X-World, Side Story (3) : Sinka – Loner

‘Grimore’….

Itulah yang tertulis di sebuah papan tanda yang tertancap di depan sebuah patung malaikat maut. Sungguh sesuatu yang unik untuk sebuah tanda selamat datang bagi para turis yang ingin mengunjungi kota itu. Selain dapat menarik turis yang memang mempunyai jiwa petualang, patung malaikat mau itu juga dapat mengusir turis yang hanya datang untuk tujuan iseng.

2 orang perempuan baru saja melewati papan tanda itu. Kini mereka telah berada di dalam kota Grimore. Jalan setapak mereka lewati, dan jalan itu menuntun mereka langsung ke pemukiman warga. Kota ini lebih mirip sebuah perkampungan dibandingkan sebuah kota, tapi tidak bisa disebut perkampungan juga sih mengingat luasnya itu….

“Sin, Mungkin kita salah datang kemari.” Ucap perempuan yang berjalan di belakang.

“Ada apa, Gre? Kamu takut?” Tanya perempuan yang berjalan di depan.

“Eh? Si-siapa yang takut? Aku kan hanya bilang, ‘Mungkin kita salah’.” Elak perempuan yang berjalan di belakang. Hmm… Padahal terlihat jelas daritadi tubuhnya terus bergetar semenjak ia melewati tanda selamat datang kota.

“Uh-uh, dan kenapa menurutmu kita salah datang kemari?”

“Tidak ada siapa-siapa disini. Kau bisa lihat sendiri kan, Sin? Tidak ada suara sama sekali. Kota ini benar-benar kota hantu.”

“Itu kan menurutmu, Gre. Kita belum tau apa itu benar atau tidak.” Ucap perempuan yang berjalan di depan.

“Memangnya apa yang membuatmu berpikir kota ini punya populasi?”

Tanpa membalikan badannya, wanita yang berjalan di depan, Sinka, memberikan selembar kertas pada Gracia yang berjalan di belakangnya. Gracia menerima kertas itu dan melihatnya. Ternyata kertas yang diberikan Sinka adalah sebuah poster buronan. Ada satu kejanggalan pada poster buronan itu.

“Poster buronan macam apa ini? Ciri-ciri buronan disebutkan, hadiah jelas, keterangan lain ada, tapi… Tanpa Foto? Apa ini benar-benar bisa disebut poster buronan?” Ucap Gracia.

“Apa kamu sudah membaca ciri-ciri dan juga keterangan tambahan di poster buronan itu?” Tanya Sinka.

“Tunggu sebentar… Hmm… Oke, aku sudah selesai membacanya.” Ucap Gracia.

“Lalu? Apa yang kamu tangkap dari poster buronan itu?”

“Buronan di selebaran ini adalah sebuah monster.” Jawab Gracia.

“Apa kau mengerti sekarang?” Tanya Sinka.

“Mengerti apa?” Sinka menepuk jidatnya begitu mendengar jawaban Gracia.

“Monster yang ada di poster buronan itu… jelas sekali dia bukan monster biasa. Bahkan penduduk disini tidak ada satupun yang bisa mendapat fotonya untuk diletakkan di poster itu.” Mendengar penjelasan Sinka, Gracia membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’.

“Jadi, kita kesini untuk memburu monster itu dan mengklaim hadiahnya dari warga kota ini, begitu?” Tanya Gracia.

“Hadiah apa? Tidak ada yang akan memberi kita hadiah. Tidak ada warga yang tersisa di kota ini. Semuanya lebih memilih pergi dari pada tetap tinggal dan menjadi sasaran teror dari si monster.”

“Lalu untuk apa kita memburu monster itu? Oh, aku tahu. Untuk koleksi monster Ayah mu kan? Kau bilang, Ayahmu suka dengan makhluk-makhluk aneh.”

“Umm… Aku tidak memikirkan itu, tapi bisa saja sih.” Jawab Sinka. Perbincangan kedua perempuan itu telah membuat mereka hanyut. Tidak mereka sadari, mereka telah melewati daerah pemukiman warga dan tiba di area padang rumput yang sangat gelap.

