“Directions The Love and It’s Reward”, Part 7

“Kamu mau ikut ekskul apaan Shan?” tanya seorang gadis.

“Ini nih Nin, kamu mau ikut nggak? Temenin aku ya, please” Shani memohon kepada Anin.

“Ya udah, kita ajak Gre,ci Elaine,Andela,Michelle,Manda,Nadse, ci Des, dan lainnya” ucap Anin.

“Oke deh” Shani setuju dengan Anin.

—o0o—

Mereka bertiga sedang berjalan dan bertemu dua orang berambut sebahu.

“Hey, kalian lihat Baby dinoku nggak” tanya Viny.

“Baby dino? Siapa tuh?”

“Itu loh. Si Yuvia” ucap Dhike.

“Kayaknya masih di kelas deh” ucap Rendy.

“Ya udah makasih, yuk Key” mereka berdua pergi.

“Kenape tuh om Gun?” tanya Rio.

“Paling mau pada ikut ekskul idol grup itu” balas Guntur. Tak terasa mereka melangkah, akhirnya mereka sampai di lapangan. Terlihat di sebelah kiri sudah ada spot untuk ekskul akademik dan di sebelah kanan sudah ada spot untuk ekskul non akademik.

“Wih banyak bener” ucap Rendy.

“Iya nih, wah langsung aja yuk daftar” ucap Rio.

Mereka bertiga pertama-tama ke spot ekskul futsal.

“Woi om Gun!” ucap Dika memanggil.

“Weh Dik, si Rizal mane?” tanya Guntur.

“Tadi sih di sini” dia menengok kanan-kiri. “Nah ntu noh lagi sama si Gibran lagi nyatetin yang mau ikut futsal.”

“Dasar anak OSIS. Yuk kita ke sana Ren, Yo” ucap Guntur dan mereka berdua hanya mengangguk. Mereka sedikit berjalan dan segera sampai di spot pendaftaran ekskul futsal.

“Eh lu Tur. Nih formulirnya” ucap Gibran.

“Iya, nih yang dua dibelakang gue juga mau ikutan” ucap Guntur melirik kepada Rendy dan Rio.

“Nih” Rizal memberikan selembaran formulir pada Rendy dan Rio. Tapi sedikit berbeda, pandangan Rizal pada Rendy sekilas menjadi sangat tajam.

“Gue Rizal” Rizal mengajak bersalaman dengan Rendy.

“Rendy” Rendy menyambut akrab uluran tangan Rizal. Rizal mendekat dan berbisik.

“Hati-hati aja sama Dikta bro” bisiknya dan Rendy hanya mengangguk.

“Oke semuanya yang ikut futsal. Terima kasih sudah mau mengikuti ekskul ini. Saya Rizal sebagai kapten tim futsal SMA 48 Jakarta mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Untuk pengumuman latihan atau lainnya lebih lanjut, akan diberitahukan minggu depan” Rizal maju dan sedikit berpidato.

“Wah, tahun ini yang ikut ekskul futsal cukup banyak kapten” ucap Gibran.

“Berkat kerja keras kita semua.”

“Hebat juga ya ekskul futsal. Nggak pernah kalah sampai tahun ini” ucap Rendy melihat-lihat beberapa foto dan piagam beserta piala yang menjadi prestasi sekaligus promosi ekskul basket.

“Iya nih, wah gue jadi semangat!” ucap Rio.

“Ya udah sekarang kita mending ke spot ekskul basket” ucap Guntur.

—o0o—

Di kelas XI-A

“Eh Ve, persiapan buat ekskul barunya udah belum?” tanya Naomi.

“Udah siap semua kok. Sensei dance nya juga udah. Kita dapet tempat buat ekskul ini di mall Fx Sudirman lantai 4 buat latihan. Itu sih buat latihan khususnya, tapi kalo biasa-biasa kita juga bisa pake aula” balas Ve.

“Kalian dicariin malah di sini” ucap wanita berambut sebahu.

“Sabar Nal, kita lagi beresin proposal nih” ucap Ve.

