X-World (Pt.41) : 14 (Fourteen)

~Gary’s POV~

“BEAT!” –Rouzer

“HOAAA!!!!” –Blade (Kenzaki)

………………….

“REFLECT!” –Rouzer

*SYUP! BUM!!!!*

“UWAAAGH!” –Blade (Kenzaki)

Tepat di saat pukulan Blade hampir menghantam tubuh gue, tiba-tiba sebuah cahaya muncul persis di hadapan gue. Blade tidak berhenti. Dia tetap melancarkan pukulannya walaupun cahaya itu menghalangi pukulannya terhadap gue. Begitu pukulan Blade mengenai cahaya itu, ia langsung terpental ke belakang.

Tubuh gue kembali seperti semula. Gue nggak ngerasa berat lagi untuk bergerak. Cahaya yang berada di depan gue menghilang, dan sesaat kemudian gue mendengar suara langkah kaki dari belakang gue.

“Untung aku berhasil membalikan serangannya tepat waktu.” –Chalice (Hajime)

“HAJIME!!!” –Blade (Kenzaki)

Blade kembali bangun. Sekarang gue merasa agak terbantu karena Chalice udah disini. Pertarungan 2 lawan 1 ini berlangsung imbang walaupun Blade kalah jumlah. Kayaknya gue salah ngeremehin dia. Belum lama pertarungan ini berlangsung, Viny datang membantu gue dan Hajime.

Sekarang pertarungan ini berubah jadi 3 lawan 1. Blade bertarung lebih serius dan dia mulai memainkan kartu-kartunya untuk membalikkan kedudukannya.

“HEAAH!!!” –Ryuki (Shinji)

“METAL!” –Rouzer

*PRAK!*

“Kau pikir aku tidak melihatmu, Shinji?” –Blade (Kenzaki)

Ryuki datang dan menyerang Blade diam-diam dari belakang. Blade mengetahui taktik Ryuki, dan ia dengan cepat menggesekkan salah satu kartu miliknya. Tubuh Blade seketika terlapisi oleh Besi. Begitu pedang Ryuki mendarat di tubuh Blade, ia langsung terpental.

Blade mengangkat tubuh Ryuki dan menyerangnya bertubi-tubi dengan pedangnya. Blade kembali mengambil kartu dari pedangnya dan menggesekannya. Kali ini efek kartu yang baru digeseknya itu membuat pedangnya bercahaya.

“SLASH!” –Rouzer

“Tamat riwayatmu pengkhianat!” –Blade (Kenzaki)

*SRINK!*

“SHINJI!!!” –Chalice (Hajime)

Ryuki menerima serangan langsung dari Blade. Ia jatuh dan terkapar lemah di atas tanah. Gue liat di samping gue, Hajime, udah kebawa emosi ngeliat temennya dibuat jatuh oleh musuh. Di tangan kanannya sudah ada 3 lembar kartu yang siap dipakai untuk membalas Blade. Sayangnya belum sempat Chalice menggesekan kartu-kartunya, Blade sudah terlebih dulu menggesekan miliknya.

“MAGNET!” –Rouzer

Blade menciptakan gelombang magnet lewat sabetan pedangnya yang dia arahkan ke arah Gue, Viny, dan Chalice. Kita bertiga terikat satu sama lain seperti sebuah magnet yang saling tarik menarik. Usaha kita untuk melawan gelombang magnet ini sia-sia, karena semakin kuat kita lawan, gelombang ini juga akan semakin kuat menarik kita satu sama lain.

“Viny! Gunakan Strike Vent-mu untuk menembak Kenzaki!” –Chalice (Hajime)

“Tidak bisa. Aku tidak bisa mencapai deck-ku.” –Viny

“Ngh! Sialan! Pedang gue pake acara jatoh lagi pas tadi gue ketarik.” –Gary

“Kartuku. Ugh… Sial, aku tidak bisa mengambilnya dengan keadaan terikat seperti ini.” –Chalice (Hajime)

“Selesai sudah *Mengeluarkan 3 Kartu*.” –Blade (Kenzaki)

“KICK! THUNDER! MACH! LIGHTNING SONIC!!!” –Rouzer

Tubuh Blade mengeluarkan kilat. Dia mengambil ancang-ancang dan berlari dengan sangat cepat ke arah kami bertiga. Blade melompat dan melesat seperti peluru untuk melakukan serangan terakhirnya kepada kami.

