Fiksi dan Fakta, part 33

Jaka telah memasuki sebuah rumah. Sepertinya, ke rumah minimalis yang cukup modern diujung komplek tersebut.

“Ngapain dia disana?” Gerutu Shania dalam hati.

Shania mendekat. Terlihat seorang gadis berpostur tinggi yang berparas bak bidadari.

“Ehh..” Mata Shania terbelalak.

Jelas sekali, gadis itu menggandeng tangan Jaka, dan mereka tertawa bersama.

“Aku ga seharusnya disini..” Shania bergerak pergi menjauh.

*Skip
“Razaqa!” Sapa Ve semangat kala membuka pintu rumahnya.

“Ve!” Jaka tersenyum lebar.

“Ayo masuk!” Ajak Ve.

Jaka berjalan kearah ruang tamu.

“Aku kangen kamu, Raz..” Entah kenapa, Ve menggandeng erat tangan Jaka. Bukannya mereka baru saling mengenal?

“Ve?” Jaka tertawa.

“Oh iya, pintunya..” Ve melepaskan genggaman itu. Ia bergegas menutup pintu tersebut.

“Ehh, itu siapa?” Terlihat seorang gadis berjalan dengan tergesa-gesa kearah timur, buat Ve bingung karena posturnya yang begitu asing bagi Ve.

Setelah menutup pintu depan, Ve mengajak Jaka ke sebuah tempat. Tempat yang mungkin bisa menjadi tempat yang pas untuk Ve memulainya.

“Aku punya kejutan buat kamu..” Ucap Ve girang.

“Apaan tuh?” Tanya Jaka penasaran.

“Hmm.. tapi tutup mata dulu..” Pinta Ve manja.

“Iya deh..” Jaka menutup matanya.

“Jangan ngintip ya..” Hanya dibalas anggukan dari Jaka.

Ve memakaikan sesuatu dikepala Jaka.

“Ehh?” Jaka membuka matanya.

Ve hanya membalas dengan senyuman lebar.

“Udeng? ini buat aku?” Ve mengangguk sambil terus tersenyum kearah Jaka.

“Ve?” Jaka menurunkan nadanya.

“Iya, Raz?” Ve menatap Jaka dalam.

“Boleh tanya sesuatu ga?”

“Iya, boleh banget..” Ve tersenyum lagi.

“Udeng-nya miring ga?._.” Pertanyaan Jaka sukses membuat Ve tertawa terpingkal-pingkal.

“Hahaha.. kamu tuh lucu ya.. hahaha..” Ve tertawa lepas.

“Serius kali._.” Jawab Jaka lagi. Perlahan, Jaka ikut tertawa bersama
Ve.

Malam itu, mereka hanya bercerita tentang kenangan singkat di Bali. Ve mulai bercerita banyak hal.

“Aku muak, Raz..” Ve tertunduk lesu.

“Ehh, Ve? ada apa?” Ve hanya menggeleng.

“Dulu, aku punya sahabat deket banget. Perlahan, aku mulai suka ama dia..” Ve mulai bercerita.

Jaka memperhatikan cerita Ve tersebut.

“Seperti yang mungkin pernah aku ceritain, Dia pindah ke Bandung..”

Jaka terus memperhatikan.

“Kami janji untuk saling menghargai
diri sendiri dan berusaha berdiri dengan kaki sendiri.. Dengan kata lain, persahabatan kami selesai dengan cara yang menakjubkan..”

“Kok menakjubkan?” Tanya Jaka memotong cerita Ve.

Ve tersenyum sejenak sambil menatap mata Jaka dalam.

“Kami berpisah layaknya orang yang baru pertama kali bertemu dan berpisah beberapa saat kemudian.. Rasanya itu..” Ve menyenderkan kepalanya di bahu Jaka.

“Sakit ya?” Celetuk Jaka pelan.

“Lebih dari itu..” Ve menutup matanya.

“Seolah kebersamaan kalian itu harus dihapus gitu aja?” Jaka menebak.
Ve kembali membuka matanya dan menegakkan kepalanya.

“Kami janji untuk ga saling ngehubungin atau ngabarin satu sama lain.. sampai kami bener-bener sukses..” Lanjut Ve.

