Fiksi dan Fakta part 34

Beberapa hari lagi menjelang kepulangan rombongan Jaka dan kawan-kawan. Tak terasa kebersamaan mereka di Bali tinggal sebentar lagi. Setelah ini, mereka akan kembali dengan urusan mereka di Bandung. Semoga saja hanya di Bandung.

“Udah siap kan, semua?” Tanya Jaka lagi.

“Siap!” Jawab mereka bersama.
“Ayo berangkat!” Teriak gadis yang sejak tadi bingungkan Bobby.

“Kamu siapa sih?” Tanya Bobby sedikit kesal.

“Aku-“

“Dia, Gre. Shania Gracia, aku tinggal di Bali bareng Gre dan ayahnya..” Potong Michelle cepat sambil merangkul Gre.

“Heeh, kangen deh ama kak Lele..” Gre terkekeh.

“Gre-_-” Kesal Michelle.

“Hahaha.. udah-udah, salam kenal ya. Ayo berangkat.” Bobby menuntun mereka memasuki mobil yang telah disiapkan Michelle tersebut.

“Kalian yang disana udah siap kan?”
Tanya Jaka lagi.

Bobby mengacungkan jempolnya.

“Oke, Mike? Andela? Kelpo? Elaine? Viny? Udah siap?” Tanya Jaka lagi, memastikan rombongannya tak melupakan sesuatu.

“Siap Pak!” Teriak Kelpo semangat.

“Rusuh lu, Po.” Gerutu Mike.

“Eh, vacot lu. Barang lu jangan ampe ada yang ketinggalan!” Kelpo memperingati Mike lagi.

“Udah-_- udah siap. Iya ga, Len?” Lirik Mike sedikit.

“Hahaha.. iya Oscarausaurus!” Jawab Elaine yang kini membuat Mike malas.

“Oh, jadi beres-beres bareng nih. Ndel?
Kita juga kan?” Tanya Kelpo penuh percaya diri.

“Eh, Engga! Wleee.. :P” Jawab Andela sambil menjulurkan lidahnya.

“HAHAHA!! Mampus!” Tawa Mike penuhi mobil.

“Hahaha.. iya deh, sayangku. Tadi cuma becanda..” Andela memegang tangan Kelpo.

Kelpo tersenyum senang.

“Hahaha.. ada-ada aja deh. Viny? gimana?”

“Ehh, iya Raz?” Viny pecah dari lamunannya.

“Kamu dah si-“

“She’s always ready, Jak!” Potong Mike
sambil menoleh dan tersenyum kepada Viny.

Viny membalas senyuman itu.

Perjalanan terasa menyenangkan. Walau mereka terpisah, tapi masing-masing rombongan memiliki cerita serunya sendiri.

“Ehh, kalo cowo yang ganteng itu siapa sih?” Tanya Gre penasaran disela obrolan.

“Ehh, yang mana Gre? Aku?” Sahut Bobby menahan tawa.

“Apa-apaan kamu, Bob..” Shania menggeleng-geleng malas.

“Enggalah, Bobob. Itu yang tadi pagi-“

“Ciee, pake Bobob :v” Sahut Michelle menahan tawanya.

“Kak Lele-_-” Gre cemberut.

“Umur kamu berapa sih, Gre? kok panggil kak?” Tanya Shania bingung.

“Aku masih tigabe-“

“Kita seumuran-_- kamu tuh ya..” Potong Michelle lalu mengacak-acak rambut Gre.

“Hehehe..” Gre tertawa.

“Sebenernya tua-an dia, Shan. Tapi di keluarga, anehnya dia disuruh manggil aku kakak.” Michelle menjelaskan.

“Gitudeh kalo muka boros…” Ucap Gre pelan.

“Ehh, siapa yang boros? aku lebih dewasa tau!” Michelle lalu menggelitiki Gre.

“Ehh.. Haha.. ampun kak Lele.. ampun..!” Teriak Gre panik.

“Hayo minta maaf! panggil kak Lele terus lagi, Huuu…”

“Hahaha..” Tawa Shania dan Bobby lepas.

“Kasian atuh, Chel. Hahaha..” Sahut Bobby.

“Ihh kak Lele, kan namanya emang ada Lele.. ampun! ampun! Stop ihh!” Pekik Gre terus.

“Biarin, minta maaf dulu-_- janji ga manggil Lele lagi-_-” Michelle berhenti.

“IYA-IYA! Maaf kak Michelle!” Gre mengatur nafasnya.

“Hahaha.. sadis kamu, Chel.” Sahut
Bobby yang fokus dengan kemudinya.

“Bener-bener edan kamu.” Timpal Shania lagi.

“Biarin, emang dasar suka kurang ajar nih..” Michelle cemberut.

“Ihh gaseru ah, kak Lele gabisa diajak becanda..”