Pencahayaan di area itu sangat minim, dan satu-satunya penerangan terdekat mereka berada jauh di depan, tepatnya sebuah pohon beringin yang menghasilkan cahaya terang. Wow, pohon yang ajaib.

Menggunakan kedua senter yang mereka bawa, mereka berjalan ke arah pohon yang menghasilkan cahaya itu. Suara angin yang bertiup kencang menjadi teman mereka selama perjalanan menuju pohon itu. Di tengah perjalanan mereka, tiba-tiba saja bulu kuduk Sinka berdiri.

Mempunyai kemampuan lebih berupa insting tajam membuat Sinka dapat mendeteksi bahaya yang dapat mengancam nyawanya dalam jarak tertentu darinya. Sinka menghentikan langkahnya, lalu ia menatap sekeliling. Gracia yang curiga dengan tindakan Sinka tiba-tiba saja menjadi takut dan berusaha berlindung di belakang Sinka sambil memegangi digivicenya.

“Hei, Gre! Apa yang kamu lakukan?!!” Tanya Sinka yang mulai resah dengan sikap Gracia.

“Jujur… Aku takut begitu kau memainkan sentermu seperti tadi dan menatap sekitar. Jangan-jangan, kau melihat hantu ya?”

“Hantu apa? Tidak ada yang namanya hantu! Ya, mungkin memang tidak ada yang mungkin di Battleworld ini, tapi… Tetap saja. Yang aku rasakan ini bukan hantu tau!” Bantah Sinka.

“Kamu punya digimon besar dan kuat, kenapa tidak berlindung di belakangnya saja? Kenapa malah berlindung di belakangku?” Tambahnya.

“Kan aku sudah bilang di pesawat. Makin sering aku menggunakan Omegamon, makin cepat proses digitasi glitch dalam tubuhnya bekerja. Makanya aku berhemat-hemat dalam menggunakan Omegamon.” Ucap Gracia.

Insting Sinka tidak salah. Kenyataannya memang ada sepasang mata yang mengawasi dirinya dan juga Gracia dari jarak yang cukup jauh. Area padang rumput di kota ini adalah pembatas antara pemukiman warga kota dengan hutan terlarang. Di dalam hutan itu, disitu lah si pemilik sepasang mata yang tengah mengawasi Sinka dan Gracia.

Makhluk itu tersenyum, menunjukkan sepasang gigi taring menyeramkan miliknya. Sinka semakin awas dengan sekitarnya semenjak bulu kuduknya mulai bereaksi dengan kehadiran makhluk yang mengintai mereka.

Dia dan Gracia melanjutkan perjalanannya dengan hati-hati menuju pohon besar yang bercahaya dimana mereka bisa mendapat penerangan yang cukup dan mungkin juga berlindung disana hingga pagi tiba.

Bulu kuduk yang ada di tangan kiri Sinka semakin naik, pertanda makhluk itu berada di sebelah kirinya. Sinka menyorot senternya ke kiri. Tidak ada apa-apa disana, hanya sebuah batu besar dimana… MONSTER!!!!!

“HWAAAAAAAAAA!!!!!” Gracia berteriak sejadi-jadinya begitu melihat monster itu. Oke, ehem, itu biasa. Kalian tahu? Refleks kaget. Ya, semacam itu. Bukan hanya dia yang kaget melihat rupa monster itu, tapi gue mengakui… Sebagai penulis, gue juga cukup kaget (?).

“SHKK!!!!!!” Sepertinya makhluk itu geram mendengar teriakan Gracia. Terlihat sekali sorot mata monster itu untuk saat ini terfokus pada Gracia.

“Kau? Kau bukan monster!” Ucap Sinka. Makhluk itu terbang dan menerjang ke arah Sinka dan Gracia. Sinka benar, makhluk itu ternyata bukan monster, tapi seorang perempuan yang memiliki fisik seperti vampir!

