“Hitam Putihnya Panda : Rizal” Part 4

Jeweran kakak terasa sangat menyengat sekali di telinga hingga berubah menjadi kemerahan, pertemuan bodoh itu membuat Rizal tidak begitu semangat melanjutkan pembelajaran di sekolah, walau bel masuk sudah berbunyi dari 10 menit lalu dia tetap saja berbaring di atas meja ruang tim basket.

“Kamu bolos lagi?”

Suara lembut memecah keheningan ruangan, Rizal menoleh dan melihat siapa orang yang sudah berhasil menemukannya, “Shani, ngapain kamu disini?” Seorang wanita cantik berwajah oriental sedang berdiri tidak jauh dari Rizal, dia menatap tajam seakan kucing melihat makanannya.

“Buat jemput kamu lah, guru nanyain kamu tuh di kelas.”

“Jika tau seperti ini aku lebih baik tidak sekelas sama kamu.”

Wajah Shani semakin mengerut kesal, tanpa basa basi lagi dia mendekati Rizal dan menarik dasi hitam panjangnya sehingga Rizal terseret turun dari atas meja. Akhir-akhir ini Rizal sadar jika dia dikelilingi cewek-cewek cantik dan juga menyeramkan, bila salah di depan mereka siap-siap akan menerima tindakan dari mereka.

“Iya-iya aku ke kelas.” Ucap Rizal sambil merapihkan dasi yang sudah tidak karuan karena di tarik oleh Shani.

Membujuk Rizal susah-susah gampang, jika lembek saja menghadapi ketua tim basket itu malah Shani yang akan menjadi bulan-bulannya Rizal, sebab itu Shani tahu betul apa yang harus dia lakukan.

Sepulang sekolah Rizal bersiap pulang dengan motornya, helm hitamnya pun sudah dia genggam sampai seseorang tak dikenal datang menghampirinya.

“Aku memilih tim basket.” Suara tegas terdengar dari belakang punggung Rizal, walau suaranya begitu asing tapi dia tahu siapa orang itu.

“Kalo begitu selamat datang di tim basket.” Balas Rizal sambil memakai helmnya.

Entah bagaimana perasaan Sinka saat dia berbicara tapi malah Rizal tidak menoleh untuk menatapnya. Sesuatu terasa di pundak kiri Rizal, baru mulai detik itu dia menolah ke arah kiri melihat Sinka yang wajahnya sinis menatap rendah Rizal.

“Lu cukup berani buat seorang pemula.” Ucap Rizal datar.

“Pikirlah dua kali kalo mau bersikap dingin ke aku, karena kamu gak tau siapa aku.”

Rizal sejenak diam melihat Sinka sampai Sinka pergi meninggalkannya, benar-benar buruk tahun ini, Sinka menjadi daftar nama tambahan yang memiliki sifat keras di hidup Rizal. “Benar-benar cewek aneh.” Pikirnya.

Pada dasarnya ada beberapa keluarga yang memiliki tradisi makan bersama di meja makan, itulah terapan di keluarga Rizal. Sebelum makan malam Rizal bertemu kakaknya di lantai atas, wajah kakaknya saat diam memang terlihat manis tapi bila keadaan tidak sesuai dengan kemauannya bisa-bisa dia mengeluarkan dua tanduk dan sayap iblis.

“Jadi udah dapet manajer baru nih.”

Rizal sejenak menelan ludahnya melihat sang kakak tersenyum di hadapannya, senyumnya itu malah membuat suasana horor di benak Rizal. “I..iya, namanya Sinka.” Jawab Rizal secara hati-hati.

“Bagus lah kalo gitu, semoga tim basket semakin maju lagi dari sebelumnya.” Dia pun pergi meninggalkan Rizal. Memang ada suka dukanya memiliki kakak berwatak seperti itu, tapi satu hal yang Rizal ketahui jika kakaknya sangat menyayanginya lebih dari dirinya sebab itu dia tidak membenci kakaknya sedikit pun.

Besoknya barulah manajer mulai bekerja, saat istirahat dan Rizal bersantai di atas meja ruang tim basket, Sinka datang sambil membawa sebuah buku besar, dilihat dari wajahnya jika Sinka pagi itu sedang memiliki mood yang cukup baik.

“Hei mau ngapain kesini?” tanya Rizal.

Kepala Sinka berputar ke kiri secara perlahan bahkan sangat perlahan, ayolah ini bukan cerita horor. “Suka-suka aku, lagian aku kan manajer kalian.”

