“Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 2

Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya selama satu tahun semenjak aku duduk di kelas tiga SMP. Jika kalian sadar mungkin akan mengetahuinya tapi untuk sekarang aku tidak akan memberitahu siapa dia karena belum memungkinkan jika dia akan masuk kembali ke kehidupanku. Selama beberapa menit kami saling mengobrol di Line, dia hanya melempar pertanyaan standar dan sebaliknya aku sesekali bertanya tapi lebih banyak untuk bersikap acuh, haha sepertinya aku memang cewek yang judes di cerita ini.

“Sinka….. makan malam udah siap……”

Suara kak Naomi terdengar jelas dari lantai bawah, tidak disangka jika dia bisa berteriak seperti itu. Ya baiklah lagipula perutku sudah berdering dari tadi sore, dengan langkah seribu akhirnya aku berkumpul bersama kak Naomi dan dua orang tuaku di ruang makan lantai bawah.

Tanpa terasa keesokannya suara bel sekolah berbunyi dengan begitu nyaringnya, itu pertanda bahwa sudah memasuki jam istirahat. Sambil berjalan di koridor menuju kantin, kulihat Yupi memancarkan kebahagiaan di wajahnya, tidak seperti biasanya dia menggambarkan ekspresi seperti itu.

“Seneng banget yup hari ini? padahal tadi pelajaran juga biasa aja.”

Yupi memandangku penuh semangat, aku hanya menduga jika dia sepertinya sedang jatuh cinta, ya insting perempuan saja.

“Aku baru deket sama cowok, dia ganteng banget sin. Kapten tim futsal.”

Seperti dugaanku barusan jika dia sedang jatuh cinta, tapi yang membuatku tertarik dengan masalahnya adalah siapa cowok itu? Aku jadi penasaran dengan kedua cowok yang dibilang kak Yona dan Yupi.

“Itu sin cowoknya.”

Suara Yupi sedikit manja sehingga aku langsung memalingkan wajahku untuk memandang yang sama dengan pandangannya. Cowok itu tinggi ya hanya beberapa cm di atasku, warna kulit yang sedikit lebih coklat dibanding denganku dan Yupi, serta rambutnya yang berdiri ke atas, memang tidak salah jika dia menjadi cowok populer di sekolah karena wajahnya terbilang tampan.

“Kelas berapa dia, yupi?”

“Dia kelas 11.”

Harusnya aku sudah tahu jika cowok itu hanya setingkat diatas kami berdua. Baiklah-baiklah aku tidak terlalu kaget jika Yupi menyukainya seperti itu. Dia berdiri didepanku dan Yupi, wajah penuh senyumnya menatap bergantian kami berdua.

“Sinka? Kamu Sinka kan?”

Cowok itu langsung mengetahui namaku begitu saja tanpa kami berkenalan, aku dan Yupi keheranan dengan kejutan yang dia tunjukan, ya kejutan bahwa dia mengetahui namaku yang entah dari mana dia tahu.

“Iya aku Sinka, tapi kakak siapa ya dan tau nama aku dari mana?”

Aku bukan tipe cewek yang suka basa-basi jadi langsung aja pada intinya. Cowok itu melebarkan senyumnya sambil menatapku dalam-dalam.

“Ini aku…  Yoga Pratama..”

Pasti kalian asing mendengar nama itu, biar kuperjelas sedikit, ingat seseorang yang memberiku sweater panda sewaktu SMP? Ya itu dia, aku juga tidak tahu jika dia sekarang bersekolah di SMA Kirin High School. Anggap saja saat kemarin dia tiba-tiba menghubungiku itu berarti dia sudah melihatku di sekolah.

“Sinka.. kamu kenal kak Yoga?”

Yupi berbisik di telingaku, mana mungkin aku tidak kenal dengan kak Yoga apalagi dia sudah memberiku sweater panda, huh benar-benar merepotkan bertemu dengannya lagi.

“Ya yup, aku kenal sama dia, kak Yoga adalah kakak kelas aku juga di SMP.”

Dengan cepat Yupi menarik tanganku untuk menjauh dari kak Yoga, wajahnya begitu bersemangat seperti dia tengah merencanakan sesuatu yang hanya menguntungkan dirinya.

“Sinka, kok gak pernah cerita sih kalo kamu kenal kak Yoga.”

“Aku aja baru tau tadi kalo dia sekolah di sini juga, emang kenapa sih?”