“HOAAA!!!” –Blade (Kenzaki)

“FINAL VENT!” –Visor

“TIDAK AKAN KUBIARKAN!” –Ryuki (Shinji)

“SHINJI-SAN, JANGAN!” –Viny

*BOOOOM!!!!*

“AAAAARGH!!!” –Blade & Ryuki

Blade dan Ryuki terjatuh. Setelah saling adu serang, mereka langsung kembali ke wujud semula menjadi Kenzaki dan Shinji. Yang nggak gue sangka-sangka, ternyata Ryuki (Shinji) masih sempet bangun dan berinisiatif menahan serangan Blade dengan Final Vent-nya.

Medan magnet yang sebelumnya menahan gue, Viny, dan Chalice sekarang udah ilang. Gue dan Viny berlari menghampiri Shinji, sementara Chalice menghampiri Kenzaki. Shinji udah lemes banget, dan parahnya, nafasnya lemah banget. Mungkin adu serangan tadi bikin tenaganya terkuras habis. Apalagi sebelumnya dia diserang Kenzaki abis-abisan.

“Kau kalah Kenzaki.” –Chalice (Hajime)

“Salah. Ngh! Ini belum berakhir….” –Kenzaki

“Hajime-San, Awas!!!” –Gary

Dari arah samping Chalice, tiba-tiba muncul Jet Sliger yang berniat menghantam tubuhnya. Begitu mendengar peringatan gue, Chalice langsung mundur menjauhi Kenzaki. Jet Sliger tersebut ternyata dikendarai oleh Birth (Gotou), salah satu anak buah Kenzaki. Dia datang dan langsung membawa Kenzaki pergi dengan Jet Sliger yang dikendarainya.

Sesaat setelah Birth pergi, gue mendapat kabar lewat walky talky kalau pasukan Regime telah mundur karena mereka kehilangan banyak tentara dalam pertempuran ini. Hampir 60% lebih pasukan mereka berhasil kita kalahkan.

Sisi positifnya, rencana yang kita persiapkan dengan susah payah berjalan sempurna. Tujuan dari rencana pun tercapai, yaitu memukul mundur pasukan Regime. Tapi sisi negatifnya… Shinji….

**

“Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku, Gary, dan juga Hajime. Padahal saat itu dia sudah terluka cukup parah.” –Viny

“Sudahlah, ini bukan salahmu. Sebenarnya aku juga tidak bisa menerima hal ini, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menangisi kepergiannya. Rencana kita berhasil berkat pengorbanan yang dia lakukan, dan saat ini pasti penjagaan di Neo-Utopia sudah tidak terlalu ketat mengingat Kenzaki telah kembali. Kita harus bisa menuntaskan konflik ini untuk memastikan pengorbanan yang dilakukan Shinji tidak sia-sia.” –Hajime

“Hajime-San benar. Jangan sampai pengorbanan yang telah dilakukan oleh Shinji-San sia-sia. Kita harus bisa mengakhiri perang ini dengan segera.” –Gou

“1 ½ jam dari sekarang. Kalian harus sudah siap. Kita harus memanfaatkan momentum yang tengah ada di pihak kita dengan baik.” –Hajime

Hajime dan Gou pergi dari ruangan ini. Ve, gue, dan Viny masih ada di ruangan ini dengan tubuh Shinji yang sudah tidak bernyawa berada tepat di hadapan kita bertiga. Viny masih kebawa shock dan sedih akibat kematian Shinji. Dia terus menatap dan meraba deck milik Shinji sambil menangis.

Gue dan Ve masih berusaha nenangin dia. Gue nggak tau Anto sama Sagha ada dimana sekarang. Terakhir gue liat mereka lagi bantuin Mihara ngangkutin senjata ke truk pengangkut untuk persiapan kita nanti. Harusnya mereka disini bantuin gue nenangin Viny, tapi yaudahlah.