“Kalo aku jadi sahabat kamu itu, mungkin aku udah bunuh diri.. Selesai liburan ini, aku harap keluarga Michelle bisa jadi jembatan kita buat ketemuan lagi nanti.. Aku bakal kangen kamu, Ve..” Ucap Jaka lirih.

“Hahaha.. boong.” Tawaan Ve jelas sekali bohong.

“Kamu yang bohong, Ve.” Ucap Jaka dalam hati.

“Atau dia emang udah bunuh diri?” Pertanyaan Jaka mendapatkan tatapan serius dari Ve.

“Engga, Raz. He’s out there.. Aku pernah ketemu dia. Dan itu cukup untuk ngobatin rasa kangen aku..”

“Tapi, gimana kamu bisa tau itu dia? kan kalian dah lama ga saling stalk dan lain-lain..” Tanya Jaka bingung.

“Nope, Raz.. Wajah itu ga bisa berubah, pola yang ada tetep cuma dimiliki satu orang, dan gaada istilah sama persis, bahkan kembar pun cuma ada ‘identik’.” Jaka hanya mengangguk-angguk setuju.

“Apa yang jadi masalah kamu sekarang?” Tanya Jaka pelan.

“Emm.. Razaqa?” Panggil Ve pelan.

“I’m here..” Jaka terus menatap dalam mata Ve. Terbesit rasa sedih yang amat dalam di bola mata Ve.

“Aku mutusin buat nunggu sahabatku itu.. alhasil aku nolak banyak cowo..” Ucapan aneh dari Ve.

“Ehh, maksud ka-“

“Sstt..” Ve meletakkan jari telunjuknya dibibir Jaka.

“Sekarang, aku dijodohin, Raz..” Ucap Ve pelan.

“Jadi, kenapa kita bisa deket semudah ini?” Jaka meninggikan nadanya.

Ve kaget.

“Razaqa.. Untuk terakhir kalinya, aku pengen punya sahabat cowo.. Dan hidupku akan dimulai lagi..” Ve tertunduk.

“Untuk alasan kaya gini?!” Jaka
bangkit.

Ve mencoba menahan tangan Jaka, namun terlepas.

“Aku permisi..” Terbesit rasa kecewa dihati Jaka.

“Raz.. jangan..” Ucapan Ve hentikan langkah Jaka.

“Ohh.. ayolah, gue bukan siapa-siapa dia. Dia cuma lagi butuh gue.” Jaka berkata dalam hati.

Jaka berbalik dan perlahan kembali mendekat kearah Ve.

“Aku akan selalu jadi sahabat kamu..” Jaka tersenyum tipis.

Tiba-tiba, Ve memeluk Jaka erat. Menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Jaka. Buat jantung Jaka
berdetak ratusan kali lebih cepat.

“Berjanjilah Raz.. Kamu harus jadi bagian dari aku. Sahabat bisa aja berkhianat..” Perlahan, air mata Ve mulai menetes.

“Ga, Ve.. bahkan bagian dari kamu pun bisa berkhianat. What should i do?” Pertanyaan Jaka membuat Ve menangis.

“Maaf, Ve..” Jaka mengusap tempurung kepala Ve dengan lembut.

Tak lama, Ve melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Jaka dalam.

“Razaqa.. Aku percaya kamu. Walau aku gapernah tau diri kamu yang sebenarnya…” Tatapan dalam Ve itu, buat Jaka tak sedetikpun memalingkan pandangannya.
“Ve, aku nemuin apa yang aku cari.. Walaupun tanpa tes, dan tanpa catatan bodoh yang selalu aku pertimbangin..” Balas Jaka pelan.

“Razaq-“

“If you go, I’ll be fine, Ve.. so glad to met ya..” Potong Jaka cepat.

“Aku harus balik ke Jakarta besok..”

“Secepet ini?”

Ve mengangguk pelan.

“Kita bisa chat, vidcall, dan sebagainya.. don’t worry..” Jaka tersenyum tipis.

“Apakah aku bisa bahagia? itu yang aku cemasin..” Pertanyaan Ve sukses membuat Jaka tersenyum lebar.
“Dengan sendirinya, Ve.. Apapun yang terjadi, biarkan air terus mengalir.. Pertemuan kita? ga jauh dari kata ‘Kebetulan’.. Kita cuma perlu untuk terus berharap, berusaha dan biarkan berlalu..” Jaka sangat percaya diri.