“Ya udah cepetan. Itu si Sendy,Dena,Jeje,Ayana,Beby,Gaby,Ghaida,Vanka sama yang lainnya udah nungguin tuh di luar” ucap Kinal.

“Nanggung Nal, dikit lagi” ucap Ve. “Nah, udah deh. Yuk!” Ve berjalan beriringan dengan Naomi dan Kinal.

“Hay guys! Sorry kita agak telat” ucap Naomi.

“Kebiasaan kak Ve sama kak Naomi nih. Yaudah yuk” ucap Dena

“Ayo” semuanya yang ada di sana ikut jalan bersama-sama. Mereka menuju aula, menuju spot ekskul idol grup itu.

—o0o—

“Shani! Anin! Sini…!!!” ucap seorang gadis memanggil Shani dan Anin.

“Eh udah pada kumpul semua ternyata” ucap Anin.

“Iya nih, kalian kok lama banget sih? Ini nih, rencana kita mau ikut ekskul idol grup itu” ucap Michelle.

“Lah kok sama Chell? Yang lainnya juga?” tanya Shani.

“Iya Shan, kita semua mau ikut” ucap Gracia.

“Ya udah yuk. Langsung aja ke aula. Katanya spot ekskulnya ada di sana” mereka semua mengangguk dan menuju ke sana bersama.

—o0o—

Viny dan Dhike memasuki ruang kelas X-A yang sepertinya sudah tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan. Tapi, dia melihat seorang gadis sedang tertidur

“Hemm pantes aja nggak keluar-keluar kelas.” Viny menggelengkan kepala.

“Oii!!! Baby dino bangun!!! Ini udah pulang!” Viny masih mencoba membangunkan Yuvia yang ternyata tertidur di kelas.

“Hoam… apaan sih” matanya masih sayu-sayu.

“Kita udah ditungguin anak-anak nih! Katanya mau pada ikut ekskul idol grup yang baru itu” Viny sedikit memaksa agar Yuvia bangun.

“Ah aku masih ngantuk” Yuvia hendak ingin tidur kembali.

“Ya udah lah, nggak usah aku traktir es krim” ancam Viny.

“Eh-eh yaudah ayo!” Yuvia langsung bangun menarik tangan Viny dan Dhike.

“Kalo soal es krim aja, kayak orang kesurupan kamu Yuv” ucap Viny menggelang-gelengkan kepalannya.

“Ye biarin wlee :p” Yuvia menanggapi dengan meledek.

“Yuv! Key! Vin!” panggil Yona. Mereka bertiga mendekat ke asal suara.

“Lama banget” ucap Acha.

“Ini nih, anak dino yang satu ini malah ketiduran di kelas” ucap Viny.

“Namanya juga ngantuk. Lagian kepala juga agak pusing.” Yuvia mencoba menutupi luka di pelipisnya.

“Lah kok tadi pas ditawarin es krim ngantuknya ilang?” ucap Viny memojokkan.

“Udah-udah, nggak usah pada ribut” Hanna melerai. “Yaudah sekarang mendingan kita langsung ke aula.”

“Eh bentar-bentar, kayaknya kurang satu deh?” Shafa menghentikan langkah teman-temannya.

“Eh tunggu!” teriak seorang gadis dengan sweater pandanya.

“Hosh…hoshhh kok aku di… tinggal sih?” nafasnya masih tersengal-sengal.

“Kamu dari mana aja anak panda? Kita nungguin kamu lama tau” ucap Acha.

“Tadi urusan OSIS bentar. Ya udah, sekarang kan udah lengkap. Langsung aja kita ke aula” Ucap Sinka dan semuanya mengangguk. Mereka semua berjalan menuju ke aula.

—o0o—

“Tuh spot ekskul basket di sono om Gun. Malah ke aula ngapain?!” ucap Rio.

“Liatin anak-anak cewek yang ikut ekskul baru hehe. Siapa tahu ada yang cantik, bisa gue masukin daftar IPG” uca Guntur.

“Apaan tuh om Gun IPG?” Rio penasaran.