“Vin, udah. Lo kuat, harusnya lo nggak boleh nangis.” –Gary

“Shinji percaya pada kita. Mungkin itu sebabnya dia mengorbankan dirinya untuk melindungimu dan Gary.” –Ve

“Aku rasa kau benar. Shinji-San, sekarang beristirahatlah dengan tenang.” –Viny

Saat Viny berdiri dan hendak meletakkan deck milik Shinji di samping tubuh Shinji, tiba-tiba ada sebuah kartu yang terjatuh dari dalam deck itu. Viny memungut kartu itu dan melihatnya. Belum sempet gue ngeliat kartu yang dipungut Viny tadi, kita bertiga udah dipanggil lewat speaker camp oleh Sagha.

**

Semua persiapan untuk menyerang markas Regime di Neo-Utopia telah selesai. Pasukan dari seluruh camp Rebel yang tersebar di Rider-Verse akan datang sebentar lagi ke camp ini. Walaupun suasana disini masih dalam keadaan berduka karena kematian Shinji, tapi orang-orang disini sama sekali nggak kepengaruh oleh keadaan itu.

Gue salut sama kru-kru Rebel disini. Mereka nggak ngejadiin kematian Shinji sebagai beban. Mereka malah menjadikan kematian Shinji sebagai penyemangat dan juga motivasi bagi mereka. Begitu semua personil udah lengkap dan pengecekan ulang selesai dilakukan, kita ngadain briefing rame-rame di tengah camp.

“Terima kasih atas semua kepercayaan kalian. Kita sudah kehilangan banyak hal dari perang ini dari mulai keluarga, kerabat, dan orang-orang terdekat kita. Tentunya kita tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi. Oleh karena itu, kita harus berjuang sekuat tenaga kita. Mungkin ini akan jadi pertarungan terakhir. Pertaruhan terakhir kita, SEMUA atau TIDAK SAMA SEKALI.” –Chalice

“HOY!!!!” –Semuanya

Setelah briefing selesai, kita semua langsung berangkat menuju Neo-Utopia. Ini pertarungan terakhir para Rebel. Kalo Rebel kalah disini, mereka nggak bisa dapet kebebasan mereka, dan gue juga secara otomatis akan tamat di domain ini bersama temen-temen gue. Ini emang bukan urusan kita, tapi membantu orang lain yang mengalami kesulitan selama perjalanan, udah jadi kewajiban kita.

Kurang dari 45 menit, kita hampir sampai di Neo-Utopia. Begitu dome Neo-Utopia udah keliatan, kita langsung mecah konvoi pasukan kita menjadi 2. Salah satu konvoi akan menyerang langsung dari Utara, dan satunya lagi akan menyerang dari arah Selatan. Taktik ini bertujuan untuk membingungkan penjagaan musuh. Gue ada di konvoi yang akan menyerang dari Selatan bersama dengan Viny, Sagha, dan Mach.

“Chalice, bagaimana keadaan di Gerbang Utara?” –Mach (Gou)

“Penjagaannya tidak terlalu ketat. Bagaimana dengan Selatan?” –Chalice (Hajime)

“Sama.” –Mach (Gou)

“Ayo kita selesaikan ini.” –Chalice (Hajime)

Begitu konvoi sudah dekat dengan gerbang Selatan dome, kita langsung meledakan pos penjaga dengan rocket launcher yang terpasang pada truk pengangkut di barisan depan konvoi. Gerbang Selatan terbuka lebar, dan pasukan kita langsung masuk ke dalam area kota.

Sesudah di dalam kota, kita kembali berpencar untuk menyulitkan pasukan Riot Trooper yang mungkin akan mulai mengejar kita dalam hitungan detik.

“Gary! Kita berpisah di tikungan depan! Kau ke kiri, aku ke kanan!” –Mach (Gou)

Sesuai perintah Gou, begitu konvoi tiba di tikungan, kami langsung berpisah. Mobil pengangkut yang dikemudikan oleh Viny berbelok ke kiri, sementara Mach dengan motornya berbelok ke kanan. Pasukan Kurokage yang mengikuti kita dibelakang juga ikut berpencar. Sebagian mengikuti kita, dan sebagian mengikuti Gou.