Sinka sukses melindungi Gracia dengan menghantam monster, eh, maksudnya perempuan itu mentah-mentah dengan tangan kosong. Pukulannya sukses mengenai wajahnya, dan perempuan itupun terpental ke belakang.

Perempuan vampir itu berhasil mendarat kembali di batu besar tempat ia sebelumnya bertengger dengan pose ala Spiderman.

“Aku bisa mencium bau darahmu semenjak kamu menginjakkan kaki di kota ini.” Ucap perempuan vampir itu.

“Wow, bulu kuduk ku kalah oleh penciumanmu. Aku baru bisa mendeteksimu beberapa saat yang lalu di padang rumput ini.” Ucap Sinka.

“Ini bukan saat yang tepat untuk terkesima!” Ucap Gracia.

“Persiapkan senjatamu! Sepertinya nona vampir ingin bermain-main sedikit dengan kita.” Perintah Sinka pada Gracia. Dengan keadaan tangan yang gemetar, Gracia meraih pistol di kantong sabuknya dan mengacungkannya ke perempuan vampir itu.

“Mau menembak ku? Silahkan saja.” Perempuan vampir itu merubah posisinya jadi berdiri dan dia merentangkan kedua tangannya seolah menantang Gracia untuk menembak dadanya. Tanpa ragu-ragu Gracia langsung menarik pelatuk pistolnya berulang-ulang. Peluru-peluru pun berterbangan ke arah perempuan vampir itu.

Si perempuan vampir hanya tenang menerima setiap timah panas yang mendarat di tubuhnya. Tidak terlihat raut wajah kesakitan dari dirinya.

“Sekarang apa?” Tanya Gracia dengan nada pelan.

“Lihat ke kanan… LARI KE POHON!!!” Sinka berlari dengan cepat meninggalkan Gracia. Karena telat menangkap omongan Sinka, Gracia tertinggal cukup jauh di belakang Sinka. Panik melanda diri Gracia, dan adrenalin yang disebabkan rasa takut memenuhi tubuhnya. Tak disangka, adrenalin yang dipicu rasa takut itu malah membantu Gracia.

Gracia dengan cepat berhasil mendahului Sinka dan tiba lebih dulu di bawah pohon bercahaya yang ada di tengah padang rumput. Sementara itu, Sinka masih terus berlari menyusul Gracia menuju pohon bercahaya.

Perempuan vampir itu terbang membuntuti Sinka tepat di belakangnya persis dengan posisi mulut terbuka, layaknya vampir yang siap menggigit mangsanya.

Melihat taring-taring tajam di mulut perempuan vampir yang sebentar lagi akan mendarat di tubuh Sinka, Gracia mengangkat pistol miliknya dan mengarahkannya pada mulut perempuan vampir itu. Sebuah peluru ditembakkan, dan peluru itu mengenai wajah si perempuan vampir.

Berkat aksi Gracia barusan, perempuan vampir itu gagal memangsa Sinka, dan kini Sinka sudah berada di samping Gracia di bawah pohon bercahaya. Perempuan vampir itu bangkit, dan tanpa alasan yang jelas, ia pergi meninggalkan mereka.

“Akhirnya makhluk mengerikan itu pergi juga.” Ucap Gracia seraya ia merebahkan tubuhnya di atas rumput sambil mengatur nafasnya.

“Gre, kamu tadi lihat wajah perempuan itu sebelum ia pergi tidak?” Tanya Sinka.

“Tidak, dan aku tidak mau melihatnya. Mata dan taringnya itu… HIH!!! Sepertinya bertambah lagi daftar hal-hal yang ku takutkan setelah bertemu dengannya. Memangnya kenapa, Sin?”

“Bukan apa-apa sih. Aku hanya merasa ganjil dengan kepergiannya.”

“Maksudmu?”

“Kalau mataku tidak salah lihat, tadi aku seperti melihatnya dengan raut wajah sedih sebelum ia pergi.”

“Sedih?” Tanya Gracia bingung.

