy.

“Eh Ren, liat tuh bagian tenda anak cewek. Kayaknya pada susah tuh?” ucap Rio menunjuk ke para siswi perempuan yang tendanya masih saja rubuh.

“Bantuin sono Ren, kasian tuh para bidadari” ucap Guntur.

“Lah yang nyari kayu bakar siapa?” tanya Rendy.

“Dah nggak usah lu pikirin. Biar gue sama Rio yang nyari. Dah dah sono lu bantuin” ucap Guntur.

Rendy berjalan mendekati tenda siswi perempuan. Terlihat di bagian kiri, Shani yang sedang menarik-narik tali. Bukanya tambah kenceng, tapi malah ambruk itu tenda. Di sebelah kanan, Yuvia masih bingung gimana nalinya. Viny daritadi Cuma meni-pedicure kukunya gegara nggak mau kena tanah akibat masang pasak. Ah emang ribet kayaknya itu cewek bertiga. Oh masih ada satu lagi, tapi Rendy agak lupa siapa namanya.

*****

“Isshhh gimana sih ini” Shani masih menarik-narik tali pada tenda yang sulit dibangunnya.

“Duh kok susah banget sih! Mamah dino bantuin dong! Jangan bersihin kuku mulu!!! Huftyup” Yuvia seakan meyerah dan hanya menopang wajahnya dengan kedua tanganya.

“Gre, kamu cari kayu bakar ya” ucap Shani.

“Eh tapi temenin dong Shan” rengek Gre.

“Hmm… Yuv,Vin, aku cari kayu bakar dulu ya. Kalian lanjutin bangun tenda” ucap Shani berlalu bersama Gre.

“Iya, urusan di sini kasihin aja ke kita” ucap Viny.

“Ya udah” Yuvia hanya menjawab seadanya, tapi sebenarnya dia bingung bagaimana caranya agar tenda itu bisa berdiri. Sedangkan ia tidak mengerti, meminta bantuan pada Viny juga akan percuma saja.

“Hai!” sapa seorang pemuda.

“Eh Rendy” ucap Viny.

“Mau ngapain?” tanya Yuvia jutek.

“Mau dibantuin nggak?” tanya Rendy tersenyum tipis.

“Nggak usah” Yuvia mencoba menarik tali dan mengikat pada pasaknya. Namun tetap tidak bisa, alhasil tenda itu rubuh kembali.

“Iiihh…!!!” Yuvia mulai kesal. Rendy hanya menahan gelagak tawa dengan senyumnya, melihat tingkah laku Yuvia seperti anak kecil.

“Kenapa ngetawain hah?!” Yuvia menyidekapkan tangannya, membalikkan tubuhnya sembari menyembunyikan rasa malu.

“Iya, haha… dah sini aku bantuin” Rendy mendekat.

Dengan cekatan, Rendy menyimpul beberapa tali itu. Agar lebih kuat, ia menggunakan simpul rantai. Kalian tahu? Evolusi memperkuat tali dengan memperpendek yang awal mulanya itu adalah simpul hidup yang pertama.

Karena sedikit merasa iba, Yuvia membantunya.

“Eh?” Rendy terkejut Yuvia juga ikut memegang talinya.

“Ya udah gue juga ikut bantu” ucapnya memalingkan wajahnya dari Rendy yang kini sedang terdiam menatapnya.

“Jangan liatin aku kayak gitu! Dah cepetan kerjain!” Wajahnya seketika memerah.

“Kamu bantuin pegangin tongkat aja. Biar aku lebih gampang nyimpulinnya” ucap Rendy. Ia mulai sedikit risih dengan pandangan Yuvia. Kenapa? Karena ia seperti baru pertama kali melihat apa yang dilakukan Rendy.

“Kenapa?” tanya Rendy.

“Eh-eh?! Nggak papa kok” Yuvia memalingkan wajahnya lagi.

“Gini nih, nggak pernah ikut kegiatan pramuka sih” ucap Rendy. Dia sedikit mengeleng-gelengkan kepalanya pelan.

“Nih kalo kita mau bikin tenda. Yang pertama, Kita pake simpul pangkal agar memperkuat tongkat satu dengan tongkat lainnya. Yang kedua, kita pake ikatan palang untuk menyatukan sisi tongkat atas horizontal dan bawah vertikal lurus yaitu atap dan samping tenda. Yang ketiga, kita pake ikatan canggah untuk menyatukan tongkat atas dan bawah, guna mempertinggi dan memperluas daerah tenda” Rendy mulai menyimpul,mendirikan tongkat lalu mengikat, dan terakhir menyatukan semuanya.

“Paham nggak?” tanya Rendy. Yuvia hanya mengangguk pelan dengan keraguan.

“Coba gih” Rendy memberikan tali satunya untuk Yuvia agar mengikat bagian tenda sisi lainnya.