Sebenarnya tujuan kita sama. Ujung-ujungnya kita akan bersama-sama menyerang markas Regime yang ada di pusat kota. Hanya saja, sebelum kita menyerang markas mereka, kita harus terlebih dahulu memotong jumlah pasukan Regime yang jumlahny masih lebih banyak daripada pasukan kita.

Kalau pasukan mereka berkumpul di satu titik, akan sulit untuk mengalahkan mereka, jadi rencana kita adalah memecah pasukan mereka agar tidak terfokus di satu titik saja. Dengan begitu, mereka bisa lebih mudah untuk dikalahkan. Strategi ini akan memakan sedikit waktu, karena itu kita harus berusaha secepat mungkin menghabisi pasukan musuh begitu mereka muncul di depan kita.

*CKIT!!!*

“Ckh! Gawat! Mereka berhasil mengepung kita.” –Viny

“Kalo gitu nggak usah diundur-undur lagi. Lawan sebanyak ini kalo nggak dicicil dari sekarang bakalan nambah banyak lagi nanti.” –Sagha

Puluhan Riot Trooper berhasil mengepung kita. Ckh! Padahal permainan kucing-kucingan yang dilakukan konvoi gue belum ada 5 menit. Semua personil turun dari transport dan kita semua mulai melawan puluhan Riot Trooper yang mengepung kita. Sagha bener, kalo nggak dicicil dari sekarang, jumlah mereka akan terus bertambah tiap waktu.

Gue, Sagha, dan Viny berpencar. Gue nyerang kerumunan Riot Troopers yang ada di sisi kanan kita. Ini 1 lawan 20. Mengingat kita juga dikejar waktu, gue kerahin seluruh tenaga gue untuk menghabisi para Riot Troopers secepat yang gue bisa. Gue nggak Cuma bawa GN-Sword, dan GN-Bits, tapi gue juga bawa beberapa senjata lainnya seperti granat, flashbang, dan bom asap.

Ternyata ada gunanya juga gue bawa senjata peledak. Semua musuh yang terkena ledakan flashbang yang gue lempar menjadi buta, dan gue bisa dengan mudah menghabisi mereka yang tengah lengah.

Begitu juga granat. Gue Cuma perlu mancing para Riot Troopers untuk ngumpul di satu titik, kemudian gue letakan granat tersebut di tengah-tengah mereka secara diam-diam. Lalu, BOOM!!! Jumlah mereka terpotong banyak dalam sekali jalan.

*SRAT! SRAT!*

“Fiuh, selesai.” –Gary

“Gary, masuk!” –Chalice (Hajime)

“Ada apa?” –Gary

“Kau ada dimana? Kami sudah ada di depan markas Regime.” –Chalice (Hajime)

“Sori-sori. Tadi grup gue ketahan. Sebentar lagi kita kesitu.” –Gary

Jir, ternyata pertarungan tadi makan waktu juga. Pasukan yang lain udah pada sampe di markas Regime. Selesai dengan para Riot Trooper disini, kita melanjutkan perjalanan menuju markas Regime. Di tengah perjalanan, kami kembali mendapat gangguan dari para Riot Trooper, tapi kali ini kita bisa mengatasi mereka menggunakan senjata mesin yang terpasang pada kendaraan konvoi.

Begitu kita tiba di markas Regime, suasana di luar markas rupanya juga sudah memanas. Setiap tentara sibuk dengan lawannya masing-masing, tapi yang gue heran, gue Cuma ngeliat para Riot Troopers yang muncul di sekitar sini. Hmm….

“Maaf lama. Gimana status Regime?” –Gary

“Ini aneh, hanya Riot Troopers dan para penjaga markas saja yang muncul untuk melawan pasukan kita. Belum ada satupun tangan kanan Kenzaki yang muncul.” –Chalice

“Biarpun gitu, kita harus tetap hati-hati. Kita nggak tau apa yang mereka rencanain.” –Gary

Baru aja gue ngomongin soal tangan kanan Kenzaki yang belum muncul-muncul daritadi. Tiba-tiba, Castle Doran muncul dari belakang markas Regime bersama dengan Kiva yang berdiri tepat di atas kepalanya.