“Entah, aku juga tidak yakin sebenarnya.” Rasa penasaran memenuhi kepala Sinka. Sebenarnya sejak awal, tujuan ia datang ke kota ini adalah untuk mencari monster, eh, maksudnya perempuan itu.

Sewaktu ia belum tau kalau monster itu ternyata adalah seorang perempuan vampir, ia sangat berharap bisa menangkapnya dan menjadikannya hewan peliharaan untuk dilatih. Yang membuat Sinka ingin memiliki hewan peliharaan sebenarnya adalah Gracia. Ia agak iri melihat Gracia dengan Omegamonnya, Tapi….

Setelah mengetahui kalau monster yang tengah ia cari sebenarnya adalah ‘manusia’, ya, walaupun manusia itu tidak benar-benar manusia, ia memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang perempuan itu.

Sambil menunggu pagi, Sinka mengutak-atik Digital Assistant miliknya untuk mencari informasi dan data-data mengenai perempuan vampir itu.

**

3 jam berlalu, dan matahari pun sudah terbit. Sinka belum menemukan satu informasi pun mengenai perempuan vampir itu.

“Ckh! Sial!” Keluh Sinka.

“HOAM! Akhirnya pagi juga. Ayo kita pergi dari kota ini.” Ucap Gracia.

“Tunggu dulu! Kita belum akan pergi.” Cegah Sinka.

“Hmm? Memang kita mau melakukan apa lagi di kota ini? Tunggu, j-jangan bilang k-kalau kau…”

“Kita cari perempuan vampir itu. Aku masih penasaran dengannya.” Ucap Sinka seraya berdiri.

“Kau sudah gila ya? Kau ingin mati?!!”

“Memang saat aku nekat menolongmu yang hampir dibunuh oleh Megatron, aku tidak ingin mati?” Pertanyaan Sinka sukses membuat Gracia bungkam karena merasa tersindir.

“Aku punya kebiasaan buruk dalam ketertarikan. Kalau aku sudah tertarik pada seseorang atau sesuatu, akan ku telusuri latar belakangnya sekalipun harus melakukan kontak langsung.” Sinka berjalan meninggalkan pohon bercahaya.

“Kau mau kemana?”

“Ke tempat perempuan itu. Kemarin aku melihat bayangannya masuk ke dalam hutan.” Ucap Sinka. Gracia masih terdiam di bawah pohon, sementara Sinka mulai jauh darinya.

Gracia mulai berpikir kembali tentang sindiran Sinka barusan. Sinka rela menempatkan dirinya dalam resiko kematian hanya untuk menyelamatkan Gracia saat itu, tapi sekarang Gracia sendiri malah membiarkan temannya berhadapan dengan perempuan vampir yang jelas-jelas dapat membahayakan nyawanya sendiri.

Kedua kaki Gracia bergerak dengan sendirinya berlari menyusul Sinka yang hampir tiba di perbatasan area padang rumput dengan hutan terlarang.

“Sadar juga?” Tanya Sinka pada Gracia yang kini berada di sampingnya.

“Bukan. Kalau aku tidak mengikutimu, aku tidak akan bisa mengembalikan Omegamon seperti semula.” Sinka hanya tersenyum mendengar jawaban Gracia.

Kedua perempuan itu mulai memasuki area hutan. Tidak disangka, hutan yang dikiranya tidak membingungkan ini hampir membuat mereka berdua terpisah. Sinka menggenggam tangan Gracia dengan erat agar keduanya tidak terpisah saat melewati pepohonan yang tumbuh liar dengan posisi aneh di hutan ini. Hutan ini hampir seperti labirin bagi mereka yang baru pertama kali mengunjunginya.

Bulu kuduk Sinka lagi-lagi berdiri. Instingnya kembali mendeteksi sesuatu. Poni depan Sinka terangkat seolah menunjuk ke arah depan. Bermodalkan petunjuk aneh dari poni Sinka (?), mereka terus berjalan ke depan masuk ke bagian yang lebih dalam dari hutan.