“Saat acara malam bersama nanti jangan harap lu masih bisa bersikap angkuh kayak gitu.”

Wajah Sinka sedikit heran, sepertinya dia belum tahu tentang malam bersama, “Malam bersama? Apa maksudnya?”

“Itu acara anatar osis dan tim olah raga kita, diadakan tiga hari dua malam, acaranya seminggu lagi. Kalo gak percaya liat aja schedule acara.”

Dengan jurus tangan kilat Sinka membuka buku yang dia bawa, dengan teliti beberapa detik lamanya barulah wajah Sinka menunjukan perubahan, Rizal sedikit tersenyum tipis melihat kekhawatiran di wajah Sinka.

“Permisi…” sapa seseorang di luar ruangan.

Terlihat seorang cowok berpenampilan rapih dengan rambut klimisnya yang khas, Rizal hanya tersenyum dan berjalan mendekati orang itu.

“Eh jar, ada apaan?”

“Itu lu dipanggil rapat buat acara malam bersama.”

Rizal langsung tersenyum jahat sambil menatap Sinka, sepertinya ini akan menjadi ajang balas dendamnya kepada sang manajer baru. Merasa keanehan itu di ruangan, Fajar sebagai teman dekat Rizal dan sekaligus anak futsal ikut menatap Sinka.

“Oh jadi dia manajer yang diperebutin sama tim basket dan futsal?” tanya Fajar.

Dari jauh Sinka mencoba untuk mendekati Fajar dan Rizal, “Iya, saya Sinka.” Wajah Fajar mengekspresikan kecurigaan kala menatap Rizal, dia penasaran apa yang Rizal lakukan hingga Sinka mau menjadi manjer tim basket.

“Sin, kok milih timnya si Rizal sih? Dia ngapa-ngapain kamu?”

Senyum Sinka terlihat setelah mendengar pertanyaan Fajar, baru kali ini Rizal begitu tenang diam menatap senyum manis itu, ternyata bila diperhatikan Sinka itu memiliki wajah yang cantik, berbeda dengan kemarahannya yang bisa-bisa kecantikannya berkurang begitu saja.

“Mending sekarang kita ke ruang rapat yuk.” Rizal kemudian mendorong punggung Fajar untuk ikut dengannya, terasa aneh melihat Sinka tersenyum berkat cowok lain, pikiran aneh.

Menuju tempat rapat, Fajar terus saja menggoda Rizal untuk menceritakan hubungannya dengan Sinka sang manajer baru. Ada satu yang unik di pertemanan mereka yaitu Rizal kapten tim basket dan Fajar seorang pemain jenius di tim futsal, meski mereka berbeda hobi tetap saja itu tidak menghalangi pertemanan mereka, malah seringnya Rizal memiliki konflik dengan Yoga, biasalah sesama kapten. Namun dibanding Rizal, Yoga lah yang memiliki banyak fans perempuan di sekolah, dia adalah cowok populer di SMA Kirin, sedangkan Rizal? Yah dia dipandang judes oleh para cewek, sebab itu perempuan yang dekat dengan Rizal hanya kakaknya saja.

Sepertinya kapten tim basket ini memiliki perasaan dendam tersendiri terhadap Sinka, saat cewek penyuka panda itu berjalan bersama kakaknya, Rizal tanpa sungkan berdiri di hadapan mereka berdua sampai Sinka menatap heran.

“Hei, ngapai ngalangin jalan?” tanya Sinka dengan nada tinggi.

Naomi sejenak memegang erat tangan atas Sinka, “Sinka, itu Rizal.”

“Ternyata lu suka panda?”

“Iya, emang kenapa? Apa urusannya sama kamu?”

Rizal menghela napas panjang sejenak sebelum berbicara, dia lupa jika ada satu peraturan yang belum Rizal sampaikan ke Sinka saat dia menjadi manajer, “Gue lupa ngasih tau lu kalo gue gak suka panda, jadi mulai besok jangan pake apa pun yang berhubungan sama hewan itu. Sekarang terakhir gue liat lu pake sweater panda kayak gini. Ngerti?”

Sinka hanya diam, dilihat dari wajahnya jika dia sangat kesal dengan sikap Rizal. Sedangkan Rizal, dia menikmati moment itu, walau Sinka tidak menjawab tanpa dipedulikan Rizal terus berlalu pergi ke parkiran motor.

—————–

“Seneng banget dek kayaknya malam ini?”