“Ilmu Pengetahuan Gadis hehehe.”

“Kampret!”

“Udah mending kita daftar dulu ke spot ekskul basket” ucap Rendy.

“Yaudah yuk” Rio langsung saja menyincing kerah belakang Guntur.

“Entar dulu! Gue mau liat ceweknya dulu! Turunin gue! Lu kira gue kucing apa?!” Rio tidak menghiraukan ocehan Guntur. Setelah sampai, mereka langsung saja mendaftar.

“Permisi kak, kami mau daftar” Rendy berbicara dengan sopan pada kakak kelasnya. Di belakang kakak kelasnya, bisa dia lihat sosok lelaki yang ingin menghajarnya tadi di kantin.

Dia hanya mengangkat dua jarinya yaitu jari telunjuk dan tengah. Menunjuk ke matanya setelah itu menunujuk ke diri Rendy.

“Eh kamu lagi. Mau daftar ya?” ucap seseorang yang tak asing baginya karena mereka pernah bertemu.

“Iya. Kak Refal ya?” tanya Rendy.

“Iya, nih formulirnya. Nanti kalo udah kasihin aja ke gue” ucap kak Refal memberikan 3 lembar kertas formulir. Dari belakang punggung Rendy, Rio sedang berbisik dengan Guntur.

“Itu cowok kok nunjuk-nunjuk pake dua jarinya ke gue ya om?” bisik Rio yang mengira bahwa cowok itu menunjuknya, padahal cowok itu menunjuk Rendy.

“Ah nggak papa. Itu artinya dia pengen nyolok mata lu, eh bukan deh, dia pengen nyonkel 2 mata lo sampe keluar dan dibuat maen gundu” balas Guntur.

“Bercanda lu gak asik om” -_- ntah tiba-tiba kenapa tubuh Rio gemetar sesaat

“Kali ini gue serius. Kalo lu mau ngompol jangan di sini ya” ucap Guntur.

“Diem ah lu om.”

“Iya kak makasih” Rendy menerima 3 lembar formulir itu dan memberikannya pada Guntur dan Rio. Setelah mengisi formulir, mereka memberikannya lagi pada kak Refal dan kemudian pergi berjalan-jalan untuk sedikit ‘melihat-lihat’ ekskul lainnya.

“Mau ke mana om Gun?” tanya Rio.

“Ke aula lagi yok! Gue pengen ada penelitian nih” Guntur nyangr-nyengir gak jelas.

“Oke kita ke sana, tapi lu bersihin dulu itu pikiran lu yang ngeres pake sapu injuk” ucap Rio.

“Iya deh iya. Tenang aja napa.”

“Kalian duluan aja, gue masih ada ekskul yang mau diikutin nih” ucap Rendy kemudian pergi.

“Mau ke mana?” Rendy menengok sebentar. “Ke sanalah pokonya” ucap Rendy kemudian melanjutkan langkahnya.

Dia berjalan kembali ke spot ekskul, tapi kali ini dia menuju spot ekskul bagian akademik.

“Mana ya? Kok nggak ada?” Rendy menengok kanan-kiri mencari apa yang dicarinya.

“Nah! Itu dia” akhirnya dia menemukannya.

“Hai, mau ikut ya?” ucap seorang gadis dengan kacamatannya.

“Iya” balas Rendy.

“Nih formulirnya, abis itu kasihin ke aku ya” ucap gadis itu.

Rendy pun mengisi formulirnya dan memberikannya.

“Ini, makasih. Hmm… mau tanya, apa ada syaratnya?”

“Cuma perlu kamera aja kok. Nanti kalau skill fotonya bakalan diajarin sama kakak kelas” ucap gadis itu. Rendy mengangguk mengerti.

Dia keluar dari spot itu dan menuju ke aula menyusul Guntur. Spot tadi bertuliskan “FOTOGRAFER”.

—o0o—

“Wih mantep juga! Banyak banget yang ikut om Gun” ucap Rio.”Untung tadi kita nyamar, jadinya nggak ketahuan.”