Dituntun oleh poni Sinka, mereka menemukan sebuah rumah kecil tua yang ada di tengah hutan terlarang. Kondisi rumah kecil itu bisa dibilang sudah tidak layak huni lagi.

“Ayo masuk ke rumah itu.” Ucap Sinka.

“Kau duluan.” Ucap Gracia sedikit ketakutan.

Sinka membuka pintu rumah, dan berjalan masuk perlahan-lahan bersama Gracia di belakangnya. Keadaan di dalam rumah tua itu cukup kacau.

Perabotan rumah berserakan dimana-mana dan dari dapurnya bisa tercium bau busuk yang sangat menyengat. Gracia menutup hidungnya karena tidak tahan dengan bau busuk itu, tapi lain halnya dengan Sinka.

Ia masih tahan dengan bau busuk itu, tapi sampai kapan? Sebenarnya dalam hati pun dia juga tidak tahan pada bau itu, tapi ia berusaha menahannya karena rasa penasarannya yang begitu kuat. Kenapa instingnya membawa dirinya ke rumah ini?

Poni Sinka tiba-tiba naik ke atas. Melihat gerakan poni Sinka yang mendadak, Gracia langsung menengok ke atas.

“SHHHHHHHK!!!!!!”

“HWAAAA!!!!!” Gracia dengan refleks mengarahkan senjatanya ke atas dan menembaki perempuan vampir yang tengah bertengger di langit-langit rumah tepat di atas dirinya dan Sinka. Perempuan vampir itu berhasil menghindari semua peluru yang ditembakkan Gracia.

“PERGI DARI SINI!!!” Ucap perempuan vampir itu sambil hendak menyerang Sinka dan Gracia. Kemudian perempuan itu kembali menerjang Sinka dari depan.

“Kau tidak pernah belajar ya?” Sinka kembali memasang ancang-ancang, kemudian melayangkan pukulan ke arah perempuan vampir itu. Sinka berpikir pukulannya akan mengenai wajah si perempuan vampir sama seperti kejadian tadi malam, tapi….

Saat pukulan Sinka akan mendarat ke wajah si perempuan vampir itu, dengan cepat, si perempuan vampir mengelak dan melayangkan serangan balasan dengan kaki kanannya ke arah wajah Sinka. Kecepatan perempuan vampir itu rupanya tidak bisa diremehkan. Karena tidak dapat menghindar, Sinka akhirnya terkea tendangan dan terpental keluar rumah.

Gracia seorang diri tersisa di dalam rumah itu. Melihat Sinka yang terpental keluar membuat keberanian Gracia bangkit seketika.

“Tidak perlu Omegamon untuk melawanmu.” Gracia mengambil pistol kedua yang tergantung di pahanya dan bersiap melawan si perempuan vampir.

Perempuan vampir itu melesat ke arah Gracia. Kalau dari kasat mata, jelas-jelas dia menyerang Gracia dari arah depan, tapi yang sebenarnya terjadi, serangannya dari arah depan itu hanya sebuah pengalih perhatian. Saat sudah hampir menyentuh Gracia, ia menghilang dan Gracia nampak kebingungan mencari musuhnya.

Tiba-tiba saja perempuan vampir itu kembali muncul di atas Gracia dan berniat untuk menginjak Gracia dengan kedua kakinya. Entah refleks atau memang kebetulan, Gracia berhasil menghindari serangan kejutan itu.

Perempuan vampir itu sepertinya kesal karena serangannya gagal mengenai Gracia. Gracia melompat ke arah perempuan vampir itu. Dia tidak berniat melayangkan serangan dengan menerjang perempuan itu, tapi ia berniat naik ke atas pundaknya agar bisa membuatnya diam dan tidak berlarian ataupun terbang.

Taktik Gracia berhasil. Kini ia berada di pundak perempuan vampir itu. Sambil mencekik perempuan itu menggunakan pistolnya, ia berusaha membuatnya terdiam di tanah agar ia bisa segera menghabisinya.

“MENYINGKIR!!!” Teriak perempuan vampir itu.