Sejenak Yupi menahan napasnya sedangkan aku menatap datar sikap dia yang terlihat salah tingkah, beginilah jika menghadapi cewek yang sedang jatuh cinta.

“To..tolongin aku buat bisa deket sama dia ya sin… tolong ya.”

“Huh?” Sedikit kaget melihat wajah Yupi memelas seperti itu, ekspresinya lucu banget untuk berkata tidak di depannya.

“I..iya deh aku usahain, soalnya aku juga kurang terlalu kenal dia jadinya bingung juga buat bantuin kamu.”

Wajah Yupi terlihat sumringah, senyumnya begitu lebar saat tahu jika aku akan membantunya, malah sebaliknya aku yang bingung bagaimana caranya untuk membantu Yupi.

Malam menjelang, kak Naomi masuk ke kamarku sambil membawa makanan ringan yang jika diperhatikan itu adalah makanan milikku, wajahnya hanya tersenyum-senyum saat mengetahui jika aku sudah sadar akan makanan yang dia bawa.

“Kenapa dek mukanya lecek gitu?” tanyanya sambil terus mengunyah keripik kentang balado.

“Ternyata kak Yoga…. satu sekolah sama kita. Ini gara-gara kakak sih buat aku sekolah di SMA Kirin.”

“Lah kok nyalahin kakak? Kakak kan cuma nyaranin kamu doang yang endingnya kamu milih sekolah karena kesadaran kamu sendiri.”

Hah sial jika berdebat dengannya tak akan menyelesaikan permasalah, lebih baik jika aku meminta sarannya saja untuk kasus Yupi ini.

“Oh iya kak, menurut kakak ka….”

“Oh iya sin, kamu bisa bantu kakak gak?”

Hei apa-apaan ini, omonganku dipotong begitu saja. Inilah kenapa aku jarang sekali mengobrol dengannya.

“Kak, kan aku duluan yang ngo…..”

“Jadi kamu bisa bantu gak?”

Sial! Ucapanku dipotong untuk kedua kalinya. Peraturan sederhana dengan kak Naomi yaitu saat kita mau meminta bantuannya berarti kita harus siap membantu masalahnya terlebih dahulu.

“Jadi masalahnya apa?” tanyaku datar.

Dengan cepat pipiku pun menjadi sasaran cubitannya hingga aku harus sekuat tenaga untuk melepaskan tangan penuh serbuk bumbu yang sedang menempel di pipiku.

“Jorok, cuci tangan dulu sana.”

“Iya-iya maaf, gini masalahnya ……………………………………………………”

Aku menggeleng lemas mendengar permintaan kakaku itu. Apa bedanya kak Naomi dengan Yupi jika masalahnya begini, padahal dia lebih tua dariku dua tahun kenapa masalah cowok harus aku yang membantunya, terus dimana posisi kak Yona sebagai temannya. Aku bukannya tidak mau membantu tapi aku juga tidak terlalu paham tentang cinta dan cowok, tapi apa boleh buat lagian aku penasaran sama cowok yang disukai kak Naomi.

“Setelah aku bantu, kakak harus janji kalo kakak akan bantu aku. Gimana sepakat?”

Kak Naomi mangangguk, untuk sekarang aku bisa mempercayainya tapi belum tentu jika aku sudah membantunya dia akan tetap ingat dengan janjinya, itulah salah satu sifat yang aku benci dari kakaku.

———-

Secarik kertas sedang kugenggam di tangan, sambil melihat tulisan di kertas itu aku berjalan sepanjang koridor yang mengarah ke kelas 11, semoga saja aku tidak bertemu dengan kak Yoga disana. Kupandangi label kelas di setiap atas pintu ruangan, mencari kelas yang menjadi tujuanku. Ya ini kelasnya, 11 IPA2, kelas yang sama denganku 10 IPA2. Aku memajukan kepalaku untuk melihat dalam kelas, sepertinya hanya murid cewek yang beristirahat di sana, berarti aku harus cari cowok itu di luar kelas, tapi masalahnya aku tidak tahu wajahnya.

“Sinka…”

Dekk.. Aku kenal suara itu, suara yang membuatku bingung harus berbuat apa. Aku menoleh dan mendapatkan kak Yoga sedang tersenyum memandangku, dengan sedikit mencoba ikut tersenyum juga aku berjalan mendekatinya.

“Eh kak Yoga, kakak di kelas 11 IPA3 ternyata.” Ucapku basa-basi.

“Kamu kesini ngapain? Nyari aku?”