“Om Gun… om… Woi!”

“Apaan sih? Gue lagi fokus ngumpulin infomasi nih. Gue juga lagi menikmati keindahan ciptaan-Nya” Guntur tersenyum seperti orang gila.

“Dasar”

“Woi!” suara mengagetkan mereka berdua.

“Eh ampun, saya nggak ngintipin cewek kok” ucap mereka berdua.

“Sssttt diem ah. Lu berdua jangan berisik”ternyata itu Rendy.

“Ngagetin aja” Guntur mengelus-elus perutnya *eh dadanya, ntar kalo ngelus perut dikira hamil hehe.

“Hai selamat siang semuanya!” ucap kak Ve.

“Beh! Kak Ve njir, cantiknya nggak nahan” ucap Guntur.

“Siang!!!”

“Terima kasih sudah antusias mengikuti ekskul yang baru ini. Kita punya konsep idol grup, bernama JKT48. Singkatan dari Joyfull,Kawaii,and Try To Be The Best. Kita merupakan idol grup sister Jepang” ucap kak Ve.

“Untuk itu, saya di sini selaku pengurus OSIS akan mengundang seorang Sensei dancer langsung dari Jepang. Kita sambut Akimoto-sensei” seorang pria paruh baya datang menggunakan jas nya.

“Konichiwa gozaimassu. Saya Yasushi Akimoto dari Jepang yang akan membantu kalian di idol grup ini untuk menyusul sister kalian yaitu AKB48. Kalian bisa memanggil saya Akimoto-sensei. Jadi saya mohon bantuannya. Yoroshiku gozaimasta” ucap lelaki itu dengan logat Jepang sembari membungkukan badannya. Murid yang mengikuti ekskul ini juga membungkuk mengikuti apa yang dilakukan pria itu.

“Ya untuk hari ini, hanya perkenalan dan info saja. Untuk ke depannya, bisa dilanjutkan Minggu depan setelah kemah.” Ucap kak Ve. Ada gadis berambut sebahu menaiki panggung aula dan berbisik pada kak Ve.

“Oh iya, dan formulirnya bisa diisi. Lalu berikan pada kami. Satu lagi, minggu depan kita akan ada reshuffle untuk menentukan tiap team” ucap kak Ve.

GRUSAK!

“Aduh!!!” terdengar suara sesuatu yang jatuh.

“Siapa di sana?!”

“Kabur om, kabur!” Rio menginstruks untuk langsung kabur.

“Oh bukan apa-apa ternyata. Baiklah kalian bisa pulang” ucap kak Ve ramah. Semua siswi membubarkan diri dari aula.

*****

“Ah, kampret lu Yo. Lagi enak-enak mandangin kak Kinal yang baru naek panggung tadi” ucap Guntur.

“Ye sorry om. Tadi kagak sengaja nih tali sepatu ketelingsut. Alhasil ya gue jatoh dan ntu kotak yang kagak tahu gue isinya apaan jatoh deh” Rio menjelaskan.

“Alasanmu nggak akan aku terima mas! Kamu harus tanggung jawab pokoknya!”

“What The…?” -_-

“Kesambet lagi kayaknya tuh anak” ucap Rendy.

“Udahlah, lebih baik kita pulang. Gue belom beresin persiapan gue buat besok” ucap Rio. “Gue duluan ya om, Ren” Rio berpamitan dan menaiki motornya kemudian berlalu pergi.

“Yok Ren, kita pulang” ajak Guntur dan Rendy hanya mengangguk.

“Eh bentar, gue harus nungguin Yona dulu” ucap Rendy.

“Gue duluan lah ya. Ntar kalo ada waktu mampir maen ke rumah gue” ucap Guntur.

“Lah tumben nawarin Tur?” Rendy keheranan.

“Ya nggak papa. Dah gue mau cabut” Guntur menaiki motornya.

“Hati-hati Tur” ucap Rendy

“Yoi!” langsung saja Guntur tancap gas motornya pulang.

“Yona mana yah?” Rendy masih menunggu di parkiran.