Gracia mengencangkan cekikannya pada perempuan vampir itu. Perlawanan pun dilakukan oleh si perempuan vampir. Ia sengaja menjatuhkan dirinya ke belakang dengan kencang agar Gracia yang berada di punggungnya menghantam lantai kayu rumah itu dengan keras.

Dihantam ke lantai, Gracia makin menjadi dengan cekikannya. Perempuan vampir itu bangkit. Masih dengan Gracia di punggungnya, ia terbang menembus atap rumah. Kepala Gracia ikut menghantam atap. Akan tetapi, cekikannya masih belum ia lepaskan.

Perempuan vampir itu mulai lemas karena cekikan Gracia. Mereka berdua akhirnya jatuh dengan posisi Gracia yang akan terlebih dahulu menghantam tanah dibanding si perempuan vampir yang dicekiknya.

Jatuh dari ketinggian ditambah hantaman ranting-ranting pohon selama di udara membuat Gracia akhirnya melepaskan cekikannya pada si perempuan vampir. Gracia menyingkirkan tubuh si perempuan vampir yang menindihnya. Saat ia memeriksa detak jantung wanita vampir itu, hasilnya negatif.

“Sepertinya aku berlebihan, tapi ya sudahlah. Walaupun bisa dibilang kau cukup cantik untuk seorang vampir, aku tetap benci kebiasaanmu yang suka membuat orang lain terkejut.” Ucap Gracia pada tubuh si perempuan vampir.

Gracia beranjak untuk mencari Sinka yang hilang semenjak ia terpental keluar rumah, karena serangan si perempuan vampir.

“SINKA!!! SINKA!!!” Teriak Gracia sambil memperhatikan sekeliling. Belum ada respon positif yang diharapkannya.

“GRE!!!!!” Balas teriak Sinka. Gracia yang mendengar respon dari Sinka langsung berlari ke sumber suara Sinka.

“SIN!!! TERIAK LAGI!!!” Sinka mendengar teriakan Gracia, dan ia terus berteriak memanggilnya agar Gracia bisa tau dimana posisi Sinka di tengah hutan ini.

Gracia sampai di sumber suara. Dengan kata lain, Sinka tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Ia hanya butuh satu teriakan lagi dari Sinka agar bisa menemukan temannya itu, tapi mendadak teriakan Sinka sudah tidak ada.

“SIN!!! TERIAK LA–“

*PLETAK!*

“ADUH!!!”

“Aku di atas sini!” Ucap Sinka dengan nada kesal.

“Aduh, kenapa kau harus melemparku dengan kenari?” Keluh Gracia.

“Seenaknya saja kamu menyuruhku teriak. Kamu pikir tenggorokanku tidak lelah apa terus-terusan berteriak?” Sekarang gantian Sinka yang mengeluh. Saat ini Sinka tengah terjebak di antara ranting-ranting pohon yang tinggi.

“Tunggu disitu! Aku akan naik!”

“TUNGGU! Kamu tidak perlu naik! Tembak saja salah satu ranting yang menahan tanganku, lalu aku bisa mengurus sisanya.” Gracia mengangguk dari bawah. Ia mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke ranting yang menahan tangan Sinka. Tembakan dilepaskan, dan berhasil menghancurkan ranting yang menahan tangan kiri Sinka.

Dengan tangan kirinya yang sudah terlepas, Sinka menarik paksa ranting-ranting lain yang menahan anggota tubuhnya hingga lepas. Sinka jatuh ke bawah dan ia berhasil mendarat dengan aman di atas kedua kakinya.

“Terima kasih bantuannya.”

“Sama-sam–“ Bulu kuduk Sinka kembali berdiri secara tiba-tiba dan semua mengarah ke depan Sinka. Gracia berdiri tepat di depan Sinka, berarti bahaya tersebut akan datang dari arah belakang Gracia.

Benar saja, perempuan vampir itu terbang dengan cepat. Mulutnya terbuka dengan taring-taring yang siap menancap di leher Gracia. Sinka yang melihat itu langsung bergerak untuk melindungi Gracia dari gigitan si perempuan vampir.