Sial! Dia terlalu percaya diri, harusnya dia tahu jika aku tidak punya alasan untuk menemuinya, bila ingin bertemu dengan kak Yoga berarti aku sedang membantu temanku Yupi.

“Eh nggak kok kak, aku lagi nyari seseorang di IPA2.”

Wajah kak Yoga berubah menjadi sedikit dingin kala aku menyebutkan kelas yang berada disebelahnya, apa dia tahu maksudku? Apa mungkin itu karena dia patah hati saat aku tidak mencarinya? Hah kenapa sih aku harus mempunyai masalah rumit seperti ini. Sambil menunduk aku berjalan mundur, hingga……

“Aduh..” rintihku sambil menoleh ke arah kanan.

Seorang cewek berdiri di dekatku, sepertinya dia menabrakku saat aku sedang berjalan mundur.

“Apa kamu punya masalah?” suaranya begitu dingin dan berwibawa, aku sedikit terpesona dengan kecantikannya. Tingginya hampir sama denganku, rambutnya terurai panjang dan kulit putih mulusnya yang mempesona.

“Maaf tadi aku jalan mundur.”

Cewek itu tidak berbicara lagi dan melanjutkan perjalanannya memasuki kelas 11 IPA2. Benar-benar kakak kelas yang menyeramkan.

“Jangan salah sangka, dia anak kelas 12.” Bisik kak Yoga.

“Huh? Kelas 12?” berarti cewek itu seangkatan dengan kak Naomi, aku harus menggali informasi ke kakakku tentang cewek itu.

“Terus ngapain dia ke kelas 11?”

“Mungkin niatnya sama kayak kamu yang ke kelas itu.” Jawab kak Yoga santai.

Benar apa yang diucapkan kak Yoga, beberapa detik kemudian cewek itu berjalan keluar kelas, langkahnya begitu tegap sehingga membuat orang sekelilingnya hanya terpaku melihat cara berjalannya yang anggun.

“Dia benar-benar mempesona.” Ucapku pelan.

“Ya, awalnya juga aku terpesona sama dia, tapi saat tau kamu ada disini, aku jadi …”

Oke aku pergi, aku dan kalian pasti sudah tahu apa lanjutan dari perkataan kak Yoga tadi, mangkanya sebelum dia melanjutkan ucapannya alangkah baiknya jika aku pergi segera.

Sepulang sekolah Yupi menatapku berseri-seri, jika dipikir hari ini aku belum melakukan apa pun untuknya. Kami berjalan bersama di koridor yang menuju pagar sekolah, saat hampir sampai kak Naomi dan kak Yona sedang mengobrol di sana.

“Sinka, jadi kamu mau masuk osis?”

Tunggu, tunggu. Apa bisa diulang adegan ini? Atau pendengaranku yang mulai kacau? OSIS???

“I..ini kenapa?” tanyaku.

Wajah kak Naomi tersenyum sambil alis kirinya diangkat, haha sial aku mempunyai kakak yang bersifat iblis didalamnya.

“Jadi kak Naomi ngerekomendasikan kamu buat masuk osis bagian pengembangan olah raga.”

Hawa panas mulai terasa di bagian telinga kananku, tidak disangka jika wajah Yupi sidah hampir menempel disana.

“Ikut aja sin, jadi kamu bisa deket sama kak Yoga, terus bantuin aku deh.”

“Harusnya kamu yang ikut, kan kamu yang mau deket sama kak Yoga.”

“Kamu kan udah janji mau nolong aku.”

Aku menghela napas panjang sejenak, janji adalah janji bagaimana pun aku harus menepatinya dan membantu Yupi. Lagi pula kak Naomi pasti tidak tanpa alasan memasukanku ke OSIS, pikirannya selangkah lebih maju dariku hanya saja dia harusnya mengobrol dulu dengan adiknya ini.

“Gimana Sinka?” kak Yona menunggu dengan tidak sabarnya dan begitu juga dengan kak Naomi beserta Yupi.

“Baiklah-baiklah, kak Naomi yang lebih tau kenapa aku harus masuk osis.”

“Yeay, kalo gitu besok kamu bawa berkas data buat pendaftaran.”

“Ya ya, soal itu biar kak Naomi aja yang ngurus, yuk kita pulang.” Aku langsung berjalan dan kemudian Yupi mengikutiku di belakang.

 

 

*To Be Continued ….

Twitter : @BeaterID

Iklan

2 tanggapan untuk ““Hitam Putihnya Panda : Sinka” Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s