“Baru juga diomongin. Liat, dia nggak sendirian kali ini.” –Gary

Kiva nggak sendirian, ternyata Birth juga bersama dengannya. Birth mengeluarkan senjatanya, sebuah jetpack dan juga meriam yang terpasang pada dadanya. Birth melompat turun dari tubuh Castle Doran dan terbang ke arah kita sambil menembakan meriamnya.

“V-MON! WORMON! KYUUKYOKU SHINKA!” –Anto

“IMPERIALDRAMON FIGHTER MODE!!” –Imperialdramon

Imperialdramon terbang dan langsung menahan mulut Castle Doran yang hendak menembakan bola api ke arah kita yang ada di bawah. Birth yang melihat serangan Doran gagal, langsung berpaling untuk membantu Castle Doran melawan Imperialdramon.

Sebelum Birth dapat mengintervensi serangan Imperialdramon terhadap Castle Doran, puluhan misil kendali datang dan mengejarnya. Ternyata misil-misil itu berasal dari Jet Sliger milik Delta. Birth berhasil menghindari semua misil yang ditembakkan Delta, akan tetapi itu bukan berarti dia lepas dari Delta.

Dari belakang Birth, Delta melaju cepat dengan Jet Sligernya. Delta menabrakan Jet Sligernya ke arah Birth, dan keduanya jatuh menghantam tanah.. Sebelum Jet Sliger milik Delta meledak, Delta buru-buru pergi menjauh meninggalkan transportnya yang sudah rusak itu. Namun sayang, usaha Delta untuk menjatuhkan Birth gagal, karena Birth masih hidup.

“Chalice, Mach, kalian cepat pergi kedalam dan segera cari Kenzaki!” –Delta

Birth yang baru muncul dari bekas ledakan Jet Sliger langsung menyerang Delta dengan membabi buta menggunakan gadget-gadgetnya yang ia panggil melalui belt-nya. Sementara itu, Ve memipin para Kurokage untuk membantu Imperialdramon yang tengah kewalahan menghadapi Castle Doran.

“Viny, Sagha, Gary, kalian bertiga pergilah bersama Chalice dan Mach. Naga raksasa itu biar aku, Anto, dan para Kurokage yang menanganinya.” –Ve

“Tapi….” –Ve

“Gary, ayo!” –Viny

“Ve, jaga diri lo.” –Gary

“*Mengangguk*.” –Ve

Gue, Viny, Sagha, Chalice, Mach dan juga 5 orang Kurokage pergi menerobos masuk ke dalam markas Regime. Gue agak was-was ninggalin Ve di luar, tapi berhubung dia bareng Anto dan gue liat dia juga udah berpengalaman menangani pertempuran sendirian, jadi gue berusaha ngilangin rasa was-was gue.

Aneh, di dalam markas ini keadaannya sepi banget. Nggak ada orang sama sekali di dalam sini. Chalice nyuruh 5 orang Kurokage yang ikut bersama kita untuk nge-sweeping keadaan di lantai atas. Ada 2 kemungkinan tempat dimana Kenzaki berada saat ini. Pertama, di ruangannya yang ada di lantai 2, atau kedua di dalam lab yang ada di lantai dasar.

Gue coba kontak Kurokage yang kebagian nge-sweeping lantai 2, mereka nggak nemuin apa-apa selama sweeping. Udah gitu nggak ada tanda-tanda ada orang di lantai 2.

Walaupun hasil sweeping bangunan ini negatif, tapi gue nggak yakin gedung ini bener-bener udah kosong. Gue minta tolong ke Kurokage yang kebagian sweeping di lantai 5 untuk ngecek ruang kontrol yang ada disana dan meriksa setiap rekaman CCTV dalam jangka waktu 1-3 jam terakhir.

Hasil yang gue dapet cukup mengejutkan. Ruang kontrol berantakan, dan setelah dicek secara keseluruhan, ternyata nggak ada satupun rekaman CCTV di ruang kontrol. Nah loh, Kok bisa? Gue nggak tau pasti kenapa, tapi yang jelas ruangan itu kosong. Bahkan lemari yang seharusnya berisi kaset-kaset rekaman malah ditemukan dalam keadaan kosong.