“Panggil aku apa tadi?!” Michelle menatap Gre lagi.

“EHH!! MAAF!!” Gre menutup mulutnya rapat-rapat.

Semuanya pun tertawa lepas.

Setelah Gre berhasil mengatur nafasnya, ia kembali membuka mulutnya.

“Soal cowo yang mindahin tas bareng
Bobby, namanya siapa ya?” Ulang Gre lagi.

“Itu Razaqa..” Jawab Michelle.

“Kenapa, Gre?” Tanya Bobby tiba-tiba.

“Ehh, engga..” Gre tertunduk.

“Ehh, udah mau sampe! yeay!” Teriak Shania girang.

“Bobob capek?” Tanya Gre lagi.

“Hahaha.. enggalah. Kan ada Shania..” Lirik Bobby yang dibalas dorongan dari Shania.

“Apaan deh..”

“Ohh, gitu..” Gre hanya mengangguk-angguk mengerti.

Michelle bingung. Entah apakah
perasaannya benar atau memang karena ini hari pertama Gre kembali ke Bali. Tapi, terus terang ini bukan Gre yang asli. Gre adalah pribadi yang tergolong diam dan tenang, terutama dengan orang asing atau yang baru ia kenal.

“Kenapa ya? Bobby?” Tanya Michelle dalam hati.

Michelle mengingat obrolan mereka.

“Razaqa?” Satu nama yang sudah pasti masuk akal sekali jika ada wanita yang ‘naksir’ kepadanya. Tak terkecuali Gre.

Tak lama, mereka akhirnya sampai.

*Skip

“Fuu! Jalan bareng?” Teriak Andy hentikan langkah Fuuto.

“Kau yakin, Trocko?” Fuuto menoleh dan menatap Andy bingung.

“Tentu saja, kita kan teman.” Andy bergerak menghampiri Fuuto.

“Teman? sepertinya kau begitu percaya diri.” Fuuto terkekeh.

Andy berjalan melewati Fuuto.

“Tapi, setidaknya kau memanggilku Trocko, kan?” Andy menaikkan alis sebelah kirinya, sambil berjalan mendahului Fuuto yang berdiri mematung sambil menatap Andy bingung.

“Over-confident, kini kau mendahuluiku.” Fuuto menyusul Andy.

Mereka berjalan memasuki blok demi blok di komplek perumahan di daerah
Jakarta Pusat tersebut.

“Tetap sama, tak ada yang berubah.” Ucap Andy tersenyum senang.

“Diamlah, kau harus meminta maaf. Lain kali, jangan melanggar janji lagi.” Fuuto memasuki pagar rumah lama yang tergolong mewah itu.

“Ayolah, aku melakukannya demi kita.” Andy menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Masuk aja.” Ucap seseorang dari jendela kamarnya.

“Yo, brother!” Teriak Fuuto girang.

Pintu depan terbuka.

“Fuu.. kabar baik?” Laki-laki blasteran Indo-Jerman itu menyambut Fuuto dengan gaya khasnya yang dingin.

“Benar-benar baik. Semuanya berjalan lancar?” Tanya Fuuto lagi.

Laki-laki bernama Dobby itu mengangguk.

“Hey, teman! Apa yang harus aku lakukan dengan pagar ini?” Tanya Andy dari jauh.

“Just leave that shit, Tro!” Teriak Dobby diikuti tawaan dari Fuuto.

“Dob, rencana kita udah mateng banget.” Bisik Fuuto pada Dobby.

Dobby mengangguk tanda mengerti.

“Ayolah, ucapkan terbuka saja.” Keluh Andy malas.

“Terus terang, gua benci bahasa lu yang baku, Tro!” Bentak Dobby
menatap Andy.

“Baiklah, aku dalam proses belajar.” Andy melipat tangannya.

“Ahh.. udahlah. Jangan jadi masalah.” Lerai Fuuto.

“Oke, jadi apa gerakan kita sekarang?” Tanya Dobby to the point.

“Kumpul di Bandung. Siang ini kita berangkat.” Jawab Fuuto diikuti anggukan dingin khas Dobby.

“Bersiaplah, teman!” Teriak Andy dengan nada semangat.

“Kau terdengar memprovokasi, hahaha..” Komen Fuuto tertawa.

“Cocok jadi aktivis, mungkin aktivis bodoh.” Timpal Dobby lalu masuk kembali dan berkemas.

“Terserah kalian.” Andy melompat ke tumpukan batu yang disemen. Itu adalah tangga menuju atap samping rumah Dobby.

“Kau masih menyukai pemandangan diatas sana, Tro?” Tanya Fuuto tersenyum dari bawah.

“Naiklah, Fuu. Akan sedikit mengingatkanmu dengan pertemanan kita.” Ajak Andy.