Rizal sedikit tersenyum sambil memikirkan kejadian tadi sore di sekolah, menyenangkan sekali bisa mengganggu manajer baru itu. Emang dipikir gampang menjadi manajer tim basket, tidak akan semudah itu jika kaptennya Rizal.

“Iya kak aku lagi seneng gara-gara tadi aku gangguin Sinka.”

“Rizal inget ya, udah cukup kamu bersikap kayak gitu. Sinka orang ke 5  dalam setengah tahun ini yang jadi manajer tim basket, kalo kamu sampe punya rencana buat bikin Sinka ngundurin diri berarti kakak akan bikin tim sama kepala sekolah buat bubarin ekskul basket dan tim basket kamu, atau kamu yang kakak copot jadi ketua.”

Diam seribu bahasa dan kesal, ya itu yang sedang dirasakan Rizal sekarang, dia selalu tidak bisa berbuat apa-apa jika menghadapi kakaknya. Namun tetap Rizal akan membuat rencana untuk pengusiran Sinka, lagian Rizal tidak minta manajer baru untuk timnya.

Kebetulan sekali ditengah-tengah pidato kakak, Rizal mendapat pesan singkat dari Shani bahwa dia mengajak untuk makan malam bersama diluar, tentu saja ini kesempatan yang bagus untuk mengubah mood agar lebih baik lagi. Dengan menggapai sweater dan kunci motor, Rizal dengan cepat meninggalkan kakaknya sendiri di balkon kamar dan pergi menjemput Shani di rumahnya. Perjalanan hanya membutuhkan waktu 15 menit di tengah kemacetan malam kota Jakarta, untung saja Rizal sedikit tahu jalan pintas sehingga bisa memangkas waktu tempuh.

Di depan rumah Shani sudah berdiri seseorang yang begitu cantik, ya siapa lagi jika bukan Shani. Rizal menghentikan motornya di depan hadapan cewek itu sambil terus menatapnya tanpa berkedip.

“Kenapa kamu zal? Kok bengong gitu liatnya?”

Ucapan Shani membuyarkan delusi sesaat Rizal, dia cuma baru sadar bahwa Shani begitu cantik jika sedikit berdandan, tapi pada dasarnya juga saat di sekolah dengan tidak menggunakan make up Shani sudah banyak disukai oleh para murid cowok. Tanpa berlama-lama, Shani memakai helm miliknya dan menaiki motor Rizal hingga mereka pergi.

“Shan, kamu duluan aja masuk ke restonya, nanti aku nyusul. Ada telpon nih.”

Shani mengangguk kemudian pergi sedangkan Rizal masih berdiri di sebelah motor mengangkat panggilan yang sepertinya mendesak, saat-saat berbicara dengan orang di balik telphone itu beberapa kali Rizal menampilkan ekspresi kesalnya, bahkan setelah usai pun dia tetap memendam kekesalan.

“Hei.”

Tidak disangka jika Sinka dan kak Naomi berada di parkiran yang sama dengan Rizal, tapi apa hubungan diantara mereka berdua? Rizal hanya memandang bingung ke mereka berdua.

“Siapa yang lu panggil hei?” Wajah Sinka memandang kesal Rizal, dia menunggu jawaban dari ucapan sang kapten.

“Lu.” Jawab Rizal tenang. Jika cewek penyuka panda itu membencinya sudah pasti tidak akan lama lagi dia akan mundur dari jabatannya sebagai pengurus tim basket.

“Oh iya kak Naomi, kakak sama cewek aneh ini apa ya?”

Seperti biasa jika senyum kak Naomi begitu menyejukan hati, bila disenyumi selama lima menit full saja sudah pasti lutut akan lemas.

“Oh Sinka? Dia adik aku?”

Huh adik? Rizal melihat tajam ke mereka satu sama lain, jika diperhatikan memang ada kemiripan di wajah mereka, hanya saja di bagian pipi yang berbeda.

“Pantas mata kalian mirip. Tapi Sinka pipinya kok lebih besar ya? Terus gayanya juga kayak anak kecil, beda jauh sama kak Naomi yang anggun.”

Kak Naomi kembali tersenyum, baiklah daripada salah tingkah disenyumi kak Naomi, Rizal pun pamit duluan untuk memasuki restoran menemui Shani yang sepertinya sudah menunggu dengan kesal.

 

 

 

*To Be Continued ……

Twitter : https://twitter.com/BeaterID

Iklan

Satu tanggapan untuk ““Hitam Putihnya Panda : Rizal” Part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s