“–ma….”

*CROT!!!!*

2 buah taring mendarat tepat di leher Sinka. Beberapa tetes darah keluar dari sela-sela lubang gigitan itu. Si perempuan vampir memeluk tubuh Sinka untuk menahannya agar tidak bergerak selama ia menghisap darah yang menjadi sumber tenaganya.

Perempuan vampir itu tampak menikmati minumannya langsung dari sumbernya. Gracia yang terkejut melihat hal tersebut tidak bisa berbuat apa-apa karena shock dan kaget.

“Hei…” Perempuan vampir itu terkejut mendengar suara korbannya yang terdengar santai.

“Sudah selesai dengan leherku?” Tanya Sinka. Perempuan vampir itu mencabut gigitannya dan menoleh ke samping. Terlihat Sinka tersenyum ke arah si perempuan vampir. Bukan senyuman biasa yang ditunjukkan oleh Sinka, melainkan senyum bengis.

“B-Bagaimana…” Ucap perempuan vampir itu terbata-bata.

“Bukan hanya kamu satu-satunya monster disini.” Ucap Sinka.

Hembusan angin di sekitar Sinka mulai berubah seolah seluruh angin di tempat itu tertarik ke arahnya. Tubuh Sinka dan juga perempuan vampir itu di lapisi oleh pusaran angin kecil dan saat pusaran angin itu menghilang, sesuatu yang tidak diduga-duga terjadi pada Sinka.

“S-S-Sinka?!!” Ucap Gracia terkejut.

Wajah lucu gadis muda itu telah berganti menjadi wajah hewan buas penuh bulu dari ujung kepala hingga kaki. Tangannya yang berkulit putih dan halus telah berganti menjadi 2 buah cakar dengan kuku panjang.

Hal yang sama juga terjadi pada kakinya. Satu hal yang bertambah dari anggota tubuh Sinka sekarang adalah sebuah ekor berbulu lebat yang keluar dari dalam celana ketatnya.

“GRGGHHH!!” Sinka menggeram dengan wujud barunya. Si perempuan vampir yang sebelumnya bertengger di tubuh Sinka, kini melompat menjauh. Yang menakuti kini bertukar posisi menjadi yang ditakuti dan yang ditakuti sekarang balik menakuti.

“Kau… Sebenarnya kau itu apa?” Tanya si perempuan vampir.

Pusaran angin kembali membalut seluruh tubuh Sinka. Saat pusaran angin itu hilang, Sinka sudah kembali ke wujud semulanya.

“Sudah aku bilang bukan? Bukan hanya kamu satu-satunya monster disini. Sebenarnya aku seorang Zoanthrope, ras manusia yang punya sisi lain binatang. Kamu sudah liat sisi lain ku bukan?”

“Yang barusan itu… Anjing Siberian Husky bukan?” Tanya Gracia.

“SIBERIAN HUSKY?!! ENAK SAJA! SISI HEWANKU ITU SERIGALA KUTUB TAU!!!”

“Jelas sekali tadi aku menghisap darahmu cukup banyak. Kenapa kau tidak mati?” Tanya si perempuan vampir.

“Soal itu, mungkin karena gen Zoanthrope-ku.” Jawab Sinka sedikit ragu-ragu.

“Kamu sendiri? Kamu ini vampir kan? Kenapa kamu tidak mati terpanggang karena sinar matahari?” Pertanyaan Sinka membuat Gracia tersadar akan kejanggalan tersebut.

“Oh, iya! Tadi kau terkena sinar matahari langsung bukan saat aku mencekikmu dan kau membawaku terbang? Kenapa kau masih hidup?” Tanya Gracia.

“Itu bukan urusanmu!”

“Tapi sekarang itu urusanku. Sebenarnya tujuan awalku datang kemari, karena aku mendengar kabar tentang seekor monster yang sering menyerang penduduk dan memakan korban. Rencananya aku ingin menjadikannya hewan peliharaan, karena aku iri dengan temanku yang punya peliharaan hebat.” Ucap Sinka sambil menunjuk Gracia.