TING!

“Eh bentar, apaan nih. Hp ku geter” ucap Rendy mengambil Hpnya”

“Ren, aku pulang duluan sama Viny,Dhike, dan temen-temen lainnya.”

“Yaelah, dari tadi napa. Udah nungguin lama juga” keluh Rendy.

“Yaudah, kalo mau main jangan sore-sore pulangnya”

“Ya udah lah pulang aja medingan” dia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 14.00

Rendy memakai helmnya dan hendak pergi. Tapi ada yang menahannya.

—o0o—

“Aduh gimana sih?! Pake jemputannya lama banget lagi” gadis itu terlihat kesal.

TING!

“Maaf non, mobilnya masih diperbaiki. Sekali lagi saya mohon maaf”

“Duh, mana mau hujan lagi” ucap gadis itu gelisah. Tiba-tiba datang seorang cowok dengan membawa motor.

“Nggak ada jemputan?” tanya cowok itu.

“Nggak usah sok akrab ya” gadis itu menunjukan mimik wajah jutek.

“Anggep aja makasih aku karena tadi nolongin aku dari si Dikta” ucap cowok itu.

“Nggak mau!” ucap gadis itu yang ternyata Yuvia.

“Emang alamatnya di mana? Jauh?” tanya cowok itu.

“Nggak perlu tau deh. Gue nggak minta bantuan lo!” bentak Yuvia pada cowok itu yang ternyata adalah Rendy.

“Duh…kok kepala gue pusing banget ya?” ucap Yuvia. Matanya mulai sayup, pandangannya mulai buyar sambil memegangi kepalannya yang terasa amat pusing.

Dengan sigap Rendy langsung menopang tubuh Yuvia yang hampir jatuh.

“Gimana nih? Apa aku langsung bawa aja ke rumahnya ya?” Rendy sangat dilanda kebingungan. “Tapi aku nggak tau alamatnya” ucapnya lagi.

Dia mencoba menggeledah tas milik Yuvia

BINGGO

Dia menemukan dompet Yuvia.

“Duh gimana ya? Buka nggak ya?” terlihat masih berpikir. “Udahlah, kalo niat baik pasti ada jalan” Rendy langsung membuka dompet Yuvia dan melihat kartu namanya, mencari alamatnya.

“Jalan Jenderal Sudirman blok K no.48” Dia melihat isi kartu namanya. Sempat dia melihat sesuatu yang terselip. Tapi dia urungkan niatnya dan langsung menggendong Yuvia menuju motornya.

BRUMMM!!!

NGUNGG!!!

Rendy tancap gas.

—o0o—

Rendy membawa motor dengan cukup kencang, tapi masih dalam keadaan stabil. Langit sudah mulai tidak bersahabat ternyata. Hujan akan mulai turun.

TES!

TES!

TIK! TIK! TIK!

“Aduh gawat, hujannya udah turun lagi. Gimana nih? Aku lanjut aja apa gimana ya?”  batinnya masih berpikir.

“Ah udah deket. Lanjut aja lah” Rendy tidak meghiraukan hujan yang membasahi tubuhnya dan Yuvia.

Samar-samar mata Yuvia membuka. “Hmm…

…Rain” ucapnya tapi tidak didengar oleh Rendy.

Setelah lama perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Yuvia.

“Apa bener ini rumahnya?” Rumah dengan cat warna biru muda dan cukup megah. Langsung saja Rendy menggendong dan membawanya meneduh ke teras rumah Yuvia. Dia memencet bel rumahnya.

TING TONG!

TING TONG!

TING TONG!

“Mana sih orang rumahnya?” ucap Rendy.

“Kok rumahnya… kayak nggak asing sih?”

CEKLEK!

“Eh? Kakak?!” seorang gadis membukakan pintu untuknya. Wajahnya mirip sekali dengan Yuvia, hanya saja dia tidak hmmm…

“sudahlah, akui saja Ren, kalo Yuvia itu imut >_<” author datang lagi.

“ah terserah lah”

“Kakak aku kenapa?!” gadis itu panik.