“Hahaha.. aku tak perlu mengingat. Dan aku tak pernah memiliki teman yang kuajak keatas sana. Kita adalah saudara, kecamkan itu!” Fuuto terkekeh.

“Ehh?!” Andy buru-buru turun.

“Jadi? Kita tetap bersaudara?” Tanya Andy penasaran.

“Hahaha.. aku hanya bilang bahwa ‘aku tak akan mau memanggilmu teman lagi’. Iya kan?” Fuuto menaikkan alis sebelah kirinya.

“Hore!!” Teriak Andy senang.

“Gausah peluk!-_-” Ucap Fuuto kala Andy mendekat kearahnya.

Andy melompat-lompat girang.

“Oy, Diem! Ayo berangkat!” Ajak Dobby yang sudah siap dengan tas-tasnya.

“Oke, ayo!” Ajak Andy semangat.

Fuuto memasukkan kedua tangannya di saku celananya, sambil menatap jauh ke langit pagi menuju siang yang cerah itu.

“Pfuhh.. ini akan sedikit menguras
tenaga..” Ucap Fuuto dalam hati.

Penjemputan yang dilakukan Fuuto berbuah hasil. 2 orang Jakarta yang tak mau kembali dengan surat biasa, akhirnya bergabung.

Pertama, kita punya Andy ‘The Roller-Coaster’ Gilderoy, kembar identik dengan Adrian Gilderoy. Benci dengan nama ‘Andy Gilderoy’ yang ia miliki. Memakai ‘Trocko’ sebagai nama barunya. ‘Trocko’ sering diartikan ‘The Art Of Chocolatte’ oleh Joey, Dee-dee, dan Zoski, namun sebenarnya itu adalah singkatan dari ‘The Roller-Coaster’, karena jika ia berhasil memenangi suatu perang, dia akan menaiki rollercoaster. Andy sendiri memiliki phobia dengan ketinggian. Baginya, jika berhasil memenangi perkelahian, namun masih ada lintasan rollercoaster yang membuatnya takut, maka dia bukan
menang sebagai Trocko. Itu tandanya, penyesalannya akan berlipat karna tak bisa melawan rasa takut.

Kedua, kita punya Dobby. Nama lengkapnya Roelflitz De Boyt. Memiliki masalah dengan emosinya. Kemampuan kick-boxingnya selalu sia-sia, karena faktor trauma masa kecil yang membuatnya takut berkelahi. Baginya, memukul itu harus dengan alasan. Walaupun dia dipukuli atau diejek, tapi tetap saja bukan itu alasan untuk membalas. Membalas adalah saat seseorang yang ia sayangi merasa terusik. Nyaris membunuh 2 orang preman jalanan saat dia menemani Joey ke Jepang, Joey sendiri dibingungkan dengan tanggapan Dobby yang begitu berapi-api.

Jam 12.15, mereka bertiga meninggalkan Jakarta.

“Joey, udah nyampe?” Fuuto mengangkat panggilan dari Joey tersebut.

Tak lama, panggilan selesai.

“Gimana, Joey?” Tanya Andy penasaran.

“Dia bilang, dia bakal telat gabung. Tapi, dia udah paham.” Andy dan Dobby hanya mengangguk tanda mengerti.

“Siapa aja yang udah stand by?” Tanya Dobby tiba-tiba.

Fuuto menoleh dan tersenyum.

“Surprise..” Ucap Fuuto tertawa kecil.

“Ga lucu, Fuu..” Dobby menatap kearah luar. Bayangan-bayangan masa
lalunya terus tergambar jelas. Mungkin karena kemauan besarnya demi perang yang akan datang.

*Skip

Tepat menuju jam 2. Jaka telah menjemput Ve dirumahnya.

“Ve, kita bakal ketemu lagi kan?” Tanya Jaka bimbang.

“Pasti, Razaqa..” Ve tersenyum kearah Jaka.

Jaka tak membuka mulut lagi, hingga ia memarkirkan mobilnya itu.

“Ahh, sampe!” Ve semangat.

“Ve?” Panggil Jaka pelan.

“Iya, Raz? (:” Ve tersenyum begitu manis dan terlihat tenang.

“I’ll miss you so freakin’ bad, maaf kalo aku ada salah kata selama kita ketemu.. goodluck.” Ucap Jaka sambil menggenggam erat tangan Ve.

“Boleh?” Ve mendekatkan wajahnya.

Jaka mendekatkan wajahnya.

“Ahh.. jangan..” Ucap Jaka dalam hati.

Jaka menyentuhkan hidung mereka dan dahi mereka untuk beberapa detik.

“Raz?” Bingung Ve.

Jaka menggeleng.

“If you want, I’ll do it.. aku percaya kamu..” Ucapan Ve sukses hentakkan Jaka.