“Ditujukan pada seluruh pengurus OSIS. Segera menuju sumber suara. Sekali lagi saya ulangi, ditujukan pada seluruh pengurus OSIS. Segera menuju sumber suara. Sekian, terima kasih” suara dari Megaphone ah gampangannya Toa dah gitu aja. Sepertinya itu suara kak Ve.

“Yuv, Ren, aku pergi dulu ya. Kalian tolong selesain tendanya” ucap Viny berlalu meninggalkan Rendy dan Yuvia.

Sekarang Yuvia sedang mencoba menyimpul tali.

“Eh gimana sih?” Yuvia agak sedikit bingung dengan simpulnya.

“Hadeuh, tarik kebelakang terus masukin ke silangannya” Rendy tidak sengaja memegang tangan Yuvia. Yuvia terkejut akan hal itu. Mereka berpandangan satu sama lain. Dengan jarak sekitar 10 cm atau bisa dibilang setengah jengkal tangan manusia.

“Eh sorry nggak sengaja” Rendy menjauhkan wajahnya. Tadi begitu dekat, deg-degan membuat jantung Rendy tak hentinya berdegup kencang. Sementara Yuvia hanya memalingkan wajahya yang kini sangat merah. Entah mengapa ada sesuatu yang begitu indah berdegup kencang.

“Dasar modus!” Yuvia melempar talinya ke wajah Rendy.

“Lah kan udah bilang maaf nggak sengaja” ucap Rendy membela diri.

“Dah ah, lanjutin nih ikatannya” ucap Rendy memberikan gulungan tali lainnya pada Yuvia.

“Ini gimana?” tanya Yuvia.

“Diputer ke bawah atas aja terus. Cuma ikatan canggah doang kan gampang” ucap Rendy sembari memegangi tongkat sedangkan Yuvia mulai memutar-mutar tali.

“Kalo ikatan palang itu gimana?” tanya Yuvia sembari menyimpul pangkal pada bagian akhir ikatan.

“Hmm… ya pokoknya nanti disilangin gitu deh. Dah yang palang biar aku aja” ucap Rendy sedikit mengecek semuanya.

“Dah selesai deh” ucap Yuvia. Rendy menggelengkan kepalanya.

“Belum, liat itu talinya masih panjang. Itu harus kamu simpul rantai dulu biar nggak mubazir dan nyandung orang” Rendy berjalan menuju sisa tali yang cukup panjang sekitar 1 meter.

“Nah, pertama-tama kalo mau bikin simpul rantai itu, kita harus simpul hidup yang pertama dulu” ucap Rendy.

“Hah? Simpul hidup yang pertama?” Yuvia heran. Bukan, dia malah tidak mengerti.

“Iya, jadi simpul hidup itu sekarang sudah ada 2. Itu karena sekarang WOSM sudah menetapkan yang dulunya simpul mati, sekarang dijadikan simpul hidup yang kedua. Sebenarnya dulu saat menjadi simpul mati, salah seorang pembina menemukan sebuah celah melerai tali.” Rendy melakukan pembuktian pada tali itu. Yuvia hanya terlamun melihatnya.

“Oh gitu” dia hanya mengangguk pertanda mengerti.

“Sekarang simpul mati udah dibikin yang baru lagi” Rendy mencoba memperlihatkan simpul mati yang baru. Ia simpulkan silang-menyilang.

“Nah kayak gini” Rendy menenteng dan memperlihatkannya pada Yuvia. Kali ini dia hanya mengangguk lagi.

“Sekarang bikin simpul rantai dulu” Rendy memperpendek dan mempererat jangkauan simpul hidup pertama dan mengikatnya pada pasak.

“Dah selesai deh” ucap Rendy mengelap peluh di dahinya. Yuvia hanya tersenyum melihat Rendy.

“Ehh? Kenapa gue senyam-senyum sendiri ya? Tapi emang Rendy hebat ya. Pinter banget, dia dalam segala hal kayaknya bisa. Ah mikir apaan sih gue arkkhh… udahlah!” batin Yuvia.

Yuvia tersenyum “Ma…ka..”

“Tolong! Tolong!!!

Tolong…!!!”

-To Be Continued-

Twitter : @Rendyan_Aldo dan @rezalical

ßAuthor’s Noteà

Yah nggak tahu kenapa filter imajinasinya hidup lagi kayak awalan opening di atas. Jangan heran ya, soalnya authornya anak OSIS dan Senior Pramuka. Enjoy next chapter guys. Mohon dukungannya buat “Dicrections The Love and It’s Reward” ya. Masih mengikuti Arah Sang Cinta dan Balasannya? Kalo masih, tetep kunjungi karyaotakgue.wordpress.com ya! ^^~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

5 tanggapan untuk “Directions The Love and It’s Reward, Part 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s