“Makasih, Raz. Aku bukan orang yang mudah untuk percaya, apalagi deket dengan orang lain.. apalagi orang itu stranger dan parahnya cowo.. haha.” Tawa Ve cairkan suasana.

“Aku juga bukan orang yang-” Ucapan Jaka terhenti, dan dirinya terus menatap Ve.

“Yang apa?” Tanya Ve bingung.

“Ahh, untuk terakhir kalinya..” Gumam Jaka dalam hati.

“Yang bisa jatuh cinta semudah ini..” Jaka tersenyum.

Ve terhenyak. Perlahan, dia tersenyum dan kembali memeluk Jaka.

“Besok, aku berangkat jam 2 siang..” Ucap Ve.

“WIB?” Tanya Jaka polos.

“Hahaha…” Ve tertawa.

Jaka ikut tertawa. Pelukan itu pun dilepaskan. Mereka masuk kembali ke dalam rumah. Entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, jam masih menunjukkan pukul 19.35.

“Ve, calon kamu itu gimana?” Tanya Jaka buyarkan fokus Ve yang sedang asyik menonton TV.

“Hmm.. dia lumayan, orang tua kami deket. Pribadi yang diem banget dan tertutup. Tapi-” Ve menghentikan
kalimatnya.

“Tapi apa?” Tanya Jaka.

“Dia selalu terlibat masalah. Faktor orang tua mereka yang divorce mungkin.” Balas Ve memelankan suaranya.

“Cerai?” Tanya Jaka lagi.

Ve mengangguk.

“Nama-“

“TING TONG!” Bel rumah Ve sukses memotong pertanyaan Jaka.

“Tunggu!” Ve bergerak membuka pintu tersebut.

“Hai Ve!” Ya, itu Michelle.

“Michelle! Ada apa, Chel?” Sapa Ve
hangat.

“Razaqa kesini ga?” Tanya Michelle cepat.

“Eh, Iya. Dia didalem. Ayo, masuk dulu Chel.” Balas Ve lalu mempersilahkan masuk.

“Iya, Ve.” Michelle melepaskan sepatunya lalu masuk.

“Eh, Michelle?” Jaka berdiri dari kursinya.

“Raz, aku kirain kamu kemana..” Michelle tersenyum.

“Hehehe.. bingung mau kemana..” Jaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ve, jadi besok itu beneran?” Tanya Michelle tanpa basa-basi

“Uhuk..” Pertanyaan Michelle buat Ve yang sedang minum kaget.

“Ehh maaf..” Ucap Michelle lalu membantu mengambilkan tissue.

“Gapapa, Chel. Soal balik itu, bener..” Balas Ve.

“Emm, semoga nanti kita ketemu lagi ya..” Ucap Michelle tersenyum.

Jaka hanya memperhatikan kedua teman dekatnya itu.

Mereka memutuskan untuk bermain bersama malam itu, ya sekedar main monopoli mungkin (?)

*Skip

“Viny!” Teriak seorang laki-laki dari ujung pantai.

Viny menoleh dan tersenyum.

“Ayo gabung!” Teriak laki-laki yang bernama Mike itu lagi.

Viny mengangguk. Sebelum pergi, dia melempar sebuah botol yang sepertinya berisikan selembar kertas itu. Setelah melempar cukup yakin, perlahan Viny mendekat kearah Kelpo, Andela, Mike, dan Elaine yang sedang berkumpul bersama.

*Skip

“Apa ya yang ketinggalan?” Bobby bertanya dalam hati.

Dia terus mencari keseluruh wilayah rumah Michelle. Kamera andalannya seperti lenyap, tak ditemukan sejak tadi.
Tiba-tiba langkah seseorang hentikan pencarian Bobby. Ya, Shania tergesa-gesa menuju pintu rumah Michelle. Parahnya, dia terisak.

“Hey, Shan. Kamu liat ka-” Bobby menghentikan kalimatnya.

Shania masuk, mengusap air matanya, menatap Bobby, tersenyum tipis, lalu bergegas masuk ke kamarnya dan mengunci rapat-rapat pintu kamarnya. Sebuah momen singkat yang cukup rumit bagi Bobby.