Mata Jaka terbelalak. Ucapan yang
sama dari orang yang berbeda. Yap, Shania mengucapkan hal yang sama pada malam perpisahan angkatan diatas mereka.

“Kasih yang pertama untuk yang terbaik..” Ucap Jaka pelan, mendapat anggukan pelan dari Ve.

“Ayo turun..” Ajak Jaka tersenyum.

Langkah yang sangatlah berat bagi Ve. Meninggalkan Jaka, seseorang yang memenuhi otaknya akhir-akhir ini.

Sebelum Ve masuk, mereka berpelukan untuk yang terakhir kalinya.

Sosok Ve benar-benar sudah hilang. Jaka membuka Instagram-nya. Tag dari Ve pada sebuah foto. Jaka melihat foto itu. Foto kebersamaan mereka dirumah Ve dan di pantai.

Jaka tersenyum tipis.

*Skip

Hingga sore, tak ada sesuatu yang spesial. Kemesraan diantara pasangan Mike-Elaine dan Kelpo-Andela, sukses buat Viny dan Jaka terus terdiam.

Beda dengan Shania-Bobby yang tampak enjoy-enjoy saja, atau Michelle yang tetap tenang menikmati taman rumahnya.

“Tadi kamu ke airport, Raz?” Tanya Viny pecahkan lamunan Jaka.

“Ehh, iya Vin.” Balas Jaka tersadar.

“Anter temen?” Tanya Viny lagi, yang terdengar seperti basa-basi saja.

“Iya, Vin. Kenapa emang?” Tanya Jaka
bingung.

“Ehh, gapapa.. aku masuk dulu ya..” Pamit Viny sopan.

“Iya, Vin.”

Viny masuk, terlihat 2 pasangan sedang bertanding playstation diruang keluarga.

“Vin! panggil Jaka dong!” Suruh Mike saat melihat sosok Viny melintas masuk.

Viny mengangguk.

“Razaqa? kamu dipanggil Mike..” Lapor Viny.

“Ehh, mereka main ps ya? bilang aja, Jaka-nya males.” Jaka nyaris menjatuhkan hp-nya.
“Iya..” Viny penasaran dengan isi yang Jaka baca. Sangat mengusiknya.

Viny kembali masuk, dan melapor kembali ke Mike. Mike sempat mengajak Viny, tapi Viny memilih untuk membaca novel.

Disisi lain, Shania-Bobby tampak bermain dengan Gre.

“Aku turun dulu ya..” Pamit Gre kepada Shania dan Bobby.

“Iya, Gre.” Jawaban yang sama dari mereka.

Gre bertemu Viny di tangga.

“Ehh, Viny?(:” Gre tersenyum sangat manis.

“Iya, Gre(: ” Viny membalas senyuman itu.

Gre menegur 2 pasangan yang tampak seru bersaing dalam menunjukkan siapa pacar terbaik dengan bertanding PES, Fifa, Tekken, dan semacamnya.

“Kak Razaqa?” Kaget Gre.

“Ehh, Gre? bikin teh ya?” Sosok Jaka yang tiba-tiba muncul kagetkan Gre.

“Eh.. I..Iya kak.” Gre masih berdiri mematung sambil menatap Jaka penuh kekaguman.

“Kok panggil kak sih? Kan seumuran. Panggil Razaqa aja, atau kalo ribet, panggil Jaka aja.” Jaka tersenyum tipis, bergerak mengambil air putih dari dispenser.

“Razaqa?” Panggil Gre lagi.

“Ehh, Iya?” Jaka menoleh.

Gre terdiam. Matanya menatap Jaka dalam.

“Kok liatinnya gitu banget, sih? Hahaha..” Ucapan Jaka buat pipi Gre memerah.

“Malem ini, temenin cari objek foto yuk?” Ajak Gre tiba-tiba.

“Hmm..” Jaka berpikir.

“Free ga nih._. kalo gamau gapapa..” Gre tidak enak.

“Hahaha… no problem, bisa kok.” Gre mengangguk sambil tersenyum.

“Jangan terlalu serius gitu, Gre. Michelle aja pede-pede aja, hahaha..” Jaka tertawa.

Gre tertunduk.

“Oke, aku mau mandi dulu ya.. nanti malem kan harus wangi, iya ga? hahaha..” Jaka meninggalkan Gre yang berdiri mematung di dapur.

“Beberapa hari yang berharga. Tak akan terulang dan tak akan terlupa. Great Holiday! Thanks to @RazaqaNG_ and @miccristo_k you’re both amazing! Old friends that change my life for just a few days..! #ExploreBali #ExploreIndonesia #NeverForget” – Jessica Veranda

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Satu tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta part 34

  1. Ditunggu next part. Masih menunggu nasib Jaka yang ahhhhh sudahlah …. Itu kenapa Bobby pake acara gombalin Shania segala sih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s