“Omegamon itu bukan peliharaan tau. Dia itu partner-ku -_-.” Ucap Gracia.

“Tapi setelah melihat kalau ternyata monster itu adalah… Uh… Vampir, niat berburuku sempat hilang. Lalu saat kejar-kejaran malam itu, sebelum kau pergi, aku melihat wajahmu. Kamu sedih bukan saat aku berusaha menghindar darimu malam itu?” Tanya Sinka.

Perempuan vampir itu tersentak mendengar pertanyaan Sinka. Ia tidak bisa menyangkalnya. Hal yang diucapkan Sinka memang benar.

“Jadi kau melihatnya?” Sinka mengangguk pelan.

“Sebenarnya Malam itu aku hanya hendak menakut-nakuti kalian saja. Lalu saat aku ingin berkenalan, kau malah memukul wajahku dan menanggapi candaanku dengan serius.”

Sebuah pengakuan yang tidak terduga sama sekali. Ternyata tindakannya yang semalam itu hanya sebuah cara perkenalan. Ya, kalau dipikir-pikir cara tersebut memang tidak wajar dan sudah tentu dapat menyebabkan salah paham bagi siapapun.

“Oh… Lalu kenapa kamu menyerangku dan temanku di rumah tua tadi?” Tanya Sinka.

“Aku kira kalian mau mencuri sesuatu dari rumahku. Jadi… aku menyerang kalian.”

“Halo… Pertanyaanku masih belum kau jawab.” Ucap Gracia.

“Sebenarnya aku bukan sepenuhnya vampir. Saat ibuku akan melahirkanku, ia digigit oleh vampir. Hasilnya, aku memiliki semua kelebihan vampir, tapi tidak dengan kelemahan mereka termasuk aku tidak bisa menginfeksi orang menjadi vampir.” Jelas perempuan itu.

“Oh, jadi kamu seorang daywalker?” Tanya Sinka.

“Ya.” Jawab si perempuan singkat.

“Lalu bagaimana rasa haus darahmu? Bukankah daywalker masih punya rasa haus darah seorang vampir?” Tanya Sinka.

“Aku menggunakan serum untuk mengekang rasa haus darahku, tapi saat aku menggigitmu tadi, entah kenapa, aku seperti merasa kenyang.”

“Kenyang? Hmm… Menarik.” Ucap Sinka.

Dalam hati, Sinka berpikir. Sepertinya perempuan vampir ini cukup unik dan bisa dibilang cocok untuk direkrut menjadi salah satu anggota organisasinya. Dari sikapnya juga, sepertinya perempuan vampir itu adalah orang yang polos dan loyal.

“Apa kamu tertarik untuk bergabung denganku?” Tanya Sinka.

“Bergabung? Bergabung untuk apa?”

“Kebetulan aku dan temanku sedang dalam perjalanan. Mungkin kamu mau ikut? Setidaknya, kalau kamu ikut denganku, kamu tidak akan sendirian lagi bukan? Bagaimana?” Tawar Sinka.

Tawaran Sinka membuat perempuan itu berpikir cukup lama. Setelah berpikir matang-matang, perempuan itu menjabat uluran tangan Sinka. Keduanya saling tersenyum satu sama lain, termasuk Gracia yang juga sempat salah paham dengan perempuan itu.

Dalam hati, Sinka berkata, “Daywalker, sempurna. 2 orang yang cukup menjanjikan sudah ditanganku.”

“Oiya, ngomong-ngomong, kita belum berkenalan satu sama lain bukan? Aku Sinka, dan yang itu temanku Gracia.” Ucap Sinka memperkenalkan dirinya dan Gracia.

“Namaku Shani. Senang berkenalan dengan kalian.”

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

8 tanggapan untuk “X-World, Side Story (3) : Sinka – Loner

      1. Wadowh… Klo bang ical ikutan, gary dkk mah fix kalah :v penulis masuk cerita, skillnya setara dewa wkwkwk

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s