“Nggak mungkin. Gimana ceritanya?” –Sagha

“Kayaknya mereka udah tau rencana kita, atau pas kita dateng mereka udah ngancurin semuanya.” –Gary

“Sekarang kita harus mulai dari mana untuk mencari Kenzaki?” –Mach (Gou)

“Lab, karena di ruangan itu ada jalan masuk ke ruang rahasia Kenzaki.” –Gary

Petunjuk kita satu-satunya adalah ruang rahasia Kenzaki yang ada di dalam Lab di lantai dasar. Sewaktu melewati lorong belakang, tiba-tiba saja kita mendapat serangan. Kali ini musuh kita bergerak dengan sangat cepat dan sulit dilihat kasat mata. Kita berhenti sebentar untuk memastikan siapa yang menyerang kita kali ini.

“Sepertinya aku tau dengan siapa kita tengah berurusan.” –Mach

………………….

*WUSHH!!!!*

“KENA KAU!” –Mach

*DUAR! DUAR! DUAR!*

“Ha-ha! Kau tidak cukup cepat rupanya, Thebee.” –Mach

Ternyata yang menyerang kita adalah Thebee. Mach berhasil menghentikan gerakannya yang cepat untuk sesaat dengan menembaknya. Mach jago juga ngeliat musuh yang bergerak cepat. Thebee menekan tombol yang ada di kanan sabuknya, dan dia kembali bergerak dengan cepat.

“Dia melakukan Clock-Up. Chalice, pergilah dengan yang lain. Hanya aku yang bisa mengimbangi Thebee dan kecepatan kilatnya.” –Mach

“Heh, jangan semau lo sendiri. Mentang-mentang lo bisa ngenain dia waktu dia bergerak cepet tadi. Gue stay disini ngebantuin Mach. Ger, Vin, buruan lo pergi bareng Chalice.” –Sagha

“*Mengangguk* Hati-hati Gha.” –Gary

Gue, Viny, dan Chalice melanjutkan perjalanan kita melewati lorong belakang agar bisa sampai ke lab, tapi di ujung lorong Thebee kembali menghadang kami. Thebee berniat memukul perut gue, tapi sebelum pukulannya mendarat di perut gue, Sagha datang dan berhasil menghantam kepala Thebee dengan sikutnya.

“Hehehe… Liat kan? Bukan Cuma Mach doang yang bisa unjuk gigi disini.” –Sagha

Kita bertiga berhasil melewati lorong, setelah Mach dan Sagha berhasil menahan Thebee agar tidak mengikuti kita bertiga. Semoga mereka berdua baik-baik aja, terutama Sagha. Dia emang nggak punya kekuatan apa-apa, tapi itu bukan berarti dia lemah. Soal stamina, dan daya tahan, Sagha adalah yang paling unggul di antara kita berlima.

**

*GRGRGRG!!!*

“Ckh! Dikunci….” –Gary

*GUBRAK!!!*

“Ayo masuk.” –Chalice

Buset, pintu yang kekunci main didobrak aja pake kaki. Sebenernya nggak masalah sih, lagian satu markas ini kayaknya juga udah kosong atas-bawah. Tinggal ruang rahasianya doang nih yang masih ambigu. Setelah Chalice mendobrak pintu lab, kita masuk ke dalam.

“Dimana jalan masuk ke ruangan rahasia itu?” –Chalice

“Di belakang kulkas itu.” –Gary

Chalice menghampiri kulkas yang gue tunjuk di pojok ruangan. Tanpa pikir panjang, Chalice langsung menendang kulkas tersebut hingga hancur, dan kemudian menyingkirkan bagian-bagian kulkas yang menutupi lift rahasia yang ada di balik kulkas.

“Tidak ada apa-apa.” –Chalice

“Hah? Seriusan? Kayaknya gue nggak salah, deh. Soalnya Cuma ini doang satu-satunya kulkas di lab. Ya kali, kita salah ruangan.” –Gary

“Tunggu, apa kalian tidak melihat lapisan dinding ini? Lihat! Ada sela-sela. Gary tidak salah. Lift-nya ada di balik lapisan dinding di belakang kulkas.” –Viny

Tuh kan! Gue nggak salah. Gila, jago juga lo, Vin. Gue aja nggak merhatiin detail sekecil itu. Chalice menghancurkan lapisan dinding di belakang kulkas dengan memukulnya. Lapisin dinding hancur, tapi anehnya, bukan lift yang kita temuin, kita Cuma nemuin tali liftnya. Lah? Liftnya kemana nih?