“Suruh masuk dulu kek. Dingin banget tau” ucap Rendy.

“Eh iya kak, langsung aja di bawa ke kamarnya kak Yuvia” ucap gadis itu sembari menunjukkan kamarnya Yuvia.

“Ayo kak, ke sini” ucap gadis itu

Langsung saja Rendy menidurkannya di kasur kamar Yuvia.

“Hmm…” wajah Rendy berubah agak ditekuk tak percaya. Astagfirullah tembus?!?!?!

“Kakak liatin apa hayo?” gadis itu bertanya selidik. Langsung saja Rendy keluar dari kamar Yuvia.

“Eh-eh eng…enggak kok” ucap Rendy.

“Kakak tunggu di ruang tengah dulu ya. Aku mau buatin minum dulu biar kakak nggak kedinginan” ucap gadis itu.

“Iya” Rendy pergi menuju ruang tengah. Menunggu gadis itu kembali sambil melihat-lihat rumah Yuvia.

“Kok kayak nggak asing sih?” ucap Rendy. Angin dingin menyilir masuk

Brrrttt…. dingin bro

“Hey kak!”

“Eh? Aduh kamu hobi banget ngagetin sih?”

“Sorry-sorry hehe. Nih kak, biar badan kakak anget” ucap gadis itu memberikan secangkir minuman pada Rendy.

“Makasih” Rendy meminumnya. “Ini coklat panas ya?” tanya Rendy.

“Iya. Eh ngomong-ngomong kakak siapa?” tanya gadis itu.

“Terus kakak aku kenapa? Jangan-jangan…”

“Sssttt kakak itu orang baik-baik. Kenalin, kakak Rendy. Temen sekelas kakak kamu. Tadi kakak kamu pusing, pingsan dan hampir jatuh. Terus langsung aja kakak bawa ke sini” Jelas Rendy.

Manggut-manggut “Oh gitu”.

“Aku Windy Yuvia kak, adiknya kak Yuvia” ucap gadis itu.

“Pantesan aja mirip, adiknya. Nama belakangnya juga sama lagi” batin Rendy.

“Salam kenal juga” Rendy mencoba akrab.

“Eh hmm… kakak pamit pulang dulu ya. Udah sore nih” Rendy melihat jam tangannya dan menunjukkan sudah pukul 17.00.

“Diluar masih hujan loh kak. Nggak neduh dulu?” ucap Windy.

“Ga usah, makasih. Kakak duluan” ucap Rendy.

“Makasih ya, kakak udah nganterin kak Yuvia!”ucap Windy. Rendy mengcungkan jempolnya.

Rendy pun pulang ke rumahnya.

—o0o—

Setelah cukup lama, Rendy akhirnya sampai di rumah. Dia membuka pintu.

DEG

Oh Damn. Sudah ada penjaga pintu surga ternyata.

“Dari mana aja?”

“Tadi nganterin temen kak” nyali Rendy mulai ciut.

“Beneran?” kakaknya mulai menyelidikinya. Rendy mengangguk pelan.

“Kenapa nggak neduh dulu?” tanya kak Melody lagi.

“Biar pulangnya nggak kesorean. Udah ya kak, aku mau ganti baju dulu” Rendy mencoba kabur dari kakaknya itu.

“Huft… ya udah. Kamu ganti baju, sholat, abis itu turun buat makan malam” ucap kak Melody.

“Yona udah pulang kak?” tanya Rendy.

“Udah kok. Tuh dia dibelakang lagi masak, bantuin kakak” ucap kak Melody. Rendy menuju kamarnya.

*****

Segera saja Rendy mandi, berganti baju, melaksanakan kewajibannya, dan juga menata barang-barang yang akan dibawannya untuk kemah.

*Tok*Tok*Tok*

“Ren! Ayo makan dulu!” ucap kak Melody mengetuk pintu kamarnya.

“Iya kak bentar!” jawabnya. Langsung saja Rendy turun dan menghampiri semuanya di meja makan.

“Malam semua” sapa Rendy.