“Ayolah, ada apa ini?” Tanya Bobby dalam hati.

Entah apa yang sebenarnya diinginkan tuhan, kamera Bobby dengan mudah ditemukan saat Bobby sedang berpikir panjang tentang Shania.

“Sial! Kok langsung ketemu._.” Kesal
Bobby sambil memukul-mukul kepalanya.

Bobby bergerak menuju kamar Shania. Dia ingin mengajak Shania ke suatu tempat yang sebenarnya cukup jauh dari Kuta. Ya, semuanya mulai bosan dengan pemandangan pantai.

“Shan..” Teriak Bobby sambil mengetuk pintu kamar Shania.

Tak ada jawaban dari dalam.

“Shan.. ayo kita jalan! boring nih..” Lanjut Bobby lagi.

Sama, tak ada jawaban sedikitpun.

“Shan.. ayo keluar, kalo kamu butuh temen curhat, aku mau dengerin..” Bobby tak patah semangat.

Sama, hasilnya nihil.

“Shan.. kalo kamu ga mau ngomong, itu juga percuma. Aku gatau apa yang bisa aku bantu buat kamu..” Lanjut Bobby lagi dengan merendahkan nadanya.

Masih sama.

“Shan, give up..” Akhirnya Bobby menyerah.

Tetap tidak ada balasan.

Akhirnya, Bobby bergerak menjauh dengan kehampaan.

“Cklek..” Pintu kamar Shania terbuka dan tentu saja hentikan langkah Bobby.

Bobby menoleh. Shania berdiri menghadapnya, Shania sedikit berlari dan segera menghempaskan tubuh
jangkungnya kedalam pelukan Bobby. Bobby tersentak.

“Bob, maaf untuk keegoisan aku hari ini. Aku cuma gamau ce-“

“Udah, Shan. Jangan ngelakuin hal yang ga mau kamu lakuin..” Ucap Bobby pelan.

“Thanks, Bob.” Shania terus memeluk Bobby erat.

“For now, ayo kita happy-happy kaya biasa..” Bobby tersenyum.

“Bob..” Panggil Shania pelan sambil menatap mata Bobby.

“Ya?” Tanya Bobby.

“Sekali lagi, makasih. Makasih karena kamu udah lebih mengerti aku..” Balas Shania lagi.

Bobby terhenyak. Bukan karena pengakuan Shania. Tapi, siapa yang dijadikan Shania perbandingan tentang ‘Lebih mengerti dia’. Bobby tak bisa berkata-kata.

Mereka memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dengan mobil Michelle.

“Raz, Bobby pinjem mobil aku.. Tapi, dia ga bilang mau kemana. Kalo menarik, kita nyusul aja yuk?” Ajak Michelle disela obrolan mereka.

“Hmm.. Boleh, Chel.” balas Jaka.

“Kamu mau ikut, Ve?” Ajak Michelle tersenyum kearah Ve.

“Ehh.. gausah Chel. Aku juga rada capek..” Tolak Ve halus.

“Oke deh. Liat perkembangan aja,
Raz..” Ucap Michelle lagi, dan obrolan mereka berlanjut ke topik lain lagi.

Jaka sempat terdiam. Sepertinya, Bobby pergi bersama Shania.

*Skip

“Po, bahas soal seneng-seneng, nape gue jadi kepikiran sekolah yak..” Ucap Mike bingung.

“Alah, lu cuma kangen ama Soyjoy..” Balas Kelpo diikuti tawaan dari yang lain.

“Soyjoy siapa?” Tanya Viny polos.

“Dia guru kimia, Vin. Cara ngajarnya yang ribet..” Jawab Elaine.

“Nama asli dia Pak Joy, tapi karna ada iklan gitu, dipanggil Soyjoy.” Lanjut Andela.

“Sebenernya bukan itu, dulu ada nama anak Joey, kalo kami pake-“

“Pletak!” Jitak Kelpo keras, hentikan omongan Mike.

“Oy, apa sih?-_-” Gerutu Mike malas.

“Gausah bahas diluar belajar-_-” Balas Kelpo lagi.

Mike menghela nafasnya.