Pas gue coba ngintip ke dalem, ternyata liftnya tersangkut di atas. Kayaknya aliran listriknya dimatiin.

Kalo udah gini, satu-satunya cara kita untuk turun ke ruang rahasia di bawah lab adalah turun secara manual dengan kabel lift. Gue sobek salah satu kain gorden yang ada di lab, gue iket ke tangan gue, kemudian gue meluncur turun ke bawah dengan tali lift.

Kenapa gue iket tangan gue pake kain sebelum turun? Ya, lo pikir-pikir aja kalo gue nyerosot turun ke bawah pake tangan kosong. Yang ada, nanti tangan gue lecet. Setelah gue turun, Viny, dan Chalice pun turun menyusul gue.

Masalah turun selesai, sekarang muncul lagi masalah baru. Pintu masuk lorong bawah tanah tertutup rapat. Belum juga mau dibuka, baru gue colek dikit pintunya, tiba-tiba gue denger bunyi mesin yang berasal dari atas gue.

“Waduh, bunyi-bunyinya nggak enak tuh.” –Gary

Lo bayangin. Kita bertiga kepepet di bawah, dan tiba-tiba lift yang awalnya nyangkut jauh di atas kita langsung bergerak JATUH dengan CEPAT ke bawah.

Gue panik bukan main. Chalice, gue, dan Viny langsung buru-buru ngedobrak pintu lorong bawah bareng-bareng supaya kita nggak mati konyol ditiban lift. Untunglah, pintu lorong berhasil kita buka paksa, dan kita berhasil selamat dari lift yang jatuh tiba-tiba. Coba kalo telat dikit, pasti kita bertiga udah gepeng kayak perkedel saat ini.

Lorong bawah tanah ini satu arah, dan jalan masuk kita tertutup bangkai lift yang jatuh tadi. Mau nggak mau kita harus cari jalan keluar lain nanti, tapi sebelum itu kita harus nemuin Kenzaki terlebih dahulu.

Kita sampai di ujung lorong, dan masih sama dari saat gue melihat lorong ini lewat alat penyadap yang gue pasang pada Kenzaki, pintu lain di ujung lorong ini dilindungi berbagai macam sistem keamanan dimana hanya Kenzaki saja yang bisa membukanya.

Sebelum Chalice kembali melakukan aksi penghancuran propertinya, gue langsung mencegah dia. Pintu ini bagian gue.

Gue rusak semua sistem keamanannya menggunakan GN-Bits, tapi sebelum itu gue udah motong kabel yang menghubungkan sistem keamanan ini dengan alarm markas. Sebenernya nggak ada masalah juga sih kalo alarm markas bunyi. Orang satu markas juga udah diterobos, Cuma takut berisik aja.

Begitu sistem keamanannya udah ancur, gue buka paksa pintunya dengan mencongkel pintunya lewat sela-sela menggunakan GN-Bits dan GN-Sword.

*CEKLEK!*

“Siap?” –Gary

“Ayo kita selesaikan semua ini.” –Chalice

*GUBRAK!!!*

Sampai di dalam lab rahasia milik Kenzaki….

“I-I-ITU… ITU JASHIN 14!!!” –Chalice

“Serius?! Anjir… Beda banget sama yang waktu itu kita liat.” –Gary

“Kau bilang makhluk itu hanya sebesar gumpalan bola?!!” –Chalice

“Aku berani bersumpah, Gary berkata jujur. Aku juga melihatnya waktu itu.” –Viny

“Lalu kau sebut apa itu? Gumpalan bola?” –Chalice

Tabung yang menampung makhluk bernama Jashin 14 telah berubah drastis dari saat terakhir gue dan Viny melihatnya lewat alat penyadap. Bukan tabungnya yang berubah, tapi isinya. Waktu itu gue liat Jashin 14 masih berbentuk seperti gumpalan bola, sementara saat ini sudah berbentuk seperti KEPALA MONSTER RAKSASA.