“Malam” ucap semuanya.

“Tante udah pulang ternyata?” tanya Rendy.

“Udah, tadi jam 18.30” jawab tante Citra.

“Katanya kalian besok mau kemah ya?” tanyanya lagi.

“Iya” balas Rendy dan Yona bersamaan.

“Barang-barangnya udah?” tanya tante Citra sambil meminum segelas air putih.

“Aku udah kok mah” balas Yona.

“Rendy?”

“Tadi masih ditata Tan” balas Rendy melahap makanannya.

“Hati-hati kalo kemah. Ntar kalo mau pipis bilang ‘numpang-numpang’ dulu” ucap kak Melody.

“Iya kak” -_-

“Jagain Yona ya Ren” ucap tante Citra.

“Mamah apaan sih. Kan aku bukan anak kecil lagi” Yona memanyunkan bibirnya.

“Oke tan siap!” Rendy berpose hormat.

“Tan, kak Mel, Yon. Aku duluan ya, barang-barangku masih belom beres nih” ucap Rendy menuju kamarnya.

“Iya” jawab mereka singkat.

*****

“Tenda udah, payung udah, baju udah, jaket udah, alat mandi udah, alat makan udah, alat ibadah udah” Rendy mengecek. “Apa ya yang kurang?” Dia berpikir sambil melihat ke arah pintu kamarnya.

“Eh kak Mel.”

“Alat kemah itu apa aja sih kak?” tanay Rendy.

“Kulkas,TV,Rice cooker,kasur,lemari…”

“Bukan mau pindahan kak” -_-

“Senter udah ada?” tanya kak Melody.

“Oh iya, senter. Makasih kak” ucap Rendy kembali mencari-cari. Sedangkan kak Melody turun ke bawah lagi.

—o0o—

“Hmm…” Yuvia memegangi kepalannya yang masih terasa agak pusing.

“Eh kakak udah bangun?” ucap Windy.

“Ini dimana?” ucap Yuvia.

“Ini di rumah kak, di kamar kakak. Tadi ada temen kakak yang nganterin ke sini. Katanya kakak pingsan gara-gara pusing” ucap Windy.

“Oh gitu yah” Yuvia bangun.

“Mau kemana kak?” tanya Windy.

“Mau beresin barang-barang buat kemah besok” ucap Yuvia mencari barang-barang yang diperlukannya dan memasukannya ke dalam ransel.

“Kak Ve belom pulang Win?”

“Belom, katanya masih ada rapat OSIS. Bentar lagi juga pulang” ucap Windy.

*****

Rendy masih sibuk mencari senternya. Di lemari, di tempat ini, itu, di bawah juga tidak ada. Dia terpikir apa mungkin ada terselip di lemari kenangannya?

*****

“Semuanya udah, hmmm apa yang kurang ya?” pikir Yuvia

“Payung jangan lupa kak” ucap Windy yang juga membantu Yuvia mengemasi barangnya.

“Oh iya” Yuvia mencari-cari payungnya.

“Kak, aku tinggal dulu ya. Laper nih, mau makan dulu” Windy kemudian pergi.

*****

“Ah kemana sih?” Rendy frustasi mencari senter yang tak kunjung ketemu. Ia melihat sesuatu berbentuk seperti senter.

“Eh apaan tuh?” dia langsung mengambilnya.

“Nah ini dia” Tapi kemudian, ia melihat sesuatu terselip di dekat lemari kenangannya.

*****

“Di mana sih payungnya?” Yuvia masih bingung mencari-cari payungnya.

Dia melihat ke atas lemarinya.

“Eh itu mungkin?” Dia gunakan kursi, berdiri dan mengambil payung tersebut.

“Ini nih, dicariin daritadi nggak ketemu-ketemu.

CTAK!

“Eh apaan itu yang jatoh?” Dia penasaran dan mengambilnya.

“Ini…”

~o0o~

“Ini…”

-To Be Continued-

Created By : rezalical

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 tanggapan untuk ““Directions The Love and It’s Reward”, Part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s