“Anak yang namanya Joey itu kenapa?” Tanya Viny lagi.

“Nah kan, gara-gara lu, Oscarausaurusempak..” Ucap Kelpo lagi.

“Panjang banget, ngoehehe..” Elaine tertawa lepas, sementara Mike menunjukkan ekspresi malasnya.

“Sayang, gaboleh gitu..” Tiba-tiba perkataan Andela kejutkan semuanya.

“Sayang?!” Elaine kaget.

“Kalian jadian?!” Tanya Mike dengan nada keras.

“Elah, Mike. Kecilin dikit tuh suara-_-” Gerutu Kelpo.

Andela hanya tersenyum.

“Diem ah, jawab pertanyaan gue..” Suruh Mike lagi.

Perlahan, Andela menggengam tangan Kelpo.

“Ya, tadi..” Kelpo tersenyum lalu menatap Andela dan tersenyum.

“Wow! Congrats!” Teriak Elaine
semangat lalu memeluk Andela.

“Selamat, Vin, Ndel!” Viny juga tak lupa mengucapkan.

“Hahaha..” Mike justru tertawa.

Semuanya heran melihat Mike. Mike berdiri dan mendekati Kelpo.

“Ga nyangka, lu dah dewasa po..” Mike merangkul Kelpo dan tertawa keras. Semuanya pun ikut tertawa. Hanya saja, Kelpo sedikit kesal tadi.

“Drrttt..” Pesan masuk hentikan tawaan mereka.

“Mike..” Kelpo menatap Mike.

Mike mengangguk.

“Oke, dah jam 10 nih, pulang yuk?” Ajak Mike tiba-tiba.

Semuanya mengangguk setuju.

*Skip

“Drrttt..” Pesan masuk buat Jaka segera berdiri.

“Maaf, Ve, Chel. Aku duluan ya.. Chel, kamu mau bareng ato gimana?” Tanya Jaka tiba-tiba.

“Kamu duluan aja, Raz. Aku bisa pulang sendiri.” Balas Michelle.

Jaka bergegas, sangat tergesah-gesah.

“Raza-” Ve hanya melepas kepergian Jaka begitu saja, karna Jaka telah sepenuhnya meninggalkan rumah itu dengan sangat terburu-buru.

*Skip

“Drrtt..” Pesan juga masuk ke ponsel Bobby.

“Shan, kita muter ya.. ada masalah..” Shania hanya mengangguk setuju.

*Skip

Mereka telah berkumpul di rumah Michelle. Bobby dan Shania yang datang terakhir, segera bergabung di ruang keluarga.

“Aku permisi..” Shania bergerak menjauh kala bertemu Jaka disana.

Jaka hanya menghela nafasnya.

“Oke, Suta Wijaya bilang mereka netral. Ini, Iman memprovaksi seperti tuduhan. Atau-“

“Si kembar?” Potong Mike.

Jaka mengangguk.

“Apapun info yang kalian terima, segera sebar ke gue..” Perintah Jaka.

Kelpo bingung, Jaka begitu care tentang tuduhan Iman. Seolah-olah dia tak mau Iman disalahkan.

“Dia hanya ingin keadilan..” Mike membisikkan Kelpo. Kelpo hanya mengangguk.

*Skip

Pagi kembali datang. Bobby bangun sangat telat, semua orang sudah bersiap untuk kembali ke rumah Michelle yang pertama.

“Hmm, foto-foto ahh..” Bobby turun.

Bobby memfoto setiap kegiatan
mereka.

“Oy, Bob. Bantuin! jangan foto-foto aja-_-” Kesal Mike.

“Gue bantuin foto!” Teriak Bobby menahan tawa.

“Ahh, view ahh..” Bobby mengarahkan kameranya kedepan.

“Ceklek..” Seorang gadis memfoto Bobby yang hendak memfoto.

“Candid-nya keren!” Teriak gadis itu.

Bobby terbelalak

“Kau ingin berjaya? Jadilah sang nomor 1, karena nomor 1 tentu memiliki kedudukan tertinggi, walau nilainya masih dibawah si nomor 2 sekalipun..” – Soyjoy

*To Be Continued*

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

4 tanggapan untuk “Fiksi dan Fakta, part 33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s