Memang bentuknya masih tidak karuan, tapi dengan bentuk seperti itu saja sudah bisa membuat Chalice gemetar begitu ia melihatnya.

Kejutan yang kita terima rupanya belum selesai. Secara tiba-tiba monitor besar yang ada di dalam ruangan ini menyala dengan sendirinya. Kemudian monitor tersebut memainkan sebuah rekaman yang direkam oleh… KENZAKI?!!

“Aku terkesan kalian bisa bertindak sampai sejauh ini. Hmph… harus kuakui rencana kalian memang cukup sulit untuk ditebak. Kalian menjebak ku untuk bertarung sendirian, kemudian kalian membuatku terluka agar pasukanku memaksaku mundur dari pertarungan. Dengan keadaan Regime yang masih ‘kacau’ sebagai imbas dari kondisiku yang terluka parah, kalian berniat menerobos dome dan melancarkan serangan total ke markasku. Luar biasa Hajime… Sangat luar biasa, tapi sayangnya kau sudah gagal.” –Kenzaki

“APA??!!!” –Chalice, Gary, Viny

“Gotou (Birth) berhasil membaca rencanamu. Aku memang beruntung mempunyai anak buah seperti dia. Mungkin saat ini kau bertanya-tanya, dimana aku sekarang? Biar aku beritahu, aku berada tepat di hadapan kalian, TEPAT DI DALAM TABUNG GENETIK YANG ADA DI TENGAH RUANGAN INI. Kau membuatku tidak punya pilihan lain kecuali memainkan kartu truf-ku lebih awal….” –Kenzaki

*GRGRGRGRGRGRG!!!*

“Gempa!” –Viny

“Ini tidak mungkin….” –Chalice

“….Kematian ada di depan mata kalian dan kalian tidak akan bisa kabur darinya–” –Kenzaki

*ZzzZZZzzttTTttt!!*

“Hajime-San, Tabungnya!” –Viny

………………….

~Anto’s POV~

*GRGGRGRGRGRG! BUUUM!!!!*

“Eh, kenapa nih? Kok tanahnya getar-getar gini?” –Anto

Gue, Ve, dan Delta masih sibuk bertarung di luar melawan Kiva dan Birth dibantu para Kurokage. Untuk saat ini, momentum pertarungan ada di pihak kita, tapi hal yang nggak kita prediksi akan terjadi di pertarungan ini, tiba-tiba saja terjadi.

Tanah disekitar kita bergetar tanpa sebab. Baik pasukan kita maupun musuh sama-sama bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?

Tanah di sekitar mulai retak dan bangunan markas Regime mulai runtuh karena gempa tiba-tiba ini semakin kencang. Delta memerintahkan semua Kurokage untuk pergi menjauh dari area ini dengan segera, sementara gue manggil kembali Imperialdramon untuk mengangkut gue dan Ve sebelum tanah di sekitar markas Regime ambles.

“TUNGGU! Teman-teman kita masih ada di dalam markas Regime!” –Ve

“Ve, tenang! Kita harus nyelamatin diri kita dulu!” –Anto

Belum ada 1 menit gempa berlangsung, tanah disekitar markas Regime ambles dan bangunan markas pun hancur berkeping-keping.

“TIDAK!!!” –Ve

Ve nangis histeris karena shock ngeliat kejadian barusan. Gue nggak tau gimana kabar temen-temen gue saat ini yang tadi masuk ke dalem markas buat nyari Kenzaki. Gue coba kontak mereka, dan nggak ada satupun yang jawab panggilan gue.

Gue berusaha berpikir positif bahwa mereka pasti selamat, tapi kalo diliat dari kejadian tadi, kayaknya kecil kemungkinan mereka selamat. Gue berusaha nenangin Ve supaya dia nggak makin shock, dan berhenti menangis.

*BOOOSH!!!!*

“M-Makhluk apa itu?” –Anto

Gila! Makhluk apaan tuh?!! Gede banget, jir! Imperialdramon aja kalah gede.

“REBEL! BERSIAPLAH MENEMUI PENCIPTA KALIAN….” –Jashin 14

……………..

~To Be Continued~

By : @ahmabad25

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s